"talking"
'thinking'
"Chaos/ heavy armor talking"
'Chaos/ heavy armor thinking'
Setting Change
Disclaimer: Kalian sudah tahu rutinitasnya. Satu-satunya hal FF yang kumiliki hanya 6 main series, 4 spin-off dan beberapa wallpaper FF yang kukumpulkan dengan darah dan air mata (gak terlalu, sih…).
Author Note:
Sebenarnya chapter lalu sudah ditulis sebelum Lebaran, namun apa dikata, sekolah benar-benar killer. Jadi, baru sempet dimuat sekarang. Makin banyak prajurit dewa yang datang. Sekarang kita agak ganti setting ke Versus universe, dan disini masalah yang berhubungan dengan dunia yang belum selesai dimulai. Nikmati chapter 2 dari WiNEW.
Random Quote:
Aku adalah aku, aku adalah hasil dari apa yang kulakukan.
(Marche Radiuju of the Clan Nutsy, Final Fantasy Tactic Advance)
Dissidia: Welcome in The Never Ending War
Chapter 2 : The Prince, The Goddess, and The Ex-Sergeant
Unknown, Tenebrae
Dua sosok berjubah hitam menyusup ke sebuah gang di antara dua gedung menjulang yang merupakan pemandangan biasa negara ini. Salah satu dari mereka mengangkat kepala, mata kuning mustard dan make-up merah darah menghiasi wajah bertatonya.
"Aku tak tahu kenapa kita juga harus terlibat, Mateus. Ide tentang gencatan senjata dengan prajurit Kosmos tidak membuat ini terlihat sepadan."
Partnernya hanya menyeringai. Barisan rambut pirang panjang menyembul dari balik tudungnya, mata sedingin es dan aura sombong memancar darinya. Tiran Kekaisaran Palamecia itu terlihat tenang dan kalem di dunia yang tidak dia kenal ini. Ada sesuatu yang buruk menunggu, itu sudah jelas. Namun tidak ada yang perlu dicemaskan untuk saat ini, mengingat tujuan mereka hanyalah untuk bertemu dengan calon rekan mereka dan bukan untuk mencari gara-gara.
"Sabarlah sayangku. Apa pun yang terjadi, semuanya akan sepadan jika kita bersabar. Bayangkan saja apa imbalannya kali ini. Permintaan bebas. Kita bisa meminta kekuasaan abadi, dan tidak ada dewa manapun yang bisa menghentikannya. Yang perlu kita lakukan hanya mengikuti arus."
"Sudah beberapa lingkaran Dissidia kita lalui. Aku sudah mulai bosan menjadi penjilat makhluk itu. Lingkaran ini adalah yang terakhir. Jika kali ini juga berakhir dengan kekalahan kita, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bangkit."
Mateus terdiam. Namun Ultimecia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres, menatap ke arah dia menerawang. Suara langkah menggema dari sisi lain gang. Sosok berjubah hitam yang lain muncul, suara wanita menggema dari balik tudung seperti ada dua orang yang berbicara dari satu mulut.
"Kalian mencariku?"
"Ah, ya…. Selamat datang…. Etro."
Caleum Mansion
'Membosankan…..'
Pangeran muda itu berpikir sambil berjalan di lorong rumah besarnya. Dia kemudian berhenti di depan sebuah lukisan wanita, lukisan dewi.
'Apa kau mencoba mencabut nyawaku dengan membuatku bosan atau apa…'
Dia melanjutkan jalannya, namun pikirannya masih tidak pergi dari depan lukisan itu. Dia mendesah pelan.
'Etro….'
Tiba-tiba dia menyadari bahwa dia tidak sendiri di lorong. Dengan satu kibasan tangan, sebuah Falchion dengan pegangan mesin muncul di tangan kanannya. Menyilangkan senjata warisan dari ayahnya di depan dadanya dalam posisi bertahan, dia memperhatikan dari arah mana dia merasakan kehadiran itu dengan mata menyipit dan waspada.
"Siapa itu?"
Pria yang umurnya kira-kira lebih tua beberapa tahun berjalan dari balik kegelapan. Rambut pirang panjang menyembul dari topeng wajah naga yang menutupi hampir seluruh kepalanya.
"Maafkan saya jika kehadiran saya mengejutkan anda, Pangeran Noctis. Namun apa anda berkenan untuk meluangkan sedikit waktu anda?"
Noctis mengangkat satu alisnya. Orang ini tidak terlalu lebih tua darinya, namun bicara seperti ksatria dari zaman pertengahan. Seperti dia berasal dari zaman yang lain. Memang tanah Tenebrae masih sebagian besar negaranya memakai sistem pemerintahan monarki, namu sudah lama tidak ada yang bicara dengan gaya yang seperti ditunjukkan pria di depannya ini. Agak ragu, Noctis memutuskan mendengarkan orang itu, mengangguk sebagai tanda dia mempersilahkan.
"Terima kasih, Yang Mulia. Bagaimana jika kita mulai dengan yang sederhana. Apa yang anda tahu tentang Dissidia?"
"Saat aku kecil, ayahku pernah menceritakan tentang perang para dewa yang memilih manusia dari dunia yang berbeda untuk menjadi prajurit mereka."
"Ya… secara garis besar memang seperti itu…."
"Apa hubungannya antara dongeng dngan tujuan kau kesini?"
"Bagaimana jika saya bilang…. Dongeng anda adalah kenyataan bagi orang lain."
"Nyata? Dissidia itu nyata?" Noctis mendengus, "Apa yang membuatmu percaya aku akan percaya omong kosong itu?"
"Bagaimana jika saya bisa buktikan jika Dissidia itu nyata? Anda akan ikut?"
"Maaf saja, tapi bahkan jika kau bisa buktikan itu, aku tak punya alasan untuk bertarung."
"Jika begitu… buatlah alasan anda sendiri. Jika anda menjadi bagian dari Dissidia, anda akan bisa lakukan apa saja, termasuk memusnahkan 'Dia'."
Noctis segera berbalik, mata merah membara menatap tajam lawan bicaranya yang sedang memperhatikan lukisan yang beberapa waktu lalu menjadi sumber pikirannya. Gerigi di dalam kepalanya berputar cepat dengan pernyataan itu sementara dia menyipitkan matanya lagi, kali ini lebih curiga dari yang sudah-sudah.
"Kau… apa yang kau tahu dariku…."
"Bisa dibilang saya mengawasi anda selama beberapa waktu. Bukan masalah besar, hanya mencari tahu hal yang sudah menjadi fakta umum tentang diri anda. Tapi itu semua tidak jadi perkara yang serius, mengingat anda yang sebagai figur masyarakat sudah nyaris tidak memiliki privasi lagi..."
Pangeran muda itu menggeram. Dia menutup mata dan mengatur nafas. Dia tidak akan hilang kendali hanya karena hal remeh seperti ini. Matanya kembali terbuka, warnanya kembali menjadi biru.
"Ceritakan lebih banyak. Tapi sebelum itu, siapa namamu?"
"Kemana tata krama saya. Perkenalkan nama saya Kain Highwind, Dragoon dari Kerajaan Baron."
"Baron? Aku belum pernah mendengar kerajaan dengan nama itu."
"Anda tidak akan mendengarnya di dunia ini."
Team Nora HQ
Lightning termenung menatap luar jendela, yang langsung mengarah ke garis pantai. Hope beringsut duduk disebelahnya. Setelah beberapa lama, remaja rambut perak itu memutuskan memecah kesunyian.
"Kau tahu… kau tidak perlu memendam semua sendiri."
"Hn."
"….. Lightning. Aku mau kau jujur padaku."
"…."
"Kau sudah tahu mereka mencarimu…. Dan kau tidak memberitahu kami. Kupikir kita semua tim."
"….. Ada hal dimana tidak ada orang lain yang bisa membantumu. Masalah ini adalah salah satunya…."
"Darimana kau tahu mereka mencarimu?"
"Aku melihatnya dalam mimpi. Dua belas orang berjubah putih datang mencariku, dan dua belas orang berjubah hitam mengepung kami. Aku juga melihat ada orang lain selain aku, orang lain yang juga baru dipilih oleh dewa."
"Jadi kau tahu siapa mereka?"
Lightning dan Hope menoleh, Snow bersandar di dinding dengan tangan terlipat di depan dadanya. Lightning mendengus.
"Kau tahu, kalau kau penasaran, kau tidak perlu menguping."
"Lanjutkan tentang mimpimu itu."
"Panggil yang lain. Aku malas mengulangnya." Jawabnya sambil meninggalkan dua laki-laki yang makin bingung dengan jawabannya tadi.
'Tunggu. Kalau dia tahu semuanya dari mimpi, kenapa dia sama bingungnya dengn kami saat mereka mengatakan tentang Dissidia?'
Team Nora HQ, Main Hall
Mereka sudah berkumpul. Mereka memang tidak mengatakannya, namun merka semua penasaran. Lightning masuk dan duduk bersila di tengah mereka.
"Jadi kalian mau dengar mulai dari mana?"
"Bagaimana kalau dari saat kau mengetahui mereka mengejarmu, tapi kau masih tidak tahu saat mereka datang pertama kali." Mendengar itu Lightning mendesah.
"Kau bisa jadi observan kalau kau mau, ya Snow? Ya… aku memang belum tahu mereka saat operasi kita di Hanged Edge, tapi saat kita kembali dari sana aku mendapat mimpinya. Mimpi itu… datang seperti film. Satu-persatu muncul sebagai potongan, saling menopang fakta namun tidak berurutan datangnya. Selama beberapa hari mereka datang secara acak, mereka benar-benar menggangguku."
"Jadi, kau tahu baru-baru ini?"
"Sepertinya mimpi yang terakhir itu adalah yang terakhir. Dissidia adalah perang para dewa. Selama bereon mereka berperang dengan cara memilih juara dari setiap dunia untuk bertempur demi mereka, entah itu anak-anak, wanita, atau orang tua. Biasanya mereka diiming-imingi dengan hadiah yang tidak ternilai, namun banyak dari mereka yang bertarung dengan suka rela karena memiliki dendam dengan prajurit lawan."
"Apa kau tahu tujuan perang itu? Kalau memang sudah ada sejak zaman dahulu kala, apa yang membuat perang itu ada, maksudku apa yang membuat perang itu dimulai."
"…Aku…. Tidak tahu….."
Mereka semua terdiam. Suara tepuk tangan pelan dan mengejek membuat mereka terkejut dan segera mengambil senjata. Suara itu datang dari seorang gadis berkulit gelap dengan telinga rincing mencuat dari balik rambut lavendernya. Berpakaian aneh, seperti yang digunakan para pendeta dan Primarch Eden, dia menyeringai tipis memamerkan taringnya yang agak terlalu runcing dari orang biasa. Lightning mencabut Blazafire dengan refleks. Kalau memang dia suruhan Cocoon atau orang-orang asing yang mencoba merekrutnya, dia tidak boleh lengah. Tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka incar, apa saja bisa terjadi meski dia merasakan mereka itu tidak memiliki niatan buruk. Gadis itu hanya semakin melebarkan senyumnya, turun dari lantai dua tempat tinggal sementara para l'Cie itu dengan mudahnya tanpa ada masalah sedikitpun.
"Bravo, bravo. Kau buat Dissidia seperti mitos belaka. Kau tahu di dunia kami yang lain, orang-orang benar-benar mempercayai Dissidia, tahu?"
"Siapa kau?"
"Namaku Prishe, pendeta (murid) dari Tavnazia, Vana'diel. Aku datang untuk menjemputmu, anakku. Bersyukurlah karena hal itu." Dia bicara dengan gaya orang tua yang dibuat-buat. Sepertinya tidak serius, melihat senyum lebar itu masih ada di sana.
"Dan kenapa aku harus?"
"Karena jika bukan aku yang menemukanmu, hanya ada dua kelompok pencari lagi yang akan datang. Percayalah padaku, kau tidak akan mau bertemu dengan salah satu dari mereka."
"…. Apa dia pria tinggi dengan rambut ikal putih panjang?"
"Bingo. Sepertinya Luneth sudah memperingatkanmu. Ini akan ja-"
"Hoi, Prishe! Bantu aku disini!"
"Dasar kau Hume! Apa kau tidak lihat aku sedang mendramatisir situasi! Rasmu memang tak pernah bisa diandalkan."
"Hei! Jangan mendeskriminasikan ras! Sudah cukup di Ivalice yang sudah bicara buruk dengan ras Hume, meski tidak semuanya seburuk itu..." dari belakang Prishe, muncul pemuda dengan rambut pirang terang sedang memanggul seseorang di bahunya, Oerba Yun Fang.
"Fang!" Vanille memekik melihat keadaan wanita satu sukunya.
"Hn? Kau kenal perempuan ini?"
"Apa yang kau lakukan padanya?"
"Kami menanyakan jalan padanya, dan tiba-tiba dia menyerang kami. Bilang saja, hasilnya tidak menyenangkan."
"Tidak. Vaan, hentikan."
"Apa maksudmu, hah?"
"Turunkan dia."
Mereka melihat Vaan menurunkan Fang dari bahunya. Prishe meletakkan telapak tangannya di atas dahi Fang. Aura hijau penyembuhan meliputinya.
"Seperti yang kubilang, namaku Prishe. Pendeta (masih murid) Tavnazia. Aku tidak bermaksud jahat, tapi aku tak tahu dengan orang yang bersamaku ini."
"Oi!"
"Kami hanya ingin bicara dengan kalian. Jadi bagaimana kalau kita duduk dan minum teh daripada kita harus saling hantam."
Team Nora tetap merengut senjata mereka dan bersiap menyerang.
"Sepertinya tidak berhasil. Sayang sekali, padahal aku yang bawa tehnya. Ya sudahlah, kalian yang minta."
Elvaan itu melepaskan tapak tanganya dari Fang dan memandang lawannya dengan tatapan bosan. Satu detik mereka saling berhadapan, satu detik kemudian Sazh melayang dengan kecepatan luar biasa menabrak dinding di belakang hingga semennya hancur. Sebuah benturan siku ke dagu menjadi penyebabnya. Mereka semua membelalakkan mata dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa dari gadis yang tingginya nyaris lebih pendek dari Hope. Lightning tidak mau mengambil resiko lagi dan mencabut Blaze Edge dan menerjang, namun dihentikan sebuah pedang keemasan dengan ujung terbalut detail sulur tanaman.
"Aku tidak akan biarkan. Sayangku Anastasia ini sudah lama tidak berkelahi." Vaan menyeringai, menghentakkan pedangnya dan melepaskan kuncian senjata mereka. Dia kemudian memuntir pegangan pedangnya di antara jari-jarinya dengan gaya mengejek, namun segera bersiap menyerang.
Lightning menggeram. Sepertinya ini takkan jadi pembicaraan yang mudah.
Selesai. Bagaimana dengan yang kali ini, harap beri masukan.
Bagi yang tidak tahu, Anastasia itu nama salah satu pedang yang dipakai Vaan di FF12. Karena Treaty Blade lebih ke arah Ashe dan saya memakai Vaan sebagai wakil dari FF12 juga mendasari itu.
Bagi yang memperhatikan, saya memakai aksen Ultimecia yang terkenal.
Glossary
Vana'diel
Nama dunia ke-11 yang memiliki ras dominan lebih dari satu seperti dunia ke-12. Terkenal dengan perang dunianya yang disebut Great Crystal War yang mengangkat nama Shantotto sebagai profesor sihir tinggi dan juga menjadi penyebab musnahnya Tavzania. Dunia yang berpenduduk lima ras dari air mata Dewi Altana yang menangisi musnahnya kebudayaan ras Zilart yang mencoba membuka pintu menuju surga untuk bisa bertemu dengan dewa pencipta mereka..
Tavnazia
Negara dengan ras Elvaan sebagai mayoritas penduduknya. Negara saudara dari San d'Oria, Tavzania musnah saat pertempuran paling berdarah dari Great Crystal War. Ledakan yang luar biasa dahsyat memisahkan teluk tempat Tavnazia berada dari benua utama dan selama 20 tahun sejak perang selesai para penduduknya bertahan hidup dengan bersembunyi di kota bawah tanah dari kejaran para Beastmen yang mengusai daerah itu.
Character Info
Emperor Mateus Palamecia
Penguasa diktator Kekaisaran Palamecia dari dunia ke-2. Ahli perangkap, strategi dan jelas memiliki harga diri yang luar biasa tinggi. Dia memimpin serangan militer ke seluruh dunia setelah anak perempuannya diambil seorang pencuri yang berhasil memenangkan kontes menembus bentengnya, melukai harga dirinya. Cerdas dan manipulatif, kelicikannya bahkan dapat menipu mati.
Ultimecia
Penyihir waktu dari dunia ke-8. Terdorong oleh tujuan yang misterius, dia melakukan Time Compression untuk membuat hanya dirinya yang memiliki eksistensi yang nyata di dunia miliknya sendiri, menciptakan dunia seperti apapun keinginannya. Sama manipulatifnya dengan Mateus, Ultimecia dapat mengubah wujudnya untuk menipu atau mengadu domba lawan.
Kain Highwind
Komandan pasukan Dragoon Baron dari dunia ke-4. Pria yang bersifat keras, namun menyembunyikan rasa ragu di hati. Kehilangan ayah karena perang, berambisi menaikkan derajat pasukan mendiang ayahnya dengan menolak tawaran raja Baron untuk menjadi Dark Knight. Sahabat Cecil sejak kecil ini mengkhianati temannya karena rasa iri yang terpendam sejak lama. Menyerang sahabatnya bukan hanya didasari cuci otak, namun juga karena keinginannya sendiri.
Prishe
Pendeta Elvaan Tavnazia dunia ke-11. Anak yatim yang ditemukan di depan kuil dan dibesarkan dalam prinsip religius. Namun bahkan dengan itu tidak menghilangkan sifat alaminya yang suka bicara kotor dan arogan. Dipercaya dan dibenci karena dianggap sebagai pembawa sial, keberadaannya justru mendatangkan berkah pada para Elvaan dalam Great Crystal War. Ketidaksukaan pada orang asing membuatnya hampir tak bisa bekerja sama dengan yang lain kecuali dengan mereka yang mendapat rasa hormatnya.
Vaan
Tikus jalanan dari kota Dalmasca di dunia ke-12. Remaja pemburu Dire Rat yang berimpian menjadi pembajak angkasa ini bersifat periang namun juga tempramental. Karena keadaan, dia terbawa ke tengah konspirasi kerajaan. Seorang yang secara tidak sadar menjadi bidak perebutan kekuasaan para dewa di dunianya dan dunia lain, namun merebut takdirnya sebagai seorang yang disegani dengan hanya berbekal kekuatan hati.
Noctis Lucis Caleum
Pangeran dari dinasti kerajaan yang menggunakan/ mengeksploitasi kekuatan Crystal dari dunia ke-13. Pemalu, namun menutupinya dengan sifat coolnya. Setelah melihat cahaya yang menurut legenda menyebabkan Dewi Kematian Etro bangkit dan mencabut nyawa siapa saja yang melihatnya, dia berusaha menghentikan takdir kematiannya sendiri.
Harap beri tanggapannya. Kritik dan saran sangat membantu.
