Beautiful Sakura
Disclaimer : I don't own Naruto, all charcters belong to Masashi Kishimoto, but this story is mine.
Pairing : Sasuke x Sakura
Warning : AU, OOC, typo, etc.
Kedua insan berbeda gender ini duduk di dalam sebuah mobil dengan suasana tegang yang cukup menyesakkan . Mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Haruno. Pada awalnya Hikari dapat mengurangi setidaknya sedikit kecanggungan diantara kedua mahluk itu. Namun, sejak Hikari tidur di pertengahan jalan beberapa menit yang lalu, belum ada satupun yang mau membuka suara diantara keduanya. Baik Sasuke ataupun Sakura sama-sama belum mau mencairkan suasana.
Merasa tidak nyaman dengan kecanggungan yang sedari tadi tercipta dan sebagai lelaki sejati, Sasuke merasa perlu untuk mengatakan ini, "Aku minta maaf soal kejadian tadi... di kamar mandi," ujarnya pelan, "aku panik mendengar teriakkanmu, kukira ada sesuatu terjadi dengan Hikari. Sungguh aku tidak sengaja." Bagai melepaskan beban ribuan ton akhirnya Sasuke bisa bernafas sedikit lega. Terserah Sakura percaya atau tidak, yang jelas ia sudah minta maaf dan menjelaskan sejujur-jujurnya.
Sakura masih diam meresapi kata-kata Sasuke dengan wajah merona, ia sebenarnya masih kesal, sangat malah. Tapi ia juga ikut andil atas kejadian itu. "Aku juga lupa mengunci pintu, jadi bukan hanya kamu yang salah," cicitnya menahan malu.
Bahkan dirinya sudah lupa berbicara formal pada Sasuke.
"Ehem...," Sasuke berdeham untuk setidaknya mengurangi kecanggungannya, "baiklah kalau begitu, kuharap kau tidak salah paham dan kita bisa sama-sama menganggap kejadian tadi adalah kecelakaan."
Sakura bergumam pelan namun kepalanya mengangguk tanda setuju.
Walaupun di dalam lubuk hati keduanya, mereka tahu betul jika tidak mungkin bagi mereka bisa melupakan insiden memalukan beberapa jam yang lalu semudah itu.
Sakura memutuskan menoleh ke sisi kiri melihat jalanan yang sudah diwarnai lampu-lampu jalan. Tanpa sengaja matanya menangkap pantulan wajah serius Sasuke yang tengah menyetir di kaca mobil. Lagi, Sakura merona, pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa jam lalu yang cukup membuat dirinya ingin menguburkan diri ke dasar lautan.
Sasuke menatap tak percaya pemandangan yang tersuguh di depannya. Bukan Hikari yang ia temukan justru bidadari cantik dari langit yang seperti bayi baru lahir, alias polos tanpa sehelai benangpun. Baru kali ini. Sasuke merasa untuk menelan ludah saja begitu sulit seperti menelan sebuah bola tenis yang tersangkut di kerongkongan. Jika diperlambat akan tampak adegan jakun Sasuke yang naik turun menelan ludahnya susah payah.
Tak ubahnya Sasuke. Sakura juga gagal paham dengan situasi yang ada. Dengan wajah cengo super bodoh, ekspresinya lebih mirip orang yang kebingungan seolah baru saja melihat Orochimaru-sensei berubah jadi botak.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Sakura menurunkan pandangan mengikuti tatapan Sasuke yang tidak berkedip-kedip. Lalu kembali melihat Sasuke. Kemudian kembali lagi ke bawah.
Lalu―
"Argggh! Dasar, Om-om Mesum!"
dilemparnya pakaian yang ada di tangan kanannya ke wajah tampan nan mulus Uchiha Sasuke. Lalu segera menutup pintu, tepat di depan wajah syok Sasuke yang kini tertutup pakaian Sakura.
Seumur hidup Sasuke, ia sudah biasa jika mendapat lemparan, pukulan, bahkan tendangan dari seorang atupun lebih lawan yang tangguh. Baik saat ia latihan bela diri atau saat dulu latihan awal ia mengikuti pendidikan kepolisian.
Tapi ini... astaga! Baru kali ini ia dilempar dengan pakaian wanita tepat di wajah, berikut pakaian dalamnya! Perlu diulang sekali lagi?
Sasuke menatap horor bra Sakura yang menuruni wajahnya dengan tidak elit lalu jatuh tak berdaya di lantai.
Sasuke hanya bisa berdoa kepada Tuhan, agar hanya dia dan Tuhan yang tahu semuanya termasuk ekspresi wajah dan perasaanya saat ini.
.
.
.
Sesampainya di rumah Sakura tampak lebih diam dari biasanya. Tapi juga kadang-kadang bertingkah aneh seperti tiba-tiba menutup wajah sendiri dan mengacak-acak rambutnya. kurang lebih nampak seperti orang frustasi.
Tayuya menatap heran pada adik semata wayangnya yang terlihat sangat aneh. Ia menghampiri Sakura lalu menghempaskan bokongnya di sofa tepat sebelah Sakura duduk.
"Hei, kau kenapa?" tanyanya curiga. Namun hanya ditanggapai dengan gelengan oleh Sakura. Wajah adik satu-satunya itu ditutup dengan sebuah bantal sofa, hanya matanya saja yang tidak tertutupi.
"Kamu aneh banget, sih. Lagi galau ya?"
Lagi Sakura menggeleng, wajahnya semakin ia tenggelamkan di bantal.
"Jangan-jangan kamu lagi frustasi berantem sama pacar kamu? Atau malah kamu mau putusan sama pacar kamu?" tebak Tayuya ngawur.
"Eh, pacar kamu itu yang waktu itu nganterin kamu ya? Ciee... ganteng tapi mateng yah!"
Sakura mengangkat wajahnya galak. "Apa sih, berisik! Pergi sana, jangan ganggu aku!"
"Yee... ditanya kok sewot. Sakura sayang tingkah kamu itu dari tadi sudah seperti remaja labil, tahu!" ujar Tayuya sambil mencomot kue di meja depan mereka, "mawlu samwa umwur," lanjutnya tidak jelas karena berbicara sambil mengunyah makanan.
Sakura yang merasa sangat terganggu segera bangkit dan menatap galak kakaknya yang berisik. Dengan emosi ia melempar bantal sofa yg sejak tadi dipeluknya ke arah Tayuya yang tidak siaga.
"Aih ni anak kualat nanti nggak sopan sama orang tua."
"Bodo!"
Sakura melenggang pergi meninggalkan Tayuya yang masih berkhotbah di belakangnya. Ia memutuskan naik ke lantai dua menuju kamarnya. Tempat teraman untuk bersembunyi dan menyendiri.
Sesampainya di kamar, Sakura merebahkan dirinya di atas tempat tidur bercover sprei motif bunga Sakura yang indah. Setelah sebelumnya ia mengunci kamarnya sebagai antisipasi jika ada penggangu yang iseng. Moodnya sedang tak menentu jadi ia sama sekali tidak ingin diganggu.
Sakura menatap langit-langit di kamarnya. Saat ini ia tengah tidur terlentang dengan pikiran kembali mengingat pria yang baru dua hari ini ia temui namun sudah mampu memenuhi pikirannya. Pria yang dengan waktu singkat mampu membuat perasaanya campur aduk, dari kagum, kesal, sampai terpesona. Sakura tidak habis pikir mengapa bisa ia sering bertingkah malu-malu dan salah tingkah jika berada di dekat Sasuke. Jantungnya juga sering berdisko tak karuan. Jangan katakan kalau dia jatuh cinta dengan om-om itu. Tidak-tidak, Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia meyakinkan dalam hati bahwa itu tidak mungkin. Tidak mungkin ia menyukai pria yang lebih cocok jadi pamannya ketimbang kekasihnya. Biarpun ia akui pesona Sasuke tak sanggup untuk ditolak.
Seperti tersadar sesuatu. Sakura terlonjak dari pembaringannya ia berdiri tepat di depan cermin besar di kamarnya. Ia memperhatikan pantulan dirinya dengan seksama dari ujung kaki hingga kepala.
Sakura menepuk wajahnya. Astaga, ia benar benar merasa malu. Seluruh tubuhnya sudah dilihat oleh seorang pria yang bukan siapa-siapa baginya. Bahkan berpacaran saja dia belum pernah, bagaimana bisa seluruh bagian tubuhnya sudah ternoda dengan mata mesum om om seperti Sasuke.
"Tidakkkkk!"
Sementara itu di lantai satu, Moegi yang tengah asik menyaksikan siaran animasi di televisi segera menutup telinganya saat mendengar suara memekakkan telinga dari lantai atas.
Moegi melirik ibundanya. "Bun, itu bibi Sakura kenapa?"
"Sudah biar saja, bibi kamu itu paling-paling lagi stres ditinggal pacarnya."
.
.
.
Hari ini adalah hari buruk bagi Sasuke, sejak tadi ia tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dengan pekerjaannya. Ia menghela napas lelah, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Perlahan-lahan ia memejamkan matanya untuk sekedar menenangkan pikiran.
Bayangan seorang gadis muda berambut pink berseliweran di kepalanya. Ini sudah lewat seminggu mereka tidak bertemu. Sasuke sudah menyerahkan proses hukum pengembalian mobil dan pembuatan SIM untuk Sakura pada anak buahnya. Rencana awal ia ingin menahan lebih lama mobil itu supaya Sakura bisa membantunya menjaga Hikari. Sasuke sangat menyayangi Hikari, maka ketika begitu riangnya sang anak bersama Sakura, Sasuke berpikir Sakura adalah orang yang bisa ia andalkan untuk menjaga putrinya. Jika seandainya Sakura berasal dari keluarga kalangan biasa, mungkin Sasuke akan memohon pada Sakura untuk mau menjadi pengasuh Hikari. Bahkan bila perlu menggajinya dua kali lipat dari nenek Chiyo yang bekerja di rumahnya.
Setidaknya apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan Hikari.
Tapi sejak kejadian seminggu yang lalu, ia begitu segan untuk bertemu Sakura. Bahkan ia harus mengakali Hikari agar tidak merengek meminta bertemu Sakura. Sungguh sebagai seorang Uchiha ia tidak punya muka untuk bertemu. Selain itu, entah kenapa ada sebersit rasa takut jika dirinya harus kembali terjerat dalam pesona seorang perempuan. Ia khawatir kelak tidak bisa mengendalikan dirinya sama seperti dulu.
Tanpa dikomando memorinya memutar kejadian kala ia melihat tubuh polos gadis Haruno itu. Dari rambutnya yang tergerai indah jatuh melewati punggung, bibirnya yang mungil namun tipis berwarna merah menggoda. Kulitnya yang begitu mulus dan nampak halus. Dadanya yang bulat, kencang dan berisi membuat jemari Sasuke gatal ingin menyentuhnya. Pinggang yang berlekuk dengan pinggul yang sedikit lebar bak jam pasir. Dan... sesuatu diantara kedua kakinya yang membuat Sasuke tak sanggup untuk mendeskripsikannya. Lalu jangan lupakan kedua kaki yang jenjang nan indah membuat ia membayangkan bagaimana indahnya jika kaki itu melilit di pinggangnya.
Sasuke masih terpejam, dahinya mengernyit saat bayangan itu terasa jelas di memorinya. Sakura bukan hanya memiliki paras yang cantik dan menarik, tapi ternyata tubuh gadis itu juga seksi. Sungguh begitu indah.
Bukannya Sasuke tidak pernah melihat tubuh seorang perempuan. Namun ia rasa Sakura adalah yang terindah dari sekian perempuan yang pernah singgah dalam hidupnya. Bahkan untuk pria dewasa seperti dirinya. Sial, hanya dengan mengingat tubuh Sakura saja sesuatu di bawah perutnya mulai terasa menyiksa.
"Ck, sialan!"
Sasuke membuka mata lalu melihat seseorang berdiri diambang pintu ruangannya dengan seringai mengejek.
"Sedang membayangkan sesuatu, heh?"
"Diam kau, Dobe."
Seseorang yang dipanggil dengan 'Dobe' itu segera tertawa terbahak-bahak. Sepertinya tebakan asalnya tepat sasaran.
"Sejak kapan kau di sini? Dan ada apa kau kemari, Naruto?"
Lelaki berambut pirang bernama Naruto itu mendekat, kemudian menarik kursi di depan meja Sasuke.
"Jangan katakan kau sedang membayangkan hal mesum," cibirnya menggoda sahabatnya. Mengabaikan pertanyaan galak Sasuke.
"Tutup mulutmu. Cepat katakan ada perlu apa kau kemari!"
"Wah, sepertinya tebakanku benar, haha!" Sasuke mendengus. Kebiasaan Naruto memang tak pernah berubah, selalu usil dan menyebalkan. "Daripada kau melamun hal mesum tidak jelas, lebih baik besok malam kau ikut aku menghadiri peresmian cabang kantor salah satu perusahaan besar di Konoha."
"Aku tidak berminat. Aku bukan kalangan mereka."
Naruto cemberut. "Kau ini, tapi 'kan kau juga diundang, Teme!" seru Naruto bersemangat.
"Ayolah aku tidak mungkin hadir sendirian. Lagipula yang kudengar putri bungsu keluarga Haruno akan datang," ujar Naruto lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke, "aku penasaran, menurut berita dia sangat cantik tapi sayang katanya masih bocah. "
"Haruno?"
"Iya, kau tentu tahu keluarga konglomerat itu, kan?"
"Hn."
"Jadi?"
"Baiklah aku ikut."
Suka tidak suka, Sasuke mengakui cukup dalam hati saja jika dirinya merasa kehilangan dan berhasrat ingin bertemu dengan Haruno Sakura, lagi dan... lagi mungkin.
.
.
.
Sasuke merutuki kebodohannya yang mau-mau saja ikut hasutan iblis Naruto. Gara-gara pria berisik itu Sasuke harus menyendiri di sudut ruangan pesta. Sedangkan sahabat tidak tahu dirinya sedang asyik mendekati seorang gadis bersurai ungu gelap dengan mata yang unik. Sebenarnya bukan hanya itu saja yang membuat Sasuke kesal setengah mati, hal utama pemicu kekesalannya adalah sudah hampir setengah jam ia berada di sini, namun orang yang ia tunggu-tunggu kehadirannya tidak kunjung menampakkan diri.
Sasuke memperhatikan laki-laki di seberang di mana dirinya duduk. Gerak gerik tubuhnya nampak terlihat aneh. Instingnya mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan orang itu.
"Kau menyadarinya juga?"
Tiba-tiba Naruto sudah duduk di sampingnya.
"Hn."
"Sebenarnya aku juga sedikit curiga dengan gerak-geriknya." Naruto menyesap wine di gelas yang ia pegang. Matanya masih tetap mengawasi pria di seberang mereka duduk. Sampai pengisi acara memberi sambutan pada seorang tamu penting yang memasuki hall gedung.
"Hei, lihat!"
Sasuke memperhatikan seorang perempuan yang berjalan memasuki hall. Perempuan itu mengenakan gaun hitam cantik yang membungkus tubuh sintalnya, rambut merah muda miliknya di biarkan terurai dengan hanya dihiasi jepitan rambut yang manis. Satu kata untuknya, cantik. Perempuan itu adalah Haruno Sakura, gadis yang akhir-akhir ini dengan seenak jidatnya selalu mengusik pikirannya.
"Benar 'kan apa yang kubilang putri bungsu Tuan Haruno itu cantik."
Sasuke mendelik, tidak suka melihat Naruto yang menatap Sakura dengan tatapan memuja.
Tepat saat sang putri akan menghampiri ayahnya. Suara tembakan terdengar, disusul dengan kepanikan dan kericuhan orang-orang yang berlarian kian tak menentu. Naruto dan Sasuke segera bangkit dan memasang mode siaga, Naruto yang merupkan kepala satuan intelkam segera mengerahkan anak buahnya yang sudah ia siapakan sebagai antisipasi.
"Sepertinya kau sudah tau akan seperti ini jadinya, heh?"
Sasuke yang tak kalah siaga berbisik pada Naruto.
Naruto hanya nyengir, kemudian bersiap untuk membaur dengan anggotanya.
Naruto adalah pria yang memiliki insting dan intuisi yang hebat. Biarpun penampilannya terkesan bodoh, urakan dan sering dipandang sebelah mata, tapi justru di situlah kelebihan Naruto. Ia bisa memanipulasi orang-orang dengan tampilannya yang seperti itu. Karena saat ia beraksi orang sulit untuk menduga ia akan menjadi sisi lain seorang Naruto yang tangguh.
Sasuke yang teringat akan Sakura, segera mencari gadis itu. Entah kenapa perasaanya mengatakan gadis itu dalam bahaya.
Dan benar saja, apa yang ia khawatirkan terjadi, ia melihat tiga orang pria berjas hitam yang membawa senjata menggiring Sakura ke luar gedung dan membawa kabur gadis itu dengan menggunakan mobil. Dua orang anggota naruto tidak dapat menahan gerombolan penculik Sakura, karena gadis itu dijadikan sandera. Kemungkinan besar Naruto tengah mengamankan orang tua Sakura sehingga penjahat yang membawa Sakura bisa lolos.
Sasuke segera berlari mengejar Sakura namun para penculik itu langsung tancap gas. Ia kemudian berlari mencari mobilnya untuk bisa menyusul mobil yang membawa Sakura namun parkiran yang padat menyulitkan mobilnya untuk keluar
Ketika dia menoleh ke kanan-kiri dia melihat dua orang anak buah Naruto sudah bersiap dengan mobil untuk mengejar mobil penculik itu. Dengan segera Sasuke berlari ke arah mereka.
"Berikan mobilnya padaku!"
Sasuke menggedor kaca mobil pengemudi pada mobil yang dinaiki kedua anak buah Naruto.
"Tapi, Pak kami sedang terburu-buru."
"Biar aku yang mengejar mereka, cepat!"
"Tapi ini tuga-"
"Kubilang berikan kepadaku! Katakan pada Naruto aku yang mengejarnya!"
Sasuke membentak kedua bawahan Naruto yang membuat mereka menurut dan segera memberikan kemudi pada Sasuke kemudian si pengemudi sebelumnya memutuskan untuk duduk di belakang.
"Kalau begitu biar kami mendampingi, Bapak."
"Terserah," jawab Sasuke tidak peduli lalu segera melaju.
Sakura meronta-ronta minta dilepaskan, namun tangannya justru dikat dengan sebuah tali dan mulutnya juga di sumpal dengan sebuah sapu tangan.
"Sial, polisi itu berhasil menemukan kita!" Seru salah satu penjahat yang duduk di salah satu sisi Sakura.
Sakura melihat ke belakang kaca mobil, matanya membulat terkejut melihat Sasuke yang tengah mengemudi mobil di belakang mobilnya dengan raut khawatir.
Sakura semakin meronta ia ingin berontak berteriak, tapi semakin ia berontak penjahat-penjahat itu semakin geram, hingga dengan tingkat kekesalan akut penjahat itu menampar Sakura cukup kuat sampai Sakura tersungkur membentur kaca mobil dan tak sadarkan diri.
.
.
.
Sakura merasa tubuhnya terasa tertimpa batu sebesar kaki gajah. Lidahnya terasa berat dan kelu. Ia mencoba membuka matanya namun tidak berhasil, kemudian ia diam sesaat lalu mencoba sekali lagi, dan berhasil, walau penglihatannya masih nampak buram. Ia mengedarkan pandangannya pada sekeliling ruangan. Satu kesimpulan yang dapat ia tangkap, yaitu ia tengah terbaring di sebuah kamar rumah sakit.
Sakura mendapati kakaknya tengah duduk sambil tertidur di sisi ranjang. Ia menyentuh tangan Tayuya berniat membangunkannya.
Merasa ada yang menyentuh tanggannya Tayuya lekas bangun. Matanya melebar ketika menangkap Sakura yang balas menatapnya sayu. "Sakura... kau sudah sadar? Kau tidak apa-apa?" cecarnya bernada khawatir
"A-air, ha-haus"
"Sebentar aku ambilkan minum,"
Tayuya bangkit mengambil segelas air di atas lemari kecil di samping ranjang Sakura. Kemudian duduk dan disorongkannya sedotan ke mulut Sakura agar ia bisa minum.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Kamu mau sesuatu?" Tayuya memberondong Sakura dengan pertanyaan. Ia masih cemas, walaupun ia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kelegaannya saat melihat adiknya sudah siuman.
"Aku nggak apa-apa, Kak," jawab Sakura lemah. "Mama sama papa gimana? Nggak apa-apa, kan?"
"Iyah, mereka nggak apa-apa soalnya polisi mengamankan mereka duluan ketimbang kamu jadi kamu yang berhasil diculik. Tapi untung kamu selamat."
"Sekarang mereka dimana?"
"Mama ada sama dokter, kalau papa masih di kantor polisi."
"Oh ya kamu kenapa nggak bilang kalau punya pacar seganteng itu." Tayuya memasang wajah sumringah. "Yang nyelametin kamu itu laki-laki yang waktu itu nganterin kamu, kan? Ternyata dari dekat lebih ganteng, yah... walaupun sepertinya sudah agak berumur."
Sakura memutar bola matanya, "Dia memang sudah tua, bahkan jauh lebih tua dari kamu, Kak."
"Wah, serius? Om-om dong!"
"Iya. Jadi jangan godain aku sama dia terus. Karena itu nggak mungkin."
"Nggak apa-apa, Ra. Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini," ujar Tayuya sok bijak, "yang penting dia kece dan sayang sama kamu, hehe..."
"Sayang sama aku kepalamu," sungut Sakura tersipu liar.
"Nah, wajah kamu merah. Berarti kamu mau sama dia tapi malu, kan?" cerocos Tayuya semakin sok tahu," tenang saja, nanti aku bantu supaya kamu bisa sama dia. Papa juga sepertinya suka lho, sama dia."
Sakura hanya mendengus, malas menanggapi kakaknya yang sok tahu, sok dewasa, sok bijak dan sok sok lainnya. Pikirannya sekarang sedang memikirkan di mana Sasuke saat ini? Apa dia terluka? Apa dia baik-baik saja? Ah, rasanya ia tidak sabar ingin segera menemui pria itu. Hm... kangen.
.
.
.
Tok tok tok!
Nenek Chiyo segera berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu depan saat dirinya mendengar ketukan pintu beberapa kali di pintu depan. Ia bergegas untuk membukakan pintu. Tidak biasanya ada tamu sepagi ini.
"Pagi," sapa seorang gadis cantik bersurai pink, yang tak lain dan tak bukan adalah Haruno Sakura.
"Pagi juga, Nona. Anda mencari siapa?"
"Saya Haruno Sakura," ujar Sakura sopan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, "apa Sasuke-san dan Hikari-chan ada?"
Nenek chiyo tersenyum ramah membalas senyuman ramah gadis di hadapannya, rasanya sudah lama ia tidak menerima tamu seorang gadis cantik untuk tuannya ini.
"Tuan dan Nona Muda ada di dalam. Silahkan masuk, saya panggilkan Tuan sebentar."
Sakura kemudian masuk dan duduk menunggu di ruang tamu setelah sebelumnya nenek Chiyo mempersilahkannya untuk duduk.
"Bunda!" Hikari memekik senang setelah mengetahui siapa tamu untuk ia dan ayahnya. Segera Hikari berlari menghampiri Sakura, tanpa malu-malu naik ke pangkuan Sakura lalu memeluknya erat. Sakura juga membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
"Hikari kangen, Bunda."
"Bunda juga kok."
Sakura tidak berbohong, ia memang merindukan Hikari. Gadis kecil itu begitu manis dan menggemaskan. Beberapa hari tidak bertemu membuat keduanya memupuk rasa rindu yang besar. Sakura sama sekali tak keberatan saat Hikari terus menempel pada dirinya. Rupanya putri Uchiha Sasuke itu bahkan jauh lebih merindukan dirinya, hingga Hikari sempat memaksa Sakura untuk berjanji jangan menghilang lagi.
"Hmm... Bunda juga bawa oleh-oleh, lho buat Hikari-chan."
"Wah...," mata Hikari berbinar melihat sebuah boneka barbie dan kue tart coklat di dalam bag papper yang dijinjing Sakura, "asik! Makasih ya, Bun!
"Sama-sama, Sayang."
"Bunda, kita ke dalem, yuk. Kita makan kue ini sama-sama."
"Boleh."
"Hore!"
Hikari berlari riang masuk terlebih dahulu. Sakura menoleh pada Sasuke. Sasuke balas menatap Sakura namun Sakura yang merasa salah tingkah buru-buru memalingkan wajahnya.
"A-ano aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua pertolonganmu tempo hari." Mencoba memberanikan diri menatap Sasuke yang tetap memasang wajah datarnya. "Aku tidak tahu harus bagaimana untuk dapat membalas kebaikanmu."
"Hn, tidak masalah itu sudah menjadi kewajibanku membantu masyarakat."
Ada sedikit perasaan kecewa mengetahui ternyata Sasuke menolongnya bukan karena ia menghawatirkan dirinya.
"Apa Sasuke-san terluka karena kejadian itu?"
Sakura kembali memberanikan diri untuk menatap Sasuke. Sedikit lebih lama karena ingin memastikan keadaan sasuke baik-baik saja.
"Tidak. Kenapa? Kau menghawatirkanku?"
Telak, seperti maling yang tertangkap basah Sakura merona, kelabakan mencari kata apa yang pas supaya Sasuke tidak curiga dan salah paham.
"Bu-bukan begitu, maksudku... k-kau yang telah menolongku, jadi aku takut terjadi sesuatu padamu karena diriku."
Sakura yang menunduk karena malu tidak bisa melihat seringai Sasuke yang tampak geli melihat sikap menggemaskan Sakura.
.
.
.
Hari sudah malam, Sekarang Hikari sudah tertidur setelah seharian bermain bersama Sakura. Jadi, sekarang waktunya Sakura untuk segera pulang, setelah menidurkan anaknya sekarang giliran Sakura mencari ayahnya untuk berpamitan. Dan semoga saja bisa sekaligus diantar.
Sakura kembali ke ruang tengah, kosong tak ada Sasuke. Lalu telinganya menangkap suara gaduh yang berasal dari dapur. Segera saja ia melangkahkan kakinya menuju sumber suara kegaduhan itu.
"Sasuke-san?"
Sakura tidak yakin laki-laki bertampang jutek itu sedang memasak di dapur. Jadi ia semakin mendekat pada objek yang ia yakin adalah Sasuke.
Sakura mendekat dengan ekspresi tidak percaya akan apa yang dikerjakan seorang Uchiha Sasuke di dapur rumahnya.
"Kau sedang memasak?"
Penasaran, Sakura menelengkan kepalanya melihat masakan yang di masak Sasuke dari samping tubuh Sasuke.
"Menurutmu?"
Sasuke yang merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Sakura tetap saja asik memotong sayuran membuat Sakura yang tak digubris eksistensinya hanya bisa menonton aksi Sasuke.
"Bukan begitu caranya. Sini," pinta Sakura, meminta sebilah pisau yang tengah dipegang Sasuke.
Sasuke menaikkan sebalah alisnya tapi ia juga tetap menyerahkan pisau dan sayuran yang sudah separuh ia potong pada Sakura.
"Kalau ingin memotong itu seperti ini Sasuke-san, supaya lebih halus saat dimakan dan enak dipandang."
Sasuke memasang wajah malas membuat Sakura mendengus kesal.
"Coba kulihat, di sini ada sayuran, telur, bumbu instan dan nasi. Hmm," ujar Sakura sambil memperhatikan bahan makanan yang ada," ini untuk membuat nasi goreng, kan?"
Tak ada jawaban Sakura memutuskan kalau memang jawabannya iya. Sakura kemudian mengambil bumbu siap jadi yang tergeletak di samping nasi lalu menaruhnya ke dalam lemari.
"Pakai bumbu alami saja ya? Jangan yang instan, tidak baik untuk kesehatan. Biar aku yang buat bumbunya, aku jamin lebih enak."
Sakura menoleh kebelakang sambil memasang cengiran tanpa dosanya. Tidak menyadari sama sekali posisi mereka yang berhimpitan dengan dirinya yang sekarang berada di depan dan Sasuke berjarak cukup dekat di belakangnya.
Sasuke bahkan harus berkali- kali meneriaki dirinya sendiri agar tidak mengendus lalu mencium, kemudian menandai leher jenjang di hadapannya.
"Hei, kenapa kau memasak sendiri? Kenapa tidak meminta tolong saja pada nenek Chiyo?"
"Dia sedang sakit."
"Oh, lalu kenapa tidak pesan makanan saja kalau kau ingin makan? Itu 'kan lebih praktis."
"Kau ini cerewet sekali."
Sakura mengerucutkan bibirnya sambil terus meracik nasi goreng buatannya.
"Aku 'kan hanya bertanya, galak sekali," cibir Sakura masih membelakangi Sasuke. Tidak dapat melihat pancaran mata Sasuke yang tengah mati-matian menahan gairahnya. Sasuke kini tengah duduk di belakang Sakura niat awal ingin menjauh dari Sakura. Justru dirinya harus melihat pemandangan tubuh sintal Sakura yang melenggok memasak untuknya.
Sial! Dari belakang saja Sakura masih nampak menggoda. Rupanya Sasuke harus belajar bagaimana menahan gairah jika Haruno Sakura berada di dekatnya.
"Masakan datang... Ah!"
Tepat ketika Sakura menghampiri meja untuk menghidangkan sepiring nasi goreng buatannya lampu tiba-tiba padam. Reflek ia memekik dan berhenti di tempat. Ia tidak menyukai gelap. Bahkan mungkin sedikit phobia gelap, karena baginya gelap itu menyesakkan. Sakura meraba meja di depannya lalu meletakan perlahan piring nasi goreng di tangannya.
"Sasuke-san?"
"Sasuke-san, Kau di mana?"
"Hn. Di sini."
"Jangan tinggalkan aku. Kumohon... aku takut."
Sakura bergeser sedikit demi sedikit berusaha mendekat pada posisi terakhir Sasuke yang ia ingat berada di sebrang ia berdiri. Namun baru saja ia bergeser sedikit tubuhnya menabrak sesuatu yang keras, dan hampir saja dirinya oleng. Tapi hal itu tidak terjadi karena tiba-tiba ada sepasang tangan kekar menarik pinggang dan bahunya. Menopang dan melingkupi tubuhnya yang terasa mungil di rengkuhan tangan itu.
"Sasuke-san?"
Sakura berbisik lirih. Meyakinkan diri akan dugaanya jika ia tengah di dekap oleh Sasuke. Ia ingin memastikan itu. Walaupun ia jamin debaran jantungnya kian menggila jika itu benar.
"Hn."
Sasuke menyahut dengan gumaman rendah. Nafasnya terasa hangat di kening Sakura membuat degupan jantung Sakura kian bertalu kencang seperti genderang perang. Baru kali ini Sakura bersyukur akan gelap. Karena gelap saat ini telah membantunya menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah sangat merah. Sakura mendongak berharap dapat sedikit saja melihat wajah Sasuke.
Namun nihil, semua masih tetap terlihat gelap tapi deru nafas Sasuke semakin terasa menerpa wajahnya berawal dari kening, hidung, hingga... bibirnya. Dan yang terjadi selanjutnya hanya keheningan diliputi kegelapan.
.
.
.
TBC
A/N : Maaf lagi-lagi saya nggak bisa bales satu-satu review yang chap kemaren di sini. Kalau yang log in bisa cek di PM ya, mudahan nggak ada yang terlewat. Untuk reviewer guest mohon maaf dan makasih banget. Dan buat semua Reviewer makasih buat komentar dan masukkannya, untuk yang fave dan follow juga makasih banget ya.
please enjoy this chapter.
