Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Title : With All My Heart

Genre : Romance, Angst

Rate : T

Pairing : NaruSaku slight SasuKarin, dll.

Inspirated : Untuk quote kali ini, terinspirasi dari lagu 'Song For You' Tohoshinki. Semoga suka! ^^

Warning : OOC, AU, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

Summary :"Kalau begitu tatap mataku dan katakan kalau kau tidak menyukai, Naruto!" tantang Sakura.

Sakura mulai terisak pelan, kini ia menatap mata Naruto dengan wajah memelas.

"Aku…"

Sakura masih terus menunggu, menunggu Naruto menyelesaikan perkataannya.

"Aku...selama ini aku sakit, jadi aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak ingin jatuh cinta, tapi Sakura-chan kau telah merusak semuanya. Sakura-chan, kau adalah orang pertama yang membuat hatiku berdebar-debar, kau berhasil membuatku jatuh cinta biarpun kau tidak mengenalku sama sekali..."

Chapter 3 : I'll never let you go

I'll never let you go. Hey, stay by my side. Let's count each passing seasons. I want to we walk together. All the time, forever—Naruto Namikaze—

oooOOcherrybloossomOOooo

"Bagaimana pun caranya, cari Sakura sampai ketemu! Kalau tidak, perusahaan bisa mengalami kerugian besar," teriak CEO Shimura Entertainmment—Shimura Akira—(gomen, Akira ini OC milik Muki dan dari clan Shimura, abis Muki bingung nentuin siapa yang pantes menjadi bosnya Sakura. Nggak apa-apa, kan?) ^^

"Kami sudah mencarinya kemana-mana Akira-sama, tetapi sampai sekarang kami belum bisa menemukan Haruno-san..." sambung Kakuzu, salah satu bodyguard Sakura.

"Ini semua gara-gara kalian bertiga, dasar tidak berguna! Harusnya kalian bisa mencegah Sakura melarikan diri! Bukankah menjaganya adalah kewajiban kalian?"

"Gomen, Akira-sama. Waktu itu Tobi sangat mengantuk. Kakuzu-san terus-menerus menghitung uang di kamarnya, sedangkan Kisame-san sedang sibuk memberi makan ikan hiu miliknya!" cerita seorang pria bertopeng dengan polosnya, pria yang juga merupakan bodyguard Sakura.

"ITULAH SEBABNYA, KU BILANG KALIAN BERTIGA TIDAK BERGUNA!" bentak Akira-sama sambil menggebrak meja, membuat ketiga orang itu terlonjak kaget.

"Tenanglah, Akira-sama! Kami pasti akan terus mencarinya sampai ketemu!" sambung Kisame,

"...karena kalian tidak berguna aku sampai merepotkan Akatsuki band untuk ikut mencarinya. Cepat cari dia karena selain karir Sakura terancam, kedua orang tuanya dan Yakumo-san terlihat begitu khawatir!"

"SIAP! Tobi anak baik akan melaksanakan perintah Akira-sama!"

Ketiga orang itu pun membubarkan diri. Akira-sama langsung memijit keningnya. Ia benar-benar pusing karena para wartawan infotainment tidak pernah berhenti menanyakan keberadaan salah satu artis terbaiknya itu, terlebih perusahaannya mengalami kerugian besar gara-gara Sakura pergi seenaknya. Sebenarnya ia mengerti perasaan Sakura yang sangat menginginkan untuk vacum, sebab sebelum Sakura menghilang, gadis itu kerap kali selalu membahas hal yang sama, tetapi pergi diam-diam seperti ini justru malah menimbulkan banyak masalah baru.

oooOOcherrybloossomOOooo

"Dimana puteraku?" tanya dokter Tsunade, dokter yang selama ini menangani penyakit Naruto sekaligus ibu mertua Kushina.

"Karin masih berusaha menghubunginya. Okaasan, bagaimana keadaan Naru?"

"Akan aku katakan setelah puteraku datang,"

"...tapi aku ini ibunya, Okaasan. Katakan saja padaku!"

"Tidak bisa Kushina, aku khawatir kau tidak akan kuat mendengarnya. Setelah Minato tiba, kalian berdua segeralah ke ruanganku!"

"Apakah kami boleh melihatnya?" tanya Gaara,

"Boleh saja, tetapi jangan terlalu lama dan tidak boleh lebih dari dua orang karena kondisi bocah itu masih sangat lemah. Kami permisi dulu!" pamit Tsunade yang kemudian undur diri diikuti asistennya—Shizune—dan dua orang perawat lainnya.

Kushina hanya menatap punggung Tsunade yang semakin menjauh dengan pandangan kosong. Ia benar-benar khawatir pada keadaan putera semata wayangnya itu. Kushina mulai panik dan menangis karena perkataan Tsunade tadi terdengar begitu janggal. Ia pun terduduk lemas di lantai yang dingin. Gaara yang sejak tadi duduk di kursi tunggu bersama Sakura segera menghampiri Kushina, lalu berusaha menenangkan Kushina dengan memegang tangan dan bahunya,

"Kushina-basan!" panggil Gaara lirih,

Kushina masih terus menangis. Gaara pun segera membantu Kushina berdiri, lalu mendudukkan Kushina di samping Sakura yang terus menunduk sejak tadi. Setelah itu dia pun duduk di samping Kushina.

"Gaara, Naru akan baik-baik saja kan?" Kushina mengalihkan pandangannya pada Gaara yang kini sudah duduk di sampingnya. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Gaara, berharap Gaara akan memberinya jawaban yang bisa menenangkan hatinya yang sedang sangat ketakutan akan kehilangan putera semata wayangnya, meskipun ia sendiri tahu bahwa Gaara juga hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi pada putranya.

"Tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada Naruto, kan?" tanyanya lagi karena Gaara tidak juga menjawab pertanyaannya.

Gaara dapat melihat Kushina memandangnya dengan penuh harap, terlihat sangat putus asa. Air mata kembali menetes dan membasahi kedua pipi wanita itu. Apa yang harus Gaara katakan? Tentu saja Gaara juga berharap Naruto akan baik-baik saja, tetapi dia sendiri tidak tau apa yang akan terjadi pada Naruto yang langsung masuk ruang ICU setelah sampai di Rumah Sakit tadi.

"Hai, basan, Naruto pasti akan baik-baik saja. Dia orang yang kuat!" jawab Gaara, berharap kata-kata itu bisa lebih menenangkan Kushina.

Gaara lalu mengalihkan pandangannya pada Sakura. Dia dapat melihat gadis itu masih menunduk menatap lantai. Sakura nampak menggelengkan kepalanya dengan lemah sambil terisak pelan. Gaara ingin sekali menenangkan hati gadis itu, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan Kushina yang masih terus menangis.

"Aku ingin melihatnya," ucap Kushina pula.

"Baiklah Kushina-basan, aku akan menemanimu masuk..." kata Gaara yang kemudian menuntun Kushina masuk ke ruang ICU setelah menoleh sesaat pada Sakura.

oooOOcherrybloossomOOooo

Gaara terdiam ketika dia menemukan sosok Sakura tengah tertidur di kursi tunggu. Setelah Minato datang, Kushina dan Minato langsung pergi ke ruang dokter Tsunade, sedangkan dirinya pergi sebentar untuk membeli minuman karena merasa haus, sementara Karin segera pulang ke mansion untuk mengambil beberapa pakaian untuk Kushina dan Minato dengan di antar oleh Sasuke.

Gaara berjalan mendekat menghampiri Sakura. Dilihatnya gadis itu dengan tatapan yang lembut. Wajah Sakura terlihat letih dan matanya sembab. Sakura pasti tertidur karena lelah gara-gara menangis sejak tadi. Gaara melepaskan sweater kesayangannya dan menyelimutkannya ke tubuh Sakura. Gaara dapat melihat ada sisa-sisa air mata di pelupuk mata Sakura. Hatinya sangat perih melihat keadaan Sakura yang seperti itu.

"Sakura-san?"

Lagi-lagi jantung Gaara berdegup kencang setiap kali Sakura berada di dekatnya, namun hatinya terasa begitu hangat dan nyaman.

"Sakura-san, kau terlihat jauh lebih cantik. Kukira aku hanya bisa bertemu denganmu di setiap konser atau fanmeetingmu seperti dulu. Tak kusangka sekarang kau begitu dekat,"

Perlahan-lahan Gaara menyentuh pipi Sakura dan mengecup keningnya, namun hanya sekian detik karena dia khawatir gadis itu akan terbangun. Setelahnya dia hanya duduk di samping Sakura sambil terus memandangi gadis itu.

oooOOcherrybloossomOOooo

Ino berdiri tertegun di depan pintu ruang kerja dokter Tsunade. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Rasanya seperti di tusuk beribu-ribu jarum, saat ia mendengar penjelasan dokter Tsunade pada Minato dan Kushina mengenai kondisi Naruto.

Kenapa ini semua harus terjadi? Kenapa pada saat Sakura baru menyadari perasaannya pada Naruto, kondisi Naruto justru semakin memburuk? Sesingkat inikah waktu Sakura bersama Naruto? Secepat inikah mereka harus kehilangan Naruto? Tidak, Ino sama sekali tidak siap jika harus kehilangan Naruto yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.

Ino dapat mendengar suara tangisan Kushina di dalam ruangan, juga teriakan panik Minato karena sepertinya Kushina langsung tak sadarkan diri setelahnya. Hal itu membuat hatinya terasa semakin perih. Ino menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha menyembunyikan suara tangisnya sendiri. Ino sama sekali tidak ingin orang-orang yang berada di dalam ruangan itu menyadari keberadaannya.

'Kami-sama, aku mohon jangan ambil Naruto-sama!' pinta Ino di dalam hatinya. Air matanya semakin banyak mengalir keluar. Ino benar-benar takut, takut kemungkinan terburuk yang di katakan dokter Tsunade barusan benar-benar terjadi.

"Naruto-sama..." sambil terisak, Ino memanggil nama Naruto dengan lirih lalu bergegas berlari menuju ruang ICU tempat Naruto di rawat.

oooOOcherrybloosomOOooo

Ino tertegun di tempatnya berdiri. Kedua bola mata aquamarinenya membulat tak percaya. Ia tidak mungkin salah lihat. Ia yakin penglihatannya tidak bermasalah, Gaara mendekati Sakura, menyelimutkan sweaternya pada tubuh Sakura yang tengah tertidur, dan setelahnya Gaara menyentuh pipi Sakura dan mengecup kening gadis itu dengan penuh perasaan.

'Jangan bilang kalau kau menyukainya juga, Gaara-sama?!' ucap Ino dalam hati,

Ino masih terpaku di tempat, sekarang ia melihat Gaara duduk di samping Sakura lalu terus memandangi gadis itu tanpa berkedip. Ino mulai melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang itu, dan dalam jarak yang sedekat ini...ia bahkan bisa melihat pipi Gaara merona dan bibirnya megulas senyuman kecil.

"Gaara-sama?" sapa Ino,

Gaara tersentak kaget mendengar suara seorang gadis yang tidak asing baginya. Dia nampak salah tingkah. Jantungnya semakin berdebar kencang. Ia takut Ino melihat kejadian tadi lalu melaporkannya pada Naruto, setelah sepupunya itu siuman nanti.

"I-Ino...aku..."

"Kenapa kau membiarkannya tertidur di sini? Kalau dia sakit bagaimana? Kan aku juga yang repot!" ujar Ino yang kemudian mendekati Sakura lalu menepuk-nepuk pipi Sakura.

"Engh...Ino pig?"

"Akhirnya kau bangun juga. Kenapa tidur disini? Ayo masuk!"

"...tapi Naruto kan masih di ruang ICU, Tsunade-sensei bilang kondisinya masih sangat lemah...jadi dia pasti belum boleh di jenguk, kan?"

"Biarpun begitu kau tidak boleh tidur disini! Kalau kau sakit kan aku juga yang repot!"

"Kenapa aku harus merepotkanmu?" tanya Sakura polos,

"Sudahlah, Naruto-sama boleh di jenguk kok! Asal tidak boleh terlalu lama dan maksimal dua orang!"

Sakura mengerutkan kening saat melihat benda asing yang menempel di badannya, ia pun mencium aroma parfum yang masih tertinggal di sweater merah maroon itu.

"Pig, ini sweater siapa? Seingatku ini bukan aroma parfum Naruto, jadi aku yakin ini pasti bukan punya Naruto!"

"Memang bukan punya Naruto-sama."

"Kalau begitu, ini punya siapa?"

"Punya Gaara-sama," jawab Ino sambil menunjuk Gaara yang tampak menghela nafas lega karena tadi ia pura-pura tidak melihat apa yang pemuda itu lakukan pada Sakura.

"Gaara-sama, arigatou!" kata Sakura sambil melepas sweater itulalu menyodorkannya pada Gaara,

"Kau pakai saja, di sini dingin!" kata Gaara seraya menyampirkan kembali sweaternya ke bahu Sakura.

"Domo arigatou," Sakura kembali berterimakasih pada Gaara, lalu memakaikan sweater itu ke tubuhnya sendiri.

"Sakura-san sebaiknya kau pulang bersama Ino dan istirahat, kau telihat sangat lelah!" kata Gaara,

"Tidak," Sakura menggelengkan kepalanya,

"Eh? Doushite, forehead?"

"Aku ingin menemani Naruto disini. Aku akan menunggunya sampai dia siuman!"

"...tapi kalau terus begini, kau sendiri bisa sakit Sakura-san."

"Daijoubu, aku hanya ingin terus berada di sampingnya."

Deg! Gaara merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak. Mendadak dia merasa cemburu. Sangat cemburu. Apakah hati Sakura kini sepenuhnya telah menjadi milik sepupunya itu? Jika memang demikian berarti sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya?

"Nampaknya kau sangat menyayangi Naruto?"

Sakura tersentak mendengar pertanyaan Gaara. Ia terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab,

"Hai, aku tulus menyayangi Naruto. Memang benar aku baru mengenalnya, tapi aku ingin mengenalnya lebih dekat lagi karena sekarang aku sadar kalau Naruto sangat berarti untukku."

"Baguslah, aku ikut senang karena ada orang yang menyayangi Naruto dengan tulus, aku ikut bahagia mendengarnya!" kata Gaara sambil tersenyum, tapi baginya kata-kata yang keluar dari mulutnya itu terdengar begitu miris.

Menit-menit selanjutnya suasana menjadi hening. Tidak ada lagi percakapan diantara Gaara, Sakura ataupun Ino. Ketiganya hanya diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.

oooOOcherryblossomOOooo

Sakura mulai melangkahkan kakinya menuju ruang ICU, diikuti Ino di belakangnya. Matanya mulai terasa memanas lagi. Ia sendiri tidak mengerti kenapa perasaannya mendadak menjadi kacau seperti ini, padahal Naruto bukanlah tipenya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia bisa menyukai pemuda itu. Apa yang ia suka dari seorang Naruto Namikaze? Senyumannya kah? Tidak, bagi Sakura senyuman Naruto hanya membuatnya tertarik. Ino juga bukan menjadi alasannya. Alasan ia menyukai Naruto masih belum ia ketahui, tetapi yang ingin dilakukannya sekarang hanyalah terus berada di samping Naruto. Sakura hanya ingin terus bersama dengan Naruto.

Sakura telah tiba di depan kamar ICU tempat Naruto berada. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar itu, mengenakan pakaian khusus yang sudah tersedia di sana, lalu melangkahkan kakinya mendekati ranjang di mana Naruto sedang terbaring lemah tak sadarkan diri.

Sakura mengedarkan pandangannya ke arah Naruto, dilihatnya selang infus terpasang di lengan kiri Naruto, juga masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya yang pucat dan berbagai peralatan medis lain yang tidak Sakura mengerti terpasang di tubuhnya. Sakura lalu mengalihkan pandanganya ke mesin EKG di samping ranjang Naruto yang terus menunjukkan garis naik turun berwarna hijau. Kemudian Sakura kembali mengalihkan pandangannya ke arah Naruto yang terlihat...begitu menderita.

"Naruto..." Sakura memanggil nama pemuda itu dengan lirih. Di genggamnya tangan Naruto dengan lembut, sambil terisak dia pun melanjutkan kata-katanya,

"Bertahanlah, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku benar-benar tidak mau kehilanganmu. Aku belum mengatakan padamu kalau aku menyukaimu, Naruto. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi sepertinya aku jatuh cinta padamu."

oooOOcherrybloossomOOooo

Ino ikut menangis melihat kondisi Sakura yang nampak begitu sedih. Gadis itu berbicara pada Naruto yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri sambil terisak pelan, sementara tangannya menggenggam erat tangan Naruto, seolah takut Naruto akan pergi meninggalkannya. Dada Ino terasa sakit dan sesak saat itu juga. Dia tidak tega melihat kedua orang yang disayanginya itu menderita.

Ino mengalihkan pandangannya pada Naruto. Putera majikannya itu terlihat sangat lemah dan tidak berdaya. Tiba-tiba Ino kembali teringat pada kejadian saat dirinya menguping pembicaraan Minato dan Kushina dengan dokter Tsunade mengenai kondisi Naruto, tangisan Kushina saat mendengar penjelasan dokter Tsunade, teriakan panik Minato saat itu, serta keadaan Sakura saat ini membuat hatinya semakin pilu.

"Naruto-sama...bertahanlah, demi kami semua yang sangat menyayangimu!" katanya lirih.

oooOOcherrybloossomOOooo

"Naruto?" Sakura terlihat kaget. Ia baru saja membuka pintu kamar tempat Naruto di rawat dan mendapati Naruto tengah berbicara pada seorang pria tampan yang begitu mirip dengan Naruto. Pria berambut blonde dan bermata sapphire yang Sakura ketahui sebagai ayah Naruto sekaligus musisi idola ibunya—Namikaze Minato—

"Apakah kau yang bernama Sakura-san?" tanya Minato sambil tersenyum ramah.

"Hai, Minato-sama, hajime mashite!" ucap Sakura sambil sedikit membungkukkan badannya.

"Senang mengenalmu, Sakura-san!" balas Minato sambil kembali menunjukkan senyumnya pada Sakura, senyuman yang mengingatkannya pada senyuman Naruto.

"Naruto, kau yakin akan melakukannya?" Minato kembali berbicara, kali ini pada puteranya—Naruto—

"Hai, Otousan. Kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja!" jawab Naruto, suaranya masih terdengar lemah.

"...tapi..." Minato terlihat ragu, sementara Sakura menatap keduanya dengan bingung, tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

"Daijoubu desu, tousan!" Naruto berusaha meyakinkan ayahnya.

"Baiklah, Otousan percaya padamu!" jawab Minato pada akhirnya,

"Kalau begitu Otousan keluar dulu, kau bicaralah pada Sakura-san!" tambahnya seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Sakura yang masih berdiri dengan ekspresi kebingungannya.

"Kenapa terus berdiri di sini? Kau tidak ingin menemui puteraku?" tanya Minato pada Sakura.

"Eh? Hai, Minato-sama."

oooOOcherryblossomOOooo

"Kenapa kau terus berdiri di sana? Apa kau tidak ingin menemuiku?" tanya Naruto yang melihat Sakura hanya terus berdiri di tempatnya sambil menatap kepergian Minato.

"Baka! Kenapa kau mengulang pertanyaan ayahmu?" Sakura malah balik bertanya sambil berjalan menghampiri Naruto yang sedang berbaring di atas ranjangnya.

Naruto tersenyum mendengar jawaban Sakura. Hati Sakura terasa hangat melihat senyuman Naruto. Senyuman yang ia rindukan, senyuman yang sudah empat hari ini tidak ia lihat.

"Apa yang sedang kalian bicarakan tadi?"

"Rahasia," jawab Naruto sambil tersenyum jahil...

"Jangan membuatku penasaran, baka!"

"Sakura-chan, daijoubu desu ka? Kau kelihatan pucat," tanya Naruto cemas saat Sakura telah duduk di hadapannya.

"Baka, harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!"

"Aku serius Sakura-chan, apa kau sakit?"

"Iie, daijoubu desu."

"Souka?"

"Hai..." jawab Sakura sambil tersenyum,

"Kau sendiri bagaimana? Apa keadaanmu sudah lebih membaik? Apa dadamu masih terasa sakit? Kapan kau siuman? Baka, kenapa kau tidak memberi kabar padaku?"

"Sakura-chan, kenapa kau jadi cerewet seperti Ino? Pertanyaanmu membuatku pusing,"

"Gomen," kata Sakura sambil menundukkan kepalanya.

"Jangan cemas, aku baik-baik saja!" jawab Naruto sambil mengelus kepala Sakura dengan lembut,

"Aku sudah siuman sejak kemarin, aku sengaja tidak mengabarimu..." tambahnya, di lenganya masih terpasang selang infus dan masih ada juga selang-selang lain yang terpasang di dadanya.

"Doushite?"

"Aku ingin kau istirahat, kudengar sudah susah payah Ino dan yang lainnya membujukmu untuk pulang tapi kau tetap saja keras kepala. Aku tahu dari Gaara, katanya kau terus menerus menjagaku sejak aku masuk rumah sakit."

"Aku hanya ingin terus bersamamu, Naruto!"

Naruto kembali tersenyum. Rasanya ingin sekali ia memeluk gadis di hadapannya itu. Gadis yang selama ini selalu mengisi relung-relung hatinya,

"Kalau begitu, maukah kau menemaniku ke suatu tempat?"

"Nani?"

oooOOcherrybloossomOOooo

Naruto mengajak Sakura ke sebuah cafe. Suasana di cafe itu begitu romantis, banyak hiasan-hiasan cantik terpasang di setiap sudut, serta buket bunga-bunga indah dan lilin-lilin berwarna merah terpajang di setiap meja cafe tersebut. Benar-benar menakjubkan. Hari ini cafe tersebut tidak begitu ramai pengunjung. Di tengah-tengah cafe ada sebuah grand piano berwarna merah maroon. Sakura mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru, menikmati pemandangan yang terpampang indah di hadapannya.

"Indah sekali," kata Sakura takjub.

"Kau suka?"

"Hai, Naruto. Benar-benar cafe yang menakjubkan, ternyata di Konoha banyak sekali tempat-tempat indah yang tidak aku ketahui."

"Ayo!" Naruto tiba-tiba menarik tangan Sakura dan membawanya ke tengah-tengah cafe, lalu ia mempersilahkan Sakura untuk duduk di kursi grand piano. Ia sendiri juga duduk di samping Sakura,

"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Sakura masih belum mengerti,

"Bukankah tempo hari kau mengajakku duet? Kau sudah hapal lirik lagu itu kan, Sakura-chan?"

"Sedikit," jawab Sakura pula.

"Otousan yang menunjukkan cafe ini padaku, katanya tempat ini adalah tempatnya melamar ibuku sebelum dia menjadi pianis terkenal. Begitulah, dulu Otousan hanya seorang pemain piano di cafe ini. Okaasan lah yang memberinya motivasi, hingga akhirnya Otousan berhasil meraih cita-citanya untuk menjadi seorang musisi professional..." cerita Naruto panjang lebar.

"Souka?"

"Romantis bukan? Tidak heran Okaasan sampai jatuh cinta padanya."

"Lalu, apa kau mengajakku kemari untuk melamarku juga?" goda Sakura,

"Apa kau ingin aku melamarmu?" Naruto malah balik menggoda Sakura, membuat pipi Sakura memerah.

"Baka, memangnya kau tidak mau melamarku?" balas Sakura tidak mau kalah,

"Tidak mau!" jawab Naruto sambil memalingkan wajahnya dari Sakura dan tersenyum sendiri saat Sakura sudah tidak dapat melihat wajahnya lagi.

"Nani? Kau tidak mau? Baka!"

Naruto kembali menghadap ke arah Sakura dan kembali tersenyum melihat ekspresi Sakura,

"Ternyata Sakura-chan terlihat sangat manis kalau sedang ngambek," katanya seraya mengusap kepala Sakura dengan lembut.

"Gombal!" jawab Sakura, membuat Naruto tertawa.

'Tentu saja aku mau melakukannya, Sakura-chan. Tentu saja aku mau melamarmu, tapi apakah aku punya kesempatan untuk itu? Apa aku masih punya waktu untuk melakukannya? Sakura-chan, waktuku sudah tidak banyak lagi...' batin Naruto sambil terus memandang gadis di hadapannya itu dengan pilu.

"Naruto, ada apa?" tanya Sakura yang heran melihat ekspresi Naruto tiba-tiba berubah. Tawa Naruto tiba-tiba hilang, kini naruto terlihat begitu sedih.

"Iie, daijoubu..." jawab Naruto sambil kembali tersenyum yang kali ini terlihat sedikit dipaksakan.

"Naruto, aku menyukaimu."

"EH?"

"Aku serius! Aku menyukaimu. Tidak, aku bukan hanya menyukaimu tapi aku juga sangat menyayangimu dan mencintaimu. Jadi bagaimana kalau kita pacaran saja?" ucap Sakura dengan wajah yang semakin memerah, kini ia bisa merasakan jantungnya berdebar jauh lebih kencang.

"Jangan menyukaiku, Sakura-chan. Kau kan tahu sendiri kalau aku sakit. Aku tidak akan bisa membahagiakanmu. Aku mungkin hanya akan membuatmu terluka dan aku tidak ingin kau terluka, Sakura-chan. Kau harus bahagia, aku tidak akan pernah membiarkanmu bersedih!"

"...tapi bagaimana jika bahagiaku itu adalah kau, Naruto?"

"Sakura-chan, kumohon jangan! Kau bisa mendapatkan laki-laki lain yang jauh lebih sempurna dariku, aku yakin di luar sana masih banyak orang yang menyukaimu!"

"Apa kau tidak menyukaiku?"

"Sakura-chan..."

"Katakan padaku, apa kau menyukaiku?"

"Apa yang sedang kau bicarakan, Sakura-chan?"

"Aku sedang membicarakan tentang perasaanmu padaku..." kata Sakura,

"Naruto, jujurlah padaku! Kau juga menyukaiku kan?" tambahnya sambil terus menatap Naruto.

"Tidak, kau salah paham Sakura-chan."

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku secara langsung kalau kau juga menyukaiku? Kenapa kau hanya mengungkapkan semua perasaanmu padaku lewat lagu Song for You gubahanmu, dan suratmu itu?" tanyanya lagi.

"Aku? Menyukaimu? Yang benar saja Sakura-chan, lagipula apa yang kau maksud dengan surat? Surat apa? Kalau soal surat penggemar itu wajar, kan? Penggemarmu yang lainnya juga sudah pasti akan menyatakan hal yang sama padamu," lagi-lagi Naruto berkilah.

"Jadi kau tidak menyukaiku?"

"Iie, aku hanya mengagumimu sebagai seorang fan, tidak lebih dari itu!" jawab Naruto sambil memalingkan wajahnya dan berusaha menghindari tatapan Sakura, seolah takut Sakura dapat membaca isi hatinya.

"Kau bohong! Jangan mebohongiku, baka!" kata Sakura sambil terus menatap Naruto dengan tatapan yang tajam.

"Aku tidak bohong, Sakura-chan. Bagiku kau hanya seorang idola yang aku kagumi."

"Benarkah? Aku tidak percaya!" Sakura tetap tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Naruto.

"Sakura-chan, sebenarnya apa maumu?"

"Aku mau kau jujur pada perasaanmu sendiri!" jawab Sakura,

"..."

"Naruto, berhentilah menutupi perasaanmu sendiri! Katakanlah perasaanmu yang sesungguhnya!"

"Sakura-chan, hentikan!"

"Doushite? Kau tidak berani? Kau masih ingin terus menyembunyikannya?"

"Aku tidak menyembunyikan apa-apa."

"Lalu kenapa kau terus menghindari tatapanku?"

"Aku juga tidak menghindari apapun," jawab Naruto, masih enggan untuk menatap ke arah Sakura. Ia sendiri yakin kalau Sakura tidak akan begitu saja percaya dengan semua ucapannya. Sakura selalu bisa membaca kebohongannya lewat sorot matanya. Itulah kenapa Naruto tidak ingin membalas tatapan Sakura. Ia takut Sakura akan menyadari sesuatu bila ia membalas tatapannya.

"Kalau begitu tatap mataku dan katakan kalau kau tidak menyukai, Naruto!" tantang Sakura.

Naruto tertegun saat mendengar tantangan yang di ajukan Sakura.

'Sakura-chan, kenapa saat aku sudah memutuskan untuk melepasmu...kau malah melakukan hal ini padaku?' batinnya dalam hati.

Naruto bimbang. Haruskah ia melakukan permintaan Sakura? Apakah menuruti kemauan Sakura adalah jalan yang terbaik? Rasanya ia ingin sekali menghancurkan hati Sakura saat ini, tapi sanggupkah ia melakukannya? Menatap Sakura dan mengatakan kalau dirinya tidak menyukai gadis itu?

'Kumohon Sakura-chan, berhenti! Berhentilah memojokkanku!' batin Naruto pula. Ia semakin berusaha berpaling, masih berusaha menghindari tatapan Sakura.

"Doushite? Kau tidak bisa melakukannya? Kau tidak bisa melakukan apa yang aku minta karena semua yang kukatakan itu benar, kan? Kau benar-benar menyukaiku, kan?" kini air mata mulai menganak sungai di pipi Sakura, membuat hati Naruto semakin perih.

'Kami-sama, ini sakit. Hatiku semakin sakit melihat air matanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menepati janjiku pada Shikamaru. Aku juga tidak ingin membuat Sakura-chan menderita karena aku.'

Sakura mulai terisak pelan, kini ia menatap mata Naruto dengan wajah memelas.

"Aku…"

Sakura masih terus menunggu, menunggu Naruto menyelesaikan perkataannya.

"Aku...selama ini aku sakit, jadi aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak ingin jatuh cinta, tapi Sakura-chan kau telah merusak semuanya. Sakura-chan, kau adalah orang pertama yang membuat hatiku berdebar-debar, kau berhasil membuatku jatuh cinta biarpun kau tidak mengenalku sama sekali..."

Naruto semakin mendekat pada Sakura. Ia mengusap air mata di pipi Sakura, tapi air mata itu tak kunjung berhenti, malah semakin deras. Sekarang dadanya kembali terasa begitu sakit, tapi Naruto terus berusaha untuk menahan rasa sakit dan sesak di dadanya.

"Aku ingin hidup bersamamu, kita menikah, setiap hari aku akan mengucapkan kata 'aishiteru', lalu kita memiliki anak, membesarkan mereka, dan aku hidup bersamamu sampai tua...tapi apakah itu mungkin?" suara Naruto terdengar lirih dan ragu.

Sakura menghambur ke arah Naruto, dan menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Naruto memejamkan matanya lalu memeluk Sakura dengan erat, dan semakin erat.

"Arigatou, Naruto. Sekarang aku puas, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi!"

"Bisakah? Kau bukan Kami-sama," suara Naruto masih terdengar lirih dan bergetar.

"Aku tidak peduli. Berapa lama pun sisa waktu yang kau punya, selama sisa waktu itu aku ingin selalu menemanimu, selalu bersamamu. Jangan pernah memintaku untuk menjauhimu. Jangan minta aku untuk pergi darimu. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu kecuali kalau kau mengatakan bahwa kau tidak menyukaiku."

"Arigatou, Sakura-chan. Domo Arigatou."

oooOOcherrybloossomOOooo

Di salah satu kursi, Gaara sedang duduk sambil tersenyum getir memandang sepupunya—Naruto—memeluk Sakura. Sudah cukup lama dia duduk di tempat itu karena Kushina memintanya untuk mengikuti mereka berdua diam-diam. Biar bagaimana pun Kushina masih sangat mengkhawatirkan kondisi putera semata wayangnya itu, karena sebenarnya Tsunade sendiri belum mengijikan Naruto keluar dari Rumah Sakit. Keadaan Naruto masih sangat lemah, itu yang di katakan Tsunade, tapi ternyata Naruto mewarisi sifatnya yang keras kepala hingga Tsunade tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Gaara masih menatap kedua orang itu. Akhirnya sepupunya itu meraih kebahagiaannya walaupun dia sendiri tersakiti.

"Selamat Naruto!" katanya pelan sambil tersenyum miris memandang Naruto dan Sakura. Tiba-tiba saja Gaara merasakan pipinya basah. Ada sesuatu mengalir keluar dari matanya. Gaara menangis. Dadanya terasa sesak dan nafasnya seperti tercekat,

'Tidak, ini adalah air mata kebahagiaan, kebahagiaan untuk saudaraku, kebahagiaan karena Naruto berhasil meraih kebahagiaannya' batin Gaara dalam hatinya, tapi jika dia bahagia kenapa dadanya terasa begitu sesak dan sakit?

oooOOcherrybloossomOOooo

"Nee, Sakura-chan. Ayo kita duet!" ajak Naruto yang kemudian menghadap ke arah grand piano, lalu mulai memainkan piano tersebut. Alat musik lainnya mulai mengalun mengiringi pemainan pianonya. Rupanya di panggung cafe tersebut sudah berdiri pemusik lain yang telah ia mintai bantuan sebelumnya. Naruto pun mulai bernyanyi,

Be right by your side like this

MY LIFE we will walk together

All the time, forever

oooWithAllMyHeartooo

The thoughts I have decided in my heart

I will convey to you right now without hesitation

Heaped upon the both of us (the) GOOD TIME OF LOVE

For the sake of continuing in the future

oooWithAllMyHeartooo

White wings swimming in the wind

Sending it to your chest (a) SONG FOR YOU

oooWithAllMyHeartooo

I'll never let you go

Hey, stay by my side

Let's count each passing season

Right by your side like this

MY LIFE we will walk together

All the time, forever

Selesai reff pertama, Naruto merasakan sakit di dadanya tiba-tiba muncul kembali. Naruto memegang dada kirinya dengan sebelah tangannya, berusaha menahan rasa sakitnya dan kembali bernyanyi. Sementara sebelah tangan lainnya masih menekan-nekan tuts-tuts piano.

There could be days when the wings are damaged

And times of a starless night sky

oooWithAllMyHeartooo

Today's feelings will probably be remembered

As long as it's the two of us, for sure DREAMS COME TRUE

Dada kiri Naruto semakin terasa sakit, Naruto masih terus berusaha menahannya, suaranya kini mulai bergetar. Gaara yang sudah berdiri dari tempat duduknya menatap cemas ke arah Naruto yang tengah bernyanyi sambil berusaha menahan rasa sakitnya, sementara Sakura nampak tak meyadari apapun karena Sakura terlalu sibuk mengatur debar jantungnya yang terus menggila sejak tadi.

To the far distance of the sky

FOR YOU until my voice reaches it

Let's strum the wishes of tomorrow

YOUR SMILE from my heart

SO SHINE because I swear to you

To protect it forever

Dada Naruto benar-benar terasa sakit. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk menutupi rasa sakitnya. Ia tidak sanggup untuk melanjutkan nyanyiannya. Biarpun begitu, piano itu masih tetap ia mainkan. Naruto hanya berharap semoga Sakura tidak melihat ekspresi kesakitannya.

Sakura yang mendengar Naruto berhenti bernyanyi mulai mengatur nafasnya dan menyanyikan bagian reff terakhir lagu itu untuk menggantikan Naruto, tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Para pengunjung lainnya berhenti melakukan aktivitas makan dan minum mereka sejak Naruto mulai bernyanyi untuk sesaat karena terpesona dengan penampilan Naruto dan Sakura.

I'll never let you go

Hey, stay by my side

Let's count each passing seasons

Right by your side like this

MY LIFE we will walk together

All the time, forever

'PROK! PROK! PROK!'tepuk tangan para pengunjung cafe mulai menggema di cafe tersebut.

"Arigatou!" teriak Sakura seraya berdiri dan menghadap para pengunjung cafe, lalu membungkukkan tubuhnya, ia sangat berterimakasih kepada seluruh penonton yang telah menyaksikan pertunjukkan mereka.

'Sudah berakhir Naruto, kau telah berhasil menepati janjimu pada Sakura-chan. Kau telah berhasil bertahan dan tidak membuat duet pertamamu dengan Sakura berhenti di tengah jalan,' batin Naruto pada dirinya sendiri.

Para pemusik itu sudah membubarkan diri. Para pengunjung cafe juga sudah kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda tadi. Sakura masih tersenyum sambil menghadap ke arah para pengunjung. Sementara Naruto masih terus menekan dada kirinya dengan tangan kanannya. Rasanya sakit sekali. Naruto merasa ia sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi.

'Uhuk...uhuk...uhuk!' Naruto mulai terbatuk-batuk pelan,

"Naruto, ada apa?"

Naruto mendengar suara seseorang memanggil namanya, tetapi ia tidak mau mengarahkan pandangannya pada sosok orang yang memanggilnya. Ia masih terus membelakangi Sakura. Di tekannya semakin kuat dada kirinya yang sakit dengan tangan kanannya, berharap rasa sakit itu akan hilang atau setidaknya berkurang...tetapi dadanya tetap terasa sangat sakit. Naruto terus berusaha menahan rasa sakitnya. Ia tidak ingin Sakura mengetahuinya. Tubuhnya semakin tertunduk, tangan kanannya terus meremas dadanya yang sakit sementara tangan kirinya memegang pinggiran grand piano, berusaha menopang tubuhnya yang terasa semakin lemah.

'Uhuk! Uhuk! Uhuk...OHOK!' batuknya semakin menjadi hingga akhirnya darah segar tiba-tiba keluar beriringan dari batuknya.

'Apa ini?' bathin Naruto sambil memandang cairan kental berwarna merah pekat itu dengan tangan gemetar, tentu saja Naruto sangat shock karena ini pertama kalinya ia muntah darah.

"Naruto, kau kenapa sih?" tanya Sakura bingung karena tiba-tiba Naruto bersikap aneh dengan terus memunggunginya.

_TBC_

a/n: Muki minta maaf karena ceritanya Muki potong di bagian itu, abis Muki takut chapter kali ini kepanjangan ntar pada bosen lagi bacanya, hehehe. Seperti biasa Muki belum siap menerima flame, jadi Muki minta REVIEW aja. REVIEW please! Semakin banyak yang review, Muki akan semakin cepat update lanjutannya. Sedikit bocoran, next chapter full romance NaruSaku lho. Arigatou. ^_^

Untuk review yang kemarin nggak login, akan Muki bales disini :

Vey : Arigatou. Soal ada chara death or nggak masih rahasia, hehehe. Happy end or Sad End? Let's See! Ni udah update. ^^

Guest : Arigatou. Yup, udah pasti bakalan banyak yang sakit hati...malah Muki belum tau bakalan sepanjang apa fic ini karena ada cinta segi banyak. ^^

Astronaut22 : Hahaha, kayak orang tua aja stroke. Tenang aja nggak bakalan ada acara lumpuh apalagi stroke tapi kalau mati, masih rahasia. Ini udah update. Arigatou. ^^

Bay uzukaze : Ga asing? Beneran? Muki nggak tau apa iya ada film atau drama yang ceritanya kayak gini? Yang jelas Muki dapat inspirasi dari lagu-lagu dan kehidupan pribadi, jadi Muki ini kayak Gaara di ff ini...awalnya nggak suka Korea tapi gara-gara temen Muki, Muki jadi ketularan korean virus deh. Temen Muki itu fanatic banget sama salah satu Boyband Korea yang beranggotakan 5 orang (walaupun sekarang mereka udah pisah menjadi 2 group) dia sakit, tapi yang jelas bukan lemah jantung ya! Tiap dia cerita tentang mereka Muki ikut seneng karena dia kelihatan semangat banget, akhirnya Muki putusin deh buat bikin fic kayak gini tapi perannya di balik, jadi kelima cowok itu hanya anak SMA biasa sedangkan temen Muki itu jadi artisnya #GomenMukiJadiCurhat. ^^

Ahmad azman : Arigatou. Ini udah update. ^^

Manguni : Nggak kok Manguni-san, Ino emang memberi dorongan ke Sakura biar dia menyukai Naruto, tapi Sakura menyukai Naruto dari hatinya...kan dari awal Sakura juga sebenernya udah suka sama Naruto cuma dia belum nyadar aja tapi di sini Sakura udah menyadari perasaannya. ^^

Yup, ntar kita liat siapa aja yang patah hati. Maksudnya lagunya ada terjemahan bahasa Indonesianya juga atau pake lagu-lagu indonesia? Wah, kalau lagunya bahasa indonesia Muki bingung...abiz susah nyari lagu-lagu yang cocok buat fic ini. Mungkin Manguni-san punya saran, lagu siapa aja yang bagus dan kira-kira cocok buat ff ini? Ini udah di lanjut ya, arigatou. ^_^

Waraney : Muki nggak kepikiran duet NaruSaku meraih gramy award juga, kan Sakuranya lagi kabur dan band mereka juga belum terkenal tapi boleh juga tuh idenya tapi mungkin bukan lagu yang di chapter ini, mungkin lagu yang di chapter depan, kalau yang 'Song For You' kan cuma gini doank duetnya juga hehehe. Arigatou. ^^

Maesaan : Yup, kita liat aja ntar gimana jalan ceritanya okay! Ini udah di lanjut ya, arigatou. ^^