Sungguh kalo masih tidak ada yang mereview, fanfic ini akan ku hapus.. hiks :'(

Masih banget kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelangsungan fanfic ini :')

Dan makasih kepada pakde Masashi yang udah mau meminjamkan tokoh-tokohnya :)

Tak berniat mengambil keuntungan apapun.

Masih OOC, dan tak beraturan. Kritik masih ditunggu ;P

Don't like? Don't read! Don't judge me okay?


Sebuah Ikatan

Punggung Sasuke perlahan menjauh hingga akhirnya tak terlihat, Naruto menghela nafas berat. "Hhhh.. kita pulang kalau begitu?". Tanyanya pada kedua temannya.

"Yah, sebaiknya begitu." Jawab Sakura seraya mulai melangkah diikuti kedua temannya.

Sai yang melihat wajah murung kedua temannya akhirnya berinisiatif memulai pembicaraan "Um.. teman-teman, besokkan hari libur. Bagaimana kalau besok kita ke Konoha Leaf City Square? Di sana akan diadakan Pestival Band dan juga Pameran Karya Seni, bagaimana?". Kata Sai memberikan saran pada kedua temannya.

Wajah naruto berbinar-berbinar ' sepertinya akan menyenangkan'.

"Yah.. aku setuju! Bagaimana Sakura?". Tanyanya antusias, (kelewat antusias malah).

"Yah, kurasa kita memang membutuhkan hiburan, benarkan Sai?". Tanya Sakura pada Sai.

Sai mengangguk, kemudian tersenyum menunjukkan senyum andalannya.

Mereka melenggang ringan kali ini, 'sepertinya suasana hati mereka sudah agak membaik, baguslah!' Kata Sai dalam hati.

"Jadi besok jam berapa kita berangkat ke Konoha Leaf City Square?". Tanya Sakura setelah mereka berada di mobil Sai, menuju pulang.

"Nanti aku jemput jam 9, ya acaranya sih mulai jam 10. Datang lebih awal lebih baik daripada datang terlambat kan?". Kata Sai tersenyum.

"Yah kurasa begitu lebih baik". Kata Sakura ceria. "Naruto, awas ya jangan sampai bangun kesiangan!". Lanjutnya pada Naruto yang duduk di kursi belakang.

"Ahahaha… tentu saja, tapi sepertinya aku gak bareng kalian deh". Kata Naruto sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.

Sakura menautkan alis. Bingung. Dia melihat ke arah Sai yang nampak sama-sama bingung.

"Aku mau mengajak Hinata". Kata Naruto seolah tau apa yang sedang di bingungkan kedua temannya.

"Hinata? Hyuga Hinata?". Tanya Sai nampak tak yakin

"Memangnya ada berapa banyak nama Hinata, Sai?". Ucap Naruto, memutar bola matanya. Bosan.

"Kencan eh?". Sakura menyeringai menggoda Naruto.

"He? Tentu saja tidak! Aku hanya ingin menghibur Hinata. Sepertinya dia agak murung akhir-akhir ini". Tukas Naruto, pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu di sekolah. Di koridor kelas lebih tepatnya.

Flashback On

Sekolah terasa begitu jauh dari biasanya bagi Naruto, bagaimana tidak? Pagi ini dia terlambat bangun dan akhirnya harus terlambat sekolah pula. Salahnya sendiri tadi malam bergagang hingga lewat tengah malam.

'Sial!' umpatnya dalam hati. Dengan sandwich yang tersumpal dalam mulut, dia bergegas memakai sepatunya. Blazer merah marun Konoha High School tersampir di bahunya. Diliriknya jam sport yang melingkar di pergelangan tangannya '07.15'. Dengan cepat dia mengambil sepeda yang terparkir di teras depan rumahnya. Tanpa ba-bi-bu dia kayuh sepedanya dengan kecepatan extra.

Beruntung di Konoha disediakan jalur khusus sepeda, jadi Naruto tak harus ikut berdesak-desakan dengan pengendara lain. 07.38 iya sampai di Konoha High School. Yah mengingat rumahnya tak terlalu jauh, jadi ia bisa sampai di sekolahnya dengan cepat. Terlebih dengan kayuhan extra nya itu.

"Terlambat lagi eh, Uzumaki?". Kata Pak Hayate Gekko (security KHS) menggantikan sapaan selamat pagi nya.

"Ehehehe… Pak Hayate, terlambat sedikit tak apa kan".

"Se-di-kit kau bilang?".

"Oh ayolah Pak, hari ini aku ada pelajaran olahraga. Kau tau kan bagaimana jika Pak Guy memberi hukuman, yang menurutnya adalah penyaluran semangat? Bisa-bisa aku disuruh keliling lapangan hingga 1000 kali".

"Hhhh… Baiklah, karena sekarang aku sedang berbaik hati, ku izinkan kau masuk. Tapi dengan satu syarat! Jangan ulangi hobi terlambat mu ini!".

"Siap Pak!"

Dia berlari cepat menuju kelasnya. Hingga mata biru shappire nya menangkap sosok indigo yang tertunduk lesu di dekat kantor guru.

"Hinata? Sedang apa dia di situ? Bukankah ini sudah masuk jam pelajaran pertama?". Tanyanya entah pada siapa. "Nanti saja istirahat ku tanyakan". Naruto kembali melanjutkan acara buru-burunya yang sempat tertunda.

"Jadi fungsi dari belajar ketangkasan ini adalah.."

TENG…TENG…TENG…

Bel istirahat mengintrupsi penjelasan materi yang tengah diberikan oleh Pak Maito Guy.

Maito Guy agak kesal juga dengan bel yang tiba-tiba mengintrupsi penjelasannya, dia kemudian membereskan buku di meja guru yang ada di kelas itu. Mengamankannya di depan dada.

"Baiklah anak-anak, sepertinya pelajaran ini kita cukupkan sampai di sini. Jangan biarkan para ibu kantin menunggu. Yosh selamat siang"." Naruto, Bapak tunggu kau setelah pulang sekolah di ruangan Bapak". Lanjutnya seraya meninggalkan kelas.

"Baik Pak,". Kata Naruto pelan yang tentu saja tak didengar oleh yang bersangkutan. "Aku harus menemuinya". Kata Naruto lebih pada dirinya sendiri.

"Naru-". Sakura bahkan tak sempat menyelesaikan kata-katanya saat Naruto sudah melesat pergi meninggalkan kelas.

"Kenapa dia?". Tanya suara berat di belakangnya. Sasuke.

"Entahlah, nampak terburu-buru sekali." Sahut Sakura

"Hn."

Mata Naruto mencari kesana kemari, berharap menemukan apa yang dia cari. Dia sudah mencarinya di kantin, di kantor guru saat terakhir melihatnya, di kelasnya, tapi sosok yang dicarinya tetap tidak ada. 'Ah pasti di sana!'

Dugaannya tepat, sesuatu yang dicarinya –seseorang- itu, gadis indigo itu ada di sini. Perpustakaan.

Tak perlu waktu lama bagi Hinata –nama gadis itu- untuk mengetahui ada orang yang datang ke arahnya. Irisnya membelalak kaget tatkala tau siapa yang mendekat ke arahnya. Dia –Uzumaki Naruto- pujaan hatinya berjalan kemari, ke arahnya. Semakin dekat dan…

"Hai Hinata." Sapa Naruto tak lepas dengan cengiran lebarnya

"H-hai Naruto". Mukanya sudah semerah tomat masak kini, rasanya seluruh darahnya mengalir naik ke muka. Ujung blazer nya diremas-remas berusaha menyembunyikan rasa gugup yang semakin lama semakin kuat.

Naruto duduk di sebelah Hinata, dia melihat banyak sekali buku-buku yang berhubungan dengan jurnal di meja di depan mereka. "Kau sedang sibuk ya? Apakah aku mengganggu?".

"Ti-tidak ko N-Naruto, a-ada apa? A-ada yang bi-bisa ku bantu?". Tanyanya dengan nada gugup yang tak dapat disembunyikan

"Tidak ada, hehehe.. Aku cuma mau tanya sesuatu, boleh?"

"Te-Tentu saja, masalah apa?".

"Tadi pagi aku melihat mu murung di depan kantor guru, ada apa? Ada masalah?".

Wajah Hinata semakin merona merah, mungkin sudah seperti kepiting rebus. Ada rasa senang di hatinya. Bagaimana tidak? Diperhatikan oleh orang yang kita sukai tentulah membuat kita senang bukan?

"Oh i-itu, ano.. um.. Pe-pengajuan proposal u-untuk dana pembelian k-komputer un-untuk klub jurnal kembali ditolak." Katanya dengan susah payah.

"Benarkah? Yah mungkin karena pihak sekolah sedang sibuk saat ini. Kau tau kan? Mereka sedang sibuk mengurusi pelaksanaan ujian untuk kelas tiga yang tinggal menghitung bulan? Proposal klub olahraga untuk pembelian pelengkapan olahraga juga sampai sekarang belum di tandatangani. Ahaha.. padahal proposal itu diajukan sejak dua bulan yang lalu." Kata Naruto panjang lebar.

Naruto bingung dengan ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri, kata-katanya lumayan bijaksana. 'Seperti bukan diriku saja'.

Hinata mendengarkan dengan seksama, tak berniat menyela sedikitpun. Satu lagi point plus untuk Naruto di matanya, ternyata selain baik dan tampan. Naruto juga bijaksana. Bagi Hinata tentu saja.

"U-um.. aku tau dari ka Neji.".

Naruto menepuk pelan pundak Hinata, mencoba menguatkan teman satu angkatannya ini. "Berdoa saja, semoga proposal kita cepat di tandatangani." Naruto tersenyum.

Naruto tak sadar efek perlakuannya itu, mungkin jika Hinata tak pandai-pandai mengatur emosinya, mungkin ia sudah pingsan saat ini juga.

Ah, Naruto.. di depan gadis ini kau tampak berbeda. Apakah kau dapat merasakannya Naruto?

Flashback Off

To Be Continued…

Reviewnya? :)