Inspirited from Universal Studio's animation movie : Despicable Me. With many modifications by me.
Disclaimer : I wish I could have Naruto. But, instead of wishing, I'm just gonna write the fic. All hail to Kishimoto Masashi. Mac Donald, CIA, Corvette, dan Brad Pitt sama sekali bukan milik saya, tentunya.
The Moon Thief
by ceruleanday
July, 2011
—beware of some imaginary silly things. I've warned you. And, this is an AU fic.
capitulo three
.
.
.
Ruangan itu berukuran lima kali enam meter. Seluruh strukturnya didesain kokoh dan dilapisi baja metal setebal sepuluh inci. Tak ada ventilasi cukup yang mempersilakan udara di luar sana masuk seenaknya. Pintu besi model brankas emasdi bank-bank internasional berjumlah satu dan membuka setengah—memerlihatkan sebuah bayang yang mengendap-endap masuk tanpa diperintahkan. Ada cermin multifungsi yang memisahkan dinding lateral dengan ruangan di sebelahnya. Meski berupa cermin, terdapat kaca yang menjadi sekat jika dilihat dari luar. Sosok yang di dalam ruang baja itu hanya melihat dirinya yang sedang tertidur pulas.
Ia terikat sepenuhnya dengan borgol lima kunci sekaligus. Pergelangan tangan, kaki, tubuh yang terlilit sempurna, beserta mata yang sadar akan kegelapan. Rasa-rasanya baru kemarin ia tertidur dengan nyaman seperti saat ini—jauh sebelum laporan akan hilangnya Pyramid of Giza membuatnya sukar menikmati lantunanmusik jazz yang kerap kali digunakan sebagai lullaby. Sayangnya, ia tertidur di atas sebuah kursi kejut listrik dan terbalut baju karet berwarna putih gading layaknya magic suit Houdini di rumah sakit jiwa. Matanya dibebat dengan kain berwarna hitam akik. Tak ada celah cahaya yang bisa menembusnya—ia nyaris berteriak mendapatkan dirinya buta seribu persen.
Saat mendapatkan kembali nyawanya yang melayang-layang ke angkasa sana, sosok ini segera menyelami kelamnya dunia bersama seorang pemuda yang mengenakan seragam putih tak rapi. Rambut chicken butt-nya melawan gravitasi bumi—sosok itu seakan melihat alien yang berusaha menculiknya, memasukkan telur-telur mengerikan ke dalam otaknya, kemudian—
"Aku tidak suka pekerjaanku yang satu ini. Tapi kau memaksaku untuk melakukannya."
Lampu-lampu menyala berwarna kuning cerah. Sedikit keemasan dengan kerlipan putih monokrom yang menyakitkan pengelihatannya. Membuka perlahan si kelopak mata, warna biru cerah itu melihat dunia yang berbeda. Tepat di hadapannya, ada wajah menyebalkan yang entah sudah beberapa jam yang lalu membuatnya harus tertidur dengan kondisi tak menyenangkan seperti ini. Well, dia 'kan high class thief.
"Di... mana aku?" Hanya tiga huruf dan jawabannya hanya decakan kesal. "Oi, Teme. Di mana aku, ha?" tanyanya sekali lagi.
"Menurutmu?"
Ia berniat merenggangkan kedua tangannya yang lelah. Namun, berusaha berkali-kali pun, ia tetap tak bisa. Malah, kursi kejut listrik yang didudukinya memberi bunyi decitan. Ia bergoyang ke sana ke mari dan makin membuat dirinya terikat kuat. Urat-urat kemarahan terlihat jelas di sudut dahinya, bersama pembuluh nadi yang sama jelasnya di leher berwarna tan miliknya.
"Kussoyaro! Di mana aku, HAH?"
Yang di hadapannya menghela nafas berat, melirik sepintas ke sisi dinding sampingnya. Ia hanya melihat dirinya seorang, tetapi jelas di balik sana belasan high cops CIA sedang menyaksikannya mati perlahan-lahan dalam tugas kali ini. Jeez.
"Dan kau! Aku tahu kau! Woy! Lepaskan aku!"
Uchiha Sasuke melirik arlojinya yang rusak. Rusak semenjak Naruto—si penjahat kecil ini—berusaha menahan tangannya dari belakang. Detiknya berhenti tepat di angka sepuluh dan jamnya berhenti di angka empat. Ah, sepertinya ia sudah kehilangan tiga atau empat jam. Setelah mendongakkan kepala sedikit, ia melihat waktu berubah cepat dengan jam yang kian menunjuk pada angka delapan, kurang delapan detik.
Delapan detik lagi, ia harus memulai sesi interograsinya. Efek anestesi yang diberi orang itu tepat waktu sepertinya.
Pria Uchiha itu melangkah mundur dan membuat jarak sekitar setengah meter dengan pelaku pencurian senjata terdahsyat abad 21 milik militer Jepang. Ia memandangi tanpa berkedip sosok di depannya yang terus saja berusaha melepaskan diri dari jerat keputusasaan seperti itu. Sekali lagi, ia menghela nafas, melipat tangan di dada, dan menunggu hingga perintah tiba kepadanya.
'Now, Uchiha.'
Lampu merah darah menggantikan kuning cerahnya nyala lampu tadi. Bunyi berdesing ringan sedikit mengganggu konsentrasi Sasuke. Namun, setelah membuka mata perlahan, ia melihat dunia yang jauh berbeda dengan dunia yang digelutinya bertahun-tahun lalu—jauh sebelum cahaya kembali pada kedua pengelihatannya. Jauh...
Gelap dan merah. Pitch black.
"Selamat datang. Kau telah memasuki zona terlarang milik CIA, little rabbit." ucap Sasuke di sela-sela kegelapan penuh.
"Tsk. Omae..."
"Saa, mari kita mulai sesi tanya-jawab-nya."
Gadis itu berusia dua puluh satu tahun. Masih sangat muda untuk ukuran pekerja di bidang konseling. Yah, konseling kejiwaan dan psikologi tentunya. Mendapatkan beasiswa Robinson yang terkenal sangat fenomenal di usia enam belas tahun. Juara satu Olimpiade Sains Internasional selama lima tahun berturut-turut. Menamatkan pendidikan dasarnya dalam tempo sembilan tahun saja. Kemudian, melanjutkan ke taraf yang lebih tinggi di Harvard University, Fakultas Psikologi dan Kejiwaan. Lulus dengan nilai mendekati sempurna—summa cumlaud—di usia yang ke sembilan belas. Ditawari untuk segera bekerja di biro konseling di bawah pengawasan WHO satu tahun kemudian. Dan, ini lah dirinya sekarang.
Haruno Sakura. Dua puluh satu tahun. Memiliki rambut berwarna pink cerah sebahu. Menyukai musik klasik dan metal—itu kalau dia sedang dalam mode labil. Sangat suka travelling, makanan pedas, sushi, dan ikan salmon. Benci serangga dan dibohongi. Plus, memiliki sejuta kemampuan dalam hal—menyamar.
Kali ini, ia sedang kurang beruntung. Ia baru saja mendapatkan telepon pagi-pagi buta dari pimpinannya di biro tempat ia bernaung. Kadang ia mempertanyakan kapasitas pekerjaan yang digelutinya: apakah profesi sebagai penceramah dan pendengar masalah orang juga tidak boleh mendapatkan minggu pagi yang tenang? Sayangnya, hari Minggu bukan tanggal merah di kalender Psychiatric Centre di jantung kota Tokyo itu. Meski di bawah naungan WHO, tetap saja rumah sakit berada di pertengahan. Anggap saja Senjuu Tsunade—si kepala rumah sakit yang bertanggung jawab dengan biro itu—benci hari Minggu.
"Great. No weekend. No happy Sunday morning. And, no... no..."
Gadis itu merangkak dari ranjangnya menuju wastafel. Berusaha meraih sikat dan pasta giginya. Menggosok giginya dengan kedua mata setengah terpejam. Rasa ngantuk masih membayang-bayangi wajahnya yang kusam. Pesta besar yang terpaksa diikutinya atas undangan sepihak Yamanaka Ino—si top model majalah Cosmopolitan sekaligus sahabat masa kecilnya—mengharuskannya pulang ke rumah minimalis miliknya tepat pukul tiga pagi. Hell, ia baru saja bermimpi akan mencium Brad Pitt tadi! Dan, mimpi itu segera buyar oleh telepon sialan yang—ugh!
"Yeah, yeah. Aku dengar itu, Shikamaru. Nah, jadi?" ujar Sakura setengah malas sembari membalik bacon-nya yang hampir gosong. "Apa? Maksudmu—aku harus bertemu CIA, begitu? Great."
Kali ini, ia mengambil sebutir telur untuk digoreng. Ia berbalik sejenak, mengabaikan bunyi letus dari telur mata sapinya. Mengedarkan pandangan pada atap dapurnya yang berwarna hijau muda. Kemejanya yang belum terkancing sempurna melambai terkena sapuan angin yang berhembus masuk melalui jendela dapur. Kembali ia merutuki nasibnya sebagai psikolog—salah—psikolog di biro yang berada di bawah tanggung jawab Senjuu Tsunade.
"Ha? Jangan bercanda, Shika! Mana ada yang bisa—ha, apa? Cho-chotto matte! Aku mau menyalakan tv dulu."
Sakura benar-benar meninggalkan telurnya yang sudah meletus ke arah mana saja dan melompat menuju ruang tengah. Ia meraih remote tv dan menyalakannya tergesa-gesa. Mendapatkan channel yang diharapkannya, ia mengawasi setiap layar yang tergambar dari balik sana.
'Kejadian hilangnya alat pertahanan sempurna yang dimiliki militer Jepang atas bantuan pihak Amerika Serikat benar-benar di luar perhitungan. Pihak kepolisian militer mengerahkan lebih dari selusin pasukannya untuk menjaga dengan ketat area kejadian perkara. Pemerintah Jepang meminta bantuan CIA yang juga diperbantukan dalam mengawasi pengembangan alat pertahanan ini hingga sempurna untuk menyelidiki siapa sebenarnya yang berada di balik pencurian ini—'
"Tidak mungkin... Usso..."
Suara pria berdengung menyadarkan kekagetan Sakura. Ia meletakkan kembali telepon wireless yang digenggamnya pada daun telinga miliknya. "Y-ya, Shika. Aku masih di sini."
"Maka dari itu, hahh... di biro ini, tinggal kau, aku, dan Hyuuga Neji yang tersisa. Yang lain sudah kabur sebelum waktu cuti. Jeez. Tapi, masalahnya ialah... kau tau Temari, 'kan? Err—ya..."
"Ya, ya, aku mengerti, Shika. Baiklah, aku akan ke biro segera. Tapi, sebelum kau menemui lovey-dovey-mu itu—" Shikamaru segera menyentak dari sini. "—haha, iya. Pokoknya, setelah aku sampai di biro dan sebelum kau pergi menemui Temari-san, aku harus mendengarkan instruksi darimu dulu. Maksudku, aku bahkan tidak paham apa sebenarnya hubungan antara kasus di tv itu dengan bidang kita, Shika." keluh Sakura dengan sebelah tangan menyangga pada pinggul rampingnya.
"Ya, itu bisa kuatur. Tapi, kau harus tiba sebelum jam sembilan. Kurasa ini dulu dariku. Selebihnya kujelaskan di biro." tuntut pria di balik saluran. "Ingat. Tidak boleh telat." Kemudian, sambungan terputus.
"Jeez, dia itu. Hah, datang sebelum jam sembilan, katanya? Sekarang sudah jam berapa memangnya?"
Ding dong. Jam sudah bergerak di angka delapan lewat dua puluh. Sadar, Sakura berteriak penuh frustasi dan berlari menuju dapur. Yang didapatkannya bukan sepiring sarapan pagi sehat, melainkan makanan gosong dengan asap hitam yang memenuhi seisi dapurnya.
"Graaaaaaahhh! Kembalikan Happy Sunday Morning-ku!"
Dengan sedikit kesal dan rasa amarah tingkat tinggi, gadis berambut merah muda cerah itu merapikan dirinya sebelum meraih kunci mobil Corvette silver-nya. Terpaksa, ia singgah di Mac Donald drive thru untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Sialan." umpat Sakura sambil mencomot hamburger hangat dari dalam mobilnya. Melirik kembali ke arah arlojinya, ia masih memiliki waktu sepuluh menit sebelum Shikamaru meneriakinya lagi.
Pagi yang cerah di hari Minggu tidak berbuah manis bagi Uzumaki Naruto. Pemuda ini terbangun dalam suasana yang tak ada bedanya dengan apa yang terjadi pada dirinya berjam-jam yang lalu. Wajahnya kusut tak berbentuk lagi. Rambut kuningnya makin memudar oleh cahaya minim dalam ruangan berlapiskan baja itu. Hanya, kini kedua tangannya tak terikat lagi pada kursi kejut seperti semalam. Ia terbangun di atas sebuah sofa kecil yang membuat kakinya bergelantungan. Sesaat kemudian, ia merasa kebas pada kedua tungkainya. Kakinya yang bergelantungan semalaman membuat aliran darah tak sampai hingga ke daerah perifer, membuat rasa kesemutan dan kebas tak enak.
Ia mengutuk pria berambut sehitam batu arang itu. Bisa-bisanya ia harus terjebak semalaman tanpa adanya bantuan sedikit pun dari pengacaranya? Well, bukankah Jepang termasuk dalam negeri berbasis demokrasi, 'kan? Kalau begitu, asas praduga tak bersalah berhak dijunjung tinggi. Meski ia bersalah—Naruto sih tak mau mengakuinya—ia berhak mendapatkan pembelaan dari pengacaranya.
Naasnya, ia semalaman harus dijaga ketat oleh dua guard berwajah sangar yang dikiranya adalah lawyer.
"Kalian berdua pasti akan digaji tinggi jika main di film-film action. Aku yakin itu."
Tak ada respon sama sekali. Kedua pria itu mirip penjagal saja kalau dilihat-lihat. Seperti atlet pro-wrestler di acara WWF Smack Down. Membayanginya membuat Naruto terkikik sendiri. Ia bersandar di sofa yang kini telah didudukinya dan menjadikan kedua tangannya sebagai sandaran kepala. Ia tertegun sebentar dan mengedarkan pandangan ke sekitarnya—mengamati andai ada sebuah celah yang bisa menjadi satu dari seribu kemungkinan kecil untuk meloloskan diri dari tempat terkutuk itu.
Namun, saat langkah berat terdengar dan kedua guard berwajah sangat itu pergi, ada bayang lain yang muncul dari belakang.
"Sepertinya kau menikmati rumah barumu."
Wajah tenang tadi berganti dengan kekalutan dan kebengisan. Naruto memonyongkan bibirnya dan mencibir. "Tsk, kau senang sekarang, eh, Tuan Tampan?" olok Naruto pada sosok Sasuke yang hanya terbalut dalam kemeja putih polos tanpa dasi—pakaian semalam. "Kau bahkan tidak ganti baju."
"Setidaknya aku sudah mandi, baka."
Naruto makin memajukan bibirnya—tanda tak suka. "Cih. Memangnya sejak kapan orang Jepang mandi pagi?"
"Hn. Aku baru menetap di Jepang selama dua tahun. Kebiasaan lama tentu tak bisa berubah, bukan?" Sasuke menelengkan kepala sembari melipat tangan di dada.
Naruto mengernyitan dahinya. "Memangnya... selama ini kau tinggal di mana, hah?"
Long pause. Sasuke memejamkan kedua matanya perlahan, mengingat masa lalunya yang sungguh di luar batas rasional, dan membukanya kembali seperti lentera yang berputar-putar. Mata sehitam batu akiknya terasa kosong dan hampa.
"Kau tidak perlu tahu." jawabnya kemudian penuh nada sarkasme.
Naruto kembali berdecak. Ia memiringkan kepalanya dan menolak bertemu pandang dengan Sasuke. Pemuda Uchiha itu mendekat beberapa langkah. Kedua tangan tersembunyi dalam saku celana hitamnya. Boot kulit ala petinju yang dikenakannya cukup menghilangkan kesan bahwa ia adalah pria baik-baik—setidaknya bagus untuk penyamaran. Naruto tak berniat menatap balik apa yang kian diamati Sasuke sedari masuk ke dalam ruang baja itu. Ia hanya mengunjungi sebentar sebelum cermin itu diamati oleh banyak pasang mata.
"Apa?" tanya Naruto kesal. Kesal sudah diamati terus-menerus. "Aku tidak akan mengatakan apa-apa sebelum kalian menyediakan seorang pengacara berkompeten untukku. Titik." ucapnya dengan nada merajuk.
"Kau ini seperti anak kecil." komen Sasuke sambil meraih sebuah kursi lipat dan mendudukinya tepat di hadapan Naruto. Kini, jarak mereka hanya tinggal setengah meter saja. "Kau lihat kaca di sebelah sana? Semalam, para petinggi CIA cabang Pulau Honshu mengamati tingkahmu setiap detik, menit, dan jam."
"Hm, aku tahu. Memangnya kau pikir aku ini bodoh, apa?" tukas Naruto kesal. "Kalau kau memakai penyadap lagi, lebih baik kau segera keluar saja. Aku tidak berniat berkata apapun meski harus diberi kejut listrik lagi."
Sasuke mendengus. Sepertinya pemuda di depannya benar-benar pandai dalam membungkam rahasia. Bahkan, tak ada satu pun rahasia yang berhasil didapatkan orang itu setelah melihat bagaimana pesawat black jet milik Naruto terbang secara otomatis ke angka koordinat di mana ia pertama kali lepas landas. Cara pemuda pirang itu bekerja sangat bersih rupanya.
Sasuke mengamati lekat-lekat sosok pemuda yang duduk penuh keangkuhan di wajahnya itu. Terlalu picik menganggap jika pemuda pencuri ini melakukan segala aksinya seorang diri. Pasti, pasti ada seseorang atau mungkin komplotan berteknologi tinggi dan informan dari pihak dalam yang menjadi kaki-tangannya. Namun, memikirkannya berlarut-larut semakin membuat rasa pening di kepalanya bertambah saja.
"Aku hanya akan bertanya sekali. Semalam kau kembali tertidur setelah dua pertanyaan akan nama dan usiamu." lanjut Sasuke. Naruto hanya mencibir.
"Ha! Kau pasti berpikir kalau aku terkena dua peluru anestetik saja, bukan? Padahal sebenarnya aku mendapatkan tiga peluru. Dua pertama kudapatkan dari rekan sialanmu itu. Dan yang ketiga adalah peluru dari pistol mini yang sengaja kubuat agar kau merebutnya dariku. Tiap peluru memiliki waktu paruh dua jam untuk membuat korbannya terjatuh tak sadarkan diri. Jadi, sebenarnya aku punya enam jam untuk tertidur pulas. Ha-ha." jawab Naruto penuh kebanggaan. "Kau pikir kau cukup cerdas, heh?"
Pemuda Uchiha itu menghela nafas panjang sembari menyusuri rambut hitamnya. Mata sehitam batu akik miliknya bergerak-gerak stabil mengamati apa yang sedang dipikirkan Naruto. Hanya kesunyian sesaat beserta bunyi detik dalam jam yang terdengar. Wajah Naruto sepintas terlalu polos jika dikategorikan dalam Kompetisi Pria Pelaku Kriminal Terhebat dengan Wajah Tersangar Sepanjang Sejarah. Bahkan, kurang meyakinkan.
"Hn." jawabnya statis. "Setidaknya aku tahu kau mencuri senjata itu untuk sesuatu yang—"
"Baiklah, baiklah. Kau mau aku jujur, 'kan? Oke. Biar kupertegas. Hm. Aku akan menggunakan senjata konyol yang selalu kalian sebut-sebutkan itu untuk—mencuri bulan. Kau puas?" potong Naruto—membiaskan kekagetan di wajah stoic Sasuke.
"Tidak."
"Kalau begitu tidak akan ada artinya aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu setelahnya. Sebab, untuk itulah aku mencurinya." tukasnya singkat, padat, dan jelas. "Jadi... boleh aku mendapatkan pengacaraku sekarang, hm, Tuan Tampan?"
"Berhenti menggunakan frase itu, bodoh."
Naruto mengikik, "Oh, jadi kau tak setuju dengan betapa tampannya wajahmu itu." Kedengaran seperti pujian, tapi sebenarnya hanya olokan.
"Jangan memutarbalikkan situasi, Uzumaki. Aku tahu kau pandai dalam kata-kata. Tapi kau bodoh dalam melihat sikon. Di sini, aku yang berwenang."
"Tsk. Whatever."
Kedua tangan Naruto kembali dijadikannya sebagai sandaran kepala. Tampaknya, ia tidak terlalu terbebani dengan situasi yang sekarang mengikatnya. Bahkan, ia masih bisa bersiul-siul.
"Aku tidak harus tahu di mana kau menyembunyikan senjata itu. Aku hanya ingin tahu untuk apa dan bersama siapa kau melakukan aksi itu." todong Sasuke kemudian.
"Blah, blah, blah. Yaa, sudah kukatakan tadi, bukan? Pertama, aku akan mencuri bulan dengan senjata itu. Kedua, aku bekerja sendiri, tidak dengan komplotan apa—"
"Liar." potong Sasuke. Dahinya sedikit mengkerut.
"Oh, baiklah kalau kau tidak percaya. Kau bisa menggunakan alat apa-itu-namanya-Oh, alat pendeteksi kebohongan?"
"Aku tidak suka dengan permainanmu, Uzumaki." kilah pemuda Uchiha itu sembari memajukan wajahnya sedikit. Naruto merasa terdesak. Semburat merah itu entah bagaimana datang kembali mewarnai wajah berwarna tan miliknya. Oke, tidak seharusnya ia menjadi korban Stockholm Syndrome untuk kondisi seperti ini, bukan? Terlebih pada pria.
"Err—wajahmu terlalu dekat. Bisa kau menja—"
Grep.
Satu tangan pucat Sasuke meraih kerah polo shirt Naruto. Entah bagaimana ia jadi kehilangan kontrol seperti ini.
"He-hei, kau menarik kerah bajuku, bung. Kau bisa mencekikku."
Sasuke tampak tak peduli. Iris kehitaman miliknya berkilat-kilat seakan telah mendapatkan prey yang masih segar.
Ia tak melakukan apa-apa. Ia hanya di sana mengamati dalam jarak yang begitu dekat. Bahkan, ia bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain. Aroma mint dan citrus menyerbak dari arah leher Naruto. Wangi yang disukainya ketika ia terlelap di sebuah bar bertahun-tahun lalu. Nyaris tersihir dengan aroma itu, segera Sasuke melepaskan genggamannya dan menjauh.
Ia kalut. Begitu yang dirasakannya sekarang. Ia tak paham, seakan warna biru itu ingin menarik dirinya jauh lebih dalam dan dekat. Bagai magnet dan baja.
Bunyi thud keras terdengar. Punggung Sasuke kembali tersandar pada kursinya dan membuat suara decitan. Sebentar, ia menenangkan dirinya.
"Hm. Dengar. Aku melakukan aksiku tanpa bantuan pihak manapun—setidaknya itu yang kau pikirkan. Yah, aku memang punya satu orang yang bersedia membantuku kapan saja. Tapi, hanya satu orang. Dan, aku punya harga diri—komplotan kedengaran sangat rendah di mata pencuri high class sepertiku."
Ketenangan itu berlanjut lebih lama dari yang diperkirakannya. Wajah Naruto berubah lebih serius kali ini. Degup jantungnya yang melonjak kuat seakan ingin keluar berdetak stabil kembali. Ia kemudian memangku dagu dengan satu tangannya—sembari kembali mengamati tiap lekuk dan kontur wajah Naruto.
Entah itu adalah kemerahan karena alergi atau a real blush, Sasuke tetap tak berkedip.
"Berhenti menatapku sepeti itu, Temeyarou!" teriak Naruto.
"Aku membaca karakter seseorang dengan mengamati arah gerak bola mata mereka."
"Hah? Kemampuan macam apa itu? Dasar freak." ejek Naruto. "Beberapa detik yang lalu kau nyaris mencekikku. Dan sekarang kau malah menatapku dengan—uhh. Ya pokoknya! Hei! Sudah cukup dengan acara tatap-menatap ini, oke? Aku butuh pengacaraku sekarang!" serunya sembari berdiri tegap. Seakan ingin menghakimi Sasuke yang masih terduduk santai di kursinya. Satu telunjuk Naruto menunjuk tepat di depan hidung Sasuke. Alisnya berkedut dan mengernyit.
"Hn. Berharaplah. Sebab, di sini kau berada dalam wilayah yuridiksi kami. Kau tidak akan mendapatkan pembelaan apapun dari siapapun, bahkan Presiden Jepang sekali pun sampai kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Kau bekerja cukup bersih, Uzumaki. Hanya, kami butuh satu pengakuan darimu. Satu saja dan—"
"Kau atau mereka tidak akan mendapatkan apapun dariku. Sudah kutegaskan berulang kali padamu, chicken butt hair guy." ungkap Naruto tegas dengan nada olokan. "Aku mengakui kalau aku sudah mencuri berbagai harta paling penting yang dimiliki dunia. Tapi tidak untuk Piramid Giza. Aku-tidak-pernah-mencuri-Piramid-Giza, meski yahh aku pernah merencanakannya. Sayang sekali bukan aku yang melakukannya. De-demo, tetap bukan aku yang menjadi dalang dari hilangnya Piramid Giza!"
Bahkan dalam keremangan lampu sekali pun, tampak ada kilatan petir yang menyambar melalui dua mata berbeda warna itu. Menyeramkan sekaligus bercahaya.
"Lalu, kau tetap bersikeras mengatakan kalau kau akan mencuri—bulan?"
Kedua cerulean cerah milik Naruto membulat maksimum. "Ha! Akhirnya kau mengakuinya juga!"
Balik Sasuke yang memutar malas bola matanya. "Kau yang mengatakannya sendiri kalau kau akan mencuri bulan, Dobe."
"Ya, tapi bukan berarti dari tadi kau menerima pernyataanku begitu saja, bukan?"
"Hn. Dasar dobe."
"Dobe? Sebutan apa itu? Jelek sekali, heh! Teme!"
"Nah, itu juga sebutan yang sama jeleknya, Dobe." kilah Sasuke masih dengan wajah stoic-nya.
"Terserah aku mau memanggilmu apa, Temeyarou!"
"Baka dobe."
"Kusso Teme!"
"Usuratonkachi."
"Gh! Aku tidak bodoh!"
Entah bagaimana, sesi kunjungan singkat yang seharusnya dilalui dengan mendapatkan informasi berharga dari pencuri paling fenomenal di abad ke-21 ini berubah pelik oleh acara olok-mengolok antara si tersangka dan si jaksa. Satu jam penuh itu berakhir tanpa mendapatkan hasil apapun. Sasuke menghentikan konfrontasinya segera setelah Naruto berteriak.
"AKU PASTI AKAN MENCURI BULAN!"
"Oh, apa kau masih waras?" Pertanyaan Sasuke kali ini benar-benar menohok.
"Tentu saja! Memangnya kau pikir aku sudah gila, hah? Well, jika seseorang di luar sana bisa mencuri Piramid Giza yang berukuran sangat besar itu, kenapa aku tidak bisa mencuri hal-hal besar lainnya—bahkan jauh lebih besar."
Sebentar, Sasuke mengamati bagaimana kesungguhan terpancar jelas di wajah Naruto. Seorang pelaku kriminal seperti pemuda pirang itu mengatakan akan mencuri bulan? Tidakkah itu—
Satu hal yang kemudian membuat Sasuke sangat suka mengintip jauh dari balik kedua mata biru cerah Naruto. Tak ada keraguan, tak ada gelap, tak ada ketakutan—ia ingin mendapatkan mata yang seperti itu.
"Apa? Membaca karakterku lagi, heh?"
Sasuke menghembuskan nafas panjang sembari memijit keningnya. "Ok. Sudah cukup. Aku harus pergi. Kupikir efek kejut listrik semalam masih merusak sebagian otakmu." cemooh Sasuke sembari berdiri dari kursinya. Sebentar ia menatap lekat Naruto yang kini berdiri begitu dekat dengannya. Entah mengapa ingin sekali rasanya tangan itu menempel di pipi bermotif tiga cakaran seperti kumis kucing milik pemuda pirang itu. Sebisanya, Sasuke menahannya. "Kurasa, setidaknya kau masih berhak mendapatkan pembelaan."
"Hah? Ngomong apa kau? Tadi kau bilang—"
"Bukan 'orang yang berkompeten', kurasa. Hanya... seseorang yang mungkin bersedia mendengarkan ocehanmu tentang mencuri bulan itu. Hn." Terakhir, Sasuke menampilkan seringai terbaiknya pada Naruto—sebagai ucapan sampai bertemu lagi. Kembali, Naruto merutuki betapa menyebalkannya Uchiha Sasuke itu.
Tepat ketika bunyi pintu yang terbuka terdengar, Sasuke dikejutkan dengan kedatangan wajah baru yang belum pernah dilihatnya. Ada senyum manis tersungging di bibir ber-lipgloss merah muda itu—senada dengan warna rambutnya. Sasuke hanya mengangguk sekali dan membiarkan sosok itu masuk dengan kehendaknya.
"Ia terus saja berceloteh akan mencuri bulan dengan senjata yang berhasil dicurinya dari pihak militer Jepang. Kurasa, kau sudah mendengar berita tentang hal itu di media. Kami gagal melacak koordinat lepas landas pesawat jet-nya. Sebaliknya, kami mendapatkan awaknya langsung."
Sosok itu masih tersenyum. Ia mengambil satu langkah dan sisi bahunya tepat menempel pada sisi bahu Sasuke. "Itulah pekerjaanku, Uchiha-san."
"Hn."
"Jangan khawatir. Aku sudah seringkali menangani pasien semacam ini. Jadi... beritahu pihak kalian untuk tidak mengintip selama aku melaksanakan bagianku, oke? Privasi pasien adalah yang terpenting, sekalipun ia teroris paling berbahaya."
Detik berikutnya, hanya ada bunyi derit pintu besi yang terdengar samar. "Untuk yang satu ini aku bersungguh-sungguh. Aku butuh privasi dengan pasienku. Kau harus beritahu itu pada mereka."
"Hn." Respon termudah dan tersimpel khas seorang Uchiha Sasuke.
Pintu baja kian menutup sempurna. Bersama itu, sosok gadis bermantel tadi menghilang bersama keremangan dalam ketidakpastian. Jika seorang Uchiha Sasuke yang terkenal cerdas itu tak bisa menaklukan pencuri high class seperti Uzumaki Naruto, apa gadis itu mampu? Tidak akan ada yang tahu. Namun, apa yang akan dilakukan sang psikolog itu berada di luar jangkauan mereka—petinggi-petinggi CIA.
Di menit berikutnya, Uchiha Sasuke harus menemui Hatake Kakashi.
TBC
Author's Bacot Area
Voila, chapter tiga sudah apdet, kawan. Well, mungkin perkembangan ceritanya jadi sedikit lambat hingga sampai tahap climax scene. Soalnya banyak yang mesti saya jelasin buat nantinya. Terutama tentang masa lalu Sasuke dan siapa pendonor mata baik hati yang Sasuke sebutkan di chapter dua.
Tidak selamanya tokoh yang baik akan terus baik hingga selesai. Begitu juga untuk villains-nya. Mungkin saja, karakter yang jarang terlihat itulah yang memegang peranan penting di fic ini. (jyah). XD
Ok, sekian dulu bacotan saya. Huge thanks buat kawan yang udah mereview, membaca, dan me-like fic ini. Sebuah apresiasi besar yang saya terima bila kawan memberi constructive critiscm demi kemajuan fic ini ke depannya.
Happy reading, dear. Mind to review?
