Kim Jongin memarkirkan mobil merahnya perlahan. Pintu mulai terbuka—menampilkan sosok tampannya dengan seragam acak-acakannya. Lelaki itu menghela napas, berjalan memasuki rumah.
Krek….
"Aku pulang."
Seperti biasa, tidak akan ada yang akan menjawab sapaannya. Jongin terdiam dengan wajah yang muram. Beberapa saat kemudian, ia menutup pintu dengan kasar. Kakinya melangkah malas menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Tuan muda, anda sudah pulang?"
Ia dengar itu. Suara Bibi Yoon. Jongin tetap melangkah menaiki tangga. "Ya. Lanjutkan saja pekerjaan Bibi. Aku akan ke kamar."
BRAK
Tasnya dilempar begitu saja. Jongin menghela napas—membanting dirinya ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Hh, tidak ada yang menarik. Semuanya selalu sama. Dan hal itu membuat Jongin tidak menyukai rumah.
Karena ketika ia berada di rumah, Jongin akan menyadari betapa sepinya kehidupan yang ia miliki saat ini.
—
Stuck On You
2: Tak Terduga
—
Rumah bagi Kyungsoo adalah satu-satunya tempat yang paling nyaman untuknya. Melalui rumah, Kyungsoo dapat melepas penatnya selama sekolah dan beristirahat sebentar sebelum mulai bekerja lagi. Rumahnya ada di sekitar perumahan Gangwon—hanya rumah sederhana, dan cukup untuk dirinya dan ibunya tinggal. Uang sewa juga lumayan murah, sehingga Kyungsoo tidak terbebani lebih banyak lagi.
"Kyungsoo, kau sudah selesai?"
"… ehm. Sudah, bu. Aku akan segera menuangnya ke piring."
Ibu Kyungsoo mengalami kecelakaan ketika ia masih enam tahun. Hal itu membuat saraf yang ada di sekitar kaki ibunya mengalami kelumpuhan dan akhirnya membuat ibu Kyungsoo tidak bisa berjalan. Kyungsoo-lah yang harus bekerja keras agar keluarganya bisa hidup. Dia anak tunggal. Ayahnya sendiri telah meninggal karena serangan jantung.
Kyungsoo punya tanggung jawab yang besar dalam keluarganya.
"Kyung-ie," Kyungsoo tersenyum. Disana ibunya sudah datang dengan senyum manis—yang mirip sekali dengan senyum yang dimiliki oleh Kyungsoo. "Duduklah. Kau juga harus makan."
Lelaki itu mengangguk. "Iyaaa."
Denting sendok dan garpu memecah keheningan diantara dirinya dan sang ibu. Kyungsoo sesekali melirik ibunya yang tampak makan dengan lahap. Ia menghela napas lega, karena ia berpikir tadi masakannya kurang sesuatu. Tapi ternyata pemikirannya salah.
Kyungsoo terkesiap ketika suara ibunya mulai terdengar.
"Kyungsoo, bagaimana dengan sekolah?"
"S-Sekolah, ya?" ucapnya dengan senyum kecil. "Sekolahku tentu saja baik, bu. Aku belajar dengan baik."
Wanita itu mangut. "Ah, begitukah? Baguslah kalau begitu. Sekali-kali cobalah ajak teman-temanmu kesini. Ibu akan menjamu mereka dengan makanan super lezat keluarga Do. Ibu yakin mereka pasti menyukainya."
Lelaki bermata bulat itu hanya tersenyum tipis.
Bahkan mereka tidak akan mau datang kemari, bu.
"Oh iya, kenapa Yixing tidak diajak saja kemari? Kau sering menceritakan kalau dia teman baikmu di sekolah. Seharusnya nanti kau mengajaknya bertamu kemari."
"Yixing selalu bilang kalau keluarganya sibuk," ujarnya jujur. "Sibuk mengurus ini-itu. Aku maklumi itu. Katanya nanti dia akan datang kalau senggang."
"Urusan bisnis, mungkin?"
"Ya, bu."
Kyungsoo melihat perubahan dalam gurat wajah ibunya.
"Bu, kenapa?" Kyungsoo menggeser kursinya agar lebih dekat ke kursi roda milik sang ibu. "Ibu terlihat sedih—apa ada sesuatu yang ibu pikirkan? Kenapa? Ayo ceritakan."
Ibunya menghela napas, tersenyum kecil sambil menangkup wajah putranya itu. "Hh … sejak lama ibu punya mimpi, ibu ingin sekali membahagiakanmu. Ibu ingin memberimu kehidupan yang layak kau dapatkan, ibu ingin kau bahagia.
Tapi rasanya ketika ibu melihat keadaan kita sekarang, ibu merasa gagal menjadi seorang ibu yang baik untukmu. Kyungsoo, ibu tidak seharusnya membiarkanmu yang harus bekerja keras demi keluarga. Ibu-lah yang harusnya melakukan itu, tapi ibu malah membiarkan putra ibu yang melakukannya."
"Ibu, jangan bicara begitu." Tangan Kyungsoo terulur untuk memeluk ibunya. "Aku melakukan ini karena aku sayang ibu. Ibu itu seseorang yang paling berharga bagiku. Lagipula aku kan laki-laki. Laki-laki sudah seharusnya bekerja. Sudah, bu. Jangan sedih. Aku tidak apa-apa. Ibu tidak buruk, kok. Ibu bahkan sudah menjadi ibu yg sangat sangat sangaaat terbaik."
"Soo…." Ibunya tersenyum. "Terimakasih, Nak."
Senyum cantik tersungging di bibir hati milik Kyungsoo. "Iyaaa."
…
Kyungsoo masuk ke kelas dengan pelan. Matanya terasa berat sekali. Kemarin dia pulang lembur. Jujur sekali—Kyungsoo benci sekolah. Ia benci saat dimana semua orang menatapnya dengan remeh. Ia benci ketika mereka mulai mengganggunya. Ia benci saat dimana ia ditertawakan. Dan Kyungsoo juga sangat benci karena ia tidak bisa melawan mereka semua.
"Hei, Kyungsoo." tegur Yixing yg kini menatapnya dengan menopang dagu. "Kau kenapa? Wajahmu muram sekali pagi-pagi begini."
"Tidak apa," balasnya dengan senyum kecil. "Aku hanya—mengantuk."
Lelaki Cina itu menghela napas. "Memangnya kau tidur jam berapa kemarin?
"Satu malam."
"Eh—apa? Malam sekali!"
Kyungsoo tertawa kikuk. "Ya memang begitu kan? Aku melakukan banyak hal jadi pulangnya jam itu."
"Ya ampun. Pantas saja kantung matamu terlihat jelas hari ini, Soo. Kau harus sekali-sekali melakukan refreshing atau jalan-jalan. Ke mall misalnya, atau cafe, taman hiburan, dan butik." saran lelaki ber-dimple tersebut.
"… aku tidak bisa melakukannya."
Kyungsoo tersenyum tipis. "Aku tidak punya waktu untuk melakukan semua itu. Dan mereka semua terlalu mahal untukku."
Yixing hanya diam sambil menatap Kyungsoo prihatin.
SREK
Kyungsoo kembali memperhatikan tiga lelaki yang memasuki ruang kelas tersebut. Hh. Rasanya dia ingin sekali menegur mereka untuk memakai seragam yang benar—tapi lidahnya terasa kelu. Alhasil Kyungsoo hanya diam saja sembari memperhatikan ketiga lelaki itu.
Ia sangat mengenal tiga lelaki itu. Satu bernama Oh Sehun, putra seorang designer kenamaan Korea. Park Chanyeol, putra seorang CEO entertainment. Dan yang terakhir, Kim Jongin, putra donatur terbesar sekolah sekaligus pemilik sekolah ini. Tentu saja dgn posisi mereka itu, mereka begitu disegani oleh teman-temannya. Semua orang menyukai mereka—ya meskipun posisi tersebut membuat mereka malah bersikap seenaknya.
Enak ya, jadi seseorang yang kaya raya—dan Kyungsoo buru-buru menepuk dahinya karena pemikirannya itu.
"Minggir."
Itu suara Kim Jongin. Kyungsoo dan Yixing tersentak ketika ketiga lelaki itu malah sekarang berada di depan mereka—dengan Jongin yang menatap Kyungsoo datar seraya menumpukan tangannya pada meja.
"Untuk apa?" balas Kyungsoo tenang—meskipun kenyataannya dia kalut. "Ini bangkuku. Maaf."
Jongin memutar kedua bola matanya. "Lalu aku peduli? Minggir, pendek. Aku mau duduk disini. Kau tidak mau kan aku melakukan kekerasan disini?"
Kyungsoo bersikeras. "Tidak."
Sekarang mata besarnya beradu pandang dengan mata tajam lelaki di depannya.
"K-K-Kyungsoo," bisik Yixing takut. "A-Ayo minggir saja. Dia mengerikan sekali. A-Aku tidak mau wajahku jadi lebam, aku merawatnya lama sekali. A-Ayo Soo."
BRAK
"Kubilang minggir, sial!"
"Woah, kalem bro." Suara Chanyeol dan Sehun berusaha menenangkan Jongin yang sepertinya hendak mengamuk. "Jangan marah-marah begitu."
Sementara Kyungsoo terperanjat. Jongin memukul mejanya dengan kasar dan menatapnya dingin. Tidak, Kyungsoo tidak boleh takut. Hari ini dia harus melawan semua pembullyan yang ia terima sekarang. Kyungsoo tidak boleh menjadi lemah. Lelaki itu menghela napas, memberanikan diri menatap Kim Jongin si berandalan sekolah.
Si pendek ini berani juga, ya.
"Breng—"
"Kim Jongin."
"G-Gawat, ada Guru Kang!" bisik Chanyeol kepadanya agak keras.
Jongin menghentikan ucapannya. Sudah ada Guru Kang yang sudah duduk di bangkunya. Jongin beralih kearah Sehun dan Chanyeol—tapi ternyata dua lelaki itu sudah terlebih dahulu duduk di bangku masing-masing. Sial. Jongin menghela napas—tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Ya, pak. Saya duduk."
Kyungsoo dapat melihat sorot tajam lelaki itu ketika mata Jongin kembali menatap matanya.
Hidup Kyungsoo pasti akan semakin tidak tentram kalau begini.
…
Kantin terlihat ramai dengan siswa-siswi yang sedang makan siang atau hanya sekadar mengobrol bersama teman-teman mereka disana.
Baekhyun melangkah santai diikuti Tao dan Minseok dua sahabatnya. Lelaki manis itu terlihat sangat bersinar—dan banyak lelaki dan gadis-gadis lain memandanginya dengan tatapan memuja. Mata ber-eyeliner-nya menatap mereka semua dengan angkuh, berjalan melewati mereka begitu saja.
Byun Baekhyun, lelaki cantik yang paling banyak dipuja karena kecantikan yang ia miliki. Suaranya indah, membuat baik kaum adam maupun kaum hawa begitu menyukainya. Baekhyun merupakan cucu kepala sekolah SMU Cheongdam. Perawakannya yang manja dan ceria membuat lelaki yang berstatus sebagai seme juga mengagumi Baekhyun. Ia terlalu sempurna, dan bagi Baekhyun—orang yang sempurna seperti dirinya juga harus mendapatkan pendamping yang sempurna pula.
Orang yang sempurna itu adalah Jongin.
Jongin itu sahabat Baekhyun sejak kecil. Baekhyun sangat menyukai lelaki tampan itu—dan ia selalu berusaha menarik perhatiannya, walaupun Jongin sedikitpun tak pernah melihatnya. Baekhyun sendiri bingung. Dia cantik, kaya, terkenal. Tapi mengapa Jongin sama sekali tidak menyukainya? Padahal ia telah menggunakan segala cara.
Tapi tenanglah, Baekhyun tidak menyerah. Ia bukan orang yang mudah putus asa seperti itu. Baekhyun yakin, suatu saat nanti Jongin akan melihatnya—mencintainya dan menjadikan mimpinya menjadi nyata.
"Baby Jonginieee~"
"Uhuk,"
Jongin tersedak sandwich yang ia makan. Chanyeol spontan memberikan segelas air untuk temannya itu. "Kalem, Jongin-ah. Minum dulu."
Selanjutnya, Jongin mendapati sosok manis Baekhyun telah duduk di sampingnya, dengan kedua tangannya yang memeluk lengannya dan wajahnya kini berubah manja. Tao tersenyum geli seraya menopang dagu dan Minseok hanya menggeleng kecil.
"Sayang, sedang apa? Uh, kenapa kau memakan makanan kampungan begitu? Kau bisa memesan spagetti atau sushi." ucap lelaki itu sambil menatap aneh sandwich yang ada di tangan Jongin. "Kalau Sehun dan Chanyeol yang makan, sih—itu cocok-cocok saja. Tapi kalau baby Jongin yang memakannya, itu sangat tidak pantas. Pacarku harus mendapat pelayanan yang pantas dan mewah."
"Hei, sipit," Sehun meminum soda di sampingnya dan menatap Baekhyun sengit. "Jadi kau pikir kami ini anak kampung, begitu? Jaga mulutmu ya. Sepertinya kau terlalu banyak memakan cabai."
"Berisik, triplek!"
"Apa ha? Kerdil!"
"Sialan kau tiang listrik!"
"Argh, tolong." Jongin berdiri dengan kesal dan menatap teman-temannya itu tajam. "Bisakah kalian membuatku betah disini?! Dan kau, Baekhyun—berapa kali sih harus kukatakan, jangan dekati aku! Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu, hyung. Kau hanya kuanggap teman saja, oke? Aku lelah melihatmu terus bergelayut manja padaku, dan itu sungguh menggelikan!"
Baekhyun membela dirinya. "Aku bisa berhenti manja padamu. Tapi kau takkan bisa menghentikanku untuk terus berada di dekatmu dan mencintaimu."
"Damn it!" umpat Jongin. "Aku sungguh tidak suka dengan kehadiranmu, Byun Baekhyun. Menjauhlah dariku."
Di luar dugaan, lelaki itu menyunggingkan senyuman sinis. "Tidak suka? Hahaha, Kim Jongin. Aku cantik! Aku punya segalanya, aku kaya; pintar; bertalenta; manis—tapi kenapa kau sama sekali tak mau melihatku?! Apa kurangnya aku sehingga kau tidak menyukaiku, ha?! Kenapa kau selalu saja menyakitiku?"
Chanyeol menatap Baekhyun seraya menggenggam kedua lengannya. "Baekhyun, duduk dan tenang. Semua orang melihatmu."
"Keparat—jangan sentuh aku!" Baekhyun menepis tangan Chanyeol kasar. "Ini bukan urusanmu dan aku tidak peduli siapapun yang melihat. Aku bisa menyumpal mereka semua dengan uang yang kupunya!"
Chanyeol terdiam.
"Itulah yang kurang dalam dirimu, hyung." ujar Jongin yang melangkah menjauh—menatap Baekhyun dengan tatapan datar. "Kau egois. Kau cantik di luar, tapi nyatanya di dalam dirimu terlalu banyak sampah."
Setelah itu, Jongin pergi menjauh dari mereka semua. Tak mempedulikan teriakan kesal Baekhyun di belakang sana.
Ck, bukankah dia juga mengatai dirinya sendiri, omong-omong?
Jongin juga sampah. Sampah yang tertutupi oleh kulit yang indah.
…
"Kyungsoo-ya! Kyungsoo-ya!"
Lelaki itu berhenti. Niatnya yang ingin ke toilet untuk mencuci wajah hilang sejenak setelah melihat Sooyoung dan Seulgi—teman sekelasnya—membawa beberapa kamus di tangannya.
"… oh, ada apa?" tanyanya sopan.
"Kyungsoo, tolong bawakan ini ya!" Kyungsoo kaget ketika ia disodorkan dengan setumpuk kamus oleh Seulgi dan setumpuk lagi dari Sooyoung. Ia harus menjaga keseimbangan tubuhnya sebentar sebelum Sooyoung melanjutkan dengan santai. "Bawa ke perpustakaan. Pak Han menyuruh kami, tapi kami sedang sibuk. Sudah ya, daaah!"
Kyungsoo hanya diam saja saat kedua gadis itu pergi meninggalkannya.
Dan disinilah sekarang dirinya. Kyungsoo menuruni tangga dengan susah payah. Ini berat sekali—dan harusnya ia tidak menurutinya dan menyadari keanehan yang ada. Ternyata dia ditipu oleh kedua gadis itu setelah Pak Han mengatakan bahwa tidak ada kamus baru yang datang dan juga tidak ada siapapun yang beliau suruh untuk membawanya. Kyungsoo hanya tersenyum kecil, mengucapkan terimakasih dan menuruni tangga untuk mengembalikannya ke ruangan guru.
Ah, berat … lirih Kyungsoo. Tumpukan kamus itu bahkan agak menutupi wajahnya.
Tap
Tap
Kyungsoo mendengar langkah kaki. Oke, salahkan dirinya yang suka berasumsi buruk (karena ia berpikir jika suara itu berasal dari murid lain yang datang untuk mengganggunya) sehingga Kyungsoo justru berbalik menaiki tangga dengan cepat supaya ia tidak bertemu dengan orang itu.
Tap
Tap
Jongin mendengar suara langkah kaki—dan kedengarannya itu cepat sekali. Lelaki itu menatap kearah atas dimana suara tersebut berasal. Apa peduliku? Pikirnya malas. Ia hanya menghela napas seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan kembali melangkah menaiki tangga.
Dan sialnya, Kyungsoo tersandung tali sepatunya sendiri sehingga tubuhnya oleng ke pinggir tangga dan membuat dua buah kamus di tumpukan tertinggi terjatuh ke bawah.
"Astaga!" pekik Kyungsoo kaget.
BUK!
Kyungsoo menurunkan kamus di tangannya dengan hati-hati, kemudian mengarahkan kepalanya melihat seseorang yang mengumpat kasar karena kepalanya harus terhantam dua buku tebal itu. Lelaki itu memukul dahinya, merasa begitu bersalah.
Matilah aku, matilah!
Dan ketika Jongin mendongak untuk melihat pelaku penjatuhan buku keramat 'sialan' itu, apa yang ia lihat selanjutnya membuat lelaki itu terdiam dengan tatapan yang sangat sarat akan emosi dan kekesalan.
Kyungsoo terdiam dengan wajah pucat.
—
Garing ya -_-a
Yg penting si ami sama abi udah ketemu tuh gaes. Soal Chanbaek, tenang aja ntar mereka bersatu kok. Hanya perlu waktu buat si Ceye biar naklukkin hatinya Baekhyun. Member EXO lainnya bakal nongol kok, jadi stay tune yo.
Review kalian sangat dibutuhkan untuk kelanjutan cerita ini.
See ya in the next chap!
—chi.
