-20 years ago-
Sungmin kecil menghentikan langkahnya ketika mendengar suara tangis seseorang. Sejenak ia lupa dengan jajanan manis di tangan dan mulai mencari ke segala arah dari mana datangnya suara tersebut. Hari sudah hampir gelap, dan gang jalanan itu sungguh sepi. Kedua mata bulatnya berkedip ketika mengingat cerita-cerita hantu yang tadi ia dengar dari seorang kakek penjaja permen kapas.
"Ishh..." bocah itu meringis kesal. "Hantu itu tidak ada, kan?" ucapan tersebut terdengar berani, namun tidak dengan tatapannya. Sungmin cukup menyesal karena menolak untuk pulang bersama kakaknya.
Beberapa langkah, Sungmin semakin jelas mendengar tangisan itu, kemudian mendapati sepasang sepatu yang bergerak-gerak di balik tumpukan sampah-sampah rumah tangga. Dan hanya dalam sekejap, anak itu langsung menghela napas lega. 'Bukan hantu... syukurlah...'
"Hey... hey..." Sungmin berusaha mendapatkan perhatian anak laki-laki yang tengah menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya. Masih terisak. "Kenapa menangis? Apa kau terluka?"
"Aku... tersesat..." anak laki-laki itu menjawab sambil terisak.
Sungmin hanya bisa berkedip dan memasang wajah merengut. Jajanan manis tadi sudah habis, kini pikirnya sudah tak ada lagi sesuatu yang bisa ia berikan untuk menghibur bocah di hadapannya. "Hmm... ke kantor polisi saja." Ucapnya dengan lantang. Suara tenornya benar-benar bisa terdengar sampai ujung gang.
"Aku takut untuk pergi dari sini. Tadi ada anak-anak bertubuh besar yang menghadang jalanku. Mereka... mereka merampas uang dan barang-barang dari dalam tasku."
Sungmin terlihat kesal. Anak-anak itu pasti Shindong hyung dan teman-temannya. Tak ada lagi yang seperti itu di sini. Mereka memang suka mengganggu anak-anak yang bertubuh kecil. "Sudah. Berhenti menangis. Aku akan mengantarmu kepada paman polisi. Jadi berdirilah."
"Tapi... mereka masih di sana."
Sungmin hanya tersenyum. "Aku akan bilang pada mereka kalau kau adalah temanku."
"Huh?" bocah lelaki itu terlihat bingung.
Tak ada penjelasan. Sungmin hanya menarik lengan anak laki-laki tadi untuk segera mengikutinya. "Sudah hampir gelap, Eunhyuk hyung akan memarahiku jika sampai terlambat pulang."
"Hey, Sungmin! Apa dia temanmu?" benar saja. Mereka memang sudah menganggu anak ini tadi, pikir Sungmin.
"Kalian mengambil uangnya?"
Pertanyaan itu justru dijawab dengan tawa dari lima orang yang bersama Shindong.
"Kami akan pergi memberitahukan ini pada paman polisi. Jika kalian mencoba menghalangiku, akan kuadukan pada Eunhyuk hyung dan Hankyung." Sungmin bicara sangat lantang. Sebelah lengannya masih menggenggam jemari anak laki-laki tadi. Bocah itu sudah tidak menangis, tapi dia masih menunduk tak berani menatap siapun di sana.
"H-hey... jangan begitu, Sungmin-ah..." Salah satu dari mereka langsung merogoh saku celana dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. "Ini... kami sudah memakainya sedikit. Jadi hanya ini yang tersisa."
Sungmin tak menghiraukan. Ia mulai akan beranjak lagi, ketika orang yang dipanggil Shindong hyung itu mencegahnya. "Baiklah... baiklah... ini... ini... kukembalikan semuanya."
Bocah itu tersenyum diam-diam.
...
Ia memperhatikan wajah kecil Sungmin ketika masih saja belum bisa melepas senyum. Anak itu sepertinya sangat puas karena sudah berhasil mengelabui bocah-bocah nakal tadi. "Namamu Lee Sungmin, bukan?" tanyanya.
Yang ditanya menoleh, kemudian mengangguk.
"Aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun."
;;;;;
-15 years ago-
Kyuhyun yang berumur tiga belas tahun kini tengah mengenggam lengan seorang gadis dan menyembunyikan sosok ketakutan itu di balik tubuhnya yang jangkung. "Aku benar-benar tidak mau melakukan ini. Tapi kalian memaksa." Tangannya yang bebas memainkan sebuah kertas kecil. "Aku tidak jadi memberikan ini pada kalian."
Kertas contekan. Kyuhyun adalah salah satu siswa yang diminta membantu guru untuk mempersiapkan soal-soal ujian untuk senior-senior kelas tiga. Hanya membantu merapikan, dan kesempatan yang sangat besar untuk bisa membawa pulang satu lembar saja.
Kini ia tengah bertaruh dengan sekumpulan anak-anak kelas tiga yang memang sudah menunggunya untuk bisa membocorkan soal-soal ujian pada mereka. Namun hal yang paling tidak Kyuhyun suka akhirnya terlihat, mereka mengganggu salah satu siswa perempuan. "Jadi selamat mengerjakan ujiannya seorang diri."
"H-hey... kau tidak bisa melakukan itu pada kami. Kau pikir kami tak bisa merebut itu sekarang? Kau lihat ada berapa orang di sini?" salah satu siswa mencengkeram bahu Kyuhyun. Memberikan ancaman akan adanya kekerasan jika pemuda itu tidak memberi apa yang mereka inginkan. Ia memejamkan mata sejenak.
"Hey, Kyuhyun. Jangan tunjukan wajah penakutmu itu lagi di hadapan orang-orang. Tak akan ada gadis yang akan suka denganmu nanti. Pelajari apa yang sudah kulakukan tadi. Berbuat licik sesekali tidak akan sampai membunuh orang. Mengerti?!"
Suara kelewat nyaring itu masih saja terus muncul di kepalanya tiap kali keadaan (hampir) serupa terulang. Kyuhyun tersenyum, Kemudian mengangguk.
Pemuda itu mengeluarkan kertas tadi dari dalam sakunya. Kemudian membuka lipatan dan menjabarkan di depan para senior. "Kau bisa memiliki soal-soal ini. Jawabannya akan kuberikan jika kalian berlutut minta maaf padanya." Ia menunjuk gadis yang masih berdiri di belakang.
Salah satu senior tersenyum mengejek, "Kau mencoba menawar, Cho Kyuhyun? Tidak akan ada yang berlutut. Sekarang berikan semuanya padaku! Kau pikir kami tidak bisa menyelesaikan soal-soal ini sekarang, hah? Kami akan menghajarmu nanti."
Kyuhyun hanya menghela napas. Wajahnya ia buat seolah kecewa. "Ya sudah." Ia menyerahkan kertas soal ujian tadi, kemudian mulai beranjak pergi sambil berujar tenang, "Kalian punya waktu lima belas menit sebelum ujian dimulai.
Satu meter... dua meter... dan saat menginjak jarak lima meter Kyuhyun mendengar dari seseorang berteriak, "Yah, Cho Kyuhyun. Baiklah. Kau menang!"
Kyuhyun menatap dengan senyum miring ketika para senior itu menunduk dan berdiri di atas lutut mereka untuk meminta maaf pada siswi yang ketakutan tadi. Soal-soal ujian itu bukan main-main. Dibuat untuk diselesaikan selama dua jam adalah waktu jika siswa itu belajar dengan sungguh-sungguh. Apa yang diharapkan dari waktu lima belas menit dari para berandalan sekolah ini? Ketika sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, giliran Kyuhyun untuk menepati janjinya. "Kalian lihat di atas pohon itu?" pemuda itu menunjuk mahoni besar yang rindang. Ada sebuah lentera tergantung tanpa lilin. "Aku meletakkan jawabannya di sana."
"Brengsek. Kau sengaja melakukan ini kan?"
Kyuhyun hanya tersenyum dan menampilkan deretan giginya. "Masih ada waktu untuk memukulku? Sunbae, kau hanya punya sepuluh menit lagi."
Pemuda itu bersusah payah untuk menahan tawa ketika enam orang seniornya langsung menghambur dan saling menginjak untuk meraih lentera di atas pohon tadi.
"Kyuhyun-ah. Terima kasih."
"Kau bisa mengandalkanku, Seohyun."
::::::::::
Sungmin menatap jalan raya yang masih senantiasa ramai. Ia berdiri mematung tak jauh dari pintu keluar restoran tempat dirinya dan Kyuhyun baru saja bertemu. Wajahnya sekilas begitu tenang tanpa emosi apapun. Namun kedua poros indera penglihatannya masih menatap pada pergerakan manusia-manusia di jalan.
"Karena Lee Sungmin masih mencintai Cho Kyuhyun."
Ia membenci dirinya yang tak membiarkan bocah laki-laki itu menangis sendirian. Ia membenci bualannya hingga bisa mengembalikan uang yang dulu sudah dirampas padanya. Ia benci sudah menjadi kekuatannya. Ia benci harus bertemu lagi dengannya. Dan Sungmin semakin membenci diri sendiri yang harus mencintainya.
;;;;;
-10 years ago-
Desahan dan napas memburu, tetesan keringat pada permukaan kulit masing-masing, tarian lidah dalam setiap pertemuan ruang hangat, dan usaha mendominasi akan tubuh satu sama lain menjadi satu-satunya 'tarian' dinamis malam panjang tanpa rencana. Mereka menggigit, mengecap getir dan rasa asin dalam satu kesatuan harmoni gairah duniawi. Satu jalan terlarang untuk satu yang ingin memiliki, dan dimiliki bagi yang lainnya.
"Kau tahu apa yang terjadi pada batu bara ketika dipakai untuk membuat sebuah kapal besar bergerak?" Kyuhyun menatap berlian hitam yang sudah sarat akan kabut lelah dan gairah secara bersamaan. "Mereka terbakar, semakin menghitam, rapuh, kemudian hanya tersisa sebagai butiran abu yang terombang ambing bahkan hanya sebuah hembusan angin kecil."
Kini butiran air asin itu mengalir bersamaan dengan semua kekuatan. Malam itu mereka menjadi satu untuk pertama kalinya. Mengutuk diri sendiri akan semua takdir yang mempertemukan.
"Aku ingin menghancurkanmu, Kyuhyun."
"Satu-satunya yang akan hancur itu adalah kau, Sungmin. Kau akan menghancurkan dirimu untuk membuatku bersinar."
"Aku membencimu."
Kyuhyun menggeleng "Kau tidak akan berhenti mencintaiku."
-end of flashback-
;;;;;
Kyuhyun tumbuh menjadi seseorang yang berani, bertahan hidup dengan kecerdasannya yang arif. Semua karena bocah sepuluh tahun yang ditemuinya. Ia tak lagi menangis. Ia tampil menakjubkan di depan para gadis. Dan sesekali licik untuk menghadapi kerasnya hidup.
Sungmin sama sekali tak pernah berpikir bahwa Kyuhyun akan terus mengingatnya. Menjadikan dirinya sebagai sumber kekuatan dan keberaniannya untuk melangkah. Haruskah ia bangga akan kenyataan itu? Pada kenyataannya tidak. Sungmin membuatnya semakin bersinar dan bergerak dinamis. Memiliki Sungmin di sekitarnya membuat Kyuhyun terus menapaki kesuksesan dalam berkarir.
Dan pemuda itu mulai takut kehilangan jati dirinya.
Berada di sekitar Kyuhyun akan menghancurkan dirinya.
"Min..."
Sungmin menoleh. Sedikit terkejut dengan panggilan yang justru terdengar lembut itu. "Oh? Kau bilang apa tadi?"
Hankyung tersenyum sambil menggelengkan kepala, "Aku belum bicara apa-apa. Hanya beberapa kali memanggilmu. Ada apa? Apa pertemuan dengan rekan kerjamu tidak berlangsung baik? Kau tidak bicara sejak aku menjemputmu."
Sungmin menunduk. Untuk yang kesekian kalinya ia harus tertangkap 'basah' melamun. "Aku tidak tahu ini pertanda baik atau buruk." Pemuda itu memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya pada bahu Hankyung. Matanya terpejam berusaha mengusir potongan-potongan masa lalu yang semakin sering terlihat. "Hankyung?" ia memanggil pria yang saat ini tengah mendekapnya, membuatnya tidak hanya sekedar bersandar. Kehangatan secara menyeluruh.
Hankyung menyukai jemarinya yang menyisir helaian rambut hitam Sungmin. Sangat lembut di telapak tangannya. "Hm?" pria itu menjawab panggilan.
"Menurutmu, apa yang membuat orang tuamu memutuskan untuk mengambil hak atas perusahaan kami?"
Hankyung seperti merasakan jantungnya berhenti berdetak. "Sungmin—"
"Apa orang tuaku sudah membuat mereka marah? Melakukan sesuatu yang jahat pada keluargamu?"
Hankyung tak punya apapun untuk dikatakan, "Sungmin... aku—" belum selesai lelaki itu terkejut, dirinya merasakan kelembutan yang familiar di antara perpotongan leher dan tulang pundaknya. Kemudian berlanjut pada kedua pergelangan tangan yang melingkar pada lehernya.
"Hankyung, berapa banyak percintaan yang harus aku lakukan untuk menyingkirkan aromanya dari tubuhku?" Sungmin terisak. "Aku masih bisa merasakan sentuhannya, aku masih bisa mendengar desahan napasnya. Lidahnya masih terasa penuh berada di mulut ini. Apa yang harus aku lakukan?" Sungmin semakin mengeratkan pelukannya, "Lihat. Bahkan saat ini aku begitu tanpa jarak denganmu. Tapi tetap tak bisa menyingkirkan bayangannya."
Hankyung hanya berusaha menahan gemuruh di dada. Ia tak tahu apa yang sebenarnya menimpa Sungmin, pria itu hanya menarik napas panjang, "Aku berharap bisa mengembalikan semuanya padamu."
Sungmin tersenyum, kemudian tertidur dalam pelukan Hankyung.
::::::::::
Kyuhyun mendapati dirinya terbangun di atas sofa, masih dengan pakaian lengkap. Sakit kepala langsung menyergap saat ia mencoba untuk duduk. Pria itu tak mampu mengingat berapa banyak gelas anggur yang mengisi dahaganya tadi malam. Beruntung ia masih bisa mengenali rumah dan tidak salah masuk apartemen lain.
Sesaat Kyuhyun berpikir untuk menghubungi Seohyun. Mungkin sekedar membantunya untuk menghilangkan efek mabuk. Tapi saat ia mencoba meraih ponsel dan mulai mencari dalam daftar nama, Kyuhyun langsung membatalkannya begitu saja. 'Tidak... dia bukan yang kubutuhkan saat ini.'
"Kau tidak mengingatku, Sungmin?"
Kyuhyun mendengar lagi kilasan pertemuan dengan lelaki bermarga Lee itu sepuluh tahun silam. Jantungnya terasa hangat dan berdebar secara bersamaan. Sumber kekuatannya, pusat kehidupannya. Saat itu rasanya ia bagai dapat melompat hingga menyentuh langit. Kyuhyun menemukannya. Sungmin ada di hadapannya.
Ia ingat wajah itu, dua mata yang penuh kepercayaan diri, tulang hidung menawan yang menunjukkan bahwa dia menghirup aroma berbeda dari orang kebanyakan. Aroma ketegasan dan keangkuhan. Dan bibir itu... bibir yang selalu bergerak untuk membuat orang harus selalu berdiri di pinggir jurang keputusan.
Namun sejak saat itu, Kyuhyun tahu bahwa Sungmin yang ia temui memiliki cahaya yang berbeda dari dua puluh tahun silam. Matahari pernah membuat pluto bersinar karena pantulan cahayanya. Namun tak pernah membuatnya mendekat. Pluto selalu berada jauh dari poros alam semesta tersebut. Sungmin tak pernah membiarkan Kyuhyun berada benar-benar di dekatnya.
"Aku ingin membuktikan sesuatu, Kyuhyun."
Suara Sungmin kembali terdengar di kepalanya.
"...bercinta denganku malam ini."
Kyuhyun tak tahu apa yang Sungmin maksudkan dengan 'pembuktian'. Sampai akhirnya semua hal terasa mudah dalam hidupnya. Ia hanya sebuah bayangan dulu, namun Sungmin tidak hanya memantulkan cahayanya, pemuda itu memberikannya. Kyuhyun bukan lagi bayangan. Ia berdiri di tempat yang sama, terlihat nyata, dinamis, tersentuh, dan melihat tanpa sadar membuatnya 'menghabiskan' sumber kekuatan yang Sungmin berikan.
Sungmin mencintainya...
"Sekarang aku menyesal kenapa dilahirkan sebagai laki-laki jika harus bertemu denganmu." Suara Sungmin kecil menggelitik hatinya. Kyuhyun dapat melihat kembali dalam kegelapan bagaimana wajah itu merengut begitu lucu. "Kyuhyun-ah, jangan membenciku ya... kuarasa aku menyukaimu."
Lee Sungmin masih mencintainya...
:::::::::
"Maafkan aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Aku harus kembali ke studio. Mereka mendadak menghubungiku." Donghae memberikan tatapan (rasa) bersalah pada kekasihnya. Dirinya harus datang lebih pagi dari biasanya ke tempat kerja. Dan hal itu berarti tidak mengantar Amber ke tempatnya berlatih.
Wanita itu tersenyum dan menggeleng cepat. "Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir." Ujarnya membuat Donghae mau tak mau juga ikut tersenyum lega.
"Hubungi aku jika sudah selesai. Kupastikan kita akan makan siang bersama hari ini. Kujemput kau di sanggar."
Ingin tahu apa yang Amber kerjakan? Dia seorang penari latar dan aktris drama musikal.
Amber mengangguk dan beranjak keluar mobil, namun ia merasakan sebuah tangan menahannya. Dan hal selanjutnya yang terjadi membuat jantungnya berhenti untuk beberapa detik. Donghae memberikan kecupan singkat pada bibirnya. "Jangan sampai terluka." Pria itu berbisik halus membuat sang kekasih terbangun kembali dan ingat jika dirinya harus bernapas.
"O-oh..." Wajah Amber memerah.
Amber harus meyebrang untuk sampai pada halte bus yang akan membawanya ke tempat tujuan. Namun otaknya masih belum bekerja dengan benar. Ia terus saja memegangi wajahnya yang tak kunjung bersuhu normal kembali.
Dan ketika baru beberapa langkah ke depan, ia mendengar suara bising klakson dan merasakan tubuhnya seperti terhempas. Ia pasrah jika aspal jalanan akan membentur kepalanya saat ini. Semua terjadi hanya dalam dalam sepersekian detik. Begitu cepat.
;;;;;
Sungmin tersenyum dan menggeleng ketika tak sengaja memergoki sepasang kekasih tengah berciuman di dalam mobil. Walaupun bukan sebuah ciuman penuh gairah. Ia sempat berpikir di dalam mobil adalah pasangan sesama jenis, namun ketika memperhatikan seseorang keluar dari sana, Sungmin tahu sosok dengan rambut cukup pendek dan pakaian casual itu adalah wanita. 'Gadis tomboy' pikirnya.
Pagi ini Sungmin memutuskan untuk pergi menggunakan transportasi umum. Sekaligus mencoba diri jika orang-orang masih melihatnya dengan pandangan aneh saat berjalan. Ia begitu percaya diri ketika orang-orang mulai mengabaikannya. Tak lagi memandang aneh pada bagian bawah tubuhnya. Sungmin sudah berada dalam kontrol penuh kaki 'baru'nya itu.
Kemudian hanya dalam beberapa detik, ia mengumpat.
Gadis tadi. Gadis tomboy yang ia lihat tadi dengan wajah bersemu merah saat keluar dari mobil sang kekasih. Kini masih saja berwajah bodoh, memegangi wajah dengan kedua tangannya, dan... menyebrang pada lalu lintas ramai tanpa memperhatikan bahwa rambu belum memperbolehkannya melintas.
Suara klakson mobil begitu memekakkan telinga. Semua terjadi hampir bagai kecepatan cahaya. Tubuhnya membetur kaca depan sebuah mobil dan detik berikutnya sudah terhempas ke jalanan.
Semua orang di sana langsung berlarian, dan Sungmin merasakan pandangannya berubah gelap.
::::::::::
Kyuhyun bergerak gelisah. Ia tak berhenti mondar-madir di dalam ruangan. Matanya sesekali memperhatikan jam antik besar yang berdiri angkuh di sudut ruangan. Sudah hampir jam makan siang, dan orang itu belum juga datang. Apakah ia sudah melakukan kesalahan? Apa dia gagal membuktikan teorinya? Apakah Sungmin menolak tawarannya? Dan bagaimana jika Sungmin memang tak pernah mencintainya?
Pria itu hampir gila memikirkan semuanya. Kemudian ia merampas kasar ponsel dari atas meja.
...
-hospital-
Pemandangan pertama yang Sungmin lihat saat membuka mata adalah seseorang membungkuk hormat padanya. Dan ketika ia mencoba untuk duduk, sosok itu langsung menghambur mendekat untuk membantu. "Aku.. baik-baik saja." Ujarnya walaupun tidak membuat orang tadi menghentikan gerakan membantu pada tubuhnya.
Dia gadis itu. Yang merona setelah mendapat ciuman dari kekasihnya, yang menyebrang jalan dengan seenaknya, yang hampir saja berada dalam posisinya sekarang. "K-kau... baik-baik saja hyungnim?" suaranya berat, namun siapapun masih bisa mengetahui jika sosok ini memang perempuan.
Hyungnim? Kenapa gadis ini justru memanggilnya seperti itu. Dia benar perempuan, bukan? Pikir Sungmin.
"A-ah, maaf, jika aku lancang. Tapi aku tak tahu harus memanggilmu seperti apa." Amber bicara takut-takut. Ia sudah siap jika harus mendapat bentakan dari seseorang yang hari ini sudah menyelamatkan nyawanya. "Aku minta maaf!" ia berdiri tegak dan kemudian membungkuk dalam beberapa kali.
Sungmin sungguh tak tahan melihatnya, "Hey... sudah... berhenti membungkuk. Kepalamu akan sakit nanti." ucapannya membuat Amber berhenti. "Kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka, bukan?"
Amber menggeleng cepat, "Aku baik-baik saja. Terima kasih. Semua karena dirimu—hyung, bagaimana dengan kepalamu? Mereka bilang tidak ada yang rusak, tapi aku ingin memastikan jika kau tidak merasakan sakit."
Sungmin menyetuh keningnya. Ia mendapati sebuah kasa tertempel di sana. "Hm... sepertinya akan ada bekas luka di sini." Ujarnya sambil tersenyum. Pemuda itu benar-benar tak ingin membuat gadis di hadapannya terus merasa bersalah.
"Tuhan... bagaimana ini?" wanita itu menunduk lagi. Wajah paniknya benar-benar lucu dimata Sungmin.
"Hey, siapa namamu?" Tanyanya berusaha mencairkan suasana.
"Amber. Amber Liu..."
"Kau bukan orang Korea?" Sungmin mengangkat alisnya. "Ah, kau bicara bahasa korea dari tadi. kenapa aku bertanya seperti itu?" ia menggeleng dan sengaja membuat wajahnya terlihat bodoh. Kemudian lega saat melihat sosok di sana tersenyum memamerkan gigi-gigi putihnya.
"Kedua orang tuaku memang bukan warga negara ini. Tapi kami sudah lama menetap di Seoul."
Sungmin mengangguk, rasanya sudah cukup mengorek informasi mengenai siapa gadis yang sudah ia tolong beberapa jam lalu. Belum terlalu penting untuk tahu lebih jauh. Lagipula dirinya juga tak terluka parah. Semuanya akan berakhir damai.
"Hyungnim, kau ingin makan sesuatu? Aku akan membawakannya secepat kilat ke sini. Kau tahu? Dulu aku pemegang rekor pelari tercepat di sekolah." Amber bicara dengan antusias. Ia seperti lupa tengah berada di mana saat ini.
Pemuda itu terkejut mendapati dirinya tertawa. Tawa yang sesungguhnya. Bukan tawa mengejek atau bahkan sebagai usaha membuat seseorang semakin merasa kecil ketika bicara dengannya. Sungmin tertawa. Ia dapat merasakan otot-otot wajahnya mengendur dan terasa nyaman. Amber membuatnya merasakan sedikit kebahagiaan yang tak pernah ia temui lagi sejak dua puluh tahun lalu.
Satu hal yang tidak Sungmin ketahui, gadis itu juga merasakan kehangatan yang sama...
"Ah. Aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi... kaki kananmu..." Amber kini bicara ragu. Saat itu ia benar-benar panik jika dalam usaha penyelamatannya, Sungmin jadi harus kehilangan salah satu kaki. Yang kemudian diketahui bahwa benda itu adalah palsu. Pemuda di hadapannya (memang) tidak memiliki satu kaki.
Sungmin menggeleng, masih sambil tersenyum. "Kau tidak akan suka mendengar ceritanya."
Amber langsung menyadari bahwa topik itu bukan suatu hal yang ingin Sungmin bagi. "T-tenang saja, kau tetap tampan! Kau tahu? Beberapa perawat wanita tadi bahkan berbisik dan menyebutmu sangat menawan."
"Kau juga wanita. Apa kau juga berpikir seperti i—"
"Tentu saja!"
Sungmin diam mendengar Amber yang memotong pertanyaannya dengan dua kata, dan sangat lantang. Mulutnya terbuka karena tak percaya. Lalu tertawa lagi ketika melihat Amber memukul mulutnya sendiri dan berbisik 'bodoh'.
"Sepertinya aku tidak perlu menginap. Benar bukan?" Sungmin bertanya ketika untuk sesaat keheningan yang aneh menyelimuti keduanya.
Amber mengangguk. "Oh, aku lupa mengatakan padamu. Aku minta maaf karena sudah mengangkat ponselmu tadi. Karena kupikir seseorang pasti sedang mengkhawatirkanmu." Wanita itu terlihat memilah kalimatnya, "Hmm... tadi dia sempat marah saat aku mengangkat telepon. Jadi kupikir seseorang memang sedang menunggumu. Aku... memberitahu dimana kita berada sekarang. Dan... dia bilang akan langsung datang kemari."
Sungmin tidak perlu melihat siapa nama yang melakukan panggilan itu. Hankyung kadang memang terlalu berlebihan jika menyangkut dirinya. Ia dapat membayangkan akan seperti apa kalimatnya saat datang nanti. Sungmin harus mempersiapkan diri mendengar segala omelan.
Namun pikiran-pikiran itu langsung saja lenyap ketika mendapati siapa yang menyibak tirai bangsal tempat Sungmin terbaring.
Rambut (sedikit) berantakan, kemeja digulung sebatas siku, dan dasi yang tidak terpasang dengan benar. Jangan abaikan jika pria itu juga terengah-engah. 'Apa dia habis berlari?'
"Apa yang kau lakukan di sini?" Pertanyaan itu sebetulnya tak memerlukan jawaban. Sungmin segera mendapati bahwa asumsinya mengenai orang-yang-menelepon dan bicara dengan Amber tadi adalah salah. Orang itu bukan Hankyung. Dia... Cho Kyuhyun.
Pria itu langsung membuang napas panjang ketika melihat Sungmin tidak seperti pada pikiran-pikiran jeleknya sepanjang perjalanan tadi. Kyuhyun mendekat dan duduk di atas ranjang, pada sisi dimana Sungmin berada. Benar-benar melupakan wajah Sungmin yang kembali 'gelap' saat menatapnya, dan seorang gadis-berpakaian-laki-laki yang masih berada di antara mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini, Hyung?" Amber tahu siapa laki-laki yang ada di hadapannya ini. "Kalian saling mengenal?"
"Amber?" Kyuhyun cukup terkejut ketika menyadari siapa yang ada di antara mereka.
;;;;;
"Aku tak mengantar sampai ke dalam." Kyuhyun bicara seadanya saat mereka tiba di depan gedung tempat Amber bekerja.
"Aku tidak pernah minta." Amber menjawab sekenanya. Ia langsung berpaling pada Sungmin yang duduk di bangku depan. "Hyungnim, telepon aku jika butuh sesuatu. Aku akan langsung datang. Kau tahu kan kalau lariku ini sangat cepat?" ujarnya dengan senyum jahil. Ia memberikan secarik kertas berisi nomer ponselnya.
Sungmin mengangguk, "Aku akan terus mengingat kemampuanmu itu. Hati-hati, jangan pernah melamun lagi di jalan. Itu sangat berbahaya."
"Yes, sir!"
...
"Aku terkejut jika akhirnya ada seseorang yang memintamu meneleponnya. Kau sungguh mencoba bersosialisasi selama beberapa bulan terakhir ini, Sungmin." Kyuhyun menyunggingkan senyum mengejek. Yang tentu saja tidak akan bisa Sungmin lihat dari tempatnya duduk.
Pemuda itu hanya diam. Pemandangan lalu lintas di luar sana lebih menarik.
"Amber adalah juniorku saat sekolah dulu. Dia memang sangat bersemangat. Tenaganya kadang lebih besar dari lelaki kebanyakan. Dan ya, dia pelari yang hebat."
"Aku tidak ingat kalau aku pernah bertanya."
Sedikit kejengkelan langsung mengalir dalam darahnya. Kyuhyun tahu bicara dengan Sungmin tak akan pernah lagi menyenangkan seperti dua puluh tahun lalu. Pria itu hanya menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol emosi. Dia juga harus tetap fokus pada kemudianya. "Aku akan mengantarmu pulang. Jangan bertanya darimana aku tahu dimana sekarang kau tinggal. Kau tidak akan menyukai ini. Aku mengikutimu pulang setelah pertemuan kita kemarin."
Sungmin tak lagi menjawab hingga mereka turun di parkiran sebuah apartemen mewah. Tempatnya tinggal dengan Hankyung saat ini. Kyuhyun mengikuti Sungmin walaupun pria itu tak pernah diminta untuk mengantar sampai pintu. Ia terpesona dengan kontrol pemuda itu pada kaki palsunya. Seperti miliknya sendiri. Sungmin masih terlihat sempurna saat seperti itu.
Mereka berhenti di salah satu pintu. Kyuhyun diam-diam merekam nomer yang tertera di benda kotak besar di sana. Dan ketika Sungmin hendak mendorong pintu untuk segera masuk, Kyuhyun menahan lengannya. "Sungmin..." sebuah keheningan beberapa detik. "Jaga dirimu baik-baik. Karena mulai saat ini... kau akan kembali membuatku berjalan tegak. Kau akan ada di sana untuk mendukungku. Kau akan menjadi kekuatanku."
Sungmin tak lagi menghindar. Ia menatap Kyuhyun dengan campuran emosi yang terpancar menjadi sebuah kepercayaan diri utuh. Sungmin akan menunjukkan keberaniannya sekali lagi. "Aku ingin tahu apa yang bisa kau berikan padakau jika aku bersedia melakukannya." Bisik pemuda itu.
Kyuhyun mengendurkan cengkeraman tangannya, namun tidak serta merta melepaskan. Lengan itu justru beralih mengunci tubuh Sungmin hingga berada tanpa jarak dengannya. "Semua yang kau inginkan." Kyuhyun balas berbisik di wajah Sungmin. "Aku akan memberikan semua." Pria itu mengeratkan pelukannya (pada pinggang Sungmin) lagi dan lagi... "Aku juga ingin membuktikan sesuatu, Sungmin..."
Mereka merasakannya kembali untuk sepuluh tahun yang hilang. Kehangatan indra pengecap di dalam mulut masing-masing. Ciuman penuh, dengan rasa dan aroma yang sempat menghilang. Pergerakan lembut, namun cukup menghadirkan desiran hangat di perut mereka. Sebuah rasa yang luar biasa. Dan sedikit terselip kerinduan.
Mereka terpisah dengan saliva yang masih terhubung. Kyuhun menatap bibir Sungmin yang memerah. "Sejauh ini sepertinya aku tidak melakukan kesalahan." Sebelum akhirnya tenggelam lagi dalam satu sesi tarian ciuman yang lebih dalam.
"Hero... I'm still loving him."
Mereka tak menyadari ada tatapan tak percaya di sana. Sosok itu mundur teratur, walaupun tak bisa melakukan hal yang sama dengan detak jantungnya. "Apa yang harus kulakukan?"
.
.
-to be continued-
.
.
A/N : God! Just kill me... TT_TT yes... that rated-paragraph is Kyuhyun and Sungmin *how pervert I am...
I wonder if every KyuMin's author have some fucking feeling as I did now. Finally, Kyuhyun-Sungmin's moment... kkk~. Even its just a slight, i hope you guys really flow up with my story. I'll work harder. Promise. so tell me kindly if this story become weirder every part. Hahaha...
I have beta now. She really a good author I ever met. At least she's gonna tutor how-make-a-good-rated *slapped XD no I'm just kidding. But She really wanna teach me since I have no experience to make a KyuMin's story. I admit that I'm not a newbie for writing. But... this is my first to broke some rules (ffn mention there is forbidden to make a real-player story—I dunno what its that means). Sssst... (^_~)
I can't tell you guys who's my beta. She's gonna kill me if I do.
Thank you very much for reading...
-venus-
Note from beta: Maaf untuk banyak kesalahan tulis yang tidak saya perbaiki. Venus adalah orang gila yang mungkin akan menjungkirbalikkan hati kalian, joyers. Jadi berhati-hatilah T_T
