Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Shouldn't Have
Cast: Boo Seungkwan, Hansol Vernon Chwe,Seventeen
Other Cast:
YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, School-life, fluff, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 3671
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

"Hei anak nakal, kau membuat kami semua khawatir tahu!"

Suara Seokmin menggema seperti megaphone, Hansol tersenyum malu, ia tahu teman-temannya tidak membencinya. Mingyu menggeplak kepala Seokmin dengan gulungan bukunya, "Hei kau ini!" marahnya. Seungkwan menoleh menatap Hansol yang duduk tepat di belakangnya, "Bagaimana? Apa orangtuamu marah?"

Hansol menatap manik Seungkwan lembut, ia merasa bersalah karena tidak sempat mengucapkan terima kasih hari itu. "Tidak, meski aku diomeli karena tidak jujur. Tapi mereka mulai percaya padaku, terima kasih pada Hyejung ssaem, semua ini berkat dia dan—"

"Kau berterimakasih pada wanita kejam itu?!" Mingyu mengeraskan suaranya tak percaya, "Wow kau aneh Hansol, jelas-jelas dia wali kelas paling kejam yang pernah kita miliki!" kali ini Gyujin yang menyuarakan pikirannya.

"Ehem!"

Duo heboh itu tidak berani menoleh, mereka kenal betul suara siapa yang ada di belakang mereka. "Siapa yang kalian sebut wanita kejam hm?" keduanya menoleh takut-takut, "A—ampun ssaem," tapi terlambat, Hyejung sudah menjewer telinga mereka berdua. "Tidak sopan! Aku beri kalian hukuman membersihkan gudang olahraga sepulang sekolah,"

Keduanya membelalakkan mata, "Mwo?!" teriak mereka, "Atau mau ssaem suruh membersihkan seluruh toilet di lantai dua?" dan keduanya menggeleng keras, Hyejung melepaskan jewerannya dan tersenyum puas. Kemudian melangkah keluar kelas setelah tersenyum meminta maaf pada Hyekyo seonsaengnim yang baru saja datang, karena itu adalah kelas Hyekyo. Harusnya Hyejung datang hanya untuk mengambil buku catatannya saja, tapi malah mendengar murid-muridnya bergosip.

Gyujin dan Mingyu mengusap telinga mereka yang memerah, ingin teriak tapi tidak enak pada Hyekyo ssaem. Hansol kembali tersenyum meminta maaf pada mereka berdua, kemudian ia menepuk bahu Seungkwan lembut. Seungkwan menoleh sekilas, takut ketahuan guru. "Terima kasih sudah menemukanku hari itu, aku berhutang padamu."

Dan untuk pertama kalinya, Hansol tersenyum tulus dan cukup lebar. Hal itu membuat Seungkwan mematung beberapa saat sebelum mengangguk kaku seperti boneka, Hansol terlalu—menyilaukan.

'Kenapa jantungku berdebar?'

.

..

From: 010-####-##98

Hei, aku ada di depan apartemenmu. Keluarlah!

Ada perempatan siku-siku imajiner terbentuk di dahi Seungkwan, siapa yang malam-malam begini seenak jidat menyuruhnya? Lagipula nomornya tidak terkenal, jangan-jangan orang iseng?

From: 010-####-##98

Cepat!

'Yaampun, demi neptunus!' kesal Seungkwan, ia melangkah dengan langkah berat dan mendapati ibunya di dapur. Aroma soy sauce marinated crabs yang dimasak ibunya sungguh menggugah selera, masakan ibunya yang satu itu memang tidak jauh beda dengan restauran seafood terbaik di seantero Korea. Hidup masakan Jeju!

Ibunya menoleh, "Mau kemana sayang?" Seungkwan menunjuk pintu, "Keluar, ada teman." Jawabnya singkat, ia masuk ke lift dan menekan tombol untuk lantai paling bawah. Ia keluar dan berjalan menuju lobi, tidak menyangka akan menemukan Hansol disana, sedang terduduk di atas sepedanya.

Apakah ini khayalan? Jadi Seungkwan menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menepuk pipinya sendiri, sakit. Ternyata nyata, Batinnya dalam hati. Seungkwan melangkah mendekat, menyuruh Hansol minggir sedikit ke sisi lobi yang ada tempat duduknya.

Tanpa banyak bicara Hansol menyerahkan sebuah cup berwarna putih ke arahnya, ternyata isinya tteokbokki. Makanan yang bisa didapatkan di pinggir jalan dengan mudah, namun sangat mengenyangkan. "Ada apa?" tanya Seungkwan, sambil menusukkan tusuk gigi ke gumpalan kue beras itu. "Ingin keluar saja, Sofia ribut di rumah, aku pusing. Kebetulan aku beli tteokbokki dekat apartemenmu," jawabnya datar.

Hansol ini, apa hidupnya datar ya? Apa susah baginya untuk berekspresi? Menulis pesan saja sudah mirip dengan orang marah-marah, apa ia tidak tahu fungsi emoticon? Loh, kenapa Seungkwan marah-marah? Ia mengunyah jajanan itu dengan cepat untuk mengusir pikiran bodohnya.

Tiba-tiba lidahnya seolah terbakar, ia lupa! Tteokbokki dekat apartemennya kan terkenal cukup pedas, "Haaahhh!" Seungkwan mengipasi mulutnya sendiri, panas dan pedas benar-benar bukan kombinasi yang baik. "Ya! Kau beli tteokbokki tapi tidak beli minum?" protesnya pada Hansol yang juga tampak kepedasan.

Dan dengan polosnya lelaki itu menggeleng, "Parkirkan sepedamu, ayo masuk!" Seungkwan melangkah masuk apartemennya, mendahului Hansol yang masih memarkirkan sepedanya. Hansol menyusul Seungkwan cepat masuk ke dalam elevator, Hansol menunduk masih memegang cup tteokbokki di tangannya. Ia terkekeh pelan karena Seungkwan memakai sandal tidur bermotif kelinci, terlalu imut.

"Jangan tertawa, ini punya noonaku." Seungkwan sedikit menyikut rusuk Hansol, dan itu justru membuat lelaki blasteran itu makin tertawa. Seungkwan menekan tombol kata sandi apartemennya dan segera masuk, aroma masakan ibunya makin kuat daripada tadi, sepertinya sudah matang. "Ibuuu, aku bawa teman!" jeritnya.

Ibunya mengintip dari dapur, sedikit terkejut Seungkwan membawa teman yang cukup tampan. "Omo! Sesange, kau dapat teman mirip Leonardo DiCaprio dari mana?" Seungkwan mendengus, ibunya itu penggemar film Hollywood kalau kalian mau tahu. "Bukan bu, dia teman sekolahku. Rumahnya tidak jauh dari sini,"

Jari Seungkwan menekan dispenser rumahnya, memberikan satu gelas air mineral pada Hansol dan mengambil segelas untuk dirinya sendiri. "Kau sudah makan belum nak? Eh siapa namanya Kwannie?" tanya ibunya, "Vernon bu—maksudku Hansol," pasti akan lebih mudah untuk memanggil Hansol. "Oh, ayo makan bersama Hansollie. Jangan sungkan-sungkan,"

Ibu Seungkwan menghidangkan masakannya, lalu mengambilkan nasi untuk Hansol dan untuk Seungkwan. "Wah, kau beruntung sekali bertamu ketika ibuku masak paling enak. Ibuku yang paling cantik di dunia ini sedang masak makanan yang aku jamin lidahmu tidak akan melupakan sensasi rasanya!" ia promosi, sudah mirip dengan duta wisata khusus kota Jeju.

Seungkwan membantu Hansol dengan membukakan cangkang kepiting yang dimasak ibunya, mereka berdua berbagi daging kepiting jumbo tersebut. Memang benar-benar enak, karena ibunya sendiri tidak terlalu bisa memasak makanan Korea, padahal ia suka rasanya.

"Bagaimana Hansollie?" tanya ibu Seungkwan, "Um, mashitta, jinjjayo ahjumma!" pujinya tulus, ibu Seungkwan tersenyum senang. "Aigoo, senangnya aku serasa punya anak lagi. Seringlah main kemari, Seungkwan suka kesepian karena aku bekerja dan noonanya ada di luar kota."

Hansol mengangguk berjanji, mereka makan dan bermain sebentar. Seungkwan mengajak Hansol masuk ke kamarnya, begitu Seungkwan membuka pintu, poster jumbo G-Dragon menyambut keduanya. Hansol bergidik ngeri, sebesar itu, memang Seungkwan tidak takut poster GD itu akan berubah jadi manusia apa?

"Postermu creepy," komentarnya, Seungkwan menatap Hansol. "Memangnya posterku keripik kentang apa?" Hansol menepuk dahinya sendiri, "Creepy itu artinya menyeramkan, bukannya renyah! Kalau renyah itu crispy!" Seungkwan manggut-manggut, ya kan tidak salah kalau ia tidak tahu artinya.

Mereka memandang ke sekeliling kamar Seungkwan, ada poster GD dengan keempat anggota Bigbang lainnya yang lebih kecil. "Ya beginilah kamarku, penuh dengan idolaku. Bagaimana denganmu? Siapa artis favoritmu?" tanyanya penasaran, "Big Sean." Jawab Hansol singkat, oh rapper terkenal itu.

Tapi Seungkwan tidak tertarik sih, "Masih kerenan Bigbang." Komentarnya, "What? Are you serious? Tentu saja Big Sean jauh lebih keren!" balas Hansol tak terima, "Percuma, aku tidak terlalu kenal. Yang aku kenal itu Jinusean, satu agensi dengan Bigbang kalau kau mau tahu. Sean ahjussi itu sosok selebriti-ayah yang terkenal, Hidup YG entertainment."

Ugh, Hansol ingin rasanya mencuci otak Seungkwan supaya lepas dari Kpop. Ia buta tentang K-Pop, ia Cuma tahu After School karena Nana adalah wanita paling cantik di dunia. "Terserahmu deh," Hansol menyerah berdebat dengan Seungkwan, sementara lawannya tertawa puas. Ia kemudian mengajak Hansol bermain video game.

Kebetulan besok adalah hari Sabtu, jadi mereka sedikit santai. Tapi ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Hansol pamit pulang. Seungkwan menawarkan diri untuk mengantarnya sampai lobi.

Sepertinya Hansol suka warna biru, dan hal itu akan Seungkwan ingat dalam hati. Ia ingat dengan warna mantel hujan Hansol yang biru laut, sepedanya yang berwarna biru elektrik, jaket Hansol yang berwarna biru pastel, dan kali ini kaos biru donker miliknya.

"Hei, kau melamun." Hansol menyadarkannya, Seungkwan mundur satu langkah karena tiba-tiba lelaki itu sudah tidak jauh dari tempatnya. "O—Oh." Gumamnya panik, Hansol tersenyum. "Aku suka denganmu, Kwannie." Gumam Hansol pelan, tangannya ada di lengan Seungkwan.

Seungkwan mendongak karena terkejut, kenapa Hansol tiba-tiba berbicara seperti itu? Ada yang salah? Tapi karena Seungkwan tidak kunjung menanggapi, Hansol hanya mengacak surai Seungkwan lembut, "Aku pulang dulu ya, bye!"

Tuh kan, jantung Seungkwan seakan kehilangan kendali atas fungsinya. Debarannya terlalu keras sampai-sampai Seungkwan takut ada orang yang mendengarnya, ia memegangi dadanya. 'Apa aku—jatuh cinta?' batinnya bingung.

. . .

Tidak terasa mereka sudah memasuki kenaikan kelas, semester baru, kelas baru. Untungnya anggota kelasnya masih sama, kali ini Gyujin memilih duduk bersama Donghyuk –bosan diabaikan oleh makhluk bernama lengkap Boo Seungkwan yang selalu memandangi punggung Hansol seperti orang bodoh—

Jadi ia dan Donghyuk sengaja memberi space untuk mereka berdua, kini posisi Hansol dan Seungkwan duduk di tengah-tengah Mingyu-Seokmin, dan Gyujin-Donghyuk. Tapi bukannya senang menjadi senior kelas akhir, Mingyu malah tampak murung. Ia bahkan sempat tidak mau makan beberapa hari.

Tentu saja, kakak kelas favoritnya, Jeon Wonwoo sunbae diwisuda beberapa hari lalu. Dan mirisnya, ia adalah perwakilan anak kelas 2 yang disuruh menyampaikan kesan dan pesan untuk kakak kelasnya, untung ia tidak lepas kendali dan menyatakan perasaannya hari itu di depan ratusan wali murid, bisa malu dong?

Dan Jeon Wonwoo masuk SMA, Wonwoo bilang ia tidak suka menjalin hubungan dengan anak yang lebih muda darinya. Wonwoo bilang tidak suka anak yang tidak mandiri, apalagi Mingyu tingginya di bawah Wonwoo. Itu membuat Mingyu mati-matian ingin berubah jadi lebih keren, lebih dewasa, lebih pintar, dan lebih tinggi.

Teman-temannya sih hanya meng-amini doa Mingyu, baguslah ia tidak hanya akan mainan terus. Ia punya tujuan hidup sekarang—meski Cuma jadi kekasih Jeon Wonwoo.

Mereka menjalani kelas akhir dengan penuh keceriaan, masih ada omelan dari wali kelas mereka yang belum berubah yaitu guru Kang Hyejung, kenakalan mereka, Mingyu yang merangkak naik dari ranking sepuluh terbawah jadi sepuluh teratas di kelas mereka, Hansol dan Seungkwan yang semakin dekat, Hansol yang sudah lebih bersosialisasi, dan.. lain-lain.

Meski Seungkwan jelas-jelas menyembunyikan sesuatu dari anak yang kini menjadi teman sebangkunya tersebut, ya.. itu adalah cinta. Hansol memang pernah bilang suka padanya, tapi lelaki itu hanya sebatas suka, sedangkan Seungkwan yakin yang ia rasakan adalah cinta. Tetapi entah karena apa Seungkwan menyembunyikan isi hatinya rapat-rapat.

Tanpa terasa ujian akhir sudah di depan mata, frekuensi bermain mereka jadi lebih dikurangi dan mereka fokus belajar. Beberapa sudah menentukan akan masuk ke SMA mana, sebentar lagi mereka sudah bukan anak-anak, tapi memasuki masa remaja yang sebenarnya. Masa SMA!

Jadi penasaran seperti apa masa SMA itu, apakah sama menyenangkannya seperti masa SMP? Apa mereka masih bisa berteman seperti sekarang? "Hei! Melamun terus," lagi-lagi lamunan Seungkwan dihancurkan oleh tuan Chwe Hansol. Lebih baik melamun bukan, daripada membaca soal bahasa Inggris yang sudah mirip seperti koran tebalnya.

Ia cinta Korea, jadi untuk apa belajar bahasa asing? Susah! Tapi seakan bisa membaca kebingungan di diri Seungkwan, Hansol mengintip dari balik bahunya. "Baru mengerjakan sepuluh soal dari empat puluh soal, dan sudah salah enam." Gumamnya, Seungkwan buru-buru menutup soalnya. "Apa sih?" gumamnya marah.

Ketika ia berbalik, ia malah menemukan Hansol dengan sebuah handycam hitam di tangannya. "Ya! Jangan merekamku!" Seungkwan marah, tapi Hansol malah dengan bandelnya merekam Seungkwan yang masih berkutat dengan soal-soal bahasa Inggrisnya. Pemuda itu tertawa karena wajah Seungkwan terlihat imut di dalam rekaman.

Tahu deh yang menghabiskan masa kecilnya di luar negeri dan punya ibu orang asing, tapi tidak boleh meremehkan Seungkwan juga dong! Hansol mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya, seperti kertas tapi lebih tebal. Ia mengulurkan sesuatu itu ke hadapan Seungkwan, "Ige mwoyeyo?" tanyanya polos, ada jarum jam disana, dan beberapa bagan-bagan. "Ini adalah petunjuk waktu untuk penggunaan tenses, lihat.. kalau jarumnya mengarah ke bagian lampau kau bisa menggunakan past tense. Kalau waktu saat ini kau gunakan present tense, kalau yang akan datang maka kau gunakan present future. Nah, dibaliknya juga ada penggunaan passive voice."

Seungkwan tersenyum cerah, penjelasannya cukup mudah, sepertinya ia bisa memahaminya kalau belajar sedikit. "Mana yang susah? Nanti aku ajarkan lagi," tapi Seungkwan menggeleng, ia sudah cukup terbantu dengan itu. Grammarnya mungkin bisa sedikit lebih baik nanti. Padahal itu adalah bagian dari pelajaran Hansol sewaktu TK, entahlah, mungkin Seungkwan membutuhkannya. Kurikulum di New York dan Seoul kan berbeda jauh.

"Tidak ada, aku belajar sendiri saja nanti. Ayo pulang!" dan Hansol pasrah-pasrah saja ditarik oleh Seungkwan, ia kan sering mengantar Seungkwan semenjak hari itu. Walaupun Seungkwan tetap harus berdiri di pijakan sepedanya, tidak masalah.

Rencananya Hansol akan mentraktir Seungkwan ice cream,Tapi lagi-lagi mereka kurang beruntung, baru saja musim semi tapi sudah hujan kembali. Padahal mereka tidak memperkirakan akan ada hujan, jadi baik Seungkwan maupun Hansol tidak membawa mantel atau payung. "Hujan!" pekik Seungkwan panik, mata Hansol menangkap sebuah telephone box tak jauh dari mereka.

Sehingga ia memberhentikan sepedanya dan mengajak Seungkwan berteduh di dalam kotak telepon umum yang kebetulan kosong tersebut, Hansol meletakkan ranselnya di lantai dan mengeluarkan handycamnya kembali. "Mwoya neon? Daritadi main handycam terus," tanya Seungkwan yang merasa diabaikan, Hansol mengabadikan momen Seungkwan yang ngambek. "Ingin saja, ini baru, appa baru membelikannya."

Karena merasa tidak nyaman, Seungkwan memainkan telepon umum itu. Memasukkan koin dan menghubungi nomor-nomor acak, begitu ada yang mengangkat ia langsung mematikannya. Jahil sekali. "Haha," ia tertawa keras, namun tawanya mereda setelah ia melihat Hansol masih memegang alat perekam video itu. "Letakkan alat itu Hansol!" perintahnya.

Tapi dasar Hansol keras kepala, ia mengatur fokus kameranya dan kembali merekam. "Boo Seungkwan, apa pendapatmu tentang duduk di tahun akhir SMP? Dan pendapatmu kalau kita akan segera SMA?"

Yang ditanya mematung, ia sih tidak memiliki perasaan khusus. Maksudnya, toh ia akan masuk ke SMA Pledis juga, jadi seperti tidak ada bedanya saja. Jadi ia menatap kamera sambil berpikir lama, ah! Suatu ide masuk di pikirannya. "Pendapatku.."

Chu!

Seungkwan mencium lensa kameranya, kemudian tertawa keras setelahnya. "Oh my god!" Hansol terkejut, karena ia sedang menatap layar tapi tiba-tiba bibir Seungkwan ada disana. Ia sampai secara reflek menekan tombol 'Stop' disana. Tawa Seungkwan bertambah lebar, "Yaampun, kau terkejut sekali. Aku minta maaf," tapi ia tetap tertawa.

Hansol meletakkan handycam di dalam ranselnya, "Ini tidak lucu," gumamnya. Seungkwan menahan tawa, merasa tidak enak pada Hansol. "Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu, sungguh." Sesalnya, tapi Hansol malah menyudutkannya di sudut ruangan.

"Bukan itu, maksudku.. kau—membuatku,berdebar?" bisik pemuda yang hanya berjarak satu bulan dengannya itu. Seungkwan berdeham, "Maksudmu?" tanyanya bingung, Hansol selalu membingungkannya. Andai saja Hansol tahu seperti apa debaran di dadanya. "Seperti yang kukatakan malam itu, aku suka padamu. Benar-benar suka,"

Lalu?

Hanya suka saja?

Seungkwan membatin kecewa, kenapa Hansol tidak bilang cinta atau bagaimana. Kenapa Hansol tidak menembaknya saja? Ah tapi sepertinya ia terlalu berharap, disukai Hansol saja sudah menjadi keberuntungan tersendiri baginya. Tentu saja, siapa sangka Hansol akan menyukainya? Ia kira Hansol menyukai orang lain, maksudnya duh Seungkwan kan biasa saja dibandingkan yang lainnya, dibandingkan dengan Hansol yang hampir sempurna.

Hansol mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah imut Seungkwan, tapi sebelum ia sempat menempelkan bibirnya ke bibir lelaki itu, sebuah tangan menahan dadanya, "Jangan bercanda Chwe, aku juga menyukaimu tapi tidak yakin ini benar, buktikan padaku di masa SMA nanti." Seungkwan tersenyum lalu mendorong dada Hansol menjauh.

Tetapi tanpa Seungkwan tahu, ada sesuatu yang sakit di dalam diri Hansol. Lelaki itu sampai termenung, apa baru saja Boo Seungkwan menolaknya? Tapi tunggu dulu, masa SMA? Baiklah, itu tidak lama lagi. Ia akan membuktikannya pada Seungkwan, biarlah sekarang mereka hanya menjadi sahabat saja. Bukankah hubungan yang terbaik adalah cinta yang berawal dari persahabatan?

"Baiklah, tunggu di SMA. Aku akan membuktikan padamu,"

. . .

Mereka kembali menjadi sahabat seperti sebelumnya, untung saja omongan Hansol tidak merubah hubungan mereka, malah membuat mereka semakin dekat saja. Tapi mereka tidak bisa pergi bersama lagi, ada ujian akhir yang menyambut mereka. Dan pekan ujian itu sudah berakhir.

Hari ini hari Sabtu, mereka diberi libur namun harus masuk hari Senin. Sebenarnya tidak terlalu penting karena mereka hanya perlu masuk untuk melihat hasil ujian, dan malam itu Hansol menghubungi Seungkwan. Seungkwan yang asyik menemani ibunya nonton televisi meraih ponselnya, sudah hafal kalau itu Hansol, karena ia menggunakan nada khusus untuk pemuda itu.

"Yeobboseeyo?"

"Lusa kita jalan-jalan ya, aku ingin makan jajangmyun di restauran China." Suara Hansol menenangkan sekali, ia selalu suka suara sahabatnya itu. "Baiklah, datang yang pagi! Supaya bisa lihat mading lebih cepat, oh iya, jangan lupa bawa uang biaya wisuda." Hansol kadang-kadang berubah jadi pelupa, jadi ia mengingatkannya.

"Eum, arasseo. Bye~" ia menutup teleponnya, sang ibu menoleh, "Hansol?" Seungkwan mengangguk, "Ibu, aku minta uang ya, lusa mau pergi!" sang ibu menggeleng-geleng. Sudah hafal dengan kebiasaan Seungkwan dan Hansol yang sering jalan-jalan apalagi jika tujuannya adalah wisata kuliner, tidak apa-apa sih, soalnya semenjak berkawan dengan Hansol nilai Seungkwan jadi naik.

Ibaratnya mereka itu saling menguntungkan, Hansol yang pintar akademik mengajari Seungkwan, dan Seungkwan yang ramah mengajari Hansol untuk bersosialisasi sekaligus lebih hidup.

Seungkwan berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya dengan senyum kecil. Ia tidak dapat memungkiri perasaannya, ia benar-benar jatuh cinta dengan Hansol Vernon Chwe. 'Dasar, bule aneh, tidak pandai bersosialisasi, menyebalkan! Tapi aku mencintaimu, hah.. andai saja kau tahu seperti apa jantungku ketika berdekatan denganmu,'

Ia memejamkan mata, dan bayangan Hansol tersenyum kemudian memeluknya hadir dalam angannya. 'Kau ini memikirkan apa Boo Seungkwan! Aaaaa Jiyongie hyung, mianhae, kedudukanmu di hatiku digeser oleh makhluk aneh itu.' Ia beralih menatap poster G-Dragon yang karismatik di dinding kamarnya, lebih baik memandangi poster leader Bigbang itu daripada memikirkan Hansol seperti orang gila.

Kini ia beralih menatap ponsel pintarnya, membuka salah satu SNS dan mengupload foto selcanya. Ia menuliskan caption aneh di bawah foto tersebut.

'BooSeungkwan: Tidak bisa tidur, jangan melayang-layang di pikiranku(GD hyungnim) :(

Ping!

Ponselnya langsung menunjukkan pemberitahuan baru, kebanyakan sih hanya pemberitahuan orang-orang yang menyukai postingannya. Tapi ada komentar baru, dan itu membuatnya membelalakkan matanya, berubah semangat dan penasaran komentar apa yang masuk.

'VernonChwe: Tidur! Jangan berkhayal terus, sudah malam.'

'Aih, dasar menyebalkan! Memangnya siapa yang membuatku tidak bisa tidur seperti ini, awas kau!'

I can't fall asleep in this painful dawn

Can't you text me to see how I'm doing?

When I posted something up

You shouldn't have clicked like

Making me excited for no reason..

(Baek Ah Yeon – Shouldn't Have)

.

..

Hansol yang baru saja mengakhiri teleponnya dengan Seungkwan dikejutkan dengan suara gaduh di lantai bawah, ia turun dengan cepat, ibu dan ayahnya sepertinya sedikit ribut, jadi ia hanya mengintip dari balik pembatas tangga.

"Tidak ada jalan lain selain kembali ke New York," putus ayahnya, sang ibu nampaknya masih belum bisa memprosesnya. "Apa? Kenapa? Bukankah kau bilang kita akan menetap di Korea selamanya?" sang ibu bertanya dengan bahasa Inggris dan nada suara yang meninggi.

Ayah Hansol duduk di sofa, "Mauku juga begitu, tetapi tidak ada jalan lain. Usaha kita tidak akan berhasil, kau lihat pameran kita akhir-akhir ini sepi, dan lukisannya tidak terlalu laku keras. Berbeda dengan di New York, disana orang-orang menghargai seni. Aku juga bisa bekerja di kantorku dulu, nanti, ketika semuanya membaik kita akan kembali ke Korea. Aku berjanji,"

Ibu Hansol terisak, "A—Aku tidak ingin pergi, tapi kalau ini satu-satunya cara supaya keluarga kita tetap baik-baik saja, aku mengerti." Ayah Hansol meraih istrinya itu ke dalam pelukan, "Terima kasih sudah mengerti, maaf aku tidak bisa jadi kepala keluarga yang baik. Kita akan berangkat besok malam, lekas berbenah. Aku sudah menghubungi sekolah Sofia dan Hansol,"

Ternyata ayahnya jauh lebih dari siap, tapi tunggu dulu.. besok? Secepat itu? Kenapa tidak membicarakannya lebih awal? Bagaimana dengan sekolahnya? Dan terlebih bagaimana ia berbicara dengan Seungkwan? Ia sudah terlanjur berjanji pada anak itu. Lagipula Hansol tidak siap berpisah dengannya.

Perasaannya saja belum terjawab..

Bahkan ia saja tidak sempat meminta Seungkwan jadi kekasihnya.

"Oppa, apa kita akan pindah?" suara bisikan Sofia mengejutkannya, Hansol mengangguk dengan berat hati. Adiknya tampak sangat tidak rela, jadi Hansol berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Seungkwan. "Oppa juga tidak rela, sangat tidak rela. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, appa pasti sudah memikirkan yang terbaik untuk kita," ia mengelus surai pirang adiknya itu sayang.

Sofia membalas pelukan Hansol, "Aku—mau tetap di Korea oppa," isaknya, Hansol mengangguk, pikirannya berkecamuk. Bukan Sofia atau ibunya saja yang ingin menetap, Hansol juga begitu, dan ia yakin jauh di dalam lubuk hati ayahnya juga menginginkan hal yang sama.

Tapi keadaan tidak memungkinkan untuk mereka, semuanya tidak mendukung mereka untuk tetap menetap di Korea. Jadi, Hansol berusaha dewasa dan menerima keputusan ayahnya. Siapa tahu, kesempatan datang ke Korea lagi akan datang kepadanya, suatu saat nanti.

. . .

Seungkwan menatap ke seluruh penjuru kelas khawatir, sudah jam sembilan dan Hansol belum datang. Ia jadi kesepian, tidak ada pelajaran tapi mereka harus ada di dalam kelas. Mana Hansol tak kunjung tiba, padahal ia mau membuktikan pada Hansol kalau ia bisa meningkatkan nilainya. Dan berterima kasih karena banyak-sedikit semua ini gara-gara bantuan Hansol.

Ya, ia sudah melihat pengumuman di mading. Hansol ranking 3 dari seluruh kelas, dan Seungkwan juga tidak buruk, ia mendapatkan ranking tujuh belas. Tidak buruk soalnya hampir setiap tahun ia hampir tidak bisa dapat lima puluh besar.

Eh ada yang mengejutkan, Kim Mingyu yang biasanya duduk di tiga puluh persen nilai terbawah kali ini meroket naik. Anak itu ranking dua puluh! Hebat sekali, ternyata keinginannya soal membuktikan ia bisa pada Wonwoo sunbae itu sungguh-sungguh.

Tapi tidak asyik, Hansol tidak hadir, ia jadi tidak bisa merayakan kesenangan mereka. Kemana sih anak itu? Jangan bilang ketiduran, atau jangan-jangan malah sakit? 'Atau aku telepon saja ya?' batin Seungkwan, ia menghubungi Hansol.

'Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi karena berada di luar jangkauan—'

Piiip!

Seungkwan mematikan sambungannya langsung, aneh sekali, tidak biasanya Hansol menonaktifkan ponselnya. 'Kok perasaanku jadi tidak enak ya,' batin Seungkwan, ia mengetuk-ngetukkan sepatunya, gusar. Gyujin dan Donghyuk nampaknya menyadari bahwa Seungkwan sedang bingung.

Tak lama guru Kang datang, membagikan hasil individu. Tapi guru itu tidak terlihat ceria seperti biasanya, malah cenderung sendu. "Sebelum ibu bagikan hasil ujian kalian, ibu akan menyampaikan sesuatu, mungkin ini sedikit mengejutkan untuk kalian. Tapi Hansol Vernon Chwe, salah satu teman kalian, tidak dapat mengikuti wisuda. Ia dan keluarganya pindah ke New York semalam,"

Apa?

Pindah?

Tolong katakan pada Seungkwan, ini Cuma mimpi.

TBC

Gajadi tiga part, tapi empat part. Tenang aja udah selesai kok jadi bakalan aku post dua hari ini,

Oiya aku gatau Seungkwan itu VIP atau bukan. Yang aku tahu VIP itu Seungcheol, dan Soonyoung Shawol. Cuma waktu andromeda itu kan Seungcheol bilang penyanyi favoritnya Bigbang sunbaenim, sementara Hansol bilang Bigsean. Lucu aja gimana kalo mereka debat Big vs Big(?) padahal jauh beda, aku kejauhan mikirnya. Dan malah bayangin Verkwan yang berdebat wkwk. Apalagi aku ditemani sama lagu Let's not fall in love sama Who You waktu bikin, ya gini deh, kebayang Seungkwan jadi VIP.

HAPPY BIRTHDAY PEONONNIEEE❤ HAPPY BIRTHDAY DOKYEOMMIEEE❤ lel

review?^^