Welcome to the third chapter! *nebar confetti*. Setelah berhasil menyelesaikan misi S class bersama Nira, akhirnya saia berhasil menulis fic ini. Ho ho
Seperti janji saiia! Chi akan menumpahkan seluruh perasaan Chi (halah!) tentang romance! Ho ho (ketularan ketawanya Tanaka).
Disclaimer : apapun ceritanya, Naruto, Sasuke, Sakura itu punya Masashi Kishimoto. Saia gak punya hak apa-apa.
Rate : T
Title : SOUL
...
Ino mengakhiri ceritanya. Dia menatap kearah Sakura yang tertunduk—seperti biasa. Dan sedikit maju untuk melihat keadaan kakak tercintanya itu. Dia sedikit tersenyum melihat Deidara dengan sikap yang sama seperti Sakura. Menunduk juga.
"Deidara nii-kun!" panggil Ino. Tidak ada respon.
"Dei-nii!" panggil Ino lagi.
"Deidara!" Ino sudah gak sabar. Masih gak ada respon.
Ino berdiri dan berjalan menuju kedepan Deidara dan mulai menungging dan menatap rambut Deidara yang kucirannya agak longgar sedikit.
"DEI-NII!" dan seketika itu juga Deidara langsung mengangkat wajahnya dan menutup kuping tercintanya. Sakura? Hanya mengangkat wajah—seperti Deidara dan menatap Ino sinis.
"Iie chigimasu!" kata Sakura dengan lancar tanpa celat sedikitpun. Membuat pandangan si duo kuning tertuju kearahnya.
"Sa... Sakura?" Ino berkata seolah-olah tidak percaya.
"Sa..." Deidara tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Ngek, Sakura kembali ke posisi semula. Tertunduk kembali.
Ino manyun, Deidara masih bengong.
"Baiklah Deidara nii-kun! Aku pergi dulu! Hari ini aku ada les!" kata Ino sambil beranjak pergi. Deidara lagi-lagi tidak merespon.
"Whatever," Ino sewot dan langsung pergi. Tidak lupa sebelumnya dia membuka pintu dan menutupnya kembali setelahnya.
.
Begitu pintu berbunyi tanda sudah tertutup rapat, Sakura mengangkat wajahnya lagi.
"Deidara, benarkah?" kata Sakura lagi. Dan kali ini Deidara yang tidak mampu bicara.
"A... ah, err," lidah Deidara kebelit.
Sakura menatap Deidara. Deidara juga. Mereka tatap-tatapan sampai nggak kedip sejam! Nggak ding! Author boong! Tatap-tatapan sebentar doank.
'Mata itu, ya! Aku ingat sekarang,' batin Deidara saat mata sayu Sakura menatapnya.
Tangan Deidara terangkat. Secara tidak sadar, sadar kok, tangan kanannya mengelus lengan kiri Sakura. Kebetulan baju pasiennya itu lengan bajunya sependek lengan Kushina.
Tangannya berhenti di dagu Sakura. Mendekatkan wajahnya sedikit. Membuat hidung mereka bersatu. Dan tangannya mulai mengelus pipi Sakura.
"Ini soal jiwa..." Deidara mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Sakura. "Jiwamu dan perasaanku..." lanjutnya.
"Dei..." ucap Sakura tepat di telinga kanan Deidara.
Brakk... tiba-tiba pintu terbuka. Membuat mereka berdua refleks kembali ke posisi semula.
Seorang suster berambut merah dengan model panjang sebelah gaje.
"Dokter Deidara, waktunya rapat!" kata suster itu dengan sopan. Deidara sweatdropp.
'Nih anak sopan banget ngomongnya! Tapi kenapa nggak ketok pintu dulu?' batin Deidara dan langsung berdiri. Melihat Sakura sebentar, dan melanjutkan jalannya. Berjalan melalui Karin—nama suster itu yang sengaja menunggu di lubang pintu (?) agar bisa dekat-dekat Deidara. Wah, parah ni anak satu.
Dan benar saja. Berhubung pintunya memang kecil, mau tidak mau Deidara harus berdempetan dengan Karin. Dan tanpa melirik Karin sedikitpun, Deidara langsung kabur.
Karin menatap punggung Deidara dan memastikan Deidara sudah jauh.
"Yiha! Hu~~" Karin teriak kesenangan ala pemain sepak bola yang berhasil menggolkan bola dari keeper yang bertangan lebar.
Sakura ngelirik Karin sinis. Aliran listrik pun menyetrum telinga Karin. Kenapa telinga? Entahlah, author tak tau.
.
"Hei! Lama sekali! Ayo!" ajak Dokter Sui yang ternyata sudah menunggui Deidara dari tadi di ujung lorong.
"Rapat? Rapat apa sih?" tanya Deidara penasaran ditengah perjalanannya menuju kantor.
"Auk! Yang aku tau sih, rapat seluruh dokter!" jawab Sui secara acuh.
"Seluruh dokter? Cuma lima orang donk!" deidara sedikit kaget.
"Tidak usah kaget!" Sui melirik Deidara tajam. Yang dilirik nggak sadar kalau lagi dilirik.
Brakk... tiba-tiba Sui mendorong Deidara ke tembok. Ternyata Sui memang sengaja membawa Deidara ke bagian ruangan yang sunyi. Mengingat Deidara tidak tau menau tentang bagian-bagian rumah sakit ini.
Tangan kanan Sui sudah stand by di leher Deidara. Deidara yang merasa sesak berusaha melepas tangan Sui. Tapi tidak berhasil.
"Ka... kau un!" Deidara berusaha mengeluarkan suaranya.
"Jangan takut! Kau aman! Dengan satu syarat!" kata Sui dengan tatapan horor.
"Argh... un!" Deidara masih menarik-narik tangan Sui agar terlepas. Tapi percuma saja.
Deidara sudah hampir kehabisan nafas. Dia tidak yakin bisa melanjutkan hidupnya, aw, kenapa bisa ada teflon terbang?
"Aww!" teriak Sui dan langsung memegang tengkuknya. Dan diwaktu yang sama juga Deidara terbatuk sebisanya. Begitu juga author yang lagi batuk-batuk. Ayo Dei! Kita batuk bersama! *jualan maskernya mang Kakuzu langsung ludes*.
Sui terjatuh dan langsung pingsan. Deidara pun sedang asyik berbatuk-batuk-ria.
Begitu dia sudah mulai yakin batuknya sudah berhenti, dia mulai menatap kedepan. Melihat sosok orang yang sodah menyelematkannya.
"Sa... sakura un?" ucap Deidara masih diiringi dengan bunyi 'uhuk-uhuk' gaje.
Didepannya kini berdirilah seorang wanita berambut pink panjang. Dengan tatapan yang masih sama dengan yang tadi.
Deidara langsung berlari memeluk Sakura tanpa mengingat Sui sama sekali.
"Sakura! Apa yang kau lakukan?" kata Deidara ditengah pelukannya. Sementara author baru saja membunuh seekor nyamuk dan yang mengeluarkan darah segar! Eh, ah, iya! Maaf ganggu.
Sakura masih saja memasang ekspresi datar. Sementara ekspresi Deidara sudah khawatir bercampur cemas.
"Ayo kita kembali!" Deidara merangkul Sakura berjalan meninggalkan Sui yang ber-pingsan-pingsan ria (?).
.
Dikamar
.
Deidara mendudukkan Sakura di tempat tidur satu-satunya di kamar tersebut. Kemudian dia melihat jam tangannya.
"Un? Sudah jam sembilan ternyata. Waktu berjalan begitu cepat yah!" Deidara ngomong sendiri. Dan tiba-tiba saja hape author bunyi *dirajam readers*.
"Sakura! Sepertinya aku harus pergi!" kata Deidara dan langsung mengecup pipi Sakura. Dan segera pergi dari kamar tersebut.
Tidak mungkin langsung pulang kan? Deidara menuju ke kantor Tsunade-sama. Disana Tsunade sedang mempersiapkan barang-barangnya ketika Deidara mengetuk pintu.
Tok... tok... tok... pintu digeplak (?). "Masuk!" kata si kuning yang punya ruangan. Deidara pun membuka pintunya. Dan langsung disambut oleh senyuman hangat dari Tsunade.
"Ada apa Deidara?" tanya Tsunade masih tersenyum.
"Err, ano! Aku boleh pulang Tsunade-sama?" tanya Deidara ragu.
"Maaf Deidara! Apa kau tau ini hari apa?" tanya Tsunade dengan wajah agak serius.
"Se-senin," jawab Deidara ragu.
"Ya! Anda benar Deidara-san!" Tsunade melangkah kearah Deidara. Deidara merinding.
"Aku tau kau anak baru. Biar kujelaskan peraturannya," lanjut Tsunade. Deidara nelen ludah.
"Para dokter dan suster yang punya pasien privat hanya boleh pulang sehari dalam seminggu. Dan hari itu adalah hari minggu jadi," Tsunade menggantungkan kata-katanya. Deidara basah(?)at dingin.
"Ja-jadi?" Deidara gugup.
"Apa kurang jelas? Berarti selama enam malam kau harus menginap di sini Dei-san!" Tsunade esmosi.
"Oh," Deidara bernafas lega. "Jadi aku tidur dimana?" lanjut Deidara sekenanya.
"Maaf, kami tidak menyediakan kamar dokter!" kata Tsunade dan langsung mengangkat barang-barangnya. Sudah jelas 'kan? Apa maksud Tsunade? Deidara yang lemot saja tau *dibom*.
"APA~? Aku tidur sama Sakura!" teriak Deidara dengan sedikit penekanan di kata terakhirnya sambil narik-narik kaki Tsunade yang sebentar lagi nyampe ke pintu.
"Sudah jelas 'kan? Oyasumi!" jawab Tsunade enteng. Dan dengan enteng juga dia melepas kakinya dari cengkraman maut (?) Deidara.
Brakk... pintu pun tertutup. Deidara hanya berlutut meratapi nasibnya. Ekspresi wajahnya sudah seperti wajah Naruto saat menghadapi ujian chunin pertama.
.
Akhirnya Deidara nyampe juga ke kamar Sakura.
"Sakura..." ucap Deidara sambil menutup pintu secara perlahan.
Sakura? Diam tanpa kata seperti biasa.
Deidara duduk disamping Sakura yang sedang tertidur. Dei menatap wajah Sakura yang terlihat sangat polos saat tertidur. Tanpa sadar dia tersenyum, dan setitik air keluar dari sudut matanya.
"Sakura..." ucapnya lagi.
Tadinya author pengen bikin Deidara berbuat yang macem-macem sama Sakura. Tapi berhubung ini bukan fic lemon yang rate M, jadi author batalkan saja niat gaje itu.
Deidara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia mencari tempat untuk ditiduri. Deidara kan anak baik. Dia nggak mau tidur seranjang sama Sakura. Emang siapa sih, yang mau tidur seranjang ama orgil? *dibantai, dicincang, ditumis Sakura*
Tapi dia tidak mendapat apa-apa. Mengingat kamar pasien isinya Cuma lemari, meja kecil dan sebuah tempat tidur yang... agak besar?
Lilin yang sumbunya terbakar muncul di atas kepala Deidara. Karna author dan narator juga lagi kekurangan lampu, jadi diganti pake lilin aja.
Sakura mulai bergerak, seolah-olah mengetahui isi hati Deidara. Sakura bergeser ke dekat tembok. Menyisakan ruang yang cukup bagi Deidara. Deidara tersenyum. "Terimakasih, Sakura!" ucapnya pelan.
Deidara pun membaringkan tubuhnya ke kasur yang empuk itu. Walaupun masih tersedia banyak lahan (?) di kasur itu, tetap saja Deidara tidurnya dipinggir dan membelakangi Sakura. Malangnya nasibmu! Sini tidur sama author! Ho ho~ #bletakk
.
Baru 46 detik Deidara menutup mata, dia merasakan ada sesuatu menindih pinggangnya. Dengan berat ginjal (?) Deidara membuka matanya dan melihat pinggangnya. "Ta-tangan?" batinnya.
"Sakura!" bisik Deidara pelan (ya bisik pastinya pelan lah!) sambil berbalik secara tiba-tiba. Dan langsung didapatinya hidung Sakura sudah bersentuhan dengan hidung mancungnya.
Deidara blushing. Akhirnya~.
Hatinya tetap teguh untuk tidak berbuat macam-macam. Heuh, seandainya ini fic rate M~ (malahan authornya yang mikir macem-macem).
.
Tangannya serasa seperti bergerak sendiri. Dia balas memeluk Sakura. Malah makin mengeratkan pelukannya. Dan dalam posisi seperti itulah mereka tertidur.
... TAMAT...
Eh, belom yah? Baiklah, lanjut.
Tok... tok... tok... pintu digampar (?) dari luar. Dengan susah payah Deidara membuka matanya.
Dan setelah Deidara berhasil membuka matanya, pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah, bulu mata yang lentik, bulu mata dari seorang Haru no Sakura.
Agak lama Dei menikmatinya, suara tok tok tok membuatnya kaget dan mundur secara tiba-tiba, dan gedebuakh... Deidara jatuh ke lantai dengan tidak elitnya.
Tok... tok... tok... pintu diketuk lagi. Dan dengan punggung yang masih nyeri, Deidara berusaha bangkit dan membukakan pintu.
Deidara membuka pintu. Dan tampaklah seonggok makhluk kuning berbaju putih ala suster ngesot. Err, nggak ding, emang dia suster kok.
"Deidara nii-kun! Cepat sekali kau bersiap! Masih jam enam pagi juga! Mana udah pake sepatu lagi!" kata makhluk kuning yang ternyata Ino itu dengan senyuman khasnya.
Deidara langsung melihat ke bawah. Ke kakinya. Dan langsung sweatdropp.
"Ini mah, namanya bukan 'udah pake sepatu'! Tapi 'masih pake sepatu'!" jawabnya acuh.
"Ah, Dei-nii jorok ah! Tidur kok pake sepatu!" singgung Ino.
Deidara menghela nafas. "Sepertinya aku tertular virus Sponge Bob un!" ucapnya. Membuat Ino terkekeh.
"Huummphf..." terdengar sebuah suara—seperti orang baru bangun tidur—yang tidak asing lagi di telinga Ino dan Deidara. Serentak si duo kuning tersebut menyebut nama "Sakura" dengan nada, tempo, frekuensi dan kecepatan yang sama. Kakak adik yang kompak yah—author ngiri.
.
Deidara berjalan menuju tempat tidur Sakura, dan kemudian mendudukkannya.
"Err, harus kuapakan dia?" tanya Deidara pada Ino sambil nunjuk-nunjuk Sakura.
Bletakk... jitakan Ino mendarat di kuciran Deidara yang bentuknya udah gak bisa dibilang berbentuk lagi.
"Baiklah, khusus untuk pekerjaan yang satu ini, biar aku yang turun tangan," kata Ino sambil merangkul sakura dan memberdirikan (?) Sakura.
"Emang kamu mau ngapain?" tanya Deidara lugu.
"Pekerjaan yang tidak mungkin kau lakukan un!" jawab Ino misterius sambil ngopas 'un un'nya Deidara.
"Apa sih!" Deidara penasaran. Sementara Ino sudah mulai menggiring sakura berjalan.
"Mandiin Sakura! Kau mau?" lanjut Ino dengan tatapan horor, dan langsung masuk kamar mandi. Deidara merinding. Bukan karna apa-apa. Tapi tadi Ino sudah sukses membuat phobia Deidara kumat.
TBC
Maaf sedikit! Author mau siap-siap pindah rumah dulu. jaa
