Noona, I Love Him

Author : OPshippers

Cast : Jung Yunho x Kim Kaejoong (YunJae), Yoosu, Changmin, GD (bigbang), dll. yang lain nyusul.

Disclaimer : Yunho milik Jaejoong. Jaejoong milik Yunho. Mereka saling memiliki. Dan Changmin milik saya(#plak! ditabok reader). Mereka semua milik Tuhan YME, orang tua mereka dan S(om)M(plak) Ent dan C-Jes Ent dan kedua Ent milik author(#ditendang)

Genre : Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort, dll (#author_maruk). Hehe terserah yang baca deh mau genre apa.

Rate : T aja. Author masih polos (kedippolos)

Warning : Yaoi. BoysxBoys. Typo(s) bertebaran layaknya cinta Yunjae. DLDR. Budayakan Review..

Previous Story

"Jae," tubuh Jaejoong bergetar mendengar namanya disebut oleh suara Yunho yang berat, "Apa kau menyukaiku, Jae?" tanyanya yang langsung membuat mata rusa Jaejoong terbelalak.

"Ani! Kau gila, Jung! Lepaskan aku, bodoh!" Jaejoong terus meronta tetapi tenaganya tidak akan sebanding dengan Yunho.

"Kalau begitu, aku yang menyukaimu, Kim Jaejoong. Jdilah milikku!" ucap Yunho diktator. Sedangkan yang diperintah hanya diam mematung tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"MWWOOOOOO..?!"

Start Story

Author PoV

"MWWOOOOOO..?!" teriak Jaejoong shock yang membuat Jaejoong terlonjak kebelakang saking kagetnya dengan suara teriakan Jaejoong yang amat sangat memekakkan telinga.

"Apa berteriak adalah hobimu? Tidak adakah reaksi lain yang bisa kau tunjukkan?" tanya Yunho datar sambil mengusap telinganya -lagi-.

Jaejoong mengerucutkan bibirnya lucu mendengar pertanyaan yang lebih menjurus pada hinaan yang keluar dari bibir hati Yunho.

"Kalau kau ingin aku berhenti berteriak, berhenti membuat pernyataan yang mengejutkanku, pabo! Kalau kau ingin tahu, pernyataanmu itu terdengar tidak lebih seperti bualan bagiku. Kau berharap aku akan luluh seperti fans-fans gilamu ketika mendengar gombalan murahanmu itu? Kau bermimpi, Jung!" sentak Jaejoong sarkastis.

Yunho mengerucutkan bibir hatinya yang membuat Jaejoong bergidik karena ekspesinya yang seperti itu benar-benar tidak cocok dengan pembawaannya yang manly,"Apa kau sedang berusaha untuk meluluhkanku dengan aegyo gagalmu itu? Itu 100% tidak akan berhasil, Jung!"

Yunho mengembalikan eksprsinya seperti semula. Jujur dia tidak sadar ketika melakukan –yang menurut Jaejoong- aegyo –gagal-. Dia merasa harga dirinya jatuh sedikit. Yunho menyeringai aneh kearah Jaejoong. Dia melangkahkan kakinya mendekat kearah Jaejoong,"Lalu bagaimana cara untuk membuatmu luluh, Jaejongie?" bisiknya seduktif di dekat telingan Jaejoong. Yunho bahkan menjilat daun telinga Jaejoong yang membuat namja cantik itu bergidik geli. Yunho menyeringai melihat reaksi yang diberikan Jaejoong,"Ternyata kau benar-benar sensitif disini, Jongie." Bisik Yunho. Kepalanya kini sudah berada dalam ceruk leher Jaejoong.

Jaejoong hanya bisa mematung tak tahu harus melakukan apa padahal dia sadar kalau dia sedang dilecehkan oleh namja –tampan- mesum bermarga Jung yang selama ini menjadi musuhnya. Matanya membelalak saat merasakan benda lunak, basah, dan lembut menjalar di lehernya. Tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menyadari bahwa itu adalah lidah Yunho. Terima kasih untuk lidah nakal Yunho yang berhasil membuat namja cantik kita sadar akan pelecehan yang terjadi padanya. Dengan tak berperike-Yunho-an Jaejoong mendorong Yunho hingga tersungkur.

"Ya! Apa yang kau lakukan padaku, Babo! Dasar namja mesum bodoh!" teriak Jaejoong dengan wajah memerah entah karena malu atau marah.

Yunho berdiri sambil mengelus pantatnya yang baru saja mencium lantai,"Kau kuat juga, Jongie." Jawabnya seperti tidak peduli dengan kemarahan namja cantik dihadapannya. "Ah.. Kau sangat manis, Jongie.." ucap Yunho sambil tersenyum –yang menurut Jaejoong- mesum. Jawaban Yunho sukses membuat Jaejoong makin meradang walaupun dalam hatinya dia sedang menahan malu setengah mati.

Jaejoong menunjuk wajah kecil Yunho dengan telunjuknya yang mungil,"Jangan pernah mendekatiku lagi kalau kau memang sayang nyawamu, Jung!" Yunho segera berlari pergi setelah mengatakan ancaman yang tentu saja tidak akan pernah membuat seorang Jung takut dan sudah pasti tidak akan dituruti oleh Yunho.

Yunho tersenyum melihat punggung Jaejong yang mulai menghilang."Menarik sekali. Aku akan membuatmu jatuh kedalam pelukanku bahkan sebelum kau sempat mengambil nyawaku, BooJaejoongie... Kau akan menjadi milikku. Kupastikan itu." ucap si bungsu Jung itu dengan penuh percaya diri.

Author PoV End

Kim Jaejoong PoV

Aku terus berlari menjauh dari Jung mesum yang sudah melecehkanku tadi. Huwaaa.. Eomma, anakmu yang tampan dan manly ini dilecehkan, eotteohke.? Teriakku dalam hati. Aku mengusap kasar leherku beuaha menghapus jejak jilatan Jung Yunho yang tadi. Aku juga mengusap kasar telingaku yang tadi juga sempat dijilat oleh beruan mesum itu. Aku tahu sekarang leher dan telingaku sudah merah tapi aku tidak peduli.

Aku menghentikan lariku setelah merasa cukup jauh dari Yunho. Aku mulai berjalan santai sesekali menyapa siswa yang kukenal di koridor. Saat aku sampai di koridor yang lebih ramai, aku sadar jika mereka memandangiku aneh. Aku memeriksa penampilanku untuk memastikan tidak ada yang salah. Aku bahkan meraba wajahku yang mulus untuk memastikan tidak ada noda disana. Eh? Kalau dipikir lagi, aku juga melakukan ini saat Yunho menatapku intens saat diatap tadi. Jangan-jangan para siswa disini sedang berkonspirasi untuk melecehkanku? Aku harus bagaimana? Apa aku harus lari? Atau aku harus pasrah saja karena aku memang tidak mungkin melawan mereka semua? Dan aish.. sebenarnya apa yang kupikirkan? Kurasa berdekatan dengan Jung Yunho dalam waktu yang lama bisa membuat otakmu bermasalah. Aku mengeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran burukku. Alhasil tingkahku itu membuat semua siswa dikoridor makin menatapku aneh. Aku hanya terenyum kikuk dan berjalan cepat meninggalkan koridor itu menuju kantin. Entah kenapa aku merasa sangat haus.

Sambil berjalan aku kembali memikirkan kejadian pelecehan yang kualami tadi. Aku merasa bingung kenapa aku diam saja padahal aku tahu bahwa aku sedang dilecehkan. Apa Jung Yunho itu menghipnotisku? Atau dia adalah penyihir yang mempunyai mantra untuk membuat korbannya menjadi patung dan kehilangan akalnya untuk sementara? Aku kembali menggelengkan kepalaku lebih keras dari yang tadi untuk mengusir pikiran aneh yang kembali bergentayangan di kepalaku.

Aargghhh.. aku bisa gila gara-gara Jung mesum itu! Baiklah Jaejongie yang manly dan tampan (-_-), berhenti memikirkan apapun yang berhubungan dengan Jung mesum itu. Aku memasukkan koin kedalam vending machine dan mengambil kaleng jus yang jatuh dibawah,(ngerti, kan?). Aku melangkah menuju taman kecil yang ada disebelah kantin. Aku mendudukkan pantatku di atas satu-satunya kursi di tempat itu. Aku membuka tutup kaleng jus yang baru saja kubeli dan meminumnya rakus. Bukankah sudah kubilang kalau ku sangat haus?

Kim Jaejoong PoV End

Jung Yunho PoV

Aku berjalan santai di koridor universitas. Seperti biasa, fans-fansku meneriakkan namaku yang tidak akan pernah kuhiraukan. Kalau kalian ingin tahu, teriakan mereka sangat mengganggu. Aku benar-benar ingin merobek mulut mereka jika seandainya hukum itu tidak ada. Apa kalimatku terdengar sadis? Ya, aku tidak peduli. Sudah kukatakan suara mereka sangat mengganggu hariku. Kalau boleh memilih, aku lebih memiliki diteriaki oleh suara cempreng –merdu- milik Jaejoong(#itu mah emang mau lo!). Mengingat teriakan Jaejoong membuatku mau tidak mau mengingat kejadian tadi di atap gedung fakultas seni.

Kalian bertanya-tanya apa aku sungguh-sungguh dengan ucapanku padanya tadi? Maka jawabannya adalah, bisa iya dan tidak tergantung bagaimana kalian mengartikan pernyataanku tadi. Jika kailan berpikir aku menyukainya seperti seorang lelaki kepada pasangannya, maka jawabannya adalah tidak. Oh, ayolah.. aku namja normal yang tertarik dengan yeoja berdada besar dan sexy. Bukan namja dengan dada rata dan pantat yang tidak kalah rata seperti milik Jaejoong. Walaupun wajahnya memang –jauh- lebih cantik dari wanita manapun yang pernah kutemui. Aku hanya menyukainya seperti seorang namja yang menemukan sesuatu yang menantang. Ya, begitulah.

Aku melangkah dengan wajah datar menuju kantin. Aku menghentikan langkahku ketika mataku melihat sesuatu yang lebih menarik dari makanan dan minuman di kantin. Jaejoong. Aku tersenyum dan melangkahkan kakiku kearah taman tempat Jaejoong duduk dengan santai. Aku mendudukkan badanku disampingnya tepat saat dia meminum minumannya. Aku menelan ludahku melihat cara minumnya yang sexy. Dia mendongak memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Jakunnya yang kecil bergerak naik turun menambah kesan sexy. Oh, damn! Kenapa namja ini bisa terlihat sangat sexy? Batinku. Aku makin membelalakkan mataku melihat Jaejoong yang minum dengan berantakan sampai air jus yang dia minum mengalir turun sampai lehernya lalu masuk kedalam bajunya. Damn! Apa dia berniat menggodaku? Batinku lagi.

Aku merasa cukup lega ketika dia menyudahi minumnya. Kupikir mungkin dia tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menggodaku lagi tetapi semua hanya khayalanku. Lagi-lagi aku harus menahan nafas melihat lidahnya menjilat bibir merahnya dengan –yang menurutku- sensual. Damn again! Apa-apaan namja ini?! Batinku kesal. Baiklah, kau yang mulai, Jae. Aku menarik tangannya membuat jus yang tadi dipegangnya terjatuh. Matanya membelalak melihatku yang menarik tangannya. Kurasa dia tidak menyadari bahwa sejak tadi aku duduk disampingnya dan itu berarti dia tidak berniat untuk menggodaku. Tapi aku tidak peduli sengaja atau tidak sengaja dia telah membuatku tergoda (?).

Aku menariknya menuju pohon besar yang berada dibelakang gedung fakultas. Taman kantin memang berdekatan dengan taman belakang fakultas yang sangat jarang dikunjungi oleh siswa bahkan hampir tidak ada yang pernah kesana. Aku menyandarkan Jaejoong ke pohon dan mengurungnya dengan kedua tanganku.

"Mau apa lagi kau, Jung?" teriaknya kesal. Jaejoong terus mencoba mendorongku tapi tenaganya tidak berefek apapun padaku. Sebenarnya dia yeoja atau namja? Kenapa tenaganya lemah sekali? Batinku heran.

"Lepaskan aku, Jung pabo!" teriaknya makin keras membuat telingaku berdengung sakit.

"Bisakah kau diam!"sentakku dngin membuatnya langsung terdiam dan menatapku bingung. Aku menatap wajahnya intens mulai dari mata doenya yang indah, hidung mancung mungilnya -yang seharusnya menjadi milik yeoja- yang membuat yeoja iri, pipinya yang berisi dan terlihat lembut seperti marshmallow membuatku begitu ingin memakannya habis, dan terakhir yang paling menarik pada wajahnya. Bibir penuh yang merah merekah begitu menggoda, ditambah bibir itu terbuka sedikit karena pemiliknya yang tengah gugup membuatnya terlihat begitu menggoda seolah tidak sabar untuk dihisap. Aku mengelus wajah Jaejoong dengan lembut. Mengagumi kecantikan namja yang mengalahkan kecantikan Miss Korea sekalipun. Aku heran bagaimana bisa seorang namja memiliki wajah yang sangat cantik. Apa namja ini adalah Aphrodite versi namja? Tanganku mengelus bibir merahnya yang menggoda lalu mendekatkan kepalaku kearahnya. Aku bisa merasakan tubuh namja didepanku bergetar dari tangannya yang mencengkram kemejaku erat.

Cuuppp

Akhirnya bibirku berhasil menempel di bibir plumnya. Seperti yang kuduga rasanya begitu lembut, kenyal dan manis membuatku kecanduan. Tidak puas hanya dengan menempelkan bibirku, aku mulai melumat lembut bibirnya. Kurasakan tubuh Jaejoong menegang. Dari reaksinya aku dapat menyimpulkan bahwa ini adalah ciuman pertamannya. Memikirkan itu membuatku tersenyum senang dan makin bersemangat untuk 'memakan' bibir namja androgoni ini. Aku mulai menggigit kecil bibirnya. Damn! Mengapa bibir namja bisa senikmat ini? batinku. Aku mulai menggigit keras bibirnya membuat bibirnya terbuka. Tanpa membuang kesempatan aku melesakkan lidahku kedalam goanya yang hangat dan rasanya yang... tidak dapat kudefinisikan. Yang pasti rasanya begitu manis membuatku tidak ingin melepaskan bibirnya barang sedetik.

Aku terus menggerakkan bibirku didalam mulutnya. Menjilat gigi-giginya tanpa tertinggal satupun. Jaejoong melenguh saat aku meraba langit-langit mulutnya dengan lidahku. Dan lenguhan itu berhasil membuatku makin bersemangat. Aku membelit lidahnya bermaksud untuk mengajak lidahnya bertarung. Tanpa terduga ternyata Jaejoong membalas ajakan dari lidahku. Tangannya yang tadi mencengkram kemeja di bagian dadaku berpindah melingkar dileherku sambi sesekali meremas rambutku melampiaskan kenikmatannya –mungkin-. Tanganku yang tadi mengurungnya berpindah kearah tengkuknya. Menariknya untuk makin memperdalam ciuman kami. Dan tanganku yang lain memeluk pinggangnya erat membuat kami menempel tanpa celah. Aku menggerakkan kepalaku kekiri dan ke kanan untuk mencari posisi yang lebih pas untuk mengeksplore keseluruhan isi goa hangat nan manis milik Jaejoong.

Cukup lama kami berciuman sampai aku merasakan tangan Jaejoong memukul-mukul dadaku. Tidak sakit tapi cukup mengganggu. Aku menghisap bibirnya keras sebelum melepas ciumanku dan Jaejoong langsung terengah-engah meraih oksigen sebanyak yang dia bisa begitu ciumanku terlepas. Aku menatap Jaejoong yang terlihat sexy dengan bibir merah sedikit bengkak yang sedikit terbuka dan mata sayu yang menggoda. Mataku beralih pada leher jenjangnya yang terekspose karena Jaejoong yang mendongak. Aku mengingat tadi leher jenjang itu yang menggodaku. Berniat balas dendam aku menyerukkan kepalaku disana dan menjilat leher yang tadi sempat kurasakan. Rasanya tetap sama. Manis dan membuatku kecanduan.

Aku menyesap lehernya memberikan tanda merah di tempat yang cukup tersembunyi yang tidak terlalu tebal tapi cukup jelas untuk terlihat. Shit! Aaku benar-benar tidak bisa berhenti. Namja ini benar-benra menggoda. Batinku penuh nafsu.

"Aarghh..!" teriak Jaejoong saat aku menggigit perpotongan lehernya sambil mendorongku membuat cumbuank]\u terlepas. Aku bergumam kesal.

'Ah... Aku menyesal telah menggigit lehernya.' Batinku nelangsa.

Jung Yunho PoV End

Author PoV

Jaejoong menatap nyalang kearah Yunho yang menatap mesum kearahnya. Matanya berkilat-kilat emosi. Tangannya terkepal seolah ingin meremukkan tubuh Yunho saat itu juga.

"Apa yang kau lakukan padaku, Jung br*ngs*k!" bentak Jaejoong emosi."Jangan bilang kalau kau ingin mencicipiku!" potong Jaejoong ketika melihat Yunho yang seperti ingin membalas ucapannya.

Yunho memutar bola matanya mendengar perkataan Jaejoong,"Memang kenapa kalau aku masih ingin mencicipimu, eoh?" tanya Yunho santai.

Jaejoong membelalakkan matanya yang sudah besar itu saat mendengar jawaban yang keluar dengan tanpa halangan dari bibir hati Yunho."Mencicipi itu hanya sekali, Jung. Tidak berkali-kali seperti yang kau lakukan!" kesal Jaejoong sambil mengerucutkan bibirnya imut. Jaejoong tidak menyeadari bahwa tingkahnya membuat seorang namja 'normal' tergoda.

Yunho meneguk ludahnya susah payah disuguhi oleh pemandangan yang menggoda imannya –lagi-."Jae.. bisakah kau berhenti menggodaku?" tanya Yunho dengan suaranya yang berat. Yunho terkekeh melihat perubahan yang terjad pada wajah Jaejoong setelah mendengar perkataannya,"Wajahmu memerah, Jae."

Jaejoong menjadi salah tingkah mendengar ucapan Yunho,"L-lalu, kenapa jika wajahku memerah?" tanya Jaejoong berusaha terlhat angkuh didepan Yunho. Yunho tertawa geli mendengar jawaban Jaejoong.

"Apa kau malu, Jae?"

"Untuk apa aku malu?"

"Mungkin kau mengingat kejadian tadi? Benarkan, Jae?" tanya Yunho dengan senyum menggoda yang membuat wajah Jaejoong makin memerah layaknya kepiting rebus.

"NE.! Aku sedang memikirkan kejadian dimana aku dilecehkan oleh seorang namja yang amat sangat menyebalkan! Dan sekarang namja itu menjadi semakin menyebalkan karena dia tidak mencoba untuk minta maaf malah menggodaku habis-habisan!" ungkap Jaejoong emosi.

Yunho menatap Jaejoong datar,"Kenapa aku harus minta maaf?" tanya Yunho tidak tahu diri.

Twitch..!

Perempatan muncul di kening Jaejoong mendengar pertanyan yang keluar dari bibir hati Yunho,"Kau melecehkanku, Jung Yunho! Apakah kau tidak menyadarinya!?" teriak Jaejoong kalap.

Yunho –lagi-lagi- harus mengelus telinganya yang malang. "Lagi-lagi kau berteriak." Sungutnya. "Baiklah. Aku akan membela diri. Kenapa aku harus meminta maaf padamu jika kau juga menikmatinya, Jongie?"

"Aku tidak menikmatinya!" sangkal Jaejoong.

"Benarkah?" goda Yunho yang sukses membuat wajah Jaejoong kembali memerah.

"N-ne. Aku tidak pernah menikmatinya, Jung Yunho babo!" teriak Jaejoong sebelum berlari meninggalkan Yunho.

"Hei, Jongie! Kau mau kemana? Tunggu aku!" teriak Yunho sambil berlari mengerjar Jaejoong. Alhasil dua namja dengan kepribadian berbeda itu berkejar-kejaran di koridor kampus tanpa mempedulikan pandangan aneh yang diberikan teman-teman mereka.

"Jangan kejar aku, bodoh!" teriak Jaejoong.

"Berhenti berlari kalau kau tidak ingin kukejar, Jongie!" teriak balik Yunho.

"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Jung bodoh! Dan berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu!"

"Jae! Awas!" teriak Yunho tidak nyambung dengan teriakan Jaejoong.

Brugh..

Yunho berlari menghampiri Jaejoong yang jatuh tersungkur setelah menabrak Junsu yang lewat didepannya dan membantunya berdiri. Junsu sendiri juga tersungkur dan saat ini sedang dibantu Yoochun untuk berdiri.

"Ya! Hyung! Bisakah kau melihat kedepan ketika kau berja-berlari, eoh?!" teriak nyaring Junsu membuat semua manusia yang ada di koridor mengelus telinga malang mereka.

"Mian, Junsu ah. Aku sedang terburu-buru menghindari kejaran beruang." Jawab Jaejoong dengan puppy eyesnya berharap Junsu memaafkannya. Jaejoong tidak menyadari para seme menatap lapar kearahnya termasuk namja yang saat ini memapahnya. Dia harus mati-matian menahan keinginannya untuk 'memakan' namja cantik itu bulat-bulat.

"Omoo! Hyung dikejar beruang? Sekarang dimana beruang itu, hyung? Bagaimana bisa beruang itu masuk ke universitas kita? Apa beruang itu lepas dari kebun binatang? Dan apa beruang itu lucu?" tanya Junsu kelewat polos meskipun terdengar nada khawatir pada pertanyaannya.

Jaejoong memutar bola matanya mendengar pertanyaan kelewat polos yang keluar dari bibir adiknya."Ne, hyung dikejar beruang. Beruang itu sekarang ada disampingku. Aku tidak tahu bagaimana beruang itu masuk ke universitas kita. Dia tidak kabur dari manapun bahkan kebun binatang tidak ada yang mau menerimanya. Dan lagi dia amat sangat tidak lucu." Jawab Jaejoong penuh dengan penekanan di bagian akhir sambil sesekali melirik kearah Yunho yang dibalas pelototan dari Yunho.

Junsu menatap bingung kearah samping Jaejoong. Makin bingung saat yang ditemukan disana adalah Yunho bukan beruang seperti yang Jaejoong katakan."Disamping hyung hanya ada Yunho hyung. Tidak ada beruang dimanapun." Ujar Junsu polos.

"Ne. Dia adalah beruang itu Junsu ya. Beruang yang amat sangat mesum!" sinis Jaejoong.

Junsu makin menatap bingung kearah Jaejoong,"Mengapa hyung mengatai Yunho hyung mesum? Darimana hyung tahu?"

Junsu kelabakan memdengar pertanyaan polos Junsu sedangkan Yunho hanya menahan tawanya melihat reaksi yang diberikan oleh Jaejoong.

'Aigoo.. aku kelepasan.' Batin Jaejoong. Pertanyaaan Junsu juga membuatnya mengingat peristiwa dimana dia dilecehkan oleh namja disampingnya itu. Wajahnya memerah dengan sendirinya membuat Yunho terkekeh kecil.

"Wajahmu memerah, Jae. Apa kau sedang membayangkan kejadian tadi?" bisik Yunho pelan tapi cukup keras untuk didengarr oleh Yoosu yang berada dekat dengan mereka berdua. Mendengar ucapan Yunho membuat Yoosu berpikir kejadian apa yang dimaksud oleh Yunho hingga membuat pipi seorang Kim Jaejoong memerah.

"Ani!" teriak Jaejoong yang membuat semua manusia disana terlonjak kaget bahkan nyamuk yang lewat pun tiba-tiba terkena serangan jantung akibat teriakan Jaejoong (?). Teriakan Jaejoong juga berhasil membuat Yoosu berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang kejadian yang Yunjae alami.

"Wae? Bukankah kau juga menikmatinya? Aku tidak terima dikatai mesum sendirian olehmu, Jongie. Kau juga mesum." Bisik Yunho lagi yang membuat wajah Jaejoong makin merah. Perkataan Yunho juga membuat Yoosu sedikit mengerti mengenai apa yang terjadi meskipun mereka mengartikannya berbeda dari yang Yunho maksud.

"K-kalian berdua m-melakukan i-i-itu?" tanya Yoochun yang sejak tadi terdiam.

Jaejoong membelalakkan matanya mendengar penafsiran Yoochun yang sangat jauh dari kenyataan. Jaejoong bersiap menyangkal tetapi terlambat karena mulut kurang ajar Yunho sudh menjawab pertanyaan Yoochun dengan jawaban yang benar-benar membuat Jaejoong ingin bunuh diri.

"Ne."

"MWOOoo..!" teriak Yoosu kompak yang membuat koridor itu lagi-lagi dihiasi dengan teriakan.

"Ani. Kalian salah paham. Aku tidak melakukan 'itu' seperti yang kalian maksudkan dengan Yunho. Aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Sungguh!" sangkal Jaejoong berusaha meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.

'Aigoo.. aku pasti akan dibunuh fans Yunho kalau dua anak manusia ini menyebarkannya keseluruh mahasiswa disini.' Batin Jaejoong nelangsa.

"Apa maksudmu dengan 'tidak melakukan apa-apa', Jaejoongie? Kau lupa apa yang kita lakukan tadi saat di atap dan di taman belakang? Apa aku harus melakukannya disini agar kau mengingatnya lagi?" tanya Yunho dengan penekannan pada kata disini membuat Jaejoong membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka karena kaget.

"K-kalian melakukannya dua kali? Seharian ini? Omoo!" heboh Yoochun. Sedangkan Junsu hanya menatap tidak percaya kearah hyungnya.

"Aku tidak percaya kalau Jae Hyung semesum itu." ucap Junsu.

"Ani, su-ie. Hyung benar-benar tidak melakukan apa-apa. Kau jangan percaya pada beruang mesum ini."Jaejoong berbalik kearah Yunho setelah melepaskan rangkulan Yunho dipinggangnya. Yunho merengut tidak suka karena kehilangan kesempatan untuk memeluk pinggang rampin Jaejoong (modus lu,bang!). Jaejoong menuding wajah kecil Yunho dengan jari telunjuknya dan matanya berkilat-kilat emosi menatap Yunho, "Kau membuatku dalam masalah, Jung. Kau membuat mereka salah paham. Kau harus bertanggung ja..." Jaejoong belum sempat melanjutkan kalimatnya saat mendengar teriakan Junsu.

"MWOOOO..?"

"Waeyo, Junsu ya? Kau membuat hyung harus menunda untuk memberi pelajaran pada namja ini." Jaejoong menatap sebal kearah Junsu sebelum kembali menatap Yunho dengan emosi yang menurut Yunho dan para seme yang ada disana malah terlihat imut.

"H-hyung, di-di lehermu.." ucap Junsu gugup.

"Ada apa degan leherku, Su-ie? Bicaralah yang jelas. Tidak usah gugup seperti itu."

"Lehermu kenapa merah, hyung?"

Jaejoong mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Junsu yang menurutnya tidak bermutu,"Kau membuang waktuku, Su. Leher hyung mungkin digigit nyamuk tadi."

"Ani, hyung. Itu bukan digigit nyamuk. Merah di lehermu ini seperti dibuat oleh seseorang. Kau mengerti, kan, Hyung?" bisik Junsu pelan berharap Jaejoong tidak melampiaskan emosinya kepadanya.

Jaejoong terbelalak mendengar kalimat yang keluar dari bibir namdongsaengnya. Apalagi mengingat bagian yang disentuh Junsu dilehernya tadi adalah bagian yang dijilat Yunho saat diatap. Ternyata Yunho meninggalkan jejaknya tanpa diketahui oleh namja cantik itu.

'Jadi alasan anak-anak melihatku sat di koridor tadi adalah...tanda ini?' batin Jaejoong masih memproses semua data yang masuk kedalam otaknya. Setelah semuanya terproses dengan sempurna, Jaejoong mengepalkan tangannya erat menahan emosi dan dengan nafas yang memburu. Jaejoong terlihat seperti gunung berapi yang sia meledak sekarang.

"JUNG YUNHOOOO..! KUBUNUH KAU...!" teriak Jaejoong kalap menandakan bahwa dia sudah meledak.

Sedangkan orang yang menjadi penyebab emosi seorang Kim Jaejoong sudah berlari sambil tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Jaejoong yang ditujukan padanya."Kau memang menarik, Jaejoongie.." ucapnya lirih diiringi dengan senyumannya yang mematikan.

TBC

Annyeongg...

Mungkin ada yang udah pernah baca FF ini tapi di akun author lain. Nah itu juga akun author ko. Sengaja author pindah ke akun yang ini soalnya ribet kalo akunnya ada 2. So, author bukan plagiat ya..

Mian lama update. Nae lagi sibuk. Biasa udah kuliah sih. Sebenernya sedikit kecewa sama fanfics ini, soalnya yang review dikit banget. Apa emang ceritanya ngga bagus? Atau jangan-jangan Yunjae shipper udah ngga ada?

Please RnR dong.. buktiin kalo Yunjae shipper itu masih ada. Meskipun mereka udah ngga bareng, author yakin mereka masih saling mencintai. KEEP THE FAITH..!

Yesungdahlah, author ngga mau banyak bacot. See you in next chap.

Bye.. bye... #bawakaburchangmin