Fate/Zero © Urobuchi Gen
Floccinaucinihilipilification© Nunnallyy
Arturia Pendragon & Gilgamesh
OOC, Typo, AU.
Chapter three : Ineaffable
Keesokan harinya Gilgamesh masih tidak juga datang untuk kuliah. Bohong jika ia tidak khawatir, bohong pula jika ia bisa tenang tanpa tahu apa masalah yang mendera pemuda itu. Tetapi, melihat sikapnyya waktu terakhir bertemu, Arturia memilih untuk tidak peduli.
Tepat tiga hari setelah Arturia mengunjungi pemuda itu. Pintu depannya diketuk dengan tidak sabar. Ia yang tengah sibuk dengan kencan butanya bersama laptop dan tugas yang mengikis kewarasan bangkit dengan lunglai.
Melalui kacamata anti radiasi yang lupa ia lepas, ia melihart Gilgamesh berdiri di sana. Di depan pintu rumahnya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.
Rambutnya berantakkan, penampilannya acak-acakkan.
"Ada-"
Belum selesai ia bertanya, Gilgamesh sudah menjatuhkan kepalanya di bahu Arturia.
Terdengar hembusan nafas kasar. Arturia ingin bertanya tetapi ia takut salah bicara. Bertahan dalam posisi yang demikian sampai kedua bahunya pegal. Amarahnya menguap, ia ingin memaki dan ia gagal.
"Masuk dulu."
Gilgamesh tersenyum. Tadi, berkali-kali pemuda itu memeluknya.
Kabut di matanya perlahan lenyap, ia bisa merasa sedikit senang ketika bibir itu bisa kembali melengkungkan seyuman, walau dipaksakan.
Cup.
Pipinya dikecup dengan lembut. Itu adalah kali pertama Gilgamesh memerlakukannya dengan sangat manis. Pandangannya meremang, ia melihat Gilgamesh dalam bayang-bayang senja yang perlahan menghilang.
"Jangan pergi." Arturia berkata setengah sadar.
Gilgamesh menatapnya.
"Ma...masuk dulu."
"Maafkan aku."
Gilgamesh memeluknya, terasa kosong dan singkat.
"Aku mencintaimu."
Sebuah kalimat penuh makna jika diucapkan secara berulang, terus menerus dalam setiap keadaan, akan mengikis makna yang ada pada kalimat itu. Ratusan kali ia mendengar kata 'Aku mncintaimu.' yang dilontarkan oleh Gilgamesh, ia sudah menganggapnya seperti ocehan biasa, tetapi lagi-lagi kali ini berbeda.
Berbeda.
"Ada... apa?"
Suaranya seperti cicitan, Gilgamesh bisa mendengar tetapi enggan menjawabnya.
Lantas Arturia ditinggalkan.
Bersama perasaan yang susah dijabarkan.
.
.
.
.
"Aku melihat Gilgamesh!"
Rin berseru ketika ia tengah memilih sebuah baju.
Kedua alisnya terangkat, belum sempat ia berucap Sakura sudah mendahuluinya secepat kilat.
"Benarkah?"
Arturia memilih untuk bungkam, ia tetap pada kegiatannya.
"Dia melihat kita?" Gadis yang sulit dipisahkan dengan pita rambut itu bertanya.
"Tidak. Kurasa tidak."
Setelah membayar, mereka bergegas untuk pulang. Di perjalanan menuju parkiran gadis kuncir dua itu terus mengoceh tentang obral yang akan diadakan pekan depan.
Pandangannya tercuri oleh sosok berkilau berambut pirang. Angkle boot beradu dengan lantai mengilat, berbunyi tuk-tuk lebih cepat dan kasar ketika Arturia memacu langkahnya. Terburu-buru ia menghampiri kekasihnya.
"Gilgamesh!"
Yang dipanggil menoleh, senyum merekah di bibir tipis Arturia yang dipulas gincu merah.
"Kau sedang apa?"
Saat tanya itu lepas, Gilgamesh tengah membuka pintu kursi kemudi.
Sontak saja Arturia bisa melihat pada kursi penumpang di samping kiri. Seorang wanita berambut panjang berwarna hijau terang, duduk santai menatap ke arah mereka berdua heran.
"Di...dia siapa?"
Gilgamesh menatapnya datar.
Sungguh, itu lebih mirip sayatan pisau yang menggores ulu hatinya dengan kasar.
"Siapa sayang?"
Perempuan itu bertanya dengan nada lembut.
Jujur, ini lebih menyakitkan dari pada melihat seorang gadis yang membukakan pintu pada beberapa pagi di apartemen Gilgamesh.
Ia berbalik pamit. Meninggalkan Gilgamesh begitu saja tanpa ditahan. Hatinya menclos, seperti memiliki rongga dan ia tidak sadar akan sekitar.
Ia diam, berkutat dengan isi kepala yang terus melukiskan tanya. Tidak menanggapi perkataan Rin dan Sakura, ia duduk di kursi penumpang pada bagian belakang, bersama belanjaan yang cukup memakan tempat.
Ia turun dengan ucapan terimakasih yang singkat.
Sampai di rumah, ia bergumul dengan rasa sakit hati karena dicampakkan.
"Hahaha."
Ia tertawa.
Ini menjadi lebih mudah. Ia bisa terbebas dari jeratan pemuda itu. Kekangnya terlepas, tidak usah mencari gara-gara seperti sebelumnya. Tetapi kenapa, hatinya berteriak tidak rela?
Sebab tanpa ia sadari, perannya perlahan berganti. Dari seorang pendosa yang sedang memperbaiki mental korbannya, menjadi sosok yang banyak terlibat dalam setiap kehidupan pemuda itu. Gilgamesh membuatnya merasa sangat dibutuhkan, tetapi sekarang pemuda itu membuatnya merasa sangat tidak diinginkan.
Manusia itu rumit.
.
.
.
.
つづく
.
.
a/n : Nah kan, updatenya random. Reviewnya saya balas kasih untuk yang sudah membaca, memfollow, dan memasukan fict ini dalam list favorite.
.
Nunnallyy, 30 April 2018
