Tittle : Baby, U are Lonely [sequel] : THE LIGHT BEHIND YOUR EYES

Genre : Hurts-Romance-Drama-Slice of Live

Rate : T

YAOI!

Cast : Sehun, Jongin, with other support cast.

P.S : Typo menyebar, bahasa berantakan, ejaan tidak sesuai EYD, tidak sesuai karakter.

HunKai Present! With UKE!Kai

.

.

.

.

.

.

.

Sehun tidak mengerti apa dan mengapa nalurinya menganggap serius ucapan Luhan tentang kemiripan antara Lee Ji Hye dan Lee Soo Yeon. Dan saat ini, Sehun tengah termangu sembari menatap layar komputernya di meja kerjanya sebagai ketua OSIS. Memperhatikan susunan paragraf yang membahas profil Lee Ji Hye. Tentang latar belakang dan info lainnya mengenai sang aktris senior.

Sehun tengah membandingkan profil Lee Ji Hye di internet dengan ijazah ibu Jongin.

Jika dipikir-pikir, usia kedua wanita ini sama. Dan merekapun lahir dihari yang sama. Latar belakang pendidikan pun sama. Hanya nama yang berbeda.

Sehun juga teringat dengan Lee Ji Hye yang memandang Jongin dengan tatapan sendu di kompetisi dance waktu itu. Dan juga, Sehun tak sengaja melihatnya berada di cafe tempat kerja Jongin, setelah pempraktekan lagu terbaru ciptaan Chanyeol yang berjudul Two Moons.

Otak Sehun hanya sedang bekerja, mencoba mengaitkan semua hal yang berhubungan dengan sang aktris dan Lee Soo Yeon -ibu Jongin-. Dari mulai profil Lee Ji Hye, kemiripan wajah dengan Lee Soo Yeon, dan mengapa Lee Ji Hye memandangi Jongin seperti itu.

Entahlah, Sehun hanya meyakini bahwa keberadaan Lee Ji Hye di sekitar Jongin bukanlah kebetulan. Sehun tidak tahu mengapa nalurinya berkata demikian.

Tapi walau begitu, tetap janggal juga. Lee Ji Hye adalah artis terkenal, tidak mungkin ada urusan dengan Jongin yang hanya anak sederhana. Lagipula, bukankah Jongin bertanya padanya siapa itu Lee Ji Hye? Artinya, Jongin tidak mengenalnya.

Benarkah ia hanya sedang melirik Jongin untuk masuk agensi bentukannya?

Tetapi, mengapa sebuah kalimat 'mungkinkah Lee Ji Hye adalah orang yang sama?' tiba-tiba menyerang pikiran Sehun. Namun tetap saja disangkal sebuah fakta, jika benar begitu lantas mengapa Jongin tidak mengenalinya? Bukankah Jongin sudah melihat ijazah ini?

Membingungkan...

Tangan Sehun bergerak, meraih ponselnya, memencet beberapa tombol sebelum menempelkannya di telinga. Mencoba menghubungi seseorang.

"Hallo, Hyung," sapa Sehun setelah tersambung dengan Luhan.

"..."

"Aku hanya ingin bertanya, menurutmu siapa orang yang akan mengenali seseorang yang dikenal dengan cepat jika sudah belasan tahun tak bertemu dan wajah yang sudah berbeda?"

"..."

"Jika anaknya tak dapat mengingat dengan baik karna ditinggal dari kecil?"

"..."

"Ah! Kau benar, mengapa tidak terpikirkan olehku, ya?"

"..."

"Iya. Ini tentang dia,"

"..."

"Aku tidak yakin. Tapi akan kucoba mencari tahu. Thanks, Hyung,"

"..."

Pip... sambungan terputus.

Ya, hubungan kakak-beradik antara Sehun dan Luhan memang sangat baik. Jika sedang kesulitan, maka Sehun akan meminta pendapat Luhan. Termasuk kegiatan menstalker Jongin dulu. Ia bahkan menceritakannya pada Luhan. Tentang bagaimana Jongin. Seperti apa Jongin. Dan hal lainnya.

Sehun nampak kembali menghubungi seseorang melalui ponselnya.

"Annyeong, Kim ahjushi. Apa kau nanti sore ada waktu?"

"..."

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,"

"..."

"Baiklah, aku akan menemuimu nanti, Paman,"

.

.

.

.

Baby, U are Lonely... [sequel] THE LIGHT BEHIND YOUR EYES

SEQUEL CHAP 2...

Hurts-Romance-Drama-Slice of Live

YAOI!

Sehun, Jongin, with other support cast.

Typo menyebar, bahasa berantakan, ejaan tidak sesuai EYD, tidak sesuai karakter.

HunKai Present! With UKE!Kai

.

.

.

Malam berdesir bersama rintik-rintik kecil gerimis yang menambah intensitas hawa yang dingin. Jongin terduduk di bingkai jendela kamarnya yang berada dilantai dua. Rumahnya memang sederhana, namun memiliki dua lantai. Lantai kedua hanya berisi kamarnya.

Hawa yang diam sedemikian rupa, menggandeng Jongin untuk menyusun potongan-potongan ingatan masa lalu yang kelam. Dalam renungan dia seorang, diambang kelabu dan perasaan kegundahan, begitu sakit ketika puzzle-puzzle menyakitkan itu mulai tersusun satu persatu.

Ia menunduk dan menghela nafas pelan, sarat akan luka dihati. Takdir... ya sudah, memang begini takdirnya. Memanggul rindu yang kian lama makin berat terhadap sang ibu.

Bingung dan tidak tahu, mana yang harus ia percayai? Kata tetangga-tetangga disini, ibunya itu mengalami kegilaaan karna berulangkali mencoba menculik Jongin dan menempatkan ia dalam kondisi hampir mati. Seperti maniak. Penjahat. Tak berperasaan. Padahal pada darah dagingnya sendiri.

Tetapi, para tetangga nenek di Jinan berkata bahwa ibunya adalah sosok yang penyayang, lembut, ramah, dan cantik. Bertolak belakang dengan opini para tetangga yang selama ini Jongin dengar. Yang katanya, mereka melihat sendiri ketika Jongin disiksa.

Seketika itu juga, ada rasa sakit yang menyerang tak kasat mata. Kecewa. Sakit hati. Ketika membayangkan semua penyiksaan itu. Kembali, kalimat yang kembali muncul dalam benaknya adalah... apa aku benar anak ibu?

Ia mendongak menapat langit malam. Bertanya pada-Nya, mana yang harus ia percaya?

Hening. Jongin terlihat terhanyut dalam tatapan menerawang pada langit gelap kelabu. Dalam detik yang terus mengalun, hatinya berdesir sejenak ketika sebuah pemikiran logika tiba-tiba melintas tanpa permisi. Jongin tidak tahu mengapa tubuhnya terasa dingin di dalam diiringi jantungnya yang mulai berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Bukan harna semilir dingin yang menyapanya, tetapi seperti sebuah firasat tidak enak.

Jongin mulai terfokus menebak kira-kira hal buruk apa yang akan terjadi. Apapun itu, tolong jangan sampai terjadi. Memangnya siapa yang mau mengalami peristiwa buruk? Setiap orang pasti tidak mau 'kan? Jongin juga.

Mengapa ya... raut wajah Jongin memang tengah menampilkan ketenangan. Tapi sebenarnya, dalam dirinya tengah muncul pergolakan. Memunculkan tameng penyangkalan mengenai firasat yang tengah ia rasakan. Tidak... tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.

Tetapi mengapa... mengapa langit yang ia tatap seolah memberikan kesedihan padanya. Kelabu itu muram tiada berbintang. Bahkan rembulan pun tengah dalam fase sedih -sabit melengkung kebawah-. Rintik gerimis terasa membisikkan pesan.

Tak ingin terhanyut dalam terkaan, Jongin memilih mengalihkan pandangannya, menunduk bersamaan dengan dering ponsel di atas kasur. Jujur... Jongin sedikit kaget mendengar ponselnya berdering tiba-tiba. Karna dia terlalu hanyut dalam renungan sang cakrawala kelabu.

Ia kemudian mengambil ponselnya. Mendesah lega ketika tahu bahwa Sehun lah yang tertera pada layar ponselnya.

"Yoboseo, Sehun," Sapanya dengan seulas senyum. Melupakan renungan gundahnya tadi.

"Sedang apa?" Tanya Sehun diseberang sana. Terdengar seperti tak bertemu dengan Jongin dalam waktu yang lama.

"Aku sedang menerima telepon dari seseorang bernama Sehun," Jawab Jongin dengan senyum sambil kembali duduk pada bingkai Jendela. Menatap kembali kegelapan diatas sana.

Terdengar suara kekehan diseberang, Sehun tertawa mendengar jawaban Jongin barusan, "Serius, sedang apa, Sayang?"

"Menatap langit. Disini gerimis kecil dan dingin," Jawab Jongin.

"Kita sama," Sehun tertawa lagi, "Kita sehati ya?"

Dan kali ini Jongin yang tertawa.

"Sehun, bagaimana kalau kita berjalan-jalan di taman? Sepertinya asyik. Hitung-hitung malam minggu. Ayah belum pulang, aku kesepian," Kata Jongin.

"Ya ampun, aku lupa ini malam minggu. Maaf, Sayang, hehe..." Sepertinya Sehun sedang memasang cengiran.

"Jadi bagaimana?"

"Oke! Aku merindukanmu. Aku berangkat sekarang. Kecepatan penuh!" Sehun terdengar bersemangat.

Tetapi Jongin menunjukkan reaksi lain. Senyum dibibirnya tiba-tiba menghilang, berganti keterdiaman yang aneh. Detak jantung yang semula sudah beraturan, kini kembali melantun tak bersahabat setelah mendengar semangat Sehun. Firasat buruk yang semula sudah pergi, kini kembali menyergap.

"Tidak. Jangan ngebut! Kecepatan biasa saja. Aku akan sabar menunggu. Arra?" Kata Jongin. Tersirat sedikit kekhawatiran disana.

"Eoh? Baiklah, Sayang. Tunggu aku ya,"

"Hati-hati. Ingat, jangan ngebut!"

Antisipasi itu tidak apa-apa 'kan?

*** Winter AL ***

Jongin mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya pada tanah basah yang ia pijak, dibawah naungan payung jingga yang ia bawa untuk menghalau gerimis yang masih menerpa.

Sesekali ia terlihat menggigit bibir bawahnya sambil mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru taman. Tangannya yang bebas nampak memain-mainkan ponselnya dengan gelisah. Sehun belum datang. Tak dapat dipungkiri, ia gelisah menunggu Sehun yang tak kunjung datang. Memang ia yang menyuruh Sehun untuk tidak ngebut, tapi... tetap saja ia khawatir. Ditambah, ia telah mendapat firasat buruk sebelumnya.

Wajar 'kan dia khawatir? Apalagi Sehun sedang di jalan raya. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kekasihnya? Hal yang benar-benar tidak diinginkannya. Yah, Sehun pasti hati-hati dalam berkendara. Tetapi yang lain? Terkadang kita sudah hati-hati, tapi pengguna lain yang sembrono. Kita bisa saja terkena imbasnya 'kan?

Ditengah kegelisahannya yang semakin menjadi, tiba-tiba ia terkesiap ketika mendengar suara deru motor yang sudah dihafalnya menyapa gendang telinganya. Secepat kilat ia mendongak kesumber suara, seketika itu pula helaan nafas lega terdengar darinya. Bersama jantung yang mulai stabil berdetak.

Oh Sehun sudah sampai... syukurlah.

Sepertinya Jongin hanya terlalu parno malam ini.

"Sehun!" Jongin tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar menyambut kedatangan Sehun, yang kini tengah melepas helmnya. Kemudian tersenyum tampan pada Jongin.

"Selamat malam, Sayang." sapanya. Yang kemudian terkejut karna Jongin tiba-tiba memeluknya erat. Namun detik berikutnya Sehun malah tertawa sembari membalas pelukan pacar tercinta. "Apa ini? Jangan bilang kau terlalu merindukanku. Lihatlah, bahkan aku belum turun dari motor," Sehun menggoda.

Jongin tidak menjawab, ia memperhangat pelukannya. Sesungguhnya Jongin tengah menetralkan gejolak dalam hatinya. Malam ini entah mengapa banyak sekali kegelisahan yang menyerang. Mendapati Sehun yang sampai dengan keadaan baik-baik saja sedikit banyak membuat kegelisahannya berkurang.

Namun yang tidak ia mengerti, sedikit kegelisahan masih tersisa meski Sehun sudah mendekapnya. Siapa... siapa kira-kira?

"Sepertinya dugaanku benar, kau sangat rindu padaku," Sehun tertawa lagi, "Apa kau menunggu lama? Maaf ya, jalanan sedikit macet. Ada kecelakaan tadi," jelas Sehun.

"Aku lega kau sampai dengan selamat,"

"Aku tidak ngebut seperti yang kau perintahkan,"

Jongin hanya mengangguk sembari melepas pelukannya.

"Ada apa, hm? Kau terdengar khawatir tadi," tanya Sehun sembari turun dari motornya lantas memeluk pinggang Jongin. Satu payung dengannya.

"Hanya antisipasi saja," jawabnya tenang. Tangannya merogoh saku celananya, mengambil selembar sapu tangan yang terlipat rapi. Lalu menyeka air yang membasahi jaket kulit Sehun akibat menerobos gerimis. "Apa dingin?"

"Ya, lumayan," jawab Sehun sambil mengedikkan bahunya ringan.

"Maaf ya,"

"Tidak apa-apa," Ia kemudian memeluk Jongin hangat dan menumpukan dagunya disebelah bahu Jongin, "Bersamamu hatiku hangat," katanya dengan senyum tulus.

"Kutraktir kopi?" Tawar Jongin.

"Boleh,"

*** Winter AL ***

Sepasang kekasih itu nampak berjalan serasi dibawah naungan payung jingga yang kini sudah beralih ke tangan Sehun. Kencan malam minggu mereka memang sederhana. Hanya sebatas jalan-jalan ditaman sambil menyesap kopi masing-masing. Tetapi dua pemua berbeda warna kulit itu terlihat menikmati moment kencan mereka.

Jongin nampak menempel sekali pada Sehun. Merangkul pinggang Sehun seraya menyandarkan kepalanya. Entahlah, ia seperti meminta perlindungan. Sehun dengan senang hati merangkul bahu Jongin. Romantis bukan? Meski dengan cara yang sederhana.

Mereka bahagia dengan sederhana. Tidak perlu hal yang terlalu muluk, dapat berdua dan berbagi kehangatan saja sudah memberikan kadar kekokohan dalam hubungan mereka. Tidak perlu yang repot jika yang hangat saja mampu mempererat pesasaan mereka.

Bukan berarti mereka murahan. Terkadang hal-hal sederhana seperti ini dilupakan dalam sebuah hubungan. Untuk apa kencan mewah jika perhatiannya tidak tulus.

Trik dalam menjalin hubungan tidak harus melakukan hal yang luar biasa, cukup dengan memenuhi permintaan sederhana dari pasangan dengan setulus hati. Orang bilang, pasangan yang benar-benar menyayangimu adalah dia yang sungkan memberatkanmu.

Dan Sehun mencoba untuk menjadi pacar yang baik. Lagipula, Jongin hanya meminta berkencan dengan jalan-jalan ditaman begini. Bukankah ini terlampau sederhana? Apalagi suasananya begini. Dalam satu naungan payung, mereka lebih dekat. Hihi...

Sehun mengecup kepala Jongin sekilas sebelum kalimat Jongin terlontar.

"Tadi aku sempat memiliki firasat buruk. Makanya aku khawatir padamu yang bilang akan ngebut. Yah, takut kalau terjadi apa-apa di jalan,"

"Kau memikirkanku sampai segitunya ternyata. Terima kasih," Senyum tersenyum tulus.

Jongin mengangguk, "Sepertinya aku hanya terlalu parno," Ia kemudian menyeruput kopinya.

"Manis sekali," Sehun tertawa.

"Wajar 'kan? Lagipula sebelumnya, aku tiba-tiba teringat dengan ibu," Jongin menunduk sekarang.

Sehun sadar dengan perubahan mimik Jongin saat ini. Yah, Jongin memang sensitif sekali dengan yang namanya 'ibu'. Sehun paham.

Ia melempar cup kopinya ketempat sampah yang mereka lewati, lalu mengelus kepala Jongin yang tertutup tudung jaket orange yang dipunggunggungnya terdapat lambang spiral merah. Yah, Jongin adalah penggemar anime Naruto. Haha...

"Jongin, bagaimana jika kau benar-benar bertemu ibumu? Apa kau akan marah karna ia telah meninggalkanmu? Atau kau senang karna ia telah kembali?"

Hening. Sorot mata Jongin berubah kosong. Ia tetap berjalan dengan pelan-pelan seperti sebelumnya.

Sehun setia menunggu jawaban Jongin. Jikapun Jongin memilih tidak menjawab juga tidak apa-apa.

"Mungkin... keduanya. Entahlah," kata Jongin.

"Ya, aku mengerti," Sehun menepuk puncak kepala Jongin pelan, "Kalau begitu, jangan dipikirkan, ne."

Dan Jongin mengangguk.

"Kau tahu, Jongin? Bagian darimu yang paling aku suka?" Kata Sehun. Ya, dapat dikatakan mencoba menghibur.

"Apa?"

"Matamu," Jawab Sehun yang membuat langkah Jongin berhenti. Lalu menatap Sehun tidak mengerti.

"Mengapa mata?" Tanyanya.

Sehun merunduk sedikit demi mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jongin untuk mengecup kedua kelopak mata Jongin.

"Karna cahaya yang ada dibalik matamu," Jawabnya sambil tersenyum, "Cahaya yang membuat aku dapat bercermin, mengajarkanku tentang sederhana. Cahaya yang mengajarkan aku perjuangan. Cahaya tegar yang telah mempermalukan aku yang kalah dari ketegaranmu dalam menjalani hidup. Cahaya yang tidak redup meski memikul masa lalu menyakitkan. Cahaya yang membuatku bangga padamu."

Tes...

Setitik air menetes dari pelupuk mata Jongin dalam keterdiaman mendengarkan kalimat panjang yang Sehun ucapkan. Benarkah Sehun memandangnya demikian?

"Matamu jernih dan cerah. Membuat aku ingin melindunginya setulus hati agar cahayanya tetap bersinar," Sehun melanjutkan. Ia kemudian menggenggam sebelah tangan Jongin, "Tangan ini tidak akan aku lepaskan. Aku akan menggenggamnya seerat ini. Aku akan menjaga dan melindungimu apapun yang terjadi. Kita akan melangkah bersama-sama,"

Tes...

Air mata Jongin kembali menetes.

"Ini adalah janjiku padamu, Kim Jongin."

Oh Sehun, sukses sekali jika niatnya adalah membuat Jongin terharu. Tetapi, Oh Sehun benar-benar tulus mengatakannya.

"A-aku... terima kasih, Sehun. Aku benar-benar berterima kasih..."

"Aku mencintaimu,"

Mereka berpelukan, tanpa tahu bahwa layar LCD besar disalah satu sisi taman, yang tertempel pada salah satu bangunan besar menampilkan sebuah berita. Berita tentang kecekalakaan yang melibatkan seorang aktris papan atas.

Kecelakaan yang sepertinya baru saja terjadi belum lama. Kecelakaan yang menyebabkan kemacetan jalan.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED...

AL's NOTE:

HAI~ lama sekali FF ini ga saya lanjutkan. Maaf ya, baru dapat feel sekarang #bow

Dan ternyata ga jadi two shoot-_- #geplaked

Mohon maaf sebesar-besarnya...

Entah mau sampai berapa chapter saya ga tau #plakplak-_-

Tapi sepertinya ga panjang kok... yeah maybe 1 ato 2 chapter lagi ;A; MAAP~

Jadi saya maklumi kalau reader bosen sama fict ini. Dan part ini memang ngebosenin, ga greget..

Once again... I'm so sorry...

Dan maap very very late updeat... boleh tamvar saya bolak balik /paparin pipi/?

Last...

Thanks for all...

With Love, Winter AL and Kim Jongin... kabar gembira, kami akan segera menikah... yeay! #digamparbolakbalik (seketika jatuh dari kasur dan tersadar dari mimpi-_-)