Sebelumnya...

BRUK' , Seokmin melirik Soonyoung yang tiba-tiba terduduk di lantai sambil menutup kedua telinganya, ia juga menutup matanya erat, "jangan ambil aku, ku mohon! Jangan-hiks. Pergi! Jangan bawa aku"

"Hei, kau kenapa!? SOONYOUNG KAU KENAPA!?" Seokmin yang khawatir tak sadar meninggikan suaranya yan justru membuat Soonyoung semakin takut.

"Ku-ku mohon lepaskan aku! Pergi! Pergi!" usir Soonyoung entah pada siapa.

Wonwoo melirik Soonyoung yang baru dilihatnya,"D-dia..."


Mingyu menatap kekasihnya bingung, sedangkan Seokmin sibuk menenangkan Soonyoung.

"Bawa dia ke kamar" ucap Mingyu yang tentu saja Seokmin akan melakukannya tanpa disuruh pun.

Seokmin membawa Soonyoung kekamarnya dan membiarkan pemuda sipit itu menenangkan diri.

Lalu seokmin kembali lagi menghampiri Mingyu dan Wonwoo yang masih tampak terkejut.

"Jadi Jeon, bisa kau jelaskan?" ucap nya.

"Seokmin-ah, kau yang paling tau apa pekerjaan ku sebelum mengenal Mingyu" kata Wonwoo memulai pembicaraan.

Seokmin mengangguk,"Pekerja bayaran,kan"

"Tiga atau empat tahun yang lalu, seseorang membayar ku untuk melakukan penculikkan-" ujar Wonwoo melanjutkan ceritanya.

"Kau menculiknya!?" ucap Seokmin.

"-dan penjualan manusia dipasar gelap. Dan malangnya, dia salah satu korban." sambung Wonwoo lagi yang membuat Mingyu dan Seokmin kaget. Tidak terlalu terkejut sebenarnya, karena mereka memang tau pekerjaan Wonwoo dimasa lalu.

Seokmin menghela napas, "kau tidak melakukan kekerasan kan?"

"Aku memang pernah membunuh, juga melakukan kekerasan. Tapi aku orang yang pilih-pilih. Kau juga tau itu"jawab Wonwoo.

"Tiga atau empat tahun itu- bukankah kau berhenti dari pekerjaan mu?" tanya Mingyu.

"Memang. Itu pekerjaan terakhir ku. Setelah itu, kau yang menculikku dan membawa ku ke negeri antah-berantah ,lalu meninggalkanku sendirian untuk 'pekerjaan yang tak kalah gila' mu itu" sindir Wonwoo. Mingyu hanya tertawa renyah.

"Kenapa dia begitu takut?" tanya Seokmin.

"Mana aku tau, jangan salahkan aku, aku hanya melakukan pekerjaan ku dengan profesional" kata Wonwoo.

"Harusnya aku minta Joshua-hyung untuk men-sucikan mu dari dulu"cibir Seokmin.

Wonwoo memutar bola matanya jengah ,"Aku sudah berhenti dari pekerjaan itu, Lee Seokmin. Jadi aku tidak perlu itu"

Sebelum mengenal Mingyu, Wonwoo adalah seseorang yang paling Seokmin incar untuk masuk kedalam kelompok mafia nya.

Wonwoo cerdas , ia tangkas, dan ia cerdik. Dan dia juga berpengalaman.

Wonwoo bekerja sebagai pekerja bayaran, bukan untuk pekerjaan receh, tapi untuk pekerjaan yang merepotkan.

Mencuri, menculik, melakukan tindak kekerasan maupun penghancuran, bahkan membunuh. Anggap saja dia penjahat.

Tapi Wonwoo tidak sembarangan dalam melakukan tindakan, ia hanya melakukan kekerasan terhadap orang yang memang pantas mendapatkannya. Ia tidak akan memukul kalau targetnya tidak bersalah.

Sama seperti kasus Soonyoung, ia dibayar untuk menculik dan menjual , selebih nya, itu bukan urusannya. Dia tidak tau lebih lanjut apa yang rekannya lakukan atau apa yang pembeli lakukan.

Jangan salah paham, Wonwoo itu orang baik. Hanya pekerjaan masa lalu nya saja yang buruk.

"Sudahlah. Tidak terlalu penting. Kurasa kalian harus pulang."kata Seokmin.

"Hm, kami harus melanjutkan aktivitas kami yang kau ganggu tadi" kata Mingyu sambil merangkul Wonwoo.

"Aku minta maaf. Aku akan bicara pada Soonyoung besok" ujar Wonwoo.

Seokmin menutup pintu setelah kedua pemuda itu pergi meninggalkan rumahnya.

Ia berjalan menghampiri Soonyoung dikamar nya.

Dengan perlahan Seokmin membuka pintu dan mendapati Soonyoung yang duduk dilantai bersandarkan tempat tidurnya.

Decitan pelan pintu membuat Soonyoung mendongak. Matanya penuh dengan air mata. Masih ada sisa isakan yang terdengar.

"D-dia sudah pulang?" tanya Soonyoung.

Seokmin mendekatkan diri , lalu berjongkok dihadapan Soonyoung, "baru saja, kenapa takut? Dia orang baik" jawabnya.

Seokmin membawa tubuh Soonyoung untuk duduk di tepian kasur.

Soonyoung mengusap matanya kasar, "aku tau dia baik -maksudku , dia tidak menyakiti kami"

"Lalu?"

"Bayangan hari itu yang membuatku takut" ujar Soonyoung pelan.

Seokmin menarik napasnya lalu menghembuskan nya pelan. "Kau tau aku?" tanya nya sambil menatap Soonyoung serius.

"Lee Seokmin" jawab Soonyoung ragu.

"Ya, aku Lee Seokmin. Orang yang mungkin paling berkuasa di Korea dan si tukang perintah seperti katamu-"

"-dan si tukang perintah ini tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu"

"-juga pada orang lain yang bernasib sama seperti mu. Lee Seokmin tidak akan membiarkannya"

"-aku akan menghancurkan siapapun yang berani menyentuh bahkan menyakitimu"

Soonyoung terdiam, ia berusaha mencerna apa yang baru saja Seokmin ucapkan.

"Jadi tenanglah. Jangan takut. Aku disini" ucap Seokmin mengakhiri kalimat panjangnya.

"Aku-aku tidak tau harus berkata apa" ujar Soonyoung terbata.

"Tidurlah, aku kembali kekamarku" setelah mengucapkan itu Seokmin meninggalkan Soonyoung sendiri. Tanpa ia ketahui, Soonyoung tersenyum menatap punggungnya yang menjauh.

.

.

Setelah keluar dari kamar Soonyoung, Seokmin berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air. Ia meneguknya buru-buru, "yak Lee Seokmin, kau bicara apa tadi" kesalnya.

Seokmin pun duduk dimeja makan , melipat kedua tangannya diatas meja.

"Efek mu benar-benar dahsyat Kwon Soonyoung" ucap nya tersenyum.

Drrt...drrt
Ponsel di sakunya bergetar, ia mengangkat panggilan itu.

"Hyung, aku melihat Lim Xin Wu "

Seokmin membulatkan matanya.

"Dia sudah mati, bodoh"

"Jangan sembarangan mengatai bodoh. Aku benar-benar melihatnya, kalau tidak percaya cek hp mu, tadi fotonya sudah ku kirim"

Seokmin pun membuka menu di ponselnya dan melihat pesan multimedia yang masuk. Benar Pria tua itu. Pria tua itu ada disana.

"Sialan. Amati dia dan beri laporan padaku setiap harinya. Cari tahu apa tujuan ia datang ke korea"

"Setiap hari!? Yang benar saja. Aku harus sekolah hyung"

"Sekolahmu itu milik yayasan ku, aku akan memberimu dispensasi selama yang kau mau, dan apartemen mu sewaan kan? Aku akan memberikannya cuma-cuma"

"Kau menyuap ku hyung? Astaga, baiklah. Jangan lupa apartemen ku. Kalau bisa , tolong ganti dengan yang lebih bagus"

"Cih, tinggal sendiri saja ingin yang mewah" cibir Seokmin. Setelah itu ia menutup ponselnya.

Rahang seokmin mengeras, ia menggeram. "Sialan!"

Seokmin langsung menghubungi Seungcheol untuk memastikan tentang pak tua itu.

"Astaga hyung , angkatlah" gerutu seokmin karena tak kunjung mendapat jawaban.

Seokmin terus menelpon hingga sambungan itu di jawab seseorang.

"Halo hyung"

"Ini joshua, Seungcheol ada dikamar man- ah cheol, seokmin menelpon"

"Halo ,ini ak-"

"Jelaskan! Jelaskan padaku kenapa Lim Xin Wu bisa berkeliaran di Seoul"

"APA! Mustahil! Dia sudah jelas jelas mati! Dokter yang mengautopsinya sudah memastikan kalau itu dia"

"Aku tidak tau,tapi dia masih hidup! Siapa dokter yang memeriksa mayat itu?"

"Dia dokter ..."

.

.

.

To be continue...