The Darkness In The Night
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool Dxd © Ichiei Ishibumi
Warning! :
Typo,newbie,OOC,dan Sejumlah Kesalahan Fatal Lainnya, Jurus dan Kekuatan semuanya karangan Author sendiri!,OverPower Naru! Sadist Naru! Multiple Personality Naru!
~Break~ untuk Jurus
"Break" untuk percakapan Monster
'Break' untuk percakapan batin (Monster)
"Break" untuk percakapan biasa
'Break' untuk percakapan batin (Biasa)
Rated : M untuk adegan kekerasan
Sumarry : Pernahkah kamu merasa sangat takut saat malam telah tiba? Merasa seperti ada yang mengikutimu dan bisa membunuhmu secara tiba-tiba? Maka kamu harus berpikir dua kali sebelum keluar malam. Karena kegelapan pasti selalu mendatangimu dimanapun kamu berada.
• Enjoy This •
Pagi hari yang cerah, adalah pagi yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Dimana semua orang sedang bersiap untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Mulai dari yang sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja, sekolah, melakukan pekerjaan rumah tangga, hingga kembali ke kasur tersayang untuk 'tidur'?
Namun, dari sekian banyak orang-orang dengan aktivitasnya, kita bisa melihat apa yang sedang dilakukan pemuda pirang ini dirumahnya.
Pemuda itu bernama lengkap Naruto Namikaze, atau Namikaze Naruto...? Yang saat ini sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mulai dari mengancingkan baju hingga rapi, sampai resleting celana yang terlupa? (Hihihi).
"Yoossh. Sudah cukup" ujar Naruto puas saat melihat penampilannya didepan cermin.
"Saaa..., Waktunya berangkat" Naruto lalu berjalan kearah meja belajarnya untuk mengambil tas miliknya yang terletak disana. Bagaimana dengan buku pelajarannya? Oh untuk itu dia sudah menyiapkannya lebih dulu. Lalu sarapannya? Hmmmm... Inilah salah satu kehebatan dari seorang Namikaze Naruto, atau Naruto Namikaze...? (hmmmm. Rasanya seperti dejá vú..), menyelesaikan sarapan terlebih dahulu sebelum mandi dan berpakaian. Hebat bukan? Hahaha... Jangan ditiru ya ...
"Rasanya ada yang aneh? Hmmm apa ya? Ah sudahlah" monolognya sembari berlalu kesekolah.
Skip Time
Akademi kuoh, adalah salah satu sekolah bertaraf Elite International Highschool yang berada di jepang, lebih tepatnya berada di kota kuoh. Sekolah yang tiap harinya selalu memiliki kehebohan yang bisa dibilang aneh. Karena setiap harinya pasti ada kejadian-kejadian absurd. Mulai dari adanya Klub Eksperimen yang setiap harinya selalu melakukan percobaan yang berbahaya, Klub Pecinta Alam yang terdiri dari siswa-siwi yang gemar 'Berkelana'? ( Mirip lagunya Pak Haji Rhoma ya...), Klub yang meneliti Hal-hal Ghaib?, Klub Kemesuman yang diisi para siswa-siswa yang 'sedikit' nakal dan membandel, hinggal Klub YAOI yang beranggotakan siswi-siswi pencinta 'Seme dan Uke'... ( What?)
Baiklah, selesai sudah acara bongkar-bongkar kedok dan rahasianya. Kembali ke Laptop.. Eee salah. Kembali ke cerita maksudnya.
Naruto saat ini sedang menyusuri koridor yang menjadi akses para siswa maupun siswi untuk pergi kekelas ataupun kemana saja...#plaakk.
Karena kurang fokus saat berjalan, tanpa sadar kalau ia berada dalam satu jalur yang sama dengan siswi yang ada di depannya yang juga tampak sedang melamun. Lalu terjadilah tabrakan seperti yang sering terjadi di Fict-fict punya Author lain ..
'Bruuugghh'
Siswi yang menabrak Naruto pun limbung seperti akan terjatuh karena tidak dapat mengimbangi gaya gravitasi yang menariknya. Jadi, karena malu untuk berteriak ia hanya memejamkan matanya pasrah akan keadaan.
Naruto yang untungnya segera menyadarinya langsung saja menangkap gadis itu. Karena insting sebagai seorang pria yang 'Manly' yang sudah teruji klinis, ia dengan mudah menahan gadis itu agar tidak terjatuh. Dengan gaya seperti yang biasa ada di sinetron emak-emak, Naruto segera memegang lengan kanan atas gadis itu dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya digunakan untuk menopang tubuh gadis itu, serta kaki-kakinya yang dengan refleks menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, karena akan sangat memalukan tentunya.
Gadis tersebut segera menyadari bahwa ada seseorang yang menolong dirinya pun segera membuka matanya. Di depan matanya, ia melihat seorang laki-laki yang terbilang tampan walau masih kalah tampan dari sang Cassanova alias Kiba Yuuto tengah menopang tubuhnya. Dengan wajah manis, dengan surai Pirang jabrik yang sedikit memanjang hingga menutupi dahi, serta iris biru Shappire seindah langit biru yang cerah, juga berkulit putih. Di bumbui sedikit semilir angin yang menggoyangkan rambut Naruto, Sontak membuat wajah gadis itu memerah. Memikirkan betapa malunya dia jika berteriak 'Uwaaaaahh' dan 'Kyaaaaahhh', yang bisa ia lakukan hanya mencicit kecil untuk menyadarkan Pemuda di depannya untuk segera menegakkan dirinya kembali.
Sedangkan Naruto, ia hanya menampilkan sedikit rona kemerahan diwajahnya. Karena didepannya berdiri sosok gadis dengan rambut hitam membingkai wajahnya dengan panjang hingga mencapai pinggul digerai, cantik, berkulit putih bersih, dan memiliki iris berwarna emerald yang indah sedang menampilkan ekspresi malu-malu yang menggemaskan.
Yah, walaupun kehidupannya yang penuh pertarungan melawan makhluk-makhluk aneh demi memenuhi hasrat bertarung yang berasal dari kepribadian keduanya serta kekuatannya, ia tetaplah seorang laki-laki normal. Yang tetap akan terpesona pada kaum hawa tertentu. Kecuali saat ia sedang dipengaruhi sisi 'Lain' dan 'Kekuatan'miliknya yang hanya mementingkan pertarungan serta melakukan penyiksaan terhadap lawannya.
"A-ano..., Pemuda-san?" panggil gadis itu.
Sadar karena melamun dan melupakan seseorang dihadapannya, membuat Naruto segera mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.
"A-ah..., Sumimasen. Ada yang bisa kubantu?"
"Huumm. Bisakah kamu menunjukkan ruang Kepala Sekolah padaku?" tanya gadis itu.
"Oh ruang Kepala Sekolah. Untuk Apa?" tanya balik Naruto.
"A-aku Siswi yang baru pindah kesekolah ini. J-jadi aku ingin menanyakan info lebih lanjut kepada Kocho-san tentang kelas mana yang akan kutempati." Bebernya.
"Ohh.. Baiklah. Ayo kuantarkan."
"U-umm..., Sebelumnya, perkenalkan namaku Hitsuka Aomi. Yoroshiku ne." Ujar gadis bernama Hitsuka Aomi itu memperkenalkan diri pada Naruto sambil mengangkat tangannya untuk saling berjabat dengan Naruto.
"Nama yang Indah. Perkenalkan namaku Namikaze Naruto. Yoroshiku ne Hitsuka-san." Jawab Naruto sambil tersenyum dan membalas jabatan gadis itu.
'DEG'
'I-ini? Mungkinkah?' batin Naruto sedikit tersentak saat menjabat tangan Aomi.
"A-ada apa Namikaze-kun?" Aomi segera bertanya pada Naruto. Pasalnya ia melihat ekspresi kaget Naruto saat berjabat tangan dengannya. Dan itu sedikit 'aneh' menurutnya.
"A-ah tidak ada, haha..." Naruto segera tertawa. Namun, tawanya terdengar seperti dipaksakan. "Baiklah. Ayo, aku akan mengantarkanmu sekarang Hitsuka-san."
"Ha'i, arigatou Namikaze-kun." Mereka pun segera menuju ruangan Kepala Sekolah.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sehingga mereka kini sudah sampai di depan pintu ruangan Kepala Sekolah.
"Sudah sampaaii..." ujar Naruto.
"Disinikah Namikaze-kun?"
"Tentu saja Hitsuka-san. Tak mungkin kan aku mengantarkanmu ke toilet?" Aomi yang mendengarkan jawaban Naruto hanya sweatdrop ditempat.
'TOK' 'TOK' 'TOK'
"Permisi"
'Kriieeeet'
"Hooo ...Ada keperluan apa Namikaze-kun...?" ujar Kepala Sekolah.
"Ah, saya hanya mengantarkan siswi baru ini Kocho-san." Kata Naruto menjawab pertanyaan tersebut.
"Hmmm. Terima kasih telah mengantarkannya Namikaze-kun. Kau boleh kembali ke kelasmu sekarang."
"Ha'i. Kalau begitu, saya permisi Kocho-san, Hitsuka-san." Pamit naruto.
"Ya"
"Arigatou ne Namikaze-kun atas bantuannya"
"Ya sama-sama Hitsuka-san." Jawab Naruto sambil berbalik dan melambaikan tangan pada Aomi. Aomi pun membalas lambaian tangan tersebut sambil tersenyum.
'Pemuda yang baik...'
Time Skip ok
Saat ini Naruto sudah sampai dikelasnya. Ia pun segera duduk di kursi paling belakang di dekat jendela. Karena ia juga sebenarnya merupakan murid pindahan. Jadilah ia kebagian tempat duduk yang berada di barisan paling belakang.
Tak lama kemudian Sensei yang mengajar dikelasnya pun datang. Disertai wajah datar membuat semua murid-murid yang tadinya sedang ribut-ributnya langsung sunyi seperti kuburan.
Setelah sampai di meja guru, sensei tersebut segera duduk dan meletakkan tas serta buku pelajaran bawaannya. Melihat semua muridnya tampak terdiam sejak kedatangannya kekelas ini, membuat sensei tersebut menggebrakan tangannya dimeja dengan keras untuk mendapatkan perhatian dari murid-muridnya. Bukannya memperhatikan, semua murid malah semakin diam dengan wajah pucat karena ketakutan. Tentu saja, murid mana yang tidak akan takut. Soalnya sensei yang satu ini terkenal dengan julukan sensei 'Killer' sedang menunjukkan wajah datar dan pandangan tajamnya.
"Kenapa kalian semua malah diam?" tanya sensei itu.
"A-ah, tidak ada apa-apa sensei!" jawab sang Ketua kelas.
"Baiklah kalau begitu. Siapkan sekarang Mizuchi-kun!"
"Ha'i sensei..., SEMUANYAAA BERSIAAP...!"
"UCAPKAN SALAAM...!"
"SELAMAAT PAAGIIII ROUKO-SENSEEEII...!" Seluruh murid menjawab berbarengan.
"Selamat pagi juga. Baiklah, sebelum kita memulai pelajaran, sensei ingin memberitahukan bahwa hari ini kelas kita kedatangan seorang murid baru!"
"Woooaaahhh!" seluruh murid tampak antusias saat mendengarkan kata murid baru. 'Jadi dia masuk kekelas ini ternyata' batin Naruto.
Mengabaikan tatapan berbinar dari murid-muridnya, Rouko-sensei segera memanggil murid yang tengah berdiri didepan pintu tersebut agar segera masuk.
"Baiklah Hitsuka-san. Silahkan masuk!"
Seketika kelas menjadi hening saat melihat gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang membingkai wajahnya serta ber-iris emerald itu memasuki kelas mereka. Aomi yang sudah berada di dalam kelas pun segera berdiri didepan kelas.
"Uwaaaahh..., Naruto-san, lihat itu gadis manis ada di kelas kita. Woahh inilah calon Haremku yang sebenarnya di masa depan..!" Issei berujar penuh semangat.
Naruto hanya memberikan pandangan bosan pada Issei. "Yah, tentu saja dimasa depan Issei. Karena masih seribu tahun lagi." Ujar Naruto mencandai Issei yang duduk didepannya.
Issei tentu saja langsung pundung mendengarkan jawaban itu. Karena jawaban itu pula semangat 45 miliknya pupus begitu saja.
"Silahkan perkenalkan dirimu, Hitsuka-san!" perintah Rouko-sensei.
"Ha'i sensei." Mengedarkan pandangannya keseluruh isi kelas, Aomi pun segera memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan nama saya Hitsuka Aomi. Saya berasal dari Tokyo serta pindahan dari Tokyo Highschool. Yoroshiku Onegaishimashu Minna-san." Setelah memperkenalkan diri, ia langsung membungkukan badannya.
"Woaaaahhhh..., Aomi-chan kawaaaiiiii desuuuu...!" teriak para murid laki-laki histeris. Keadaan kelas yang semula sunyi langsung berubah ricuh karena kedatangan gadis manis.
"Diaaaammm...!" hardik Rouko-sensei sambil menggebrak meja. Keadaan kembali sunyi dan hening karena hal tersebut.
Sambil memain-mainkan penghapus berwarna hitam itu, sang sensei melanjutkan ucapan pedasnya. "Jika kalian tidak bisa diam sebentar saja, aku berjanji kalian akan merasakan betapa nikmatnya saat penghapus ini menggoyang lidah kalian. Jadi, sensei mohon untuk tenang sebentar saja. Kalian bisa melanjutkan sesi perkenalannya saat istirahat nanti. Kalian mengerti?" ucap Rouko sensei sambil memberikan tatapan tajam dikalimat terakhir.
"ROGEEEEERRR SENSEEIII"
"Bagus." Mengendarkan pandangannya untuk mencari lokasi yang tepat untuk Aomi duduk, Rouko-sensei kemudian menatap ke-arah kursi disamping tempat duduk Naruto yang saat ini terlihat seperti sedang menahan kantuk. Terbukti dari gerak kepalanya yang seperi akan terjatuh keatas meja namun tidak jadi. Hal itu sudah terjadi berulang-ulang kali.
Menajamkan pandangannya bak seorang pemburu yang sedang membidik sasaran, tangan kanan Rouko-sensei yang memegang penghapus itu pun segera melontarkan pelurunya sekuat tenaga kearah mangsa.
'WUUUSSSHHH'
'PLETAAAKKK'
"Ittttaaaaaaaaiii"
Naas, bukannya mengenai si target sasaran, peluru yang sudah terlanjur terlontar itu malah mengenai kepala Issei Yang sedang asik 'rapat' bersama dua koleganya, Matsuda dan Motohama.
"Upppsss, maafkan aku Hyoudo-san."
Issei yang mendengar hal itu hanya bisa merutuk dan mengumpat dalam hati, betapa sialnya ia pagi ini.
Naruto yang sudah kehilangan kantuknya akibat kejadian tadi hanya bisa menahan tawa. Bahkan ia sampai memegangi perutnya dan sedikit membungkuk agar tak ketahuan senseinya. Kalau sampai ia ketahuan, maka habislah dia.
'WUUUUSSHHH'
'PLEETAKKK'
"Ittttaaaaiiii...,"
Lagi, bukannya puas dengan tembakan pertama, Rouko-sensei malah kembali melontarkan amunisi kedua miliknya, yaitu sebuah spidol.
Melihat peluru keduanya tepat sasaran mengenai Naruto, Rouko-sensei mendengus puas dan berkata "Jangan mengantuk saat sensei sedang ada disini Namikaze-kun!"
"Ha'i Rouko-sensei"
Melirik jam, Rouko-sensei ternyata baru menyadari bahwa sebentar lagi waktunya jam istirahat dan membuang-buang waktunya demi melakukan hal yang tidak jelas seperti ini.
"Karena sebentar lagi waktunya jam istirahat, maka pertemuan kali ini sensei akhiri. Oh, dan Hitsuka-san silahkan duduk di sebelah murid kuning yang kulempar tadi."
"Ha'i sensei."
"Baiklah minna, sensei akhiri dan sampai jumpa minggu depan." Kemudian Rouko-sensei segera keluar dari kelas itu.
Aomi segera melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia akan duduk. Setelah sampai ia langsung menaruh tasnya diatas meja dan duduk tenang disana.
"Ah, daijobu ka Namikaze-kun?"
"Ahahaha. Daijobu yo Hitsuka-san...!"
"Hmmmm...," Aomi hanya menggumam tidak jelas.
"Kenapa?" selidik Naruto. "A-ah. Tidak ada Namikaze-kun!" jawabnya cepat.
'Hmmmm, aneh'
Time Skip
"Jadi, ada kepentingan apa hingga kalian menyeretku lagi kemari?" tanya Naruto dengn pandangan malas dan bosan.
Ia saat ini sedang berada di ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib. Sebenarnya Naruto sudah akan pulang kerumah, namun tiba-tiba Issei menyeretnya kemari. Kata Issei ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Buchou no Oppai nya itu. Itu yang ia dengar. Jadi dengan sangat terpaksa ia datang kesini.
Semuanya masih menatap Naruto tanpa memberikan jawaban. Naruto yang mendapati semua tatapan terfokus kearahnya menjadi risih.
"Ooyyy, apa-apaan itu. Hentikan tatapan kalian. Dan cepat jawab pertanyaanku!" ujar Naruto.
Rias hanya menghela napas mendengar perkataan Naruto. "Sebenarnya, aku memanggilmu kemari karena ada yang ingin aku tanyakan Narutoooo. Dan hal ini cukup penting kurasa."
"Menanyakan apa memangnya?"
"Ini tentang dirimu!"
"Diriku? Apa maksudnya? Kurasa aku masih normal-normal saja. Aku tidak merasa sedang mengidap sesuatu hingga mendapat pandangan layaknya orang tak waras begitu." Coleteh Naruto panjang lebar.
Semua yang ada disana segera bersweatdrop ria mendengar jawaban ngelantur bin tak nyambung tersebut.
Rias kemudian menghela napasnya lagi.'Mattaku, beneran deh. Aku bisa cepat tua jika begini terus' batinnya.
"Bukan sesuatu yang seperti itu Narutooo...," tanggap Rias atas jawaban Naruto sambil mengeluh panjang.
"Yang kumaksudkan disini tentang apa dirimu yang sebenarnya?" tanya Rias.
"Jadi, kau masih bersikeras untuk mengetahui siapa aku sebenarnya?"
Rias segera mengangguk mendengar jawaban dari Naruto. Karena memang hal itulah yang ingin tanyakan sedari tadi.
"Haaaahh..., Jika aku mengatakan bahwa aku sendiri tidak tau mengenai makhluk apa aku ini, apa kalian percaya?"
"Apaaaa katamu?"
"Kampreet. Kau tidak tuli kan?"
Rias hanya menggeleng sambil memasang wajah polos.
"Ya ampun. Ini akan menjadi sangat panjang."
"Jadi, bisa kau ceritakan pada kami?"
"Apanya yang diceritakan?"
"Tentang kehidupanmu sebelumnya. Mungkin tentang perjalanan hidupmu, kenapa kau bisa sampai dikota ini, atau mungkin siapa yang telah merawatmu?" jelas Putri Crimson itu pada Naruto.
Naruto segera memasang wajah datar. "Semua ituu? Serius? Beneran?"
Mengerucutkan bibir dan memasang tampang kesal, Rias segera menjawab dengan nada sebal. "Tentu saja tuan Pirang. Memang apa lagi?"
"Kau ini kekanak-kanakan sekali."
"Biarin. Jadi cepat ceritakan."
Naruto segera melenguh panjang. "Apa yang kalian ketahui tentang shinigami?" tanya Naruto.
"Shinigami ya? Bukannya itu adalah julukan bagi Dewa Kematian dari mitologi Shinto?" Jawab Akeno.
"Yah menurut legenda memang seperti itu."
"Lalu apa sangkut pautnya dengan itu Naruto-san?" tanya Issei. Ia yang sedari tadi diam saja langsung saja menanyakan sesuatu yang menurutnya perlu dipertanyakan. Karena mulutnya sudah gatal untuk berbicara.
"Perlu kalian ketahui bahwa aku juga sebenarnya berasal dari dimensi para Shinigami. Bisa dibilang mirip seperti Rias-senpai yang merupakan Iblis yang berasal dari Underworld atau Mekkai." Jelas Naruto.
"Jadi, kau merupakan Shinigami, begitu?" tanya Rias.
"Entahlah. Pemimpin Shinigami mengatakan kalau aku bukan merupakan Shinigami seperti mereka."
"Tapi bagaimana mungkin? Kalau kau bukan Shinigami? Mengingat kau berasal dari dimensi itu dan dapat bertahan disana?" ujar Rias.
"Jangan pertanyakan bagaimana mungkin. Karena aku sendiri tak pernah mengetahui jawabannya. Kenyataannya, aku memang sangat berbeda dari Para Shinigami. Walaupun aku bisa hidup disana tanpa menghilang dan terhapus."
"Menghilang dan terhapus? Apa maksudmu Naruto-senpai?" tanya Koneko yang kini ikut dalam pembicaraan. Ia sanhat penasaran dengan hal yang baru saja dibicarakan oleh Naruto.
"Hmmmm..., Tentang itu, anggap saja jika kau tidak memiliki kekuatan pendukung yang sangat besar, maka kau akan segera terdistorsi oleh dimensi tersebut dan eksistensimu akan segera dihapus. Karena tidak punya cukup suplai kekuatan untuk mempertahankan tubuh dan jiwamu." Ucap Naruto.
"Mengerikan sekali." Jawab issei
"Ngomong-ngomong tentang Shinigami, apa kau juga menjalankan tugas seperti mereka juga Naruto-kun, mencabut nyawa seseorang?" tanya akeno.
"Tentu saja. Kau kira aku Hidup disana tidak diajari mencabut Nyawa seseorang. Jadi tentu saja aku pernah melakukannya!" seru Naruto.
"J-jadi..., A-apakah kau ada dikota ini untuk mencabut nyawa seseorang juga Naruto-san?" tanya Issei gelagapan. Tentu saja, jika salah satu temanmu bisa mencabut nyawa dengan mudahnya, maka kau pasti akan takut. Karena bisa saja suatu saat dia akan mendatangimu dan mencabut nyawamu tanpa kau ketahui. Miris sekali mendengarnya.
"Hmm. Sebagian iya, sebagian tidak. Karena kedatanganku ke kota untuk mencari sesuatu!"
"Sesuatu? Sesuatu seperti apa maksudmu Naruto-san?" tanya Kiba yang dari tadi hanya mendengarkan.
"Meh..., untuk hal itu kau tidak perlu tau. Dan kalian juga tak perlu mengetahuinya"
"Haaah. Baiklah untuk itu. Tampaknya sudah cukup. Jadi kau bisa pulang sekarang." Ucap Rias.
" tidak dari tadi. Baiklah aku pulang dulu. Jaa."
'Blaaam'
Naruto langsung saja pergi dan secepat kilat sudah berada dibalik pintu dan menutupnya.
Mereka yang melihat Naruto main pergi begitu saja kembali bersweatdrop ria.
"Baiklah. Walau tidak banyak, setidaknya ia sudah mau menceritakan sesuatu pada kita. Karena ini merupakan informasi penting walau hanya sedikit."
"Kalian boleh pulang. Kegiatan klub kita hari ini sudah selesai." Ucap Rias.
"Ha'i Buchou." Mereka menjawab dengan kompak. Lalu mulai pulang kerumah masing-masing. Meninggalkan Rias dan Akeno yang masih disana.
"Ada apa Akeno?"
"Ada yang harus kita bicarakan."
"Haaaah. Baiklah."
Time Skip
"Perasaan apa ini? Aneh sekali. Baru jam 20.09, tapi kenapa sudah sepi sekali?"
Naruto saat ini sedang ada ditaman. Ya, sepulang dari ruangan Klub Rias tadi, ia tidak langsung pulang. Melainkan mampir dulu kekedai untuk mengisi perut. Lalu karena hari sudah malam, ia malah mampir ditaman. Entah apa yang dipikirkannya.
"Hmmm..., itu siapa ya?" menyipitkan mata, Naruto mencoba melihat siapa gerangan seseorang yang sedang duduk di bangku taman sendirian.
Merasa penasaran, ia pun mau mendekati sosok tersebut.
Merasa ada orang yang mendekatinya, sosok bertudung itu melirikkan kepala kearah datangnya Naruto. Sosok tersebut kemudian menyeringai namun ditutupi oleh tudung kepala yang dikenakannya. Kemudian ia berdiri menghadap ke arah Naruto.
"Sebuah keberuntungan ternyata, bisa menemukanmu dengan mudah dikota seperti ini." Ujar sosok misterius itu.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto sambil memasang posisi siaga.
"Kenapa reaksimu seperti itu saat bertemu denganku? Tidak sopan sekali."
'SIIIIINNGGGH'
Seketika lokasi di sekeliling taman tersebut dilingkupi oleh Kekkai.
"Kekkai? Apa maumu?" hardik Naruto.
"Mauku? Hahaha..., Aku akan Membunuhmu disini." Seketika lokasi yang dipijakki oleh sosok tersebut meretak dan mulai menjalar hingga meluas akibat tekanan energi yang dikeluarkannya.
Naruto yang mengetahui bahwa sosok didepannya ini memiliki tujuan tidak baik padanya pun mulai ikut melepaskan tekanan energi sihir miliknya.
'KRAAAAK' 'KRAAAAKK' 'BLAAARRR'
"Hahahaha..., buat aku terhibur."
'SWUUSSSHH' 'STAAB'
Naruto segera menghindar saat melihat tombak berwarna ungu keperakan ditembakkan kearahnya. Namun, ia harus berusaha ekstra agar tidak tertusuk ratusan tombak sihir itu.
'STAAAB' 'STAAAB' STAAAB'
'Tombak sihir itu, tidak salah lagi. Pasti dia.' Batin Naruto.
"Morino Izuchi."
"HAHAHAHA..., Kau masih mengingat namaku, eh? Aku sungguh terharu kalau kau tidak lupa padaku!" ujar sosok itu. Melepaskan tudung yang menutup kepalanya, dapat dilihat seorang Pemuda remaja dengan surai perak dan mata hitam legam tengah menatapnya sambil tersenyum mengerikan.
"Apa maumu? Masih mengincar Thrafstira dan Necrolix milikku untuk membangkitkan setan itu lagi? Jangan harap. Katakan pada Tua Bangka itu untuk segera menyiapkan Pemakamannya!" ujar Naruto sarkastis.
"Hahaha..., selera humormu boleh juga. Namun, jangan harap setelah ini kau akan selamat. Karena aku akan membawa senjata itu pada Tuanku."
"Hehh. Sebelum itu sebaiknya kau ucapkan selamat tinggal pada nyawamu." Setelah itu Naruto melepaskan kekuatan gelapnya, dapat terlihat perubahan yang signifikan, ditandai dengan iris matanya yang semula biru saat ini menjadi merah menyala, ditambah senyum Psycho dan ekspresi haus darah.
"Haha.., baiklah mari kita mulai permainannya!"
Mereka lalu melesat dengan kecepatan penuh mereka masing-masing, hingga meninggalkan kilatan perak dan hitam berkilat.
'SWUUUSSSHH' 'SWUUUSSHH' ' SWUUUSSSHH'
'BUGGHH' 'BUUGGHH' 'BUUGGHH'
'SRIIINNG' 'SRIIINNG' 'SRIIINNGG,
'BUUAAGHH' 'BLAAARRR'
Adu pukulan berenergi sihir pun tidak dapat dihindarkan, membuat daerah sekitar yang menjadi mangsa serangan sihir nyasar pun luluh lantak.
"Bagaimana? Mau melanjutkan?"
"Khaaaa. ... Mari dilanjutkan!" ujar Naruto dengan seringai psikopat.
Naruto segera berlari menyongsong kearah musuh. Begitu sampai dihadapannya, ia segera melepaskan pukulan ber-aura hitam yang kental dengan energi negatif.
Pemuda yang diketahui bernama Morino Izuchi itu segera menahan pukulan penuh energi milik Naruto dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan segera menyiapkan pukulan yang berpendar energi perak gelap.
Saat pukulan itu dilancarkan, tiba-tiba dari bawah dirinya muncul lingkaran sihir hitam berlambang mata berpupil vertikal yang dikelilingi kanji-kanji rumit.
Tak mau mengambil resiko tubuhnya hancur jika tertangkap dan dihempaskan kesana-kemari, membuat ia membatalkan serangannya pada Naruto. Melompat menghindar saat tangan raksasa berwarna hitam yanng muncul dari lingkaran sihir tadi mencoba menangkapnya.
Menyadari dirinya semakin kewalahan dan terpojok karena serangan lawan, Izuchi segera mengeluarkan senjata melalui lingkaran sihir. Senjata itu berbentuk tombak panjang dengan dua mata seperti sabit yang saling berlawanan.
Menebaskan senjatanya kearah tangan sihir raksasa milik Naruto, hingga mengeluarkan energi pemotong berbentuk bulan sabit yang kemudian memotong-motong jurus lawannya.
Naruto yang melihat serangannya dapat dilumpuhkan dengan mudah hanya tersenyum Phsyco. "Kheehh..., untuk tingkat petarung amatir sepertimu, kurasa kau cukup hebat" ujar Naruto meremehkan lawannya.
Izuchi yang mendengar pernyataan meremehkan dari Naruto hanya memasang wajah datar.
"Aku tidak akan kalah lagi seperti waktu itu. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."
"Percaya diri sekali. Ku akui kau lumayan. Tapi jika hanya itu saja masih belum cukup."
Kembali melesat dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata biasa, Izuchi segera muncul dibelakang Naruto dan menebaskan Schyte miliknya untuk melukai Naruto. Namun, bahkan serangan secepat itu masih tertahan oleh energi kegelapan milik Naruto tanpa menyentuh pemiliknya.
'Sialan. Aliran energi miliknya merepotkanku' terlihat kalau Izuchi sangat jengkel dengan keadaannya sekarang. Ia lalu melompat menjauh dari Naruto, membuat jarak untuk mengobservasi lawannya.
"Ada apa denganmu? Mana kesombongan yang kau katakan tadi?" Naruto mencoba untuk memprovokasi lawannya itu.
Izuchi hanya diam. Mencoba menghiraukan apa yang dikatakan bocah didepannya sambil terus bersiaga dari segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Mengalirkan energi keperakan miliknya, membuat Schyte milik Izuchi bersinar terang. Kembali berlari dengan sangat cepat sambil menyiapkan serangan mematikan.
Melihat lawannya tak ada tanda-tanda untuk menyerah, Naruto menyiapkan energi sihirnya didepan tangan kanannya yang direntangkan kedepan hingga membentuk bola energi kelam yang siap ditembakan.
Izuchi sendiri masih berlari mendekati Naruto. Menyaksikan bahwa bocah itu menembakan serangan berbahaya kepadanya, membuat ia harus melompat keatas untuk menghindar sehingga serangan itu melewati dirinya. Berhenti sejenak melihat kebelakang, matanya dibuat melebar saat melihat bola energi yang tadi melewatinya sudah menghapus semua yang ada dibelakangnya dan menciptakan kawah yang lumayan lebar.
Menghela napas karena berhasil selamat dari serangan penghancur tadi, ia segera mengalihkan matanya pada tempat Naruto. Namun ia tak menemukan apa-apa.
"Mencariku, eh?"
Ia segera terkejut saat merasakan seluruh tubuhnya sudah tak dapat digerakkan.
"Jangan memasang ekspresi seperti itu. Kau malah terlihat semakin menyedihkan tau."
"A-apa yang sudah kau lakukan padaku?"
"Mudah saja. Aku sudah menyegel seluruh pergerakanmu. Jadi lebih baik kau diam saja disitu. Lagipula untuk apa kau repot-repot membunuhku kalau kau sendiri mengetahui kalau kau tak akan pernah bisa melakukannya."
"Sejak kapan kau melakukannya?"
"Sejak kau diam tadi melihat bola penghancurku meledak dibelakangmu." Ujar Naruto. Ia segera duduk bersila ditanah. Tak peduli pada remaja sebayanya yang masih berdiri kaku disampingnya. Naruto juga sudah menghilangkan tekanan energinya sehingga sudah tak ada lagi ekspresi psikopat dan haus darah seperti tadi.
Izuchi hanya diam, sambil memperhatikan seluruh bagian tubuh anggota geraknya yang dijalari oleh Aksara-aksara kuno berwarna hitam kemerahan. Bagian tubuh miliknya yang dapat digerakan hanya kepala. Jadi ia masih dapat berbicara.
"Lalu kenapa saat ini kau masih membiarkanku hidup? Bahkan kau bisa membunuhku dengan mudah. Bukannya malah menyegel pergerakanku seperti ini." Ucap Izuchi dengan suara pelan. Ia tak tau bagaimna cara berpikir pemuda pirang itu. Bahkan dari pertarungan mereka yang kesekian kalinya yang berakhir dengan kekalahannya, Naruto hanya mengalahkan dirinya tanpa pernah membunuhnya, yakni hanya melumpuhkannya.
"Membunuhmu juga percuma. Keuntungan apa yang kudapat jika membunuhmu?"
"Tapi kenapa? Bukannya jika membiarkanku hidup, maka aku pasti akan selalu mencoba untuk membunuhmu!"
"Haaah..., Lalu, dari semua percobaanmu itu, apa kau pernah sekali saja berhasil mengalahkanku?" ujar Naruto sambil menghela napas.
Izuchi hanya diam mendengarkan jawaban dari Naruto. "Tapi, kau pasti tau kalau aku tak berhasil untuk membunuhmu, maka Tuanku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan darimu."
"Kheehh..., Kau masih menyebut Kakek Tua Bangka seperti itu dengan sebutan 'Tuan'? Naif sekali kau. Melihatmu seperti ini malah membuatku ingin membunuhmu saat ini juga." Ujar Naruto sarkastik.
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya? Atau jangan-jangan karena pertarungan kita tadi, kau sudah kehabisan kekuatan untuk membunuhku. Maka dari itu kau hanya menyegel tubuhku!" Izuchi berkata sinis sekaligus menyindir Naruto.
"Bukan itu alasannya...,"
"Lalu...?"
Menghela napas, kemudian ia melanjutkan "Kau mengingatkanku pada sahabat terdekat ku dulu." Pandangannya kemudian berubah sendu. "Sangat mirip sekali."
Izuchi hanya diam mendengarnya, tak lama kemudian dia malah tertawa dengan keras sambil berucap tajam "HAHAHAHA... Dasar payah, jangan mencoba Melawak saat ini bodoh!"
"SIAPA YANG KAU BILANG BERCANDA HAAAAH...!" Amarah Naruto langsung lepas begitu saja mendengar seseorang menertawakannya saat ia kembali teringat masa-masa kelam dengan sahabatnya dulu yang sudah tiada. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan sudah berada didepan Izuchi dan mencekiknya dengan keras.
"Aahhkk aahhkkk" sedangkan Izuchi terlihat tak dapat bernapas karena cekikan yang dilakukan Naruto. Apalagi keadaan tubuhnya yang semuanya tersegel. Sehingga ia hanya bisa meronta kecil saat ini.
Kembali pada Naruto, keadaannya kini malah tampak mengerikan dibandingkan yang tadi sambil terus mencekik Izuchi. Karena saat ini wajahnya sedang memasang ekspresi keras dengan bola mata berwarna merah menyala di kanan dan hitam legam keseluruhan di bagian kiri. Sehingga ia malah terlihat seperti Dewa pencabut nyawa yang akan datang bagi siapapun yang menentangnya.
Kemudian kilasan-kilasan balik yang menampilkan ekspresi saat sahabatnya meregang nyawa karena serangan seseorang saat itu bermunculan dikepala Naruto, membuat ia segera melepaskan cekikannya pada Izuchi dan kemudian berlutut ditanah sambil memegangi kepala dengan mata melebar.
Izuchi yang saat ini sudah terlepas dari cekikan Naruto segera mengambil napas sebanyak-banyaknya sambil sesekali terbatuk. Jelas saja, ia bahkan sudah hampir mencapai definisi 'Mati' yang sebenarnya kalau Naruto tidak melepaskan tangannya.
Kemudian, segel pengekang yang ada ditubuhnya segera menghilang.
"Aku minta maaf!" Ucap Naruto pelan.
Izuchi hanya bisa terdiam. Tak bisa mengatakan apapun saat ini. Karena masih dilanda rasa shok saat hampir mati sekaligus bingung dengan permintaan maaf tersebut.
'Apa yang kulakukan ini benar Tou-san?' batin Izuchi miris sambil mengingat mendiang Ayahnya yang sudah mati melindungi dirinya dari serangan Iblis liar yang menyerang tempat tinggalnya dulu saat ia masih kecil.
Ia lalu melihat Naruto yang kembali berdiri tegak. Namun ia tak dapat melihat ekspresinya dikarenakan matanya ditutupi dengan poni jabrik miliknya.
"Pergilah. Jangan menampakan dirimu di depan ku lagi. Atau aku akan benar-benar membunuhmu saat ini juga." Ujar naruto dingin kemudian berjalan gontai meninggalkan Izuchi sendirian.
'Apa yang harus kulakukan Tou-san?' seketika ia menjadi lemas.
Kemudian ia kembali teringat pesan-pesan Ayahnya sebelum dia meninggal.
"Baiklah, mulai saat ini aku akan menjalani kehidupanku sendiri tanpa terbebani tanggung jawab yang tak dapat kulakukan." Ucapnya. Izuchi segera menyiapkan lingkaran sihir teleportasi berwarna perak dang segera menghilang dari sana.
'SRRIIIINNNGGG'
~TBC~
Note : Yooooo. Chapter 3 The Darkness In The Night Is Up.
Kembali lagi sama Author Newbie ini, juga sama cerita yang GaJe bin Abal-abal ini, hehehe. Ohhh, Apa kabar Reader sekalian? Semoga kabar baik aja ya, Amieeeen.
Hmm, sebelumnya maaf kalo fict ini lama update nya. Soalnya banyak kerjaan di dunia nyata yang gak bisa ditinggalin. Jadi ya gak bisa njanjiin bakal up cepet loh.
Balasan Review :
Christian : Sudah Lanjut.
3431 : Sifat sadis Naruto itu asalnya dari Sisi Lain yang ada didalam dirinya, juga kepengaruh sama kekuatan gelap miliknya yang sifatnya negatif.
Personnes.666 : Makasih banyak Pencerahannya. Siaaaap!
Kuro : Udak sob.
Yayasemael : Iya Makasih.
christian : Udah.
.980 : Hehe, Makasih. Ini udah dilanjutin.
Fahzi Luchifer : Emang sama-sama sadisnya Pak. Buat senjata Naruto itu hasil karangan dari Otak saya, heheh. Udah lanjut ini.
Nando Lucifer : Udah brooww.. Heheh
KidsNo TERROR13 : Iya ini udah Lanjut
Saya ucapkan banyak terima kasih buat para reader yang sudah berkenan untuk memberi review, favs, dan follownya. Juga ditunggu buat review, favs, and follownya yang lain biar saya makin semangat ngelanjutin. Hehehe...!
Baiklah, mungkin cukup segitu dulu curhatan saya. Saya ucapkan banyak teima kasih yang sebesar-besarnya buat para Reader sekalian.
Semoga makin semangat puasanya bagi yang menjalankan yaaa ...!
Saya pamit dulu. Sampai jumpa di chapter depan.
Daaaaahhhh!
~CIAO~
BOOOOOFFFTTTT
