Criminal Fall In Love
(Chapter I)
Sasuke.U , Sakura.H
Original Character in NARUTO
Disclaimer by : Masashi Kishimoto
Rated : Mature
Genre : Hurt/Comfort , Romance
#Warning : (Fanon), DLDR.
-00000-
.
.
.
"Bagaimana kalau aku menginginkanmu ?" bisik pemuda tampan berambut raven itu lembut, tepat di telinganya. Perkataan yang sukses membuat jantung Sakura menjadi berdebar tak biasa.
"A-ap… apa maksudmu ?" tanya gadis musim semi itu terbata.
"Malam itu menyenangkan. Sayangnya ada gangguan. Bukan begitu, Sakura ?" ucap sang pangeran Uchiha dengan nada menggoda disertai sebuah seringai ganjil yang menghiasi wajah tampannya. Sakura tergeragap. Tanpa sadar, gadis musim semi itu mundur selangkah. Gerakan itu murni refleks tubuhnya yang berusaha menjauhi bayang-bayang mengerikan kejadian malam itu.
"Itu genjutsu-mu…? Untuk apa kau lakukan itu padaku ?!" bentak gadis merah jambu itu tanpa sadar, merasa marah. Tidak ada perempuan yang rela dilecehkan seperti itu, meskipun dengan pemuda yang dicintainya.
Sasuke tersenyum sinis. "Untuk bersenang-senang…" jawabnya dengan datar. Seolah jawaban itu tak akan melukai perasaan gadis di depannya ini. Tanpa sadar, tangan gadis musim semi itu mengepal kuat.
"Kau jadikan aku pemuas nafsu mu, Uchiha ?! tanya Sakura dengan nada tak percaya.
"Kau boleh menganggapnya begitu. Tapi asal kau tahu, aku sama sekali belum 'puas'…" semakin Sasuke melangkah maju, Sakura pun akan mengimbanginya dengan mundur satu langkah, menjauhi pemuda itu
"Aku bukan pemuasmu. Aku tidak akan mau hanya menjadi pemuas nafsumu !" jerit gadis musim semi itu melengking tinggi. Dia mencintai pemuda ini dengan tulus, bertahun-tahun dia rela menunggu dalam kesendirian, dan dia selalu menyalahkan kelemahannya yang tidak dapat menyelamatkan pemuda itu dari kegelapan. Tapi, inikah balasan atas semua cinta yang dia pendam?
"Mulai sekarang kau adalah… MILIK KU !" ucap pemuda tampan itu sambil merengkuh wajah gadis cantik di hadapannya ini dalam satu genggaman tangan. Dipaksanya emerald hijau indah itu untuk menatap tepat ke manik sepasang onyx miliknya.
Pipinya sampai terasa ngilu akibat cengkraman kuat tangan Sasuke. Namun bukan itu penyebab airmata di kedua emerald-nya tumpah. Sakura menangis karena pemuda itu menganggapnya hanya sebagai pemuas nafsu saja. Gadis mana yang rela dianggap seperti itu oleh pemuda yang dia cinta? Sakura mengartikan kata 'milik' yang diucapkan pemuda raven itu sebagai tanda kuasa sang Uchiha atas dirinya. Hanya sebagai asset yang bisa seenaknya pemuda itu permainakan.
Jika saja pemuda itu menyatakan perasaannya dengan lembut, Sakura pasti akan sangat bahagia. Tapi…perasaan ? Masih memilikinya-kah kau, Sasuke ? Masih adakah perasaan yang tersisa bagi kami teman-temanmu ini ?
"Kau tidak puas dengan semuanya? Bukankah dulu kau sendiri yang merengek padaku untuk membawamu pergi ?" ejek Sasuke saat mengenang masa lalu mereka. Memang benar, dulu rasanya dia rela melakukan apa saja asal bisa bersama pemuda raven itu. Sakura bahkan mengabaikan perasaan Naruto meski pemuda itu secara terang-terangan mengakui menyukainya. Oh Kami-Sama… inikah balasannya ?
"Kau mencintaiku Sakura ?" kalimat itu diucapkan dengan biasa. Teramat datar untuk sebuah pertanyaan. Dan terlampau aneh untuk sebuah pernyataan cinta. Sakura tak mengerti, mengapa Sasuke menjadi seperti ini ? Mengapa dia senang mempermainkan perasaan Sakura sebagai seorang wanita? Tak tahukah dia bahwa kata-katanya tadi mungkin adalah sesuatu yang gadis musim semi itu tunggu sepanjang hidupnya?
Merasa diabaikan karena gadis berhelai merah jambu itu tak juga menjawab, cengkraman tangan kekar pemuda tampan itu pada pipi gadis di hadapannya ini semakin menguat.
"JAWAB !" bentak pemuda tampan itu. Kalap, iris mata Sasuke kembali berubah menjadi sharingan sempurna karena didesak oleh kemarahannya yang memuncak. Sakura sendiri berupaya memberontak melihat perubahan di mata pemuda yang dicintainya. Dia gelengkan kepalanya kuat-kuat. Berusaha lepas dari cengkraman sang Uchiha.
Setelah berhasil terlepas, gadis musim semi itu menjauh beberapa langkah dengan kepala tertunduk ke bawah.
"A-aku menyukaimu Sasuke. Aku selalu menyukaimu…" terisak, gadis itu mengakui perasaannya. Bukankah tak ada bedanya? Sejak awal, sejak mereka masih kanak-kanak, pemuda itu sudah mengetahui perasaannya.
Sakura tidak menyadari sejak kapan pemuda itu bergerak, tapi saat disadarinya, sang Uchiha bungsu telah berada di belakangnya dalam jarak yang sangat dekat.
"Bagus…" ucap pemuda tampan itu sambil mengecup daun telinga Sakura. Membuat gadis musim semi itu bergidik geli.
"Sekarang berikan aku gulungan itu…" titah sang Uchiha sambil menengadahkan tangannya. Meminta –atau lebih tepatnya memaksa- gadis merah jambu itu menyerahkan gulungan yang menjadi misi mereka.
"A-ap… Apa ?!" Sakura mendesis tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sasuke menginginkan gulungan ini ? tapi untuk apa ? bukankah pemuda itu sudah tahu betapa pentingnya isi gulungan ini seperti yang disampaikan Godaime pada mereka ?
"Berikan. Gulungannya…" pemuda tampan itu mengeja kata per kata dan memberikan penekanan di setiap katanya.
"Tidak ! Ini misi kita Sasuke-kun. Kau tahu aku tidak bisa menyerahkan gulungan ini kecuali pada Tsuchikage…" tolak gadis musim semi itu mentah-mentah.
"Berikan sekarang,Sakura !" bentak sang Uchiha lagi. Sasuke tidak suka mengulang kata-katanya. Harusnya gadis merah jambu itu tahu bahwa setiap perkataan sang pewaris Uchiha adalah titah yang harus dilaksanakan.
Gadis itu mengelak dari tangan Sasuke yang berusaha menjangkaunya dan merebut gulungan itu. Tapi apa daya, Sakura kalah cepat dengan ular yang tiba-tiba muncul dari balik hakama yang dikenakan pemuda raven itu.
Ular itu membelit Sakura begitu kencang hingga gadis itu tidak bisa menggerakan tangan dan tubuhnya. Bahkan untuk menjangkau kunai yang diselipkan di saku celana saja, gadis merah muda itu tak bisa melakukannya.
Dengan mudah Sasuke merebut gulungan yang menjadi misi mereka kali ini. Tanpa membukanya, hanya melalui sepasang sharingan sempurna, Sasuke berhasil mengetahui isi rahasia dari gulungan tersebut.
"Cih, tidak berguna…" desisnya sambil melempar gulungan itu ke udara. Lalu tiba-tiba,
BWOSH- Elemen api milik klan Uchiha. Gokyaku no jutsu.
Api besar seketika menyambar gulungan itu. Melenyapkannya menjadi serpihan debu yang melayang di udara sebelum akhirnya hilang ditelan arus sungai yang cukup deras.
Sakura menatapnya tak percaya. Gulungan itu… misi mereka… bagaimana mungkin pemuda itu tega mengacaukannya?
Ular yang melilit gadis musim semi itu lepas saat sang pemilik menariknya kembali ke tubuhnya. Gadis itu terjatuh ke tanah. Merasa pusing dengan semua yang terjadi di depannya. Apa yang harus dia katakan pada Hokage kelima? Alasan masuk akal apa yang akan diterima oleh Tsuchikage ketiga bila mengetahui gulungan yang harusnya diberikan padanya justru telah lenyap ditelan api akibat perbuatan sang Uchiha ?
"Ayo kembali ke desa…" pemuda raven tampan itu pergi begitu saja. Meninggalkannya yang masih terpaku tanpa bisa menggerakan tubuhnya.
-0000-
.
.
.
BRAK-
Meja di depan putri Tsunade berderit keras, menandakan betapa marahnya satu-satunya wanita yang menjadi Hokage di Konoha. Dipandanginya satu persatu wajah di depannya ini dengan tak percaya. Bagaimana mungkin di kelompok yang berisikan ninja penuh bakat ini bisa gagal dalam misi yang tergolong mudah bagi mereka?
Sakura menundukkan wajahnya dalam-dalam. Hanya dia satu-satunya di sini yang mengetahui bagaimana kengerian sesungguhnya dari sang Hokage kelima yang juga merupakan guru pribadinya.
"Maafkan kami, Nek…" hanya pemuda kuning jabrik itu yang berani angkat suara. Sementara pemuda penuh senyum –meski saat ini senyuman tak terlihat menghiasi wajah manisnya- dan pemuda tampan berambut raven yang berada di sebelahnya tetap terdiam.
"Apa yang sebenarnya terjadi ? apa kalian diserang ?" tanya Hokage cantik itu sambil menatap satu persatu wajah shinobi-shinobi yang menjadi kebanggaan desanya. Isi gulungan itu adalah rahasia penting perjanjian Konoha dan Iwa yang harus segera mendapat persetujuan dari Tsuchikage ketiga.
"Ma-maafkan aku, Guru…" gadis musim semi itu akhirnya buka suara. Meski suaranya terlalu pelan hingga hanya berupa bisikan.
"Ada apa sebenarnya, Sakura ?" Tsunade sangat mengetahui segala sesuatu tentang muridnya itu. Sakura adalah ninja wanita yang hebat. Salah satu kunoichi berbakat yang dimiliki desa. Rasanya tidak mungkin Sakura melakukan kesalahan sepele yang berakibat fatal bagi desa.
"A-ak…aku lah yang menghilangkan gulungan itu…" ucap sang gadis merah jambu. Terlihat menyesal sekali. Bahkan untuk mengangkat wajahnya, gadis itu tak mampu.
"Bagaimana bisa ? kau yang merupakan salah satu kunoichi paling berbakat Konoha bisa melakukan kesalahan sepele macam itu !" nada suara Sannin legendaries itu naik 2 oktaf. Tak percaya muridnya ini bisa melakukan kesalahan mendasar seperti itu. Naruto dan Sai ikut menatap satu-satunya wanita di kelompok tujuh itu dengan tatapan tak percaya. Hanya Sasuke yang tidak melakukannya.
"Aku… aku terjatuh di sungai. Lalu gulungan itu tiba-tiba terlepas dan hanyut terbawa arus…" jawab Sakura sekenanya. Dia tahu itu alasan paling buruk yang bisa dia kemukakan, tapi dia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa.
Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin dia mengakui bahwa pemuda raven itulah pelaku utamanya. Label sebagai kriminal, sebagai pengkhianat desa saja sudah membebani pemuda itu. Biarlah kali ini, Sakura yang akan menanggung kesalahannya.
Putri Tsunade memijit keningnya yang tak sakit. Hokage cantik itu tahu Sakura berbohong. Tidak mungkin hal seperti itu menjadi penyebab hilangnya gulungan berharga itu. Pasti ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang coba disembunyikan gadis merah jambu itu dari mereka semua.
"Kau yakin ? Kau tidak sedang berbohong ?" tanya Tsunade sambil menatap lurus ke arah gadis musim semi itu. Sakura menundukkan wajahnya. Tak sanggup melihat wajah sang guru.
"Ya Hokage kelima. Maafkan saya. Saya bersedia menerima hukumannya…" jawab Sakura pelan.
"Sakura-chan…" desah pemuda kuning jabrik itu iba. Naruto juga tak habis pikir bagaimana mungkin Sakura bisa melakukan kesalahan sepele itu.
"Baiklah. Kau tahu aturannya Sakura. Kau harus menerima hukuman. Karena kegagalan kali ini akan membawa situasi yang tidak baik bagi desa…" ucap Tsunade tegas. Meski sebenarnya dia pun tak tega menghukum gadis itu, tapi sudah kewajibannya untuk menegakkan peraturan desa.
"Yaa. Saya mengerti…" jawab Sakura pelan tapi mantap. Ditengadahkan wajahnya menatap sekeliling. Naruto dan Sai menatapnya dengan tatapan iba. Sang guru menatapnya dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Sasuke, pemuda itu hanya menatapnya dengan tatapan datar.
Sakura menghela nafas, pelan. Bersiap menerima hukuman yang dijatuhkan padanya.
-0000-
.
.
.
Gadis musim semi itu diam saja saat sejumlah Anbu desa membawanya untuk menjalani hukuman akibat kegagalannya dalam misi yang sebelumnya dipercayakan pada kelompoknya. Kegagalannya ini membuat situasi desa terancam di mata desa shinobi lainnya. Karena itu, Sakura harus menjalani hukuman level 2. Meski bukan dia pelakunya. Meski ini semua bukan kesalahannya. Tapi dia rela menanggungnya.
"Sakura-chan !" teriak Naruto dari belakangnya. Pemuda kuning itu tampak berlari mengejarnya. Terengah-engah, putra Hokage keempat itu menghentikan langkahnya saat gadis musim semi itu telah ada di hadapannya.
"Sakura-chan. Kau tidak harus melakukan ini. Kau tidak perlu menanggung semuanya sendiri. Aku akan bilang pada Nenek untuk…" namun kalimat Naruto dísela oleh Sakura yang menggeleng lemah. Pertanda dia tidak menyetujui apapun saran yang akan diberikan pemuda itu padanya. Naruto merasa menyesal tidak bisa melindungi satu-satunya rekan wanita di kelompoknya. Sementara gadis merah jambu itu justru menunjukkan wajah tersenyumnya.
"Ini kesalahanku,Baka. Jadi aku memang pantas dihukum." jawab gadis musim semi itu berusaha menenangkan pemuda di hadapannya. Namun kali ini senyum Sakura masih membuat pemuda kyuubi itu gusar.
"Kau yakin itu yang terjadi ? Kau tidak berbohong kan ?" tanya Naruto lagi. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa Sakura dapat seceroboh itu dalam menghilangkan gulungan yang menjadi misi penting mereka. Apalagi jika mengingat ini adalah misi pertama mereka sebagai kelompok 7 setelah sekian lama. Ada Sasuke dan Sai juga yang melengkapi mereka.
"Aku tidak berbohong…" ujarnya berusaha meyakinkan pemuda di hadapannya ini. Meski kedua emerald-nya enggan menatap sepasang shappire milik bocah kyuubi itu.
"Ta-tapi, kau bersama Sasuke kan ?" selidik Naruto lagi. Wajahnya menyiratkan kegusaran dan kekhawatiran yang amat sangat.
"Tidak. Aku tidak bersama Sasuke. Aku sendiri kehilangan jejak Sai. Jadi aku berjalan sendiri…" berbohong, itulah yang dilakukan gadis berhelai merah jambu itu. Berbohong untuk melindungi pemuda yang dicintainya.
"Sakura, sudah waktunya…" ucap salah satu Anbu bertopeng yang mengawalnya. Sakura tersenyum sambil menepuk lembut pemuda rekannya sejak kanak-kanak itu. Berusaha menepis kekhawatiran yang membayang di wajah manisnya.
"Aku akan baik-baik saja, Baka Naruto…" ucap gadis musim semi itu sambil tersenyum dan melangkah pergi. Menyisakan pemuda kuning itu dengan perasaan khawatir yang menyesakkan hati.
"Aaaarrrggghhhh !" teriak Naruto sambil memukul dinding disebelahnya.
'maafkan aku Sakura-chan…aku tidak bisa melindungimu…' desisnya sedih.
-00000-
.
.
.
Hukuman level 2, itulah yang harus dijalani Sakura. Tak pernah ada yang tahu seperti apa hukuman level 2 itu. Karena mereka yang menerima hukuman, harus rela menjalaninya dalam diam.
Sakura memasuki sebuah ruangan. Kecil, sempit dan suram. Pencahayaan di ruangan itu benar-benar buruk hingga gadis musim semi itu hanya melihat semuanya secara samar. Para Anbu yang mengantarnya juga telah pergi. Hanya dia seorang diri di ruangan ini.
Tiba-tiba gadis itu merasa tengkuknya disengat oleh sesuatu. Tubuhnya seketika lemas. Lunglai. Ingin pingsan tapi kesadaran masih menghampirinya.
Sesosok tubuh tinggi tegap menggendong tubuh lemahnya dan mendudukannya di sebuah kursi. Bukan kursi biasa melainkan sebuah kursi dengan pengikat di bagian tangan dan kaki. Pria itu memasang setiap pengikat di tangan dan kaki gadis musim semi itu. Sakura hanya bisa pasrah. Dia sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan.
Tiba-tiba gadis merah jambu itu merasakan perih di bagian punggungnya bersama dengan sebuah lecutan yang terlihat sekilas oleh iris emerald-nya. Itu sebuah cambukan. Hukuman level 2 adalah 20 kali cambukan dan sengatan untuk menghilangkan chakra dalam tubuh terdakwa untuk sementara.
Airmata pun tumpah dari sepasang emerald-nya. Perih yang dirasakan, bercampur aduk dengan perasaannya sekarang. Hanya sebuah kesalahan sepele saja dia harus merasakan hukuman sedemikian menyakitkan. Tapi ini semua demi desa. Karena kesalahan yang dibuatnya dapat membahayakan stabilitas desa juga negara Hi.
Tiba-tiba gadis itu teringat pemuda raven yang selama ini dicintainya. Pemuda itu sempat masuk dalam daftar buronan kriminal level S. Sakura tidak dapat membayangkan hukuman apa yang menanti pemuda tampan itu jika dirinya sampai tertangkap sebagai seorang kriminal berbahaya.
CTAK… CTAK… CTAK-
Sakura menggigit bibir bawahnya. Berusaha meredam teriakan kesakitannya.
Sasuke… rasa sakit ini tidak ada apa-apanya. Tidak sebanding dengan apa yang akan kau rasakan jika semua mengetahui kebenarannya. Karena itu, kali ini biarlah aku yang melindungimu. Sama seperti dulu, kau dan Naruto-lah yang selalu melindungi dan menjagaku…
-0000-
.
.
.
Tertatih, gadis itu melangkah pulang ke rumahnya. Ini sudah lewat tengah malam. Selama hampir 12 jam dirinya disekap dan dicambuk sebanyak 20 kali cambukan. Inilah hukuman level 2 bagi mereka yang gagal menjalankan misi dan membahayakan stabilitas desa.
Saat tiba di rumahnya, gadis itu merasa ada seseorang yang mengikutinya. Nalurinya berkata demikian, namun Sakura terlalu letih untuk mengetahui dengan jelas siapa orang yang menguntitnya. Karena itu gadis merah muda itu mendiamkannya saja. Namun sosok itu tiba-tiba memeluknya dari belakang dan membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan teriakan. Sosok itu ternyata adalah sang Uchiha.
Sasuke mendorong gadis itu masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintunya dalam satu gerakan.
"Sasuke-kun…" lirih Sakura tak percaya. Pemuda inilah alasan mengapa dia rela menjalani hukuman yang bukan kesalahannya. Pemuda inilah sebab dia menguatkan diri menanggung segala rasa sakit sendirian.
Tanpa bicara, pemuda tampan itu menggendong Sakura ala bridal style dan membawanya menuju kamar. Sasuke merebahkan tubuh gadis musim semi itu di futon-nya.
"Sakit ?" tanya pemuda itu dengan nada datar. Sakura menggeleng lemah. Berusaha memperlihatkan sisa-sisa kekuatan dan ketegaran yang masih ada.
"Tidak. Aku baik-baik saja…"jawabnya dengan senyum terpaksa. Walau sebenarnya, seluruh tubuhnya terasa luruh dan luluh lantak.
Tangan pemuda itu bergerak, hendak membuka pakaian yang dikenakan gadis dihadapannya.
"Ma-mau apa kau ?!" tepis Sakura. Pada saat itulah gadis musim semi itu bisa melihat kilat nafsu di balik sepasang onyx milik pemuda raven itu.
"Membantumu berganti pakaian." jawabnya singkat dengan seringai ganjil pada wajah tampannya.
"Ti-tidak usah…" gadis merah jambu itu bergerak menjauh. Tapi hanya dengan satu gerakan, pemuda itu menubruknya dan membuat posisi sulit di antara mereka.
Sakura terlentang tepat di bawah kuasa sang Uchiha.
Sasuke mulai menciumi wajah dan bibir Sakura tanpa aba-aba. Membuat gadis itu mendesah tertahan. Seluruh tubuhnya masih sakit akibat bekas cambukan, dan chakra-nya terkuras akibat dikurung selama 12 jam. Rasanya dia sudah tak punya tenaga untuk melawan.
Melihat gadis itu tanpa perlawanan, Sasuke justru makin berani dan liar mengeksplore tubuh indah gadis yang berada di bawah kuasanya ini. Dengan tidak sabar, dibukanya pakaian gadis itu dengan satu tarikan. Memamerkan tubuh polosnya yang masih berbalut kain hijau penutup dada yang ikut memerah akibat darah bekas luka cambukan.
Bukannya kasihan atau iba, Sasuke justru terangsang melihat pemandangan di hadapannya. Luka di sekujur tubuh gadis itu terasa lebih menggoda dibanding penampilan polosnya yang biasa.
"Ja-jangan Sasuke-kun…" pinta gadis itu lemah saat tangan pemuda itu bergerak membuka kain penutup dadanya dan meremasnya. Bukannya berhenti, Sasuke justru semakin liar mempermainkan dada gadis musim semi yang sejak dulu menyukainya.
Gadis itu ingin menangis. Gadis itu ingin menjerit. Tapi seakan tahu apa yang dia pikirkan, pemuda keturunan terakhir klan yang paling ditakuti desa itu justru melumat bibir nya ganas tanpa memberinya celah untuk memberontak.
"Mmmmhhh- mmmhhh…" Sakura berusaha melepaskan diri dari dominasi sang Uchiha. Namun gagal. Sekujur tubuhnya terasa ngilu dan sakit jika dia membuat gerakan ini belum seberapa, dibanding luka yang kini menggurat hatinya.
Pemuda tampan itu berusaha memuaskan nafsunya pada tubuh indah Sakura. Tak peduli bahwa gadis musim semi itu tengah kesakitan akibat hukuman yang dijalankan. Tak peduli meski gadis itu sekuat tenaga berusaha meronta dan bertahan dari keinginan bejatnya..
"Malam ini akan kujadikan kau milikku sepenuhnya…" ucapnya penuh penekanan.
Gadis ini, gadis yang berada di bawah kuasanya ini adalah gadis yang sama dengan gadis yang mencintainya sejak bertahun-tahun silam. Saat mereka masih kanak-kanak, saat dirinya belum mengenal hasrat terhadap wanita, saat dirinya belum tertarik untuk memuaskan dahaga kelelakiannya.
Selama ini tujuan hidupnya hanya satu. Selama ini jalan yang dia tahu juga hanya satu. Yaitu membalaskan dendam klan kepada satu-satunya saudara yang dia miliki. Pemuda itulah alasannya bertahan sejauh ini. Meski pemuda yang juga merupakan kakak semata wayangnya itu pula lah mengapa Sasuke harus mengambil jalan kebencian sepanjang hidupnya.
Sasuke memandang ke iris emerald gadis yang sudah pasrah di bawah kuasanya ini. Gadis yang tengah menahan sakit yang mendera tubuhnya. Gadis yang mencoba mempertahankan kehormatannya. Ekspresi marah dan kesakitan gadis itu justru semakin merangsangnya. Membuatnya tak lagi mampu mengendalikan hawa nafsunya.
"Hentikan,Sasuke-kun. Tolong hentikan semua ini…" desah gadis merah jambu yang kini setengah telanjang itu. Tubuh bagian atasnya telah terekspos dengan jelas. Tubuh mulus yang kini penuh dengan goresan luka. Dan bukannya mendengarkan permintaan gadis itu, Sasuke justru semakin liar dengan menjilat setiap luka cambukan yang tergores di tubuh mulus gadis rekannya semasa kecil itu. Beberapa di antara luka itu masih mengeluarkan darah segar yang mengalir.
"Kau rela menanggungnya sendirian ? Semua rasa sakit ini ? mengapa tidak berbagi denganku ? Aku bisa meredakan sakitmu…" tawar Sasuke sambil tersenyum manis. Lidahnya menjilat setiap kali bekas luka itu mengeluarkan darah.
Sakura sendiri tidak menjawab tawaran pemuda tampan yang kini tengah bermain-main dengan tubuhnya itu. Dia bahkan enggan menatap wajah pemuda yang selama ini dia cintai itu.
Haruskah semua berakhir seperti ini? Kegadisannya dilecehkan pemuda ini, kehormatannya sebentar lagi akan dinodai.
TOK TOK TOK-
Terdengar suara pintu rumah gadis musim semi itu diketuk perlahan. Lalu sebuah suara menyusul tak lama setelahnya.
"Sakura-san, kau sudah pulang? Kau baik-baik saja ?" satu suara itu terdengar di balik pintu yang tertutup rapat. Sasuke sendiri terdiam, menghentikan aksinya mengeksplor tubuh gadis merah jambu itu.
"Sakura-san !" panggil suara itu lagi. Entah siapa pemiliknya, tapi suaranya agak dikeraskan.
"A…Mmmmhhh- mmmhhhh…" baru saja Sakura akan menjawab panggilan suara itu, mulutnya sudah lebih dulu dikunci oleh bibir Sasuke. Pemuda itu langsung mendominasi mulutnya. Diajaknya lidahnya untuk mengimbangi ciuman panas penuh gairah pemuda tampan itu. Tanpa memperdulikan sang gadis yang tengah kesakitan, Sasuke justru kian liar menggigit bibir Sakura saat gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat.
Tak dipedulikannya lagi air liur mereka yang bercampur menjadi satu dan banyak menetes keluar dari mulut karena gadis itu tidak bisa mengimbangi gairahnya. Sementara mulutnya sibuk mengeksplor bibir Sakura, kedua tangannya pun digunakan untuk menjamah dan melucuti pakaian gadis itu yang masih tersisa.
Sakura meronta, sekuat tenaga saat pemuda itu melucuti pakaian bagian bawahnya. Meski gerakan yang dia lakukan kian menambah perih luka yang menganga di sekujur tubuhnya.
TOK TOK TOK-
Suara ketukan itu kembali terdengar. Sasuke tidak suka ada yang mengganggu keasyikannya. Sepasang iris matanya seketika kembali menjadi sharingan sempurna dengan kelopak bunga yang mekar dilalap api semerah darah.
Shimura Sai. Ternyata pemuda itulah yang berada di balik pintu rumah sang gadis musim semi sejak tadi. Pemuda berambut hitam itu tampak khawatir dengan keadaan gadis rekan satu timnya. Sai yang berasal dari Ne Anbu sudah hafal betul dengan segala siksa dan hukuman yang dijalankan Konoha bagi para oknum yang melakukan kesalahan bagi desa.
"Sakura-san…" panggil Sai lagi. Entah mengapa, meski tak ada jawaban dan rumah gadis musim semi itu gelap gulita, Sai merasa ada seseorang di dalam sana.
Sasuke tidak memperdulikan suara di balik pintu itu. Justru dia semakin kasar mendominasi gadis yang tengah merintih kesakitan di bawah kuasanya. Sasuke memperlakukan Sakura tak ubahnya sebagai boneka pemuas dahaga kelelakiannya.
Sakura sudah tak mampu melawan saat pemuda tampan yang dicintainya sejak dulu itu merenggut kehormatannya sebagai wanita. Sasuke melukai kewanitaannya dengan cara yang bahkan tak akan pernah dibayangkan oleh imajinasi terliarnya. Chakra-nya sudah habis terkuras dan seluruh tubuhnya nyeri akibat luka yang menganga. Tapi ini tak seberapa dibanding luka yang kini menghantam hatinya.
Sakura terdiam saat Sasuke menuntaskan nafsunya di atas tubuh indahnya. Gadis itu tak lagi menangis. Gadis itu tak lagi ingin menjerit. Gadis itu bahkan tak lagi berkata apa-apa.
Nanar, ditatapnya pemuda yang tengah menghitung peluh-peluh nafsu yang digurat di atas tubuhnya. Nyeri yang melanda sekujur tubuhnya, terutama bagian kewanitaannya diabaikan gadis musim semi itu. Ini tak sebanding dengan luka yang kini bersemayam di hatinya.
Gadis musim semi itu sungguh mencintai pemuda raven yang telah mendominasi tubuhnya ini. Sakura mencintainya sepenuh hati. Sakura rela melakukan apa saja, rela menjadi apapun yang diminta agar pemuda itu merasakan bahagia yang sejak dulu tak pernah dirasakannya.
Meski di sudut terdalam hatinya, Sakura masih berharap Sasuke melakukan semua ini karena mencintainya. Karena gadis mana yang rela hanya dianggap pemuas nafsu oleh orang yang dicintainya.
-0000-
.
.
.
Naruto berharap-harap cemas sambil menunggu di kedai ramen Ichiraku langganannya. Hari ini dia berjanji untuk bertemu dengan Sai dan Sasuke karena mereka berencana untuk menjenguk satu-satunya shinobi wanita di kelompok 7 yang telah menjalani hukuman akibat kelalaian pada misi sebelumnya.
Sudah hampir 10 menit menunggu, Sai yang datang terlebih dulu. Pemuda yang selalu tersenyum itu duduk di sebelah Naruto yang masih tampak asyik menghabiskan ramen pesanannya.
"Sai, kau sudah datang rupanya…" sambut pemuda kuning itu riang. Sai hanya membalasnya dengan senyuman yang selalu tersungging di wajah manisnya.
"Kita tinggal menunggu Teme saja. Dimana dia ? Tidak biasanya dia telat…" oceh Naruto dengan mulut penuh makanan. Sai lagi-lagi hanya tersenyum menanggapinya.
Tiba-tiba senyum di wajah pemuda manis itu menghilang. Sorot wajahnya terlihat tegang. Sai dapat merasakan pemilik sharingan sempurna itu telah ada di belakangnya.
Benar saja, Sasuke berada persis di belakang Sai. Dengan sorot mengerikan di balik sharingan sempurna sang pewaris sejati Uchiha. Wajahnya sangat dingin dan matanya memancarkan aura membunuh yang sempurna.
"Temee- …" Naruto tak jadi melanjutkan kata-katanya saat dilihatnya wajah Sasuke yang tampak tidak suka dengan kehadiran Sai. Sai sendiri, untuk menutupi emosi di wajah manisnya, pemuda itu kembali memasang topeng tersenyumnya.
Lalu entah apa sebabnya, dengan satu gerakan cepat dan tiba-tiba, pemuda keturunan terakhir klan Uchiha itu menarik katana yang selalu terselip di pinggang hakama-nya. Ujung pedang itu sekejap mata telah berpindah di leher pemuda berambut hitam dengan wajah penuh senyuman itu.
"He-heii Teme, apa-apaan sih ini ? Ayolaah, jangan berbuat begini…" bujuk Naruto pada kawan karibnya itu. pemuda yang bercita-cita menjadi Hokage itu dapat melihat kilat pembunuh di sepasang sharingan sempurna milik sahabatnya. Seolah Sai telah terlebih dulu mengusik dan membuat marah sang Uchiha.
Tiba-tiba Sai terjatuh ke lantai dengan wajah pucat dan dengan ekspresi menahan sakit yang amat sangat. Tsukuyomi. Salah satu genjutsu terkuat milik klan yang paling ditakuti di Konoha itu.
Dalam Tsukuyomi, Sasuke-lah yang bisa mengatur dan mengendalikan semuanya. Termasuk rasa sakit dan siksaan yang harus di terima Sai. Dalam Tsukuyomi-nya, waktu akan berjalan sangat lambat disbanding waktu normal dan lagi-lagi hanya pemuda tampan berambut raven itu yang mampu mengendalikannya.
Semua merupakan keistimewaan dari sepasang mata terkutuk itu. Pupil mata yang bahkan mampu mengendalikan para Biiju.
"Aku tidak suka pengganggu !" bisik Sasuke kejam di telinga Sai. Dalam genjutsu Tsukuyomi Sasuke, pemuda manis itu tengah merintih kesakitan karena ditusuk ribuan pedang secara bersamaan.
"Teme ! Hentikan…!" teriak Naruto. Tapi Sasuke justru menyeringai sambil menoleh ke arah sang pemuda berambut kuning itu.
"Di kelompok 7 hanya ada kau, aku dan Sakura. kita tidak butuh yang lain kan, Dobe ?" kata Sasuke pelan, tapi tajam. Naruto dapat merasakan keseriusan dalam nada bicara teman lamanya itu. Sasuke tampak serius ingin membunuh Sai!
Tiba-tiba tangan seseorang mencekal tangannya. Menghentikan paksa Tsukuyomi-nya. Orang itu adalah lelaki dengan helaian perak yang memakai masker untuk menutupi sebagian wajah dan mulutnya.
Satu lagi orang di kelompok 7.
Kakashi-sensei !
-00000-
TO BE CONTINUED-
Aikaa-chan " Hai haiii. Makasih udah suka :D
Ayuniejung : kwkkwkw. Kalo murah mah mending beli permen :*
Dwisuke : lanjut dong :D
Ladhyangel : makasih semangatnya dan makasih juga dulu udah sempet baca meski versi itu ancur parah :D
DeShadyLady : Udah dilanjut :*
Makasih untuk sambutan dan semangat dari kalian.
Mohon maaf terkadang ada kata atau huruf yang hilang padahal odes udah berusaha semampunya untuk meminimalisir hal tersebut.
XOXO
Salam sayang,
Odes
[Yang masih menjadi #BiniPertamaCanon Uchiha Itachi]
