Lay memandang nanar pada sosok berambut coklat yang melompat begitu saja turun dari pohonnya dan meninggalkannya. Beberapa saat yang lalu sebuah pesan dari D.O masuk, mengatakan bahwa Tao tengah mengawasi mereka dari jendela kelasnya.
"Katakan kalau ini berarti dia masih peduli padaku?" ujar Kris tampak begitu senang dan Lay mengangguk dengan seulas senyum tipis kemudian membiarkan namja itu pergi.
Lay tak tahu bagaimana dia harus menanggapi ini. Di satu sisi dia merasa semuanya benar saat bersama Kris, di sisi yang lain semuanya justru menjadi salah.
The Time
Genre : Romance , Drama, Fantasy
Rate : Mature
Cast : All EXO Member
Pairing : KrisTao, KrisLay, Etc.
Warning : Abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : EXO milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
Italic : berada dalam permainan waktu Tao, bisa karena dihentikan atau karena kembali ke masa lalu.
.
Kabin besar itu hanya ramai pada salah satu sudutnya di mana ada dua belas remaja yang tengah melakukan pemanasan sambil berbincang-bincang. Sore ini giliranSuho untuk memimpin pemanasan. Lay melihat bagaimana si Dewa Air itu tetap semangat meski hampir semua dari mereka tidak mendengarkan komandonya.
Di ujung kanan terlihat Xiumin, Chen dan Tao yang entah sedang membicarakan apa, Kris ada bersama mereka namun tak terlihat terlibat pembicaraan. Tepat di sampingnya ada Luhan dan Baekhyun yang sedang membicarakan jadwal pertandingan bola, D.O dan Chanyeol tampak melakukan pemanasan dengan ogah-ogahan dan hanya sisanya –Lay, Kai dan Sehun– yang fokus memperhatikan sang Guardian.
"Menikmati pemanasannya?" Pelatih mereka U-Know baru saja masuk melewati pintu baja bersama Max.
Seperti biasa keduanya memakai stelan hitam rapi yang terlihat begitu pas di badan mereka yang tinggi dan tegap. Mereka tampak seperti dua orang agen rahasia kelas VIP, meski sebenarnya mereka memang agen rahasia, hanya saja tak ada yang tahu mereka berada di tingkat mana, lebih sekedar VIP sepertinya.
Menurut beberapa berita, U-Know adalah seorang pengendali Api sementara Max menguasai Cahaya. Hanya saja, tak satu pun dari EXO yang pernah melihat kemampuan mereka. Mereka begitu misterius. Bahkan tak satupun dari EXO yang tahu usia sebenarnya dari mereka. Luhan pernah menduga mungkin usia mereka lebih dari seratus tahun, itulah sebabnya identitas mereka begitu rahasia. Sementara Xiumin menduga U-Know dan Max bukan nama asli mereka.
Semua kini memandang U-Know yang tengah membuka secarik kertas putih kecil.
"Hari ini kalian akan berlatih dengan sedikit berbeda," Max bicara, "kami ingin melihat bagaimana kalian bertekhnik, menyusun strategi dan juga kecerdasan kalian dalam mengambil keputusan dengan cepat."
"Delapan diantara kalian akan berduel dan yang empat akan duo duel, Sehun..." U-Know menatap si Maknae, "...kau melawan Chanyeol."
"MWO?"
"Kau melawan Chanyeol," ulang U-Know seakan tak melihat raut aneh di wajah Sehun.
"Tapi hyung, aku angin dan dia api, angin hanya memperbesar api, bagaimana caranya aku melawan dia?" sementara Sehun keberatan Chanyeol terlihat santai.
"Dalam pertarungan, kau tidak bisa memilih lawanmu," kata-kata Max terdengar final.
Sehun merengut sementara Chanyeol tersenyum senang penuh ledekan.
"Next, Tao melawan Suho."
Keduanya berpandangan, kemudian saling tersenyum tipis.
"D.O melawan Kai."
"Aniya!" kali ini Kai yang tampak keberatan. "Bagaimana mungkin aku bisa menyerang dia?"
"Aku bisa menyerangmu lebih dulu," timpal D.O santai.
U-Know tersenyum aneh dan mengangkat bahu. "Next... Luhan melawan Baekhyun dan terakhir Xiumin bersama Chen melawan Kris."
Tak ada tanggapan berarti.
"Lay, karena kau sama sekali bukan type petarung, kau akan membantu Kris. Latihan akan di mulai lima menit lagi, set kali ini menggunakan set B. Persiapkan diri kalian, pakai baju tempur kalian!"
"Memangnya kami punya baju tempur Hyung?" tanya Chanyeol.
"Itu hanya ungkapan," jawab U-Know dengan cengirannya, membuat semua yang disana berjawdrop ria.
"Kalian bisa melakukan pertaruhan agar bisa lebih seru," saran Max, membuat kegairahan meningkat di wajah-wajah remaja itu.
U-Know kembali menggulung kertas kecil di tangannya dan memasukkannya kedalam saku jas. "Baiklah anak-anak, selamat bersenang-senang."
Setelah mengucapkan itu, keduanya pun berjalan meninggalkan mereka.
"Hyung!" Lay melihat Tao berjalan cepat kearah Suho yang berada tepat di sampingnya. "Aku mau snack kentang, coklat dan sekotak permen setiap hari selama seminggu kalau aku menang!" Lay tersenyum mendengar Tao yang begitu polos mengajukan pertaruhannya.
"Hanya itu?" Suho mengangkat alisnya.
Detik berikutnya dengungan suara-suara penuh semangat terdengar di sekitar Lay. Lay sedang mendengarkan perdebatan D.O dan Kai tentang pertaruhan mereka saat Xiumin menyenggol bahunya dan menanyakan pertaruhan yang di inginkannya. Tak lama Kris pun berdiri disampingnya, wajah namja itu terlihat tak begitu baik sementara matanya terus saja mengawasi Tao yang sedang tertawa mendengar keluhan Suho tentang waktu.
.
.
Lantai polos kabin besar itu baru saja berubah menjadi gundukan tanah berbatu dan berudara panas. Tak perlu menunggu bell, sebagian besar mereka telah mencari arah untuk bersembunyi hingga hanya tersisa Tao, D.O dan Kai. D.O sendiri tengah berjalan santai menjauhi keduanya, setelah berjarak sekitar sepuluh meter dia berbalik dan menatap Kai dengan serius.
"Kau siap?" dia mengambil kuda-kuda.
"Kau tak ingin bersembunyi?"
D.O tertawa renyah. "Bersembunyi dari Teleporter?"
Dan tanpa aba-aba tanah di bawah Kai melesak begitu saja. Membentuk kolong segi empat dalam hingga menenggelamkan namja itu sampai sebatas lehernya.
"Wooo... Kau serius mau menyerangku?" Kai tampak terkejut dan kehilangan keseimbangan.
"Tentu."
Dan... Grag!
Dinding-dinding lubang itu menyempit hingga tak menyisakan celah sedikitpun. Tapi tentu saja, Kai telah pergi dari sana.
Brugh!
Sebuah sentakan yang cukup kuat membuat Tao terhuyung mundur kebelakang, baju bagian perutnya telah basah.
"Perhatikan musuhmu Baby Panda."
Tak berapa lama, bola air sebesar bola basket meluncur cepat kearahnya.
Stop.
Dan semuanya berhenti. Tao memperhatikan, rupanya serangan dari D.O tak hanya mengawali pertarungannya dengan Kai tapi juga mengawali pertarungan lainnya. Tao menggeser dirinya dan...
Duagh!
Bola air itu menghantam dinding baja dibelakangnya.
"Aku tak melihatmu menghindar."
"Aku tak memberimu waktu untuk melihat Hyung," dia kembali menghindar, namun kali ini dengan waktu yang terus berjalan.
Namja itu berzig-zag untuk menghindari bola-bola air yang kian lama kian cepat. Tao mengerti bahwa dalam pertarungan ini dia hanya perlu menatap gerakan tangan dan arah mata Suho, maka dengan begitu dia akan tahu dari mana arah serangan datang.
Jadi, saat tangan Suho membentang keatas dengan segera dia menghentikan waktu...
Bergeser dua meter kekanan, mengambil kuda-kuda dan...
Byarrr!
Sebuah curahan air yang begitu besar yang bisa membuatmu pusing dan mual bila terhantamnya kini menghantam tanah tempat dimana sedetik yang lalu Tao berdiri di atasnya. Dan sebelum Suho sempat menyerangnya lagi Tao berlari cepat menerjang namja itu dan menendangnya tepat di perut.
Duagh!
Suho terpental beberapa meter terbelakang, merintih dan terbatuk pelan.
Sepuluh menit berlalu dan atmosfer dalam kabin itu semakin memanas, derik api dan suara ledakan terdengar di sana-sini. Dan kini tak ada satu pun diantara kedua belas remaja itu yang tampak 'rapi'. Ujung kemeja Chen bahkan telah terbakar sementara seluruh rambut Chanyeol tersibak kebelakang terkena terjangan angin. Luka-luka kecil tak bisa dihindari, goresan tanah atau batu, lebam dan ruam, atau tubuh yang tak bisa berdiri tegak lantaran mata berkunang-kunang.
D.O lah yang tampak paling 'baik' diantara mereka. Selain serangan Xiumin yang nyasar dan membekukan sepatunya, Kai tampaknya masih enggan memberikan satu seranganpun padanya.
JDAAARRR!
Sebuah ledakan besar membuat Tao tersentak kaget. Ledakan itu berjarak tak jauh darinya, berasal dari sebuah batu besar yang kini hancur berantakan oleh petir dari Chen. Asap yang berkumpul membuat pandangan namja panda itu sedikit kabur. Hingga... Wuzzhhh... angin dari Sehun –efek sisa dari serangannya pada Chanyeol– menyingkirkannya, memberikan sebuah pemandangan... itu.
Di sana, tak jauh dari Tao, dua namja berguling di tanah dengan pelukan yang begitu erat. Lengan kuat Kris yang melindungi punggung dan kepala Lay terlihat begitu posesif memeluknya. Keadaan keduanya tak begitu baik, pakaian keduanya telah robek di sana-sini, membuka luka-luka goresan tanah dan batu. Pelipis Kris tampak merembeskan darah pelan sementara di lengan Lay terdapat luka robek yang cukup besar.
Tao tak mengerti dan dia merasa iri dengan kenyataan bahwa keduanya tampak begitu 'satu'. Rasa sakit di hatinya yang tak pernah bisa mereda kembali terangkat. Panas, perih dan menyesakkan. Membuatnya kesulitan bernapas yang tak ada hubungannya dengan udara berdebu di sekitarnya.
"Kau tak apa?" Tao mendengar Kris bicara begitu lembut.
"TAO!" Tao mendengar suara Suho yang berteriak keras sebelum tiba-tiba saja sesuatu menghantam dadanya dengan begitu keras.
Ternyata Suho memperingatkan akan datangnya serangan yang cukup besar. Serangan yang tak sempat Tao hindari karena kelengahannya. Dia tak siap...
Sesaat kemudian dia merasakan tubuhnya di tarik kebelakang dengan begitu kuat dan dihempaskan pada dinding baja, lalu jatuh dengan cepat menghantam bebatuan di bawahnya. Dadanya semakin sesak, darahnya seakan menyusut ke dasar perutnya, membuatnya mual dengan bau anyir darah dan kepala yang berputar cepat.
"Uhuk.. Ugh!" dia terbatuk keras, menyemburkan darah kental dan lengket ke bajunya. Tubuhnya lemas, lumpuh, tak mampu digerakkan.
Tiba-tiba saja semuanya terasa sepi, pertarungan berhenti, semua kini menatap padanya dengan pandangan ngeri. Ditengah kebingungan tentang apa yang tengah dialaminya, semuanya menjadi gelap begitu saja.
.
.
"TAAOO!" Suho berteriak ngeri, tak mempedulikan kakinya yang lebam namja itu berlari cepat kearah sang Pengendali Waktu. "LAAAY! LAY! LAY BANTU DIA LAY!"
Detik berikutnya pekikan kengerian terdengar dimana-mana. Beberapa diantara mereka berjalan begitu pelan kearah Tao sementara yang lain terpaku di tempatnya, menutup mulutnya yang memekik.
"LAY! LAY!" Suho masih berteriak-teriak, menyadarkan Lay dari keterkejutan.
Sekuat tenaga, memaksakan kakinya yang kebas dan kepalanya yang berputar, Lay berlari terpincang kearah Tao dan segera menyalurkan energinya kearah mana saja.
Belum reda keterkejutan mereka akan kondisi Tao, mereka kembali dikejutkan oleh Suho yang tiba-tiba terpental jauh kebelakang dan Kris yang berdiri di samping Tao dengan tangan terkepal dan berapi. Napasnya memburu dengan wajah memerah. Terlihat marah. Sangat marah.
"Kris!" Xiumin memekik.
"Apa yang kau lakukan padanya!?" geram sang pemilik elemen Naga, sementara Suho masih berusaha bangun dari jatuhnya.
"Kris gege, Suho hyung tidak bersalah! Mereka sedang bertarung!" D.O mencoba mengingatkan Kris tentang keadaannya.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!" seakan tak mempedulikan ucapan siapapun, Kris berteriak. Kedua kepalan tangannya telah mengobarkan api dan di sisi lain, Suho yang telah bangkit juga tengah membuat pusaran air besar di depan dadanya.
Tinggal menunggu waktu hingga keduanya saling bersinggungan dan pertarungan yang sebenarnya akan terjadi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, keduanya seakan tak mampu menggerakkan tubuhnya yang seperti berubah menjadi batu, kemudian melangkah mundur dengan kaku seperti di tarik oleh tali yang tak terlihat.
"Hentikan kalian berdua!" Luhan bicara dengan nada yang bergetar,tangan kirinya terarah pada Kris yang masih berusaha memberontak sementara tangan kanannya tetap menjaga kontrol tubuh Suho.
"Lay Hentikan!" sebuah suara tegas menyeruak di tengah atmosfer penuh ketegangan itu. "Kau bisa kehabisan energimu," Leeteuk, kepala unit kesehatan datang bersama beberapa anggota timnya.
Seperti membawa oksigen kedalam kabin besar itu, kedatangan Leeteuk membuat semuanya sedikit bernapas lega, kecuali Suho dan Kris yang masih terlihat tegang dengan Luhan yang masih mengontrol tubuh mereka.
Dengan cekatan Leeteuk dan timnya segera membaringkan Tao pada dragbar dan memasang alat bantu pernapasan pada namja yang tengah tak sadarkan diri itu, lalu membawa Tao keluar dari ruangan itu.
"Dan kalian, berhentilah bertindak konyol," Leeteuk memperingatkan Kris dan Suho yang masih saja berusaha lepas dari kendali Luhan.
.
.
Tao merasakan kepalanya berputar seketika dan terasa berat saat kesadaran membawanya kembali pada realita, dia mencoba membuka matanya yang terasa direkatkan dengan lem tikus super kuat.
Ruang berdominasi putih dengan sedikit biru muda itu membuat Tao mengernyit dan itu berakibat menyakitkan pada pelipis kirinya, dia meraba tempat rasa sakit itu dan menemukan sesuatu yang terasa empuk di tangan kirinya.
Masih berusaha mengenali benda apa di pelipisnya, dia meneliti ruangan itu. Sebuah lukisan taman bunga ada tepat di depannya, menjadi satu-satunya benda penghias dinding yang terlihat kosong.
Dia melihat kesamping kirinya dan cukup terkejut mendapati Suho tengah tertidur di kursi di samping tempat tidurnya, posisinya tampak tidak nyaman. Dia hendak membangunkannya saat keterkejutan yang lebih besar menyapanya... Kris tidur di sisi lain Suho, di sebelah kanan tempat tidur Tao, menggenggam tangan Tao kuat-kuat hingga kini Tao sadar tentang rasa kram di tangan kanannya.
"Kau sudah bangun?" suara Suho menginterupsi usaha Tao untuk melepaskan genggaman tangan Kris.
"Hyung... apa yang terjadi padaku?" tanya Tao bingung dan apa adanya, "dan dimana ini?" dia benar-benar tak tahu apa yang terjadi sebelumnya dan tempat apa ini.
"Kau tidak ingat?" Suho tertanya dengan mengangkat alisnya.
Tao menggeleng.
"Kau terkena seranganku saat berduel dan sekarang kau dirumah sakit markas."
"Aaa... aku ingat. Apa itu artinya aku kalah? Ah,sayang sekali...," gerutu Tao dengan menampilkan wajah cemberut imutnya, sedikit berharap Suho akan luluh dan memberikan apa keinginannya.
"Kurasa kau menang," ujar Suho.
"Eh?" senyum Tao sedikit merekah penuh harapan.
"Kau membuatku cemas setengah mati dan yakin tertusuk pedangmu akan terasa jauh lebih baik," ujarnya dengan sedih, lalu ditunjuknya sebuah tumpukan di atas meja di samping mereka. "Aku membelikannya setiap hari selama seminggu."
"Mwo? Jinjayo? Memangnya aku pingsan berapa lama?"
"Tiga belas hari kalau hari ini dihitung, luka di dada dan kepalamu sangat parah. Kau juga membuat Lay hampir kehabisan energinya berkali-kali."
"Maafkan aku," ujar Tao dengan sedih, dalam sekejap saja dia ingin bertemu Lay dan mengucapkan terimakasih.
"Bukan salahmu Baby Panda. Seharusnya aku menyerang saat kau lebih siap."
Tao menggeleng keras, tidak setuju dengan kalimat Suho. "Ingat kata Max hyung...? Lawanmu tidak akan memberimu aba-aba sebelum menyerang, kuncinya harus selalu siap!" ujar Tao dengan menirukan gaya Max dengan begitu mirip.
"Pffttthhh... Pfftttthhhh... Hahahaha... Kau lucu sekali Baby Panda... hahaha...," Suho tertawa keras.
Tao tertegun sesaat, sebelum ikut tertawa kecil.
"Kalian sedang membicarakan apa?" suara bass yang datar dari Kris menghentikan tawa mereka.
Dan saat itu Tao ingat, dia belum melepas genggaman tangannya.
"Bukan apa-apa, hanya mengingatkan dia kejadian sebelum dia terbaring disini."
Mendengar jawaban Suho, entah mengapaTao mendadak teringat pada apa yang dilihatnya sebelum hentaman itu mengenai dirinya.
Kris dan Lay...
Tao meringis merasakan dadanya berdenyut sakit.
"Kau kenapa?" suara Kris dan Suho terdengar menyatu.
Dia menggeleng, "aku lapar Hyung," ujarnya beralasan karena tak mungkin baginya menceritakan apa yang ada dipikirannya saat itu. Diam-diam Tao bersyukur tak ada satupun dari EXO yang memiliki kemampuan membaca pikiran.
Kris melepaskan genggaman tangannya, sesaat membuat Tao merasa lega namun sesaat kemudian dia merasakan dadanya terjepit sakit saat sendok bubur melayang di depannya.
"Makanlah," ujar Kris tenang seakan tak peduli dengan rasa sakit dalam diri Tao akibat perhatiannya yang terasa menyiksa bagi namja panda itu. Tao tak suka dengan keadaan seperti ini, perhatian dari Kris yang membuat dadanya berdenyut makin sakit.
"Aku bisa makan sendiri Kris gege," Tao mencoba mengambil mangkuk bubur dari tangan Kris.
"Aniya. Kau harus disuapi Baby Panda, Leeteuk hyung bilang kau harus menjalani lima sampai enam kali lagi pengobatan dari Lay, jadi kau belum boleh banyak bergerak," ujar Suho dengan sabar dan ganti dia yang mengambil mangkuk bubur dari tangan Tao.
Entah karena merasa lebih nyaman bersama Suho atau pada akhirnya dia menyadari keadaannya, Tao mengangguk patuh dan membuka mulutnya demi membiarkan sesuap bubur itu masuk kedalam mulutnya.
Suho tersenyum lembut kemudian mengaduk buburnya agar lebih menyatu dengan sayuran toppingnya. Sementara berseberangan dengan Suho, Kris mengepalkan tangannya erat-erat, menahan bara emosi dalam dirinya agar tak lepas kendali dan membakar namja berelemen air itu di depan Tao.
_TBC_
Sedikit lebih panjang dari kemarin karna rifyunya juga lebih banyak. Maaf untuk Typo terutama untuk typo spasi yang hilang, spasi di keyboard Lhyn agak bandel. Makasih untuk :
Anggik, hani. azzahra. 39, JaeRyeoCloudnia, Kuroneko, Guest, Hyena, Hisayuchi, Pyolipops, Hinata Andi Mikami, Jin Ki Tao, AmaterasuUchih1, ParkSeung Ri, Shikiteito, KecoaLaut, Nezta, Viivii-ken, Lovelysoo-ie, Brigitta Bukan Brigittiw, Halliypanda, Panda Tao, Miku, PuzZy Cat, Farahpark. elf, Kazuma B'tomat, Key Shirui Alegra tiqa, Couphie, Shinminkyuu, Black Snow, Hyun Hyun, Choi Seul Mi, TAO Bbuingbbuing, Yoonhae. elfxotics, Aetherion Vienna, Prosaicdays.
Maaf ga bisa bales satu-satu, maaf kalo ada yang ga kecantum atau salah tulis nama. Chap depan mungkin agak lama, Lhyn dalam kondisi badan yang ga baik, Maaf.
Last.
Mind to Rifyu...?
