Naruto by Masashi Kishimoto
Marry Me!
By chocoaddicted
.
.
.
Chapter 3
Sakura's home
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Sakura menggigit bibir bawahnya ketika menyentuh kenop pintu walking closet Sasuke. Ekspresi gelisah terlihat jelas di wajah cantik gadis itu. Ia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa saat bertatap muka dengan Sasuke. Tapi, Sakura sadar jika ia sudah mengulur waktu terlalu lama hanya karena malu bertemu dengan Sasuke setelah insiden gaun yang terlepas dari tubuhnya.
Akhirnya gadis itu membuka pintu setelah mengembuskan napas dengan yakin. Wajah bosan Sasuke yang pertama kali menyapa ketika gadis itumembuka pintu. Secara otomatis pipi Sakura memanas. Ia tidak mengerti mengapa dirinya mendadak jadi gadis pemalu seperti ini. Rasanya bukan dirinya sendiri.
"Aku pikir kau pingsan di dalam sana," Sasuke berujar datar dengan tangan terlipat di depan dada.
Sakura mendengus dan menatap lantai. Untuk apa aku harus malu seperti ini? Sudah pasti dia tidak lihat apapun tadi, buktinya saja sikap Sasuke masih menyebalkan seperti ini. Setidaknya Sakura merasa lega karena berpikir jika Sasuke tidak melihat tubuh setengah telanjangnya. Pada kenyataanya Sasuke mencoba bersikap sebiasa mungkin, walaupun bayangan tubuh setengah telanjang Sakura seolah menempel di retina mata. Lelaki itu berusaha menahan diri dan pertahanan dirinya patut diacungi jempol.
"Kau benar-benar tidak sabaran," Sakura menyahut kesal.
"Cepat pakai topi dan masker itu," Sasuke menunjuk topi dan masker yang terletak di atas meja ruang keluarga dengan dagu.
Sakura dengan malas mengambil masker dan topi hitam yang pernah ia kenakan saat makan malam bersama Fugaku. Gadis itu langsung memahami jika Sasuke menyuruhnya untuk menutupi identitas.
"Kenapa aku harus menutupi identitasku? Bukankah lebih mudah jika orang-orang tahu bahwa aku calon istrimu?" Sakura bertanya tidak mengerti menatap pria yang sudah memakai kacamata berbingkai hitam di hadapannya. Sasuke terlihat berkarisma memakai kacamata, sesaat Sakura kagum melihat wajah pria d hadapannya.
"Tidak semudah itu. Pers pasti berasumsi jika aku mengalihkan isu," Sasuke memakai topi yang senada dengan Sakura, "sudah jangan banyak tanya. Waktu kita terbatas, cepat siap-siap!" pria itupun pergi lebih dulu menuju pintu mencoba mengabaikan desiran aneh yang kembali muncul dari tubuhnya.
"Sepertinya dia tidak bisa jika tidak memerintah," Sakura memajukan bibirnya kesal.
Perjalanan menuju toko perhiasan tidak memakan waktu yang lama. Toko perhiasan itu berada di pusat kota Tokyo. Bangunannya terlihat klasik dengan berbagai ornamen zaman Yunani kuno. Sakura sempat salah mengira jika toko yang ia dan Sasuke datangi adalah museum. Tokonya begitu luas dan berbagai macam perhiasan terpajang dengan cantik.
Seorang pria berambut keabu-abuan menghampiri Sasuke yang berjalan santai di dalam toko. Sakura sedikit bingung ketika masuk semua pagawai membungkuk hormat pada Uchiha bungsu tersebut. Gadis berusia dua puluh lima tahun itusempat takjub dengan sikap pegawai di sana yang sangat sopan.
"Yo, Sasuke! Akhirnya kau mampir ke sini juga,"
Sakura memerhatikan pria berambut keabu-abuan itu menepuk pelan bahu Sasuke dan merangkulnya. Sasuke tidak menolak, pria itu bersikap biasa saja. Sakura yakin pria yang bernama Hozuki Suigetsu—Sakura mengintip dari nametag pria itu, cukup akrab dengan Sasuke.
"Ah! Siapa ini yang kaubawa?" Suigetsu terlihat excited memandang Sakura yang berdiri seperti patung selamat datang di samping Sasuke.
"Sakura, kenalkan ini Hozuki Suigetsu, manajer toko perhiasan ini," Sasuke menatap malas Suigetsu yang menjabat tangan Sakura dengan semangat.
"Jadi, kau gadis yang akan menjadi pengantin wanitanya Sasuke?"Sakura cukup kaget mendengar kata pengantin wanita, ia belum terbiasa dengan hal tersebut.
"Ya, salam kenal. Saya Haruno Sakura,"
"Jangan terlalu formal. Jika kau menikah dengan Sasuke, berarti kau akan menjadi istri bosku," Suigetsu terkekeh.
"Istri bos?" Sakura membeo bingung.
"Loh? Sasuke belum memberitahumu ya kalau toko perhiasan ini miliknya?"
Sakura langsung menatap Sasuke ketika Suigetsu mengatakan informasi yang membuatnya sedikit terkejut. Sedangkan Sasuke yang ditatap penuh selidik oleh Sakura memutar bola mata bosan dan memilih pergi meninggalkan Sakura bersama Suigetsu.
"Lelaki itu benar-benar," Sakura tidak lepas memandang punggung Sasuke dengan tatapan tajam membuat Suigetsu tertawa.
"Tidak banyak yang mengetahui jika toko perhiasan ini miliknya," Suigetsu tersenyum dan merangkul bahu Sakura, "ayo aku tunjukkan cincin pernikahan kalian. Kau pasti akan terkesima,"
Sakura tersenyum simpul saat Suigetsu merangkulnya dan membawa gadis itu ke sebuah ruangan yang dimasuki Sasuke sebelumnya. Sasuke melirik Sakura yang masuk ke dalam ruangan di bawah rangkulan Suigetsu. Melihat ekspresi keras Sasuke, Suigetsu segera melepas Sakura dari rangkulannya.
"Santai, Sasuke. Aku tidak akan merebut Sakura darimu," Suigetsu menyeringai.
Sasuke mendengus dan menatap Sakura tajam seolah berarti 'Jangan mau disentuh pria lain selain aku! Ingat kau itu calon istriku walaupun pura-pura!'. Sakura yang mendapat tatapan tajam Sasuke mengerucutkan bibirnya. Ia tidak mengerti kenapa pria itu selalu melarangnya ini dan itu. Mereka juga tidak terlibat romansa, sehingga seharusnya tidak masalah jika Sakura melakukan skinship dengan lawan jenis selain dirinya.
"Ini dia cincin pernikahan kalian!" Suigetsu membuka sebuah kotak cincin berbahan beludru biru tua di hadapan Sasuke.
Sakura segera menghampiri Sasuke dan melihat cincin yang bertahtakan batu rubydan berlian itu dengan mata berbinar. Sasuke hanya diam saja melihat wajah sumringah Sakura. Pria itu mengambil kedua cincin tersebut dan mencoba memakai cincin dengan ukuran yang lebih besar tanpa hiasan, namun terukir nama Sakura di dalam lingkaran cincinnya. Cincin itu sangat pas di jarinya.
Sasuke menarik tangan kanan Sakura dan memakaikan cincin bertahta batu ruby dan berlian di jari manis gadis itu. Cincin itu begitu cantik tersemat di jari Sakura yang putih. Cincin dengan bahan dasar emas putih itu terlihat berkilauan dan di dalam lingkaran cincin itu terukir nama Sasuke. Sakura bahkan tidak peduli dengan ekspresi tidak romantis Sasuke saat memakaikan cincin itu di jarinya, emerald Sakura hanya terfokus pada benda berkilauan tersebut. Semua wanita memang sama jika berhadapan dengan perhiasan.
"Cincinnya pas sekali di jari kalian. Nyonya Mikoto memang tidak salah mendesainnya," Suigetsu berkomentar memandang takjub cincin hasil karya mendiang ibu Sasuke.
"Nyonya Mikoto?" Sakura menatap Suigetsu penuh tanya. Sedangkan Sasuke tidak bergeming sambil menatap cincin di jarinya.
Suigetsu tersenyum mendengar nada penuh tanya Sakura, "Mendiang ibu Sasuke membuat desain cincin ini sebelum ia meninggal. Desain cincin ini sangat Uchiha sekali bukan?"
Sakura memerhatikan cincin dimana batu ruby dan berlian menjadi satu dengan bentuk kipas khas klan Uchiha. Jadi, cincin ini yang membuat Uchiha Mikoto, ibu Sasuke? Gadis itu lantas memandang Sasuke yang masih berdiri diam memerhatikan cincin yang tersemat di jari manis pria itu. Sakura dapat menangkap segurat garis kesedihan di wajah yang sering terlihat datar tersebut.
Sasuke menoleh ketika merasa Sakura memerhatikannya dengan intens.
"Apa?" tanyanya sedikit ketus membuat Sakura mendengus.
"Bukan apa-apa," Sakura menyahut. Untuk apa tadi aku mengkhawatirkannya? Dia itu 'kan pria yang menyebalkan!
"Cepat lepas cincinnya," Sasuke menengadahkan telapak tangan di depan wajah Sakura.
Sakura berdecak dan melepas cincin yang ia kenakan dan menyerahkannya pada Sasuke. Lelaki itu lantas menyimpan kedua cincin pernikahan mereka ke dalam kotak cincin. Suigetsu segera mengambil paper bag untuk Sasuke.
"Ayo pulang," Sasuke segera pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri bersama Suigetsu. Pria itu memang tidak pernah tahu bagaimana caranya basa-basi.
"Sasuke itu luarnya saja yang terlihat dingin. Sebenarnya ia pria yang hangat dan rapuh," Suigetsu berkata saat mendengar Sakura berdecak kesal memandang punggung Sasuke.
"Aku yakin kau mampu mencairkan hati pria yang dingin itu," Suigestu menepuk bahu Sakura pelan. Sakura terdiam menatap kedua mata Suigetsu yang penuh dengan harapan.
"Hei! Mau sampai kapan kau di sana?" Sasuke kembali masuk ke dalam toko karena tidak melihat Sakura menyusulnya.
"Ya, aku ke sana!" Sakura membungkuk pamit serta mengucapkan terima kasih pada Suigetsu. Ia segera menyusul Sasuke yang sudah tidak sabar menunggu gadis itu.
"Aku harap kau bahagia, Sasuke," Suigetsu bergumam menatap punggung Sasuke dan Sakura yang perlahan hilang di balik pintu toko.
Sasuke menepikan mobil di restoran cina yang terlihat mewah. Pria itu keluar bersama Sakura dengan memakai penyamaran mereka. Sasuke tahu jika gadis yang berjalan di sampingnya ini kelaparan karena sepanjang jalan menuju restoran Sasuke bisa mendengar suara cacing bergerumuh dari perut Sakura.
Biasanya gadis-gadis akan merasa malu saat suara perutnya terdengar oleh lawan jenis. Tapi, Sakura berbeda. Ia justru terkekeh dan meminta Sasuke menurunkannya di kedai yang menjual okonomiyaki. Tentu saja Sasuke menolak karena ia merasa khawatir ada paparazzi yang mengikuti mereka.
Seorang pelayan laki-laki mengantar Sasuke dan Sakura ke meja di sudut ruangan. Untung saja restoran itu sepi sehingga tidak ada yang mengenali jika ada aktor tampan yang sedang terlibat skandal paling hot seantero Jepang berada di sana.
Sasuke selesai memesan menu yang ia inginkan. Lalu, ia menunggu Sakura memesan makanannya. Gadis itu terlihat berbinar-binar melihat menu makanan. Sasuke heran kenapa ada gadis seperti Sakura? Sakura sama sekali tidak peduli dengan berapa banyak makanan yang ia pesan.
"Aku pesan jjamppong, bebek peking, jiaozi, minumnya aku mau jus jeruk dan juga puding strawberry,"
"Kau yakin bisa menghabiskan itu semua?" Sasuke bertanya dengan menaikkan alisnya sebelah setelah pelayan pergi menyiapkan pesanan mereka.
Sakura tersenyum lebar, "Tenang saja. Aku ini sangat ahli dalam urusan makan. Lagipula kau yang traktir 'kan? Jadi, aku harus makan yang banyak,"
"Kau benar-benar mempunyai perut karet ya?" Sasuke menggoda Sakura dengan seringai yang terlihat menyebalkan.
"Aku ini lelah tahu pulang kerja langsung menemanimu ke toko perhiasan, lalu bolak-balik ganti gaun—" Sakura menghentikan ucapannya ketika kembali teringat insiden gaun pernikahan. Ia berdeham mengatasi kecanggungannya, "—ya, ya, pokoknya kau harus mentraktirku makan banyak!" gadis itu mengakhirinya dengan seruan dan wajah merona.
Sasuke menggigit pipi dalamnya agar tidak tertawa melihat gadis itu salah tingkah. Sakura benar-benar bisa membuat dirinya terlihat konyol jika tertawa terbahak-bahak seperti kemarin. Jujur saja, sudah hampir sepuluh tahun Sasuke tidak tertawa lepas. Anehnya semua bisa terjadi dengan gadis yang baru saja ia kenal sejak tiga hari yang lalu.
Rasa canggung Sakura terselamatkan karena pesanan kedua insan itu datang. Sasuke hanya memesan jjamppong. Ia makan dalam diam dan sesekali memerhatikan Sakura yang makan dengan lahap. Pria itu tersenyum simpul dan menikmati makan malam mereka berdua dalam keheningan. Jika bersama gadis itu, Sasuke merasa tidak kesepian. Ia merasa memiliki teman yang mampu membuat hatinya terasa hangat.
Selesai makan malam, Sasuke mengantar Sakura pulang hingga sampai di depan taman dekat apartemen. Sakura masih duduk diam terlihat ingin mengatakan sesuatu, sedangkan Sasuke tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sakura melirik Sasuke yang masih mengenakan kacamata dengan perasaan campur aduk. Ia ingin bertanya, namun ia takut menyinggung perasaan lelaki itu.
"Apa ada yang ingin kaukatakan?" Sasuke tiba-tiba saja bertanya menatap emerald Sakura yang melebar.
"Um... Itu..." Sakura melirik spion tengah dengan gugup.
"Jika tidak ada, sebaiknya kau cepat turun," Sasuke menggerakkan telapak tangan menyuruh Sakura segera turun dari mobil.
Sakura membulatkan mata, "Baiklah! Aku turun!" Sakura berucap kesal dan keluar dari mobil.
Sasuke menyeringai melambaikan tangan dan melaju meninggalkan Sakura seorang diri di trotoar jalan. Gadis itu sangat kesal karena Sasuke mengusirnya. Ia menendang kaleng minuman dengan asal.
"Seharusnya aku tidak bersimpati padanya!"
Sakura sebenarnya ingin menanyakan perihal Mikoto. Namun, ia agak sungkan membahasnya karena takut melukai perasaan Sasuke. Gadis itu bisa merasakan raut murung Sasuke ketika ada orang yang membahas mendiang ibunya. Sakura penasaran apakah penyebab sikap dingin Sasuke itu karena kehilangan ibunya atau bukan.
Gadis itu memutuskan untuk kembali ke apartemen karena malam semakin larut. Ia takut Ino mencurigai yang macam-macam. Baru saja Sakura mau melangkah saat ia mendengar suara langkah orang berlari. Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang pria bertopi hitam sedang berlari seperti dikejar hantu. Gadis itu menyipitkan mata mencoba mengenali sang pria.
"Sasori-kun?" Sakura tidak yakin dengan penglihatannya. Namun, instingnya berkata bahwa pria itu memang benar Sasori saat matanya menangkap beberapa gadis mengejar pria itu.
Saat Sasori hendak melewati Sakura, gadis itu menarik tangan Sasori membuat sang pria menatap Sakura dengan tajam. Sesaat Sakura merasa tidak enak hati, tapi ia harus menyelamatkan idolanya.
"Apa yang kaulakukan?" Sasori hendak melepas genggaman tangan Sakura.
"Ikut saja denganku. Aku tahu tempat yang aman!" Sasori tidak bisa menolak karena keadaan sangat mendesak. Penggemar fanatiknya terlihat semakin dekat mengejar.
"Cepat!" Sakura menarik tangan Sasori berlari. Gadis itu menggigit bibirnya agar tidak tersenyum karena bisa menyentuh pergelangan tangan Sasori.
Mereka berdua berlari bak anak panah dan berbelok masuk ke dalam gang sempit yang gelap. Napas keduanya tidak beraturan saat bersembunyi di balik tembok. Tidak lama kemudian gerombolan gadis-gadis yang mengejar Sasori pun berlari melewati tempat persembunyian mereka.
"Mereka sudah pergi," Sakura mengintip jalanan yang sudah sepi.
"Terima kasih," Sasori hendak pergi, tapi ia teringat sesuatu, "apa aku boleh meminjam ponselmu untuk menelpon seseorang?" Sasori menatap Sakura dengan tatapan teduhnya.
Sakura cepat-cepat membuka tas dan memberikan ponselnya pada Sasori. Mata gadis itu menatap Sasori penuh kekaguman. Ia seperti sedang bermimpi karena Sasori berada tepat di hadapannya dan sedang menggunakan ponsel tersebut untuk menelpon seseorang. Gadis itu bahkan kehilangan kata-kata saat bertemu Sasori seperti saat ini.
"Terima kasih banyak. Kau benar-benar menolongku," Sasori menyerahkan kembali ponsel Sakura setelah menyelesaikan panggilan telepon.
"Bagaimana kau bisa dikejar oleh gadis-gadis itu?" akhirnya Sakura mampu mengeluarkan suaranya.
"Panjang ceritanya," Sasori tersenyum dan saat itu muncul sebuah mobil di depan gang sempit yang gelap tersebut, "sekali lagi terima kasih atas bantuanmu. Semoga kita bisa bertemu lagi," pria bersurai merah itu menepuk kepala Sakura pelan dan pergi menghampiri mobil yang menjemputnya.
Sakura berjalan keluar dari gang dan menatap kepergian Sasori dengan wajah terpaku. Ia menyentuh kepalanya dan tiba-tiba senyum lebar menghiasi wajah gadis itu. Sakura melompat-lompat gembira seperti anak kecil. Sepertinya hari ini tidak terlalu buruk bagi sang Haruno tunggal.
"Tadaima," Sakura masuk ke dalam apartemen dan melihat Ino sedang duduk menonton TV.
"Kenapa kau pulang larut sekali?" Ino bertanya saat teman seapartemennya itu baru saja pulang tepat pukul sepuluh malam.
"Overtime seperti biasa," sahut Sakura tanpa memandang mata Ino. Sahabatnya itu cepat tanggap jika Sakura berbohong.
"Kasihan sekali sayangku ini setiap malam harus overtime," Ino memeluk Sakura, "jika seperti ini terus, bagaimana kau bisa dapat pacar?"
Sakura tersenyum miris di balik punggung Ino, "Bagaimana jika ternyata aku yang menikah lebih dulu darimu, Ino?" dengan Sasuke, lanjut Sakura di dalam hati.
Ino melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Sakura, "Tentu saja aku akan bahagia jika melihatmu bahagia,"
"Apa kau akan merestui dengan siapapun aku menikah?"
Ino mengangguk dengan yakin, "Tentu saja!"
Sakura tersenyum miring, "Baiklah, kalau begitu biarkan aku mandi,"
Ino memerhatikan Sakura yang akhir-akhir ini bertingkah aneh. Namun, gadis itu mengangkat bahu acuh. Ia yakin sahabatnya itu pasti akan bercerita jika memang ada hal-hal aneh yang terjadi. Karena Sakura adalah sahabat sejak kecil yang sudah ia anggap saudara sendiri, Ino sangat percaya dengan gadis itu apapun yang terjadi.
Itachi turun dari BMW super mewahnya di depan pintu masuk Uchiha Corp. Seluruh pegawai yang melihat Presdir mereka datang langsung membungkukkan badan dengan hormat. Itachi berjalan penuh wibawa sambil tersenyum membalas sapaan para pegawai. Tidak sedikit pegawai wanita yang merona melihat sikap ramah sang Presdir.
Langkah kaki Itachi membawanya ke lantai lima belas di mana ruangannya berada. Ketika pintu lift terbuka, Itachi tidak heran melihat meja sekretarisnya masih kosong karena jam masuk kantor memang belum dimulai. Itachi memiliki kebiasaan datang tiga puluh menit lebih awal dari jadwal masuk kantor. Ia termasuk pria yang sangat disiplin.
Melewati meja Sakura yang masih kosong, Itachi membuka pintu ruangannya dan terkejut melihat Sasuke sedang berdiri menghadap jendela yang memberikan pemandangan taman Uchiha Corp.
"Wah... Wah... Apa kau berubah pikiran dan mau menjabat Presdir Uchiha Corp, Sasuke?" Itachi melangkah santai dan meletakkan tas di atas meja kekuasaan.
Sasuke berbalik dan memandang kakaknya dengan malas. Pakaian apapun yang Sasuke kenakan akan selalu terlihat modis seperti saat ini. Pria itu mengenakan kaus abu-abu polos dilapisi coat cokelat muda. Ia juga memakai celana jeans serta sepatu boots cokelat. Sangat autumn sekali.
"Apa kau kenal Haruno Sakura?" Sasuke memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana, mengabaikan pertanyaan Itachi sebelumnya.
Itachi mendengus dan duduk di sofa panjang dengan kaki menyilang, "Mengapa kau tiba-tiba menanyakan sekretarisku?" tiba-tiba Itachi teringat sesuatu, ia menggerakkan alisnya naik turun, "apa kau jatuh cinta padanya karena insiden kulit pisang itu?"
"Ternyata kau memang mengenalnya," Sasuke menatap lurus mata Itachi.
"Tentu saja,"
"Kalau begitu, aku akan membawanya hari ini,"
"Kenapa kau ingin membawanya? Pekerjaan dia banyak tahu!" Itachi berdiri menyusul Sasuke yang berjalan menuju pintu, "jangan-jangan, dia gadis yang diceritakan otou-san ya? Yang akan menikah denganmu?"
Sasuke menghentikan langkah dan kembali menatap sang kakak, "Ya,"
"Bagaimana bisa? Bukankah kalian baru bertemu beberapa hari yang lalu?" Itachi mengernyitkan alis merasa ada yang tidak beres, "ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,"
Sasuke menghela napas. Kakaknya ini seperti detektif saja. Ia selalu tahu jika ada hal-hal tidak beres yang dilakukan Sasuke. Mungkin dulu Sasuke kecil akan langsung berlari padanya dan meminta pertolongan, tapi sekarang Sasuke sudah dewasa dan ia rasa sudah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Nanti kuceritakan. Sekarang aku sangat membutuhkan Haruno Sakura,"
Tok tok tok...
Di tengah pembicaraan yang terlihat serius itu, pintu ruangan Itachi terketuk dari luar. Itachi terdiam beberapa saat, begitupun Sasuke. Kakak sulung Sasuke itu menghela napas panjang karena mau bagaimanapun ia membujuk adiknya, Sasuke tetap saja berpendirian teguh. Ia terpaksa membiarkan Sasuke menyelesaikan permasalahannya sendiri.
"Masuk!"
Mendengar seruan Itachi, seseorang membuka pintu sambil membawa beberapa map di pelukannya. Haruno Sakura terlihat kaget melihat Sasuke berdiri di tengah ruangan Itachi. Gadis itu sedikit bingung dan akhirnya memilih membungkuk sopan pada Itachi.
"Ohayou gozaimasu, Itachi-sama. Ini ada beberapa map yang harus ditandatangani,"
"Tolong letakkan saja di atas meja, Sakura,"
Sakura berjalan menuju meja Itachi sambil melirik Sasuke yang tak lepas memerhatikan gerak-geriknya. Gadis itu nampak kikuk berada di situasi yang sedikit aneh. Cepat-cepat ia meletakkan map dan berniat pergi dari ruangan sang bos.
"Kalau begitu saya permisi, Itachi-sama," Itachi mengangguk menjawab perkataan Sakura.
Baru saja Sakura melewati Sasuke, tangan gadis itu tercekal oleh genggaman tangan Sasuke. Sakura menoleh dengan cepat dan menatap Sasuke bingung.
"Jangan bersikap seolah-olah tidak mengenalku!" suara ketus Sasuke membuat Sakura mengeluarkan cengirannya dengan kaku.
"Oh, aku pikir kau hanya halusinasi saja," Sakura mencoba tertawa namun mendapat pelototan mata Sasuke, tawanya pun hilang bersama angin AC yang berembus.
"Jadi, hari ini Sakura izin tidak bekerja karena ia akan pergi denganku," Sasuke kembali menatap Itachi yang masih berdiri memerhatikan kedua manusia tersebut.
"Hei! Jangan main-main, aku harus bekerja!" Sakura menolak sambil berusaha melepas genggaman tangan Sasuke di pergelangan tangan.
"Kau mengizinkannya 'kan, aniki?" dari sorot mata Sasuke, Itachi tahu itu adalah keinginan yang tidak bisa dibantah. Lelaki berusia tiga puluh tahun itu mengembuskan napas berat.
"Baiklah. Kau harus menjaganya dengan baik,"
"Itachi-sama!"
"Tenang saja. Kami pergi," Sasuke menyunggingkan senyum miring dan menyeret Sakura keluar dari ruangan Itachi.
"Hei, tunggu dulu Sasuke! Itachi-sama, bagaimana dengan pekerjaanku?" Sakura memandang Sasuke dan Itachi bergantian dengan panik.
"Sudah, kau tidak usah memikirkan hal itu. Bersenang-senanglah, Sakura!" Itachi melambaikan tangan dengan senyum lebar.
Sakura membulatkan mata melihat respon Itachi sampai usahanya sia-sia karena Sasuke berhasil menyeret gadis itu keluar dari ruangan sang Presdir. Sasuke melepas genggaman tangannya tepat di depan meja kerja Sakura. Gadis itu mengelus pergelangan tangan dan menatap Sasuke dengan sebal.
"Cepat kemasi barang-barangmu dan temui aku di parkir basement," setelah mengucapkan hal tersebut, Sasuke meninggalkan Sakura seorang diri.
"Benar-benar membuatku kesal saja! Setelah menyeretku seperti karung, ia meninggalkanku sendirian!" Sakura menggeleng tidak percaya.
Sakura berjalan dengan malas menuju mobil Sasuke yang sudah ia hapal di luar kepala. Parkir basement sangat sepi karena jam kantor baru saja dimulai, namun ia justru pergi bersama Sasuke dan mengabaikan pekerjaannya. Sebenarnya Sakura paling senang kalau libur, tapi jika liburnya bersama Sasuke maka gadis itu harus berpikir dua kali.
Sakura membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang setelah memakai sabuk pengaman. Gadis itu masih ingat insiden memalukan tentang sabuk pengaman, jadi ia memasangnya agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Sakura merasa bingung karena Sasuke belum menjalankan mobil. Gadis itu melirik Sasuke yang tengah memerhatikannya dengan intens membuat Sakura sedikit merasa canggung. Pergelangan tangan Sakura terasa terangkat dan ia menoleh dengan cepat saat Sasuke memakaikan salep di sekeliling pergelangan tangannya yang memerah.
"Maaf aku menarik tanganmu sangat kasar tadi," ternyata sejak tadi Sasuke terus kepikiran dengan sikapnya yang kasar memperlakukan Sakura.
Walaupun nada suara Sasuke datar, Sakura percaya bahwa Sasuke benar-benar menyesal. Sakura memerhatikan wajah Sasuke yang terlihat fokus memakaikan salep dingin di pergelangan tangannya. Ternyata jika diperhatikan bulu mata pria itu sangat lentik, Sakura sampai dibuat iri.
"Sudah selesai,"
Sakura cepat-cepat menarik tangannya dan berdeham, "Kau tidak perlu melakukannya,"
"Jika aku tidak melakukannya, aku akan menyesal," Sasuke menutup salep yang tadi ia gunakan dan memasukannya ke dashboard mobil.
Sakura tertegun mendengar ucapan Sasuke, "Ka, kalau begitu terima kasih,"
Sasuke kembali menoleh menatap Sakura, namun gadis itu membuang muka menatap jendela mobil. Pria itu mendengus menahan senyum. Satu hal yang Sasuke tangkap, Sakura itu tipe tsundere.
"Hn,"
"Sebenarnya kita akan pergi ke mana sampai aku harus izin tidak bekerja?" Sakura bertanya penasaran.
"Nanti kau juga akan tahu," sahutan Sasuke yang terkesan misterius itu membuat Sakura mendecakkan lidah.
Sasuke melajukan mobil dengan lancar di tengah jalanan yang sepi karena berada di jam sibuk kantor. Sakura duduk diam memandang pemandangan di luar mobil yang melaju dengan konstan. Gadis itu tidak bertanya lagi ke mana Sasuke membawanya pergi karena ia tahu hasilnya akan percuma. Perjalanan yang lama membuat Sakura bosan sampai akhirnya gadis itu tertidur.
Sasuke tersenyum tipis melihat Sakura tertidur. Ia sedikit menaikkan suhu penghangat mobil dan membiarkan gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya—meski dalam status palsu, tidur dengan nyenyak. Karena saat bangun nanti, Sasuke tidak bisa menjamin bahwa telinganya akan baik-baik saja mendengar omelan Sakura.
Sakura tidak tahu ia sudah tertidur berapa jam, tapi yang jelas saat ini lehernya terasa pegal. Ia melirik jam tangan dan waktu sudah menunjukkan pukul satu siang yang berarti ia sudah lima jam berada di dalam mobil Sasuke. Perutnya bergejolak kelaparan. Gadis itu memandang ke luar jendela dan perlahan kedua matanya membulat mengingat sesuatu.
"Ini seperti jalan menuju Kyoto," suara Sakura yang serak karena baru bangun tidur mengalihkan atensi Sasuke.
"Ini memang sudah di Kyoto," sahut Sasuke kalem.
Sakura terdiam sambil mencerna keadaan dengan lambat karena gadis itu baru saja bangun tidur. Jalanan yang dilalui Sasuke seperti pernah ia lewati. Sasuke mengendarai mobil mengandalkan GPS yang ada. Saat Sasuke melewati daerah persawahan, saat itu juga Sakura sadar akan sesuatu.
"Ini 'kan jalan ke rumah orangtuaku! Jangan bilang kalau kita akan ke rumah orangtuaku, Sasuke!" Sakura berseru memandang pria yang masih menyetir dengan tenang.
"Tentu saja kita akan ke rumah orangtuamu," berakhirnya ucapan Sasuke tepat saat pria itu menghentikan mobil di depan rumah sederhana milik keluarga Haruno.
"Apa—"
—Blam!
Sakura baru saja ingin bertanya, namun Sasuke keluar dari mobil membuat pertanyaan Sakura menggantung. Gadis itu dengan penuh tanya ikut turun dari mobil dan menghampiri Sasuke yang berdiri di depan gerbang rumah orang tua Sakura.
"Apa yang kaurencanakan?" Sakura menatap Sasuke dengan alis menukik. Sedangkan pria itu hanya menyeringai menatap Sakura.
"Sumimasen!" teriakan Sasuke membuat Sakura terkejut. Gadis itu buru-buru membekap mulut Sasuke.
"Apa yang kaulakukan?" desis Sakura saat mendengar suara langkah kaki mendekat dan membukakan pintu gerbang yang terbuat dari kayu bercat merah.
"Sakura-chan?" wanita paruh baya yang mirip dengan Sakura itu menatap anak satu-satunya dengan kaget.
"Okaa-san," gumam Sakura, tangannya segera melepas bekapan di mulut Sasuke.
"Kenapa kau tidak mengabari kami dulu kalau mau pulang? Bekerja di Tokyo membuatmu lupa pulang ke rumah ya?" Mebuki memukul lengan Sakura membuat gadis itu meringis.
"Tapi, aku selalu mengirim uang ke rekening okaa-san!"
"Bukan uang saja yang kami butuhkan, baka!" Mebuki kali ini memukul kepala Sakura membuat gadis itu mengaduh kesakitan, "kau tidak tahu betapa rindunya ibu dan ayahmu di sini?"
Sakura menatap ibunya yang berkaca-kaca. Gadis itu segera memeluk sang ibu dengan air mata yang menggenang. Memang benar ia bekerja keras di Tokyo demi ayah dan ibunya sehingga ia jarang sekali pulang ke Kyoto karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi, sungguh gadis itu selalu merindukan kedua orangtuanya.
"Sudahlah jangan menangis. Aku sudah pulang,"
Mebuki melepas pelukan Sakura dan tersenyum memandang anaknya yang semakin lama semakin cantik. Wanita paruh baya itu tersadar bahwa ada seorang pria yang berdiri di samping sang putri.
"Astaga! Siapa ini? Kenapa kau bisa membawa pria tampan ini ke sini?" Mebuki menatap Sasuke dengan berbinar-binar.
Sasuke tersenyum tipis dan membungkukkan badan, "Perkenalkan, saya Uchiha Sasuke. Saya—"
"—Dia temanku," Sakura memotong ucapan Sasuke dan menatap ibunya dengan mata meyakinkan.
Sasuke mendengus mendengar ucapan Sakura, "Bukan. Saya pacar Sakura,"
Mebuki kembali menjewer telinga Sakura saat mendengar ucapan Sasuke, "Kau berani berbohong pada ibumu? Bukannya bersyukur memiliki pacar setampan Sasuke!"
"Aduh, aduh! Ampun okaa-san!"
Mendengar suara ribut yang berasal dari depan rumahnya, Kizashi lantas segera keluar rumah untuk memastikan apa yang terjadi. Ia menangkap pemandangan sang istri menjewer telinga anak sematawayangnya di depan pintu gerbang.
"Sakura-chan, kau sudah pulang nak?"
Mendengar suara sang ayah, Sakura langsung menoleh dan berlari menerjang sang ayah dengan pelukan hangat.
"Otou-san, tadaima!" seru Sakura dengan ceria.
"Okaerinasi, Sakura-chan," Kizashi memeluk Sakura tak kalah erat.
Sasuke tersenyum tipis melihat kebahagiaan Sakura bertemu kedua orangtuanya.
"Dasar mereka itu," Mebuki berkacak pinggang dan menggelengkan kepala melihat kelakuan anak dan suaminya, "ayo nak Sasuke, sebaiknya kau juga masuk," wanita bersurai pirang itu mengamit lengan Sasuke dan membawanya masuk ke dalam halaman rumah yang penuh dengan bunga.
"Itu siapa?" Kizashi menghentikan kegiatan memeluk Sakura sambil berputar-putar saat melihat istrinya berjalan dengan mengamit lengan seorang pemuda tampan.
"Namanya Uchiha Sasuke. Dia calon menantu kita," Mebuki tertawa sementara Sasuke membungkukkan badan menyapa Kizashi.
Kizashi menatap Sakura dengan heran, sementara Sakura hanya mengeluarkan cengiran gugup.
"Ternyata putri ayah sudah dewasa," Kizashi mengacak pelan rambut Sakura membuat gadis itu mengomel.
"Otou-san! Rambutku jadi berantakan!"
"Hahahaha, tapi putri ayah tetap cantik walaupun rambutnya berantakan seperti singa,"
"Otou-san!"
Sasuke terpaku di tempatnya berdiri melihat keluarga kecil itu tertawa bahagia. Kizashi merangkul Sakura untuk masuk ke dalam rumah disusul oleh Mebuki. Sasuke merasa ragu untuk masuk ke dalam rumah Sakura. Ia merasa tidak pantas menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil ini.
Sasuke terjebak dalam keraguannya, sampai akhirnya Sakura menghampiri pria itu dan berdiri di hadapannya. Sasuke menunduk menatap sepasang emerald yang terlihat berbinar menatap matanya. Senyum lebar Sakura membuat dada Sasuke berdebar-debar. Sasuke tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
"Kenapa kau berdiri di sini? Ayo, cepat masuk! Kita makan siang bersama!"
Sakura berbalik hendak masuk ke dalam rumah ketika Sasuke menggenggam tangan gadis itu. Sasuke tersenyum tipis dan menggandeng Sakura masuk ke dalam rumah. Sakura memandang Sasuke dengan bingung, wajahnya merona karena pria itu menggenggam tangannya dengan lembut.
"Ah... Aku lapar sekali!" senyuman Sasuke membuat Sakura merasa kepakan sayap kupu-kupu berterbangan di dalam perut.
To be continue
Hai, hai! Bagaimana dengan chapter 3 ini? Semoga nggak mengecewakan.
Terima kasih untuk review kalian yang sangat fantastis! Aku sempet frustrasi karena ffn error nggak bisa lihat review. :(
Review kalian kutunggu~ ;)
