Thanks for the review…
Gomen kalau banyak yang minta lebih hot, tapi yaaah… berhubung Sakura disini karakternya Shicchi buat anti-mesum *plak jadi bakalan lama buat Sasuke nakhlukin dia XD
Yosh cekidot,
WARNING
Soft lemon, OOC, AU, typo (always) berserakan
Tata bahasa jelek, 17 tahun keatas
Don't like don't read but REVIEW!
D I S C L A I M E R
NARUTO © Masashi Kishimoto
It's never too late
Belongs to me; Kurosaki Shicchi
Chapter #3; Jealous grow in my heart
"Hai juga… Uchia Sasuke," kata Sasori tak kalah tajam. Sakura hanya menyatukan tangannya dan meletakkannya di depan dadanya.
"Sasori… senpai?" katanya pelan namun cukup terdengar jelas di telinga Sasuke. Mendengar desahan pelan Sakura, dia mulai menyeringai dan angkat bicara.
"Ahh… Sasori-senpai ada perlu apa?" tanya Sasuke menyeringai. Sasori mengepalkan tangannya kesal. Matanya tetap menatap tajam kepada sang criminal muda ini.
"Hanya kebetulan lewat… dan tidak sengaja melihat hal yang tadi kalian lakukan…" katanya sambil menatap Sakura datar. Sakura tersentak. Matanya berkaca-kaca kemudian menunduk, merasa takut untuk melihat wajah Sasori yang -mungkin- marah saat melihat mereka berciuman tadi. "…dan sepertinya aku menganggu acara kalian ya…" katanya lagi. Sasuke mengangkat alisnya sebelah dan kemudian tersenyum.
"Mungkin…" kata Sasuke membuat Sakura memalingkan pandangannya ke Sasuke.
"Bi-bicara apa kau?" kata Sakura kaget kemudian memandang Sasori seolah berkata 'aku tidak ada hubungan dengannya'.
"Baiklah… lanjutkan saja…" kat Sasori kemudian pergi. Sepertinya dia tidak mengerti tatapan Sakura tadi yah…
"Sasori-senpai!" panggil Sakura yang beranjak dari tempat tidur dan berniat pergi menyusulnya. Tidak. Jalannya terhenti oleh pegangan tangan kuat dipergelangan tangannya.
"Kau mau menyusul si pecundang itu?" tanya Sasuke datar. Sakura terdiam dan tangannya mengepal kuat. "tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhmu," tambahnya lagi.
BRUUK! Sakura melepas tangannya dari cengkraman Sasuke kemudian mendorong tubuh Sasuke dengan kedua tangannya.
"Dengar ya, Uchiha Sasuke! Sampai kapanpun, aku tidak mau memberikan tubuhku padamu! Dan AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU BERCINTA DENGAN ORANG SEPERTIMU!" katanya sedikit teriak kemudian pergi mencari Sasori.
"Hn." Hanya itu yang dikatakannya. Dia menyipitkan matanya dan memandang kedepan. Melihat gadis merah muda itu pergi mengejar Sasori. Kedua tangannya dimasukkan ke kantung celananya. Tak lama kemudian dia berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Sakura, dia mengelilingi kelas untuk mencari Sasori. Matanya berubah cerah saat melihat Sasori berjalan dikoridor sekolah.
"Sasori-senpaaai!" teriak Sakura sambil berlari mengejar Sasori. Yang dipanggil berhenti dan berbalik arah memandang gadis itu. Setelah jarak cukup dekat, gadis pink itu menunduk mengatur nafas hingga akhirnyan dia memandang senpai-nya.
"Senpai…" kata Sakura memulai pembicaraan diluan.
"Kenapa kau menyusulku?" tanya Sasori datar. Sakura memalingkan wajahnya yang memerah.
"A-aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Sasuke…" katanya sambil memainkan ujung bajunya. Kemudian dia menatap Sasori dengan muka memerah.
"Benarkah?" tanya Sasori menaikkan alisnya. Sakura menunduk dan mengangguk. Sasori menaikkan ujung bibirnya dan-
CUP. Bibir Sasori mendarat dipipi Sakura yang merona. "Aku tidak sabar menunggu besok," katanya ditelinga Sakura. Kemudian dia pergi meninggalkan Sakura sendiri yang terpaku sambil memegang pipi bekas dicium Sasori.
"Tch!" dari jauh seseorang yang baru saja melihat adegan tadi langsung mendecak kesal. Kemudian orang itu pergi.
Di gerbang Konoha High school
"Haaaaaah! Si forehead itu kemana sih?" gerutu gadis blonde itu. Sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar indah dipergelangan tangannya.
"Sakura no baka! Kalau datang bakalan aku buat keningnya semakin lebar!" umpatnya lagi.
"Hey Ino," seseorang memanggil namanya membuatnya membalikkan badan dan memandang orang yang memanggil.
"Kau…"
*Its Never Too Late*
"Haaaaah! Kenapa aku lupa kalau hari ini aku janjian dengan Ino? Pasti dia sudah menunggu lama…" gerutu Sakura sambil berjalan cepat menuju gerbang sekolah. Namun, tidak ada Ino disana.
"Oh, Kami-sama! Dia pasti sudah pulang atau pergi sendirian…" gumamnya pelan. Wajahnya sedikit menunjukkan rasa penyesalan.
"Hmm… mungkin aku harus kerumahnya untuk minta maaf," katanya.
SKIP TIME
"Gomen kudasai~" katanya berdiri didepan pintu rumah Ino yang terbilang megah.
"Ino-sama berada di kamarnya. Silahkan masuk," kata salah satu maid dirumah itu. Sakura hanya mengangguk kemudian berjalan menuju rumah Ino. Ini bukanlah pertama kalinya dia memasuki rumah Ino, jadi dia sudah hafal dimana kamar Ino walaupun ada banyak ruangan dirumah megah itu.
"Ahh… ini dia," gumamnya pelan. Kini dia berdiri didepan pintu kamar Ino. Dengan senyum yang terlukis dibibirnya dia mengangkat tangannya hendak mengetok pintu namun-
"Aaaaahhhh… terus sayang…. Uuuhhh…" desahan hebat terdengar dari dalam kamar. Emerald eyes itu terbelalak. Bagaimana bisa? Suara yang tidak asing baginya terdengar begitu bergairah.
'Ino…' gumamnya pelan. Diurungkannya niat untuk mengetuk pintu tersebut. Kini telinganya sudah menempel di daun pintu tersebut. Dia masih ingin menguji pendengarannya tadi.
"Ungggghhhh… aaaahhh… enaknyaaah… ja-jangan ber-henti sa-sayang… oohhhh…" desahan dari suara yang sama terdengar lagi. kali ini Sakura tidak salah dengar dan yakin pada pendengarannya.
Ino sedang bercinta.
'Tapi… dengan siapa?' batinnya. Jantungnya berdetak kencang. Tangannya bergetar disaat dia meraih knop pintu dan mencoba membukanya. Dengan pelan dia memutar knop pintunya dan…
Tidak terkunci. Kemudian Sakura mendorong pintu tersebut sepelan mungkin agar tidak menciptakan suara atau decitan besar. Matanya mengintip dari sela-sela pintu yang dibuka tadi. Mata emeraldnya terbuka lebar seirama dengan tangan yang menutup mulutnya.
Yah… Ino memang sedang bercinta dengan orang yang tidak asing lagi baginya.
Uchiha Sasuke. Kini kepala laki-laki itu sedang berada diantara paha mulus Ino. Menghirup dalam-dalam aroma didaerah kewanitaan Ino.
"Ayo Sasukeeeehh… Tunggu apalagi? Aku ingin kau memasuki-ku. Memuaskanku~" Kata Ino mendesah dengan suaranya yang menggoda. Lawan bicaranya hanya tersenyum kemudian membenamkan kepalanya ke daerah kewanitaan Ino.
"Aaaaah… ya! oohhh… yeah… disitu! Aaahhh…" desahan itu semakin menjadi-jadi. Sakura, entah kenapa ingin marah kepada Ino dan Sasuke. Namun kenapa dia marah?
'Sasuke bukan milikku… lagian kenapa aku harus marah? Justru bagus 'kan? Dengan begitu dia tidak akan dekati aku lagi…' gumamnya. Dia menutup kembali pintu tersebut.
TES…
Air mata tak berguna terjun dengan bebas menuruni pipinya. Sakura menangis. Menangis karena apa? Apa karena dia melihat hal tadi? Debu? Tidak ada debu dirumah megah keluarga Yamanaka. Sakit hati? Aahh… kini dia mengerti…
'Aku cemburu…' ucapnya dalam hati. Tak lama kemudian dia pergi dari rumah megah itu.
Rumah Keluarga Haruno 20.00
"Sakura… kenapa tidak dihabiskan sarapannya?" tanya Tsunade yang melihat anak satu-satunya hanya memainkan sendok dan garpu yang ada didepannya tanpa menyentuh makanannya.
"Aku tidak lapar…" katanya pelan. Disampingnya, Uchiha Sasuke hanya diam tanpa mengeluarkan suara. Sepertinya dia tidak tertarik dalam pembicaraan ibu dan anak itu.
"Aah… apakah kamu jadi kencan dengan Sasori besok malam?" tanya Tsunade tersenyum pelan. Sakura tersentak kaget diiringi rona merah tipis dipipinya.
"J-jadi, Okaa-san…" katanya. Ekor matanya melirik Sasuke. Sepertinya dia menunggu reaksi mantan criminal muda yang stoic ini.
"Waah… akhirnya anakku berkencan dengan pria…" kata Tsunade tersenyum lembut sambil tertawa kecil sementara Sakura tidak menggubris kata-kata Tsunade tadi. Yang ada difikirannya sekarang ini adalah menunggu ekspressi yang dikeluarka Sasuke.
'Kenapa… dia diam saja?' gumam Sakura dalam hati. Senyuman jahilnya keluar seraya menatap ibunya dengan tatapan yang dibuat-buat.
"Aahh… tentu saja, Okaa-san… aku sangat sangat menanti hari esok… mudah-mudahan tidak ada orang aneh yang akan menghancurkan kencanku besok," kata Sakura sesekali melirik Sasuke. Namun Sasuke hanya memasang ekspresi datar.
"Terima kasih untuk hidangannya," katanya setelah menghabiskan makanannya. Kemudian pergi ke kamarnya.
"Hey Sasuke," panggil Sakura sambil membuka pintu kamar Sasuke pelan. Objek yang dia cari dengan membaca buku diatas tempat tidurnya dengan wajah stoicnya yang tidak pernah pudar.
"Hn?" jawab Sasuke singkat tanpa mengalihkan pandangannya terhadap buku itu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya berkunjung," kata Sakura singkat kemudian duduk ditepi ranjang Sasuke. Sasuke tidak menjawab pernyataan Sakura dan hal itu membuat Sakura jengkel.
"Huh! Yasudah. Padahal niatku baik mau berbicara denganmu, tuan Stoic mesum! Kau menyebalkan!" kata Sakura kemudian membalikkan badannya menuju pintu keluar. Namun, dengan cekatan tangan Sasuke menangkap pergelangan tangannya.
"Tetap disini." Kata Sasuke singkat. Sakura terdiam. Walaupun perkataannya lebih cocok sebagai perintah daripada permohonan dia hanya mengangguk.
"Kau berfikir aku ini orang yang jahat?" tanya Sasuke menatap mata Sakura sayu. Sakura dengan gugup langsung menggeleng.
"Dan apakah kau berfikir aku ini orang yang kejam?" tanya Sasuke lagi. Sakura lagi-lagi menggeleng. Sasuke menghela nafas dalam kemudian melepas lingkaran tangannya dipergelangan tangan Sakura.
"Kau boleh pergi sekarang…" kata Sasuke kembali focus pada buku yang dipegangnya.
"Aku… aku ingin mengenalmu lebih jauh…" kata Sakura ceplas-ceplos tanpa pikir panjang. Sasuke memandang wajah Sakura kemudian menaikkan alisnya sebelah. Namun hal itu ditepis Sakura dengan menatap buku tebal yang dipegang Sasuke.
"Besok bukannya ulangan Matematika? Mengapa baca Fisika?" tanya Sakura spontan. Sasuke melirik bukunya.
"Aaah… ini? Buku ini hanyalah cover," kata Sasuke membuat gadis pink itu mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Lebih tepatnya seperti ini," kata Sasuke menunjukkan dalam buku itu. Ternyata ada buku lain yang berukuran lebih kecil didalam buku Fisika yang lebar tadi. Dan itu adalah…
Majalah Playboy.
"Hmmm… kau ingin mengenalku lebih jauh? sepertinya kau sudah jatuh cinta denganku," kata Sasuke tersenyum licik. Kata-katanya barusan mengakibatkan wajah Sakura menjadi panas, marah dan blushing bercampur jadi satu.
"BAKA! Aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan orang MESUM sepetimu!" kata Sakura kemudian pergi dari kamar Sasuke, tak lupa dia membanting pintu kamar Sasuke hingga terdengar suara 'bedebam' yang cukup keras. Sasuke? Hanya tersenyum tipis kemudian melanjutkan bacaannya.
'Ini benar-benar memalukan! Bisa-bisanya aku berkata seperti itu tadi! Aku tidak mau ingat kalau aku pernah berkata seperti itu!' gumamnya.
Besoknya, Konoha High School
"SAKURAAA! Tebak apa yang sudah terjadi kemarin?" tanya Ino dengan mata yang berbinar-binar. Sakuar menggigit bibir bawahnya. Tentu saja dia tau apa yang ingin dikatakan putri tunggal Yamanaka ini.
"Err… kau mendapatkan voucher belanja lagi?" tanya Sakura asal-asalan berpura-pura tidak tau. Ino menggeleng semangat.
"Sasuke… dia nembak aku!" kata Ino sambil meluk Sakura. Sakura hanya tersenyum -dibuat-buat dan membalas pelukan Sakura. Tak lama kemudian orang yang mereka bicarakan datang.
"Sasuke-kuuun~" teriak Ino nyaring. Sakura menutup telinganya, sementara yang dipanggil hanya menatap Ino dengan ekspresi datar kemudian berjalan menuju mereka.
"Hn?" jawab Sasuke setelah cukup dekat dengan Sakura dan Ino.
"Etto… aku diluan ya, Ino. Ada yang harus aku kerjakan." Kata Sakura langsung pergi sebelum Ino melontarkan ocehan protesnya. Sakura pergi tanpa melihat wajah Sasuke.
'Kenapa… aku tidak bisa menatapnya?'
"Hmmm… kau ingin mengenalku lebih jauh? sepertinya kau sudah jatuh cinta denganku," kata-kata itu kembali terngiang ditelinga Sakura.
'Tidak mungkin…"
"Sakura…" segera mungkin gadis pink itu mengalihkan pandangannya kearah orang yang memanggilnya tadi, kemudian tersenyum senang.
"Senpai…" jawabnya sambil berlari kecil mendekati Senpai kesayangannya.
"Aku sudah tidak sabar untuk nanti malam," kata Sakura sambil memainkan tangannya. Rona merah diwajahnya cukup memperlihatkan Sasori betapa malunya dia sekarang.
"Aahahaha… iya, aku juga demikian," kata Sasori sambil mengelus kepala Sakura. Senyum simpul tak pernah pudar dari bibirnya.
-O.O-
Bell berbunyi menandakan berakhirnya pelajaran untuk hari ini. Sakura bergegas untuk membereskan semua alat-alat sekolahnya. Setelah semuanya tersusun rapi, dia beranjak dari mejanya.
"Ino pulang dengan Sasuke?" kata-kata itu terdengar ditelinga Sakura. Ternyata sahabatnya Hinata yang berbicara. Seketika dia mendekati teman-temannya.
"Tidak… katanya dia mau pulang dengan teman sekelasnya," kata Ino. Sakura mengangkat alisnya sebelah.
"Kau yakin, Ino?" tanya Sakura. Gadis blonde itu mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. "Maksudnya?" tanya Ino. Sakura meghela nafas.
"Aku harap… jangan teruskan hubunganmu dengan Sasuke," kata Sakura pelan. Seketika Ino dan Hinata terkejut.
"Apa-apaan perkataanmu barusan? Kamu tidak suka aku bersama Sasuke, Forehead?" tanya Ino sambil berkacak pinggang. Sakura menggeleng.
"Bukan begitu… hanya saja kau tau kalau dia itu pria yang tidak baik," kata Sakura. Ino mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Huh! Siapa peduli? Jangan-jangan kamu cemburu, Sakura?" tanya Ino sambil tersenyum licik. Emerald eyes itu terbelalak. Bibirnya bergetar diiringi air mata yang menetes dengan derasnya. Sakura menggeleng lagi dengan mantap. Melihat aksi Sakura, Ino tersenyum angkuh.
"Aku benci sahabat yang tidak suka melihat sahabatnya senang! ayo Hinata…" kata Ino sambil memegang tangan Hinata. "…kita tinggalkan saja dia." Lanjut Ino sambil pergi sambil menggeret tangan Hinata.
"E-eh? Go-gomene Sakura-chan…" kata Hinata kemudian mengikuti Ino. Sakura terdiam. Dia memegang dadanya yang sakit.
'Cemburu?' batinnya.
"Hmmm… kau ingin mengenalku lebih jauh? sepertinya kau sudah jatuh cinta denganku," Sakura kembali teringat dengan kata-kata yang diucapkan Sasuke. Dia menggeleng lagi.
'Aku menyukai Sasori… bukan si tuan stoic mesum itu!' gumamnya mantap kemudian pergi dari kelas itu. Waktu berjalan terus hingga akhirnya dia sampai didepan rumahnya.
CKLEK! Pintu tidak terkunci. Berarti ibunya atau Sasuke sudah pulang kerumah, pikirnya. Matanya tertuju kepada dua pasang sepatu sekolah. Yang satunya dia tau kalau itu sepatu sekolah milik Sasuke.
'Sepatu yang satu lagi milik siapa?' gumamnya. Kalau dilihat-lihat seperti milik perempuan. Dan itu bukanlah sepatu sekolah Ino. Dan dia ingat kalau Ino tidak pulang bersama Sasuke tadi. Matanya terbelalak.
Sasuke membawa seorang gadis kerumah yang bukan Ino. Sakura memasuki rumahnya secara mengendap-endap. Seperti maling dirumah sendiri.
"Mmmhhh…" Sakura bergidik. Suara desahan terdengar dan itu berasal dari kamar Sasuke. Dengan amarah yang memuncak dia menggebrak pintu kamar Sasuke.
BRAK! Pintu terbuka dengan kasar. Terlihat disitu Sasuke sedang meninndih seorang gadis. Dan gadis itu sangat familiar dimata Sakura. Bagaimana dia tidak tau? Gadis itu yang dulunya mencoba untuk menyakitinya di toilet wanita.
"Karin… senpai?" ucap Sakura. Karin memutar bola matanya. Sasuke kemudian berdiri dan berjalan menuju Sakura.
"Tidak sopan. Ketuk dulu sebelum masuk," kata Sasuke dengan ekspresi datar. Sakura mengepalkan tangannya.
"Ini rumahku! Terserah aku dong! Yang tidak sopan itu kau! Membawa gadis kerumah orang lain dan bercinta?" kata Sakura meledak.
"Huh! Dia cerewet sekali. Bagaimana kalau kita bunuh saja dia?" tanya Karin menyeringai sambil mengeluarkan pisau dari dalam bajunya. Sakura terbelalak kaget. Sasuke melirik Karin sebentar kemudian memasukkan tangannya kekantungnya.
"Maa, Karin. Kau boleh pulang sekarang." Kata Sasuke. Karin terbelalak. Sakura mengerlipkan matanya kaget.
"Heeeh, kau ini bagaimana sih! Aku kan-"
"Aku bilang pulang atau kau yang akan kubunuh." Jawab Sasuke sangar sambil menatap Karin tajam. Yang ditatap memasang wajah cemberut dan segera mengenakan pakaiannya lagi kemudian berjalan menuju pintu keluar. Sakura juga berniat memasuki kamarnya namun ditahan oleh tangan kekar Sasuke.
"Kau mau apa?" tanya Sakura sedatar mungkin.
"Kau menangis?" tanya Sasuke kemudian menatap wajah Sakura. Namun, Sakura menghindari kontak mata mereka.
"Kau cemburu, hn?" tanya Sasuke. Skakk Matt. Sakura tidak menjawab kemudian mencoba melepas pegangan Sasuke.
"Aku tidak cemburu! Dan aku tidak akan pernah cemburu!" kata Sakura kemudian berlari menuju kamarnya.
BRAK! Sakura menutup pintu kamarnya dan bersandar dipintu tersebut air matanya mengalir lagi hingga dia merosot kebawah dan memeluk lututnya.
'Aku membencimu… Uchiha Sasuke….' gumamnya.
*****To Be Continued*****
Gomeeeeeeeeeeeeeeeeeeen! Lemon belum nongol T.T dan mungkin kali ini gabakalan ada yang repyu *nangis dipojokan* maafkan author para readers. Bukannya bikin yang hot malah dimunculin pairing yang lain lagi. Maaf SasuSaku lover, dan SasuIno lover/haters atau SasoSaku lover/haters. Ini hanya untuk sementara aja kok *sujud-sujud* tetap review fic shicchi yaaaa. Aaah… iya, tadi ada sedikit Lemon SasuIno itu hanya selingan. Jadi jangan marahin Shicchi ya T.T
Mind to RnR?
