"Kau ingin aku membunuhnya?" Tanya Yunho dengan raut sumringah. Well~ akhirnya misi impiannya akan terlaksana.

"Tidak, bisnisnya tetap akan berjalan meskipun ia mati, jadi lebih baik kau menghancurkan operasi dan usahanya dulu, kemudian enyahkan bajingan itu dari kota ini. Berjuanglah sersan, nasib Seoul ada ditanganmu!"

"Roger!"


Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam namun pria itu sama sekali tak nampak mengantuk, ia masih berkutat dengan beberapa dokumen diruang kerja dirumahnya. Mata musangnya dengan cekatan membaca biografi-biografi yang berceceran dimejanya.

Saat tengah asik, tanpa diduga pintu ruangan itu terbuka dan nampaklah seorang namja yang tengah hamil tua disana. Jaejoong,- namja itu berjalan mendekat membuat Yunho salah tingkah seketika, namja berpangkat sersan itu buru-buru menyembunyikan lembaran-lembaran kertasnya namun sayang, Jaejoong mengetahuinya.

"Apa itu Yun?" Tanya Jaejoong tepat disamping Yunho. Yunho menelan ludah susah payah sembari menatap takut-takut kearah sang istri. Ia tengah menimang haruskah ia jujur atau berbohong?

"Yun?"

"Nee? Um~ ini,,,, errr aku sedang ingin merekrut orang untuk regu baruku boo"

"Oh ya? Berapa orang?"

"Sebuah regu kecil, hanya 5 orang. Aku butuh 2 orang tambahan lagi"

Jaejoong mengangguk paham lalu mengambil beberapa kertas yang tercecer, namun mata bulatnya menyipit melihat nama-nama yang tercantum disana adalah bukan orang-orang biasa.

"Regu untuk tugas apa?" Tanya namja cantik itu was-was, ia berharap pikiran buruknya hanya imajinasi liar namun seketika mencelos saat bibir hati itu kembali berucap.

"Kami akan mengejar Park Hyungshik"

Sesaat keheningan terjadi, Jaejoong hanya diam menatap kosong kearah pintu.

"Oh" namja cantik itu bergumam kecil lalu mulai bangkit, meninggalkan Yunho yang tengah mengusap wajahnya kasar.

Pranggg

Suara pecahan kaca terdengar tak lama setelah Jaejoong keluar. Yunho menghembuskan nafas kasar, sudah menduga reaksi Jaejoong akan seperti ini. Buru-buru ia menuju ke asal suara memastikan istrinya baik-baik saja.

"Boo.." lirih Yunho saat melihat sang istri tengah bersandar pada meja makan, dilantai didekatnya tercecer pecahan piring.

"Kita pindah kesini, dan kau bilang kalau kita akan menemukan surga. Kau ingat Yun?"

Mata jaejoong berkaca-kaca, menatap pedih kepada sang suami.

"Itulah sebabnya Jae, aku melakukan semua ini agar kau tetap bisa melakukannya, menikmati janji manis yang dulu ku janjikan, kita akan membesarkan buah hati kita disini jadi kau tidak bisa memintaku menyerahkan semuanya begitu saja pada Hyungshik" Yunho mulai terpancing emosi, ia sedikit menaikan suaranya saat menjelaskan alasannya.

"Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa Jung Yunho" suara Jaejoong melemah, ia mendudukan dengan lemas dirinya dikursi. Air mata sudah menggenang dipelupuknya.

"Dengar Yunho, kumohon hentikan semua ini dan kembalilah kepadaku"

Yunho menatap nanar punggung sang istri yang bergetar, ia mendekat lalu merengkuh Jaejoong dari belakang.

"Aku akan melakukannya honey, tapi setelah semua ini berakhir. Aku berjanji ini akan menjadi yang terakhir. Maafkan aku"


Ditempat lain, tepatnya disebuah kamar hotel mewah terlihat dua orang pria jangkung yang tangah saling merengkuh ditempat tidur, pria yang berambut pirang masih betah membenamkan wajahnya dicerukan leher Changmin, membuat namja berpredikat seme itu terkikik kegelian.

"Cukup naga kecil"

Changmin mengangkat kepala Kris membuat namja putih itu mempoutkan bibir kesal. Changmin tersenyum kecil lalu melumat singkat bibir pasangannya. Kris merubah posisi menjadi duduk lalu tangannya bergerilya pada nakas disamping tempat tidur, mengambil dan menyalakan sebatang rokok lalu menyesapnya.

"Dia akan membunuhmu jika dia tahu" ujar Kris membuat kepulan asap menguar dari mulutnya.

"Siapa?" Changmin bertanya santai sambil ikut merubah posisi menjadi duduk.

"Tuan Park"

"Park? Zoo Park?" canda Changmin membuat Kris mendelikan mata kesal.

"Kenapa kau bisa bersama si bodoh itu? Kelihatannya dia bukan tipemu"

"Tapi aku tipenya" Kris menyunggingkan seringaiannya, sedikit bangga juga bisi membuat mafia nomor satu itu jatuh hati padanya, namun senyum itu perlahan berubah menjadi senyum miris.

Dia sudah lelah dengan Hyungshik, dari awal ia tak pernah menginginkan hubungan itu. Hyungshik mendeklarkannya secara sepihak dan sejak saat itu pula bencana dimulai. Namja itu benar-benar memonopoli hidup Kris dan mirisnya tak ada yang bisa pemuda 20 tahun itu lakukan. Ia hanya sebatangkara dan melawan Hyungshik sama saja dengan menyerahkan nyawa.

Ia hampir mencapai titik batasnya sebelum bertemu dengan Changmin. Malam itu sebenarnya ia hampir nekat mengakhiri hidupnya, namun ia terlebih dahulu bertemu Changmin, entah mengapa Kris seperti mendapat secercah harapan. Ia yakin Changmin dapat menlongnya.

"Aku bersumpah akan membebaskanmu darinya, bersabarlah Kris"


Pagi itu ada yang aneh di kediaman Jung. Jaejoong yang biasanya tengah menyiapkan sarapan kini malah sibuk sendiri didepan ruang tv. Dihadapannya tercecer berkas-berkas yang semalam dipelajari sang suami.

Yunho yang sudah siap dengan pakaian dinasnya menatap sedih meja makan yang kosong lalu beranjak malas kearah istrinya.

"Kau berbeda hari ini boo"

"Hum"

Jaejoong menggumam kecil sebelum menutup berkas itu dengan kesal.

"Terbaik dikelasnya, terbaik dibidangnya, terbaik terbaik dan terbaik. Jika aku menjadi Hyungshik, inilah polisi-polisi yang akan kubeli, mereka akan menjadi letnan hanya dalam beberapa tahun, hoo... orang-orang seperti ini terlalu mudah untuk dikendalikan"

Yunho terkekeh mendengar omelan sang istri. Jaejoong memang bukan seorang polisi atau agen, tapi jangan salah, kemampuan menganalisa namja cantik itu tidak bisa dianggap remeh.

"Jadi aku harus merekrut gelandangan lain sepertiku? Hahaaa"

"Aku hanya bilang jangan mencari bocah paduan suara untuk hal ini. Tenang sersan, aku mempunyai hadiah menarik untukmu, ige" Jaejoong menyodorkan 2 lembar kertas berisi 2 nama yang ia pilih sendiri, tidak berasal dari berkas-berkas milik Yunho tentu saja.

"Namja imut ini yang pertama, temuilah segera"


Dua orang namja tengah duduk bersama disebuaah bangku ditaman kota yang cukup ramai. Yang satu memakai seragam polisi lengkap dan yang satu hanya memakai pakaian casual. Tapi jangan salah, namja itu juga merupakan anggota kepolisian, hanya saja bertugas di Gangnam.

"Aku sedang membentuk sebuah tim Junsu-ssi, aku butuh panduan orang yang mengenal baik daerah tempat operasi kami nanti"

"Aku ingin membantu, hanya saja aku sedang ditengah kasus penting, jadi aku tidak bisa" jawab Junsu cuek.

"Jinjja? Walaupun tangkapan kita kali ini sangat besar?" pancing Yunho membuat Junsu kini sedikit tertarik.

"Memang siapa orang beruntung itu?"

"Park Hyungshik"

"Oh, semoga beruntung kalau begitu" Junsu mengurungkan ketertarikannya saat ternyata nama sang predator yang disebut.

"Hey, hanya itu saja tanggapanmu?" pekik Yunho tak terima.

"Sersan, seluruh kota sudah tergenang air dan kau ingin mengambil ember disaat seharusnya mengambil baju renang? Demi Tuhan itu akan sia-sia"

"Ayolah Kim Junsu, ada apa denganmu? Ku dengar kau juga sangat berbakat dalam menembak, kenapa menyerah semudah ini?"

"Kau tak akan mengubah apapun disini sersan, kau hanya akan terbangun suatu pagi dihamparan rumput yang salah" Junsu suah berjalan menjauhi Yunho, namun langkahnya terhenti oleh gema suara namja berseragam itu.

"Jika kau tidak bisa menjawab pertanyaanku tadi lebih baik kau melepas lencana Junsu-ssi"

Setelah itu hanya keheningan yang melanda, Yunho hanya tersenyum meremehkan sedangkan Junsu yang mengepalkan tangan menahan emosi ditengah langkahnya. Setelah Junsu menghilang dari pandangan Yunho, namja tampan tersenyum kecil, teringat perdebatannya dengan sang istri tadi pagi.

"Namja imut ini yang pertama, temuilah segera"

"Kau yakin?"

"Nee, ia berdinas di Gangnam, selain mengetahui dengan baik medan disana ia juga seorang penembak yang handal"

"Darimana kau tahu?"

"Ayahnya adalah seorang instruktruk penembak terkenal, Junsu-ssi sudah dilatihnya menembak sejak kecil. Junsu-ssi juga pernah mengikuti kejuaran menembak internasional di Rusia, dan you know what? Dia berhasil menjadi juara"

"Baiklah, akan kucoba menemuinya"

"Tentu, dan kau harus bisa mendapatkannyaa. Dengar sersan, cepat atau lambat akan terjadi perang tembak dan aku mau Kim Junsu sudah bersama tim kalian saat itu terjadi, arraseo?"

"Gurae"

"Bagus, dan ini yang satu lagi, temui dia pukul 3 sore dikedai eskrim dekat Dongbang high school. Dan ingat! Kau tak boleh memakai baju dinas saat menemuinya, gunakan pakaian santai saja. Mengerti beruang besar?"

"Arasseo gajah buncit, aku mengerti"

"Bagus, suamiku memang pin,- EH? APAAAH? GAJAH BUNCIT? YAK JUNG YUNHOOOOOOOOOOO!

Yunho,- namja tampan itu kini sudah berada dikedai eskrim yang dikatakan Jaejoong, ia mengedarkan pandangannya kesetiap pojok mencari calon rekan setimnya itu, agak sedikit kewalahan mencari karena diberkas tidak ada foto namja itu sama sekali. Jaejoong hanya mengatakan bahwa namja itu selalu memakai syal berwarna merah.

Syal merah? Well~ sebenarnya disudut dekat jendela ia melihat seorang namja memakai syal merah, tapi yang benar saja? Namja itu terlihat mungil dan juga mengenakan seragam sekolah. Tidak mungkin kan bocah ingusan seperti itu akan menjadi anggotanya?

"Ahjussi, aku ingin satu cup besar lagi yang rasa cokelat ya" namja yang sedari tadi diperhatikan Yunho tiba-tiba berteriak.

Sang ahjussi penjual eskrim mengangkat jempol, "Nee, tunggu sebentar Dongho-ah"

Waitt...

Jaejoong bilang namja itu bernama Shin Dongho. Dan namja itu bernama...Dongho? Juga memakai syal merah? Errrrr~

"Apa kau Shin Dongho?"

Kalah! Akhirnya rasa penasaran Yunho membuat egonya mengalah, ia ingin memastikannya sendiri.

"Nee, ah, ahjussi suami Jaejoong umma ya?"

Yunho melotot shock. UMMA?

"Kemarin Jae umma sudah memberitahuku kalau ahjussi akan datang, hehehee, benarkah ahjussi memerlukan bantuanku?" Dongho menatap Yunho masih membeku.

"Membantu? kau sedang bercanda?" Yunho menatap datar wajah belepotan eskrim Dongho.

"Tidak, kenapa ahjussi tidak mempercayaiku? Karena aku bukan polisi?"

"Karena kau masih terlalu muda, kau masih bocah"

Dongho menghentikan kegiatan makan eskrimnya. Mata yang tadinya berbinar polos kini mulai menajam kearah lawan bicaranya.

"Usiaku tidak ada hubungannya sersan"

"Tapi kemampuanmu?"

"Usia bukan jaminan efisiensi"

"Dan anak muda juga bukan jaminan inovasi" balas Yunho tak mau kalah.

Dongho berdecih lalu kembali memakan eskrimnya dengan santai.

"Aku bisa membuat kekacauan besar hanya dengan duduk bersama laptopku sambil memakai piyama sebelum berangkat sekolah dipagi hari daripada yang kau lakukan dilapangan selama setahun"

Yunho sedikit terhenyak mendengar penuturan bocah dihadapannya. Tak menyangka dibalik wajah imut itu tersimpan sebuah nyali yang besar.

"Dari mana kau belajar meretas?"

"Aku? Um~ aku mempelajarinya sendiri, aku tidak punya teman, orang tuaku juga sering bepergian keluar negeri. Dirumah hanya ada aku dan para maid jadi untuk menghilangkan bosan aku mulai bermain-main dengan laptopku"

"Otodidak? Wow" yunho mulai tertarik dengan bocah dihadapannya. Baru 17 tahun tapi bocah itu bisa dikatakan sudah master dalam hal meretas dan menyadap. Jaejoong juga tadi sempat mengatakan kalau namja mungil itu menguasai teknik perakitan bom. Well~ seorang anak yang kesepian namun bergelimang harta terkadang memang akan bermetamorfosa menjadi sangat menakutkan.

"Kau yakin akan bergabung? Anggota yang lain sudah dewasa"

"Jika kalian memang membutuhkan bantuanku, kenapa tidak?" Dongho tersenyum polos, membuat Yunho kembali harus mengerjapkan mata. Kepolosan wajahnya benar-benar topeng sempurna.

"Gurae, kalau begitu selamat bergabung"

"YAIYYY, terimakasih appa, hehehee"


TBC

"Usia bukan jaminan efisiensi" "Dan anak muda juga bukan jaminan inovasi"

Ada yang gak asing sama scene itu? whaha, Skyfall punya itu, scene pertemuan awal Bond dan Q :)

Thanks buat yg sudah menyempatkan mampir, sorry ya lama banget apdet, saya mahasiswi tingkat akhir jadi lagi agak-agak sibuk dan gak sempet nengok2 ff. sorry juga gak bisa balas review satu2, tapi saya baca semua kok, terimakasih sekali untuk feedbacknya^^