Waaa... ada yang review, makasi y Putri() ^0^

Awalnya si iseng aja ga da kerjaan pas liburan natal.. Tadinya mo bikin grup band anak-anak Wu, tapi malah jadinya ini (drama panjang gaje ahahaha). Nah, sekarang Ch 3, wa mo sedikit ngegambarin wujud tokoh OC wa (disini jadi banyak OC) n awal kedekatannya dgn LX. Meskipun ngelantur n ngawur, enjoy aja y^^

...

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur.. Saat beranjak dari tempat tidur, aku melihat sesuatu diatas meja kamarku. Apa itu? Baju? Waaaah.. Ini bajuku? Bagus sekali! Disebelahnya terdapat kotak kecil berisi beberapa hiasan rambut. Ini pasti dari Shang Xiang dan Qiaos. Aku suka! Baju China dengan warna pink lembut dan kerah Shanghai merah dihiasi ukiran dari benang emas, lengan 3/4, ada belahan dikedua sisi lengannya. Mulai dari siku sampai sisanya berwarna merah. Bawahannya celana 3/4 berwarna senada. Lengkap dengan sandal bertali tinggi untuk kakiku. Ukurannya pas. Aku menyukainya! Kapan mereka mengantarkan? Pasti saat aku tertidur tadi.

Lalu aku mendengar pintu kamar diketok lagi, hmm, bibi Chu. "Masuklah, bibi Chu." Bibi Chu masuk, "Nona, ada yang kau perlukan?" Tanyanya. "Uumm, aku..ingin mandi.. Rasanya gerah sekali.."

"Ah? Tapi,bukankah nona belum begitu sehat? Masih sedikit panas dan luka-lukamu belum semuanya sembuh" katanya khawatir.

"Aku tidak apa-apa bi,"

"Baiklah, hmm, perban-perban itu juga sudah saatnya diganti, tunggulah disini, bibi akan menyiapkan handuk dan air hangat."

Bibi Chu menyiapkan handuk, ember air hangat, dan beberapa gulungan perban. "Maaf nona Li, di kamar tuan muda Lu kamar mandinya tidak seperti tidak seperti kamar mandi wanita. Maklumlah, kamar mandi anak laki-laki, aku harap nona tidak keberatan." Kamar mandi kecil, ya memang, hanya ditutupi dengan dinding hias lipat, tapi sudahlah, yang penting bersih dan aku bisa mandi. "Tidak apa-apa, bibi Chu.."

"Nah, sudah selesai, silahkan, nona Li"

"Terima kasih"

Hmm.. Rasanya segar sekali. Aku segera berpakaian, bibi Chu membantu mengganti perban dan merapikan rambutku. "Nona Li, rambutmu bagus, panjang dan bergelombang. Sebaiknya dibiarkan seperti ini." dia kemudian memasangkan jepitan merah dikedua sisi kepalaku. "Hm? Bagian sampingnya pendek?"

"Itu namanya shaggy, bibi Chu" jawabku sambil tersenyum.

"Apa? Segi?"

"Ya," Astaga aku lupa, tentu saja dia tidak tahu apa itu shaggy! Bahkan salon pun dia mungkin tidak tahu.. Aku harus membiasakan diri berbicara dengan bahasa mereka. Untung saja mereka tidak berbahasa China! Semua ini benar-benar membingungkan! Lama-lama aku bisa stress!

"Ah sudahlah, diterangkan juga bibi tidak akan mengerti hahahaha.. Nah, sudah cantik." katanya setelah merapikan poniku ke samping. Syukurlah dia tidak banyak tanya. "Ponimu hampir menutupi mata, nona Li, jadi aku biarkan ke samping, aku harus menyiapkan yang lainnya, tentunya sebentar lagi akan ada yang menjemput nona. Aku permisi dulu."

"Baiklah, terima kasih bibi Chu." Aku melihat kaca, ya ampuun, tanpa make up, wajahku terlihat seperti anak SMU! Pantas saja mereka mengiraku berumur 16 tahun. Ditambah tinggi badan yang cuma semeter setengah lebih sedikit, lengkap sudah.

Aku menunggu Shang Xiang yang katanya bakal menjemput, sampai pintu kamarku diketok. "Nah, itu pasti dia" Aku segera berlari membuka pintu. But, O MY GOD, yang menunggu di luar bukan Shang Xiang tapi LU XUN? Dia sempat terdiam sebentar (mungkin terkejut karena aku membuka pintunya terburu-buru) lalu berkata,

"Tuan Sun memintaku menjemputmu, begitu kata putri Shang Xiang tadi.." Disertai dengan senyum innocentnya.. Dia terlihat segar dan rapi dengan baju dan topi merahnya itu. What a nice guy.

Lho? Bukannya tadi Shang Xiang yang bilang akan menjemputku? Ah sudahlah, mungkin aku yang salah dengar.

"Begitu ya..?"

"Sudah siap kan Yu Na?"

"Ya"

Aku pun mengikutinya.

Baru kali ini aku melihat sisi lain istana Wu selain kamar Lu Xun. "Ruangan perjamuan berada di bangunan utama disebelah utara, sementara semua kamar berada di sisi barat. Gudang senjata dan ruangan khusus pengawal di sisi selatan, dan persediaan makanan serta ruangan khusus pelayan ada di timur. Tiap bangunan dijaga pasukan khusus istana." Lu Xun menjelaskan panjang lebar. "Kamarku, paling ujung dari kamar para Jendral Wu. Kolam di depan kamar itu adalah pembatas dengan kamar keluarga kerajaan dan kamar untuk tamu kerajaan disisi yang satunya." Lanjutnya sambil menunjuk ke arah kolam disisi kananku. Bicara soal kamar, tiba-tiba aku teringat sesuatu,

"Umm, tuan Lu Xun,"

"Jangan memanggilku tuan, ada apa Yu Na?" Dia menghentikan langkah dan menatapku. Kini kami saling berhadapan. Aduuh, jangan menatapku seperti itu. Jadi grogi nih..

"Mmmh, terima kasih!"

Dia tersenyum, "Terima kasih? Untuk apa?"

"Terima kasih...untuk semuanya, terima kasih sudah menolongku, terima kasih sudah meminjamkan kamarmu, dan terima kasih sudah menjemputku!" Aku tidak berani melihatnya.

Dia tertawa kecil, "Sudah seharusnya kan?"

"Tapi, tuan Lu Xun, kenapa? Kau kan tidak mengenalku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana membalasnya.." Akhirnya aku memberanikan diri melihat kearahnya. Eh ternyata dia cukup tinggi, berapa ya? Sekitar 170an mungkin?

"Hmm,cara untuk berterima kasih kan? Kau hanya harus berjanji 1 hal." Dia mendekat, astagaaa, kenapa aku bisa grogi di hadapan anak ingusan ini?

"Aku..harus berjanji?"

"Ya."

"Tapi..janji apa?"

"Sangat mudah, kau hanya harus mengulangi kata-kataku setelah ini" Aaah lagi-lagi senyum itu..

"..."

"Yu Na?"

"Baiklah, baiklah, jangan melakukan hal aneh ya.."

"Hahahaha, tentu saja tidak anak nakal" Eh? Apa dia bilang barusan? Anak nakal? Maksud looee? Aku sudah 22 tahun!

"Aku bukan anak nakal!"

"Hmm.. Kalau begitu dengarkan aku." Cuma itu tanggapannya. Tapi tiba-tiba aku sadar, dimatanya aku pasti terlihat seperti anak berumur belasan tahun. Baiklah, Let's see!

"Nah, kau menghadap ke arahku dan ikuti kata-kataku, aku, Li Yu Na, berjanji."

"Aku, Li Yu Na berjanji" Perbuatan bodoh apa ini? Seperti anak kecil! Kenapa aku melakukannya? Aaarrrgghh.. Sebodo, wong namaku Fiona, bukan Li Yu Na, yang berjanji kan si Li Yu Na hehehehe..

"Mulai saat ini, tidak akan memanggilmu dengan panggilan 'tuan Lu Xun' lagi. Aku akan memanggilmu... Terserah mau panggil apa."

"Tapi.."

"Kau sudah berjanji, Yu Na" katanya dengan senyum penuh kemenangan.

"Hhh, baiklah, mulai saat ini, tidak akan memanggilmu dengan panggilan 'tuan Lu Xun' lagi.." Aku terdiam.

"Aku akan memanggilmu?" Sambungnya.

"Nngg..ng..a..aku akan memanggilmu.."

Aduh, apa ya? Aku tidak mungkin memanggilmu cutie kan? Aku tidak mau dikira orang aneh karena memakai bahasa yang mereka tidak mengerti!

"A..aku akan memanggilmu Xun.." Ah, aku benar-benar tidak punya ide.

"Xun?" Katanya.

"Iya"

"Baiklah, kalau begitu, akupun hanya akan memanggilmu Na. Dan kalau kau melanggar janji akan dihukum, mengerti?"

"Apa? Tidak mau!" Dasar! Seenaknya saja! Aku bukan anak kecil!

"Tentu saja harus mau, kau kan sudah berjanji.."Aku menghela nafas, lagi-lagi aku dikalahkan anak ini. "Baiklaah..."

Kami pun kembali berjalan menyusuri lorong istana ini. KREK! "Hah,apa itu?" Tanpa sadar aku memegang tangannya. "Na? Ada apa?"

"Aaa..aku tadi mendengar, ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.." Sumpah, aku takut hantu, apalagi melewati lorong yang panjang dan sunyi ini. Kemana semua orang? "Mmhh, tuan Lu Xun,"

"Melanggar peraturan, harus dihukum"

"Aaah? Tapi aku kan.."

"Tidak bisa, hukum harus ditegakkan, nah, hukumannya..."

"Baiklah, baiklah, hukumannya apa? Aku harus lari mengelilingi istana Wu sambil minta maaf?"

"Tidak harus begitu."

"Lalu apa?"

"Harus menemaniku belajar.."

"Ha?"

"Begitulah, nah, sudah diputuskan!" Lagi-lagi dia tersenyum penuh kemenangan, sialan.

"Jadi kau tadi mau bertanya apa, Na?"

"Tidak jadi!"

"Hahahaha,aku tahu, kau pasti bertanya kemana semua orang? Iya kan?"

"Kenapa kau bisa tahu?"

"Wajah bingungmu itu menjelaskan semuanya, tentu saja mereka berada di bangunan utama, Na" Ah iya, bodohnya aku.. Kenapa tiba-tiba jadi bodoh kalau sedang didekatnya? Aarrrgh.. Kemudian kami melewati lorong yang sedikit gelap. Aku kembali memegang tangannya, lagi-lagi dia tersenyum geli, "Ini kamar Jendral Huang Gai, beliau tidak suka terang, jadi yah seperti ini, jangan takut.."

"Ta..tapi tetap saja aneh.." Dia tertawa. KREEK! Suara itu lagi! Trap, trap, trap.. Se..seperti langkah kaki. Makin dekat, aku merapat ke Xun, langkah itu semakin kencang, dan "Hey..!" seseorang menyentuh bahuku dan "Huaaaaaa.." Aku berteriak sekuat tenaga sambil memeluk Xun. Astaga sudah 2x aku melakukannya.

"Bwahahahaha..." Suara tawa cempreng yang ku kenal. "Na, itu cuma Gan Ning.." Ujar Lu Xun lembut berusaha menenangkanku yang menangis nyaris mati ketakutan. Tangannya mengusap rambutku perlahan. Aku masih memeluknya. "Xing Ba, jangan lakukan hal itu lagi, kau menakutinya."

"Kenapa? Hey, Yu Na, kau takut hantu? Dasar aneh. Hantu itu tidak ada. Kalaupun ada dia tidak akan mengganggumu karena ada aku hahahaha.. Lagipula mana mungkin hantu itu menapak di tanah. Kau benar-benar penakut ya..hahahaha"

"Ya, semua hantu takut pada bajak laut aneh sepertimu XingBa" timpal Lu Xun. Aku membalikkan badan dan menatap Gan Ning kesal. "Aku tidak takut, aku hanya terkejut!"

"O? Benarkah? Aku tidak yakin. Kalau Shang Xiang tidak takut hantu aku percaya. Tapi kalau kau.. Buktinya tadi kau sampai berteriak sekuat tenaga."

"Sudah kubilang aku terkejut!"

"Hm? Hanya terkejut tapi wajah pucat begitu dan mengeluarkan air mata? Hmmm, kalau aku menceritakan cerita ini kau pasti tidak berani tidur sendiri." Katanya tersenyum usil. "Suatu hari.."

Iihh rasanya ingin kutendang dia!

"Xing Ba, sudah, kita bisa terlambat!"

"Aah, BoYan, aku baru bahkan belum mulai cerita, kau selalu tidak bisa melihat orang lain senang."

Sepanjang jalan Gan Ning selalu menggodaku dengan mengatakan aku penakut. Biarin, biarin, biariiin, weeeekk.. Yang penting aku tidak mendengar cerita hantu dari mulutnya karena setiap dia akan mulai bercerita Lu Xun selalu mengalihkannya. Aku benar-benar berterima kasih.