Glass Chapter 3.

.

.

.

Author Pov.

Hyuk Jae memandang Donghae takut. Kakinya serasa memaksanya untuk berlari namun hatinya seperti memaksanya untuk tetap diam. Memaksanya untuk mengakui kesalahan yang bahkan tak pernah ia sadari.

Donghae tersenyum sinis. Matanya memerah dan genangan kristal bening itu seakan memaksanya untuk mengeluarkan segala emosi yang menguasai relung hatinya.

"Kukira kau sudah berhenti melakukannya, ternyata dugaanku salah. Apa uang yang kuberikan selama ini tidak cukup bagimu?! Apa kau begitu menggilai uang, hingga tega berbuat seperti ini lagi?!" Tanya Donghae sinis. Kakinya perlahan mendekati sang kekasih yang bergetar ketakutan.

Hyuk Jae melangkah mundur, menjauhi langkah Donghae yang semakin mendekatinya. Ia tahu betul apa yang akan diterimanya setelah ini. Namun sekat antara tembok apartement memaksanya berhenti melangkah. Seolah-olah memerintahkannya untuk bertanggung jawab atas tindakan yang ia lakukan.

Bruagh!

Sebuah hantaman keras tepat mengenai pipi seputih susu itu. Membuat Hyuk Jae terjungkal kebelakang. Punggungnya juga tak kalah keras menghantam tembok putih dibelakangnya. Pipinya membiru dan sudut bibirnya sedikit berdarah akibat pukulan Donghae.

Mata teduh Donghae kini mengeluarkan sebuah kilatan kemarahan, ia meraih pundak Hyuk Jae dan memaksanya untuk berdiri. Tangan lainnya digunakan untuk mencekik leher jenjang Hyuk Jae dan kaki-kakinya mengapit tubuh Hyuk Jae, menghentikan setiap pergerakkan yang akan dilakukan namja bersurai cokelat itu.

"H...Hae...jangan gila, ini se...sak!" Hyuk Jae meronta. Kaki Hyuk Jae sudah hampir melayang akibat cekikan yang Donghae lakukan. Tangan Hyuk Jae mencoba menghentikan aksi gila itu namun harus diketahui, tubuh Hyuk Jae yang kecil membuatnya harus kalah dari cengkraman namja didepannya.

"Gila?! Kau pikir siapa yang gila?!" Kembali Donghae menguatkan cengkramannya pada leher Hyuk Jae. Tangan kirinya mengepal lalu memukul pipi tirus Hyuk Jae.

"Sakit!" Hyuk Jae mengaduh. Nafasnya hampir habis dan tubuhnya berdenyut menahan sakit.

Donghae terus menerus memukul Hyuk Jae hingga ia benar-benar menghentikan aksinya saat merasa Hyuk Jae sudah melemas. Donghae melonggarkan cengkramannya dan membiarkan tubuh kurus itu terduduk dilantai.

Kalian pikir Donghae akan berhenti? Ayolah! Ini bukan kali pertama Hyuk Jae melakukan hal ini dan, ini juga bukan kali pertama perkelahian ini terjadi. Hanya saja yang membedakannya, kondisi Donghae dan intensitas kemarahannya jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Donghae berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Hyuk Jae.

Jemari lentik itu meraih surai Hyuk Jae dan menariknya keras. Membuat wajah Hyuk Jae terpaksa mendongak kearahnya. Sama sekali tidak ada tatapan penyesalan yang Hyuk Jae keluarkan. Hanya tatapan kosong yang terpancar dari onyx kelamnya.

"Apa kau tidak puas menyakitiku sekali saja?!" Akhirnya tangisan Donghae benar-benar pecah. Wajahnya basah akibat air mata yang dikeluarkannya. Tidak ada respon dari Hyuk Jae, mata sipit itu masih memandang kosong kearah Donghae.

Bukan hanya Donghae tapi dirinya juga menahan rasa sakit. Menahan rasa sakit yang selama ini menimpanya dua tahun belakangan.

"Kenapa kau tidak menjawabku?!" Teriakkan Donghae kembali pecah. Suara tangisannyapun mengeras. Belum puas melihat sang kekasih dengan lebam yang parah diwajahnya, Donghae menarik surai itu semakin keras. Hingga membuat helaian demi helaian rambut Hyuk Jae berjatuhan kelantai apartement mereka.

"Karena tidak ada yang harus kujawab dari setiap pertanyaanmu!" Jawab Hyuk Jae sinis.

Bruagh!

Donghae menendang perut Hyuk Jae dengan sangat keras hingga benar-benar membuatnya mengaduh kesakitan memegangi perutnya yang terasa mati rasa. Donghae menangis terisak dilantai. Ia bahkan menendang-nendangkan kakinya seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk pada orang tuanya.

Setelah beberapa lama, Donghae menghentikan aksinya mengetahui Hyuk Jae sama sekali tidak memberikannya sebuah respon yang berarti. Kaki jenjangnya berjalan menyusuri dapur dan meraih sebuah pisau perak. Setelah itu ia kembali pada posisinya, kembali berjongkok menghadap Hyuk Jae.

"Keurae..." Donghae mendengus. Dia menjantuhkan pisau dapur itu tepat dihadapan Hyuk Jae. "Bukankah menurutmu tidak ada penyelesaian disini? Kita gunakan cari lain untuk menyelasaikannya. Mungkin mati bisa membuatmu tertawa lega." Tuturnya. Hyuk Jae membulatkan matanya.

Ia mengerti dan sangat tahu arah pembicaraan Donghae. Sebuah kata 'mati' tiba-tiba membuatnya teringat akan sesuatu.

"Semua orang akan menganggap bunuh diri adalah jalan terbaik untuk menghilangkan rasa sakit, tapi tidak semua orang yang bunuh diri bersiap untuk mati. Mereka hanya siap menghilangkan rasa sakit yang mereka miliki tanpa memperdulikan banyak faktor yang mungkin akan memberatkan mereka. Jika kau bersiap untuk mati, silahkan saja, tapi tidak untukku. Aku masih belum siap untuk mati dan bertemu Tuhan." Hyuk Jae berujar sinis.

Ia masih menyembunyikan kesedihannya. Sebuah kesedihan yang amat membuatnya tersakiti. Saat namja didepannya dengan lugas menyakitinya maka itu membuatnya menangis, dan saat namja itu mulai bersikap lembut itu semakin membuatnya tersakiti.

"Haruskah kau memperlakukanku seperti ini?! Apa berhenti mengkhianatiku adalah yang begitu sulit bagimu?!" Kembali Donghae berteriak.

"Dan kau kira dengan penghasilanku dari cafe yang kau berikan itu aku bisa membayar semua hutangku?!" Kini Hyuk Jae kembali berteriak. Tangisan yang awalnya ditahannya kini mulai memecah. Kebingungan selalu melekat pada diri Hyuk Jae.

Kalian pikir bersenang-senang dengan ahjussi tua itu adalah alasan kenapa Hyuk melakukan semua ini? Hei! Jangan gila! Dia masih punya mata untuk melihat kenyataan yang lebih baik dari itu. Mungkin alasan pertama kenapa ia seperti ini adalah 'uang'.

"Ternyata dugaanku benar..."

Hyuk Jae tertegun meresap pernyataan yang dilontarkan sang kekasih untuknya. Kenapa tiba-tiba sebuah penyesalan datang begitu saja? Bukan! Ini bukan pengaruh dari rasa cinta yang hanya berlandaskan emosi. Ketika manik teduh itu menitikkan air mata entah mengapa, lagi-lagi ia harus bimbang.

"Kukira dengan mengulur waktu aku bisa melihatmu memohon dan menganggapku setidaknya berada dalam daftar orang penting dalam hidupmu, tapi sepertinya aku melakukan hal bodoh." Donghae berujar dengan sinis.

Tubuh tegapnya kembali berdiri dan tangan putihnya ponsel pintarnya yang ia letakkan dikantung celananya. Menekan beberapa tombol dan memulai koneksi telpon.

"Sediakan 100 juta Won dari rekening pribadiku sekarang juga. Lalu bayar semua hutang Lee Hyuk Jae di Slave Club atas namaku. Usahakan transaksi selesai 2 jam kemudian dan minta kwitansi asli pada mereka. Setelah itu serahkan padaku di apartement pribadiku nanti." Ucapnya pada seseorang.

Setelah mendengar kata 'baiklah' dengan kasar Choi Donghae melempar ponselnya kearah Hyuk Jae hingga nyaris terkena wajah manisnya. Namun untung saja ia dapat menghindar dan harus diketahui, kondisi ponsel tersebutlah yang harusnya menjadi fokus utama.

Donghae kembali berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Hyuk Jae. Meraih dagu Hyuk Jae dan mencengkramnya dengan erat.

"Ini sakit! Lepaskan aku!" Hyuk Jae merintih. Dagunya terasa amat sangat panas saat Donghae mencengkramnya dengan erat dan membiarkan kuku Donghae kuku Donghae sedikit menembus kulitnya.

"Apa rasa sakitmu sebanding dengan rasa sakit yang selama ini kurasakan? Tidakkah kau merasa berlebihan jika menganggap apa yang kulakukan sekarang adalah sebuah rasa sakit?!" Tanya Donghae lirih. Air mata kembali jatuh dan cengkramannya melemah.

Ia sangat bingung bagaimana menghadapi sikap Hyuk Jae terasa yang amat sinis. Bahkan hanya untuk memandangnya adalah sebuah mimpi yang tidak akan bisa ia temukan saat bunga tidur mulai menyapanya.

"Kenapa kau lakukan semua ini padaku?! Padahal kau tahu seberapa besar rasa cintaku padamu! Kau tidak pernah perduli dengan aku yang berada didekatmu. Kau sibuk dengan dirimu sendiri! Membuangku dalam pikiranmu yang entah kemana dan mencari kesempatan lain yang bahkan tidak ada artinya!" Donghae berteriak amat keras.

Entah karena muak atau apa, kini tatapan kesedihan Hyuk Jae mulai memudar tergantikan dengan pandangan kebencian. Ia tersenyum sinis mendengar apa yang dituturkan Donghae pada dirinya.

"Lebih baik aku berlari dan mencari sesuatu yang tidak ada artinya, lalu saat aku sudah menemukannya aku bisa mengartikannya sendiri! Daripada aku harus mencari hal yang sama sekali tidak berarti dan pada akhirnya aku menyesal! Bukankah itu sia-sia? Menjijikkan! Kau merasa dirimu adalah pihak yang paling diberatkan bukan? Lalu bagaimana denganku?! Apa aku pernah mengeluh bahkan saat kau bercumbu dengan wanita itu didepan mataku?!" Hyuk Jae balik berteriak.

Donghae tertohok. Entah apa yang harus dikatakannya saat ucapan ini kembali terdengar ditelinganya. Ia sudah tahu Hyuk Jae akan kembali mengungkit hal ini namun entah kenapa, jawaban dari pertanyaan Hyuk Jae bak sebuah harta karun yang terkubur sangat dalam.

Donghae terisak pelan, tidak ada yang bisa dikatakannya lagi selain membiarkan dirinya meluapkan segala kesedihan didepan namja berwajah manis itu.

"Berhentilah menangis, aku tahu kau lelah. Kita lupakan saja dan lebih baik kau tidur." Tatapan Hyuk Jae kembali menyendu. Ia membangunkan tubuh kurusnya yang penuh luka itu susah payah. Kakinya mulai berjalan menuju kamar mereka dengan lunglai.

Langkah kakinya semakin kentara terdengar diruangan apartement yang tiba-tiba terasa mencekam. Penerangan yang biasanya menjadi awal mereka membuka mata sekarang hanya menyisakan sebuah kegelapan.

Tentu saja isakkan Donghae yang semakin mengeras. Hyuk Jae tidak sejahat yang kalian kira. Hatinya berdenyut saat lagi-lagi keegoisannya harus kembali menyakiti namja yang 'pernah' dicintainya ini.

Donghae membangunkan dirinya seraya menghapus jejak kristal yang sudah membasahi sebagian wajahnya. Langkahnya mengikuti langkah Hyuk Jae yang berjalan menuju kamar mereka. Dengan mata yang amat berat ia menidurkan dirinya diatas ranjang dan berusaha menutup mata. Tertidur sejenak menghilangkan penat dan masalah dengan mendatangi dewa malam.

"Aku tidak tahu kenapa aku harus mengatakan ini tapi..." Donghae menghentikan monolognya. Ia memejamkan matanya kuat menepis rasa sakit yang menguasai hati dan pikirannya. "Aku minta maaf..." Lanjutnya.

Deg.

Hyuk Jae terdiam. Lagi-lagi ucapan namja brunette ini selalu berhasil menusuk hatinya. Hyuk Jae tidak pernah berharap namja didepannya ini meminta maaf, ini salahnya bukan? Dan kenapa takdir selalu memaksanya untuk mengakui setiap kesalahannya? Apa lari sekali saja begitu sulit untuknya?

"Ini bukan salahmu. Berhentilah bicara dan tidur saja, aku tahu kau lelah." Kembali Hyuk Jae mencoba menepis segalanya. Ia bediri dan beranjak menuju sebuah kotak yang berisi banyak obat-obatan untuk menyembuhkan luka lebam yang menjalar keseluruh tubuhnya.

"Aku minta maaf dan kumohon untuk berhenti melakukannya."

Hyuk Jae kembali tertohok. Air mata menitik dari pelupuk mati sipit itu, kakinya seakan mati rasa. Apakah dia benar-benar orang yang jahat?

"Tidurlah..." Hyuk Jae tidak mampu bicara apapun. Hanya sebaris kata itulah yang bisa diucapkannya saat bibirnya yang terasa kelu memaksanya untuk tidak menjawab apapun. Nadanyapun terdengar sangat parau.

"Mianhae..." Hyuk Jae dengan cepat membalikkan badannya. Segara berjalan menuju Donghae dan menyerang bibir Donghae dengan kasar.

Melumatnya dan memaksanya untuk mengikuti alur dari permainan lidah mereka. Walau dengan darah disudut bibir Hyuk Jae yang tak jarang menjadi penghalang untuk menikmati sensasi ciuman mereka.

.

.

.

Siwon melangkahkan kakinya menuju taman rumah meraka. Bibir joker terkembang sempurna saat melihat namja yang dicintainya tengah berdiri merasakan angin malam. Mata teduh Kibum memperhatikan objek bersinar yang sesekali meredup ditengah gelapnya malam.

"Ki_"

Belum sempat Siwon melangkahkan kakinya mendekati Kibum, suara dari ponsel Kibum menginstrupsi langkah kaki Siwon. Ia berdiri ditempat, menatap Kibum dari jarak yang tidak terlalu jauh, tapi karena gelap malam hal tersebut dapat menyamarkan keberadaan Siwon dari pandangan Kibum.

"O..., Henry-ah." Kibum mengucapkan sebaris kata yang tiba-tiba membuat semua otot Siwon kaku. Mata obsidian itu menelusuri setiap lekuk dari tubuh Kibum dengan tatapan mengintrograsi.

Bayangan tentang pengkhianatan terus saja berputar diotaknya. Harapan terbesarnya mungkin hanyalah Kibum yang perlahan-lahan bisa menerima perasaannya. Sungguh ia sangat tertekan dengan kenyataan bahwa dirinya bukanlah orang yang dicintai namja berwajah cantik itu.

"Eum..., ya aku baru saja menyelesaikan halaman terakhir." Terang Kibum pada seseorang disebrang sana. Siwon masih bisa bernafas lega saat kecurigannya bisa sedikit terhapuskan. Namun sepertinya hal itu harus tertunda. Sebuah kata kembali membuat hatinya tersakiti.

"Eum..., ya beristrirahatlah. O..., nado saranghae..."

Tes...

Air mata jatuh begitu saja menuruni pipi tirusnya. Kakinya semakin melemas mendengar kata-kata Kibum yang seharusnya ditunjukkan hanya untuk dirinya. Namja nyaris sempurna ini sudah tidak menghiraukan lagi harga dirinya yang terus saja merendah saat berhadapan dengan namja yang katanya amat 'dicintainya' dan juga namja yang katanya amat 'membencinya'.

Dengan tenaga yang tersisa kaki jenjang itu perlahan menjauhi Kibum, wajah yang terbilang sangat tampan itu harus sedikit ternodai akibat kristal-kristal bening yang terus saja memaksa jatuh. Hatinya terasa dirajam jutaan pisau. Sungguh sakit mencintai sang pangeran salju ini...

"Huh..." Kibum menghela nafas dalam, ia mendongakkan wajahnya kembali menatap langit malam. Mata teduh itu menyendu saat sebuah perasaan menyerang setiap relung hatinya. Keegoisan yang dilakukannya terasa amat menusuk.

Takdir memang tidak pernah berpihak pada mereka...

Author Pov End.

.

.

.

Sungmin Pov.

"Noona..." Suara berat itu kembali menghentikan lamunanku. Kudongakkan wajahku menatap wajah pucat itu. Rasanya amat tenang saat objek hazel kelam itu terus memberikan kehangatan mendalam. Menyakiti namja ini adalah dosa terburuk yang pernah kulakukan.

"Kyuhyun-ah, kau sudah datang? Duduklah." Aku menghentikan aktivitas merangkai bunga lalu mempersilahkannya duduk disofa. Setidaknya saat melihat iris kelam itu aku memiliki keyakinan untuk memantapkan hatiku.

"Jarang sekali noona menyuruhku datang bertamu, ah..., iya! Dimana Kim ahjumma?" Setelah mendudukkan dirinya, bibir tebalnya membrondongku dengan banyak pertanyaan. Wajah tampannya mengingatkanku pada seseorang.

"Ibu sedang pergi. Aku menyuruhmu kemari karna ada yang ingin kutanyakan." Aku memejamkan mata saat mengakhiri sebaris kalimat itu. Rasa sakit ini tidak akan bisa terhapus saat kedua namja itu memaksak untuk menjalani setiap keegoisanku.

"Eum..., katakanlah." Jawabnya singkat.

Aku meraih sebuah kartu yang sudah kupersiapkan sebelumnya, menyerahkan kartu berwarna keperakkan itu pada Kyuhyun. Aku harap setelah ini kristal bodoh itu tidak memaksa untuk jatuh.

"Apa ini?" Ia bertanya dengan wajah bingungnya. Aku menghela nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkannya untukku.

"Bukalah..."

Jemari lentiknya membuka perlahan pita yang menggulung kartu keperakkan itu, membiarkan iris kelamnya menangkap setiap pesan yang tertera didalamnya. Matanya membulat sempurna, aku yakin namja pintar ini sudah mengerti setiap maksud kata dari kartu perak itu.

"Kau benar-benar yakin?" Bibir itu berujar dengan sinis. Kristal jahat itu kini sudah memenuhi pelupuk mataku. Memaksaku untuk mendongak agar kebodohanku tidak kembali datang.

"Tidak sepenuhnya, tapi ini yang harus kulakukan. Maafkan aku..." Lirihku. Sungguh aku tidak sanggup lagi menatap wajahnya. Rasa sakit yang diterimanya seolah ikut menjalar kedalam tubuhku.

"Bukan jawaban seperti itu yang ingin kudengar darimu. Aku bertanya kau yakin atau tidak?!" Nada bicaranya sedikit meninggi. Aku menundukkan kepalaku menyembunyikan air mata yang akhirnya menetes begitu saja.

"Pikiranku mengatakan 'ya' tapi 'tidak' dengan hatiku. Aku hanya ingin semua pengorbanan yang kulakukan ini tidak sia-sia. Segalanya memaksaku untuk melakukan tindakan ini." Nada bicaraku memparau. Aku yakin dia pasti menyadari aku menangis dibawah sini.

Jemari lentiknya meraih wajahku. Memaksaku menatap iris hazel itu. Perlahan-lahan jarak antara kami semakin menipis, aku memejamkan mataku saat sebuah benda kenyal mulai menyerap segala kesedihanku.

Aku mencintainya? Aku tidak tahu...

Aku mencintai Donghae oppa? Aku tidak menemukan jawabannya...

Sungmin Pov End.

.

.

.

Author Pov.

Hyuk Jae membangunkan dirinya dari sebuah mimpi buruk. Mengedarkan pandangannya mencari sesosok wajah yang membuatnya menangis, dan tak jarang membuat bibir plum itu melengkung bahagia.

Jemari lentiknya mengusap lembut wajah teduh Donghae. Menghapus jejak air mata yang sudah mengering. Hyuk Jae sangat menyadari pangeran tampan ini menangis akibat dirinya sendiri.

"Mianhae..." Sebuah kata lolos begitu saja dari bibir kissable yang dimilikinya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Donghae lalu mengecup singkat bibir pemuda berwajah teduh itu.

"Eungh..." Donghae melenguh lemah. Membuka perlahan mata teduhnya, membiasakan iris matanya menangkap bias matahari yang perlahan memaksa masuk kedalam retina matinya.

"Bangunlah..." Bisik Hyuk Jae lembut ketelinga Donghae. Ia mulai menyibak selimut dan membiarkan tubuh polos mereka terekspos satu sama lain.

"Eum..." Donghae mengangguk lemah. Mengecup bibir kissable itu singkat lalu berlalu kekamar mandi. Membersihkan dirinya dari kegiatan cinta yang mereka lakukan tadi malam.

Sebuah getaran dari ponsel Hyukl Jae menghentikan lamunannya. Ia meraih ponsel pintarnya dan membaca pesan yang dikirimkan untuknya. Ia mengerutkan keningnya setelah melihat siapa pengirim pesan tersebut.

.

.

.

Seorang wanita duduk dengan anggun disalah satu meja disudut ruangan cafe. Matanya menerawang kesegala sisi menatap pemandangan cafe dengan sendu. Wanita itu bergetar saat seorang namja berwajah manis mulai mendekati meja tempatnya berada.

"Annyeonghasaeyeo..." Hyuk Jae menunduk memberi salam pada wanita didepannya. Ia mendudukkan tubuhnya berhadapan tepat dengan wanita paruh baya yang amat mempesona tersebut. Mata yeoja cantik itu membulat sempurna saat iris obsidiannya menemukan beberapa luka lebam diwajah Hyuk Jae.

"Ada apa dengan wajahmu?" Yeoja itu berujar dengan lembut. Tangan putihnya terulur menyentuh luka lebam yang berbaur diwajah Hyuk Jae. Wanita yang dijuluki malaikat tanpa sayap menunjukkan raut wajah khawatirnya.

"Ah! Ige..." Hyuk Jae menggaruk tengkuk sejenak lalu menyentuh luka yang berada diwajahnya. "Ada sedikit masalah." Lanjutnya sedikit kaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

Wanita cantik yang diketahui bernama Park Jung Soo itu mengangguk mengerti. Raut wajah khawatirnya kini berubah menjadi ekpresi kesedihan, kekecewaan dan penyesalan. Perasaan sensitive itu berbaur menjadi satu hingga dengan mudahnya membuat hatinya sebagai seorang ibu tersakiti.

"Apa aku mengganggumu?" Tanya Jung Soo. Hyuk Jae spontan menggeleng. Senyum lima jarinya yang mengembang cukup menampik segala pemikiran buruk Jung Soo.

"Anniyeo ahjumma, apa ahjumma ingin membicarakan sesuatu denganku?" Tanya Hyuk Jae sopan. Jung Soo mengangguk lemah. Jemarinya meraih sebuah kartu perak dari tas kulit mahal miliknya, memberikannya pada Hyuk Jae tanpa memandangnya. Entah mengapa hatinya seakan terkoyak saat onyx kelam itu memandangnya dengan sedih. Sebuah penyesalan? Ya itu benar.

"Ige mwoseumnikka?" Tanya Hyuk Jae bingung. Wanita ini terdiam. ia mengedarkan pandangannya keluar cafe membiarkan Hyuk Jae mencari jawaban dari pertanyaan itu sendiri.

Seolah mengerti tindakan Jung Soo jemari lentiknya mulai membuka pita yang menggulung kartu perak tersebut. Membiarkan onyx kelamnya memahi setiap baris kalimat yang tertera dikartu perak ini.

Matanya mulai mengabur, tatapannya melemah dan jarak pandangnnya mulai kosong. Pemikirannya semakin kalut saat sebuah kenyataan pahit dibuktikan oleh secarik kertas yang tiba-tiba berubah menjadi belati yang menghujam hatinya tanpa ampun, tanpa jeda, juga tanpa batas yang jelas. Ini kenyataan yang benar-benar menyakitkan...

Tes...

Air mata jatuh begitu saja melewati pipi putihnya. Belum cukup kesakitan, sebuah kesedihan juga mulai hadir bersama-sama menertawai Hyuk Jae. Kenyataan terburuk sekarang mulai berada didepannya.

"Jeongmal mianhaeyeo..." Lirih Jung Soo. Ia menangis dalam penyesalannnya. Wanita itu berlutut dilantai dan menjatuhkan dirinya disana. Memohon suatu kepastian pada namja manis didepannya.

"Maafkan aku, sebagai seorang ibu tidak ada yang bisa kulakukan. Aku benar-benar minta maaf." Jung Soo bersujud meminta maaf dikaki Hyuk Jae. Pandangan miring dari tamu-tamu cafe bukan masalah terbesar yang harus mereka jadikan prioritas saat ini.

Hyuk Jae masih bungkam. Bibirnya terasa kelu, sangat kelu bahkan hanya untuk bernafas. Entah takdir, keadaan, bahkan Tuhan sekalipun. Salahkan jika ia mengutuk langit?

Menangis dihadapan Tuhan jika memang seperti ini yang harus diterimanya. Sebuah cara klasik yang masih diterapkan sampa saat ini.

"Kumohon, aku sungguh minta maaf. Semuanya salahku, ini kesalahanku dan semuanya terjadi akibat kesalahanku. Tapi aku mohon jangan tinggalkan anak itu. Lee Hyuk Jaessi." Jung Soo masih terisak. Hyuk Jae terdiam.

Seperti orang bodoh, ia menatap pemandangan sekitar dengan tatapan kosong. Kertas perak itu kini sudah sangat usang akibat remasan dari jari panjang Hyuk Jae. Namja kurus ini mendirikan tubuhnya. Mulai berjalan melewati tubuh Jung Soo yang masih bersujud dibelakangnya.

"Aku harus berhenti..." Gumam Hyuk Jae lirih sebelum dirinya benar-benar pergi melewati Jung Soo. Air mata? Persetan dengan itu! Ia sakit sekarang! Harga diri yang dipertaruhkannya hanya dibalas dengan penyelesaian yang begitu buruk.

Terlalu transparan hingga tak ada lagi sebuah rahasia yang bisa dijaganya. Begitulah kaca...

.

.

.

Hyuk Jae membuka pintu apartementnya dengan lemas. Kakinya bergetar menahan berat tubuh yang terasa semakin memberatkan langkahnya. Setelah berhasil memasukkan dirinya kedalam apartement mewah itu, Hyuk Jae segera meletakkan kartu itu kemeja makan. Meraih makanan yang tersedia dilemari es dan mulai menyantap segala sesuatu yang setidaknya menenangkan pikirannya.

Mendudukkan dirinya dikursi makan. Menyantap dengan lahap makanan yang sebelumnya sudah diambilnya dri lemari es. Matanya kontan membulat kembali saat kartu perak yang sudah sedikit usang itu berada dalam ruang pandangnya.

"Hiks..." Tangisannya kembali terpecah. Makanan yang sudah memenuhi pipi putihnya serasa seperti sebuah objek yang hanya menumpang masuk kedalam lambung besarnya.

"Aku tidak akan kalah!" Hyuk Jae menggeram, entah kepada siapa. Tangisannya melebur dengan pandangan matanya yang memicing tajam kedepan. Ia memasukkan sebanyak mungkin makanan kedalam mulutnya. Mencoba memberikan kesempatan pada makanan itu untuk menyerap segala kesedihannya.

"Uhuk! Uhuk!" Namun prekdisinya salah. Ia tersedak dan membuat keadaannya semakin memburuk. Hyuk Jae menjatuhkan tubuhnya kelantai. Menepuk dadanya yang terasa sakit.

Tangisan itu tida bisa berhenti bersamaan dengan makanan yang menolak masuk kedalam tenggorokannya. Semuanya menentang dirinya...

Takut, ketakutan ini semakin mendalam. Semuanya melebur tidak membiarkan dirinya bernafas walau hanya sedetikpun. Angin yang dulu masih setia menjawab pertanyaan Hyuk Jae kini hanya mampu berbisik.

Berbisik menyuruhnya untuk berhenti. Berhenti melakukan tindakan dimana dosa semakin datang menghantuinya.

Ceklek.

Suara pintu apartement yang terbuka menginstrupsi kegiatan Hyuk Jae. Ia menghapus air mata yang menggenang diwajahnya dan memaksa menelan makanan itu dengan kuat. Membuat Hyuk Jae sedikit tertohok akibat kedutan yang terjadi akibat kedutan yang terjadi pada tenggorokkannya.

Dengan tatapan kemarahan ia meraih kartu perak itu. Berjalan mendekati asal suara yang mengganggu kegiatan meratapi nasib dirinya tadi.

"O..., Hyuk Jae_" Ucapan Donghae terpotong saat sebuah kertas mengenai wajahnya.

Ya..., Hyuk Jae melempar kertas itu tepat kearah wajah Donghae. Sakit hatinya seolah melenyapkan sisi seorang Hyuk Jae yang terkenal tenang. Dan lebih bodoh lagi jika Hyuk Jae masih berusaha menutupi perasaannya, saat dimana hatinya memintanya untuk menangis.

"Bisa kau jelaskan tentang ini?!" Hyuk Jae berujar sinis. Tangannya mengepal menahan segala gejolak dalam dirinya.

Donghae terdiam. Ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi didepannya. Tatapannya nanar menatap kartu perak itu. Ia bungkam mencari jawaban yang benar-benar bisa menggambarkan isi hatinya.

Hatinya tak kalah sakit saat tuntuttan sebuah perjanjian sakral seakan mengikat dirinya, tapi apa yang bisa ia lakukan ketika tidak ada seorangpun yang bisa berpihak pada dirinya? Hanya berharap ini semua bisa berakhir sesuai dengan kemauannya.

"Kau marah karena aku masih menerima 'pelanggan' sedangkan dirimu sendiri kini malah terikat bersama orang lain. Belum satu hari kau ucapkan kalimat itu dan sekarang dengan mudahnya semuanya berjalan seolah-olah kalima itu hanya sampah bagimu! Kau pikir aku boneka?!" Teriak Hyuk Jae.

"Aku hanya perlu menikahinya selama beberapa bulan, lalu setelah itu aku akan menceraikannya dan menjadikanmu sepenuhnya milikku. Apa menungguku begitu sulit bagimu?" Jawab Donghae enteng.

Hyuk Jae tersenyum getir. Lelucon yang dilontarkan Donghae benar-benar membuat perutnya terkocok. Semudah itukah? Jika memang semudah itu, apa jalan sesulit ini yang mereka lalui sekarang?

"Kukira kau menganggap hubungan ini lebih dari sebuah lelucon, ternyata dugaanku salah. Kau tidak pernah menganggapku serius. Jadi untuk apa kata-kata 'cinta' yang selalu kau lontarkan padaku? Aku tidak serendah itu Choi Donghae!" Geram Hyuk Jae. Donghae terdiam tak bisa berkata apa-apa.

"Cukup sudah! Kita hentikan semua ini!" Setelah mengucapkan sebaris kalimat itu Hyuk Jae berjalan menuju lemari mereka.

Meraih sebuah koper besar dan memasukkan semua baju, juga barang-barang miliknya kedalam koper berwarna merah tua. Donghae masih terdiam dalam posisinya. Walaupun logiknya menentang setiap pergerakkan Hyuk Jae, tapi sekali lagi hati kecilnya menghentikan semua keegoisan yang ada dibenaknya.

Membiarkan Hyuk Jae pergi sama saja membunuhnya tapi jika menahan, itu berarti ia adalah orang terjahat yang pernah diciptakan Tuhan. Cinta dan obsesi mengikat hubungan mereka dan membiarkannya menggantung begitu saja.

"Berhenti!" Donghae memejamkan matanya saat kalima itu meluncur dengan mudah dari bibir plumnya. Hyuk Jae tidak bergeming, masih sibuk dengan kegiatannya mengemasi barang.

"Kubilang berhenti Lee Hyuk Jae!" Donghae berteriak keras, mendengar hal itu Hyuk Jae hanya berdecih.

Meminta dirinya untuk tinggal, tapi saat dirinya tinggal sebuah ketidak pastian menjadi harga mutlak dalam harga dirinya yang sudah direndahkan. Apa itu pantas?

"Kita selesaikan ini. Aku akan pindah dari Seoul!" Ujar Hyuk Jae sinis. Donghae menggertakkan giginya. Ia meraih tangan Hyuk Jae lalu melempar koper tersebut kesembarang arah.

Menarik paksa tubuh kurus itu kedalam kamar. Hyuk Jae memberontak namun karena pengaruh emosi Donghae, ia harus kembali kalah.

Donghae mendorong tubuh ke Hyuk Jae hingga terjatuh keatas ranjang mereka. Dengan segara ia mengunci pintu kamar, melemparkan kunci pintu itu kelantai lalu dengan cepat menindih tubuh kurus Hyuk Jae.

"Lepaskan aku!" Hyuk Jae memberontak dalam tindihan Donghae. Ia menendang-nendang kakinya mencoba melepaskan dirinya dari jerat Donghae. Donghae tidak bergeming, tatapan matanya beralih keresleting celana Hyuk Jae.

"Aku membayar hutangmu kemarin dan sekarang kau pergi meninggalkanku dengan alasan yang konyol!" Bentak Donghae. Hyuk Jae membulatkan matanya tidak percaya akan kata-kata Donghae yang baru saja tertangkap indra pendengarannya.

"Kau bilang konyol?! Kau yang konyol! Tidakkah kau memikirkan perasaanku selama ini?! Terlalu sulit bagiku saat kau hanya memberi respon seperti ini! Kau pikir berapa ancama yang sudah kuterima karna terlalu lama bermain-main dengan kalian?! Sangat banyak Choi Donghae! Kau bahkan tidak akan pernah menyadarinya!" Hyuk Jae berteriak keras.

Donghae membekap mulut Hyuk Jae dengan tangannya. Ia mulai membuka celana Hyuk Jae dan dengan cepat juga membuka semua helai benang yang menutupi bagian bawah dirinya.

Mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan Donghae, Hyuk Jae menggeleng. Ia terus berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang semakin melemah.

"Kau berniat pargi? Berati dengan sangat berat hati kita berakhi dengan kematian." Bisiknya tepat ketelinga Hyuk Jae. Hyuk Jae menggeleng kuat, ia ketakutan dan lagi-lagi Hyuk Jae harus kembali menyebut nama Tuhan untuk menjadi pihak yang disalahkan.

.

.

.

TBC.

.

.

.

Mind to Riview?

.

.

.

Author Note:

Kami minta maaf karna untuk chap ini update-nya sangat lama. Maaf juga atas banyaknya kekurangan di FF ini. Seperti typo, alur, dan kata-kata yang tidak berkenan di hati para Reader sekalian. Terimakasih untuk Riview kalian semua di chap sebelumnya. Sampai jumpa di chap depan...

Jadi apakah FF ini masih pantas untuk dilanjutkan?