Chapter 3
Perhatian Setelah selesai baca ini tolong baca catatan dari NH yah! Dan ada pertanyaan penting disana! Jangan lupa! '3'
Prince Or Wolf?
.
.
.
.
Pair : NaruHina
Rate : T
Author:NH-Chan
Genre : Romance
Disclaimer : Masashi Kishimoto
WARNING!: abal",gaje,typo bertebaran,banyak pengulangan kata,AU,OOC,bikin muntah Dan lain sebagainya, silahkan pencet tombol keluar sebelum terjebak dengan kisah ini.
.
.
.
Don't like huh!, Just close you'r eyes!
.
.
.
~Oo~Prince Or Wolf~oO~
"Ohayou kaa-san, boleh aku bantu?" Aku menyapa ibu dan menawarkan bantuan melihat ibu memasak sarapan.
"Ohayou, tidak usah Hinata-chan aku ingin membuat special untukmu dan tentu saja buatanku sendiri." Aku tersenyum melihat ibu yang terlihat bersemangat sekali.
"Ha! tapi Kau bisa membantuku membangunkan Naruto." DEG!, huwaa bangunin srigala itu? Ini sama saja aku membangunkan singa yang sedang tidur.
"Tenang saja dia gampang dibangunkan, hanya saja... dia suka mengusir kaa-san jika masuk dikamarnya." Mampus dah adek. Ibunya saja diusir apa lagi aku yang notabene berstatus sebagai 'Budaknya'.
Aku berjalan menuju kamarnya. Aku merasa kakiku terasa sangat berat untuk melakah, kaki dan tanganku terasa sangat dingin, setakut itukah aku? Yah kenyataannya memang begitu.
Aku berada didepan pintu kamarnya menarik nafasku dalam-dalam lalu menghembuskannya. Aku bergidik ngeri saat memikirkan diriku terusir secara tragis jika masuk kedalam.
Aku menarik nafasku lalu ku tahan.
Cklek...
Yosh pintu terbuka, wow untuk kamar seorang pria kamarnya terlalu rapi dan sangat luas bahkan disini ada ruangan lagi seperti rumah saja. Aku berjinjit mendekati Naruto yang sedang tertidur diatas ranjangnya dengan balutan selimut hingga dilehernya, tunggu! Untuk apa aku berjinjit? Toh nanti aku juga bangunin dia.
"Naru- kyaa" aku memekik kaget karena tiba-tiba Naruto menarikku hingga terjatuh diatas ranjangnya, aku membuka mataku secara perlahan dan...
Blush!
Huaaaa di-dia berada diatasku menahan kaki dan tanganku dengan kaki dan tangannya, di-dia juga tidak mengenakan baju memperlihatkan badan atheletisnya padaku huaaaa coban apa lagi ini kami-sama?
"Wow sepertinya ada seekor kelinci pencuri yang berani masuk kekandang srigala." Pencuri? Apa lagi ini, aku Cuma mau bangunin dibilang pencuri. Lagi pula bi-bisa nggak menyingkir dari atasku ini jantung udah kayak lari tiga kilometer tau, dan bisaku pastikan wajahku sudah merah semerah tomat.
"A-aku ha-hanya ingin me-membangunkanmu." Ugh! Kenapa aku selalu tergagap jika berada didepannya.
"Dengan cara berjinjit?" dia menatapku dengan tatapan menantang, aku balas menatapnya bukan tatapan menantang yang aku berikan, tapi tatapan terpanah seolah matanya itu lautan dalam yang bias menenggelamkan siapa saja disana termasuk aku, aku tersadar dari keterpanahanku dan segera membuang muka kesamping.
"Da-dari pa-pada itu, ka-kau harus se-segera mandi, ki-kita bi-bisa telat nanti." Kami terdiam masih dengan posisi yang ekhem.
Deg...deg...deg
Jantungku semakin berdebar tak karuan, aku masih mengalihkan pandanganku darinya.
"Huh!" dia menghela nafas lalu menyingkir dari atasku. Akhirnya arigatou kami-sama. Tak ingin membuang kesempataan segera aku bangun dari ranjangnya.
"A-aku a-akan me-membantu kaa-san" ucapku lalu pergi darisana. Huuu aku tidak mau lagi masuk dikamar itu. Aku melihat kaa-san yang sedang sibuk menyiapkan meja makan.
"Kaa-san bi-biar aku bantu." "eh Hinata-chan kenapa wajahmu merah apa Naruto melakukan sesuatu padamu?" yah ibu anakmu itu memperlihatkan roti sobeknya padaku. "ti-tidak kaa-san" ucapku berbohong.
Aku mengedarkan pandanganku diruang makan tapi aku tidak menemukan ada tou-san disini. "Kaa-san dimana tou-san, kenapa tidak sarapan?." "ah dia ada sesuatu yang diurus jadi tadi pagi-pagi sekali dia berangkat, mungkin akan pulang nanti siang." Aku hanya ber-oh ria dan kembali menyuapkan nasi goreng didalam mulutku.
"HINATA-CHAN!" aku terlonjak kaget mendengar kaa-san berteriak tiba-tiba.
" Aku baru menyadari jika kau menggunakan seragam konoha high school, kau satu sekolah dengan Naruto." "Uhuk!" aku terbatuk mendengar itu, apa lagi ini, aku sudah cukup menderita hanya dengan tinggal disini, tapi sekarang aku harus menghabiskan waktuku dengannya selama 24 jam hueee, tolong siapa saja bunuh aku!.
"Ja Hinata-chan kau akan pergi bersama Naru dengan motornya,Ok!" Badanku seketika kaku seperti patung. Dosa apa aku,sampai diberi cobaan yang begitu berat seperti ini!.
"Ne,Naruto kau harus mengantar dan menjemput Hinata-chan! Awas kau meninggalkannya!" Kata kaa-san yang entah kepada siapa, disini hanya ada kaa-san dan aku.
"Tenang saja kaa-san aku tidak akan membiarkannya kabur."
Klenteng!
Garpu dan sendok yang ku pegang pun jatuh. Aku berbalik dan menemukan Naruto sudah berada dibelakangku dan sedang menyeringai kearahku. Kami-samaaaa! Tolong aku.
.
.
.
"Ueeekkk!"
"Hinata,apa yang terjadi? Apa kau sakit?, wajahmu pucat sekali.". Ucap Sakura sambil menepuk-nepuk belakangku.
Ini semua karena Naruto, dia membawa motor sangat kencang! Bahkan lebih kencang dari yang waktu itu. Oh yaampun..jika setiap hari aku dibawa seperti ini, aku yakin dalam tiga hari aku tewas seketika.
"Ueeekk, tanyakan kepada Naruto ueekk." Ucapku, malas menjelaskan padanya.
"Naruto si pangeran kita maksudmu?" Hah! pangeran?.
"Pangeran?" "Iya, Uzumaki Naruto pangeran konoha high school yang memiliki wajah tampan dan pintar. Apa kau tidak tau? Bagaimana bisa kau bersama pangeran kita?" Eh di-dia pengeran sekolah ini? Yap aku tidak tau sama sekali, wajar saja aku kan sering mengikuti kegiatan osis dan jarang bergosip seperti kebanyakan cewek lainnya. Tiba-tiba mual diperutku semakin terasa dan memaksaku untuk kekamar mandi.
"Sakura-chan aku kekamar mandi dulu!" Ucapku sambil berlari meninggalkan kelas menuju kamar mandi.
"Ueekkk." Setelah memuntahkan semua nasi gorengku, aku menyalakan air dan membersihkan mulutku, akhirnya perutku terasa lega. Setelah itu aku berjalan keluar dari kamar mandi.
"Apa kau sakit?" Aku terlonjak kaget begitu mendengar suara bariton yang sangatku kenal sedang menungguku diluar kamar mandi.
"Ti-tidak." Kataku singkat sambil terus berjalan, dia pun ikut berjalan disampingku. "Terus kenapa kau muntah?" Ish itu kan karena kamu yang bawa motornya gak bener. "Perutku mual karena seseorang membawaku menggunakan motor dengan ugal-ugalan tadi pagi." Ucapku menyindir. Dia hanya diam, seperti orang yang tidak berdosa sambil berjalan disampingku. Emm tapi, kenapa Naruto mengikutiku?.
"Naruto apa kau akan mengikutiku terus?"
"Cih, siapa yang mengikutimu, aku mau kekelas, dan kelasku berada tepat disampingmu." Eh di-dia berada dikelas sebelah. Tentu saja aku tidak tau, aku saja hanya mengingat orang yang dekat,aneh,lucu, dikelas dan sisanya aku tak mengingatnya.
Aku melihat keselilingku, aku baru sadar jika kita menjadi pusat perhatian, bukan..bukan kita tapi 'Naruto', setiap gadis yang ia lewati selalu berteriak, ' Naruto-senpai!, Naruto-kun!, senpai!, kyaa!' Itu lah yang aku dengar, bahkan ada yang menatapku tajam, hei apa salahku? Akukan hanya berjalan disampingnya.
Tiba-tiba ada seorang gadis berjalan mendekat kearah Naruto, dan memberikan sebuah surat, surat yang lebih tepatnya surat cinta. Entah mengapa dadaku terasa sakit, perasaan kesal meluap didadaku. Aku menggigit bibirku menahan tangis, kenapa? Kenapa aku mau menangis?.
Entah perasaanku atau bukan, aku merasa Naruto melirik sekilas kearahku. Memang aku bukan siapa-siapanya tapi didalam hatiku... Aku berharap dia tidak mengambilnya.
Set!
"Ayo pergi!" Naruto menarik tanganku untuk pergi menjauh, meninggalkan gadis itu tanpa sepetah kata pun.
Aku hanya bisa terdiam menatap punggungnya dari belakang dan merasakan kehangataan dari tangannya yang menggenggam tanganku. Terimakasih Naruto.
.
.
.
Set!
"Mau kemana kau nona? Apa kau mau kabur seperti istirahat tadi huh?" Oh tidak aku ketahuan. Baru saja aku membuka mulut ingin mengeluarkan seribu alasan tapi Naruto sudah memotongnya.
"Tidak ada alasan, ikut aku!" Aku hanya bisa pasrah saat tanganku ditarik oleh Naruto. Sebenanya tadi saat peristiwa 'surat cinta' itu terjadi, Naruto menyuruhku menunggunya saat istirahat, tapi aku lebih memilih kabur keruang osis dari pada nanti aku disuruh-suruh sama dia.
"Hei apa kau masih tidak mengingatku." Apa sih ni orang dari kemaren nanya nya itu mulu, kan sudah kujawab waktu itu.
"Tentu saja ingat, kau kan yang menyelamatkan ku." "Bukan itu, saat disekolah, apa kau tidak mengingatku?" Sekolah?, tau satu sekolah saja baru hari ini. "Tidak, aku tidak ingat."
Dia mengambil sesuatu dari sakunya dan memakainya, nah sekarang dia terlihat familiar, pria pirang bermasker, oh! Mataku membulat sempurna. "Aku ingat...aku ingat, bos nyebelin para preman itu kan, ah tentu saja aku tidak mengingatmu kau menggunakan masker, wajahmu tak terlihat." Oops aku keceplosan bilangin dia nyebelin. Dia menatapku tajam sambil melepaskan maskernya.
"Tapi, kenapa waktu itu kau pakai masker?" Tanyaku cepat sebelum akhirnya aku kena marah.
"Aku flu." Oh yaampun, Naruto. Tidak bisakah kau sekedar basa-basi, semahal apa sih kata-kata yang terucap darimu, pelit sekali.
"Btw, kau mau bawa aku kemana?, kita tidak pulang?" Aku melihat jalan yang aku jalani, ini jalan menujuuu... Ah! Tempat aku membanting anak buahnya atau lebih tepatnya markasnya. Hii mau diapain aku ini.
"Kita tidak pulang, aku ingin disini sebentar." Aku mengikuti Naruto entah mengapa perasaanku tidak enak. Kubilang juga apa, aku dibawa kemarkasnya dan disana anak-anak buahnya menatapku garang, ngeri sih sebenarnya tapi aku balas dengan tatapan garang juga.
Naruto duduk lalu mengambil Novel misteri dan membacanya, wah bang, aku kok dicuekin, ini kayak mana nasibku bang anak buahmu sudah menatapku lekat ini.
Aku duduk disamping Naruto sengaja aku merapat, menempelkan tubuhku dengannya karena takut.
"Wah bos, kenapa gadis ini ada disini?" Naruto Tidak menjawab
"Hei lihat! Bukankah ini nomor bos kita?" Aku terkejut begitu melihat salah satu anak buahnya sudah mengambil hanphone yang ku simpan didalam tas, dasar maling! Apa kalian mau dibanting seperti teman kalian waktu itu!.
"Dan nama kontaknya adalah 'Majikan', wah ternyata dia budaknya bos...hahaha" mereka tertawa, ish belum pernah ketabok batu bata yah?.
"Karena kau budaknya bos, berarti kau budak kita juga kan, jaa kau juga harus menuruti kami." Idih ngapain nurutin kalian, tapi bagaimana jika Naruto marah karena aku tidak menuruti mereka?. Aku menoleh sekilas kearah Naruto, pria itu masih fokus dengan novelnya.
"Hei karena kau membantingku kemaren, bagaiman jika bermain sedikit." Bwahahaha kamu toh yang aku banting, mukamu sih pengen bikin orang muntah, eeh..eeh apa ini kenapa mukanya dideketin, ganteng aja nggak papa yah dekat-dekat!.
Pria itu mulai mendekat, memegang bahuku untuk menahan agar aku tidak mundur. Aku mengepalkan tanganku bersiap untuk memukul, jika wajahnya berani mendekat lagi. Tapi..
DUAGH!
Aku kalah cepat, Seseorang telah memukulnya dengan sangat keras hingga dia terlempar kesamping dan orang itu adalah 'Naruto'
Set..
Dia menarik tanganku hingga posisiku berdiri dan jatuh tepat didada bidangnya.
Cuph..
Pearlku membulat sempurna kala Naruto menciumku ditengah umum dan didepan banyak orang. Hyaaa, aku berusaha melepaskan diri tapi percuma tenaganya sangat kuat.
Dia mulai melumat bibirku dan memasukan lidahnya dalam mulutku,huwaaa Naruto! Apa yang kau lakukan? Aku yakin wajahku merah seperti kepiting rebus. Naruto melepaskan ciumannya, segera aku menyembunyikan wajah merahku didada bidangnya.
" SHE IS MINE!, IF YOU TOUCH HER... I WILL KILL YOU! " Mataku membulat terkejut dengan perkataan Naruto yang terlihat sangat serius.
Setelah mengatakan itu dia pergi sambil menarik tanganku, dia sangat marah... Terlihat dari cengkraman tangannya yang kuat ditanganku. Entah hatiku merasa senang dengan perkataanya tadi. Eh kenapa aku senang?.
Naruto menggiringku menuju parkiran sekolah yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat kami berjalan, tiba-tiba dia membuang tanganku dan berjalan didepanku, sepertinya dia marah kepadaku. Tapi kenapa dia marah? Aku berusaha mesenjajarkan langkahku, tapi tetap saja tidak bisa.
"Naruto!, tunggu aku!, apa kau marah?" Teriakku yang tidak membuahkan hasil, pria itu masih tetap berjalan didepanku bahkan meninggalkanku. Aku memandang punggunya yang menjauh dan berusaha menggapainya.
"Naru- kyaa!" Aku berteriak ketika sebuah bola sepak dengan kecepatan yang luar biasa cepat mengarah kepadaku.
DUAKH!
Na'as aku tidak sempat menghindarinya, dan jatuh terduduk, kabar baiknya bolanya tak mengenai kepalaku tapi malah kena kakiku, kabar buruknya kakiku cenat-cenut sampai rasanya aku tidak bisa berdiri huee!.
"Maaf nona kau tidak apa-apa?" Seorang pria datang menghampiriku dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
"Tidak apa,Aku baik-baik saja." Ucapku sambil mencoba meraih tangan pria itu.
Plak..
Seseorang menangkis tangan itu hingga terlempar keudara, dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Naruto. Kalau dipikir Naruto seperti hantu yah tiba-tiba datang dari belakang.
"Biar aku yang mengurusnya." Ucapnya singkat seperti biasa. Cowok tadi pergi sambil menatap aneh Naruto.
"Kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja." Dia mengulurkan tangannya dan langsungku sambut. Aku berusaha tidak jatuh, dan menumpukan badanku pada kaki kiriku yang tidak sakit. Ini serius kaki kananku sepertinya terkilir, rasanya sangat sakit.
"Benar,tidak apa-apa?" Aku mengangguk sebagai kembali berjalan, aku berusah mengikutinya.
Satu langkah...
Dua langkah...
Oh tidak aku tidak kuat, aku terdiam ditempat menundukkan wajahku sambil menggigit bibirku menahan sakit.
"Apa kau yakin, kau tidak papa?" Aku terkejut mendapatkan Naruto sudah didepanku.
"Hem! A-aku tidak papa." Dia menatapku tajam, lalu berjongkok dan memegang pergelangan kakiku yang sakit.
"Itaa.." Dia menatapku sekilas lalu berbalik memunggungiku masih dengan posisi jongkok.
"Naiklah!" "Ehh!, ti-tidak perlu." Di-dia mau menghambinku!.
"Cepat, atau ku tinggalkan kau!." Aku segera menaiki punggunnya dan melingkarkan tanganku dilehernya. Aroma citrus menyeruak masuk dalam hidungku, aroma yang menenangkan dan mampu membuatku nyaman. Naruto mulai berjalan.
"Naruto, apa kau masih marah denganku?" Ucapku membranikan diri.
"Menurutmu?" Ouch nih orang ditanya malah balik nanya. "Emm, tidak?"
"Untuk apa kau menanyakan pertanyaan yang kau sendiri sudah tau." Nih orang kadang nyebelin yah tapi tetap bisa bikin jantungku nyat..nyut... Ehh apa lagi ini.
"Kenapa kau marah denganku?"
"Kenapa kau hanya diam diperlakukan seperti itu?" Tuh kan ditanya malah nanya balik, tapi maksudnya apa. Oh... Aku mengerti!
"Karena aku pikir kau akan marah jika aku memarahi anak buahmu." Ucapku yang kubuat seperti anak kecil dan menenggelamkan wajahku diperpotongan lehernya, aku takut dia akan marah, mudahan cara tadi sukses.
"Hah!" Dia menghela nafas, apa cara ku berhasil? "Mereka bukan anak buahku." "Eeh, tapi mereka memanggilmu bos!?."
"Itu karena aku mengalahkan preman sekolah sebelah yang membuat mereka babak belur."
"Jadi kau menyelamatkan mereka? Itu sebabnya mereka selalu mengikutimu sebagai balas budi, iyakan?" Oh ternyata anak buahnya senasib denganku menjadi budaknya karena balas budi.
"Tidak, aku tidak menyelamatkan mereka." Ehh?
"Terus kenapa kau menghajar preman-preman itu?" "Preman itu membuat motorku rusak." Oh itu alasannya, intinya anak buahnya terus mengikutinya kerena ingin berlindung, pengecut. Tunggu!Kenapa dia tidak minta balas budi juga kepada anak buahnya seperti dia memintaku menjadi budaknya.
"Kenapa kau tidak meminta anak buahmu jadi budak seperti kau memintaku menjadi budakmu?".
"Apa kau tidak bisa diam!" Ish kenapa yah rasanya mau ku cekek dia dari belakang sini?.
Kembali aku menyembunyikan wajahku dilehernya mencari kenyamanan disana.
.
.
.
"Astaga! Naruto ada apa dengan Hinata?" Teriak ayah begitu melihatku dihambin dipunggung Naruto.
"Aku tidak apa-apa tou-san, hanya terkilir sedikit." Aku menjawab pertanyaan ayah cepat. Naruto terus berjalan tidak memperdulikan orang disekitarnya yang terus bertanya. Dia berjalan ketangga dan membawaku masuk kedalam kamarnya. Oh no! kenapa kesisni lagi sih? Aku cukup trauma dengan kejadian tadi pagi.
Naruto mendudukanku secara perlahan diatas ranjangnya yang empuk dan pergi entah kemana.
Tok...tokā¦tok
"Naruto! Kenapa kau membawa Hinata kekamarmu ?" Terdengar suara tou-san diluar sana tak lama ada suara kaa-san datang menghampiri ayah.
"Ada apa Minato?." "Naruto membawa Hinata kedalam kamarnya." "Benarkah Naruto melakukan itu ?" ucap kaa-san yang terdengar tidak percaya.
"Tentu saja siapa lagi." "aku tidak percaya itu, aku saja sering diusir jika masuk kamarnya. Kyaaa! Sebaiknya kita menjauh dari sini."
"Ta-tapi" setelah itu aku tak terlalu jelas mendengar ucapan mereka. Mungkin mereka sudah pergi dari sana.
Tak lama Naruto datang dengan kota P3K dan minyak urut? GPU may be.
Dia menuangkannya ditangannya lalu duduk berjongkok dibawahku dan mengambil kaki kananku lalu memijatnya secara perlahan tapi tetap saja sakit.
"A-aw" pekikku begitu Naruto memijat kakiku dibagian yang sakit.
"Tahan sebentar, setelah ini kau pasti sembuh." Aku menggigit bibirku menahan sakit dikakiku. Dengan telaten dia memperban kakiku. Tanpa aku sadari aku tersenyum melihatnya, mataku tak bisa beralih darinya seolah aku tersihir olehnya.
"Baiklah sudah selesai." Dia membereskan barang-barangnya lalu pergi menaruhnya kembali, dan ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Aku berusaha berdiri dan berjalan kekamarku.
"Apa yang kau lakukan?" Aku terkejut mendengar suara mengintrupsi darinya.
"Aku ingin kembali kekamar." Ucapku jujur.
"Dengan keadan seperti itu? Apa kau bisa berjalan." Ucapnya sinis, emm pertanyaannya ada benarnya juga, sebenarnya kakiku masih sakit.
"Istirahatlah disini!" APA!? Disini? Dikamarmu? Dan hanya kita berdua? No way!
"Ti-tidak aku akan beristirahat dikamarku!" Lebih baik aku dikamarku dari pada harus disini, bukanya sembuh yang ada aku punya riwayat sakit jantung.
"Kau tidak usah keras kepala. Cepat sana tidur!" Aku terdiam, dan menuruti perintahnya untuk tidur diranjangnya. Dia pun ikut naik diranjang itu dan bersandar diranjang sambil membaca novel.
"Aku bilang tidur! Bukan menatapku."
Blush..
Aku menarik selimut hingga kewajahku lalu berbalik memunggunginya. Memalukan sekali ketahun memperhatikannya.
Deg..deg..deg..deg
Oh yaampun sudah setengah jam berlalu tapi aku tidak bisa tidur. Bagaimana mungkin bisa jika hanya ada aku dan Naruto didalam sini. Lagi pula ini masih siang, aku tidak terbiasa tidur siang. huaa.. Aku ingin pergi dari sini huee.
Aku membolak-balik diriku mencari posisi nyaman, tapi percuma tetap saja mataku tak bisa terpejam.
"Kau belum tidur?" Mendengar itu aku berbalik dan menatapnya yang perhatiannya masih tertuju pada novel ditangannya. "I-iya." Dia menutup novelnya menaruuhnya diatas nakas lalu mematikan lampu dan ikut berbaring disampingku.
Set..
Cuph..
Entah sudah beberapa kali dihari ini aku membelalakan mataku karena ulah tiba-tibanya. Dia menariku lagi dipelukannya dan mengecup hangat keningku lalu mengelus surai indigoku secara lembut.
"Tidurlah, supaya kau cepat sembuh." Aku mendongak untuk melihat wajahnya. Dia tersenyum lembut kearahku, senyum yang jarang ia perlihatkan, senyum yang sangat aku sukai, senyum yang membuatku sadar... Aku telah jatuh cinta kepadanya...
Aku tersadar jika wajah kami terlalu dekat, segera aku menyembunyikan wajahku didada bidangnya.
Dia seperti cuaca yang bisa berubah-ubah setiap saat. (terimakasih untuk Hyuuzu Avery dapat pencerahan dari kamu ^_^)
Aku tidak bisa menebak apa yang ada dipikiranya. Tadi pagi dia selalu membuatku kesal... Tapi sekarang dia sangat baik padaku. Bahkan saat tadi pulang dengan motor dia tidak mengebut seperti biasanya. Aku benar-benar bingung dengan perubahan sikapnya.
Dia itu siapa? SRIGALA atau PANGERAN ?
.
.
.
.
TBC
Hoho.. Hai..hai NH balik! Akimashite omedetou gozaimasu minna! Meskipun telat tapi ini masih nuansa tahun barukan?.
WAJIB DIBACA! NOTE: eem.. Kayaknya banyak yang salah paham sama cerita NH deh. Disini maksud Naruto nanya ke Hinata "apa kau mengingatku?" Itu maksudnya pertemuan pertama mereka dichap satu, saat Hinata marah-marah sama para preman disitu Naruto pake masker jadi Hinata yah gak tau. NH pernah buat cerita tentang sahabat tapi ceweknya lupa sama cowoknya, jadi si cowok berusaha untuk bikin dia ingat sekaligus balas dendam gitu.. Tapi baru beberapa kata NH males bikin kelanjutannya. Jadi di cerita ini NH gak bikin sama kayak yg itu, takutnya NH gak lanjutin lagi :D.
Dan satu lagi pertanyaan NH buat kalian. Ini sangat penting buat kelanjutan fic ini!
Kalian suka Naruto x Hinata jadi apa?
A. Pilot x Pramugari
B. Dokter x Suster
C. CEO x Ibu rumah tangga.
D. Isi sendiri.
Kalau NH sih sukanya pair kita jadi yg A. Pilot x Pramugari. Tapi NH mau tanya pendapat kalian tentang pekerjaan yg cocok untuk mereka. Pekerjaan mereka aku tentukan dari vote terbanyak dari kalian.
Balas review :
Oya682 :
Hontou? Yatta makasih loh sudah bialngin fic aq bagus sampai mau baca ulang aku seneng banget loh sampe baca ulang reaview kamu ^_^ . Semoga chap ini gak ngecewain yah!.
arybagus :
Ini udah lanjut. Makasih ^_^
Hyuuzu Avery :
Hohoho Hinata memang harus punya kesabaran ekstra untuk menghadapi srigala Naru. Makasih yah! Gara2 reaview mu NH mendapatkan ilham :D.
Sella Ameilia :
Makasih! Ini udah lanjut. Bagaimana romance di chap ini? ^_^
Helena Yuki :
Makasih ^_^. iya Naru kenal sama Hina saat dichap 1 seperti Note diatas.
DiTa:
Makasih, nasibnya pastinya tetap lucky! ^_^
Desi Rei Hime :
Untuk Desi Rei Hime mereka bukan teman masa kecil, itu ada penjelasannya di Note diatas. Ini udah lanjut, makasih atas dukungannya. ^_^
Guest :
Maksih sudah bilangin fic aq lucu ^_^
blue silver :
Makasih.. Ini udah lanjut ^_^
aNie RyzuNa :
Yap ini fic keduaku yg baru. Ini udah lanjut ^_^
Uzumakisrhy :
Tenang aja selama dia disarang srigala hidupnya manis-manis asem gitu. Jangan terlalu manis nanti Hina diabet lagi :v. Iya udah lanjut, makasih atas dukungannya! ^_^
Minna terimakasih sudah reaview yah aku sudah baca semuanya! Makasih juga yg udah fav,fol cerita aq, pokoknya daisuki lah sama kalian ^-^
Mohon vote dan reviewnya yah!
