CHOCO LOVA
.
Adapted from Choco Lova by S Andi
.
.
Park Chanyeol, Oh Sehun
T
Romance, Angst, Family, Yaoi
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
"Baiklah, terimakasih. Ada lagi yang bisa ku bantu?" Ucapnya lembut sambil mengembalikan card milik Chanyeol.
"No, thanks "
Lelaki itu menganggukan kepalanya disertai senyuman manisnya. Senyum manis yang bukan dibuat-buat. Tanpa sadar Chanyeol mengulum senyumnya.
.
"Whats up, man ?" Tanya Lay yang menatap Chanyeol penuh selidik.
Chanyeol hanya mengangkat bahunya lalu kembali duduk di kursinya.
"Park, kau disini untuk berapa lama?" Tanya Jongdae.
"Aku jamin ia takkan lama. Mana betah dia disini"
Chanyeol hanya menaikkan alisnya diantara senyum miringnya itu, menanggapi ucapan Lay.
"Kau benar" ucap Chanyeol pendek.
"Man , Korea itu indah. Kau harus belajar mencintainya. Bukankah ayahmu asli Korea?"
"Hm" jawab Chanyeol malas.
Ayahnya memang asli Korea, dan Hanna eomma asli California, namun sekarang ia sudah fasih berbicara bahasa Korea. Tak ada yang tahu bahwa Hanna eomma sebenarnya bukan ibu kandung Chanyeol.
Chanyeol bukannya tidak tahu kalau laki-laki yang berdiri di balik mesin kasir itu sedang mencuri-curi pandang di sela kesibukannya melayani customer . Bahkan ketiga temannya memergoki pria itu yang jelas-jelas tengah menatap Chanyeol tanpa berkedip.
"Manis" komentar Jongdae tentang laki-laki itu.
"Mana?" Tanya Lay mengedarkan pandangannya ke meja-meja kafe.
"Tidak ada yang menarik" sahut Chanyeol datar.
"Bagaimana dengan yang dikasir? Kurasa ia terpesona akut padamu" goda Jongdae seraya menyesal mojito nya.
Chanyeol memutar kepalanya. Mata bening itu masih menatapnya sebelum akhirnya ia tergagap, buru-buru mengalihkan tatapannya pada layar komputer didepannya.
"Biasa saja"
"Tapi akan menjadi luar biasa jika dipoles sedikit. Bibirnya yang mungil merah alami, rambutnya yang berwarna cokelat madu. Bahkan kulitnya putih cerah. Kalau ia anak orang kaya pasti ia akan sudah menjadi primadona kelas atas"
Chanyeol mengernyit. Sejak kapan Jongdae memperhatikan penampilan seseorang sampai sedetail itu?
"Kau menyukainya, eh?" Tanya Chanyeol.
"Buatmu saja. Kurasa itu tipemu"
Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Aku punya eomma "
"Memangnya kau mau menempel terus dengan ibumu sampai kau tua nanti, eh?" Cibir Lay.
"Yang jelas aku belum tertarik"
"Kau ini payah" ucap Minseok.
Chanyeol melirik jam putih yang melingkar ditangannya. Obrolan singkat yang ternyata sudah memakan waktu dua jam. Ia mengeluarkan ponselnya.
"Halo, appa. Can you pick me up? Now "
"Where are you ?"
"Vave cafe, appa "
"Wait me "
"Of course appa. Thanks a lot "
Chanyeol hanya menaikkan alisnya saat ketiga temannya menatapnya dengan menahan tawa.
"Mau kemana?" Tanya Lay.
"Pulang"
"Pulang? Kau minta jemput ayahmu?"
Chanyeol hanya mengangguk singkat kemudian menyesap Chocolatte nya dengan santai. Tak peduli dengan ketiga temannya yang tertawa hingga memegangi perutnya.
"Hey, kau bukan anak kecil lagi, dude . Lagipula ini masih jam sepuluh lewat sedikit" ucap Minseok di sela tawanya.
"Memangnya kenapa?"
"Eeerrr kau ini payah. Lurus sekali jalanmu?" Cibir Jongdae.
"Sstt kau ini. Kau kan tahu bagaimana Park sejak dulu. Mana pernah dia macam-macam. He's a good boy . Tidak seperti kalian yang pikirannya hanya clubbing dan alkohol"
"Memangnya kau tidak?"
Lay melotot kesal.
"Kau ini sedang ku bela, Park! Eeerrr... well , tapi hanya setiap weekend "
Chanyeol hanya menyeringai. Tanpa tawa dan tanpa sesal. Itulah Chanyeol yang dingin dan datar. Lay sudah hafal di luar kepala. Jongdae dan Minseok juga. Chanyeol bahkan acuh saja saat beberapa bulan lalu menemani mereka ke sebuah club . Ketiga temannya sudah asik berdugem dengan alkohol sementara Chanyeol dengan santainya berkutat pada ponselnya tanpa terganggu sedikitpun dengan musik-musik yang berdentum keras.
.
From : Appa
Kau dimana Yeol? Appa sudah ada di depan pintu masuk
.
Chanyeol mengusap layar ponselnya. Ayahnya cukup cepat. Hanya butuh setengah jam untuk menunggu.
"Appa mau ikut gabung atau kita langsung pulang?"
"Hm, kau dimana?"
"Table 07, appa "
Chanyeol mengernyit saat ayahnya memutuskan teleponnya. Ia tau, ayahnya pasti akan mengecek dengan siapa saja ia berkumpul malam ini.
"Appa !" Chanyeol melambaikan tangannya.
Ayahnya masih saja terlihat tampan, masih saja membuat para wanita menelan ludah karena terpesona. Padahal usianya sudah 48 tahun. Apalagi saat ini, ayahnya hanya mengenakan t-shirt putih lengan panjang dan juga mantel tebal berwarna hitam yang jatuh pas dibadannya yang masih tetap terlihat tegap. Chanyeol bisa melihat tatapan-tatapan lapar dari para wanita yang ada di kafe itu. Kebetulan malam ini adalah weekend . Jadi semua orang berkumpul untuk bersenang-senang, tak peduli sekalipun itu musim dingin.
"Itu ayahmu?" Pekik Jongdae tertahan saat melihat seorang pria berjalan mendekat.
"Hm" Chanyeol mendelik, tersadar jika teman-temannya belum ada yang pernah bertemu ayahnya secara resmi. Hanya sekedar say-hi dari jauh jika menjemput Chanyeol.
Aahh! Salahku! — Chanyeol mengumpat dirinya sendiri.
"Pulang sekarang?" Tanya ayahnya menepuk bahunya.
"Iya. Oh iya appa . Appa belum pernah mengenal langsung teman-tenanku"
"Oh iya? Well , aku ayahnya..."
"Park" bisik Chanyeol ditelinga ayahnya.
"...Park"
"Selamat malam ahjussi , aku Lay. Ini Jongdae dan yang satunya lagi Minseok"
Lay menaikkan alisnya mencoba mengingat sesuatu tentang ayah Chanyeol. Wajahnya sangat familiar dimatanya. Tapi dimana dan siapa?
"Apa yang kau pikirkan? Ayahku memang tampan. Jangan kau pikir ingin menjodohkan ayahku dengan bibimu" tegur Chanyeol.
Kedua temannya tergelak melihat Lay yang tersedak ludahnya sendiri. Lay memang pernah bercerita jika ia memiliki seorang bibi berumur 47 tahun dan sampai sekarang belum menikah.
"Sialan!" Umpat Lay.
"Well , aku pulang dulu. Ayo appa "
"Sudah?"
Chanyeol mengangguk menjawab ayahnya.
"Guys , duluan ya?"
.
.
Jaesung menatap tajam anaknya begitu sudah duduk di dalam mobil.
"Bisa kau jelaskan kenapa kau menyuruhku menyebut nama margamu?"
"Memangnya kenapa?"
"Chanyeol, Yeollie. That's your name "
"Eerr... appa , Chanyeol itu hanya untuk orang-orang terdekat. Terlebih keluarga"
"Kenapa begitu?"
"Pokoknya begitu!" Chanyeol mencebikkan bibirnya kesal. Ayahnya terkekeh.
"Well, itu... kurasa kau harus berhati-hati bergaul dengan temanmu"
"Hm. Kau sudah sering mengatakannya padaku, appa "
"Hei, appa hanya..."
"I know appa. I'll always be your nice boy "
Jaesung menepuk bahu anaknya.
.
.
.
Chanyeol menggeram saat Hanna menepuk-nepuk pipinya berusaha membangunkan anaknya.
"Aku masih mengantuk, eomma "
"Temani eomma ke butik, come on. Yeollie, ini sudah jam delapan pagi" Hanna menarik selimut anaknya.
"Eomma , kenapa harus ke butik lagi?" Sungut Chanyeol.
"Tadinya eomma tidak mau. Tapi Hayeon ahjumma sudah memesankan pakaian untuk eomma , ahjumma , dan anaknya. Nanti malam grand opening nya, Yeol"
"Nanti Yeollie jemput"
"Lalu kau membiarkan eomma naik taxi dengan Baekhyun?"
Chanyeol mendengus. Ia bangun terduduk, mengacak rambutnya frustasi. Dari sekian banyak orang, kenapa harus Baekhyun yang eomma sebut di pagi hari? Gerutu Chanyeol dalam hati.
"Kenapa harus Baekhyun?"
"Yeollie, Hayeon ahjumma sedang sibuk"
"Aku tidak mau!" Chanyeol kembali bergelung di ranjangnya.
"Yeollie..."
"No, eomma. Aku tidak mau mengantar eomma kalau ada Baekhyun"
"Ya sudah, eomma bawa mobil sendiri"
Chanyeol hanya bergumam tak jelas. Ia tahu Hanna kecewa tapi ia tak bisa menutupi rasa tak sukanya pada orang itu. Chanyeol menghela napasnya kemudian kembali memejamkan matanya.
Tangannya meraba-raba ke meja kecil tempat lampu nightstand , meraih ponselnya yang sejak tadi berdering nyaring.
"Hm"
"Hyung! Kau meninggalkan Baekhyun kemarin, eh?" Pekik sebuah suara dari seberang telepon.
Chanyeol menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya. Ia tau itu suara Chansung.
"Hm"
"Astaga! Baekhyun menangis padaku. Kau tega sekali, eh?"
"Bukan salahku. Kau tahu aku tidak menyukainya"
"Tapi Baekhyun menyukaimu"
"Dan kau menolak Daeyoung yang mengejarmu"
"Jangan bawa-bawa Daeyoung disini, Chanyeol hyung. Jelas aku tidak menyukainya"
"Kurasa kau tak perlu jawaban lagi. Kau bahkan tahu rasanya"
"Eerr... well, tapi Baekhyun pribadi yang menyenangkan. Hanya saja... hm, mungkin ia terlalu manja dan ambisius"
"See ? Jadi mulai sekarang berhenti menjadi cupid - nya Baekhyun. Mengerti?"
"Hyung..."
"Noway , Chansung"
"Ah, kau payah! Baekhyun berjanji membelikan Iphone6 jika aku berhasil..."
"Jadi hanya karena Iphone6 ? Lupakan! Memangnya kau tidak bisa membelinya sendiri, eh? Uangmu sudah cukup banyak dari appa "
"Ups, sorry. I can't control my mouth. Aku kelepasan bicara. Seharusnya ini menjadi rahasiaku dengan Baekhyun! Aarrgghh damn it!"
Chanyeol menggeram kesal. Ia segera memutuskan telepon dari Chansung. Ia melirik jam weker di nakas. Pukul 10.30? Perasaan ia baru saja terlelap kembali. Chanyeol beringsut menuju ke kamar mandi.
.
Chansung : Hyung, kau marah padaku ya? Maafkan aku please
Chansung : Hyung, jawab teleponku!
Chansung : Hyuungg!
Chanyeol mendengus membaca pesan dari Chansung. Ia baru saja kembali dari kamar mandi dan hanya memakai boxer.
Chanyeol : Bercandamu keterlaluan! Jngan lakukan lagi.
Chanyeol bergerak menuju ke walk in closet , mengambil t-shirt dan celana jeansnya. Ponselnya kembali berdering. Eomma ?!
"Ya, eomma ?"
"Yeollie, come here right now!" Perintah eomma sedikit dengan nada panik.
"Apa yang terjadi?"
"Eomma di rumah sakit"
"Apa?! Dimana?"
"Cheongdamdong, Cheongdamdong! Lekas kemari, kau naik taxi saja"
Chanyeol tak menyahut ucapan Hanna lagi. Ia segera bergegas keluar kamar sambil memakai jam tangannya.
"Yeollie, mau kemana?" Tanya bibi Daeun dengan kening berkerut.
"Menyusul eomma " ucap Chanyeol singkat sambil menuruni anak tangga.
"Sepatu, Yeol. Kau mau menyusul eomma dengan bertelanjang kaki?" Seru bibi Daeun.
Chanyeol menghentikan langkahnya. Ia memandangi kakinya.
Eeerrr — Chanyeol menggeram kesal.
"Bibi tolong lemparkan kemari! Aku harus segera menyusul eomma "
Tak lama sepasang sepatu terjatuh hampir mengenai wajahnya.
"Lebih kencang lagi! Ku jamin bibi akan ku lempar dengan guci dari Saerin ahjumma " seru Chanyeol yang dijawab dengan tawa keras dari bibi Daeun.
.
.
Berkali-kali Chanyeol menyuruh supir taksi untuk menambah kecepatannya. Ia tak sabar ingin bertemu dengan eomma nya. Yang ada di benaknya, eomma -nya yang terbaring di ranjang pesakitan dengan beberapa luka dan perban di tubuhnya.
.
.
.
Begitu sampai Chanyeol berlari melewati lorong-lorong rumah sakit.
"ICU room?" Tanya Chanyeol pada seorang perawat. Lagi-lagi perawat itu membuatnya kesal. Bukannya menjawab malah menatapnya tanpa kedip.
"Where is ICU room ?!" Sentak Chanyeol kesal.
"Oh, maaf. Lorong depan belok kiri"
"Dari tadi!"
Chanyeol kembali melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat.
Langkahnya berhenti tepat di depan ICU room. Ia mendapati Hanna duduk di kursi panjang bersama Baekhyun di sampingnya. Chanyeol langsung memeluk erat tubuh Hanna.
"Are you okay, eomma ?" Suara Chanyeol terdengar bergetar.
Hanna bangun dari duduknya. Seketika Chanyeol mengecek ke seluruh tubuh Hanna apa ada yang lecet atau tidak.
"Yeollie.."
"Promise you'll never leave me, eomma " bisik Chanyeol sambil memeluk erat kembali Hanna.
"Promise . Maaf eomma membuatmu cemas. Eomma tidak apa-apa, hanya panik saja. Tadi eomma hampir menabrak pejalan kaki. Bukan salahnya, eomma yang memotong jalannya begitu saja saat mau memasuki pelataran parkir butik itu"
"Jadi?"
"Pria itu jatuh tersungkur karena kaget dengan klakson dari eomma "
"Sekarang bagaimana?"
"Sedang diobati luka-lukanya"
"Astaga, eomma . Kenapa harus dibawa ke rumah sakit?"
"Eomma panik, sayang. Eomma sudah urus administrasinya"
"Bukan soal itu. Kenapa eomma tidak meminta paman Kangjun untuk mengantar?"
"Paman Kangjun mengantar ayahmu ke Busan tadi pagi buta"
"Nyonya Hanna?" Seorang dokter keluar dengar senyum ramahnya.
"Sudah selesai, bisa langsung diantar pulang"
Hanna bergegas masuk menghampiri pria itu. Jelas terlihat perban yang melingkar di siku kirinya. Lalu beberapa olesan obat merah di telapak tangan dan sepanjang tangan kanannya. Chanyeol menautkan alisnya menatap pria yang tengah bersikeras dengan Hanna.
"Terimakasih, bibi. Tapi aku bisa pulang sendiri. Ini hanya luka kecil. Tidak seharusnya bibi membawaku ke rumah sakit"
"Tidak. Ini salah bibi. Jangan membantah, bibi akan mengantarmu pulang. Tenang saja, bukan bibi yang akan menyetir kali ini. Ada anak bibi, Yeollie"
"Tapi, bibi..."
"Ayoo" Hanna menarik tangan pria itu.
Aku pernah melihatnya tapi dimana?! — gumam Chanyeol.
"Nah, ini anak bibi. Namanya Chanyeol, tapi biasa dipanggil Yeollie"
Pria itu terdiam menatap Chanyeol yang berdiri menjulang.
"Aku mau terjatuh setiap hari jika akhirnya bertemu dengannya lagi" gumam pria itu tanpa sadar.
"Apa?!" Ucap Chanyeol datar.
Pria itu tergagap saat Chanyeol menautkan alisnya. Namanya Chanyeol, tampan! Eh, tapi masih tampanan aku — ucap pria itu dalam hati sambil bersorak.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Chanyeol.
"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Hanna.
"Tidak, bibi. Dia pernah berkunjung ke kafe tempatku bekerja"
"Se.. Se.. Sehun?!"
Chanyeol menyebutkan nama itu dengan terbata. Oh! Ia menggeleng perlahan. Dari sekian banyak orang di Seoul, kenapa harus dia? Ia menatap datar pria itu. Hanya senyum manis yang ia dapatkan.
"Oh, Sehun? Namamu Sehun? Nama yang bagus. Oh, oke. Ayo, kami akan mengantarmu pulang. Oh iya, Baekhyun tolong bawakan tas ahjumma ya?"
"Baik, ahjumma "
.
.
.
Chanyeol POV
Aku berjalan di belakang eomma dengan dua tangan di saku celana creamku. Tangan eomma menggamit lengan lelaki itu. Sempat ku lirik Baekhyun sedikit... mungkin tak suka dengan lelaki yang tengah bergurau dengan eomma . Eomma bahkan tertawa geli saat lelaki itu berbicara. Entah apa yang dibicarakan.
Satu hal yang membuat keningku berkerut, lelaki itu cukup supel dan sopan meskipun ya, penampilannya sederhana bahkan terkesan cuek. Bicaranya ceplas ceplos sampai terkadang ia memarahi dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol mulutnya.
Berbeda dengan Baekhyun. Sepanjang yang kulihat, Baekhyun menunjukkan attitude nya bahwa ia adalah orang kelas atas. Caranya bicara, caranya berpakaian, caranya berjalan bahkan mungkin caranya makan Baekhyun terpaku pada manner . Ya, aku percaya Baekhyun memiliki manner yang sangat baik. Lihat saja sekarang. Ia berjalan tepat di belakang eomma .
Chanyeol! Stop it ! Kenapa kau harus membandingkan kedua lelaki itu?!
Seseorang dalam diriku meneriakiku. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum miringku.
Ddrrttt.
Aku merogoh ponselku dari saku celanaku.
"Ya, appa ?"
"Mana eomma ? Kau ini bagaimana?! Coba kalau kau mengantar eomma . Pasti eomma tidak akan kecelakaan dan ia akan baik-baik saja"
Ini memang benar salahku. Aku mendengar bagaimana cemasnya appa dari suaranya. Wajar saja. Aku menghela napasku.
"Eomma baik-baik saja, appa . Eomma tadi hampir menabrak orang"
"Oh iya? Lain kali kau harus mengantar eomma kesayanganmu kemanapun, dude !"
"Yes, appa. I'm so sorry for today " ucapku dengan nada sesalku.
"Tapi benar eomma baik-baik saja?"
"Iya, appa "
"Baiklah kalau begitu. Antar eomma ..."
"Aku tahu"
Aku memasukkan kembali ponselku.
"Baekhyun, tolong berikan kunci mobilnya pada Chanyeol"
Ku dengar eomma meminta Baekhyun untuk memberikan kunci mobil padaku.
Baekhyun memberikan kunci mobil dari genggamannya padaku disertai dengan senyum termanisnya. Dia selalu begini, bersikap sok manis agar mendapat perhatian dariku.
"Ini, Yeol..."
Baekhyun tersenyum kaku. Masih sempat ku dengar eomma menceritakan pria lemah lembut itu pada Sehun.
"Jadi, Hun, ibunya Baekhyun menikah dengan kakaknya suami bibi. Nah, ah. Ayo masuk, itu mobilnya"
Perlahan aku menepikan mobilku. Eomma membuka pintu kursi penumpang. Aku melirik eomma tak suka saat eomma duduk di jok belakang bersama Sehun. Sementara Baekhyun di depan, di sampingku. Tapi dasar eomma , eomma bahkan tak menghiraukan tatapanku. Eomma malah asyik mengobrol dengan lelaki itu.
"Yeol.." panggil Baekhyun lirih.
"Apa?" Jawabku datar.
"Nanti malam kau ikut Hanna ahjumma ke acara grand opening ?"
Tentu saja! Sekarang kan aku pemiliknya?
"Lihat saja nanti"
"Oh, aku senang kalau kau akan datang. Teman-temanku pasti akan senang sekali bisa berkenalan langsung denganmu"
"Apa maksudmu?"
"Hehe, aku sering bercerita pada teman-teman tentangmu. Janji ya, kau akan datang?"
Aku hanya terdiam tak menanggapi ucapan Baekhyun.
"Yeollie..."
Aarrgghhh! Aku benci suara manjanya. Aku benci. Aku hanya bisa mendengus sebal.
"Yeol, lampu merah depan belok kiri, ya? Ambil jalan Ssangmundong nomor 67. Itu rumah Sehun"
"Hm" aku menyahut dengan sebuah gumaman.
"Yeol, ini eomma yang bicara padamu"
"Yes, eomma "
Kudengar eomma terkikik saat aku memutar bola mataku. Bukan hanya eomma. Bahkan lelaki itu ikut terkikik bersama eomma . Baekhyun kembali memanggilku.
"Yeollie.."
"Shut up !" Desisku tajam.
.
.
.
Rumah kecil bercat warna pastel terlihat semakin kecil karena diapit dua rumah besar yang mewah. Aku menghentikan laju mobilku.
"Benar ini rumahmu?" Tanya eomma memastikan.
"Iya, bibi. Kecil, ya? Rumahku memang sangat kecil" suara lelaki itu terdengar berusaha tegar. Entah ada apa dengan lelaki itu.
"Kau menyewa disini?"
Lagi-lagi lelaki itu mengangguk.
"Hm, kapan-kapan kita bisa bertemu lagi kan? Kau sudah simpan nomor bibi, kan?"
"Bisa, bibi. Terimakasih banyak"
Aku masih melihat senyum lelaki itu saat aku mulai melajukan mobilku kembali. Eomma nampak bersenandung kecil.
"Sehun. Manis, Yeol.."
"Ya, eomma ?"
"Sehum lucu, ya? Kau tahu tidak, dia hidup sendirian di Seoul. Usianya berapa, ya? Oh, God ! Eomma lupa..." eomma mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ujung jarinya.
"Nah, ah! 24 tahun?"
Spontan aku menginjak rem. Menghasilkan bunyi decitan pada mobilku. Menatap eomma dengan kerutan di keningku.
"Yeollie!" Pekik eomma .
"Apa eomma bilang?"
Eomma menghela napasnya membenahi letak duduknya yang kurang nyaman karena perbuatanku baru saja.
"Ya. 24 tahun. Eomma pikir masih 20 tahunan. Habisnya wajahnya imut sekali"
Aku menggelengkan kepalaku. Kulirik Baekhyun yang duduk di sampingku.
"Oh, sorry " ucap eomma lirih ketika menyadari masih ada Baekhyun diantara kami.
"Oh iya Baekhyun, kau mau ikut pulang ke rumah ahjumma atau..."
"Langsung ke rumahnya saja. Habis itu kita lurus pulang" potongku.
"Yeollie, kan jarang-jarang Baekhyun main ke rumah kita"
"Aku langsung pulang saja, Hanna ahjumma . Kelihatannya Yeollie ingin istirahat" jawabnya lembut dengan senyum tipisnya.
"Yeol..."
"Aku ada perlu. Tadi Kris berkata akan ada lomba foto khusus untuk fotografer freelance , eomma . Temanya belum diberi tahu oleh Kris"
"Ya sudah, mungkin lain kali saja, Baekhyun. Ibu di rumah kan?"
"Ada. Ahjumma mau mampir? Jeonsung appa juga kebetulan di rumah. Kan ini weekend "
"Oh, quality time , ya? Terimakasih sayang, lain kali saja. Yeollie nya sedang ada perlu setelah ini. Well , sampai ketemu nanti malam, ya? Salam untuk ibu dan ayah"
"Bye ahjumma. Bye Yeollie"
Aku hanya menaikkan alisku. Tak lama eomma berpindah di sampingku. Aku kembali melajukan mobilku menuju ke rumah.
"Yeollie, kau tak boleh bersikap acuh terus pada Baekhyun. Semalam Hayeon ahjumma menelpon eomma . Ia bilang Baekhyun menangis. Itu kan karena Yeollie meninggalkan dia di bandara, apalagi sedang musim dingin. Tidak boleh, seperti itu, Yeol"
"Eomma , berapa kali aku harus bilang?"
"Ya, eomma tahu sayang, tapi..."
"Tidak ada tapi, eomma "
Eomma hanya terdiam kembali sibuk dengan ponselnya.
Chanyeol POV End.
.
.
.
Begitu sampai rumah Chanyeol langsung masuk ke kamarnya, menyalakan laptopnya.
"Sedang apa, hyung ?"
"My Goshh !" Pekik Chanyeol begitu menyadari ada orang lain di kamarnya.
Chanyoung? Ia mendapati Chanyoung meringis lebar lalu menghampiri Chanyeol.
"Apa kau tidak merindukanku? Jahat sekali"
"Chanyoung?"
"Iya, ini Chanyoung. Bukan hantu!" Seru Chanyoung kesal.
"Aaaa, hey kiddo " Chanyeol menerjang Chanyoung hingga keduanya bergulat di atas ranjang.
"Aku bukan kiddo lagi, hyung ! Aku bahkan sudah memiliki kekasih"
"Tetap saja kau anak kecil ahahahaha"
"Menyebalkan!" Decak Chanyoung namun tak urung dia tertawa.
"Kapan datang? Dengan siapa?"
"Hm, baru sampai. Aku naik taxi. Hyung, kudengar Baekhyun hyung menangis karena kau tinggal di bandara, ya?" Ucap Chanyoung sangat hati-hati dengan pertanyaannya.
Chanyeol hanya mengangguk kecil.
"O-ooww hyung ku jahat sekali..."
"Apa kau bilang?!"
"Tidak!" Chanyoung kembali tertawa saat Chanyeol mencebikkan bibirnya.
"Chansung?"
"Chansung sibuk, hyung . Dia ada meeting proyek besar"
"Hm, kau tidak sibuk, eh?"
"Ya. Aku sibuk..."
"Sibuk dengan kekasihmu"
Chanyoung memberengut. Chanyeol hanya terkekeh, meninju pelan lengan Chanyoung. Tak lama ia menghentikan gulatannya saat mendengar ponselnya berdering.
"Park Chanyeol here "
"Park, this is me, Kris. I just wanna tell you about theme"
"Oh, what is theme ?"
"My mood booster. Well, you can send your pict by email. I'll send you email address later"
"Okay, thanks a lot, man "
My mood booster ?! Chanyeol terdiam memikirkan sesuatu.
"Kenapa, hyung ? Lomba foto lagi?"
"Iya. Temanya my mood booster "
"Hey, eomma is your mood booster, right ?"
"So ?"
"Konsepnya angel saja, hyung "
"Tumben kau cerdas"
"Makanya kapan-kapan kau harus mengajariku tentang kamera"
"Lebih baik kau belajar bisnis saja dengan Chansung"
"Menyebalkan. Aku tidak suka bisnis"
"Suatu saat appa pasti akan memaksamu"
"Dan kau harus menjadi perisaiku"
"Noway "
"Hyung, please..."
"No !"
Chanyoung memberengut.
"Chanyoung cium nih"
Chanyeol menaikkan alisnya saat Chanyoung mendekatkan wajahnya.
"Mesum!" Chanyeol memukul kepala Chanyoung dengan remote AC.
"Ayolah, hyung "
"Iya, nanti. Asal kau janji kau akan berhenti menjadi cupid nya Baekhyun. Jangan seperti Chansung"
Chanyoung meringis lebar.
"Tapi kau juga janji akan segera cari kekasih dan mengenalkannya padaku"
"Iya nanti"
"Deal ?"
"Hm"
"Yeeaayyyy!"
"Kurasa aku tahu apa yang harus kulakukan dengan eomma "
.
"Chanyounggg" suara Hanna memenuhi kamar anaknya. Chanyoung segera menyambut Hanna, memeluk erat Hanna.
"Eomma pikir kau bercanda akan menyusul kami kesini"
"Serius, eomma "
"Eomma " panggil Chanyeol.
"Iya, Yeol?"
Chanyeol menarik tangan Hanna untuk mendekat.
"Mau ya, eomma ? Eomma hanya perlu merubah merubah warna rambut eomma . Cokelat. Please, eomma "
"Tidak, Yeol. Nanti appa mu marah"
"Eomma.."
Hanna menggelengkan kepalanya. Bukan Chanyeol kalau tak berhenti merajuk Hanna sampai Hanna bilang 'yes'. Ia bahkan sudah menelpon ayahnya. Awalnya ayahnya memarahinya. Ia tak rela rambut hitam Hanna dirubah. Tapi mengingat wajah kecewa Chanyeol, akhirnya ayahnya mengiyakan.
"Kata appa boleh, eomma "
"Hm, lagi pula untuk apa Yeol ikut lomba segala?"
Chanyeol terdiam. Raut wajahnya berubah murung. Ini pertama kalinya Hanna melemparkan pertanyaan bernada meremehkan profesinya.
"Yeol.."
"Tidak jadi. Nanti aku cari model lain saja"
Chanyeol beranjak dari kamarnya bersama tas kecilnya yang berisikan satu set kamera kebanggaannya. Ia meraih kunci mobilnya kemudian berlalu tanpa sepatah kata. Entah kenapa beberapa hari ini Chanyeol menjadi sangat sensitif.
"Yeol, mau kemana?" Tanya Hanna.
"Rumah Lay" jawabnya singkat tanpa menghentikan langkahnya.
"Eomma salah bicara?" Tanya Hanna pada Chanyoung.
"Ya. Pertanyaan eomma mengandung makna meremehkan profesinya. Mungkin"
Hanna terdiam, menatap Chanyoung sendu.
"Jadi eomma harus bagaimana?"
"Tunggu Chanyeol hyung pulang saja"
"Tidak bisa. Ayo antar eomma "
"Aku tidak tahu Chanyeol hyung kemana"
"Come on. Mumpung belum jauh, Chanyoung"
Chanyoung mendesah. Ia menyusul langkah Hanna yang sudah lebih dulu menuruni anak tangga. Masih ada Chanyeol di ruang tengah terlihat sedang berbicara lewat telepon.
"Yeol.." panggil Hanna saat Chanyeol memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Aku pergi, eomma . Mungkin malam pulangnya"
"Eomma salah ya? Maafkan eomma , ya?"
Chanyeol terdiam sejenak.
"Tidak. Aku tahu pekerjaanku tak ada harganya. Orang bilang hanya membuang waktu"
Kalimat Chanyeol mampu membuat Hanna nyeri.
"Yeol..."
"Sudahlah, eomma . Chanyeol janji, tidak akan merepotkan eomma "
"Eomma menangis nih"
Chanyeol menoleh, menatap Hanna yang sudah tak mampu menahan air matanya.
"Maafkan pertanyaan eomma tadi, ya?" Ucap Hanna lirih mendekati anaknya. Chanyeol hanya terdiam memeluk erat Hanna, menghelas napas sesaknya.
"Apa yang bisa ku harapkan dari statusku, eomma . Aku hanya sedang mencoba mencari jalanku sendiri" bisik Chanyeol yang membuat Hanna semakin sesak.
"I'll do everything for you, dear . Termasuk menjadi modelmu"
"Thanks , eomma "
"Janji tidak pergi"
"Ya, eomma . Janji"
Hanna terkekeh saat Chanyeol mengusap air mata di pipi Hanna dengan ibu jarinya.
"Sekalian hyung ajari aku" pinta Chanyoung.
"Hari ini?"
"Iya"
"Besok saja. Hari ini kita antar eomma ke salon, bagaimana?"
Chanyoung mengerjapkan matanya kemudian mengangguk mantap. Hanna melotot lebar.
"Untuk apa?!"
"Cat rambut eomma menjadi cokelat"
"Oh, cat saja ya? Tidak untuk yang lainnya"
"Iya, eomma "
.
.
.
TBC
Mohon sabar sebentar ya untuk ChanHun momentnya, masih lama, mungkin di chapter 3 baru muncul):
Keep review yaa, thanks
.
Salam gulugulu^ω^
