Disclaimer © Masashi Kishimoto
This fic is mine
Rated © M
Warning © Typo dimaklumi, ide yang pasaran harap dimengerti dan adegan-adegan gak penting lainnya harap dimaafkan. Huhu T_T
Summary © Sasuke dan Hinata telah terikat oleh sucinya pernikahan. Hinata telah memiliki Sasuke seutuhnya. Seorang perempuan lain, yang lebih dulu bersama Sasuke juga merasa memiliki Sasuke dan perempuan itu adalah Mikoto, Ibu Sasuke.
Bagaimana persaingan antara Mertua dan Menantu ini dalam mencuri perhatian Sasuke?
.
.
.
Another Story
Chapter 3
.
.
.
"SASUKE MANAAA...?" tanya Fugaku, Itachi dan Neji bersamaan.
"Ha, Sasuke?" Hinata mencoba mengingat sesuatu.
"Emangnya tadi Sasuke ikut, Hin?" Mikoto pun mencoba mengingat.
"KITA NINGGALIN SASUKKKEEE...!
.
.
.
Sementara itu, di sebuah cafe di bagian pojok belakang dekat jendela, seorang pemuda yang gantengnya luar biasa duduk santai menikmati kesendiriannya. Ia sudah memesan dua gelas kopi kapucino (?) kesukaannya. Satu per satu pengunjung cafe meninggalkan cafe, hanya tersisa beberapa pelayan yang membersihkan meja dan mengepel lantai.
"Mas, bentar lagi cafe kita tutup ya" ucap seorang pelayan wanita yang mengambil gelas kopi di meja Sasuke.
"Ha? Emangnya sekarang jam berapa mbak?" tanya Sasuke pada pelayan.
Sasuke bahkan lupa pake jam tangan saking buru-burunya di kejar Mama dan Istri, itu juga Sasuke cuma pake kaos putih polos dan celana blue wash jeans, untungnya Sasuke melepas sandal bulunya dan menggantinya dengan sepatu. Tapi ya, namanya juga udah cakep dari sononya, Sasuke walau cuma pake baju compang camping tetep keliatan keren.
"Hampir jam 11, Mas. Bentar lagi pintu masuk di tutup loh. Udah hampir nggak ada pengunjung, Mas" kata si pelayan membawa gelas kopi Sasuke ke dapur.
"Waduh, Mama sama Hinata mana? Jangan-jangan beneran di culik lagi. Masa iya gue jadi anak yatim sekaligus jadi duda?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri.
Namanya juga lagi panik, wajarlah pikiran lagi kacau dan ngomong-ngomong soal jadi anak yatim sekaligus jadi duda, kedua hal tersebut adalah hal yang paling mengerikan buat Sasuke.
Sasuke merogoh sakunya kemudian meletakkan satu lembar uang yang cukup bahkan lebih untuk membayar 2 gelas kopi yang telah ia habiskan menunggu sampe bego.
"Ah, Shit! Mana handphone ketinggalan di mobil lagi" Sasuke baru ingat, ia meletakkan iPhonenya di dashboard mobil.
"Astagaa...! kunci mobil kan ada sama Hinata...!" belum selesai syoknya yang pertama, Sasuke lagi-lagi mendapat sport jantung tengah malam.
Benar kata mbak pelayannya, Konoha Mall udah sepi –lebih sepi dari hatinya author-. Beberapa stand sudah membereskan barang-barang mereka dan menguncinya. Sasuke mempercepat langkahnya menuju basement mall.
Dan... HELL YEAH!
"Mobilnya mana?" tanya Sasuke entah pada siapa. Setelah puas celingak celinguk sekitar satu menit lebih, otak encernya telah menyimpulkan satu hal.
'GUE DITINGGALIN'
.
.
.
Kita lupakan sejenak Sasuke yang kebingungan mencari cara agar bisa kembali ke kediaman Uchiha dengan selamat, tetap tamvan tanpa harus menjadi yatim dan duda.
Sekarang mari kita lihat kediaman Uchiha pasca kepulangan dua makhluk perempuan tanpa membawa seseorang bersamanya.
"Ya ampun, kenapa bisa lupa sih, Ma" Itachi berjalan bolak-balik di ruang keluarga, berpikir sambil ngalay. Di sisi lain, Hinata dan Mikoto duduk di sofa saling pandang dan mempertanyakan kekhilafan mereka meninggalkan Sasuke.
"Ma, kok Mama bisa lupa sama anak sendiri sih?" tanya Hinata pada Mikoto.
"Ih, kamu tuh. Kok bisa lupa sama suami sendiri?" Mikoto bertanya balik sama Hinata.
"Hah..~" Fugaku menghela nafas berat, ia membereskan kertas-kertas beserta Macbooknya dan berniat pindah ke ruang kerjanya.
Jujur saja, Pemimpin keluarga Uchiha iu menyesal mengikuti saran istrinya untuk sesekali bekerja di ruang keluarga. Biar dapat sensasi baru katanya. Emang sih sensasi baru tapi ya nggak gini juga.
"Pa, Papa mau kemana?" tanya Mikoto agak nyolot pada suaminya.
"Mau ke ruang kerja. Di sini gak konsen" jawab Fugaku masih memungut serpihan hati –eh- serpihan berkas-berkas laporannya.
"Pa, Sasuke gimana, Pa?" entah apa maksud pertanyaan Mikoto yang satu ini.
"Sasuke itu sudah besar, Ma. Balik dari Amerika ke Konoha saja dia bisa. Masa dari mall ke rumah gak bisa" tanpa mengalihkan pandangan, Fugaku melangkah menyusuri anak tangga menuju lantai dua tempat kastil pribadinya berada.
"Tapi, Pa. Sasuke itu tampangnya masih kayak remaja ababil, Pa. Kalau Sasuke di culik tante-tante girang, gimana Pa?"
"Itachi! Jangan ikutan bego"
Suasana ruang keluarga telah kehilangan satu personilnya, Itachi yang masih bolak-balik nggak jelas, Hinata dan Mikoto yang saling menenangkan dan harap-harap cemas dan...Neji yang masih tetap asoy menonton acara malam kesukaannya. Ladies night out.
"Oeh, Nrong...!" sapa Itachi pada Neji sambil melempar bantal sofa.
"Nrong?" Neji berbalik sambil mengusap kepalanya, mencari tahu siapa pelaku pelemparan yang telah melemparnya dan melecehkan namanya. Hyuuga Neji, diliat dari mana juga kalo mau dipanggil nama unyu pake 'Nrong' nggak tahu nyambungnya dimana.
"Kependekannya dari 'gonrong'" emang kali ya, cowok-cowok Uchiha itu nggak tahu diri. Itachi buktinya, masa gonrong panggil gonrong.
"Ish... gak tau diri" Neji kembali menatap TV, memindahkan channel sesuka hatinya.
"Lo kok diem-diem adem ayem gitu sih. Kalo Sasuke ilang gimana? Masa iya lo pengen Hinata jadi janda? Mana kita belum punya keponakan lagi" kata Itachi resah dan gelisah melihat tingkah Neji yang seolah nggak pedulian.
"Plis deh, bener kata paman Fugaku, lo itu jangan ikutan bego" Neji tetap tidak bergeming.
"Setidaknya tuh lo mikir cara biar bisa nemuin Sasuke, gue tau lo nggak suka sama dia tapi dia itu udah jadi adek ipar lo" Itachi ikutan duduk di samping Mikoto, capek mondar-mandir sementara Sasuke nggak kunjung pulang.
"Siapa bilang gue nggak mikirin cara nemuin Sasuke, ini buktinya. Gue lagi nonton berita, kali aja ada pengumuman orang ilang dan ada muka mesumnya Sasuke yang nongol"
Krik
Krik
Krik
Di tengah-tengah kegiatan Neji yang nunggu berita orang ilang di TV, samar-samar dari balik jendela kaca terlihat pantulan cahaya orange kekuning-kuningan. Itachi harap-harap cemas tak melepaskan pandangannya dari ruang tamu, Hinata dan Mikoto pun melakukan hal yang sama.
"Tadaimaa..." ucap Sasuke pelan.
"SAASSSUUKKKEEEE...!"
"Eh?"
Tidak ada anak yatim. Tidak ada janda dan tidak ada duda. Sasuke kembali ke rumah dengan selamat dan tetap tamvan seperti biasanya.
.
.
.
Suasana kamar pengantin baru seharusnya dipenuhi dengan kehangatan, pelukan, ciuman dan apalah sebagainya. Bayangin aja sendiri .. Tapi beda lagi ceritanya kalo kita membahas kamar pengantin pasangan baru kita, Hinata dan Sasuke. Tidak ada tanda-tanda bakal kehadiran ponakan pertama Itachi dan Neji (?)
Sasuke yang masih sibuk dengan bukunya, sementara Hinata yang sudah dari tadi bergelindingan di kasur. Semua gaya berbaring sudah ia coba, mulai dari angle terbit fajar sampe tenggelam matahari. Gadis berambut panjang itu benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membujuk suaminya yang sudah 2 malam berturut-turut menampilkan wajah cemberutnya.
'Kalo diliat-liat makin cemberut makin cute sih' batin Hinata memandang wajah Sasuke dari bawah. Ia kini berbaring di paha suaminya.
"Sayaang...~" ucap Hinata sambil menggoyangkan tangan Sasuke yang memegang buku.
"Hmm..." hanya suara deheman layaknya orang ngambek pada umumnya yang dikeluarkan Sasuke.
"Aku nggak sengaja. Aku bener-bener lupa" kata Hinata sambil merapatkan dirinya memeluk pinggang Sasuke.
"Iya" oke, satu kata yang cukup membingungkan.
"Kalo iya masa masih baca buku aja. Masa masih cemberut aja sih. Masih marah kan?" Hinata semakin mengeratkan pelukannya.
"Tega banget kamu sma Mama nggak ada yang inget aku sama sekali" kata Sasuke memandang Hinata yang menjadikan pahanya bantal dadakan.
"Siapa bilang aku lupa, buktinya aku beliin kamu kaos Converse warna putih nih. Kamu kan tahu aku suka banget sama cowok yang pake kaos putih" Hinata bangkit dari perbaringannya (?) dan meraih sebuah kresek berisi kaos converse putih ukuran XL.
"Suka kan?" tanya Hinata sambil mengeluarkan kaos tersebut.
"Iya, suka" jawab Sasuke sambil melirik singkat pada kaos yang dimaksud Hinata.
'Astaga. Masih manyun aja'
"Umm, kalo gitu kamu minum teh dulu ya, tadi aku bikinin" Hinata pantang menyerah, lagi-lagi ia bergerak untuk meraih secangkir teh di meja yang dibuatkan untuk Sasuke tapi belum sentuh dari tadi.
"Tadi aku udah minum dua gelas kopi, ntar nggak bisa tidur kalo ditambah teh" kata Sasuke menolak. Sebenarnya Sasuke juga tidak tega tapi ia benar-benar ingin memberi pelajaran pada Hinata yang meninggalkannya di mall untuk alasan yang nggak masuk akal.
"Tapi, Sayang. Aku-"
"Sassuukkeeeee sayaaaannnngggg... anak Mama yang paling ganteennngggg..." Sasuke harus menghela nafas berat saat ia sedang bosan dan Mikoto datang dengan suara cemprengnya seperti biasa.
Melihat kedatangan Mikoto, Hinata memasang wajah cemberut. Sama halnya dengan Hinata yang juga mati-matian membujuk Sasuke, Mikoto pun melakukan hal yang sama. Ibu dari dua anak itu memasuki kamar Sasuke sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Sasuke sayaang. Masih belum tidur yaa" ucap Mikoto berjalan memasuki kamar Sasuke.
"Belum, Ma" jawab Sasuke singkat.
"Nih, Mama bawain puding kesukaan kamu nih" Mikoto kemudian duduk disamping Sasuke sambil menyendok puding coklat untuk disuapkan ke mulut Sasuke.
"Ma, kok dikasih puding. Sekarang udah jam 12 malem loh" kata Hinata mendekati Mikoto yang sudah siap menyendokkan puding manis ke mulut Sasuke.
"Ih, ini tuh puding kesukaan Sasuke. Jam berapa aja Sasuke pasti makan, iya kan?" Mikoto meminta persetujuan Sasuke.
"Tapi, Ma. Malem-malem tuh nggak baik makan yang manis-manis. Nggak baik buat kesehatan gigi. Mending Sasuke minum teh aja, iya kan Sayang?" kini giliran Hinata yang meminta persetujuan Sasuke.
"Aku-"
"Hinata gimana sih, teh kan juga manis"
"Tapi teh punya anti-oksidan, Ma. Baik buat nangkal radikal bebas"
"Puding juga enak, rasa coklat lagi. Bervitamin, ada kalisum dan zincnya juga. Bagus buat kesehatan Sasuke"
"Ma..aku-"
"Nggak, Ma. Malem-malem gini Sasuke harus minum yang hangat-hangat. Kalo makan puding gitu nanti Sasuke masuk angin, Ma"
"Nggak, pokoknya puding"
"Sasuke harus minum teh, Ma"
"Pokoknya puding"
"Teh"
"Puding"
"Teh"
"Sasuke?"
Terlalu larut dalam perdebatan teh dan puding, Hinata dan Mikoto tidak menyadari bahwa orang yang akan meminum teh dan memakan puding sudah...tidur duluan.
"Eeeehhhh?"
Singkat cerita, puding coklat untuk Sasuke telah dimakan oleh Neji –daripadamubasir- sedangkan teh hangat yang Hinata persiapkan untuk Sasuke telah disantap dengan nikmat oleh Itachi. Mikoto telah kembali ke peraduannya bersama sang suami tercinta, sedangkan Hinata kembali memasuki kamarnya setelah menyerahkan teh buatannya kepada Itachi.
"Hah, benar-benar tidur duluan" omel Hinata dengan suara pelan. Meskipun ia jengkel ditinggal tidur tapi ia tidak ingin membangunkan wajah damai Sasuke yang tengah terlelap.
Hinata mengangkat langkahnya dengan pelan, bahkan ia melepas sandal bulunya untuk mengurangi suara-suara yang bisa saja mengusik ketenangan Sasuke. Ia berjalan ke sisi ranjang, sejenak ia berjongkok memandang wajah polos Sasuke yang sedang terbuai dalam tidurnya. Mata onyx yang telah memukaunya 5 tahun lalu kini tertutup oleh sepasang kelopak mata, lalu Hinata menurunkan pandangannya memandang hidung mancung Sasuke kemudian berakhir di bibir Sasuke yang sedikit terbuka.
'Diliat berapa kali juga ini anak emang cute banget kalo lagi tidur' batin Hinata masih berjongkok tak mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke. Gadis berambut panjang itu bahkan merasakan wajahnya panas saat ia mengenang perbuatan bibir Sasuke padanya.
"Oyasumi" ucap Hinata pelan sambil mengusap pipi Sasuke.
Rasa lelah mulai menyusup ke setiap bagian tubuh Hinata. Setelah membersihkan sisa make up di wajahnya, Hinata mengambil posisi di samping Sasuke yang membelakanginya. Ia menarik selimut untuk menutupi dirinya dan tubuh pangeran tampan di sampingnya.
Hinata menarik nafas berat lalu tersenyum kecil, tangannya kemudian menyusup mencari pinggang Sasuke dan memeluknya pelan. Hinata semakin merapatkan dirinya pada Sasuke, merasakan senasi hangat dari punggung Sasuke, menghirup aroma parfum maskulin yang tidak pernah berubah saat pertama kali mereka bertemu.
Senyum kecil di wajah itu semakin melebar dan pelukannya pada Sasuke pun semakin erat.
"Kenapa mainnya dari belakang?" tanya Sasuke dengan suara berat dan sedikit serak (author gk bisa bayangin sexy-nya tuh suara .)
"Heh? Belum tidur ya?" tanya Hinata tersentak kaget, ternyata Sasuke belum tidur.
"Nggak seranjang aja aku gak bisa tidur kalo ada kamu, gimana kalo kamu udah dipeluk gini, berasa nggak mau tidur sampe lusa" sebenarnya, Sasuke itu nggak tahu caranya ngegombal cewek. Ini sebenernya doi lagi nggombal loh ya dan nggak tau kenapa meski doi sering ngomong sesuatu yang bikin malu kebanyakan orang, doi tetep masang tampang datar unyu seperti biasanya.
"Gombal, huuu..." kata Hinata tak bisa menahan senyumnya yang semakin melebar.
"Kenapa suka ngeliatin dari belakang?" tanya Sasuke sedikit memalingkan wajahnya mencari Hinata yang seolah bersembunyi di belakang punggungnya.
"Karena cowok paling cakep pas dari belakang" jawab Hinata malu-malu.
"Masa sih?" tanya Sasuke sambil menaikkan alisnya.
"Huummm..." Sasuke dapat merasakan anggukan kepala Hinata yang bergesekan dengan punggungnya.
"Kenapa gitu?" Sasuke masih penasaran.
"Kan aku udah bilang, aku suka ngeliat kamu dari belakang" Hinata menggeser kepalanya hingga bibirnya tepat berada di belakang leher Sasuke.
"Emang apanya yang bagus?" percayalah, sebenarnya Sasuke udah tau jawabannya.
"Aku suka punggung kamu" kata Hinata sambil mengelus punggung Sasuke.
"Terus? Apa lagi?" Sasuke merasa puas senyum-senyum sendiri karena posisinya masih membelakangi Hinata.
"Aku juga suka ini" ucap Hinata sambil mengecup pelan leher Sasuke dari belakang.
"Hanya itu?"
"Aku juga suka rambutmu, tanganmu, dadamu, dan-" Hinata menahan kata-katanya saat Sasuke sudah tidak tahan untuk tidak berhadapan dengan Hinata.
Wajah kedua makhluk manusia itu kini saling berhadapan, saling menatap meski dengan pencahayaan remang-remang lampu tidur. Sasuke menggunakan tangan kirinya untuk alas kepalanya sementara matanya memandang lurus dan tajam pada Hinata.
"Sebenernya kamu itu nggak cantik, cuma manis dan imut doang tapi kok ngangenin ya" kata Sasuke sambil mengelus pelan rambut Hinata.
"Iyalah, orang-orang Hyuuga itu emang ngangenin" ucap Hinata sedikit tertawa.
'Apaan, elo doang. Si Neji nggak masuk itungan' batin Sasuke mengingat kakak iparnya.
"Kamu kok makin diliat makin manis sih?" kata Sasuke semakin mendekatkan wajahnya, bahkan hidungnya sudah menyentuh kulit wajah Hinata. Hinata sudah tidak mampu berkata apa-apa, ia terlalu lumpuh untuk merespon perlakuan Sasuke.
"Nghh, geli..." kata Hinata sedikit mengelak saat ujung hidung Sasuke menari-nari di kulit lehernya.
"Kalo aku, aku paling suka ini" kata Sasuke mengecup mata Hinata.
"Lalu ini" Sasuke kemudian mencium bibir Hinata, ia bermain sedikit lama disana.
"Kemudian yang ini" Sasuke memberi tanda bercak merah hampir di seluruh permukaan kulit leher Hinata.
"Dan yang ini" bisa dipastikan kali ini Sasuke kembali tak bisa mendiamkan tangannya saat ia telah menemukan dada Hinata.
"Awwhhnn..." desah Hinata pelan saat Sasuke menyentuhnya.
"Aku sudah tidak tahan" kata Sasuke melepas kaosnya kemudian memutar tubuhnya agar Hinata berada di bawahnya.
"Bagaimana ini, aku gak bisa berenti lagi kalo aku udah mulai" kata Sasuke menarik ujung kaos Hinata.
"Kalo aku bilang 'jangan'?" tanya Hinata sambil memegang tangan Sasuke yang semakin menarik ke atas ujung kaosnya.
"Tetap tidak bisa" kini Sasuke berhasil melepas kaos Hinata.
"Kamu masih dapet?" eits, Sasuke hampir melupakan sesuatu.
"Ummm..." Hinata tampak berpikir,
"Hmm?" Sasuke meminta penjelasan.
"Udah berenti"
Tanpa basa-basi lagi, Sasuke langsung melakukan segala yang ingin ia lakukan. Segala sesuatu yang telah ia tahan selama 5 tahun. Pemuda dingin dan tenang itu benar-benar menampakkan sisi liarnya malam ini.
"Nghh... akuhh... ah, ituuu..."
"Ahhh, pe-pelan-pelan..."
"Sasuukeehhh, aawww"
"Aku masukkan ya, awalnya mungkin sakit tapi setelahnya udah nggak" Hinata mengangguk takut-takut memandang Sasuke yang siap melakukan 'sesuatu' padanya.
"Gomen"
"Sakiiiitt...!"
Lalu, setelah itu kalian bayangkan saja sendiri .
.
.
.
Pagi biasa seperti biasanya. Sasuke merasakan matanya agak nyeri saat sinar matahari memaksanya untuk bangun. Tangan putih nan kekarnya ia edarkan ke seluruh penjuru ranjangnya untuk mencari sosok yang telah membuatnya merasakan apa yang selama ini ia tahan-tahan.
"Pagi, Sa-" tidak seperti yang diharapkan,
"Sayang?" Sasuke bangkit dari tidurnya, terduduk sambil memandang sekeliling tapi ia tetap tak mendapati penampakan Hinata.
'Aww, Ma. Hinata kena minyak panas nih'
'Aduh, makanya apinya kamu kecilin dong, Hin'
'Maa, garamnya mana?'
'Udah Mama garemin tadi, jangan kebanyakan'
'Ini kan masakan aku, Ma. Masa mama yang bumbuin sih'
'Abisnya kamu telat mikir bakalan diapain tuh masakan'
'Tapi Ma, aku pengen masakin Sasuke'
'Ih, Mama juga pengen masakin Sasuke'
'Mama masak buat Papa aja'
'Papa kamu udah berangkat tadi'
'Aduh, Ma. Kulkasnya gak ketutup tuh'
'Ya ampun, tutup kerannya Hin, banjir nih.
'Adddduuhhh'
'Awwww...astaga'
"Arrrgghhhh...!" geram Sasuke frustasi sambil mengacak rambutnya.
Sasuke adalah pemuda yang manis. Nggak heran kalo sebelum ninggalin kamar, doi ngerapihin kasur dulu, narik sprei, nyusun bantal, lipet selimut. Aduuuhhh, future husband banget nggak sih .
Setelah merasa kamarnya telah rapi, laki-laki berambut raven itu kemudian menyusuri anak tangga menuju dapur, tempat kerusuhan terjadi di muka bumi pagi ini.
"Pagi, Sayaaanng..." seru Hinata dengan celemek dan spatula di tangan kanannya.
"Pagi, Sasuke anak Mama..."dan Mikoto dengan pisau dan daging ikut menyapa Sasuke.
"Ohayo" balas Sasuke malas sambil meraih koran di meja makan,
"Sayang, kamu kasih makan Sasuke dulu ya. Kak Itachi dan Kak Neji masih tidur depan TV" kata Hinata sambil melirik anjing siberian husky yang ikut duduk di meja samping Sasuke.
"Iya, iya" Sasuke nurut aja menuangkan susu dan makanan anjing ke piring makan Sasuke di bawah meja.
"Hinata, aduk supnya"
"Oke, Ma"
"Ih, Ma. Jangan banyak sambelnya, Kak Itachi gak suka pedes"
"Oh iya, lupa"
"Tutup pancinya tuh, Hin"
"Ma, itu ngirisnya kegedean. Sasuke ntar susah ngunyah"
"Aduh, Hin. Jangan kebanyakan mericanya, katanya Neji nggak suka"
Sementara keributan berlangsung, Sasuke tetap berusaha konsentrasi membaca berita yang tersaji di koran pagi ini. Berita tentang pasar global, politik dan pembangunan negeri. Sebelumnya, Sasuke memandang aneh pada Mac-book Mikoto yang terbuka di meja makan. Sasuke acuh dan melanjutkan bacaannya.
"Pagi semuaaaa..." sapa Itachi ikut bergabung di meja makan.
"Pagi Itachi, Neji mana?" tanya Mikoto belum melihat tanda-tanda keberadaan Neji.
"Masih molor, Ma"
Kling.
"Eh? Ma, Macbook Mama bunyi nih" kata Itachi memperhatikan Macbook Mikoto dengan tatapan malas.
Tanpa memperhatikan Hinata yang sedang kikuk memilih menuangkan kecap atau soda, Mikoto meninggalkan dapur menuju meja makan tempat ia meninggalkan Macbook-nya.
"AWWW...!" jerit Mikoto histeris.
"Apaan, Ma?" teriak Hinata dari dapur yang telah menuangkan soda pada masakanya.
"Sini deh, Hin" Mikoto menggerakkan tangannya seolah mengajak Hinata untuk mempercepat langkahnya untuk melihat apa yang sekarang ia lihat.
"Apaan Ma?" tanpa peduli dengan api yang menyala-nyala, Hinata kalah oleh rasa penasarannya.
"Ihhh, Super Senior ngapload foto terbaru mereka, Hin" kata Mikoto bersemangat memperhatikan satu per satu member boyband yang sedang booming akhir-akhir ini.
"Aawww, Hinata suka yang ini, Ma" kata Hinata menunjuk seorang member yang emang lumayan cakep.
"Ah, kamu seleranya yang mirip-mirip Sasuke mulu. Ini juga cakep loh" Mikoto menarik kursi untuk semakin menghayati foto-foto Super Senior.
"Ma, masakannya gimana tuh, Ma" tegur Sasuke mulai prihatin dengan masakan dapur yang mulai terlupakan.
"Aww, kaosnya lucu deh, Ma. Unyu kali ya kalo Sasuke yang pake" tak hanya Mikoto, Hinata pun menarik kursi dan meletakkan spatulanya.
"Hinata, masakan kamu tuh" kali ini Itachi yang menegur Hinata.
"Ahh, ini video konsernya nih. Huh, rame banget ya"
"Aaahh, dance-nya juga keren banget Ma"
Sasuke mulai panik, sedangkan Itachi sudah tak bisa tinggal diam. Itachi segera berdiri meninggalkan meja makan, laki-laki berambut gonrong itu menyempatkan diri untuk mengambil spatula yang Hinata letakkan di meja. Itachi mempercepat langkahnya menuju dapur yang sangat membutuhkan pertolongan pertamanya. Bayangkan saja, masakan Mertua dan Menantu itu sudah mengeluarkan asap, jika tak ditangani segera tetangga akan berdatangan sambil membawa seember air untuk menolong rumah Uchiha yang sedang kebakaran.
"Ngapain lo tinggal diem, pengen sarapan nggak?" Itachi mengajak Sasuke untuk segera memberikan penanganan serius pada masakan yang nyaris menyandang status gosong.
"Hah? Ahshit!" Mau nggak mau Sasuke harus nurut.
Bukannya apa, meski lidah Sasuke sangat lihai menilai hasil masakan tapi doi nggak begitu ngerti kalo harus masak memasak. Jangankan ngerti, bedain mana ember mana panci aja Sasuke masih kebingungan, apalagi kalo harus masak?
"Ini diapain?" tanya Sasuke kebingungan.
"Ambil ini, aduk aja. Kecilin apinya" kata Itachi panik sambil menyerahkan spatula pada Itachi.
"Cobain rasanya" perintah Itachi yang lagi sibuk ngaduk-ngaduk
"Ha? Ini panas, gue bukan tukang sulap" Sasuke menolak.
"Lagian siapa yang nyuruh lo makan sambil panas, ya diti-"
"Kak Itaaachhiiiii... Ladies Generation juga upload foto terbaruuuu niiihhhhhh...!" seru Hinata dari meja makan.
"Ladies Generation?" Itachi berhenti ngaduk, sedikit mikir.
"Oeehh, jangan peduliin dua perempuan itu. Buruan ato kita nggak sarapan" Sasuke menyadarkan Itachi agar jangan terpengaruh.
"Rasanya agak asin, gimana kalo tambahin air di-" Sasuke celingak celinguk.
"Oeehh,?" Tidak ada lagi Itachi di dapur. Kini...
"Yaampun, unyu-unyu banget sihhhh..." kini Itachi ikut bergabung bersama Hinata dan Mikoto.
"Kak Itachi suka yang mana?" tanya Hinata antusias.
"Pastinya yang rambutnya panjang dan curly-curly gitu deeehhh.. haha" bahagia amat si Itachi ini.
"Ada apa ini?" tanya Neji yang baru bangkit dari tidurnya,
Neji tak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Macbook menampilkan 9 foto cewek-cewek cantik, Mikoto dan Hinata yang cekikian sementara Itachi sedang muntah pelangi dengan matanya yang berkaca-kaca. Dan hal yang paling menakjubkan sekaligus memprihatikan adalah Sasuke di ujung sana yang sedang kelabakan sendiri meladeni dua panci di hadapannya. Bentar nunduk, bentar jongkok. Bentar pegang panci, bentar garuk-garuk kepala.
"Oeehh, ngapain lo berdiri bego disitu?" seru Sasuke memandang kebingungan Neji yang baru bangun.
"Lo sendiri ngapain disitu?" Neji bertanya balik.
"Gue lagi nyetrika. Gue lagi masak, bantuin buruaann !" seru Sasuke semakin panik.
"Tapi gue-"
"Lo pengen makan atau nggak"
Nggak ada pilihan lain, Neji datang tanpa berbekal apa-apa memasuki medang perang bernama dapur.
"Terus gue harus ngapain?" tanya Neji bingung tapi panik juga harus ngapain.
"Menurut lo gue juga harus ngapain?" tanya Sasuke polos, ya gitu aja terus.
"Ini udah masak belum sih?" tanya Neji memandang sup yang bentar lagi bertransformasi menjadi tumisan.
"Mana gue tahu, gue pikir lo itu serba bisa termasuk masak" Sasuke kini berlarian entah mencari apa, pokoknya panik.
"Enak aja, paling banter juga gue masak mi. Itu juga mi kuah gue jadiin mi goreng" sungguh pengalaman masak yang menakjubkan.
"Noh, udah mateng noh. Angkat gih.!" Perintah Sasuke pada Neji.
"Ngangkat gimana maksud lo?" tanya Neji mengedip-ngedipkan matanya nggak tahu harus ngapain.
"Cari kain lap, bego"
"Mana?" tanya Neji celingak celinguk.
"Ya mana gue tahu" jawab Sasuke santai.
"Ini kan rumah lo, masa kain lap aja lo nggak tahu dimana" Neji bergerak kesana kemari berniat mencari kain lap yang entah disimpan dimana.
"Biar gampangnya lo buka baju gih"
"Ha? Apaan? Dasar porno lo!" sergah Neji nggak terima.
"Buka baju, baju lo yang jadi kain lap untuk ngangkat pancinya"
"Ha? Ini kaos kesayangan gue, hadiah gue pas menang lomba domino" kata Neji menolak.
"Udah cepetaaannn..!"
"Haa.. iya, iya" mendapat desakan bertubi-tubi, Neji seolah nggak punya pilihan lain selain melepas kaosnya untuk dijadikan kain lap mengangkat panci.
Sasuke kembali dari dapur dengan wajah hancur tak karuan ditambah Neji yang tak lagi mengenakan baju. Mereka berdua lihai menyusun makanan di meja makan, sementara itu Hinata, Mikoto dan Itachi memilih duduk diam mengamati dua anak manusia yang entah sejak kapan bisa akur gini.
"Itachi pimpin doa" perintah Sasuke, manyun.
"Hin, kayaknya tadi kita masak sup deh. Kok sekarang jadi tumisan gini" bisik Mikoto pada Hinata.
"Hinata juga heran, Ma. Tadi Hinata tuh goreng ikan, kok jadi ikan berkuah gini"
"Itadakimasuuu...~"
.
.
.
2 bulan kemudian.
Entah sudah keberapa kalinya Hinata bolak-balik kamar mandi. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seolah diaduk-aduk, wajahnya pucat dan tubuhnya terasa lemas.
"Kenapa sih, Sayang?" tanya Sasuke sambil memijat bahu Hinata yang membelakanginya.
Hari ini Sasuke izin ngantor dulu, dia benar-benar khawatir pada Hinata yang tak menunjukkan tanda-tanda 'baik-baik saja' sejak tadi pagi.
"Nggak tahu, pokoknya nggak enak badan" rengek Hinata.
"Tadi pagi udah sarapan kan?" tanya Mikoto sambil mengoleskan minyak kayu putih di kedua tangan Hinata.
"Nggak nafsu makan, Ma" kata Hinata menggeleng lemah.
"Nih, kamu minum susu hangat dulu nih, Papa yang bikinin" bahkan Fugaku juga tidak masuk kantor.
"Fugaku, semestinya kau membuatkan susu putih kenapa susu coklat?" protes Hiashi dari balik video call di Macbook.
"Sebaiknya orang yang sedang di Vietnam diam saja" kata Fugaku menyerahkan susu hangat pada Hinata.
"Kamu pengen makan apa, Hin? Ntar Kakak cariin" Neji yang duduk tak jauh dari Hinata menawarkan sesuatu.
"Pengen batagor? Es krim? Mi goreng? Ramen?" Itachi menyebutkan satu per satu jenis makanan kesukaan Hinata yang biasa mereka makan berdua.
"Jangan-jangan...Hinata..." Mikoto mulai mikir.
"Ha? Jangan-jangan apa, Ma?" tanya Hinata takut-takut.
"Kamu salah makan ya?" tanya Mikoto sambil memukul pelan lengan Hinata.
"Kamu nurut Mama dong, Sayang. Jangan suka jajan di luar. Kalo mau makan mending masak bareng Mama aja" kini Sasuke menguncir rambut Hinata untuk memudahkannya memijat bahu Hinata.
"Nggak salah makan ih, kemaren-kemaren nggak pernah jajan kok" kata Hinata mencoba mengingat food history-nya 3 hari yang lalu.
"Kalo nggak salah makan, berarti..." kali ini Fugaku yang bersuara.
"Berarti?" yang lain membeo bersamaan.
"Masuk angin"
"Tuhhh kaaannn, denger kata Papa kamu tuh. Jangan terlalu nurunin suhu AC kamar kamu" Mikoto kembali menasehati Hinata.
"Iya kali ya, Ma"
"Sasuke juga, kalo abis buka baju Hinata suruh pake baju lagi. Kan gini jadinya, Hinata jadi masuk angin gini" kali ini Sasuke yang kedapatan omelan.
"Iya, Ma" Sasuke nurut-nurut aja.
"Nggak masuk angin kok, Ma. Suhu AC gitu-gitu aja sejak Hinata pertama dateng" lagi-lagi Hinata mengelak.
"Salah makan, nggak. Masuk angin juga nggak, jangan-jangan..." kali ini Neji yang menduga-duga.
"Jangan-jangan?" yang lain membeo lagi, termasuk Fugaku dan Hiashi dari balik video call.
"Alergi sama si Sasuke nih" kata Neji menggeser anjing siberian husky yang duduk tak jauh darinya.
"Oohhh, bisa jadi"
"Tapi dari kecil sampe gede kami selalu sama-sama kok" kata Hinata memanggil Sasuke dengan isyarat tangannya, anjing besar itu dengan lincah langsung mendekati Hinata.
"Salah makan, nggak. Masuk angin, nggak. Alergi sama Sasuke juga nggak, jangan-jangannn..." ah, tebak yang bener dong, Itachi.
"Jangan-jangan?"
"Hinata hamil ya?" tanya Itachi dengan santainya.
"HAAA?"
"Hamil?" tanya Mikoto pada dirinya sendiri.
"Hmmmm..." Fugaku dan Hiashi saling pandang.
"Hamil?" tanya Sasuke saat Hinata membalik tubuhnya menghadap Sasuke.
"Tebakan lo oke juga" puji Neji pada Itachi.
"Berarti kalo gituu..."
"Mamaa punyyaaa cucuuuuuuu...! kita bakalan punya cucu, Pa" ucap Mikoto loncat-loncat di hadapan Fugaku, sementara itu Fugaku cuma 'hehe' kalem, dan di seberang video call seorang Ayah sedang mengusap air matanya menangis haru.
"Kita bakalan punya keponakan..." Neji dan Itachi pun bersalaman.
"Ha? Kita...punya anak" kata Sasuke dengan mata berkedip-kedip, mulut nganga, seolah nggak percaya. Muka bego bangetlah pokoknya.
"Aku bentar lagi jadi Mama, sayaanng...!" Hinata langsung memeluk Sasuke.
.
.
.
Beberapa hari kemudian...
"Sayang, aku kok pengen makan mangga sih" ucap Hinata nyantai sambil nonton tivi, Sasuke di sampingnya sedang mengupas buah apel.
"Tadi katanya pengen makan apel" Sasuke pasrah meletakkan apel dan pisau dari tangannya.
"Nggak tahu, tiba-tiba aja pengen makan mangga" kata Hinata sambil melas ke Sasuke.
"Tapi, Sayang.. ini apelnya belum kamu makan. Semangka yang dibeliin sama Kak Itachi juga belum kamu makan. Cupcake yang dibeliin Mama masih kamu simpen di kulkas, rujak yang dibeliin Papa juga cuma Neji yang makan" Sasuke berusaha membujuk Hinata agar menghabiskan makanan yang ia inginkan sebelumnya.
"Tapi aku maunya mangga, Sayaannngg... aku maunyyaaaa mannnggaaaaaa..."
"Hah, iya, iya. Mangga. Ntar aku telpon Neji, dia masih di jalan kayaknya" Sasuke merogoh sakunya mencari iPhonenya.
"Sayang..."
"Hmmmm..." sahut Sasuke tak mengalihkan pandangannya pada layar iPhonenya.
"Aku kok pengennya mangga tetangga sebelah sih"
"Ha?
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Yosh, late update sorryyyyyy... .
Nah, ada yang nungguin kelanjutan ngidam momennya Hinata?
Adek tunggu reviewnya kakaaa...:v
Kika got new account. Ramein ya,
Pin 5e0b13f7 a/n Yui
Idline :
*See you next chap, Geng!
