Chapter ke 3 dataaang.. hehehe
Maaf ya kalo ceritanya membosankan..
Maklum belum begitu bisa memainkan kata-kata
Okelah gak mau banyak bicara lagiii..
Desclaimer : Masashi Kishimoto.
Garis Takdir : Dyaatina.
Warning masih sama dengan chapter chapter yang sebelumnya,
Tapi mungkin lebih hancur.
Selamat membacaaa..
.
.
.
"Garis Takdir"
.
Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, kini naruto benar-benar frustasi dan putus asa, ia merasa hampa dan tak berguna di dunia ini tanpa hinata, gadis yang ia puja dan sayang melebihi dirinya sendiri, tak terhitung hari ia membuang waktu mengurung dirinya di kamar seorang diri, tak ada yang bisa membuatnya bangun dari lelapnya keterpurukan.
Ia benar-benar menyesali apa yang telah terjadi, apa lagi ingatan tentang Hinata yang membuatnya semakin menyesali tindakan -yang bisa dibilang- kecerobohannya.
.
Sore hari.
Naruto duduk di lantai bersandarkan pinggir ranjang king sizenya, ia selalu termenung dengan mata sembab, wajah muram dan tampak menyedihkan.
"Hinata, mengapa kau tak mengajakku saja? mengapa tak kau berikan kesempatan untuk selalu bisa bersamamu?" lirih Naruto sambil memeluk kedua lutut yang terlekuk dan menenggelamkan wajah diantara kedua lututnya, menangis, itu yang ia lakukan sekarang di dalam kamarnya yang -sengaja ia buat- sedikit gelap, tak ada lampu yang menyala, hanya cahaya matahari yang bersinggungan dengan jendela yang sedikit terbuka.
Sejenak ia mengangkat kepalanya kearah jendela, ia sedikit mengernyitkan dahinya menahan pancaran cahaya matahari sore yang menerpa di kedua bola mata safirnya.
Sedikit demi sedikit kerutan di dahinya berkurang, menandakan bahwa matanya sudah mulai bisa beradaptasi dengan cahaya matahari sore tersebut.
Pandangan matanya membeku ke arah jendela, bayangan Hinata terpampang jelas disana.
Seketika ia berdiri, mengambil secarik kertas kosong dan bolpoint didalam meja laci yang berada tepat samping ranjangnya, ia pun kembali duduk di tempat semula tapi kini tak lagi memeluk kedua lututnya, secarik kertas ia sandarkan pada paha sebelah kanannya yang terlekuk keatas, ia menuliskan sesuatu kata dari lubuk hatinya..
Cinta,. mengapa kau biarkan aku sendiri disini tanpamu
Disaat aku terbiasa menatap tapakmu yang selalu hadir disetiap langkah kaki ku
Menemani setiap malamku yang sunyi
Menyejukkan dikala panasnya hati
Memayungi dikala rintik hujan turun.
Sekarang..
Mengapa kau biarkan aku bernafas tanpa dirimu..
Mengapa kini kau tak pernah ada disaat aku membutuhkanmu
Kini hanya ada bayangmu
Walau sesungguhnya ku ingin kau disini dengan nyatamu..
"tapi aku sadar, kau telah tiada, dan AKU HARUS BAGAIMANA HINATA?" teriak naruto sembari melempar bolpoint kesal.
Terdengar lantunan lagu dari kerispatih (darimana ya asalnya hehehe Author juga bingung)
"Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi…"
"aku harus pergi dari sini." Batin Naruto yang memang sudah sangat penat dengan keberadaan yang kini ia rasakan.
Malam ini Naruto memutuskan untuk pergi dari rumah, ia segera memasukkan beberapa pakaian kedalam tas ransel yang tak begitu besar yang baru saja di ambil dari lemarinya, ya hanya pakaian dan sebuah gitar hadiah dari hinatalah yang ingin ia bawa, Naruto memutuskan untuk belajar hidup mandiri tidak membawa uang sepeserpun didompet maupun disaku-saku celananya, setelah merapihkan pakaiannya ia terdiam sejenak memikirkan kemana ia akan pergi.
"Ah.. kemana sajalah yang penting jauh dari tempat ini." Ucapnya sembari mengangkat ransel dan menaruh dipundaknya disebelah kiri sambil memegang gitar dan mengambil botol air mineral yang berada dimeja laci yang selalu disediakan oleh ibunya setiap hari . Ia pergi tanpa meninggalkan sesuatu apapun untuk ibunya.
Kini hatinya sudah mantap untuk pergi keluar hanya dengan beberapa pakaian, gitar dan sebotol air minum, Naruto pergi keluar lewat jendela kamarnya pada tengah malam ini, karena kalau lewat pintu depan ia khawatir akan ada orang rumah yang melihatnya terutama sang ibu yang pasti akan sangat melarangnya.
Ia pun menuju halaman depan rumah, kali ini sedikit sulit karna pasti ada satpam yang sedang menjaga.
Namun Naruto berhasil keluar dari pintu gerbang yang besar itu tanpa ada yang tahu, karena satpam yang berjaga sedang tertidur pulas dipos dekat gerbang. Ia terus berjalan menjauh dari rumah mewah keluarganya itu, Naruto terus melangkahkan kakinya sampai pagi hampir tiba, namun kini ia mulai merasa lelah berjalan hanya kehausan yang dapat terbaca dari raut wajahnya, ia pun menghentikan langkahnya yang memang sudah tak kuat lagi, ia beristirahat dan duduk dengan kaki berselonjor dan kedua tangannya memijat mijatkan kakinya, tepat didepan emperan toko ruko yang berjejer panjang tentunya masih tutup karna mataharipun belum datang menjemput hari ini.
"ya Tuhan aku haus sekali." gumamnya kecil sambil mengambil botol air minumnya yang ia masukkan kedalam tas tadi.
"berisik sekali.. ". Ucap Naruto sambil membuka kedua matanya dan mengernyitkan dahinya karena cahaya matahari kini telah datang dan sudah banyak orang yang berlalu lalang dihadapannya, rupanya ia tertidur..
"eemhh.. ya Tuhan aku tertidur disini." Ucapnya sambil melihat jarum jam yang ada ditangan kanannya,
hari sudah mulai beranjak siang, ia pun segera bangkit dari tempatnya mengambil gitar yang berada disampingnya dan kembali menyusuri jalan yang ia belum pernah lalui sekalipun.
Kali ini ia merasa sangat lapar sekali, karena dari kemarin siang ia memang tak ada makanan yang masuk kedalam perutnya.
Ia pun menghentikan langkahnya tepat di depan rumah makan yang ramai oleh pengunjung. Naruto berfikir sejenak sambil mengangkat gitar yang dipegangnya dan dipandangilah gitar itu.
"Terima kasih Hinata, kau kan selalu ada bersamaku, apapun yang telah kau berikan padaku selalu bermanfaat untukku, aku mencintaimu..hmm tidak tidak ..aku sangat sangat sangat mencintaimu." Batin Naruto dan iapun tersenyum sambil melanjutkan langkah kakinya menuju rumah makan itu, dan meminta ijin pada sang pemilik rumah makan tersebut untuk menghibur para pengunjung, ia beruntung karna ia diijinkan.
"Selamat siang tuan-tuan dan nyonya-nyonya..bolehkah saya menghibur kalian semua dengan suara saya yang mungkin pas-pasan.. hehhehe". Sapa Naruto pada semua pengunjung.
"Iya silahkan..". ucap beberapa pengunjung yang menyambut dengan bahagia.
"Terimakasih.." jawab Naruto yang segera mulai memainkan gitar dengan wajah yang akan mendalami sebuah lagu yang akan ia nyanyikan.,
"jreng.. jreng..
Aku berjalan.. didalam kesendirian
Aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu..
Aku telah hancur
Lebih dari berkeping-keping
Karena cintaku.. karna rasaku yang tulus padamu
Begitu dalamnya aku terjatuh dalam kesalahan rasa ini..
Jujur aku tak sanggup
Aku tak bisa..
Aku tak mampu dan aku tertatih..
Semua yang pernah kita lewati..
Tak mungkin dapat ku dustai meskipun harus tertatih.."
(kerispatih-Tertatih)
Tak terasa air mata mengalir dari pipi Naruto yang sejak tadi asyik dan merasakan lagu buatannya yang ia lantunkan keluar begitu saja dari bibirnya.
Suara tepuk tangan pun banyak dilontarkan oleh pengunjung. Naruto bahagia dan segera mengusap air matanya.
Ada beberapa pengunjung yang berbaik hati mengeluarkan sedikit uang untuknya dan ia terima dengan sangat senang hati.
Kali pertama ia mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.
.
.
.
T.B.C
Segini dulu ya minna..
Akhirnya bisa juga nulis sendiri tanpa bantuan.
Maaf kalau mengecewakan ya, maklum saja ya..
RnR
Review..
Review..
Flame juga gak apa2.. hehehe
