Bab 3
Aneh rasanya bangun pagi-pagi dalam keadaan sepi. Tujuh tahun bangun pagi dengan hiruk pikuk anak-anak, mengeluh karena masih mengantuk, mengutuk guru-guru tertentu karena peernya masih saja belum selesai padahal sudah semalaman dikerjakan, berharap pelajaran tertentu gurunya tidak masuk…
Draco memaksa dirinya untuk bangun. Kalau tidak, ia tidak bisa membuka tokonya tepat waktu. Ia berjalan ke kamar mandi, dan terhenti sejenak karena telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin. Brrr. Disambarnya sikat gigi …
Harry mungkin masih menemui hari-hari seperti di Hogwarts. Bahkan konon pendidikan Auror lebih keras menerapkan disiplin. Neville, dia masih ada di lingkungan Hogwarts, suasana yang kini dirindukannya. Hermione apalagi. Masih di Hogwarts. Romy bagaimana ya? Apakah dia rewel? Apakah dia bangun semalaman dan membuat Hermione masih mengantuk?
Apakah … ia menepis bayangan itu. Kenapa dia jadi memikirkan Hermione? Diselesaikannya ritual kamar mandinya, bergegas berpakaian dan menuju dapur, tepatnya sebuah perapian di sudut. Rumah sekaligus toko ini tidak punya dapur, hanya ada sebuah perapian dengan rak untuk memasak air atau menghangatkan makanan. Dan membakar roti seperti yang ia lakukan.
Seekor burunghantu pengantar koran mengetuk-ngetuk jendela. Draco membuka jendelanya, mengambil korannya, membayar lima knut, dan burung hantu itu pergi. Draco membiarkan jendelanya terbuka agar udara segar dan sinar matahari masuk. Ia menuangkan kopi dan menggigit ujung roti bakarnya sambil membolak-balik korannya.
Di masa damai sekarang ini Daily Prophet kembali lagi menjadi koran gosip. Infotainment, keluh Draco sambil melempar koran ke atas meja, dan menghabiskan roti serta kopinya. Lalu ia turun dengan terpincang-pincang. Lantai bawah rumah ini dijadikan toko bahan Ramuan, lantai atas untuk tempat tinggalnya.
Pintu depan ia buka lebar-lebar, dan ia siap menerima konsumen. Awalnya memang agak canggung, ia yang biasanya memerintah orang, sekarang harus melayani orang.
Untuk keterkejutannya yang sia-sia disembunyikan, siang itu Hermione datang. Sendiri dan tersenyum lebar.
"Bagaimana tokomu di hari pertama ini?" tanyanya sambil melihat-lihat ke seluruh pelosok toko.
"Baik," sahut Draco, agak salah tingkah, "tidak terlalu ramai, tapi tidak sepi juga. Maklum, baru buka." Draco! Dia hanya seorang Hermione, untuk apa kamu harus sampai salah tingkah begitu?
"Jadi, aku boleh promosikan pada murid-muridku?"
Draco tertawa kecil, "Belum selengkap toko Ramuan di Diagon Alley," katanya merendah. "Bagaimana Romy?"
"Tadi sedang tidur. Umur sebegitu masih banyak tidurnya. Meski aku sedang mengusahakan membiasakannya tidur lama di malam hari, dan bangun lama di siang hari."
"Jadi, itu harus dibiasakan?"
"Katanya sih. Bayi-bayi tidak tahu mana siang dan mana malam. Karenanya, banyak anak-anak Penyihir yang biasa tidur selarut jam 11 malam, dan baru bisa bangun jam 9 seoknya."
Draco otomatis tersenyum, "Pasti kau baca dari …"
"Merawat Bayi dari A-Z oleh Bidan Weissenburger," Hermione tergelak. "Oya, kebetulan aku memerlukan ini," ia mengeluarkan segulung perkamen dan memberikannya pada Draco.
Draco membaca cepat daftar yang tertulis dan memeriksa persediaannya.
"Yang ini tidak ada," katanya sambil menunjuk satu macam pesanan Hermione itu, "Aku pesan dulu saja, nanti sore kuantar. Err, … sekalian semuanya saja kuantar, biar kau tidak berat-berat membawanya."
"Oke. Trims ya!"
"Tak apa-apa." Draco mengutuk dirinya sendiri karena begitu canggung. "Bagaimana hari pertamamu mengajar?"
"Baik. Belum ada tanda-tanda murid yang nakal, semua nampak baik-baik saja.. Tadinya aku ingin menghafalkan pidato 'I can teach you how to bottle fame, brew glory, even stopper death -- if you aren't as big a bunch of dunderheads as I usually have to teach' dengan memasang wajah galak, tapi rasanya aku tidak bisa."
"Sok Ja-im," sahut Draco spontan, dan keduanya tertawa.
Aneh, pikir Draco, bagaimana aku bisa berkomunikasi selancar ini dengan Hermione?
Sorenya pesanan Hermione datang. Sambil menutup tokonya, Draco mengemas pesanan Hermione dan mengantarnya ke Hogwarts. Dan bertemu lagi dengan Romy yang sekarang sudah bisa tersenyum menggemaskan. Ia memaksakan diri untuk tidak berlama-lama di sana. Hanya sebentar, dan pulang—walau ia ber-'hi' dulu dengan Neville—tapi ia langsung pulang.
Malam sudah turun. Draco memaksakan diri untuk makan, lalu berganti pakaian. Jubah hitam. Tudungnya dinaikkan untuk menyembunyikan rambutnya yang pirang—terlalu mencolok di malam hari.
Dan ia ber-DissAparate.
TBC
