Chapter 3: Investigation

"Rick, kau seharusnya tidak perlu bersikap seperti itu pada Kai."

"Apa!? Kau memihaknya juga, Karen!? Kenapa semua gadis di sini selalu menganggapnya begitu?"

Jack yang hendak melewati Poultry Farm untuk menuju pantai karena jaraknya lebih dekat, terhenti begitu dari kejauhan terlihat Karen dan Rick yang berada di samping kandang ayam peternakan tersebut. Berdebat hebat.

"Aku bukan bermaksud memihak! Aku cuma ingin bilang kalau kau jangan terus-terusan begini. Tidak ada gunanya. Ini sudah terlalu lama," bantah Karen. "Lagipula apa yang sebenarnya kau benci darinya?"

"Sudah jelas, 'kan? Dia itu sombong, merendahkan orang-orang, terus saja begitu sampai dia pergi nanti," jawab Rick. "Apa yang seperti itu patut dibela? Kalian saja yang tidak tahu seperti apa wajah aslinya!"

"Aku tahu."

"Heh?"

"Aku tahu dia melakukan itu pada beberapa penduduk."

"Lalu, kenapa kau tetap membelanya kalau kau tahu dia seperti itu?" Rick semakin meninggikan suaranya.

"Sudah kubilang aku tidak begitu!" Karen menyangkal dengan suara yang ditinggikan juga. Rick sampai terdiam walau raut kesal masih ada pada wajahnya.

"Hanya saja ...," Karen melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, "bisakah maklumi saja? Memang kadang sikapnya tampak menyebalkan, tapi dia tidak pernah melukai siapa pun, 'kan?"

"Dan membiarkannya merendahkan orang-orang seenaknya? Tidak mungkin aku akan memakluminya!" tolak Rick mentah-mentah.

Karen menghela nafasnya dengan berat. Raut kesal kembali diperlihatkannya. "Tidak heran kau tidak pernah bisa akur dengan Popuri karena kekeraskepalaanmu itu, Rick," gumamnya.

"Apa!?" alis Rick semakin terpaut rapat. Tapi, dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Karen gumamkan.

"Dewasalah sedikit!" desis Karen sebelum kemudian pergi meninggalkan Rick begitu saja.

"Karen!"

Karen tidak memedulikan panggilan Rick itu dan tetap berjalan menjauh ke jalan yang berlawanan dengan arah Jack datang. Lalu berbelok ke arah jembatan. Sama sekali tidak menyadari kehadiran Jack.

Rick masih diam di tempatnya dengan raut kesal yang belum juga hilang. Jack berlari kecil menghampirinya. Tidak terlalu dekat. Namun, Rick yang tertunduk tampak tidak menyadarinya atau mungkin tidak memedulikan kedatangannya.

"Kai yang benar dan aku yang salah? Apa yang sebenarnya dipikirkannya?" gerutunya.

Jack merasa itu bukan waktu yang tepat baginya untuk mengajak bicara pemuda berkacamata itu. Dia pun segera beranjak saja dari sana. Dia kemudian berhenti di pertigaan jalan, melihat Karen yang masih terus berjalan dengan wajah kesal. Dari pembicaraan barusan, sepertinya Karen mengetahui sesuatu. Tapi, dengan kondisinya yang sedang kesal juga, Jack berencana untuk bertanya lain kali saja.

Perjalanannya menuju pantai dilanjutkan sambil berharap mendapat waktu yang tepat untuk menggali informasi dari gadis itu.

"Keadaannya kenapa jadi semakin memanas begini?" gumam Jack bingung. Di tangga di sebelah Yodel Ranch, dia berhenti. Wajahnya memandangi langit yang begitu biru tidak berawan. "Musim panas yang benar-benar panas ..."

-x-x-

Jack sudah mencapai tangga menuju pantai, tapi dia berhenti di sana sebentar. Matanya melihat Kai yang sedang berdiri diam di tepi pantai. Menghadap ke arah laut yang menghembuskan angin cukup kencang. Mengibarkan sedikit bagian belakang bandana ungunya.

Dengan langkah pelan, Jack menuruni tangga. Ketika itu, Kai berbalik hendak kembali ke pondok tempatnya membuka usaha. Dia pun melihat Jack yang datang.

"Yo, Pendatang Baru," sapanya. "Mau membeli sesuatu dari pondokku?"

"Kurasa," jawab Jack setibanya di depan Kai. "Aku juga ... ingin berbicara denganmu."

Kai menatap terkejut untuk beberapa saat. Lalu, senyum sinis khasnya kembali terukir di bibirnya. "Yah, terserah. Lagipula kau pengunjung pertama di hari pertama aku buka," ucapnya sembari kembali berjalan memasuki pondoknya. Jack mengikutinya dari belakang.

"Belum ada yang datang?" tanya Jack sambil duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan pondok milik Kai tersebut.

"Biasanya agak sorean baru ada yang datang. Di jam segini, semuanya masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, 'kan?" jawab Kai. Dia mengambil satu gelas panjang dari rak dan meletakkannya di bawah alat pemarut es. Sebuah balok es diletakkan juga pada alat tersebut dan diputar dengan menggunakan tuas yang ada di atasnya. Es yang terparut mengisi gelas di bawahnya.

"Apa cuma dari Mineral Town saja yang datang?" tanya Jack.

"Tidak, kadang ada beberapa kapal turis yang mampir sebentar di sini untuk istirahat sebelum kembali melanjutkan pelayaran mereka," jawab Kai. Tangannya masih sibuk memarut es hingga memenuhi gelas. Lalu, menuangkan sirup stroberi di atasnya dan menancapkan sebuah sendok kecil berganggang panjang. "Daerah ini masih termasuk jalur kapal kecil yang biasa dilewati untuk menuju ke daerah pariwisata. Kapal pesiar tidak bisa langsung menuju ke daerah tersebut sehingga harus berganti kapal dengan kapal kecil untuk ke sana," jelasnya.

"Kau tahu banyak, ya," kagum Jack.

"Tentu saja. Aku 'kan sering berlayar," sahut Kai. Gelas berisi es serut yang dibuatnya tadi, diletakkan di hadapan Jack.

Jack menatapinya bingung. "Aku ... belum memesan, Kai."

"Untukmu, sebagai tamu pertama yang datang. Kau tidak perlu bayar yang ini," jelas Kai.

Jack tersenyum tipis. "Terima kasih." Dan satu sendok es serut disuap masuk ke mulutnya. Dingin es merambat cepat ke seluruh kepala. Serasa membeku. Pemuda petani itu sampai meringis menahan dinginnya. Kai malah menertawakannya dengan tawa yang tidak begitu keras.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Kai kemudian, mengingatkan kembali tujuan awal kedatangan Jack.

Jack hendak menjawabnya ketika Kai malah menyela.

"Tentang pertentanganku dengan beberapa penduduk, 'kan?" tebaknya.

"Untuk saat ini hanya tentang Rick saja," jawab Jack serius. "Walaupun tidak masalah juga bila kau mau menjelaskan masalahmu dengan penduduk lain," tambahnya.

"Kau orang baru di sini. Untuk apa juga kau mengurusinya?"

"Kalau kujawab bahwa ini permintaan Popuri?"

Kai terdiam beberapa saat. "Popuri, ya?" desahnya.

"Dia tidak ingin melihatmu terus-terusan bertengkar dengan kakaknya. Dia ingin kalian berbaikan. Jadi, bisakah kalian ... menghentikan perkelahian kalian?"

Tidak ada jawaban yang Kai berikan, tapi Jack tetap terus bertanya.

"Sebenarnya apa yang kalian pertengkarkan selama ini? Jujur saja aku masih agak kurang mengerti. Tidak bisakah dibahas secara damai agar semua ini tidak terus berlangsung?"

Kekehan pelan terdengar dari Kai. Jack kembali menatap bingung.

"Sebenarnya ... aku sama sekali tidak tahu juga apa yang membuat mereka marah padaku. Aku hanya berbicara jujur tentang mereka, tapi mereka malah marah-marah. Tidak terima. Karena aku tidak mengatakan kebohongan, jadi ... itu bukan salahku, 'kan?"

Untuk beberapa saat Jack terdiam mendengarnya. Dia sudah mulai mengerti sedikit permasalahannya. Kata "jujur" tersebut sepertinya yang menjadi masalah utamanya. Kelihatannya Kai ini saat berkomentar sesuatu, tidak mengenal yang namanya "filter". Wajar saja dia dimusuhi kalau sampai komentarnya kelewat jujur. Belum lagi dengan gayanya berbicara.

Penduduk yang kena kejujurannya pun tidak bisa menahan emosinya. Tidak bisa menerima dengan kepala dingin walau yang dikatakan Kai bukanlah kebohongan. Bisa dibilang ... kedua pihak sama-sama salah, sih ... Ditambah tidak ada yang mau mengalah. Kalau seperti itu, memang tidak akan ada selesainya.

"Kau ini ... suka mencampuri urusan orang, ya?" celetuk Kai tiba-tiba.

"Hm? Kau pikir begitu?" tanya Jack polos.

"Lihat saja apa yang kau lakukan sekarang. Kau tanpa ragu mau terlibat di dalamnya setelah Popuri meminta bantuanmu."

"Tidak ada salahnya, 'kan? Namanya juga membantu. Lagipula dia tetanggaku. Tinggal tepat di sebelahku," balas Jack.

"Hanya itu?" tanya Kai.

Alis Jack naik sebelah.

"Kau yakin mau menolongnya hanya karena itu?" Kai memperjelas pertanyaannya.

"Mmm ... Begitulah," jawab Jack. "Ayolah ... Selesaikan dulu permasalahanmu itu atau kau tidak akan pernah akur dengan mereka yang sudah memusuhimu."

"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Aku pun tidak mencelakai siapa pun," bela Kai.

"Ingatlah Kai, perkataan itu bisa lebih tajam dari pedang ... Kau memang tidak mencelakai siapa pun secara fisik, tapi perasaan yang terluka lebih sulit untuk disembuhkan," pesan Jack.

Senyum Kai semakin lebar dan terlihat meremehkan. "Perlukah aku mengingatnya?"

Untuk pertama kalinya Jack bisa mengerti kenapa Rick bisa sampai emosian bila berhadapan dengan pemuda yang satu ini.

"Aku sadar betul ada orang-orang yang tidak suka dengan gayaku, tapi aku selalu berusaha untuk tidak melibatkan perempuan dan juga anak-anak dalam pertengkaranku dengan mereka, terlebih Popuri," lanjut Kai.

Biarpun tadi sempat merasa kesal, Jack akui untuk yang satu ini Kai patut dipuji. Kalau diingat-ingat juga, memang tidak ada perempuan dan anak-anak yang bermasalah dengannya. Bisa tidak melibatkan masalahnya dengan orang lain yang tidak sepantasnya bukanlah hal yang mudah dilakukan.

"Nanti reputasiku bisa jatuh di hadapan para gadis cantik," lanjut Kai lagi dengan sok kerennya.

Aku tarik pemikiranku tadi, batin Jack langsung.

-x-x-

Menghadapi Kai berkaitan dengan permasalahannya ternyata tidaklah semudah yang Jack bayangkan. Ada saja yang bisa membuatnya menghindar dari posisi yang-dianggap-bersalah. Tapi, caranya menanggapi yang tetap tenang itu perlu diacungi jempol. Walaupun tujuannya adalah untuk menjaga reputasi di hadapan para gadis, tapi bisa tenang saat bertikai bukanlah perkara mudah.

"Kalau seperti ini terus, dia bisa jadi magnet masalah," gumam Jack yang kini sedang berjalan kembali menuju perkebunannya. "Dari orang-orang yang tidak menyukai sikapnya, terutama."

Baru juga tiba di depan gerbang kebunnya, Jack melihat seseorang datang dari arah jembatan di sisi lain kebunnya. Berlari cepat dengan begitu berenergi. Siapa lagi yang memiliki kecepatan gerak seperti itu selain si tomboy Ann.

"Kita ke bukit!" ajak gadis itu langsung.

"Heh? Tung― Waaa!"

Belum juga ada persetujuan dari yang diajak, Ann sudah menariknya berlari ke arah Mother's Hill tanpa bisa dilawan. Beberapa kali Jack tersandung hampir jatuh karena tidak bisa segera menyesuaikan diri dengan kecepatan lari Ann yang lebih cepat dari dugaan.

Tak sampai lima menit, keduanya telah tiba di taman bunga Mother's Hill. Di sana ternyata sudah ada Gray, Cliff, dan Claire yang duduk menunggu di bawah pohon cemara. Menghindari sengatan sinar matahari musim panas yang lebih menyengat dari musim sebelumnya.

"Kenapa ada Gray dan Cliff juga?" tanya Jack saat melihat kedua pemuda tersebut.

"Mereka 'kan sekamar dengan Kai, pasti tahu sesuatu," jawab Ann, masih menyeret Jack hingga berada di bawah bayangan pohon dan menyuruhnya duduk di hadapan teman-teman mereka yang sudah menunggu itu.

"Sudah kubilang, percuma bertanya padaku, Ann," gerutu Gray. "Kau lupa aku tidak pernah peduli padanya apa pun yang dia perbuat? Kau malah tetap menyeretku ke pertemuan konyol ini."

"Ini bukan pertemuan konyol, Gray. Kau pun harus bisa ikut menyelesaikan masalah yang terjadi di desa ini sebagai salah satu penduduknya," tegur Ann yang ikut duduk di sebelah Jack. "Sekali pun kau tidak peduli, aku jamin kau akan merasa terganggu juga."

"Tidak juga," jawab Gray enteng.

Tingkat antisosialmu sepertinya sudah parah, ya.

Semua membatin kompak, kecuali Claire.

"Aku sendiri juga sebenarnya tidak begitu tahu tentang dirinya," kata Cliff. "Dia itu ... orang yang susah ditebak apa yang dipikirkannya. Semuanya tertutupi oleh sikapnya. Setiap kali ada sesuatu, dia langsung bersikap begitu."

"Aku pun berpendapat sama," ujar Ann.

"Jadi, intinya tidak ada yang tahu," timpal Gray. "Oke, kalau begitu, aku pergi dulu."

Pemuda bertopi UMA itu hendak bangkit dari duduknya, tapi bajunya ditarik oleh Ann dan membuatnya duduk kembali.

"Jangan begitu, Gray. Kita pikirkan solusinya sama-sama," tegur Ann.

"Ayolah ... Kalian membuang waktu liburan berhargaku," protes Gray.

"Kau libur?" tanya Jack heran. Seharusnya hari ini Saibara masih membuka tokonya.

"Kakek mengalami encok karena salah posisi tidur semalam. Jadinya tidak bisa banyak bergerak. Dokter pun mengatakan kalau Kakek istirahat saja dulu sementara. Makanya hari ini aku libur," jelas Gray. "Padahal aku sangat menantikan hari ini karena biasanya di hari toko tutup pun aku tidak libur."

"Justru karena kau libur, makanya ini bisa jadi kesempatanmu untuk berinteraksi dengan yang lain," timpal Ann. "Daripada kau cuma diam-diam di kamar atau pergi ke Perpustakaan saja."

Gray mendadak mematung. Salah tingkah. Kaget karena hobinya pergi ke Perpustakaan ternyata diketahui oleh Ann yang notabene lebih sering di dapur. Padahal membahasnya saja tidak pernah.

"Mary juga jarang sekali keluar dari perpustakaannya. Kurasa aku juga perlu menyeretnya," tambah Ann.

"Kalau untuk Mary ... kurasa jangan sampai kau bertindak begitu," tegur Jack. Kalau sampai berbuat demikian, yang ada Mary malah kebingungan dan mungkin bisa panik juga. Sikapnya yang kalem dan pendiam, terlihat jelas dia tidak akan mudah beradaptasi dengan situasi yang mendadak berubah. Apalagi kalau mendadak dilibatkan dalam suatu masalah seperti ini.

"Bicara tentang berinteraksi, bukannya Cliff juga jarang ke mana-mana selain ke Gereja?" Jack melirik ke arah Cliff. "Bagaimana kau bisa ada di sini juga?" tanyanya.

"Kisah yang serupa dengan yang dialami Gray," jawab Cliff singkat dengan nada pasrah.

"Tentu saja kau juga akan kuajak, Cliff. Jarang-jarang ada kejadian yang membuat kita bisa mendiskusikan hal ini bersama-sama," kata Ann. "Seharusnya aku juga mengajak Mary sekali pun dia sedang bekerja."

"Itu sama saja kau mencoba menyeretnya paksa, Ann," tegur Jack.

"Kalau tidak salah," Claire yang sedari tadi diam saja, akhirnya membuka suaranya, "masih ada orang lain yang bermasalah dengan Kai, 'kan? Siapa lagi orangnya?" tanyanya untuk mengembalikan topik utama pembicaraan mereka.

"Ah, yang itu ... Paman Duke," jawab Ann.

"Paman Duke? Dia punya masalah apa dengan Kai?" tanya Jack.

"Ng ... itu ... Kalian jangan beranggapan kalau aku ini sedang bergosip, ya," pinta Ann. "Ini berkaitan dengan putrinya yang telah pergi dari sini, Aja."

"Aja? Bukannya itu nama produk anggurnya?"

"Mereka memang menggunakan nama putri mereka untuk itu. Mungkin saja berharap putrinya akan kembali pulang bila melihat nama produk mereka itu. Sebagai tanda kalau mereka masih menyayangi mereka," jelas Ann. Suasana sedikit terasa muram mendengar sepenggal penjelasan itu.

"Dulu ... Aja pergi dari sini," Ann melanjutkan. "Waktu itu aku tidak begitu tahu apa alasannya. Tapi, belakangan kudengar kalau dia sepertinya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik di kota. Kai pun telah mengetahui mengenai kepergian Aja, yang menurutku didapat langsung dari Bibi Manna mengingat dia cepat akrab dengan wanita. Ditambah Bibi Manna sekali curhat, semuanya diungkapkan dengan rinci. Aku juga tidak begitu ingat kapan Kai mulai bermusuhan dengan Paman Duke, tapi yang jelas sepertinya Kai telah mengatakan sesuatu berkaitan dengan kepergian Aja yang membuat Paman marah. Dan karenanya juga ... Paman jadi lebih sering mabuk-mabukkan."

Jack ingin sekali tepuk jidat setelah mendengarnya. Lagi-lagi dimusuhi karena perkataan. Kai benar-benar tidak mengenal yang namanya "filter" kata.

"Kalau begini ... berarti sudah jelas apa masalahnya," ucap Jack.

Semua perhatian, bahkan Gray yang tadinya tidak ingin peduli, langsung tertuju pada Jack.

"Kau sudah tahu?" tanya Cliff.

"Aku sudah berbicara sebentar dengan Kai tadi. Lalu, mendengar masalah Rick serta Paman Duke, bisa disimpulkan Kai itu cuma bicara kelewat jujur. Dia sama sekali tidak memilah mana yang menyinggung dan mana yang tidak, yang penting perkataannya bukanlah kebohongan. Biarpun bukan kebohongan, tetap saja tidak baik juga kalau bicara tanpa memikirkan perasaan orang lain. Belum lagi gayanya yang sudah seperti itu," Jelas Jack.

"Intinya ... memang Kai masalahnya," simpul Gray.

"Tidak juga sebenarnya," sangkal Jack. "Karena bukan kebohongan ... seharusnya itu bisa menjadi bahan renungan. Tapi, yang menerima kejujuran Kai itu malah terbawa emosi. Ditambah terus-terusan begitu tanpa sekali pun mencoba menelaahnya dengan kepala dingin. Jadi, mereka juga salah."

"Kalau begitu," Claire angkat bicara lagi, "mereka seharusnya cuma perlu menyadari kesalahannya masing-masing. Maka, masalah ini akan selesai."

"Yang jadi masalahnya justru yang itu. Apakah mereka mau mengakui kesalahan masing-masing?" ujar Jack.

Semuanya termenung. Tidak mudah bagi siapa pun untuk mau mengakui kesalahan mereka. Itu pun kalau mereka sadar dengan kesalahan mereka.

"Bagaimana kalau mereka diajak saja ke Bilik Pengakuan di Gereja?" saran Cliff. "Mereka seharusnya bisa mengakui kesalahan mereka dengan bebas di sana tanpa ada rasa terganggu."

"Ya, sepertinya itu ide yang bagus," sahut Ann.

"Memang bukan ide yang buruk, tapi apakah itu akan membuat mereka mau saling memaafkan?" tanya Jack. "Menurutku ... tetap saja mereka perlu saling mengakui kesalahan mereka. Itu akan bisa membuat masalah diantara mereka jadi lebih jelas dan membuat mereka jadi bisa lebih mengerti lagi. Kalau melakukannya di Bilik Pengakuan, Pastur tidak akan memberitahu apa masalahnya dan mereka jadi tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya mereka permasalahkan."

"Ah ... benar juga," sahut Cliff. "Bilik Pengakuan hanya digunakan untuk melakukan pengakuan yang tidak ingin diketahui oleh orang lain."

"Kalau dipikir-pikir, memang ada benarnya, sih," sahut Ann.

Gray menatap Jack intens. "Biarpun sebelumnya kau sering bertindak konyol, ternyata kau bijak juga, ya, Jack. Biarpun ini bukan pertama kalinya," celetuknya dengan nada agak serius.

Jack tersentak. Kali ini dialah yang jadi salah tingkah. "Be, begitu ... kah ...?"

"Ya ... Jack memang terdengar sangat bijak," sahut Claire. "Kau pun sangat memikirkan apa yang terbaik bagi orang lain."

"Aku juga merasa begitu setelah mendengar semua perkataanmu barusan. Terdengar keren," puji Ann.

Wajah Jack merona malu. Belum pernah sebelumnya dia dipuji untuk hal semacam ini.

"Yah, jadi kesimpulannya kita hanya perlu membuat mereka mengakui atau setidaknya sadar dengan kesalahan mereka itu," sambung Ann.

"Kalau itu yang ingin dilakukan, berarti harus menunggu saat yang tepat. Langsung melabrak tidak akan membantu menurutku," kata Gray.

"Jadi ... sekarang kita hanya perlu menunggu saat itu tiba," ucap Claire.

Yang lain mengangguk setuju.

-x-x-

Pertemuan yang sempat dianggap "konyol" oleh Gray, berakhir saat hari sudah hampir menjelang sore. Gray masih menggerutu karena pada akhirnya dia tidak benar-benar beristirahat di hari liburnya yang langka. Cliff dan Ann mencoba menghibur, tapi mood pemuda itu sudah kelewat jelek. Beranggapan percuma dihibur karena hari sudah berlalu.

Jack dan Claire cuma menonton mereka dari belakang sambil sesekali tertawa maklum.

Mereka pun akhirnya melewati tangga menuju kolam air panas. Jack terhenti saat sekilas melihat ada warna merah jambu di atas sana.

"Kalian duluan saja. Aku mau ke atas sana dulu," kata Jack tiba-tiba sambil menaiki tangga ke atas.

Ann, Cliff, dan Gray saling memandang. Sedangkan Claire memandang ke arah Jack yang semakin menjauh.

"Ya, sudah. Kita pulang duluan saja," ajak Claire sambil mendorong pelan punggung Ann yang berada paling dekat dengannya.

"Oke, kita pulang!" sahut Ann. Dia pun mendorong dua pemuda yang bersama mereka untuk kembali berjalan.

Sementara itu, Jack tiba di puncak tangga.

"Ternyata memang benar sedang ada di sini," ucapnya ketika melihat Popuri sedang memandangi sungai. Gadis itu pun berbalik ketika melihat kedatangan Jack.

"Oh, Jack?"

Jack berjalan menghampiri gadis berambut merah jambu itu. "Sedang apa di sini?"

"Tidak apa-apa," Popuri menjawab sambil memalingkan pandangan.

Jack menghela nafas. "Rick lagi?"

"Ah, tidak! Bukan begitu!" sangkal Popuri cepat. "Memang Kakak terlihat sedang marah, tapi ... aku tahu dia habis bertengkar dengan Karen. Aku sempat bertemu Karen di alun-alun yang juga tampak kesal saat aku pulang dari Gereja. Dia pun menyebut-nyebut nama Kakak. Aku tidak ingin sampai mengganggu Kakak di rumah. Makanya aku ke sini."

Jack pun jadi teringat pertengkaran Rick dan Karen sebelum dia bertemu Kai tadi. Pertengkaran yang alot.

"Kau di sini sudah lama?" tanya Jack.

"Tidak, belum lama, kok," jawab Popuri sambil menggeleng pelan. "Jadi ... Jack, bagaimana dengan permintaanku itu?"

Jack diam sesaat. "Masih perlu waktu. Kuharap kau bisa bersabar."

"Tentu saja aku akan sabar," Popuri menjawab dengan senyum tipis. "Ini bukan perkara mudah."

Popuri berbalik, menghadap kembali ke arah sungai. "Maaf, sudah merepotkan," lirihnya.

Jack tersenyum tipis. "Tidak masalah."

Welcome to My Fic! \(^O^)/

Akhirnya kembali melanjutkan fic yang terlantar ini. Padahal ceritanya masih panjang, tapi sudah menunda selama ini. Yang penting lanjut dulu, deh.

Lalu, terima kasih untuk kalian semua yang sudah mau bersabar dan masih menantikan cerita ini. Maaf karena membuat menunggu lama lagi seperti sebelumnya.

~Princess Fantasia~