Mystery Club

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated T

Main Chara : Naruto U & Hinata H.

Warnings : AU, OOC, Typo, Alur Maksa, No Romance etc.

Happy Reading! ^^

.

.

"Kenapa kau selalu disini?"

Bel pulang sudah berbunyi dan Naruto memilih untuk mencari sosok gadis yang ditemuinya tadi pagi itu. Banyak hal yang ia ingin tanyakan sebelum membantu sosok gadis itu. Dan seperti dugaannya, sosok itu berada di ruangan dimana pertama kali mereka bertemu –Mystery Club. Hal itu membuat Naruto penasaran dengan hubungan antara sosok itu dan ruangan sepi di belakangnya ini.

"Karena disini kosong." Baiklah, hantu atau roh seperti Hinata memang suka tempat kosong dan sepi, dan ruangan Mystery Club ini memang masuk kategori, tapi perasaan Naruto mengatakan ada yang lain. Memang sejak dia bisa melihat hantu, perasaan Naruto pun menjadi ikut lebih peka. Jadi wajar jika Naruto tak percaya jawaban Hinata begitu saja.

"Karena disini ruanganku." Maksudnya?

"Ini adalah ruang klub yang kubuat dulu."

"Aku suka dengan hal-hal berbau misteri, karena itu aku buat klub ini." Hinata memandang papan kayu bertulis 'Mystery Club' yang sudah mulai pudar.

"Kyaaa.. Akhirnya aku punya klub juga!, mulai sekarang akan aku selesaikan semua misteri di sekolah ini."

Hinata ingat ketika ia pertama kali memasang papan itu. Itu adalah salah satu kenangan dari sedikit kenangan yang masih ia ingat ketika hidup. Kenangan indah.

"Jadi kau yang membuat klub ini?" Hinata mengangguk bangga.

"Oh, lalu kenapa sekarang klub ini tidak ada?"

Hinata menggeleng, raut wajahnya sedih "Tidak tau"

"Setelah beberapa hari aku mati temanku sebenarnya masih ke ruangan ini meski sedang dalam liburan. Setelah liburanpun ruangan ini masih dibuka. Tapi setelah itu ruangan ini dikunci dan tidak ada lagi yang masuk kesini. Aku hanya bisa melihat mereka melewati ruangan ini begitu saja. Sedih rasanya melihat hal yang begitu aku perjuangkan diabaikan orang lain." Hinata menunduk, menggoyang-goyangkan sebelah kakinya, kebiasaannya ketika perasaannya sedang tidak enak. Sedih dan kecewa.

"Aku merasa dengan ditutupnya klub ini berarti mereka juga melupakanku"

Naruto juga ikut merasa sedih jadinya. Dilupakan itu hal yang sangat tidak menyenangkan.

"Bukan berarti mereka melupakanmu," Hinata mengangkat wajahnya, memandang pemuda di depannya.

"Mereka hanya tidak ingin terus larut dalam kesedihan karena kehilanganmu. Mereka kan juga punya kehidupan untuk terus dijalankan. Mereka pasti berpikir kalau terus sedih memikirkanmu justru akan membuatmu sedih di alam sana." Naruto mencoba menghibur Hinata.

Hinata tersenyum. Perasaannya jadi lebih tenang sekarang. Naruto benar, ia memang sedih saat ia melihat teman-temannya menangis tersedu-sedu sambil memandang fotonya. Dan saat teman-temannya tersenyum bahagia mendapat pengumuman kelulusan mereka, Hinata juga ikut bahagia walau ia iri karena tak bisa seperti mereka. Naruto juga benar, mereka tidak melupakan Hinata karena pada saat upacara kelulusan, mereka meletakan foto Hinata di depan ruangan aula dan memberikan bunga untuknya sambil mendoakannya agar Hinata segera ditemukan, agar Hinata dimanapun dia berada saat itu diberi kesehatan dan keselamatan, agar Hinata bisa kembali berkumpul bersama mereka, meski kejadian itu sudah satu tahun berlalu.

Hinata tersenyum lebar "Kau benar, mereka pasti tidak melupakanku. Karena di dunia ini orang baik yang seperti aku ya cuma aku." Ucap Hinata narsis dan bangga.

Meski menyebalkan, tapi Naruto ikut senang. Sepertinya gadis ini bisa menularkan suasana hatinya pada Naruto. Kenapa ya?

"Terimakasih ya."

"Untuk?" Naruto mengernyit heran. Dia melakukan apa memang?.

"Semuanya. Menghiburku dan mau membantuku." Oh itu.

"Tidak masalah, kita teman kan?" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Naruto membuat Hinata tercengang. Dengan semangat ia mengangguk mengiyakan ucapan Naruto.

Sebenarnya Naruto sendiri cukup kaget dengan ucapannya yang tiba-tiba itu. Bagaimana dia bisa mengatakan kalau mereka berteman? Padahal kan Naruto baru tau Hinata tadi pagi dan yang terpenting sosok di depannya ini bukan manusia. Dia arwah.

Tapi Naruto juga tak memungkiri kalau ia senang bisa berteman dengan sosok di depannya ini dan juga menjadi orang yang berguna jika ia berhasil membantu Hinata nanti. Ada perasaan bangga.

Naruto menoleh, melihat papan bertulis 'Mystery Club'. Ada yang aneh menurutnya. Kenapa klub ini di tutup ya? Tidak adakah yang ingin membukanya lagi?.

Hinata memiringkan kepalanya memandang Naruto yang tengah serius menatap papan atau sepertinya dia tidak benar-benar menatap papan tua itu. Dia sepertinya sedang melamun. Melamunkan apa? Apa yang sedang dia pikirkan?


Bersama Hinata disampingnya, Naruto berjalan menuju ruang guru. Sebisa mungkin Hinata menekan hawa dingin yang menguar dari dirinya karena berada di tempat ramai seperti ini. Bel istirahat berbunyi 15 menit lalu sehingga banyak siswa yang berlalu lalang di koridor.

Naruto hampir terbiasa ketika seseorang berjalan disampingnya, melewati Hinata begitu saja. Tak seperti tadi, ketika seorang guru berjalan dengan cepat ke arahnya. Dirinya hampir berteriak melihat guru itu yang berjalan tanpa halangan meski di depannya ada Hinata. Naruto lupa kalo gadis disampingnya hanya bisa dilihat dan disentuh olehnya.

"Kau dibelakangku saja." Desis Naruto, ia masih merasa ngeri melihat gadis itu berkali-kali ditembus begitu saja. Tanpa bertanya, Hinata menuruti perintah Naruto.


Naruto dan Hinata duduk di bangku depan ruang guru –tempat tunggu bagi orang yang ada urusan dengan guru. Kebetulan guru yang akan ditemui Naruto masih berurusan dengan siswa lain sehingga ia harus menunggu.

"Eh, jangan duduk disini!" Naruto menghalangi seorang siswa yang akan duduk di sampingnya. Sebelah kanannya kan ada Hinata. Siswa tadi mengernyit heran. Bangkunya kan kosong? Pikirnya.

"Disini tadi ada orangnya." Tak mau ambil pusing siswa tadi duduk di samping Naruto –disisi lain pemuda kuning itu.

Naruto menghela napas, ia melihat Hinata yang tengah tersenyum ke arahnya. Ia jadi ingat ketika tadi menemui gadis ini di ruang Mystery Club.

"Aku akan mencoba membuka klub ini lagi"

"Benarkah?" Naruto mengangguk.

"Mungkin ditutupnya klub ini ada hubungnya denganmu, aku akan mencari tau,"

"Terimakasih"

Gadis ini benar-benar bahagia tadi. Tanpa sadar Naruto tersenyum.

Naruto melihat ke dalam ruang guru yang terlihat ramai dari balik kaca jendela, tak hanya guru saja disana, beberapa siswa juga ada.

"Ah, itu Kabuto!" Hinata menunjuk seorang guru laki-laki berkaca mata, rambut abu-abunya dikuncir. Naruto tidak mengenalnya. Dia kan baru tiga hari disini, wajar kan.

"Kau kenal?" Naruto berbicara sepelan mungkin, namun diusahakan agar Hinata tetap mendengarnya. Disini cukup ramai, ia tidak mau dianggap gila karena terlihat berbicara sendiri.

Hinata mengangguk. "Dia sahabatku, dia anggota Mystery Club selain aku" Hinata tersenyum, matanya masih memperhatikan kegiatan guru yang usianya lebih dari kepala tiga itu. Tiba-tiba raut muka Hinata berubah menjadi sedikit kesal dengan kerutan di dahinya. Melihat itu, Naruto alihkan pandanganya ke objek perhatian Hinata. Ternyata sekarang guru yang Naruto tau bernama Kabuto sedang berbicara dengan guru perempuan berambut hitam dan dikuncir kebelakang. Naruto kenal. Kalau tidak salah namanya Anko, guru Bahasa Inggris yang baru kemarin mengajar kelasnya. Apa Hinata juga mengenal Anko-sensei?

"Kau kenal Anko-sensei?" Hinata menganguk.

"Dia teman sekelasku seperti Kabuto, tapi sepertinya dia tidak menyukaiku dan membenciku. Tapi aku tidak tau kenapa?" Hinata memejamkan matanya rapat, ia seperti sedang berpikir keras.

"Tapi sepertinya aku tidak membencinya meski dia adalah orang yang paling tidak suka dengan klubku," Hinata melanjutkan.

"Tapi kalau tidak salah," Hinata nyengir saat mengatakan itu. Naruto hanya menghembuskan napas maklum. Ia ingat, Hinata pernah bilang kalau dia hanya ingat nama keluarganya dan beberapa temannya. Sedangkan memori tentang kehidupannya semasa masih hidup tak terlalu ia ingat.

"Tidak disangka, ternyata mereka masih di sekolah ini, bukan sebagai murid lagi." Hinata tersenyum. Sepertinya ada sedikit perasaan iri.

"Kau juga sama," Hinata menoleh, maksudnya?

" Masih di sekolah ini dan bukan sebagai murid lagi. Tapi.." Naruto menggantung kalimatnya. Hinata penasaran.

"Arwah gentayangan.." Sialan Pemuda ini. Naruto harus menahan tawanya melihat muka cemberut Hinata.

"Kau mau kubunuh ya?" Hinata menjulurkan tangannya seolah akan mencekik Naruto.

"Eh jangan!" Suara Naruto yang lepas kontrol membuatnya menjadi pusat perhatian. Seketika Naruto terdiam, ia nyengir lima jari sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Hehe maaf ya, maaf.." Ucap Naruto kepada siswa-siswi yang ada disana.

Hinata hanya tersenyum penuh kemenangan, tapi kemudian senyum itu berubah menjadi sebuah senyum tulus penuh kebahagian. Ia memandang Naruto yang masih sibuk meminta maaf. 17 tahun penantiannya, ternyata tak sia-sia. Seseorang akan membantunya mengurangi rasa sepi yang sudah lama ia rasa juga akan membantunya menuju tempatnya sesungguhnya. Tempat yang abadi.


Naruto masuk ke ruang guru ketika siswa yang tadi berurusan dengan guru yang akan ia temui sudah keluar ruangan. Naruto melewati Kabuto dan Anko-sensei –karena meja guru yang akan ia temui berada disamping mereka, ia sedikit membungkukan badannya. Di belakang pemuda itu, Hinata tersenyum ke arah teman lamanya, yang tentu saja baik Kabuto maupun Anko tidak melihatnya, yang mereka rasakan hanya hembusan angin yang terasa dingin.

"Ohayo sensei.." Ucap pemuda itu yang hanya dibalas sebuah anggukan dan sebuah isyarat tangan yang menyuruhnya untuk menunggu sebentar.

Setelah menutup teleponnya, guru berambut hitam pendek itu menatap Naruto "Yap, ada apa?" Ucapnya.

"Ehmm, kau Uzumaki Naruto kan?" Sambungnya.

Naruto menganguk. "Benar, Shizune-sensei,"

"Aku sudah memutuskan akan masuk klub mana."

"Oh begitu, lalu kenapa kau menemuiku? Kau kan tinggal menemui klub yang kau pilih?" Shizune bertanya heran.

"Aku butuh persetujuan sensei dan kepala sekolah." Shizune mengangkat sebelah alisnya.

"Karena aku ingin masuk klub misteri." Kalimat Naruto sukses membuat Kabuto yang tak sengaja mendengar obrolan Naruto dengan Shizune menghentikan aktifitasnya dan memilih untuk terus mendengarkan. Tak hanya Kabuto, Anko yang sedang berjalan untuk keluar ruangan pun menghentikan langkahnya, ia sedikit menengok kesamping, menunggu apa yang akan mereka bicarakan.

"Tapi, setauku klub itu sudah lama dibubarkan?"

"Karena itu, aku ingin agar klub itu ada lagi. Lagipula hanya klub itu yang menarik perhatianku." Shizune seolah tengah berpikir.

"Sensei, lagi pula memangnya kenapa klub itu dibubarkan?" Naruto mencoba mengorek informasi.

Shizune menatap Naruto, ia menggeleng. "Aku tidak tau, aku baru 6 tahun disini, yang kutau dari data sekolah, klub itu dibubarkan karena tidak ada peminatnya dari sejak dibuat sekitar err –Shizune tampak berpikir- 18 tahun lalu, hanya ada 2 anggotanya" Naruto hanya ber'oh. Pasti yang dimaksud adalah Hinata dan Kabuto.

"Jadi bagaimana sensei? Rasanya sayang jika ada ruangan di sekolah ini yang dibiarkan kosong"

"Ya, kau benar. Kebetulan kepala sekolah sedang memikirkan tentang ruangan disamping aula itu, mungkin dia akan setuju dengan usulanmu ini."

Naruto tersenyum, ia melirik Hinata yang sedari tadi hanya diam disampingnya. Gadis itu juga tersenyum kearahnya. "Terimakasih sensei."

"Eh, tapi kau harus mencari guru pembimbing," Shizune menambahkan, ia hampir lupa kalau klub harus memiliki minimal seorang guru pembimbing.

"Dulu tidak ada guru pembimbing?" Hinata bersuara, tentu saja hanya Naruto yang mendengarnya.

"Bukannya dulu tidak ada sensei?" Naruto bertanya.

"Sebelum aku disinipun sudah ada guru pembimbing di semua klub, Naruto." Naruto menggangguk paham. Mungkin kebijakan ini ada setelah Hinata meninggal.

"Biar aku saja!" Suara seorang pria dewasa menarik semua perhatian Naruto, Shizune, Hinata bahkan Anko yang masih menguping. Anko yang mengenal suara itu hanya tersenyum sinis dan memutuskan untuk keluar.

"Kau Kabuto, biasanya kau selalu menolak jika ditawari menjadi guru pembimbing?" Shizune memandang guru berkacamata itu heran. Sedang pria disebelah Naruto itu hanya tersenyum.

"Dulu aku salah satu anggota klub misteri, karena itu senang mendengar kalau ada siswa yang tertarik untuk membuka klub itu lagi," Kabuto memandang Naruto yang dibalas senyum canggung oleh siswa yang tidak lebih tinggi darinya itu.

"Baiklah, biar kubuatkan surat rekomendasinya, kalian berdua tunggu sebentar."

"Baik." Naruto menjawab, Kabuto mengangguk, Hinata tersenyum bahagia.

Hinata memandang Kabuto yang sedang mengobrol dengan Naruto. Ia merasa rindu, tapi ada sesuatu yang sedari tadi mengganjal hatinya sejak pertama ia bertemu. Ini memang pertemuannya yang pertama meski dari obrolan yang Hinata dengar, Kabuto sudah 5 tahun mengajar. Karena memang sebelum ada Naruto, Hinata hanya berada di ruang Mystery Club tanpa berminat untuk berjalan-jalan di sekolah dan mengeluarkan hawa dingin yang pastinya akan membuat warga sekolah disekitarnya merasa merinding.

Hinata masih memandang lekat sosok pria dewasa disamping Naruto. Apa? Perasaan mengganjal apa ini? Apa aku ingin memeluknya ya?. Ya mungkin saja perasaan itu adalah keinginan memeluk teman yang tak pernah ia temui selama 17 tahun. Mungkin saja.


Setelah mendapat tanda tangan dari kepala sekolah, Naruto memasang pengumuman tentang Mystery Club dimading sekolah, ia juga menaruh beberapa lembar formulir. Hinata dan Naruto memandang pengumuman itu, mereka sama-sama tersenyum.

"Aku berharap anggotanya akan lebih banyak dari saat pertama aku buat klub ini.."

"Aku tidak terlalu berharap, tujuanku kan hanya untuk membantumu."

Hinata melirik sebal pemuda disampingnya. Apa anak muda jaman sekarang begitu? Mereka tidak pernah dengar pepatah Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui atau Sambil Menyelam Minum Air ya?

Deg Deg

Tiba-tiba Hinata merasa perasaan aneh ini –lagi. Ia memegang bagian dadanya. Ada yang sakit, amat sakit. Perasaannya menjadi sangat tidak enak. Naruto yang melihat Hinata seolah kesulitan mengambil napas –padahal kan arwah tidak bernapas- memandang cemas.

"Hinata?" Jelas ada nada kekhawatiran disana.

Kini Hinata menutup kedua telinganya, kemudian salah satu tangannya meremas rambutnya. Pandangan sosok gadis itu tak fokus. Raut mukanya menjadi panik, seperti ada yang sedang mengejarnya, ada yang menakutinya.

Kekhawatirannya pada sosok arwah cantik yang bertingkah tak biasanya membuat Naruto baru sadar jika langit yang tadi sangat cerah sudah berubah menjadi gelap. Angin pun bahkan berhembus terlalu kencang menimbulkan beberapa benda terbang kesana kemari. Sepertinya akan ada badai besar. Naruto dapat melihat siswa-siswi yang berteriak berlari masuk kedalam gedung. Suasananya menjadi begitu mencekam sekarang. Bahkan tadi Naruto dapat melihat hantu yang langsung menghilang begitu saja –seperti ada yang mengejarnya.

"Akan ada yang mati.." Naruto yang sedari tadi melihat sekitar langsung melihat kearah Hinata yang menunduk. Akan ada yang mati? Tadi Hinata bicara seperti itu? Hinata menatap Naruto. Mata bulan bertemu dengan warna blue shappire. Tatapannya cemas dan khawatir.

"Cepat masuk!" Hinata memerintah. "Jangan pergi seorang diri hingga badai ini selesai!" Belum sempat Naruto bertanya, Hinata melanjutkan perkataanya. "Ini.." Hinata memegang kalung biru milik Naruto. "Terus pakai ini, jangan lepas!" Ucapnya.

Naruto mengangguk, hampir ia akan berlari masuk, sebelum.. "Tapi kau bagaimana?" Naruto bertanya khawatir.

"Aku akan baik-baik saja jika kau juga baik-baik saja," Hinata tersenyum. Naruto mengerti. ia berlari masuk menuju kelasnya meskipun banyak sekali pertanyaan berlari-lari di kepalanya. Ketika akan menaiki tangga, Naruto sempatkan melihat ke arah tempat Hinata tadi, tapi ternyata kosong. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana.

.

.

TBC

.

.

Curhatan Author : Yap akhirnya rampung deh chap 3. Haaah dari kemaren mood aku lagi bagus banget nih lagi bahagia. Ga bisa berhenti senyum dan nangis terharu. Ya tentu aja karena pairing tercinta akhirnya Canoon! Yeey \:D/ meskipun aku sebenernya hinata-cent sih tapi naruhina tetap lah nomer uno! Reader adakah yg seperti saya?! Sini sini aku peluk ({})/darikemarennihbocahbertingkahgila/ Ya sudah segitu aja curhatannya, makasih ya buat yang udah review,fav dan follow juga yg udah mau baca :) review review lagi lah yayaya~

Jakarta, 7 November 2014

Salam, Mey Lovenolaven ^^~