MAAF SOAL CHAPTER 1 YANG SUDAH KEDELETE. SOALNYA ADA HAL YANG MENYIMPANG SEDIKIT DI ALURNYA.

YAH INI EMANG KISAH NYATA TAPI GA SEPENUH NYA NYATA DISINI. YANG NYATA ITU CUMA KONFLIKNYA, KALO ADEGAN ADEGANNYA SEPARUHNYA UDAH WENDY ROMBAK.

Maaf banget

Maaf.

.

.

.

.

.

Chapter sebelumnya

"Sudah cukup berhenti tertawa aku disini untuk mengerjakan tugas bukan untuk mengering kan rambutmu ataupun mendengar kan mu tertawa" dengan terburu buru Jongin mengambil tas ranselnya yang terongok mengenaskan di bawah meja

"Jong tunggu dulu" melihat Jongin mengambil ransel mililnya, segera Sehun menyusul Jongin yang buru buru pergi menuju pintu depan.

"jong berhenti"

'greb

Tangan Sehun berhasil menggapai pergelangan tangan Jongin yang hampir saja memutar knop pintu rumahnya

Sekali sentakan tanggan Sehun lepas dari pergelangan tanganya, kesempatan emas untuk pergi dari rumah Sehun batin Jongin

Sehun yang melihat bagaimana aura hitam yang menguar dari Jongin hanya diam saja saat tangan yang tadi menggenggam pergelangan Jongin disentak dalam sekali sentakan oleh empunya.

"Minggir"

Sehun hanya melihat langkah Jongin yang semakin menjauh dari balik pintu meninggalkan rumahnya

Dan sekarang apa, Sehun malah kalut sendiri.

.

.

Sekali ketik maaf kalau ada typos

Chapter 3

Ruang kelas yang awalnya ramai mendadak sunyi karna dikagetkan dengan suara debuman pintu yang tiba tiba digeser kasar sang ketua kelas tapi acara mari-diam-sejenak itu tidak berlangsung lama karna mereka mengindahkan adegan tersebut.

Sehun dengan wajah yang sama sekali tidak berubah setiap harinya terus berjalan menuju bangkunya.

Dengan hati hati sehun menengok deretan bangku ke 4 tapi nihil, segera iris matanya memandang pintu masuk yang beberapa menit lalu menjadi bulan bulanan moodnya yang sedang buruk pagi ini. Dipandanginya lagi pintu tersebut dan rasanya beberapa menit kedepan pintu kayu tersebut akan membeku karna mendapat hadiah tatapan dingin Sehun.

Srak

"Jonginn! Selamat pagi" tiba tiba celetukan khas tanda kutip Wendy Son menggema seantero kelas

Jongin yang ditatap seantero kelas dengan reaksi berbeda hanya acuh tak acuh sembari melewati deretan kursi kursi kelas dan tak lupa menunjukkan bahasa mata 'maaf dia bukan temanku, sungguh.

"selamat pagi Wendy, dan tolong jangan berteriak aku sungkan dengan seisi kelas" tukas Jongin sembari mendudukkan bokongnga di kursi.

"Ish Jongin aku hanya ingin mengumumkan kalau kau sudah datang ke kelas" Wendy bukannya memelankan suaranya malahan semakin mengeraskan suara

"Stt diam wendy ah" Jongin yang bingung bagaimana menanggapi sikap chair mate nya hanya membekap mulut Wendy persis seperti kejadian di kantin tempo hari mungkin Jongin balas dendam.

"lepaskan, kau tau aku bicara seperti ini karna aku ingin menunjukkan kepada Oh Sehun kalau kau sudah datang dari tadi ia memandangi bangkumu terus menerus dan hmmmpthasdfghjkl" lagi Jongin membekapnya, astaga mengapa harinya tidak pernah seindah mendapat tiket konser vvip secara gratis.

"Pelankan suaramu Wen"

"Iya iya dasar hitam tanganmu bau"

Setelah mengatakan hal nista tentang tanganya Jongin lagi lagi menghadiahkan death glare nya.

"Jadi begini….."

Jongin yang mendengarkan penjelasan Wendy bagaimana sikap Sehun yang terus memandangi bangkunya seperti menanti kedatanganya membuat Jongin meletup letup ahh sepertinya sedikit mukjizat pagi ini.

.

Dikantin ramai seperti biasa, Jongin dan Wendy juga makan seperti biasa tapi tiba tiba ada seseorang yang mendaratkan bokongnya di meja mereka.

"o oh hai Sehun" Wendy yang pertama menyapa orang yang baru saja duduk disebelahnya.

Jongin yang sayup sayup mendengar nama Sehun tanpa basa basi mengangkat kepalanya.

"mau apa kau kesini?" tanya jongin penuh selidik

"kau punya mata atau tidak?"bukan menjawab Sehun balik bertanya dengan menyodorkan nampan makanya ke hadapan Jongin seolah olah mengatakan 'ini makanan bro, jadi aku kesini untuk makan

"Wen sepertinya aku sudah kenyang, aku duluan ok" pamit Jongin seraya membereskan sumpit.

Sehun yang melihat Jongin melenggang pergi kelabakan membereskan makananya dan tak lupa pamit kepada Wendy.

.

"Heh hitam" panggil Sehun

"Anak baru" lagi karna tak mendapat jawaban

"Hei Jongin" sekali lagi karna Jongin malah mempercepat langkah kakinya dikoridor

Sehun terus mengejar Jongin yang semakin cepat, ia hiarukan orang orang yang baru saja ia tabrak karna serius mengejar Jongin

Grep

"kauuuu anak baru apa kau tak punya telinga, aku lelah memanggilmu Jong Jongin Jongin, tidak punya sopan santun cih" omel Sehun sambil menunjuk nunjuk Jongin seolah olah Jongin barang kotor

"sudah selesai yang terhormat oh Sehun" Jongin hanya merolling bola matanya mendengar ocehan Sehun seolah olah ialah yang salah padahal sebaliknya menurut Jongin.

Sehun yang dibalas dengan kata kata sarkasme hanya diam, niatnya ingin meminta maaf soal kejadian kemarin tetapi malah menambah permasalahan.

.

Klank

Suara botol soda yang sengaja Jongin tendang sembari berjalan pulang dengan chairmate nya yang super duper cerewet

"jongin aku laparr"

"ehh apa" jawab Jongin seadanya

"dari tadi aku sudah memgoceh dan kau bertanya apa? Kau kenapa Jong ahh aku tau kau memikirkan Sehun kannnn" selidik Wendy

"T tidak untuk apa aku memikirkanya malahan hari hari ku sangat tentram" jawab Jongin kikuk karna yah mungkin ia sedikit rindu dengan sang ketua kelas yang super duper ganteng, bohong kalau Jongin mengatakan ia senang karna Sehun menjauhinya.

"Jong kau tahu tidak" tiba tiba Wendy mengambil suara

"Tidak" jawab Jongin seadanya lagi, kan memang benar ia tidak tahu

"Benar kata Sehun kau memang idiot jong" balas Wendy sambil memangut mangutkan dagunya menyetujui perkataan Sehun tempo hari.

"Jangan bahas Sehun aku muak mendengarnya"

"baiklah baiklah kali ini aku akan bahas pacarnya saja hehe" Wendy mengatakan nya dengan wajah ceria tanpa dosa. Dasar. Tidak lihat apa Jongin disebelahnya sudah berasap mendengar pacar, garis bawahi pacarrr Oh Sehun sang pujaan hati.

"kan sudah kukatakan jangan membahas Oh Sehun" bentak Jongin kan sampai kelepasan.

"Ehh kenapa kau marah? Kan aku membahas pac-" melihat wajah Jongin yang sepertinya akan meledak sebentar lagi Wendy hanya memakan bulat bulat kata kata yang hampir di luncurkanya.

"Maaf maaf sudahlah jangan marah, tapi saranku kau jangan dekat dekata apalagi berurusan denga Sehun"

"ya ya akan kucatat nanti" jawab Jongin sok murung.

.

Sudah seminggu Sehun menjauhinya, jangan tanyakan seperti apa keadaan Jongin, normal seperti biasa tentunya.

Tapi ada sedikit keinginan untuk berbicara dengan Sehun, ia merasa terombang ambing dengan situasi seperti ini, Sehun yang salah tapi kenapa ia malah yang ingin meminta maaf.

.

"Aku ingin bicara sebentar"

"kau sudah bicara kalau kau mau tau"

Datang tiba tiba tetapi juga pergi tiba tiba dengan menyeret lengan Sehun dan sukses mendapat perhatian seluruh penghuni lorong yang Jongin lewati, ia tak peduli jika setelah ini ia akan di cap sebagai anak baru yang belagu, tapi apa boleh buat ia tidak betah jika tidak berbicara dengan Sehun.

"Kenapa kau menjauhi ku?" tanya ku langsung to the point saat sampai di atap gedung sekolah

"Kenapa ya?" bukannya menjawab, Sehun malah memasukan satu tanganya kedalam saku celana bahanya.

"aku sudah membuang segala rasa maluku hanya untuk bertanya dengan mu dan malah kau balik bertanya kepadaku?" jawab ku bersungut sungut karna semua yang kukatakan nya memang benat adanya. Aku dengan rasa malu yang sudah hilang memyeret Oh Sehun keatap berdua seakan akan ingin melakukan hal yang tidak senonoh

"ooh rasa malumu hilang sampai sampai kau tidak melepaskan genggaman tanganmu, aku tersanjung sekalo nona kim" ucap Sehun sembari mengarahkan bola matanya ke arah tangannya yang kugenggam sedari tadi.

Sontak saja aku langsung melepaskan genggamanku, astaga Jongin kenapa selalu gugup didepan oh sehun.

"ini hanya gerak refleks kalau kau mau tau" dengan bodohnya mulutku mengeluarkan kata kata yangbtempi hari kugunakan untuk beralasan ahhh bodoh.

"refleks mu bagus sekali nona kim"

"Aku laki laki bodoh" enak saja ia memanggilku nona, ingin sekali ku lempar ke kutub utura sekarang juga.

"Kenapa kau marah?"

"Karna kau mengataiku nona, asal kau tau saja aku bahkan punya benda yang ada di selakanganmu"

"Kau merasa perempuan?"

"Tidak"

"Yasudah jangan marah, dan bolehkah aku melihatnya" kata tidak senonoh Sehun begitu lancar, yang sukses membuat wajah ku merah sempurna

"maafkan aku soal insiden dirumah ku tempo hari, dan juga saat aku di kantin sebenarnya aku ingin meminta maaf denganmu tapi aku bingung mulai dari mana" aku hanya diam saja saat Sehun memgucapkan kalimat terpanjang yang belum pernah ku dengar sebelumnya. Aku terus diam saja sembari melihat pahatan yang sempurna didepanku, dengan bahu yang tegap punggung yang lebar, ahh ingin rasanya tidur siang diatas badan Sehun. Apa apaan ini

Merasa jika kata kata yang dilontarkanya tidak dijawab oleh lawan bicaranya, Sehun memalingkan wajahnya yang semula memandang ke lapangan, karna ia sangat malu mengatakan permintaan maaf dengan memandang wajah Jongin didepaanya yang sedang melamun seperti memikirkan sesuatu.

"Jong?" tidak ada jawaban

Cup

"Astaga Sehun" pekik Jongin karna baru saja benda kenyal alias bibir Sehun mengecup pipi kanannya

Melihat Jongin yang mebelalakan matanya kaget dan mengusap pipi kanannya yang barusaja ia kecup, Sehun hanya tertawa kecil melihatnya

"Kenapa kau ngalamun? Ada masalah?" dengan ringannya seolah ilah tidak pernah terjadi apa apa padahal barusaja terjadi tsunami di hati Jongin.

"Kau ada masalah?" tentu saja aku punya masalah Oh Sehun bodoh, ia memang bodoh atau bagaimana jelas jelas ia mempunyai kekasih dan dengan enaknya ia malah menciumku

"Ehh iya sepertinya aku belum mengerjakan pr ekonomi ku, aku kekelas. Da Sehun" pamitku karna dwmi apa mungkin saja wajahku sudah memerah seperti lobster rebus

buru buru aku menuruni tangga bohong jika aku pergi ke kelas untuk mengerjakan pr, karna yahh aku tipikal pelajar yang selalu mengarjakan pr, tapi entah kenapa kakiku berbelok ke arah kanan bukanya kekiri

"Hosh hosh disini sepikan" monologku tentu saja aku berbicara sendiri karna disini sepi untuk menyakinkan diriku aku membuka satu persatu bilik kamar mandi.

"Oh Sehun gila, astaga mamaaah Jongin baru saja dicium pangeran" pekik ku tak khawatir karna disini tidak ada orang.

Aku terus saja memandangi wajahku yang memerah berangsur angsur memudar, dan dengan bodohnya disaat saat seperti ini aku malah melarikan diri seharusnya kan tidak coba saja jika aku masih disana aku mungkin bisa lebih ganas menciumnya. Astaga sadarlah anak muda.

Kenapa wajahku lama sekali seperti sediakala. Jika kembali kekelas dengan wajah seperti ini bisa bisa aku di introgasi si cerewet Wendy.

.

Aku kembali kekelas setelah membereskan beberapa masalah di wajahku, tapi ada yang aneh di kelas. Kenapa seantero kelas memandangiku, aku merasa seperti malaikat maut jika dipandangi seperti ini terus menerus. Ah apa jamgan jangan wajahku berubah menjadi hitam?

"wend apakah wajahku aneh?" tanyaku langsung kepada Wendy karna yah ia dari tadi bersemedi di kelas mungkin saja ia mengetahuinya.

"hmm wajahmu…" bukannya menjawab Wendy malah menatapku intens seolah olah ada tumor ganas di wajahki yang menarik perhatianya

"Kenapa?" tanyaku antusias demi apapum aku penasaran

"wajahmu… tambah hitam" dengan polosnya ia menyunggingkan senyum menyebalkanya didepan ku. Mungki. Saja jika ini di komik di keningku terdapat perempatan

"Te ri ma ka sih atas hi na an mu wen dy son" ucapan terimakasih ku tak lupa menekankan.

wajah Wendy semakin kesini semakin absurt saja, ia malah mendekatkan wajahnya bahkan hidung kami hampir bersentuhan.

"tidak tidak chairmate ku yang unyu unyu yang baru saja berciuman dengan Oh Sehun uuu" apa apaan nadanha seperti menimang nimang bayi, dan jangan lupakan soal berciuman dengan o o oh APA OH SEHUN ASDFGHJKL

"Kai bilang apa tadi?' aku masih meyakinkan diriku kalau semisal telingaku kemasukan kecoa bisa saja aku salah mendengarnya.

"kauberciumandenganohsehun ew" kurang ajar sekali anak ini

"Astagaaa uri Wendy dari mana kau mengetahuinya" spontan saja aku menangkup kedua pipinya sampai sampai bibir anak cerewet ini mengkerut sperti ikan, berjaga jaga kalau ia keceplosan berteriak. Karna dipojok depan ada Sehun yang sedang menelangkupkan wajahnya dibalik lipatan tangganya.

"Lupspuskan akhu"

"berjanji kau tidak akan teriak"

"Akkhuh dannnjhi"

"hah hah gila saja kau" bukanya bercerita malah ia berteriak didepan ku

"cepatlah atau ku bekap lagi?kebetulan sebelum kemari aku sempat ke kamar mandi"

"Aku mengetahuinya dari

.

.

Tbc

Terimakasih yang sudah riview di chapter sebelumnya. Paypay

Sampai jumpa di chapter selanjutnya