REALIZE
NARUHINA'S FANFICTION
DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO
STORY : ShokunDAYO
RATED : T semi M
WARNING: OOC, AU, TYPO, ABAL-DESU, PLOT PASARAN, DLL
DON'T LIKE DON'T READ DON'T BASH
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Canggung.
Itulah keadaan yang sedang kualami sekarang. Bertahun-tahun tak bersua, tiba-tiba mendapati dirinya telah melangkah jauh meninggalkanku. Menggendong dua malaikat kecil titipan Tuhan dikedua lengannya erat mendengarkan celoteh sang malaikat perempuan yang menjabarkan kronologi pertemuanku dengan mereka.
Aku termangu, bagai orang bodoh yang hanya bisa membuka mulutku takjub akan nasib yang sedang kujalani. Menatapnya dengan tak berkedip, akhirnya kedua iris ungunya menyadari kondisi diriku yang diam tak bergeming dan masih mengaduk kopi keduaku dengan asal-asalan.
"Na-Naruto-kun?" Panggilnya melambaikan tangan tepat didepanku mencoba mengusir tampang bloon yang menghias wajahku. Berkedip sejenak, akhirnya pikiran yang melalang buana jauh meninggalkanku kembali bersatu dengan ragaku.
"Hahaha, maaf. Aku hanya terkejut." Sambarku kikuk. Sungguh, aku tak tahu kalau pertemuanku dengannya akan secepat ini. Karin memang memberitahuku keberadaannya disini, tapi dia tidak memberitahuku kalau-
"Maafkan aku, anakku pasti merepotkanmu." Balasnya tidak nyambung sembari membungkukan badannya lagi.
Aku menggeleng cepat-cepat. Tidak, bukan begitu! Mereka tidak mengangguku, tetapi melihatmu sedang menggendong kedua anak kecil yang memanggilmu mama, aku merasa-
Iri.
Aku iri denganmu. Melihatmu berhasil membangun keluarga yang terlihat bahagia seperti ini membuatku merasa ingin menyelinap membagi perasaan mempunyai keluarga sendiri bersamamu dan tentu saja bersama malaikat-malaikat kecil 'kita', Yukka dan Yukki. Eh? Apa? Apa yang tadi kupikirkan? Kenapa khayalanku mendadak menjadi liar begini?
"Pamaan~" Yukka merengek, kembali memanjat kakiku sebelum akhirnya aku mengangkatnya dan mendudukannya kembali dipangkuanku. Menyambar gelas lemonade yang baru saja dipesan oleh mamanya, gadis cilik berkuncir dua ini kembali menyamankan dirinya didekatku seolah tak mau berpisah denganku.
"Yukka, jangan manja." Hinata menegurnya, hendak berdiri tetapi berhenti saat gerutuan kecil keluar dari bibir Yukki yang terlihat mengantuk menggelung tubuhnya dalam gendongan Hinata.
Akhirnya wanita cantik itu kembali pada posisi awalnya. Duduk dihadapanku sembari menepuk-nepuk punggung sang bocah lelaki yang sudah mulai menutup mata menuju alam mimpinya. Memang, setelah pertemuan yang terjadi karena ketidaksengajaan itu, aku memaksanya untuk menghabiskan waktu lebih lama bersamaku. Awalnya dia memang menolak, tetapi setelah tangisan Yukka yang tidak mau berpisah denganku, Hinata mengalah dan mengambil bagian duduk bersamaku.
"Aku masih belum percaya kalau kau sudah punya anak." Ucapku membuka topik setelah sebelumnya penuh dengan rentetan permohonan maaf darinya karena kedua anaknya yang dianggap merepotkanku. "Dan kembar." Lanjutku menatap bergantian si kembar yang duduk saling bersebrangan. Lagi-lagi rasa rindu menggelitik dadaku, memandang kedua makhluk mungil ciptaan Tuhan dengan penuh sayang. Aku sama sekali tak memperhatikan perubahan wajah Hinata yang signifikan sebelum akhirnya kembali memasang topeng seakan tak terjadi apa-apa walau rasa gugup masih merajai dirinya.
"Ba-banyak hal yang terjadi, Naruto-kun." Jabarnya mengelus rambut anaknya yang sudah tertidur digendongannya. Suaranya yang lembut dan terbata-bata membuatku teringat masa lalu, tak terasa sudut-sudut bibirku tertarik keatas mengingat nostalgia yang tiba-tiba kulakukan.
"Haah- Aku iri dengan suamimu. Bisa memilikimu dan anak-anak yang hebat ini. Yukka, paman ingin jadi papamu~" Candaku mencubit pipi gembil sang makhluk imut yang asyik memainkan sendok minuman ditangannya.
"Boleh saja, akukan nggak punya papa." Jawabnya cepat membuatku tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutanku karena bahasa frontal yang dipakainya.
"YUKKA!" Hinata meninggikan vokalnya. Membuat Yukki tersentak pelan sebelum akhirnya mengerjapkan matanya lucu dan kembali masuk kedalam dunia mimpinya.
Suasana hening, hanya ada dentingan kecil sendok yang Yukka mainkan dengan mengetuk-ngetukannya pada meja kaca. Beberapa kali aku memergoki Hinata yang melirik takut-takut padaku. Merasa tak enak, akhirnya aku kembali membuka mulutku untuk meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam.
"Ma-maaf aku tak bermaksud-" Duh, kenapa jadi aku yang tergagap begini. "Hinata aku-"
"Tidak apa-apa Naruto-kun." Dia memotong perkataanku kemudian mengulas senyum yang terkesan dipaksakan. "Anak-anak masih belum terbiasa dengan keadaan ini." Jelasnya singkat seolah hal tersebut tabu untuk dibicarakan.
Aku mengangguk seolah mengerti apa yang sang wanita bersurai indigo itu maksud-padahal nyatanya tidak-. Rasanya ingin mengutuk diriku sendiri karena mengeluarkan guyonan garing yang malah membuat aura disekitar kami menjadi semakin aneh. Meneguk ludah sendiri karena tenggorokanku yang tiba-tiba terasa kering, sekali lagi aku mencoba mencairkan suasana dengan membuat sebuah topik perbincangan baru.
"Kenapa waktu itu kau tiba-tiba menghilang?" Dan bodohnya, pertanyaan itu meluncur begitu saja setelah kebelet keluar dari ujung lidahku karena penyakit ingin tahu tingkat akut yang sedang aku idap. "Ah-a-aku tak bermaksud-" gelagapan, diriku mencoba mencari kata agar tak terlihat mencurigakan didepannya. Walau akhirnya berhenti ditengah jalan karena tak berhasil menemukan sambungan kata yang pas.
"Ma-maafkan aku." Jawabnya mencicit menahan getaran suaranya yang seolah hendak menangis. "A-aku tak bermaksud menghilang ta-tapi kau-" Tiba-tiba dirinya mematung, mengatupkan salah satu tangannya kedepan bibirnya. Memasang gelagat seperti hampir keceplosan mengatakan sesuatu.
Aku mengaruk kepalaku kikuk. Alisku bertaut dengan rona merah diwajahku mengingat kebodohanku dimasa lalu yang selalu menomorsatukan Sakura dalam keadaan apapun. Perubahan rona wajah yang tak kuketahui telah diartikan lain oleh wanita didepanku.
"Aku memang bodoh." Aku berkelakar, dirinya sendiri dengan sabar menunggu kelanjutan perkataanku yang dengan sengaja kuberi jeda lama karena sibuk berpikir mencari kata-kata yang pas untuk merangkainya. "Harusnya aku yang minta maaf." Sambungku singkat karena tak sanggup mencari pembendarahaan yang cocok selain kata maaf.
Dia menggelengkan kepala pelan, membuat surai panjangnya bergerak sesuai irama gerakan kepalanya. Menarik gelas hampir kosong yang Yukka minum sebelum sedikit menceramahinya karena terlalu banyak minum es walau sesekali diselingi gerutuan kecil dari bibir mungil sang anak.
"Bukan salah Naruto-kun, ne?" Tangannya menggapai seberang meja, mengangkat Yukka yang gantian mulai terkantuk-kantuk untuk diletakan dipangkuannya bersebelahan dengan Yukki yang sudah tidur pulas memeluk lehernya. "Ngomong-ngomong bagaimana kabar Sakura?" Hinata hanya berusaha mengalihkan topik, itulah yang kutangkap dari nada bicaranya yang terburu-buru bertanya tentang kabar Sakura yang bahkan sudah tidak kuketahui semenjak lima tahun belakangan.
Menghela nafas sejenak, aku kembali mengingat insiden haru-biru drama sinetron yang aku mainkan disalah satu restoran mewah saat diriku masih menjalin hubungan dengan rambut sewarna bunga namanya itu. Memijat sejenak batang hidung yang mulai berkedut gila. Aku menceritakan kronologi perpisahanku pada Hinata dari A sampai Z.
"Naruto-kun serius? Putus? Ti-tidak mungkin ah." Tersirat nada ketidakpercayaan darinya. Yah, hal itu wajar karena Hinatalah saksi hidup kegetolanku dalam mencoba menaklukan Sakura yang selalu menolakku tanpa ampun.
"Serius!" Aku mencoba memasang tampang aku-tidak-sedang-bercanda diwajahku yang ternyata tidak bisa meyakinkan dirinya sedikit pun.
"Tapi Naruto-kun kan-"
"Itu sudah tidak penting. Hinata, apa yang ingin kau katakan padaku saat itu?" Selaku frustasi karena tidak mau kabar tentang Sakura diungkit-ungkit.
Kedua alisnya berkerut, menandakan bahwa dirinya berpikir keras mencoba mengingat topik apa yang sedang kuusahakan untuk terangkat. Mendesah pelan, wanita itu sepertinya tidak mengerti apa yang kumaksud. Jadi, apa selama ini cuma aku yang mengingatnya?
"Waktu dicafe lima tahun lalu, kau ingin memberitahuku sesuatukan?" Aku memaksa, mencoba mengerahkan segala tekananku padanya untuk mengingat kejadian tempo dulu.
Matanya melebar, dengan mulut ternganga seolah berhasil menggali ingatannya akan peristiwa terakhir bersamaku lima tahun yang lalu. Awalnya sudut bibirku terangkat keatas menyadari bahwa dia tidak melupakan hal yang harusnya aku ketahui daridulu dan tidak membuatku penasaran setengah mati hingga sengaja menyewa banyak detektif untuk mencarinya. Sebelum akhirnya aku memucat saat melihat ekspresi wajahnya yang berubah dingin dan garang.
"Oh, jadi kalau sekarang aku bicara kau akan memberiku kesempatan untuk menyelesaikannya? Tidak, tidak, lebih baik kita tidak membahasnya." Aku tak tahu harus berbuat apa. Nadanya dingin, penuh dengan kesinisan. Sepertinya aku telah menanyakan sesuatu yang menyulut amarahnya. Bergidik ngeri dengan tetesan keringat dingin sebesar butir janggung yang mulai turun dari pelipisku, aku mengangguk kaku mengiyakan pertanyaannya.
"Jujur saja Naruto-kun, kalau bisa aku tidak ingin bertemu denganmu." Membisikan perkataannya karena tidak mau menganggu kedua anaknya yang tertidur menempel seperti koala didadanya. Hinata menghadiahkanku tatapan mata kesal, seolah akulah orang paling terakhir yang ingin dilihatnya dimuka bumi ini. Hilang sudah semua ramah-tamah yang nyatanya hanya sebuah formalitas tata-krama didepan anak-anaknya. Kenapa Hinata berubah sedrastis ini?
"Ke-kenapa?" Kembali aku tergagu menanyakan semua yang berkecamuk dalam hatiku. Rasa takut menyelinap memenuhi dadaku memandang wajahnya yang terlukis kesal penuh dengan kerutan keras saat memandangku.
"Baiklah jika kau memaksa-" Dia menegakan punggungnya walau harus sedikit susah payah karena dua anaknya yang menggantung tidur dipelukannya. "Mungkin ini kesempatanku untuk memberitahukannya padamu. Yang TERAKHIR." Tekannya halus pada kata-kata diujung kalimatnya. "Oh, dan kau tidak berhak menuntut dan ikut campur setelah mendengar ini karena kau duluan yang salah." Tambahnya buru-buru.
"Tapi kau bilang aku tidak salah? Setidaknya jika memang aku mempunyai salah, izinkan aku memperbaikinya." Aku membela diri, mengingat tingkat keseriusan yang tergambar apik diwajahnya membuatku yakin bahwa berita yang dibawanya akan berdampak besar bagi hidup kami. Tentunya apabila aku tak bisa ikut campur didalamnya bagaimana bisa aku memperbaiki kebodohanku itu.
"TIDAK! Tadi aku hanya bersikap manis didepan anak-anak. Tapi kau salah! Dan tidak ada yang bisa kau perbuat untuk memperbaikinya." Hinata bersikeras menolak tawaranku. Dengan vokal tinggi dirinya sekali lagi mengancamku dibawah tatapan mata penuh intimidasinya. "Kau. Cukup. Mendengarkan." Ucapnya lamat-lamat memberi jeda setiap katanya.
Pada akhirnya, aku hanya bisa mengalah. Mendesah kecewa karena tak berhasil mempertahankan argumenku. Aku terduduk lemas dikursiku setelah mendapati perubahan drastis pada sahabatku setelah menghilang selama lima tahun yang kemudian muncul dihadapanku secara kebetulan-lupakan fakta bahwa aku buru-buru pulang ke Jepang dari Los Angeles setelah mendengar kabar tentangnya dan pencarian dengan banyak detektif yang pernah kulakoni-.
"Dengar Naruto-kun, alasan Yukka dan Yukki tidak memiliki papa karena papanya-" Hening sejenak, ternyata topik yang diangkatnya seputar dua anak kembar yang semenjak pertama kali bertemu berhasil mencuri semua perhatianku. "Adalah K-A-M-U." Jelasnya lengkap masih dengan tampang pokerface yang tidak kuketahui ada banyak makna dibaliknya.
Berita yang sukses membuatku merasakan bagaimana rasanya tersambar petir disiang bolong yang direspon dengan saphireku yang membulat lebar-lebar hingga hampir meloncat dari kedua tempatnya. Perasaan bahagia, takut, sedih, menyesal, semua bercampur aduk memberikan sensasi sesak didada yang membuatku kesusahan untuk mengambil nafas.
"Ba-bagaimana-"
"Bagaimana bisa?" Dia kembali memotong pertanyaanku, seakan mengetahui pertanyaan apa yang ingin aku lontarkan. "Lima tahun lalu, dipemandian air panas. Oh aku lupa, kau cukup acuh setelah insiden malam itu sehingga tak pernah mau menemuiku." Dan faktanya yang dia katakan itu memang benar.
Lima tahun lalu, dibawah pemandian air panas kota Kyoto saat aku frustasi karena Sakura tak kunjung memberikanku jawaban atas pernyataan cintaku. Aku mabuk, dan memaksanya untuk tidur bersamaku. Jujur, dalam keadaan mabuk aku masih mengingat jelas bagaimana lekuk tubuhnya yang meringkuk direngkuhanku, titik-titik sensitifnya yang tak pernah alpa kugoda serta desahannya yang menggoda ditelingaku yang diselingi dengan panggilan namaku untuk segera menghentikan perbuatan laknat yang aku lakoni dan parahnya hal tersebut membuatku tak bisa lupa hingga hanya wajah sewarna tomat kesukaan Sasuke-sahabat pria serta rekan bisnisku sampai sekarang- yang memenuhi pikiranku setelah malam itu berakhir, membuatku terus-menerus menghindarinya karena tak kuasa menahan debaran jantung yang jauh melebihi normal yang tiba-tiba kurasakan bila memandang langsung ke iris violetnya.
"Hi-Hina-" Keadaan berbalik, kini aku yang selalu tergagap saat berbicara dengannya. Mendorong kursi yang diduduki hingga menjauh kebelakang, Hinata segera berdiri, membenahi sejenak posisi anaknya-atau bisa kusebut anak kami- yang menggantung dikedua tangannya.
Sekonyong-konyong aku berusaha menapak dengan tumpuan kedua kakiku untuk mengejarnya. Walau berakhir dengan naas karena keduanya yang berubah bagai daging tak bertulang mendengar berita bahwa semenjak empat tahun yang lalu diriku telah resmi menjadi ayah bagi bocah kembar yang sempat bercanda-ria bermain bersamaku.
Brengsek! Tak terasa air mataku jatuh saat memandang sosoknya yang menjauh tanpa menoleh kebelakang sedikit pun. Karmakah? Seolah Tuhan kembali mengulang adegan tempo dulu dengan peran yang dibalik antara aku dengannya. Seperti inikah rasanya sakit akibat diacuhkan? Seperti inikah rasanya perih saat satu katapun yang ingin kau ucapkan tidak pernah tersampaikan? Oh-oh, aku mendengar suara guntur dan hujan bersahut-sahutan diluar sebagai backsound adegan ini. Ternyata jalan cerita milikku lebih dramatis darinya.
Tapi, bila saat itu dia memberitahuku pun apakah aku akan bertanggung jawab atas kandungannya? Ataukah malah berbalik membencinya karena obsesi akan Sakura yang masih menjadi tujuan utamaku dan hal tersebut malah menjadi momok penghalang bagiku? Kami-sama, apa yang selama ini kulakukan? Kenapa aku melakoni tokoh jahat seperti ini? Apa ini skenario hidup yang kau goreskan untukku? Benarkah tak ada celah bagiku untuk memperbaikinya?
Mengusap air mata yang membuat jejak dipipiku dengan lengan jas yang kugunakan. Aku membulatkan tekad dalam hati untuk mengubah segalanya. Mengubah peranku, mengubah takdirku, mengubah jalan hidupku, agar bersinggungan dengan jalan yang ditempuhnya sehingga kami dapat kembali bersama lagi. Bukan hanya aku dan dia sebagai sepasang sahabat, melainkan aku, Hinata dan anak-anak kami sebagai sebuah keluarga.
.
.
.
Saat pepatah mengatakan bahwa setiap dari diri manusia yang berusaha untuk berubah maka Tuhan juga akan merubah nasibnya menjadi lebih baik ternyata bukan isapan jempol belaka. Itulah yang Naruto alami sekarang, menegok kebelakang menyunggingkan senyum samar mendapati Hinata yang mengikutinya memasuki apartemen mewah sewaan atas nama Namikaze secara temporer untuk ditinggalinya saat bercokol di Jepang, disusul langkah-langkah lincah Yukka yang sudah terbangun dan kelihatan bersemangat diikuti Yukki yang masih sibuk menguap, mengenggam erat rok panjang yang Hinata kenakan sesekali mengucek mata sipitnya yang masih belum terbuka sepenuhnya.
Naruto lagi-lagi hanya bisa menahan senyuman lebarnya agar tak kepergok oleh Hinata yang masih bersunggut-sunggut tak percaya bahwa harus berurusan lagi dengan si pria berambut blonde setelah terang-terangan mengusirnya agar tak menganggu dirinya setelah berita besar-besaran di restoran tersebut. Mendengar suaranya yang lembut sedikit berteriak memperingatan buah hatinya-Naruto mulai membenci kata kepemilikan sepihak-atau diralat menjadi mereka yang antusias mendapati ruang apartemen yang berukuran luas ditambah pernak-pernik furniture unik yang baru pertama kali mereka lihat secara langsung membuat Naruto beranggapan bahwa mereka keluarga kecil yang harmonis. Walau kenyataan tak seindah harapannya.
"Maaf merepotkanmu." Hinata mengucapkannya dengan terpaksa. Melipat mantel-mantel kecil yang dibuang secara sembarang oleh Yukka dan Yukki kemudian meletakannya di atas meja terdekat.
"Tidak apa, aku tak merasa terganggu. Isssh- Kenapa ini susah sekali!" Gerutu Naruto saat tali simpul pengikat mantelnya tak kunjung lepas ketika dia mencoba menariknya.
Hinata menghampiri Naruto yang sedang berkutat kesulitan membuka mantelnya. Tiba-tiba mengulurkan tangannya sembari berbisik 'biar kubantu'. Bantuan spontan yang dilontarkannya membuat Naruto menyerahkan segalanya untuk Hinata urus. Dan sensasi menggelitik itu lagi-lagi menyerang Naruto. Kenapa baru sekarang dia sadar akan perasaannya pada Hinata? Naruto yakin seandainya dia sadar sejak dahulu bahwa bukan Sakuralah yang dia butuhkan melainkan Hinata yang selalu ada disisinya pasti masalahnya tak akan serumit ini.
Ah, kenapa bisa sampai lupa? Kalau kalian bertanya kenapa Hinata bisa sampai terdampar mengikuti ajakan yang Naruto buat. Maka salahkan cuaca badai topan yang tiba-tiba menerpa kota Tokyo setelah diprediksi sejak beberapa hari lalu akan mengguyur kota dengan intensitas hujan yang tak tanggung-tanggung. Hal itu membuat Hinata tak bisa kembali kerumahnya karena secara darurat lalu lintas ditutup dan kereta bawah tanah tidak bisa beroperasi sedangkan rumahnya berjarak dua stasiun dari tempatnya sekarang. Terjebak dihalte bus dengan keadaan menyedihkan, mau tak mau Hinata menerima tawaran Naruto yang kebetulan-atau memang sengaja mengikuti- lewat untuk bermalam ditempatnya. Jangan lupakan Hinata yang berkali-kali meyakinkan diri bahwa itu dia menyetujui ide gila tersebut karena putra-putrinya bukan karena masih mengharap perhatian sang pria yang sudah lebih dewasa dan maskulin itu.
"Sebaiknya kalian berendam air panas dulu. Aku tidak mau kalian masuk angin. Kamar mandinya ada disebelah sana." Tunjuk Naruto memberikan masing-masing handuk baru pada mereka setelah tergesa-gesa mengambilnya dari lemari dikamarnya.
Hinata mengangguk paham, berusaha meminimalkan interaksi mereka tanpa menggunakan kata-kata. Hinata segera menggiring Yukka dan Yukki menuju kamar mandi yang sudah Naruto tunjukan arahnya. Sebelum akhirnya sadar bahwa ada satu masalah yang belum terselesaikan.
"Ba-bajunya?" Hinata mencicit, mengigit bibirnya yang mulai biru karena kedinginan akibat tak memakai mantel saat berteduh dihalte karena digunakannya sebagai pengganti selimut kedua anaknya yang sempat mengigil kedinginan.
Naruto menepuk dahinya, berlari-lari kecil kekamarnya untuk mengambil beberapa baju yang mungkin bisa mereka kenakan. Naruto kembali dengan sebuah piyama berwarna biru muda dan dua baju rajut hangat berwarna cream.
"Kau tak apa memakai piyama? Ini piyamaku yang paling kecil." Jelasnya menyerahkan piyama yang masih terlipat rapi kepada Hinata. Hinata menggeleng, menerima baju yang dia pilihkan sembari bergumam terima kasih.
"Dan ini baju untuk Yukka dan Yukki." Naruto berjongkok, mensejajarkan diri pada kedua bocah yang menerima baju mereka dengan bersemangat-entah darimana semangat itu mengingat Yukki baru saja terangguk-angguk mengantuk-. Mengelus puncak kepala mereka, Naruto kembali berdiri mengeringkan rambut kuningnya yang dengan handuk kecil yang menggantung dibahunya mengamati pergerakan mereka yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Mendesah lega, Naruto berjalan menuju sofa diruang tamu. Mendudukan pantatnya diatas sofa berwarna merah mentereng yang dibelikan oleh salah satu kerabatnya saat pindah kemari. Naruto memejamkan matanya, menikmati samar-samar suara canda-tawa dari dalam kamar mandi yang sedang digunakan oleh malaikat-malaikat hatinya. Untuk kesekian kalinya bibirnya mengulas senyuman tipis dengan banyak arti didalamnya hingga tak sadar saat dunia mimpi mengambil alih kesadarannya untuk sesaat.
.
.
.
"Pamaaan Narutooo~ Banggguuunn~"
Kelip-kelip. Kelip-kelip.
Mengerjapkan matanya yang berat efek bangun tidur ayamnya. Naruto mendapati Yukka yang terduduk didadanya berusaha menepuk-nepuk pipinya untuk membangunkannya. Memegangi Yukka agar tak jatuh saat dirinya beranjak bangun, Naruto dengan setengah kesadaran yang berhasil dikumpulkan akhirnya menanyakan hal penting yang mengganjal pikirannya.
"Hinata dan Yukki?" Dengan mengucapkan nama menggunakan aksen tanda tanya, Naruto membuat Yukka sadar bahwa sang paman menanyakan keberadaan mama dan adik laki-lakinya yang memang tidak terlihat sama sekali dalam pandangannya.
"Mereka didapur untuk menyiapkan makan malam. Mama bilang aku harus mengundang paman Naruto karena makanan sudah siap dan mengucapkan permintaan maaf karena telah memakai bahan makanan di kulkas tanpa izin." Jelasnya panjang dalam satu tarikan nafas.
Naruto tersenyum lembut, mengelus rambut si bocah yang masih tergerai dan sedikit lembab sehabis mandi. Naruto mengangkatnya dan mengendongnya seolah hal itu sudah menjadi sesuatu yang wajar sekarang untuk sesegera mungkin berjalan menuju dapur yang terletak lebih masuk didalam apartemennya.
"Mama! Kami datang!" Yukka berteriak memanggil Hinata yang terlihat sibuk mengaduk makanan didalam panci sedangkan Yukki menyiapkan peralatan makan diatas meja setelah naik berdiri diatas kursi karena tak mampu menjangkau tinggi mejanya.
Naruto terpaku akan pemandangan didepannya, sekali lagi mengingatkannya pada berbagai macam kemungkinan, seandainya waktu itu dia melakukan hal yang berbeda. Lebih tercengang lagi saat menyadari bahwa Hinata hanya memakai kemeja atas piyama miliknya tanpa memakai celana panjang yang sudah disediakan. Yah, mau bagaimana lagi, rasanya percuma juga Hinata memakainya kalau hanya akan melorot sepanjang waktu akibat perbedaan besar lingkar pinggang keduanya.
Setelah tersadar dari keterpakuannya. Secara spontan, Naruto berjalan mendekati Yukki, mengambilnya pelan sebelum menasihatinya untuk tidak melakukan hal yang berbahaya menaiki kursi tanpa ada yang memeganginya. Menurunkan keduanya dari gendongannya. Naruto menyuruh mereka agar bermain diruang tengah sementara dirinya membantu Hinata menyiapkan peralatan makannya.
Ternyata Yukka dan Yukki tak serta merta meluncur ketempat tujuan. Bersembunyi dibalik pintu, Hinata yang melihat bayangan anak-anaknya yang memanjang mengawasi keberadaannya yang hanya sendirian bersama Naruto. Dan sepertinya pria pemilik kulit tan tidak menyadari bahwa ada mata-mata yang mengawasi pergerakan mereka karena sibuk melanjutkan pekerjaan Yukki yang ditinggalkannya.
"Yukka, Yukki, apa yang kalian lakukan?" Terlonjak kaget karena panggilan mamanya yang mengetahui acara petak umpet yang sedang dijalankannya. Yukka muncul dengan cengiran mirip Naruto dan Yukki yang mendengus kesal karena telah berkali-kali menasihati kakaknya yang lancang memata-matai mamanya dan paman Naruto.
"Mama dan Paman cocok sekali." Jelas Yukka polos disambut sedikit anggukan tanda setuju dari sang adik. "Kami seperti punya mama dan papa." Sambungnya dengan wajah berbinar berharap bahwa yang dikatakannya akan menjadi kenyataan.
Hinata mematung karena shock sedangkan Naruto meringgis kesakitan mendengar penuturan anak perempuannya tersebut. Bukan, bukan sakit pada jasmani, melainkan hati nuraninya serasa diiris rapi. Dari sekian banyak kebodohan yang pernah dilakukannya, kenapa kelalaiannya untuk tak mendengarkan penjelasan singkat Hinata menghantarkannya pada kepahitan seperti ini. Sekarang Naruto merasa bagai hidup seperti api dalam sekam, kalau seandainya Hinata mengizinkan Naruto ingin memulai semuanya dari awal. Mungkinkah ada celah? Atau memang benar-benar sudah terlambat?
"Yukka, minta maaf pada paman Naruto! Kenapa kau terus memanggilnya seperti itu!" Hinata menegurnya-lagi- akibat tindakannya yang kembali menyamapadankan figur ayah yang tak pernah dilihatnya dengan Naruto. Meninggikan sedikit vokal suaranya, Hinata meminta sang bocah perempuan untuk meminta maaf atas kelancangannya dalam berkhayal bahwa dirinya akan mempunyai papa seperti Naruto. Padahal dalam hati Naruto sendiri meraung tak terima melihat tabiat Hinata yang semakin memojokkannya pada kenyataan bahwa sang ibu tak mau buah hatinya mengenal lebih-lebih mengakui ayah mereka yang sebenarnya.
"Oh-oh paman Naruto tidak senang ya kupanggil begitu? Maaf!" Yukka berujar kikuk sebelum menarik lengan adiknya agar segera mengikuti dirinya keluar dari ruangan yang tiba-tiba menguarkan aura mencekam.
Keduanya menghilang dibalik tembok yang memisahkan dapur dengan ruang keluarga yang ada. Menyisakan keheningan mencekam antara Hinata dan Naruto. Sebelum akhirnya Hinata membuang nafas dan menoleh pada sang pria yang masih larut akan pikirannya sendiri.
"Sekali lagi aku minta maaf atas kelakuan anak-anakku." Ujar Hinata kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda, membenahi lauk-pauk diatas meja makan yang sudah hampir selesai dilakukannya.
"Anakku juga." Gumam Naruto yang sepertinya didengar baik oleh Hinata.
"Kalau kau dulu mengakuinya." Respon Hinata sinis. Mengelap tangannya dengan apron sebelum melepas apron putih sederhana yang dipakainya. Hinata berjalan menuju ruang keluarga walau akhirnya tertahan karena Naruto yang mencekal tangannya.
"Tidak bisakah kita mulai dari awal? Aku benar-benar menyesal dan minta maaf." Pria berambut pirang itu meminta, merengkuh Hinata kedalam pelukannya. Naruto memohon membisikan 1001 janji manis apabila wanitanya bersedia membangun sebuah awal yang baru dengan dirinya.
Hinata melirik dari ekor matanya. Mengusap punggung tangan Naruto yang melingkar erat di bahunya. Hinata pelan-pelan melepaskan jari-jarinya yang saling mengunci satu sama lain. Membalikkan badan hanya untuk mengirimkan tatapan penuh tanda tanya pada Naruto seakan tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
"Memulai dari awal? Maksudmu? Sudah kubilang kau tidak perlu memperbaiki keadaan ini!" Hinata meraung histeris karena lagi-lagi tetapi cukup pelan agar tak didengar oleh anak-anaknya yang sedang bermain diruang sebelah. Apa ini? Kenapa sang pria idamannya terus menunjukkan perhatiannya setelah bertahun-tahun tak bertemu. Hell, tolonglah! Jangan biarkan kuncup cintanya berkembang untuk kembali diinjak hingga hancur kedepannya.
"Atau kau hanya mengasihaniku?" Hanya itu yang menghantui pikiran Hinata saat dia memulai menghujani dirinya dengan permintaan maaf dan penyesalan. "Sekali-kali tidak, Naruto! Kalau kau cuma merasa ingin bertanggungjawab atas Yukka dan Yukki kau bisa memulainya dengan enyah dari hadapan mereka. Kau lihat tadi? Gara-gara kedatanganmu mereka jadi mengharapkan kehadiran seorang ayah. Kau-sssh-" Hinata diam, sebelum menghentak-hentakan kakinya kesal menimbulkan bunyi berisik membuat sang kembar menjulurkan lehernya karena penasaran.
"Kenapa kau kembali?" Hinata kembali mencercanya. Dengan nada yang tidak bersahabat, sang wanita menanyakan perihal kedatangan Naruto yang mendadak setelah sebelumnya bersorak-sorai gembira mendengar deportasinya keluar negeri beberapa tahun yang lalu.
"Karena aku mencarimu." Jawabnya gamblang. Lagi-lagi Hinata dibuat bingung atas kelakuannya. Bukannya dulu dia yang meninggalkannya? Kenapa sekarang dia juga yang mencarinya.
"Untuk apa? Kurasa aku tak punya hutang padamu. Aku malah berharap kau terus saja tinggal disana dan tidak kembali lagi!" Hinata meracau, mengeluarkan semua uneg-uneg ketidaksukaannya atas kembalinya Naruto ketanah kelahirannya.
Pernyataan yang Hinata lontarkan membuat Naruto bungkam karena tak bisa membalas dengan alasan yang meyakinkan. Memang, dulu disaat Hinata yang selalu ada disisinya memang dia duluan yang mengacuhkan. Sekarang saat Hinata sudah bisa hidup mandiri tanpa tegantung tanpa keberadaan. Kenapa dia yang memaksa untuk memasuki dunia Hinata lagi?
"Aku ingin mengetahui kebenaran." Cicitnya pelan sebelum menegakan kepalanya yang tertunduk menatang iris amnesthy yang memandang murka kearahnya. "Aku ingin tahu. Bagaimana kabarmu? Dimana kau tinggal selama ini? Apakah ada yang mengingatmu makan mengingat penyakit maagmu yang sering kambuh kalau kau telat makan? Apa kau bahagia?" Naruto berhenti, sepertinya pertanyaan terakhir adalah satu yang membutuhkan jawaban diantara semuanya.
"Ya, aku bahagi-"
"Tapi aku tidak!" Naruto memotongnya. Bahkan ketika hanya satu huruf vokal lagi yang Hinata butuhkan untuk menyempurnakan kalimatnya. "Dan kau harus tahu bagaimana selama ini aku mencarimu. Dimana kau bersembunyi? Kau tidak tahu betapa frustasinya aku karena tak pernah menemukan titik terang keberadaanmu! Aku-" Amarahnya meledak. Tetapi saat mendengarkan langkah-langkah kecil yang berderap semakin dekat. Naruto segera menghentikan racauan panjangnya, apalagi ketika sosok-sosok mungil berlari menghampirinya.
"Kenapa berteriak-teriak?" Yukki yang ingin tahu segera bertanya begitu sampai pada tujuannya.
"Mama dan paman bertengkar?" Yukka menimpali, dijawab dengan sebuah gelengan baik dari Naruto maupun Hinata.
"Kami hanya-uhhmm-tidak apa-apa." Kalimat sang pria terasa mengantung, makin menambah rasa penasaran akan apa yang telah terjadi diantara keduanya.
"Paman hanya memuji makanan yang mama buat. Sampai tak sadar kalau berteriak girang." Hinata menutupinya dengan baik membuat Naruto semakin melayangkan tatapan permohonan maaf. Sang kembar sendiri hanya bisa saling berpandangan sebelum mengendikan bahu mereka berupaya seolah tak peduli akan perdebatan keduanya.
.
.
.
Yukka berkali-kali menutup kuap yang ditimbulkan oleh mulutnya. Sedangkan Yukki sudah semakin sering mengucek mata beratnya yang hanya akan bertahan beberapa saat lagi walau televisi didepan mereka baru menampilakan setengah isi dvd yang mereka putar seusai makan malam yang panjang.
Bagaimana tak panjang dan mencekam kalau kau terjebak dimeja makan berhawa kelam dan tidak ada sedikitpun suara selain dentingan peralatan makan yang kau gunakan. Dan kedua bocah cilik itu merasakannya! Makan dalam diam merupakan siksaan bagi mereka yang terbiasa untuk memakan makannya sesekali berceloteh riang menceritakan bagaimana mereka menjalani hari itu. Apalagi kali ini Hinata yang biasanya aktif menanyakan perihal itu semua mendadak pasif. Jadi jangan salahkan mereka kalau mereka makan dengan cepat dan langsung kabur menyelamatkan diri keruang keluarga.
"Yukka, Yukki, sebaiknya kalian tidur." Hinata memperingatkan. Berkali-kali melihat bergantian kearah si kembar yang kondisinya semakin memprihatinkan.
"Tapi ma-" Sang bocah perempuan mencoba melawan. Besok tidak akan ada sekolah! Selain karena hari kalender yang menunjukkan hari Minggu dan tanggal merah, hujan badai yang sedang menerpa malam ini pasti akan menimbulkan kerusakan disana-sini hingga sekolahnya diliburkan. Jadi tak ada salahnyakan untuk tidur larut malam dan begadang menonton film.
Hinata tidak menerima penolakan, karena dalam sekejap Yukka dan Yukki yang sudah lelah dan mengantuk sudah berada dalam gendongannya. Melirik Naruto yang tanggap akan situasi yang sedang berlangsung, dia menurut saja saat sang pria menghantarkannya menuju satu dari dua kamar yang tersedia dan diperuntukan untuk tamu yang ingin bermalam.
"Kalian bisa tidur disini." Hinata mengangguk, mengucapkan terima kasih atas kebaikan Naruto yang bersedia untuk menampungnya untuk beristirahat. "Selamat ti-Yukka?" Naruto terkejut mendapati sang bocah perempuan yang memeganggi ujung bajunya rapat-rapat segera setelah mamanya menurunkannya untuk memerintahnya agar segera naik ke atas ranjang.
"Paman tidur dimana?" Mengangkat alis yang terlukis sensual diatas mata biru saphirenya. Naruto menjongkokan diri untuk menyamakan tingginya pada Yukka yang sudah memandangnya dengan tatapan sayu khas orang mengantuk.
"Apa yang kau tanyakan Yukka, paman Naruto tentu akan tidur dikamarnya. Cepat kemarilah, kasihan adikmu menunggu." Merapikan selimut yang dipakaikan pada Yukki yang sudah menganyam helai mimpi menuju lalaland. Hinata mencoba membujuk sang kakak agar segera menyusul mereka keatas ranjang.
"Tapi aku ingin tidur bersama paman Naruto! Aku takut petir! Mama juga takutkan?" Yukka mempoutkan bibirnya seraya mengeluarkan ide brilliant yang ada didalam otaknya.
"Mana a-"
Psssst. CTAAAAR!
"Kyaaa!" Hinata segera menutup kedua telinganya secepat yang dia bisa. Kakinya pun refleks berjongkok mencari perlindungan diri. Yukki yang awalnya sudah hampir mengapai mimpinya terbangun karena kaget hingga akhirnya menangis tersedu-sedu karena keterkejutannya saat petir tiba-tiba menyambar diikuti dengan suara guntur yang memekakan telinga.
Yukka sendiri sudah memeluk erat-erat Naruto yang ada didepannya. Melingkarkan keduanya tangannya pada leher Naruto hingga sang pria megap-megap kehabisan nafas. Naruto mengusap punggung Yukka lembut untuk meredakan tubuh si mungil yang gemetaran karena takut.
Setelah semuanya berakhir, Hinata segera melompat menenangkan Yukki yang menangis. Melihat tidak ada pilihan lain, Naruto diharuskan untuk membuka mulutnya bernegosiasi tentang jadwal tidur malam ini. Naruto tahu ini sama saja seperti mencari kesempatan dalam kesempitan. Tetapi bagaimana lagi? Bukannya reda, badai yang mengamuk malam ini malah semakin menjadi. Dan permintaan Yukka juga membuatnya ingat bahwa Hinata tak pernah dapat bertahan didalam cuaca seperti ini. Berkali-kali mendapati Hinata ketakutan saat petir menyambar, bukannya kasihan Naruto malah tersenyum. Ternyata Hinata yang sekarang masih seperti Hinata yang dulu. Dia kira, dirinya sudah kehilangan Hinata yang selama ini dia kenal.
"Hinata-chan, kalau kau tak keberatan. Bolehkan aku tidur disini malam ini? Be-bersamamu dan anak-anak?" Mencoba menawar, Naruto mencoba sebisa mungkin agar apa yang dikatakannya bernada setulus mungkin walau tak dipungkiri ada beberapa motif tersembunyi yang ada dibalik maknanya.
"Pa-paman disini saja!" Walau masih menangis, Yukki mendukung yang Naruto katakan. Menjulurkan tangan berusaha meraih Naruto yang masih berjongkok menepuk-nepuk punggung kakaknya.
Tanpa menunggu persetujuan Hinata secara verbal, Naruto mengangkat Yukka untuk menidurkannya pada sisi ranjang yang kosong dan ikut merebahkan badan disampingnya.
"Ya, paman akan menemani kalian." Naruto tersenyum miris kala Hinata masih menampakan punggungnya tak mau berbalik menghadapnya. Yukki sendiri sudah mengendap menghampirinya memposisikan diri disebelah kakaknya dan langsung terbuai mimpi begitu menerima tepukan pelan dipantatnya disaat Yukka sendiri meringkuk memeluk dada bidang berbalut kaos berlengan panjangnya.
Awalnya Hinata ragu untuk tidur bersama dengan Naruto. Tetapi setelah pria itu mendesaknya, Hinata pun akhirnya mengambil bagian untuk tidur bersama mereka walau memilih untuk memunggungi Naruto dan anak-anaknya.
Mendengar dengkur halus dari ketiga orang yang berbagi ranjang dengannya. Naruto yakin bahwa Hinata, Yukka dan Yukki sudah memasuki alam tidur mereka masing-masing. Memainkan rambut panjang Hinata yang menjuntai diatas bantal menggunakan jari-jemari panjangnya. Naruto mulai bergumam sendiri. Bertanya-jawab sendiri akan kebodohan-kebodohan ynag selalu dibuatnya.
"Kenapa harus mereka yang menanggung semua ini, hm?" Naruto bertanya, walau tak ada jawaban yang membalasnya. Jujur saja, Naruto pun sudah maklum. Bahkan sebenarnya Naruto tak memerlukan jawaban, karena dia tak yakin diwaktu Hinata mampu menjawabnya masih bisakah dirinya bertahan saat kebenaran yang sebenar-benarnya dilantunkan oleh sang korban.
"Apa kau tidak ingin mereka mengetahui kebenaran siapa ayah mereka. Bahkan kalau kau-"
"Paman mengenal papa kami?" Suara kecil itu menginterupsinya. Membuat Naruto membulatkan matanya horror karena ada seseorang yang mencuri dengar monolog tengah malamnya.
Dipelukannya, bocah perempuan yang masih setengah mengantuk tiba-tiba menanggapi perkataanya. Mengerjapkan matanya yang masih berat karena terbangun secara tiba-tiba dari mimpi indahnya. Manik serupa miliknya bersirobok mencoba menggali kebenaran pada sosok lelaki dewasa didepannya.
"Y-ya." Nafasnya tercekat. Spontan memberi jawaban, Naruto merasa bahwa tindakannya sangat lancang sekali. Berdo'a dalam hati agar esok terbebas dari angkara murka yang bisa saja Hinata alamatkan padanya. "Pa-paman temannya." Mencoba mencari kalimat yang lebih baik. Naruto menutup kelopak matanya tak mau kebohongannya dibongkar pemilik iris yang sama-sama berwarna biru saphire.
"Apakah paman tahu dimana papa sekarang?" Bernada menuntut, Yukka mencoba mencari tahu keberadaan ayahnya. Sedikit berbisik menyadari Hinata yang pasti akan kecewa terhadapnya karena mengungkit-ungkit masalah tabu yang tak sepatutnya diangkat.
Tiba-tiba Naruto membisu. Seakan semua suaranya tercuri oleh pertanyaan yang Yukka inginkan jawabannya. Melihat tak ada tanggapan atas apa yang ingin diketahuinya. Yukka mendesah kecewa sebelum akhirnya mengganti pertanyaannya kembali. Siapa tahu Naruto akan membantu menyampaikannya.
"Seandainya paman tidak mau memberitahu pun. Bisakah paman sampaikan pertanyaanku padanya?" Yukka memohon, Naruto mengangguk. Masih belum menemukan suaranya yang tertahan diujung lidahnya. Dia hanya bisa merespon pertanyaan Yukka dari gerakan anggota badannya.
"Kenapa papa meninggalkan kami? Apakah papa membenci kami?" Air mata mulai menggenang dipelupuk matanya. Yukka sudah mati-matian menahannya walau akhirnya terisak menyembunyikannya dibalik dada sang pria. Merendam suaranya agar tak sampai menganggu tidur nyenyak saudara lelaki dan ibunya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Ditulis dan diedit melalui hp.
Dipublish pun juga lewat hp.
Copas doc, jadi nggak ada bold, italic, dll.
Tapi semoga suka ya.
Kripik dan singkong permisa? Prewwtty pwease?
With Love, ShokunDayo
EDITED: 5 JANUARI 2015
