Disclaimer: Assasination Classroom own by Yuusei Matsui. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun
Everything will be okay
.
.
.
.
.
.
Semua yang hidup di dunia ini akan mengalami kematian. Termasuk dirinya.
Walaupun Akabane Karma bisa melihat kematian seseorang, suatu saat ia akan warna kematiannya sendiri. Entah itu karena suatu penyakit, kecelakan, atau dibunuh sekalipun. Sampai sekarang Karma tidak pernah dapat memprediksikan kematian dirinya sendirinya. Kemampuan unik matanya hanya sebatas melihat bagaimana cara orang itu mati dan waktu orang itu mati.
Tidak ada yang percaya dengan kemampuan ini. Karma juga tidak pernah menginginkan memilikiya. Ia hanya kurang beruntung dianugerahkan kemampuan seperti ini.
—berkat kemampuan ini juga, Karma tahu kalau Asano akan bunuh diri dalam waktu dekat.
"Kalau begitu, bisakah kau membunuh semua anak kelas 3-E untukku?"
Angin berhembus.
Jeda di antara mereka terlalu menyakitkan.
Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya bisu dan sepasang mata dari dua orang berbeda yang saling bertemu. Yang satu melihat dengan kebencian, dan yang satu menatap tidak percaya. Mungkin membutuhkan beberapa waktu untuk mencerna kalimat yang terlontar dan berbaur dengan hembusan angin.
"Sudahlah." Merasa tidak nyaman dari keheningan ini, Asano langsung bangkit dari ayunan itu. "Anggap saja tadi hanya angin lalu."
"Kenapa kau membenci kelas 3-E?"
Suara itu menghentikan langkah Asano. Ia menoleh ke arah si merah. Karma ikut bangkit dari ayunan. Wajahnya terlalu serius untuk ukuran orang seperti Karma—yang hampir selalu meremehkan semua masalah. Barangkali kalimat Asano terlalu menohok pikirannya hingga tidak boleh dianggap main-main. Barangkali juga Karma merasa terancam karena Asano bermaksud untuk membunuh semua anak kelas 3-E.
Tapi Asano tahu. Akabane Karma hanya orang asing dalam hidupnya.
"Itu bukan urusanmu."
Kaki kembali melangkah. Asano meninggalkannya begitu saja.
.
.
.
Hakuna Matata
Bagian 03 | Teman dan Musuh
.
.
.
"Sialan! Aku benar-benar tidak mengerti!"
Satu plastik belanjaan ditaruh kasar di atas meja makannya. Nyaris isinya terjatuh ke lantai. Karma mengklaim salah satu kursi di meja makannya. Satu kotak susu stawberry, salah satu hasil buruannya di toserba, sekarang tinggal seonggok karton yang siap dilempar ke tong sampah non-organik di dapur. Cairan kelewatan manis itu tidak sanggup menenangkan pikirannya. Karma butuh lebih.
Pertemuan Asano tak terduga di taman tadi. Laki-laki itu sendirian di taman. Masih mengenakan seragam sekolahnya dan terduduk manis di ayunannya. Tapi Asano tidak memainkannya, hanya duduk dan membiarkan kakiknya menggerakan pelan ayunan.
Aura hitam masih ada tubuhnya. Jauh lebih gelap dari sebelumnya.
—tidak lama lagi Asano akan bunuh diri.
"Sebenarnya apa yang terjadi—" Karma mengigit bibirnya. Menahan kekesalannya yang tak kunjung reda. "—aku tidak mengerti."
Asano ingin membunuh semua anak kelas 3-E. Entah itu makna bias atau memang suatu tindakan nyata.
Kemungkinan terbesar bahwa penyebab kematian Asano nanti adalah kelas 3-E.
Mungkin tindakan bunuh diri Asano juga berdampak buruk pada kelas 3-E. Mendengar lawannya mati karena sudah putus asa akan menurunkan semangat kelas 3-E secara tidak langsung. Terutama, Asano adalah anak Kepala Sekolah. Tidak ada orang tua yang terima anaknya bunuh diri begitu saja—Kepala Sekolah pasti akan menghancurkan kelas 3-E jika anaknya bunuh diri.
Karma memijat pelipisnya sejenak. Ia tidak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk lagi.
"Kalau begitu, bisakah kau membunuh semua anak kelas 3-E untukku?"
Kalimat Asano terulang di kepalanya. Samar-samar, Karma bisa mengingat wajah Asano saat itu. Wajahnya mungkin menyiratkan kebencian. Matanya seperti memandang musuh yang harus dikalahkan saat itu juga. Tapi entah kenapa, Karma merasa sesuatu yang bertolak dari kebencian itu. Sesuatu yang biasa dimiliki oleh seseorang yang memiliki aura hitam itu.
"Menyerah..." Hatinya terlalu ragu untuk mengatakannya. Karma tidak yakin dengan hipotesisnya kali ini. "Asano menyerah dari apa?"
Ada sesuatu yang sulit hingga Asano berhenti untuk menggapainya.
Padahal ia memiliki bakat yang tidak lazim. Seharusnya Asano tidak menyerah untuk menggapainya.
Justru laki-laki itu terus berpidato untuk berjuang keras mencapai kemenangan.
Karma juga ingat saat Gakushuu pidato saat penutupan semester empat. Pesona pemuda itu membuat siapapun akan mendengarkannya. Terlalu gagah untuk anak muda seusianya. Kalimatnya menggetarkan hatinya. Pada hari itu, semangat untuk terus belajar menggelora hanya karena kalimat sederhannya. Mengajarkan pada semua anak gedung utama untuk tidak menyerah apapun yang terjadi.
Asano Gakushuu adalah salah satu orang hebat yang pernah Karma temui. Ia mengakuinya. Bahkan meskipun sendirian, Asano masih sanggup berdiri di puncak.
"Itu bukan urusanmu."
Apakah itu artinya adalah batasan Karma untuk menolong Asano?
.
.
.
Perjalanan Asano dari taman itu malah berakhir pada rumahnya sendiri. Satu-satunya rumah megah di tempat ini. Tapi tidak pernah ada penghuni rumah yang saling bercengkrama layaknya seorang keluarga. Lebih mirip rumah bisu yang kelewat hening ketimbang rumah-rumah di film horor. Mungkin, rumah ini jauh lebih sayang untuk ditempati keluarga Asano.
"Selamat datang Tuan Muda. Saya khawatir. Kenapa Anda baru datang jam segini?"
Butler yang selalu menjadi penunggu rumah inilah yang menyambutnya. Pria tua rentan itu terlalu kasihan untuk menampilkan wajah khawatirnya. Jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Seharusnya pria itu menarik selimutnya dan menikmati buaian mimpi. Bukannya menunggu Asano sambil memasang wajah khawatir.
Tapi Asano tidak pernah peduli. Ia melepaskan sepatunya, "apa Ayah sudah pulang?"
"Hari ini Tuan Besar menginap di hotel. Tuan Muda tidak perlu khawatir, Saya belum melaporkan keterlambatan Anda ke Tuan Besar."
Mungkin Asano bisa menarik nafas lega sekarang. "Aku ingin langsung tidur."
"Tuan Muda, Anda harus makan dulu." Butler tua rentan itu mencegat Asano untuk naik ke anak tangga. Ia menatap Asano untuk beberapa detik. "Belakangan ini Anda jarang makan. Saya tidak ingin Anda sakit."
"Tidak apa-apa. Hari ini aku sudah makan di luar."—sebetulnya Asano belum menyatap sesuap asupan nutrisi sejak tadi siang— "Mungkin lebih baik makananku untuk satpam. Sepertinya, dia sudah lapar jaga malam terus."
Butler itu tahu, ia tidak bisa melawan Tuan Muda-nya. Ia mengangguk paham. "Jika Anda butuh saya—saya siap duapuluh empat jam untuk Anda."
"Terima kasih. Sebaiknya kau istirahat saja."
"Anda juga. Semoga Anda bermimpi indah."
Asano tidak membalas lagi. Langkahnya langsung menuju kamarnya di lantai dua.
Hari ini terlalu melelahkan baginya. Padahal, selagi ayahnya melakukan perjalanan bisnis , tidak berada di sekolahnya, Asano ingin istirahat sejenak. Bolos saat istirahat siang hanya untuk memenuhi waktu tidurnya yang terus tertunda. Menikmati angin sepoi-sepoi yang menenangkan hatinya. Kehangatan bukit belakang sekolah yang selalu menjadi obat untuk Asano.
Tapi pertemuan tak sengaja dengan Akabane Karma menghancurkan segalanya. Si merah itu seenaknya mengambil tempatnya dengan mudah. Asano tidak berselera untuk berdebat mempertahankan tempat itu. Pikirannya terlalu lelah. Sepertinya ia butuh obat penenang. Daripada kepalanya semakin sakit, Asano lebih memilih untuk diam dan pergi begitu saja.
Sekarang Asano Gakushuu percaya kalau keberuntungan tidak berpihak padanya. Alih-alih sehari ini mendapat ketenangan, justru ia malah diganggu Karma.
Sialan. Apa salahnya kalau ia ingin istirahat?
Asano Gakushuu hanya seorang remaja labil. Ia juga butuh waktu untuk sendiri—tanpa melakukan apapun. Membenamkan semua masalahya dengan kegelapan, hingga tidak pernah tercapai oleh siapapun.
"Lalu ingin menjadi teman katanya?"
Lelucon terkonyol yang pernah Asano dengan.
Rasanya, ingin tertawa terpikal-pikal di saat hatinya sudah terlalu hancur.
Bagi Asano teman hanyalah suatu pijakan untuk sebuah tujuan. Teman tidak lebih dari alat untuk kesuksesan. Jika sudah tidak berguna lagi, teman akan dibuang begitu saja. Dianggap seperti sampah yang sudah tidak bisa berguna lagi. Kepala Sekolah mengajarnya seperti itu. Asano berpegang teguh semua kalimat ayahnya.
Karena itu semua, Asano Gakushuu tidak membutuhkan teman. Ia tidak membutuhkan Akabane Karma
Meskipun manusia tersisa hanyalah Akabane Karma seorang.
"Aku capek..."
Matanya terpejam. Untuk saat ini, ia ingin istirahat sejenak. Padahal, seharusnya malam ini Asano menghabiskan waktunya untuk semua tugasnya yang belum tersentuh beberapa jam yang lalu. Tapi tubuhnya sudah terlajur kelelahan. Buaian kasurnya mengikat tubuhnya.
Sudahlah.
Biarlah tugasnya menunggu untuk diperkosa oleh dirinya.
Asano ingin tenggelam ke dunia mimpi. Ia ingin jatuh pada kegelapaan, untuk kali ini saja.
.
.
.
Asano Gakushuu. Tinggi. Pintar. Prestasi menjebol setebal buku dosa. Sosok paling sempurna di Kunugigaoka setelah Kepala Sekolah.
Karma khusyuk membaca segepok kertas yang menoreh semua laporan yang ditulis Ritsu. Laporan gadis virtual dengan basis super komputer pada otaknya mengalahkan keakuratan mesin pencari dunia maya. Informasinya kelewat detail untuk dibaca seorang anak SMP. Syukurlah Karma memiliki kejeniusan di atas kewajaran. Deretan tulisan dengan beberapa grafik tidak akan membuatnya stress. Justru membantunya.
Sekolah masih sepi pada jam segini. Halaman belakang yang belum terjamah murid selain dirinya pada hari ini. Hari ini tidak biasa Karma bangun melebihi jam wekernya. Ia tidak tertarik untuk membolos—Karma ingin berdiskusi dengan Koro-sensei untuk menyelesaikan soal bahasa Jepang.
Roti tawar lapis dengan isi selada, telur, dan ayam fillet yang dibeli di minimarket belum sempat tersentuh. Segepok kertas itu lebih menarik ketimbang mengisi perutnya. Karma terus membaca cepat. Takjub dengan Ritsu yang begitu sempurna mengolah data—seharusnya ia meminta bantuan Ritsu untuk menulis laporan tugas akhir IPA.
"Tapi ia sama sekali tidak bermasalah." Karma terus membolak-balik kertas laporannya. Kembali mengulang bacaannya. "Seharusnya ia menjadi superhero, bukan menjadi korban sepe—"
"Ne, ternyata Karma-kun diam-diam memperhatikan Asano ya~"
Sontak, tubuh Karma langsung mengejang ketika telinganya merasakan hembusan nafas seseorang. Nyaris refleks memukul seseorang di belakangnya. Untunglah, Nakamura Rio menjadi si pelaku. Gadis blasteran Amerika itu bisa menangkis serangan pertahanan Karma. Ia terkekeh pelan. Lucu sekali melihat Karma keperegoki membaca biodata Asano—benar-benar tsudere asli.
"Muehehehehe~ apa-apaan ini Akabane Karma, titisan iblis, ternyata diam-diam memperhatikan Asano Gakushuu."
"Diamlah Rio."
Gadis itu tertawa. Tawa Nakumara Rio mengingatkan Karma hantu wanita sekolahan di film horor Amerika. Karma bergidik sendiri.
Rio mengklaim tempat kosong di samping Karma. Jemari memainkan helaian rambut pirangnya. Bola kelereng biru miliknya memandang Karma, meminta jawaban kepastian bak seorang wawartawan yang heboh ketika ajang diskusi kenegaraan sebelum pemilihan Perdana Menteri.
Karma kembali membenarkan posisi tubuhnya. Pada kelas 3-E; jika Karma ibaratkan reinkarnasi raja iblis, maka Nakamura Rio adalah jelmaan dewi kehancuran yang paling mengerikan. Kalau seperti ini, ia sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi. Lebih baik terus terang pada Rio daripada berakhir introgasi mengerikan gadis itu—dan semua rahasia terbongkar.
"Aku ingin menjadi teman Asano Gakushuu."
Jawaban yang paling tak terduga dari Akabane Karma.
"Waow! Kau tidak terbentur sesuatu, hah?" —sialan, Rio mengejeknya. Karma membuang mukanya. "Astaga... kukira kau akan menjaili Asano sampai cowok lembek itu nangis."
"Kalau aku seperti itu, aku cari mati namanya."
Rio kembali tertawa mengejek. "Kalau begitu kenapa kau ingin jadi teman Asano-kun?"
Mata Rio melirik segepok kertas di tangan Karma yang telah digigit oleh staples. Ia menuntut jawaban yang pasti.
"Aku hanya ingin menjadi temannya." Jawaban yang menggantung. Rio memandang kecewa, tapi Karma terus melanjutkannya. "Apa salahnya kalau aku ingin menjadi temannya?"
"Agak aneh juga," kata Rio sambil mendesah pelan.
Karma menaikan sebelah alisnya.
"Yah, kau dan Asano terus merebutkan peringkat pertama. Kau kelas E dan Asano kelas A. Jika di novel-novel, kalau enggak jadi pasangan rival tsundere palingan enggak jauh-jauh jadi musuh bebuyutan."
"Ada yang ingin kuubah darinya."
"Sesuatu...?"
Rio mengendus sesuatu yang aneh dari Karma.
Tapi sepertinya pemuda itu tidak mau mengutarakannya. Menyembunyikan dan menjadi pertanyaan besar untuk Rio.
"Saranku, lebih baik kau tidak tahu Rio."―karena Asano bukanlah orang yang mudah didekati. "Anggap saja ini strategi aku mengalahkan Asano-kun."
Diam-diam, Rio melirik Karma. Ia terlihat sangat serius. Wajah yang sama saat Karma sibuk mencari cara untuk membunuh Koro-sensei―terlihat santai, tapi memperas kuat-kuat otaknya untuk menemukan caranya. Ada sesuatu yang membuat Karma harus menjadi temannya, Rio tidak tahu.
Tapi mungkin seharusnya Rio tidak boleh tahu.
Mendesah pelan. Menyandarkan tubuhnya., Rio memilih tidak peduli. "Aku mungkin tidak terlalu dekat dengan Asano," tutur Rio. "Tapi setiap pulang sekolah, aku selalu melihatnya di belakang sekolah."
"Ngapain?"
"Yang kutahu dia hanya duduk sambil baca buku."
"Ada lagi?"
"Apa ya..." Nakamura berpikir lagi. Tangannya tak henti untuk memainkan rambut pirangnya. "Selain bersama temannya, kurasa dia setiap hari di sana sendirian. Ah, aku tidak mengerti jalan pikir Asano!" Ia mendengus sebal. "Apa maksudnya menganggapku seperti parasit saat aku duduk di sebelahnya?! Hanya karena aku anak kelas E dan dia anak kelas A lalu dia berbuat seenaknya begitu!"
"Yah, aku setuju-setuju saja," balas Karma. Ia terkekeh beberapa sekon sebelum kembali berkata, "dia benar-benar menyebalkan."
"Aku jadi ingin mengumpatnya habis-habisan."
"Aku malah ingin memukulnya."
Mereka terdiam. Ada jeda beberapa sekon.
"Tapi serius, aku kaget sekali kau ingin menjadi temannya," kata Rio. "Kau harus baik-baik dengannya."
"Oh, jadi kau mendukung pertemanan kita," guman Karma sambil menghela nafas lega. "Kukira kalian tidak suka aku berteman Asano."
"Hanya karena dia kelas A?" sahut Rio sambil terkekeh lagi. "Ayolah, kelas E tidak serendah itu. Aku yakin Koro-sensei akan mendukungmu."
"Tapi agak susah juga kalau mengingat aku dari kelas E."
"Justru itu tantangannya." Tangan Rio menepuk bahu Karma. Ia menoleh ke arahnya sambil melebarkan sudut bibirnya. "Selamat berjuang!"
.
.
.
Asano Gakushuu penasaran, apa yang menarik dari dirinya sekarang sampai Akabane Karma selalu ada di matanya.
"Kenapa kau di sini?"
Asano kembali mengerjapkan matanya. Sepulang sekolah, setelah menyelesaikan beberapa dokumen OSIS, ia menangkap sosok Akabane Karma duduk di bangku halaman belakang sekolah. Novel terjemahan terbuka di kedua pahanya. Sekotak jus stoberi yang sudah habis tergeletak di sampingnya. Ia menjajah bangku yang seharusnya menjadi milik Asano saat ini.
Astaga.
Apakah cobannya tidak akan berhenti sekarang?
"Mau apa kau?"
Nada yang dikeluarkan dari mulut Asano benar-benar terdengar tidak bersahabat. Ia tidak menyukai kehadiran laki-laki merah itu. Asano merasa terganggu dengan kehadiran pemuda berambut merah ini. Apa kemarin tidak cukup untuk menganggu? Apa dosa yang telah Asano buat sehingga Karma menjadi parasit dalam hidupnya.
"Menunggumu, tentu saja."
"Aku tidak butuh." Asano membalasnya dingin. Ia menatap sengit pada Karma. "Kita ini adalah musuh. Mana ada orang yang mau baik dengan musuhnya sendiri."
"Mungkin itu aku." Ia terkekeh. Seolah ia tidak getar terhadap ancaman Asano sekalipun. "Lagipula, aku ini mantan kelas A. Kurasa kau bukan musuhku. Ya walau sekarang aku di kelas E."
Sepertinya laki-laki merah itu tidak menanggapi ancamannya tempo lalu.
"Sudahlah, duduk saja di sini. Aku yakin kau tidak mau pulang cepat," sahut Karma enteng. "Kalau kau berpikir untuk pergi ke hutan, percuma saja, anak kelas 3-E lagi nyari jamur. Dan juga, jam segini taman pasti penuh dengan anak-anak, bukan?"
Asano memberengut sebal, "kau bermaksud untuk menjebakku?"
"Tidak juga," balas Karma. Ia menggeser barang-barangnya dan menyediakan satu tempat untuk Asano. "Tapi tidak ada masalah kalau aku duduk di sampingnya."
"Sangat bermasalah," gerutu Asano. "Kau itu seperti pembawa sial untukku."
"Ayolah, aku ini pembawa keberuntungan."―yang akan mencegah Asano untuk mati karena bunuh diri. Bibirnya naik beberapa mili. Karma tersenyum. Sekali lagi Karma mempersilakan si jingga duduk, "ayo duduk. Kasihan kakimu disuruh berdiri di situ."
Asano menyipitkan matanya. Ekspresinya tidak berubah. Tapi ia tetap mengambil tempat duduk di samping Karma. Ia hanya penasaran, seberapa lama dirinya tahan duduk di samping Akabane Karma. Mungkin akan jauh lebih cepat dari kemarin. Dan juga, sepertinya Karma lebih tertarik dengan novel terjemahan ketimbang dengan dirinya.
Apa mungkin sebaiknya sore ini Asano berada di kafe jauh dari sekolah ini?
"Apa harimu baik kali ini?" oh, bahkan laki-laki merah itu peduli dengan harinya. Asano memandang takjub. "Kau tidak punya masalah kan?"
"Kalau saja kau tidak ada di sampingku, mungkin hidupku lebih damai," katanya dengan ekspresi sebal.
"Kalau aku tidak di sampingmu, mana mungkin aku bisa menjadi temanmu."
Alis Asano berkerut lagi. Ia heran, sungguh. Kenapa laki-laki merah di sampingnya bersikeras untuk menjadi temannya. Apa yang menarik dari dirinya, selain ia hanya anak membosankan yang terlalu terobsesi mengalahkan ayahnya sendiri.
Ia mendesah pelan. Pasti Karma akan bosan lalu meninggalkannya.
Hanya menunggu waktu itu tiba. Dan kehidupan tenang Asano akan kembali seperti semula.
"Kau tidak lelah jadi ketua OSIS? Terutama kau kan kelas tiga, apa tidak kau berikan pada adik kelasmu?"
"Kau menghinaku?" Asano menoleh ke arah Karma. Lagi-lagi ia memandang tak suka terhadap Karma. "Aku sudah biasa dengan itu. Lagipula, Kepala Sekolah suka dengan kinerjaku."
"Tapi tetap saja," Karma menghembuskan nafasnya pelan. "Kau itu hebat."
"Jika kau bermaksud memujiku untuk menjadi temanku, percuma saja. Sudah banyak yang melakukannya."
Ah, ketahuan. Karma tertawa garing.
"Kau itu benar-benar keras kepala," guman Karma. Ia menutup novel terjemahannya. Tanganya mengaduk isi tasnya yang terbuka di sebelahnya. "Aku punya sesuatu untukmu."
Mata violet Asano menyipit ketika Karma mengeluarkan sekotak susu stoberi dari tasnya. Tangan Karma menyerahkan itu padanya dan menunggu Asano untuk mengambilnya. Matanya kini beralih ke raut wajah laki-laki merah itu. Karma tersenyum. Gigi putihnya berseri. Asano heran, kenapa Karma memiliki senyuman seperti itu? Terlihat menikmati hidup tanpa beban.
"Terimalah," sahut Karma. "Jam segini perut sudah lapar, minta diisi kan?"
Asano tidak membalasnya. Ia hanya meraih kotak susu stoberi itu tanpa kata terima kasih yang keluar dari mulutnya. Wajahnya berpaling dari Karma. Laki-laki merah itu hanya tertawa kecil melihat ekspresi Karma.
Aneh.
Kenapa laki-laki merah itu malah memberinya susu stoberi?
"Ketika aku lagi kesal, capek, marah, biasanya aku minum susu stoberi," guman Karma lagi. "Rasanya aku lebih tenang minum ini."
Karma berkata penuh kejujuran. Asano kembali menatap susu stoberi di tanganya. Apa hebatnya susu stoberi ini hingga bisa membuat Karma merasa nyaman? Entahlah. Asano juga tidak mengerti, kenapa laki-laki merah itu memberikan sesuatu yang membuat tenang pada musuhnya sendiri.
"Karena aku ingin menjadi temanmu."
Asano terdiam dalam beberapa sekon. Ia mendesah pelan, "selera anak kecil."
Ia mengejeknya. Karma mendengus sebal. Tapi sebelum mulutnya sempat berucap untuk membalasnya, Asano sudah duluan berdiri dari tempat duduknya. Tangannya masih menggenggam susu stoberi itu. Ia menoleh ke arah Karma. Mata mereka nyaris tidak pernah bosan untuk menatap satu lain.
"Terima kasih,"
Asano mengatakannya, sebelum berlari kecil meninggalkan Karma sendirian. Wajahnya bersemu merah, meski mulutnya terlalu dongkol untuk membuat senyuman kecil. Walaupun ia berusaha menyembunyikan di balik lariannya, Karma sudah melihatnya. Tanpa disadarinya, Karma tertawa kecil melihat ekspresi Asano.
Ah, seharusnya ia menangkap ekspresi tadi dengan kamerannya.
Hari itu, adalah hari pertama Karma melihat semu merah di balik wajah jaim Asano.
.
.
.
Ia berterima kasih pada Karma. Ia mengucapkan terima kasih pada Karma sambil malu-malu.
Astaga.
Kenapa ia bisa begitu?
Asano menghentikan langkah kakinya. Sol sepatunya berhenti tepat pada ruang ketua OSIS yang terletak lantai dua. Ia tidak menyadari kalau beberapa anak sempat memanggilnya ketika berlari. Ia tidak menyadari kalau beberapa anak memandangnya penasaran. Mungkin sekarang orang bertanya-tanya, atau mungkin tidak peduli.
Pintu ruang ketua OSIS dikunci dari dalam. Semu merah di wajah Asano masih belum hilang. Si pembawa sialnya benar-benar pandai memberi kutukan. Asano mengerutu sebal. Setelah ini, Asano pastikan kalau ia tidak akan pernah dekat-dekat lagi dengan Akabane Karma, si pembawa kutukan.
"Kenapa jadi begini...?"
Aneh. Absrud. Tapi membuat Asano lebih nyamam dari sebelumnya.
Mata violetnya kini menatap kembali sekotak susu stoberi yang berada di tangannya. Susu ini tidak dingin. Dan mungkin sekarang panas karena suhu tangannya. Tapi Asano tetap memisahkan sedotan dari kotaknya. Membuka bungkus sedotan lalu menusuknya pada aluminium foil di kotak susu stoberi itu.
"Dasar, ini benar-benar seperti anak kecil." Walau begitu, Asano tetap menyicipi minuman kotak itu. "Rasanya terlalu manis."
Padahal seingat Asano, laki-laki merah itu punya catatan kenakalan setebal buku dosa. Tapi lucu sekali kalau Karma suka dengan minuman manis ini. Tidak terduga dan sangat mengejutkan.
"Kau itu benar-benar..." Asano terus meminum susu stoberi itu. Kepalanya menunduk. "Padahal aku musuhmu."
Tapi Karma terus menganggapnya kalau ia adalah temannya. Dan Asano menganggap Karma adalah musuhnya.
Tidak peduli seberapa benci Asano terhadap kelas 3-E. Karma tetap bersikeras untun menjadi teman Asano. Karma sepertinya juga tidak peduli dengan ancaman yang diberikan Asano saat di taman.
Ia tidak bisa mengerti. Asano tidak mau mengerti lagi.
"Mungkin aku harus beli susu stoberi, huh?"
Susu stoberi pemberian Karma habis. Asano langsung membuangnya ke tong sampah. Aneh. Biasanya rasa kelewat manis iti tidak pernah habis jika Asano yang menikmatinya. Tapi kali ini, susu stoberi yang kelewat manis itu malah habis.
Sudahlah.
Untuk kali ini, tak masalah kalau Karma mendekatinya dan memberikan susu stoberi untuknya.
Tapi selanjutnya, ia tidak boleh dekat-dekat lagi dengan Karma.
.
.
.
"Asano Gakushuu ya."
Di balik mobil sport hitam metalik, seorang pria muda menatap segepok kertas di tanganya. Nama Asano Gakushuu tercetak rapi bersama deretan informasi mengenai laki-laki jingga itu. Tak lupa foto Asano yang ditangkap dengan bantuan papparazi, wajah Asano dengan seragam Kunugigaoka.
"Asano-kun sangat membenci kelas 3-E."
Pria itu menyeringai. Ia harus mengamati lebih lanjut tentang laki-laki itu. Tidak ada yang boleh terlewat, ia harus menemukan celah-celah kelemahan Asano Gakushuu. Apa yang Asano benci hingga apa yang membuat Asano tersenyum tulus. Ia harus tahu seluk beluk mangsa barunya.
Hari ini Asano Gakushuu akan pulang telat. Menurut informannya, Asano akan sibuk mengerjakan tugas OSIS sendirian sampai larut. Kesempatan yang bagus. Tapi ia tidak akan bertemu dengannya. Belum, ia tidak akan terburu-buru. Ia akan mengamatinya dari kejauhan sampai memastikan kalau Asano Gakushuu adalah mangsa yang tepat.
Lalu menjebak laki-laki jingga itu ke dalam jaring laba-labanya.
Ia menyeringai.
"Sepertinya aku tidak salah mencari mangsa baru."
.
.
.
to be continued
.
.
.
MAAAAAFFFFFFFF TELAAAAATTT!
Hiks, sejak laptopku kena virus dan lelet sekali kalau mengetik, aku tidak bisa apdet TTATT dan makasih wps office, aku baru tahu kalau my beb android bisa dipakai nulis. Yah, walau aku harus nulis dari ulang dan sumpah... pegel banget!
Pokoknya aku minta maaf! Hiks, semoga saja aku sanggup apdet seminggu sekali! Aaaaahhhh...my lappie, jangan tinggalkam akuuuu! (Laptopnya masih nunggu abang-abang servis)
Daaaaannnnnn, yeeay! Asano mulai membukakan hatinya pada Karma, walo masih malu-malu sihh...tapi seneng saja. Siip, endus-endus cliffhangers. Belum klimaks kok. Aku masih pengen fokus dengan AsaKarunya duluu hahahahahaha!
Terimakasih masih setia menunggu! Kritik sarannya ditunggu, alur kecepatan, ploy gaje, silakan terus terang~~~
Oke, danke!
.
nadezhda rein
―Next Chapter: Genggaman Tangan
