Bossun sudah selesai berurusan dengan ratu tsundere.

Lalu, ia berpapasan dengan Shinzou yang meminta bantuan untuk membuang sampah. Dengan berat hati Bossun menyanggupi.

.

.

Switch kehilangan kata saat menyadari Bossun ada di sampingnya. Pandangannya tertuju pada Himeko dan Tsubaki disana.

Sejak kapan?!

Ba-bagaimana ini? Bossun akan salah paham.

"Switch.."

[ "Ayo kita ke kelas, Bossun." ] Switch mencoba mengalihkan atensi.

"Kenapa rasanya ..sakit?" Bossun meremat salah satu sisi kemejanya. Dia tidak tahu bagian mana dari tubuhnya yang sakit. Ia hanya merasa seperti itu.

.

Itu hanya kecelakaan. Tidak sengaja Himeko menindih Tsubaki saat hendak membalasnya.

Mereka sama-sama terkejut sebelum saling menarik diri.

"M-maaf..."

Mereka memalingkan wajah dengan rona merah. Himeko menjitak kepalanya sendiri, sementara Tsubaki menggeleng-geleng pelan.

Ukh, ciuman tadi membuat mereka malu.

"Se-sebaiknya kita kembali." Tsubaki kembali berdiri.

"I-iya, hahaha.." Himeko mengikuti sambil tertawa tak ikhlas.

Canggung.

"M-maaf soal tadi..Onizuka..." Tsubaki membungkuk minta maaf.

"I-itu hanya kecelakaan. Kita hanya harus melupakannya. J-jaa." Himeko melambaikan tangan dan berlalu pergi, saat itulah Himeko menyadari keberadaan Switch dan Bossun di balik rindang pohon.

"S-Switch?! K-kau sedang apa?"

Switch hanya melirik ke arah Bossun. Himeko menangkap isyarat Switch dan melihat Bossun yang tersenyum aneh.

"Se..selamat.." Bossun mengulurkan satu tangannya. Himeko yang kini bingung, selamat untuk apa?

"Onizu―"

"..atas hubunganmu dan Tsubaki.."

"―ka.."

Tsubaki ikut bergabung dalam awkward moment itu. Bossun nampak bergetar.

"M-maaf mengganggu..aku..pergi dulu.." Bossun balik kanan dan berlari secepat yang ia bisa.

"Bossun! Tunggu!"

"Fujisaki! Jangan lari!"

Bossun tidak mau mendengar atau melihat apapun. Otaknya kini merespon lebih cepat akibat ciuman tadi.

―dimana-mana, orang yang berciuman itu saling jatuh cinta.

Lalu, kenapa dia harus lari setelah mengucapkan selamat? Harusnya dia bersuka atas hubungan adiknya. Tapi..

..Bossun merasa begitu sakit.

Ada yang salah dengan dirinya.

.

.

.

.

.

Himeko kembali ke kelas bersama Switch setelah itu. Mereka mencari Bossun tapi tak kunjung ketemu.

Didapatinya kelasnya sedang jam kosong, karena onee-san cuti melahirkan. Himeko makin merasa bersalah pada Bossun.

"Switch..apa yang harus kulakukan sekarang?"

Himeko tidak tahu, sungguh.

[ "Aku juga tidak tahu. Bossun susah ditebak." ]

.

.

.

Tsubaki sedikit terlambat kembali ke kelas, namun guru yang mengajar saat itu hanya memaklumi karena posisi Tsubaki. Tsubaki berterima kasih dan menuju bangkunya dengan damai.

Sebenarnya tidak juga.

Tadi itu ciuman pertamanya.

Rasa bibir Himeko pahit dan manis bersamaan. Tsubaki tidak tahu kalau pelocan bisa membuat rasa bibir seseorang menjadi unik begitu.

Ia menginginkannya, lagi.

Tsubaki berkedip dua kali.

Tidak, tidak. Ia sudah berjanji akan membantu Himeko mendapatkan Fujisaki.

Namun, mengapa hatinya sedikit ―atau samasekali tak rela?


シルシ

Shinohara Kenta.

Written by Panda Dayo.


.

.

Homeroom sudah selesai, tapi Bossun tak kembali ke kelas.

Himeko makin cemas seraya melirik jam dinding. Ia semakin diliputi rasa bersalah.

Bagaimana cara meluruskan benang kusut ini? Apa yang harus dijelaskannya pada Bossun ketika bertemu nanti? Ia harus mengakui perasaan, lagi?

Sudah beratus kali Himeko mengaku, Bossun saja yang tidak peka.

Apa itu tidak cukup banyak? Memang berapa kali Himeko harus mengatakannya agar ulat merah itu memahami maksudnya? Agar Bossun percaya?

Himeko lelah.

Terlalu lelah.

.

Himeko berjalan menyusuri koridor dengan gontai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku rok yang ia kenakan. Usai mengembalikan majalah fashion milik Nakatani-san, ia tidak tahu harus apa. Mencari Bossun pun nampaknya sia-sia.

Cih, ia sendiri lagi.

Switch sedang cekcok dengan Reiko tak jauh di depannya. Entah bagaimana ia juga merindukan saat-saat ia bertengkar dengan Bossun, membuat harinya berwarna.

"Himeko-san!"

Derap kaki melaju, dipercepat. Nampaknya dari arah belakang Himeko. Itu Roman.

"Ada apa, Roman?" Himeko menghentikan langkahnya.

Roman berhenti lari di sebelah Himeko. Ia terengah dan mengatur nafas sebentar sebelum berbicara.

"O-Ouji..hah..hah.."

"Bicara yang jelas, Roman." Padahal Himeko sudah ketar-ketir karena Roman mengatakan 'Ouji'.

"Ouji-sama terjatuh!"

Mata Himeko membulat sempurna.

.

.

.

Tsubaki mengunci pintu ruang osis sebelum meninggalkannya. Sisa dokumen akan ia kerjakan di rumah nanti. Ia hanya menghela nafas, cukup merasa lelah seharian ini.

Ia berjalan sambil memikirkan apa saja keperluan yang ia butuhkan untuk festival budaya tahun ini. Maa, Tsubaki rasa band Osis harus tampil lagi. Besok saja sosialisasinya karena ini sudah sore.

Tsubaki berada di persimpangan koridor, ia ada di dekat tangga saat mendengar teriakan Roman di ujung lain.

"O-Ouji..hah..hah.."

"Bicara yang jelas, Roman."

"Ouji-sama terjatuh!"

Apa? Bossun jatuh? Tapi, bagaimana bisa?

"Antar aku, Roman!"

Tsubaki mendecih melihat Himeko yang tampak panik.

"Huh. Apa yang aku pikirkan." Tsubaki menampar pelan wajahnya sendiri. Berlalu dari sana sesegera mungkin.

.

.

.

Bossun melenguh sakit.

"Meong!"

Kucing di pelukan Bossun mengeong seolah heran. Bossun bersyukur kucing yang diselamatkannya dari pohon baik-baik saja.

"Tidak apa-apa, manis~" Bossun tersenyum seolah dapat berbicara dengan kucing putih-hitam itu. Kucing itu lalu pergi ketika mendengar suara berderap kencang.

Eh?

"BOSSUN! KAU KEMANA SAJA HAH?!"

Tolong, jangan buat Bossun tuli.

"A-aku tidak a― ouch!"

Bossun baru menyadari sikunya terluka dan terus merembeskan darah sedari tadi. Ia menggigit bibirnya agar tak merintih.

"Untung mangaka aneh itu melihatmu! Hei, sikumu―"

Bossun hanya diam ketika Himeko datang untuknya. Ia mengamati bagaimana Himeko menatap cemas lukanya.

Rasanya hangat.

[ "Oi, Bossun! Kita harus mengobatinya dulu." ] Switch menyusul kemudian. Ia membawa sekotak P3K yang siap sedia di tasnya.

"Ah, terima kasih. Maaf merepotkan.." Bossun cuma bisa garuk kepala.

.

.

.

Tsubaki tidak langsung pulang.

Pikirannya kacau gara-gara tadi. Tapi, ia tidak tahu sedang memikirkan siapa. Bossun, ...atau Himeko?

Suara langkahnya tertutup oleh laluan manusia. Menempatkan dirinya pada keramaian adalah opsi terakhir menjernihkan pikiran. Ia sama sekali tak bisa berhenti memikirkannya.

"Ketua?"

Tsubaki mengangkat wajah, melihat Usami yang menatap aneh padanya. Kepala menoleh dengan senyum miringnya,

"Kenapa ketua disini?"

Tsubaki membalas tatapannya.

"Maaf, aku harus pulang." Sanggahnya. Tsubaki berlalu begitu cepat, melewati Usami begitu saja.

Usami heran, ada yang aneh dengan ketua osis.

.

.

a/n : maaf ya pendek lagi buntu ide #ngupil

uchihana rin : maaf gk kilat, yang penting apdet wkwwk thanks masi ngikutin cerita ini
sanaa11-san : hahaha sedih lagi jadi anak kuliah #jangancurhat
Kazumi Kirei : wah gimana yaa hahaha silahkan diikuti saja cerita ini
Mizu no Blue : klo berhasil nebak endingnya panda kasih sendal swallow deh..yaaa liat aja nanti #ngupil(2) #kokgakelit

.