[MEMORABILIA]
/
{bokuto's 2nd pov}
bokuto/kuroo slight bokuto/akaashi, kuroo/tsuki
{iii – kunang-kunang dan malam yang menjadikanmu ada}
.
Semua ini bermula dari gerimis, lalu matahari datang untuk membasuh sisa-sisa kesedihan—yang kemudian justru membakar, membakar, membakar. Seekor kelelawar berubah wujud menjadi kunang-kunang, katanya. Kunang-kunang itu kini melayang bebas di malam hari, menjelma cahaya yang berpendar kecil kekuningan di sepanjang hutan; kunang-kunang tak pernah diizinkan berjumpa dengan matahari, sebab, cahayanya menjadi tidak ada arti. Dia hanya berkelana tatkala matahari sudah lelap; berkelana, berkelana, mencari arti, barangkali.
Kau berpikir, mungkin segenap drama cinta segitiga tahi kucing itu telah tamat. Antara kau dan Tetsu; antara kau dan Akaashi; antara Tetsu dan Akaashi (diam-diam). Hubungan yang abstrak—kompleks, namun sebetulnya mampu dijabarkan dengan sederhana. Tapi kita semua tahu, perasaan tidak pernah sederhana. Selalu ada yang sembunyi, minta ditemukan atau justru minta dilenyapkan. Lagi pula, sejak awal, kau tak pernah benar-benar menyukai drama picisan. Kau hanya senang bersenang-senang (dan menjadi pelipur lara dalam hidup Tetsu merupakan kesenangan yang abstrak).
Semua ini, kembali lagi pada satu hal; luka.
Luka menjadikan suatu cerita cinta yang panjang dan membingungkan. Luka dan Luka, mereka berjumpa, saling merengkuh, memagut. Luka dan Luka berharap luka hilang—padahal, padahal … luka yang menjadikan mereka ada. Kau bertanya-tanya; benarkah luka hilang? Sebab, kadang, pikiranmu melayang jauh pada Tetsu, pada Akaashi, dan tanda tanya di antara keduanya yang berakhir pada luka.
Luka tidak selalu berdarah. Dan kau memahami benar; ada luka yang diam-diam memelukmu. Kau hanya terlalu enteng menanggapi, berpikir bahwa waktu pasti akan melenyapkannya, berpikir bahwa Akaashi pasti akan menyembuhkannya (sementara kau tak pernah tahu, lelaki itu juga memiliki luka yang sama sepertimu; luka atas pelarian-pelarian, persinggahan sementara, tahi kucing). Kau tahu ada yang tidak benar dalam hubungan antara Tetsu dan Akaashi. Lantas kau marah—pada siapa? Kau tak yakin.
(Tapi kau tahu, kau tidak suka Akaashi disentuh oleh siapa pun—bahkan Tetsu.)
.
"Dia hanya kelelawar yang hilang arah, Bokuto-san."
"Katamu sekarang dia berubah menjadi kunang-kunang."
"Ya, akulah yang mengubahnya. Tidakkah kau merasa kasihan? Dia rindu pada matahari, tapi matahari membakarnya, matahari membuatnya takut. Demikianlah kenapa aku mengubahnya menjadi kunang-kunang. Agar ia memiliki matahari di dalam dirinya sendiri tanpa perlu terbakar dalam kobaranmu."
"Kau tahu aku sempat menjadi mataharinya."
"Bahkan, sekarang, kau masih menjadi mataharinya, Bokuto-san."
"Menurutmu begitu?"
Akaashi mengangguk yakin.
"Tapi dia meninggalkanku. Aku datang padanya karena dia terluka, karena dia meminta. Tapi dia meninggalkanku, Akaashi. Pada akhirnya dia meninggalkanku."
"Justru karena dengan meninggalkanmu, dia ingin kau tetap menjadi mataharinya."
Kau terpana. Akaashi mengulas senyum, lalu mengecup lembut bibirmu.
"Kalau Kuroo-san tidak meninggalkanmu, kau mungkin tidak akan pernah berjumpa denganku—dan aku mungkin tidak akan pernah ditemukan oleh Kuroo-san. Bukankah cinta seperti efek dalam permainan domino?"
"Saling mendorong dan menghancurkan," gumammu.
"Saling berhubungan. Kau, aku dan Kuroo-san. Kita semua."
.
Kau membayangkan; apa jadinya kalau Akaashi menganggapmu hanya mencari pelarian atas luka yang ditinggalkan Tetsu—walau benar demikian? Ataukah Akaashi sudah berpikir sampai ke sana (sementara Tetsu juga datang pada Akaashi, menjadikan Akaashi sebagai pelarian atas luka yang ditinggalkan olehmu—meski kau tidak merasa melukainya). Lagi-lagi semua kembali kepada luka. Akaashi berperan sebagai obat penawar bagimu dan baginya, sedangkan kau tidak pernah mengetahui luka semacam apa yang juga tertoreh dalam dada Akaashi.
(Sementara Tetsu … lihat, betapa sekarang dia menikmati kehidupannya sebagai kunang-kunang. Dia masih saja berkelana, mencari penyembuh untuk luka-lukanya. Egois sekali.)
Tapi hanya kau yang paling tahu betapa Tetsu pandai berpura-pura.
'Setelah menjelma kunang-kunang, apakah kau masih takut pada matahari?'
Hari itu gerimis. Sebentar lagi musim gugur datang, dilanjut musim salju. Musim-musim yang mengantre panjang. Kau seperti melemparkan diri kembali ke masa lalu; antara kau dan Tetsu saat kali pertama berjumpa di kafe ini. Bersama secangkir kopi dan buku catatan kecil, tempat Tetsu menulis puisi-puisi atau ide-ide yang mendadak muncul. Buku catatan itu pula yang mengenalkanmu padanya dalam sebaris tanya; kenapa kau menancapkan puisi-puisi dari seseorang ke kepalamu?
Kau tidak pernah mengira dari satu pertanyaan itu akan menjadi begini; menciptakan drama percintaan yang membingungkan. Tetsu sedikit banyak berubah. Wajahnya tidak sesendu dulu—wajah yang seakan mengajakmu untuk tidur bersama, dalam artian saling menghangatkan dan memberi arti pada masing-masing eksistensi. Wajah terluka (lantas kau tergerak untuk menghapus lukanya—ah, mulai lagi; luka). Dulu juga gerimis seperti ini, yang lalu mendadak cerah. Tetsu mempertanyakan kenapa matahari mendadak muncul; kenapa kau mendadak datang padanya, berperan sebagai seseorang yang berniat melenyapkan gerimis di hidupnya. Kau sendiri tak tahu. Barangkali karena raut wajah itu membuatmu tidak tega.
'Kau masih saja menulis puisi.'
Dia menyembunyikan keterkejutannya atas kehadiranmu yang tiba-tiba. Segera, dia tutup buku catatannya. Secangkir kopi disesap ragu.
'Puisi menjadikan aku ada, Kou.'
Kau tak mengira Tetsu masih tetap memanggilmu dengan nama istimewa itu—seperti juga dirimu yang lalu sadar bahwa kau juga masih memanggilnya dengan nama istimewa.
'Aku tak pernah mengerti puisi.'
'Aku tahu.'
'Kita sangat bertolak belakang dalam banyak hal.'
'Aku tahu.'
'Karena itulah kau ingin Akaashi menjadi penggantiku—karena dia serupa denganmu; menyukai sastra, menikmati puisi dan mampu berdiskusi denganmu mengenai banyak hal, tidak seperti aku yang bodoh ini?'
'Kau salah.'
'Aku tahu.'
Tetsu membisu. Kau ikut bisu.
Melankolia datang lagi padaku;
Tanpa koma, tanpa titik, dia memperpanjang gerimis
{Meski matahari menyala di depan mata}
Aku tahu kau menyembunyikan banyak hal dariku. Bahkan mengenai Akaashi. Kau menundukkan kepala. Apakah benar Tetsu menjadikan Akaashi sebagai tempat persinggahannya yang lain sementara waktu itu kau membuka tangan lebar-lebar untuknya? Kau mengepalkan tangan. Kepala kembali menengadah, memandang Tetsu yang rupanya tengah menunduk.
.
"Dulu aku bersedia menjadi pelarianmu, bersedia menjadi obat penawar untuk luka yang ditinggalkan seseorang padamu. Sekarang, apakah kau ingin Akaashi melakukan hal yang sama?"
"Kau salah mengenai hal itu, Kou."
"Kalau begitu, katakan padaku kebenarannya. Bahwa sebenar-benarnya, kau tak pernah menaruh hati padaku—atau pada Akaashi."
"Kau pikir begitu?"
"Ya. Bahkan ketika masih bersamaku, aku tahu hatimu berada di tempat yang lain—entah siapa. Kau terus saja menjadikan orang lain sebagai tameng untuk menyembunyikan kerapuhanmu. Kau enggan menyadarinya. Ketika berciuman denganku, kau membayangkan orang lain. Aku tahu, Tetsu, aku sudah lama tahu."
"Lalu, apa yang membuatmu kembali datang padaku, Kou? Apakah kau ingin aku menyembuhkan lukamu juga? Apakah memang benar kau terluka karena aku ataukah kau hanya membual saja. Kau sama, ketika bersamaku, hatimu tidak berada pada tempatnya. Kau tidak menaruh hati padaku, kau tidak menaruh hati pada siapa pun. Kau hanya kasihan karena aku selalu kesepian—dan kau sama kesepiannya."
"Kau selalu begini. Memutar-balikkan fakta. Kau tahu aku sungguh jatuh cinta padamu waktu itu, tapi kau mendorongku. Kau meninggalkanku. Sampai Akaashi—"
"Datang dan menyelamatkanmu dariku, begitu? Kau tidak tahu betapa itulah yang membuatku paling terluka."
"Kau juga datang pada Akaashi dan itu membuatku terluka."
"Aku datang pada Akaashi karena kau menyentuhnya. Aku menyentuh Akaashi. Aku ingin menyentuh apa yang kau sentuh, meski itu berarti aku harus semakin terluka."
Kau terkejut. "Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal, Tetsu. Kau membuat skenario seolah kaulah yang paling terluka. Tapi, lihatlah … lukamu membuat kami terluka juga. Kami terkena imbas karena skenariomu ini."
Tetsu terdiam lagi. Sendu itu kembali datang—seperti gerimis; gerimis yang membawa serta kesedihan. Tetsu menunduk cukup lama. Kau membiarkan. Kemudian, suaranya terdengar samar dan lirih.
"Hei, Kou … apakah kau datang padaku hanya untuk meluapkan kemarahanmu?"
.
.
Untuk K. Tetsuro
Aku tidak tahu kenapa, tapi tampaknya gerimis dalam kedua matamu enggan reda.
Aku masih dapat melihatnya; gerimis yang membawa serta kesedihan itu.
Kita semua terluka. Lalu, kepada siapa kiranya kita bisa meminta obat penawar? Apakah gagasan mengenai dua orang terluka bisa saling menyembuhkan itu benar adanya? Pada kenyataanya, kita hanya semakin membuat diri kita terluka.
{Luka lama masih ada, ditambah luka baru. Akan bagaimana?}
Berhentilah mengatakan bahwa kau mencintaiku, bahwa melalui Akaashi, kau ingin kita kembali terhubung (sementara hatimu, selalu, selalu, berada jauh di suatu tempat—barangkali berada dalam genggaman lelaki yang menaruh secarik puisi di kolong ranjangmu itu).
Kita tidak bisa terus begini.
{Kau tidak bisa terus begini}
[Dari B. Koutarou]
.
.
"Aku datang padamu bukan untuk meluapkan kemarahanku."
"Tapi kau marah."
Kau menyentuh tangannya, menggenggamnya, mengusapnya. Kau biarkan orang-orang di dalam kafe melihat, terserah saja. Kau tidak peduli pada hal remeh semacam itu. Tetsu memandangmu penuh tanya. Kau mengulas senyum lebar—bahkan, setelah semua luka-luka ini, kau masih saja mencoba untuk tersenyum di hadapannya; sebab, kau tahu benar, hanya senyumanmu yang mampu meredakan gerimis dalam kedua mata Tetsu.
"Aku hanya ingin menyadarkanmu bahwa kau sama sekali tidak jatuh cinta padaku ataupun pada Akaashi. Kau jatuh cinta pada orang lain; sosok yang selama ini tertidur lelap di dalam hatimu, yang menjadikanmu ada melalui puisi-puisi yang ditulisnya. Kau hanya sepi karena dia tak lagi berada dekat denganmu—kau hanya membutuhkan teman bicara."
"Kou …"
Entah apa yang menarikmu untuk mendekat, kau kecup pula bibirnya lembut. Tetsu terpana, lalu menyentuh bibirnya sendiri. Itu adalah ciuman terakhir darimu. Kau takkan pernah mampu menciumnya lagi—karena Akaashi, tentu saja. Kau mengulas senyum, kedua lengan menangkup wajah lelaki yang masih terpana.
"Kau bukan lagi kelelawar. Akaashi mengubahmu menjadi kunang-kunang. Lelaki itu—lelaki yang entah siapa namanya, yang menuliskan puisi untukmu dan menaruhnya di kolong ranjangmu itu, dia juga bukan gerimis yang membawa serta kesedihan. Carilah dia dan ubah dia menjadi malam yang menjadikanmu ada; yang menjadikan kunang-kunang sepertimu menyala terang—tanpa perlu matahari dan cahaya, tanpa perlu aku ataupun Akaashi."
"Kei."
Kau mengangkat sebelah alis.
"Namanya. Lelaki itu. Yang menaruh puisi di kolong ranjangku. Yang aku cintai sepenuh hati—yang pergi jauh, jauh sekali. Namanya Kei. Tsukishima Kei. Dialah kunang-kunang yang sebenarnya."[*]
Tetsu mengulas senyum tipis. Kau ikut tersenyum karena senyumannya. Kemudian, kau merangkul tubuhnya, mendekap dalam rengkuhan hangat sebagai dua sahabat karib. Kau tenang karena sudah menemukan jalan untuk Tetsu. Kau tenang karena gerimis itu mulai reda, perlahan-lahan. Kisah ini akan menjadi memorabilia tak terlupakan; sama-sama terluka, saling menyembuhkan, saling menghancurkan sekaligus saling menguatkan.[]
{selesai}
9:35 PM – October 4, 2017
[*] Kei (dalam kanji Hotaru) memiliki arti nama 'kunang-kunang'
a/n: yap, semua ini hanya tentang kuroo dan patah hatinya {serta orang-orang yang membantunya keluar dari kesedihan} kuroo-sentris! /yha sejujurnya saya tidak pandai menulis romance secara gamblang begini, suka geli. tapi semoga kalian menikmati ceritanya sama seperti ketika saya menikmati proses penulisannya. terima kasih untuk feedback di chapter sebelumnya! kalian harus tahu feedback dari kalian sangat berarti buat saya.
sampai jumpa di fanfiksi saya berikutnya:)
