Kabar bahwa Aizen, yang selama ini dikenal sebagai papanya satu angkatan, meninggal; menyebar cepat ke seisi sekolahan.
Dan di antara bisikan-bisikan berita, satu orang lain paling dihubung-hubungkan dengan kepergiannya Aizen.
Erza.
Kata-kata seperti "Sabar ya za," atau "yang tabah ya Za!" hamper tidak pernah berhenti mengalir setiap Erza berpapasan dengan orang lain. Bahkan dari para senpai, yang jelas-jelas enggak kenal Aizen; kecuali Bara sih.
"za…" Zuki mengusap pundak temannya, "Kamu oke?"
Erza menggeleng pelan, memaksakan senyum. Masalahnya, Zuki tahu – dalam senyum Erza, nggak ada kehangatan yang biasa ditemukannya. Bahkan dari raut wajah Erza, cuma ada rasa kehilangan yang seakan berteriak, "AIZEN MANA".
Zuki cuma bisa menghela napas. Kehilangan bukan sesuatu yang ringan. Bukan juga sesuatu yang berat, karena dia sendiri pernah mengalaminya. Kehilangan orang yang dicintai lebih mirip rasa hampa – tanpa oksigen, tanpa hydrogen. Pelan-pelan, 'sesuatu' yang mengisi kehidupan direnggut selamanya.
Dan Zuki tahu, Erza lagi merasakan itu.
"pagi Za, Zu." Piko beringsut-ringsut berjalan kea rah mereka. Zuki kontan jawdrop.
"Pi-piko, rambut lu…"
Kemudian jawdropnya Zuki diikutin anak-anak lain yang melihat pemandangan takjub di depan mereka. Pemandangan yang, kalau kata orang tua-tua, terasa seperti melihat seluruh dunia dari atas gununbg everest sehabis buang air. Indah, halus dan berwibawa; juga menyegarkan setiap mata. Ditambah dengan muka memelas Piko, matanya yang hitam bulat dan suaranya yang unyu-unyu… bahkan gurupun jawdrop.
Entah kaget entah takjub. Entah terpesona.
"piko, kenapa rambutmu dipotong semi-botak?!" seru Zuki enggak percaya. Erza nengok kea rah piko begitu mendengar kata 'botak', dan menahan sebuah tawa kecil. Tetap merasa sedih.
"karena setiap orang patah hati harus memotong rambutnya sebagai awal yang baru," kata Piko polos, "jadi aku mengambil tugas Erza untuk memotong rambutnya atas… ah, itu."
Zuki merasa matanya makin lama jadi bintitan melihat fenomena di depannya.
"thanks pik," gumam Erza lirih.
Piko mengangguk, lalu menarik tangan kedua temannya masuk kelas. "ayo masuk. Pelajaran sudah mau mulai."
Pagi itu, 2 berita luar biasa menyebar secepat shinkansen – kepergian Aizen dan kesemi-botakan Piko.
Siang harinya, mamanya Aizen berdiri di depan kelas. Tidak ada yang berani bicara sepatah katapun – walau dalam hati, semua berdoa untuk satu hal: biar Erza nggak tiba-tiba nangis.
"jadi pagi ini…"
Hening berlanjut.
"…Aizen.. dia pergi. D-ditabrak truk… depan ru-rumah sendiri…" suara mamanya Aizen yang gemetaran mengisi seisi kelas, masing-masing kata meninggalkan damage yang cukup gede di hati para muid. Si ibu mengusap matanya, bertahan sendirian di depan kelas. Rapuh. "a-atas segala yang kalian pernah alami, pernah punya dengan Ray…"
Pelan-pelan terdengar suara seseorang menarik ingus (ew).
"…ta-tante cuma bisa mohon, h-hargain… dan ja-jaga semua kenangan yang a-ada…" titik-titik air mata berjatuhan, bergulir dari pipinya. Mamanya Aizen menelan ludah dan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk melanjutkan kata-katanya. " Ray… w-walau dia mungkin pernah berbuat salah… se-selalu bicara tentang kalian deng-dengan jujur… tentang peristiwa-peristiwa y-yang dialaminya… d-dan kalian…"
Matanya, yang hitam legam dan dipenuhi air mata, menatap seluruh kelas. Berusaha menyampaikan pesan terakhir Aizen kepada seluruh teman-temannya dalam detik-detik terakhirnya. Berusaha berbagi kesedihan yang mendalam, kehilangan akan suatu hal besar yang sekali lagi direnggut dari antara mereka.
"R-ray… dalam momen terakhirnya, d-dia hanya minta…" tangisan Mamanya Aizen tumpah. "s-supaya kalian… hidup terus, sa-sambil terus mengingat ke-kejadian bersa-samanya…"
Isakan tangis yang tertahan mulai terdengar dari berbagai tempat duduk. Bahkan gerombolan anak-anak cowok mulai berkaca-kaca matanya.
"s-sampai akhir, Ray… ray berusaha untuk me-meninggalkan senyuman."
Bam.
Kalimat terakhir yang disampaikan mamanya Aizen menjadi sulut bagi sebuah ledakan yang sedari tadi ditahan – bagaikan kehilangan sosok ayah yang sesungguhnya, satu kelas menangis. Piko dan Zuki saling menatap satu sama lain dalam tangis; sesenggukan, mereka tahu – kesedihan yang mereka rasakan hampir sama dengan anak-anak lain. Kehilangan sosok seorang ayah itu bukan hal yang mudah dicerna.
Tapi Erza, yang dianggap semua orang paling kehilangan – malah tidak meneteskan setitik air matapun.
Matanya cuma menatap ke depan, kea rah mamanya Aizen – dengan tatapan yang menunjukkan rasa sakit, kehampaan. Persis seperti binatang liar yang dilupakan oleh alam, ditinggalkan sendirian… tanpa apa-apa.
Aizen. Ini semua salah, kan?
"za, kamu enggak…"
"enggak apa?" pertanyaan Zuki dipotong oleh Erza. "enggak kenapa?"
"kamu enggak… berubah delusional kan? Maksudku, Aizen… papa Aizen sekarang…"
"aku tahu," sahut Erza lirih.
Zuki terkejut mendangar jawaban temannya. "jadi kenapa tadi kamu enggak nangis saja?"
"bukannya tidak mau, tidak bisa." Erza mengusap kedua pipinya pelan. " walaupun Aizen sudah enggak ada… aku belum bisa nangis, Zuk. Jahat ya?"
Zuki terperangah mendengar jawaban Erza.
"Aizen sudah enggak ada," ulang Erza, senyumnya dipaksakan lagi, "tapi aku tetap belom percaya. Tidak setetespun aku ingin menangis." Dia mendongakkan kepalanya ke arah Zuki. "zuk, seberapa jahat aku?"
"itu bukan jahat, Za!" seru Zuki. Zuki pernah kehilangan, dan dia tahu. "itu bukan jahat… itu rasa sakit." Erza menggigit bibirnya, tidak jadi memotong kalimat Zuki. Entah kenapa.
"rasa sakit dari kehilangan orang yang kita cintai… yang kita saying, za." Zuki melanjutkan. Matanya mulai berkaca-kaca lagi, seakan-akan saat itu dia sedang berbagi kesedihan denga Erza. "rasa sakit itu lebih besar dari kesedihan, za. Rasa sakit itu… enggak jahat."
Erza menelan ludah. "enggak jahat?"
"za, Aizen… dia bahkan sempat mengirim kertas kecil itu, kan?"
Erza mengangguk pelan. Zuki menghela napas, suaranya berat. "ketika seseorang menghilang, rasa sakit selalu muncul dari kesedihan." Erza menutup matanya. "justru, kamu yang paling merasa sakit za. Dari kesedihan itu… bahkan nggak ada airmata yang keluar. Kamu enggak jahat, Za."
Dan Erza akhirnya nangis. Bukan nangis yang meledak seperti di kelas tadi siang, tapi tangis yang mengalir pelan – dalam diam, dalam setiap getaran yang dirasakan Erza.
"zuk, rasanya sakit…"
Zuki memeluk sahabatnya itu. "gua tau Za." Dia berbisik, menahan tangisnya yang kedua untuk hari itu. "gua juga pernah."
Matahari sore terdiam di atas langit, memendarkan cahaya kemerahan; satu-satunya yang melihat tangisan Erza sore itu.
((hnn hnnnnnn. Feels are out to da maximum powaaaaa~
Okeh stahp (._.)v chapter terakhir, next! :v))
