Title : Catatan Mahasiswa Tengil
Chapter : 2 – Jaehyun Menemukan Arti Hidup
Genre : Romance/Gender-Switch, friendship, life
Rated : M
Main Cast : NCT members
WARN! Banyak kata-kata tidak senonoh di dalam fict ini. Bahasa seenaknya penulis (?). DLDR! ^^
-oOo-
Taeyong menyanggul rambutnya dan segera memeriksa rak sepatu untuk mencari sandal jepit gambar spongebob kesayangannya. Ia mendelik. Ia hanya menemukan sandal jepit bergambar kelinci di rak itu.
"Sianjir," Taeyong mengumpat. Ia bisa memastikan bahwa Doyoung hari ini melesat ke pasar dekat kost-nya dengan memakai sandal keramatnya demi bertemu dengan tukang sayur yang merupakan duda beranak satu yang tampangnya lumayan itu.
Selera Doyoung benar-benar di bawah receh menurut Taeyong.
Akhirnya dengan kesal ia memakai sandal kelinci itu untuk berbelanja ke minimarket. Beberapa barang bulanannya seperti sabun mandi, deterjen, sampo, kecap, dan indomie habis dan ia harus membelinya dengan segera. Dengan sadis, ia menggosokkan sandal buluk itu ke teras yang berhiaskan batu kerikil hingga menimbulkan sedikit cacat di sandal kelinci itu. Cukup beralasan untuk melakukan hal-hal keji semacam itu mengingat Doyoung yang menghabiskan tiga bungkus indomie miliknya padahal ia hanya punya lima bungkus. Jangan lupakan juga Doyoung yang memakai sandal spongebobnya—Doyoung sangat menyukai sandal itu karena sandal kelincinya buluk dan lebih tipis dari milik Taeyong.
"Teteh Eyong!" tiba-tiba kost Taeyong dihampiri oleh seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang diketahui Taeyong sebagai anak Tante Junghan, si pemilik kost. Taeyong tersenyum.
"Eh Jisung. Ada apa?"
"Teteh mau kemana?"
"Belanja ke minimarket."
"Jisung boleh ikut teteh?"
"Udah ijin mama?"
"Eh teteh," si ibu kost tiba-tiba nongol begitu saja tanpa efek asap yang biasa dilihat pada sebuah sinetron. Junghan tersenyum manis seperti baru saja keruntuhan durian di kakinya. Dandannya begitu rapi selayaknya ibu-ibu sosialita yang hendak menghadiri acara nonton bareng layar tancep di kafe. "Hari ini ada kuliah, teh?"
"Ah nggak ada tante."
"Ya udah, tante titip Jisung ya? Tante hari ini ada acara sama ibu-ibu arisan sampe sore. Oh iya," Junghan mengeluarkan beberapa lembar uang dua puluh ribuan dari tasnya. "Ini buat jajan Jisung sama teteh."
"Wah, makasih tante!" Taeyong lupa akan sifat kalemnya yang serimg ditunjukkan pada orang-orang jika sudah bertemu dengan uang. Ia bersorak bahagia karena ia bisa mengamankan uang bulanannya sedikit sehingga ia bisa membeli baju baru di saat tanggal tua seperti ini.
"Sama-sama, tolong jaga Jisung ya teh. Jisung, jangan nakal!" setelah itu Junghan berlalu meninggalkan Jisung dan Taeyong.
"Nah ayo teh beli jajan!"
Mood Taeyong 100x lipat lebih baik dari sebelumnya. Dengan riang ia membawa Jisung ke minimarket. Mengingat ia baru saja mendapatkan rejeki anak sholeh, jadilah ia berani membawa Jisung menggunakan jasa ojek online.
Begitu sampai di minimarket itu, Jisung langsung menghambur masuk menuju rak makanan ringan membuat Taeyong harus berlari kecil di belakangnya. Setelah ia beres dengan Jisung, ia beralih ke rak lain untuk mengambil beberapa barang pokoknya untuk pagi ini—sabun mandi, sampo, pasta gigi—karena ia tidak ingin mandi menggunakan sabun colek. Tak lupa ia mengambil 10 bungkus indomie.
Saat ia sudah mendekati kasir, ia baru ingat kalau kecap di kost habis.
Jadi ia kembali ke rak makanan dan mengambil sebotol kecap ukuran 250 ml.
Gerakannya terhenti saat sebuah tangan asing menyentuhnya. Bagaikan adegan di FTV, ia menoleh secara slow-motion untuk memberikan efek dramatis yang agak mendalam lalu tersenyum pada lelaki asing di sebelahnya itu.
"E-eh maaf," kata lelaki itu. Taeyong tersenyum.
"Oh iya nggak apa," jawab Taeyong lalu mengambil kecap itu dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjanya. Lelaki itu memperhatikan Taeyong. "Ada apa, ya?"
"O-oh enggak, neng. Itu rambutnya," jawab lelaki itu.
"Rambut saya?" Taeyong langsung menangkap bahwa komodo berjenis kelamin pria itu memiliki darah Sunda.
"Iya, itu sanggulnya hampir lepas."
"Teteh!"
"O-oh iya dek," Taeyong baru saja tersadar kalau ada Jisung di sebelahnya, Jisung cemberut karena diabaikan oleh dua makhluk Tuhan beda kelamin itu. Taeyong mengusak rambut Jisung lembut agar anak itu tidak ngambek. Adegan manis itu mampu membuat lawan bicara Taeyong terdiam menghayatinya.
"Neng, sanggulnya."
"Oh iya," cepat-cepat Taeyong membenahi cepol rambutnya. Taeyong sempat memperhatikan pria itu. Kaus oblong coklat kusut dan celana pendek selutut membuat penampilannya seperti pengemis pinggir jalan yang masuk minimarket untuk menukar uang receh. Tipikal pemuda yang suka bangun siang dan saat ini belum mandi sepertinya, itu yang ada di otak Taeyong.
Hening.
Setelah itu hening. Taeyong merasakan ada kecanggungan di tempat itu begitu pula dengan lawan bicaranya. Pria itu mengusak tengkuknya lalu tersenyum kaku. Pandangannya beralih ke anak kecil yang menatapnya penuh kecurigaan. "Halo dek. Kalo boleh tau, namanya siapa?"
"Jisung kak."
"Oh, kalo mbaknya?"
"Taeyong," jawab wanita berdarah Sunda itu. Ia merasa geli dengan situasi seperti ini.
"Saya Jaehyun. Ini adeknya?"
"Bukan, ini anak ibu kost saya."
"Oh, kuliah?"
"Iya."
"Dimana?"
"UB, kang."
"Oh, anak UB. Oh… urang Sunda juga ya?" Jaehyun tersenyum—kali ini lebih rileks.
"Iya… akang pasti juga urang Sunda. Dari Bandung kang?"
"Bukan, Jakarta. Cuma ya ada sedikit mix Sunda gitu."
"Oh," Taeyong manggut-manggut. "Jaehyun sendiri kuliah dimana?"
"Di UM. Jurusan Sastra Inggris."
"Oh, saya anak kimia."
"Hmmm, kimia… chemistry, right? Saya dengar cewek dari jurusan kimia itu… punya reaksi kimia kuat yang menyebabkan para pria betah di samping cewek itu," Jaehyun mulai menggombal sebisanya. Taeyong tersenyum agak kecut. Gombalan gagal.
"I-iya… nggak gitu juga sih sebenernya," Taeyong menggaruk kepalanya geli lalu tersadar bahwa ia sudah menghabiskan waktu yang agak lama demi kegiatan unfaedah ini ketika sebuah tangan menarik-narik kaus buluknya, "teteh, Jisung laper. Ayo pulang. Kita makan."
"Jisung belum sarapan?" Jaehyun langsung berinisiatif bertanya pada Jisung demi peningkatan kewibawaan di mata wanita yang baru saja ia kenali itu.
"Belum, kak."
"Mau sarapan bareng?"
-oOo-
Untungnya uang dua ratus ribuan yang diberi Yunho tadi masih sisa lima puluh ribu. Setidaknya Jaehyun masih bisa memiliki harga dirinya untuk membayari Taeyong dan Jisung sarapan. Bodo amat dengan bensinnya yang menipis, ia masih bisa mendorong motornya itu ke pom bensin terdekat.
"Ini tempat bubur ayamnya, Jae?"
"Iya, masuk yuk," Jaehyun menuntun wanita itu dan anak titipan ibu kost-nya untuk masuk ke dalam warung bubur ayam dan memesan dua setengah porsi bubur ayam dan tiga gelas teh hangat. Satu untuk Taeyong, satu lagi untuk Jisung, dan setengah untuknya. Bukan penghematan, hanya saja ia takut kalau uangnya tidak cukup dan berakhir dengan rasa malu yang luar biasa. Mereka duduk berhadapan. "Kost dimana?"
"Suhat. Jaehyun anak kost juga?"
"Enggak sih, saya tinggal sama kakang, di Sigura Gura."
"Oh, jauh ya."
"Iya gitu," lalu semuanya hening dan masing-masing menikmati bubur ayam hangat itu. Jaehyun mencuri pandang ke arah Taeyong.
Dia cantik.
Dan Jaehyun rasa kecantikannya bertambah kala Taeyong membantu Jisung untuk makan. Dengan penuh kelembutan, Taeyong menyuapi Jisung sampai bubur ayamnya habis, setelah itu barulah ia beralih ke bubur ayamnya. Sungguh, hati Jaehyun meleleh dibuatnya.
Terlintas di otak Jaehyun bayangan akan sebuah keluarga kecil yang berisikan dirinya, sang istri, lalu dua anaknya yang baru saja pulang jogging lalu menikmati makan bersama seperti ini. Sosok keibuan. Lembut. Cantik.
Sosok yang ia cari selama ini.
Sosok yang menjadi tolak ukur wanita idealnya.
Seorang wanita yang memenuhi parameternya dalam memilih pasangan.
"Ada apa Jae? Kok melamun?"
"E-eh," Jaehyun tergagap saat ia tertangkap sedang memikirkan gambaran masa depan yang bisa saja akan terwujud dengan indah bersama wanita yang ada di hadapannya ini.
"Hahaha atuhlah mukanya lucu banget," Taeyong tertawa. Jaehyun semakin terseret masuk ke dalam pesona wanita itu. Tawa yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Hehehe," Jaehyun hanya menggaruk tengkuknya, lalu melanjutkan acara makannya. "Oh iya. Kalo diijinin, boleh saya dapet no hp kamu?"
Ya, dan wanita ini berhasil menarik perhatian si mutan kaktus.
-oOo-
"Hatur nuwun udah dianterin pulang," Taeyong tersenyum manis saat Jaehyun mengantarnya pulang sementara Jisung langsung berlari masuk ke dalam kost dengan tas kresek berisi jajannya. Hidup wanita ini beruntung sekali kalau dianalogikan menjadi:
Bertemu mas-mas satu bangsa yang mukanya bisa dibilang di atas standar.
Ditraktir bubur ayam padahal baru kenal.
Dianter pulang gratis.
Seandainya ia tidak bertemu dengan Jaehyun, mungkin ia akan merogoh kocek lebih untuk menyewa tukang ojek online. Namun lima belas ribunya berhasil diselamatkan.
"Sama-sama ya. Kan sejalur ini."
"Bukannya tadi Jaehyun bilang rumahnya di Sigura Gura?"
"Oh iya," Jaehyun menyayangkan seharusnya ia berbohong sedikit soal tempat tinggal sementara yang seharusnya bisa dikarang menjadi sejalur. "Uhm, boleh nggak saya main kesini kapan-kapan?"
"Boleh tapi di teras."
"Iya kalau di teras saya juga tau," Jaehyun tertawa bodoh begitu pula dengan Taeyong. "Ya udah saya pamit dulu."
"Hati-hati kang," dan Jaehyun langsung berlalu. Taeyong nyengir sendiri lalu masuk ke dalam kost-nya. Di dalam kost, ia menemukan sang tersangka pencuri sandal jepitnya berdiri di dekat jendela. "Ngapain? Ngintip?"
"Eh," Doyoung—sang tersangka—gelagapan. Ia tersenyum kikuk seperti maling yang ketahuan mencuri ayam dan itu membuat Taeyong ingin menyetrika wajah Doyoung sekarang juga.
"Kada nah… Cuma liat aja siapa yang nganter pulang."
"Hmmm."
"Pacar kamu?"
"Bukan."
"Terus apaan? Cemceman?"
"Bukan juga."
"Terus apaan?"
"Doyoung berisik," Taeyong memutar bolamatanya malas dan segera masuk ke kamarnya dan menaruh belanjaannya di sudut kamar teraman dimana Doyoung akan sulit menjangkaunya. Doyoung mengekor dan masuk setelah Taeyong membereskan belanjaannya.
"Bukan gitu. Dia kayak gembel gitu. Dekil banget. Masa iya kamu mau sama dia?"
"Biarin sih dia dekil, yang penting nggak suka nyolong indomie kayak kamu."
"TETEH KOK GITU SIH! KAN AKU MINTA SATU!"
"Satu tapi tiap hari sama aja," Taeyong sepertinya malas dengan Doyoung. "Oh iya, Jisung mana?"
"Tuh nonton TV sambil ngemil chocolatos sekotak."
"Oh… HAH!?" Taeyong buru-buru menghampiri Jisung yang sedang asyik mengunyah chocolatos.
Itu, jajannya Taeyong.
"Hai teteh," Jisung nyengir tanpa dosa dengan cokelat yang nempel di gigi. Taeyong hopeless.
Taeyong pengen nangis.
-oOo-
"Gimana?" tanya Jaehyun dengan wajah penuh pengharapan. Johnny memutar bolamatanya malas. Sudah seminggu ini Jaehyun bertukar pesan dengan Taeyong dan keduanya mulai merasakan percikan asmara. Dan pada Malam Minggu yang ceria ini, Taeyong mengiyakan ajakan Jaehyun untuk pergi bersama meskipun itu artinya Jisung harus ikut—salahkan Junghan yang seenak jidatnya menitipkan Jisung pada Taeyong karena tidak ingin malam minggunya bersama Seungcheol terganggu. Namun, Jaehyun bukanlah playboy kadal seperti Johnny. Keaadaan ini membuat Jaehyun takut gagal lagi seperti saat menggombal di minimarket dan akhirnya memohon pada Johnny untuk menemaninya.
"Belajar deketin sendiri sana."
"Ayolah John, gua kan belum professional kayak lu."
"Aduh, gua ada siaran," kilah Johnny membuat Jaehyun merengut. Sebuah ironi memilukan bagi Johnny dimana dirinya yang merupakan seorang mantan gitaris band, anak metropolis, sekaligus sangat haus akan seks gagal tembus menjadi penyiar di Radio Kalimaya Bhaskara—sebuah radio hits anak muda di Malang—dan malah menjadi seorang penyiar radio bersegmen campursari dan dangdut di Radio Tidar Sakti.
"Apaan? Lu mau muterin lagu campursari? Ayolah, temenin gua dulu. Traktir deh tar!"
"Hahhh, oke."
Sebuah kata yang harganya akan menjadi sangat mahal ketika Johnny nantinya tahu apa yang terjadi selanjutnya di Malam Minggu yang tidak sepenuhnya ceria itu.
-oOo-
"Hai," Jaehyun menyapa Taeyong dengan sangat canggung. Ia lalu duduk di hadapan Taeyong yang sedang memangku Jisung.
"Hai juga," Taeyong tersenyum manis. Malam itu ia mengenakan over-sized sweater warnah merah marun dan legging hitam serta sneakers putih. Jepit cherry menghiasi rambutnya dibiarkan terurai begitu saja. Tampak begitu cantik. Jaehyun deg-degan.
"Udah pesen makanan?"
"Udah."
"Uhm," Jaehyun menggaruk tengkuknya. "Ini temen Jaehyun, namanya Johnny. Johnny ini Taeyong," Jaehyun berusaha mencairkan suasana dengan saling memperkenalkan keduanya terlebih dahulu.
"Johnny."
"Taeyong."
"Aduh anak ini lucu amat, namanya siapa?" Johnny mencubit pipi anak itu dengan gemas.
PLAK!
Sebuah sendok melayang ke pipi Johnny.
-oOo-
Cukup lama mereka saling terdiam sambil memakan makanan mereka. Jaehyun tidak berusaha menyembunyikan rasa kagumnya saat melihat Taeyong dengan telaten menyuapi Jisung.
"Eh John, Taeyong ini anak kimia di UB lho," Jaehyun membuka suara. Johnny mengalihkan atensi dari makanan ke Jaehyun. "Dia temen sekelasnya Wendy, itu lho bekas temen SMA lu dulu."
"Oh," Johnny menyahut dengan perhatian rendah seperti mendapati bahwa sepatunya baru saja digiles motor. "Salamin buat Wendy ya."
"Iya," jawab Taeyong sambil tersenyum.
Lalu hening. Selama sepuluh menit mereka sama-sama tenggelam dalam sunyi.
"Eh John, Taeyong ini temen sekelasnya Wendy lho—"
"Kan tadi uda dibahas," Johnny memotong pembicaraan sambil mendelik. Jaehyun menggaruk tengkuknya dengan canggung. Taeyong tertawa kecil.
"Atuhlah Jaehyun mukanya lucu kalo begitu," ujarnya sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Lagi-lagi Jaehyun dibuat terpana.
"Ya… kalo Jaehyun nggak lucu, nanti Taeyong nggak suka."
"Haha masa sih? Taeyong mah suka-suka aja sama Jaehyun," sepertinya Taeyong mulai ngasih kode biner ke Jaehyun. Jaehyun mesem. Tak lama kemudian, suasana mulai menjadi cair. Seperti yang telah diperhitungkan oleh sang buaya professional bahwa nantinya ketika Taeyong dan Jaehyun semakin dekat seperti ini, akan ada satu makhluk lain yang akan dikutuk menjadi obat nyamuk.
Bebek buluk ini telah bertransformasi menjadi angsa dan bisa terbang. Gua lebih baik menyingkir.
Dengan inisiatif ia mendekati Jisung. Berikut adalah rincian kegiatan Taeyong, Jaehyun, dan objek penderita:
19.15:
Jaehyun: Menceritakan tentang dosen literaturnya saat di tingkat dua dulu.
Taeyong: Mengatakan bahwa dosen literature Jaehyun adalah pamannya.
Johnny: Berkenalan dengan Jisung.
19.20:
Johnny: Dilempar action-figure Batman di kepala oleh Jisung.
Jaehyun dan Taeyong: Tertawa melihat Johnny kesakitan
19.27:
Johnny: Dijambak Jisung.
Jaehyun dan Taeyong: Kembali tertawa melihat Johnny mengaduh.
19.47:
Jaehyun dan Taeyong: Terlihat makin akrab dengan candaan-candaan kecilnya.
Jisung: Minta diantar ke Indomaret terdekat.
19.50:
Johnny: Mengantar Jisung ke Indomaret.
20.03:
Jisung: Minta dibelikan snack, sabun mandi, pensil, dan buku.
Jaehyun dan Taeyong: Terlihat makin dekat dan akrab.
20.10:
Jisung: Menangis meraung-raung karena hanya dibelikan snack.
Johnny: Menyeret Jisung keluar karena uang di dompetnya kurang.
20.15:
Jaehyun dan Taeyong: Memesan makanan untuk kedua kalinya.
20.20:
Johnny: Kembali ke kafe sambil menggendong paksa Jisung yang menangis.
Jisung: Jambak rambut Johnny lalu menendang selangkangannya.
20.22:
Taeyong: Langsung merebut Jisung dengan panik.
Johnny: Megap-megap.
Jaehyun: Bantuin Johnny duduk.
20.25:
Jisung: Berhenti menangis setelah diberi es krim oleh Jaehyun.
Johnny: Setengah pingsan.
Taeyong: Minta maaf beberapa kali.
20.30:
Jisung: Merengek minta pulang
Jaehyun: Berinisiatif mengantar Taeyong dan Jisung pulang.
Johnny: Nungguin Jaehyun kembali.
21.05:
Taeyong dan Jisung: Sampai di kost dengan selamat.
Jaehyun: Pulang ke rumahnya dengan hati berbunga-bunga.
Johnny: Terpaksa pulang naik ojek online sambil mengumpat.
21.30:
Jaehyun: Baru sadar kalau Johnny tertinggal di kafe.
Johnny: Sudah pingsan di kontrakannya.
-oOo-
Dua bulan setelah pertemuan itu, Jaehyun sudah membulatkan tekadnya. Maka di sebuah hari bernama Sabtu dengan waktu malam hari, Jaehyun mengajak Taeyong untuk sekedar mencari angin di sebuah kafe di Batu.
Mereka mengobrol cukup lama sampai akhirnya mereka berada di titik dimana Jaehyun mulai menggenggam tangan Taeyong dan membawanya kepada sebuah kehangatan. Taeyong tersenyum malu-malu memberikan efek sedikit dramatis agar lebih berkesan.
"Jadi… Jaehyun bogoh ka anjeun, Taeyong mau nggak jadi… pacar Jaehyun?"
"Uhm," Taeyong mengeratkan genggaman tangannya pada Jaehyun. "Jaehyun pasti tau jawabannya, kan? Taeyong juga… suka Jaehyun."
"Pokoknya Aa' sayang Neng."
"Neng juga, A'."
Jaehyun berbunga-bunga. Itu benar-benar malam penuh sejarahnya.
-oOo-
Empat tuyul itu memasuki sebuah restoran dan setelah memesan makanan mereka nekat untuk bernyanyi di restoran itu diiringi denting piano yang dialunkan secara kacau oleh Taeil. Dia, Jaehyun, Johnny, dan Yuta bernyanyi keras-keras sampai suaranya terjangkau oleh pengunjung di sudut restoran.
"YA HUJAN TURUN LAGIIIII DI BAWAH PAYUNG HITAM KU BERLINDUUUUNG~"
Semua anak terdiam. Lupa syair selanjutnya. Secara tiba-tiba Jaehyun memecah keheningan dengan, "DI BAWAH PAYUNG HITAM KU BERLINDUNG, YA HUJAN TURUN LAGI~"
Semua anak tertawa. Satu restoran pada ngebatin dan tersiksa. Sang manajer restoran berjanji tidak akan memperbolehkan pengunjung untuk menggunakan piano kecuali untuk kebutuhan tampil ataupun artis.
Puas dengan penampilan mereka yang bagaikan orang mabuk, mereka kembali ke meja mereka. Johnny mengangkat gelasnya seraya berkata," Untuk Jaehyun yang telah menemukan arti hidup!"
"Iya semoga langgeng, kalopun ndak ya bisa rekomendasiin kita-kita ini," kata Taeil.
"Jaehyun…" Johnny berlontar.
"Ya?"
"Semoga kalian cocok…."
"Cheers!"
-oOo-
Jam 23.00 Johnny memasuki sebuah stasiun Radio Kalimaya Bhaskara untuk menemui Jaehyun yang siaran. Hatinya tersayat. Ia iri pada Jaehyun yang mengalami keminderan akan tampang dan juga krisis kepercayaan diri namun berhasil tembus menjadi penyiar di Kalimaya Bhaskara sementara ia hanya bisa masuk ke Tidar Sakti dengan segmen campursari dan dangdut. Kondisi dimana Jaehyun bisa mewawancarai gadis secantik Raisa dan Isyana Sarasvati sementara dirinya hanya bisa mewawancarai Didi Kempot ataupun Caca Handika.
Mata Johnny menangkap sesosok wanita cantik yang sedang berdiri di depan ruangan Jaehyun. Keysha Saraswati atau sering dipanggil Key, si produser sekaligus penanggung jawab acara pada segmen saat itu. Johnny memperhatikan wanita berprinsip minimalis dalam berpakaian itu. Blazer merah dengan dalaman bra hitam tampak seksi melekat di tubuhnya, ditambah dengan mini-skirt hitam ketatnya. Retina mata Johnny membesar.
Sepertinya ia menemukan wanita yang satu alam dengannya.
-TBC-
HALO!
Saya membawa chapter dua~
Ehe, terimakasih buat yang kmren sudah review chapter 1 saya senang sekali :D
Anw ada yg tanya saya org Malang ya? Iyap, authornya org Malang that's why authornya bkin pke background Malang /?
Sebisa mungkin saya membuat pembaca paham sama ff ini kok T^T
Makasih buat yg suda baca, dan…. Berminat utk review? :D
Makasi (lagi) xD
-with love, Lianatta.
