~Between Us~

..An Alternate Universe Fanfiction..

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin

Warn : Typo's, YAOI, OOC, Don't Like? Don't Read! And No bash Caracter!

Pair : Check out yourself!

Chapter 3 of ?

...

..

.

.

.

Sesaat setelah bel pulang sekolah selesai, Jaejoong menarik tangan Yunho untuk segera keluar kelas diikuti oleh Yoochun yang berjalan santai di belakang mereka.

"Ish, kenapa mereka lama sekali keluarnya?" Jaejoong berjingkrak-jingkrak untuk melongok melalui jendela di kelas satu, dengan tangan satunya yang tetap bertaut erat dengan tangan Yunho.

"YA! Hyung, sabarlah sedikit! Mereka pasti masih kerepotan untuk membereskan buku-buku mereka" timpal Yoochun yang tak tahan melihat Jaejoong yang tak bisa diam di depan kelas adik mereka.

"Kalau begitu, biar aku masuk saja untuk membantu Changmin merapikan bukunya!" ucap Jaejoong dengan semangat melangkahkan kakinya menuju pintu kelas satu.

"Eh?" Yoochun dan Yunho sempat bertukar pandang dengan tatapan bingung mereka yang bercampur menjadi satu.

'Adiknya itu kan Junsu. Kenapa Joongie malah ingin membantu Changmin?'

Tautan tangan Yunho dan Jejoong membuat Yunho terpaksa mengikuti arah langkah Jaejoong yang berjalan di depannya.

"Tunggu!"

Yoochun tiba-tiba menghadang Jaejoong di hadapannya.

"Changmin itu adikku! Jadi seharusnya aku yang membantunya!" sungut Yoochun yang tak mau kalah ingin berebut membantu Changmin.

Sementara Jaejoong yang dihalangi keinginannya oleh Yoochun hanya bisa mendecak kesal dan memberengutkan wajah cantiknya dengan imut. Menatap kesal Yoochun, ia berusaha mendorong Yoochun dengan sebelah tangannya.

"Minggir!" teriak Jaejoong.

"Kau yang minggir!" Yoochun balas mendorong Jaejoong dengan kedua tangannya hingga membuat Jaejoong limbung ke belakang dan ditangkap dengan cepat oleh Yunho.

"YA!" Kemarahan Jaejoong sudah memuncak. Namun sebelum ia menerjang Yoochun, Junsu sudah lebih dulu keluar kelas dengan menggandeng tangan sosok mungil favorit Jaejoong.

"Changminnie!" seru Jaejoong begitu ia melihat wajah manis Changmin. Membuat Junsu sedikit cemburu —hanya sedikit, bahkan teramat sedikit— melihat Jaejoong yang begitu antusias menyambut Changmin.

Dan terlepaslah tautan tangan itu untuk yang kesekian kalinya..

Jaejoong yang begitu senang akan kehadiran Changmin segera berlari menghampiri Changmin. Meninggalkan Yunho. Melepaskan tautan jemarinya dengan Yunho.

"Changminnie, bagaimana hari pertamamu sekolah di sini? Apakah menyenangkan? Apa ada yang mengganggumu? Kalau ada yang berani mengganggumu, bilang pada Jae hyung ya? Biar aku hajar habis orang itu. Bagaimana bagaimana? Apa Changminnie sudah dapat teman ba—?"

"YA! Joongie hyung! Hentikan ocehanmu! Kupingku sakit mendengarnya!"

"—ru?" Jaejoong yang mendengar teriakan di belakang kepalanya segera memutar badannya dengan cepat.

Senyuman manis yang tadi tergambar di wajah cantiknya, kini berubah drastis menjadi seringaian imut.

"YA! Jidat lebar! Rasakan ini!"

Plak! Plak!

Meninggalkan Jaejoong dan Yoochun yang kini sibuk berkelahi, Junsu kini menarik tangannya yang masih menggandeng Changmin untuk menghampiri Yunho.

"Hyung.."

Alih-alih menjawab panggilan Junsu, Yunho malah mengalihkan tatapan matanya menuju mata Changmin yang kini menatapnya bisu. Yunho tak tahu apa penyebabnya, namun ia seperti melihat luka yang mendalam di balik indahnya permata hazel yang saat ini ia tatap.

"Kau jadi masuk klub Taekwondo kan?" tanya Junsu pada Yunho.

"Ne?" Yunho mau tak mau memandang Junsu ketika mendapat pertanyaan itu.

"Kau sudah janji akan menemaniku, hyung!" rengek Junsu dengan manja dan menarik-narik lengan seragam sekolah Yunho.

"Ne ne.. Aku akan menemanimu.. Hari ini ada latihan, kan?" tanya Yunho balik.

"Iya, hari ini hyung ikut latihan kan?"

"Latihan apa?" tiba-tiba saja Jaejoong menyela.

Ia berdiri di samping Changmin dan tidak lupa menggandeng lengan Changmin.

"Maaf Joongie, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Karena mulai hari aku akan ikut klub Taekwondo, sekaligus menemani Junsu"

Jaejoong seperti tak perduli dengan kalimat permintaan maaf Yunho, karena yang ia tangkap hanya kata 'menemani Junsu' dan itu sudah cukup membuatnya tersenyum tulus pada Yunho.

Hatinya selalu menghangat begitu mengetahui Yunho selalu perhatian pada adiknya. Ia hanya anak polos yang bahkan tidak paham akan situasi yang sebenarnya.

Karena mungkin saja, alasan 'menemani Junsu' itu menjadi alasan terselubung agar keduanya bisa bersama tanpa gangguan Jaejoong.

Ya, mungkin saja..

Siapa yang tahu..

"Ne, Gwaenchana.. Lagipula, aku akan pulang bersama Changminnie.." jawab Jaejoong dengan riang sambil menautkan jemarinya pada jemari mungil Changmin.

"Yoochun hyung juga ikut latihan kan?" pertanyaan retoris Junsu membuat Yoochun dihadapkan dua pilihan.

Di satu sisi, Yoochun tidak ingin meninggalkan Changmin pulang berdua saja dengan Jaejoong. Karena ia pikir, merupakan tanggung jawabnya untuk selalu menjaga Changmin.

Tapi di sisi lain, Yoochun juga membutuhkan pelatihan olah raga bela diri itu untuk bisa melindungi Changmin kelak. Ya maklum saja, pikirannya masih polos. Ia pikir kata 'melindungi' itu sama artinya dengan 'Bodyguard'. Sehingga ia merasa harus melindungi Changmin 24 jam dengan kemampuan bela diri yang tangguh.

"Hyung.."

Panggilan Junsu membuat Yoochun menghadapkan wajahnya menatap wajah imut Junsu yang kini melancarkan aksi 'Aegyo maut'nya.

"Kau tenang saja, Changmin pasti aman bersamaku! Aku akan mengantarkannya pulang dengan selamat!" ucap Jaejoong bersemangat sambil mengepalkan sebelah tangannya di depan dada.

"Haahh.. Baiklah, aku akan ikut latihan Taekwondo kalau begitu" jawab Yoochun pasrah.

"Yeaaay— Oops!" Jaejoong tanpa sadar bersorak girang sambil berjingkrak-jingkrak heboh.

'Yes! Aku bisa pulang berdua dengan Changminnie..hihihii..'

Setelah saling berpamitan, Jaejoong dan Changmin segera beranjak pergi, sedang Yoochun dan Junsu segera beranjak ke ruang latihan Taekwondo.

Kini, giliran Yunho yang di hadapkan dua pilihan.

Jalan mana yang akan ia pilih.

Di saat kakinya hendak melangkah mengikuti jejak Yoochun dan Junsu, entah kenapa matanya tak bisa teralihkan dari punggung Jaejoong dan Changmin.

Ia melihat jam digital di pergelangan tangan kirinya.

12:15

'Masih ada waktu 15 menit sebelum latihan Taekwondo dimulai'

Akhirnya ia memilih untuk melangkahkan kakinya mengikuti Jaejoong dan Changmin.

Namun saat dua sosok mungil di hadapannya terjatuh karena Jaejoong tersandung batu, lagi-lagi Yunho hampir hilang akal akan pilihan yang di hadapinya.

Ia tak bisa memilih siapa yang harus ditolongnya terlebih dahulu..

"Gwaenchana?"

Jaejoong sudah merasa senang saat ia mendengar suara yang amat dikenalnya dan melihat sebuah uluran tangan di hadapannya. Namun, sepertinya ia harus menarik kembali rasa senang itu saat sebuah kalimat khawatir serta uluran tangan di hadapannya bukan hanya ditujukan untuknya.

Karena kini, Yunho mengulurkan kedua tangannya.

Dan di saat Jaejoong meraih uluran tangan itu, di saat yang bersamaan pula tangan mungil Changmin meraih uluran tangan yang sama. Bedanya, Jaejoong menyambut tangan kanan Yunho, sedang Changmin menyambut tangan kiri Yunho.

"Kalian tidak apa-apa? Kenapa kalian ada di sini? Kenapa tidak langsung pulang?"

Jaejoong tersenyum miris mendengar kata 'kalian' yang diucapkan Yunho.

"Changmin tiba-tiba saja mengarahkan kakinya ke taman ini. Mungkin ia ingin sedikit bermain di sini. Seperti yang biasa kita lakukan di sini.." Kalimat Jaejoong semakin melemah sambil tersenyum miris.

Karena beberapa saat yang lalu,

Saat Yunho menyebut kata 'kalian', nyatanya Yunho hanya memandang ke satu arah.

Dan kini, saat Jaejoong menyebut kata 'kita', Yunho pun tampak tak perduli.

.

..

...

"Chami, Eomma beli es krim dulu ya disana.. Chami main bola sama Appa dulu, Ne?"

"Jja! Tangkap bolanya, sayang!"

"Huweee TΛT Appa.. Bo-laaa..."

"Cup cup.. Sshh Uljima, baby.. Biar Appa ambilkan dulu, bolanya"

TIIIIIN! BRUK! BRAKK!

"Eom-ma... Ap-pa..."

"Hikss.. hikss.."

"Changminnie?" Yoochun terbangun di tengah malam ketika mendengar suara isak tangis di sebelahnya. Entah malam yang ke berapa sudah ia lewati seperti ini setiap harinya.

Dengan mata yang masih setengah terbuka, Yoochun mengambil posisi duduk sambil mengucek matanya beberapa kali.

Dan ia kini membelalakkan matanya saat mendapati sesosok mungil yang menggigil di sampingnya. Membuat kantuknya lenyap seketika dan segera meraih tubuh yang bergetar itu ke dalam dekapan mungilnya.

"Sshh.. Uljima.. Ada hyung di sini.."

Yoochun memeluk tubuh Changmin dengan erat. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan adik angkatnya itu. Tapi ia mengandalkan nalurinya untuk segera memerangkap tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

"Kalau Changminnie sedih, hyung juga sedih.. Jangan menangis lagi, Ne.."

Kalimat tulus itu ternyata berhasil membuat Changmin menahan isakan tangisnya dan menatap ke dalam mata hyung-nya yang sudah basah.

Ternyata Yoochun tidak berbohong. Ketika ia mendengar isakan pilu Changmin, ia ikut merasakan sedih dan ikut menangis.

"Changminnie.. kau tidak sendirian.. Ada hyung di sini.."

Yoochun mengusap sisa-sisa air mata di pipi Changmin dan mengecupnya sekilas.

"Ayo sini.. Kita tidur lagi, Ne.."

Yoochun membawa Changmin untuk kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi dada. Sedikit bersenandung untuk mengantar tidur, Yoochun memeluk tubuh Changmin dengan lembut. Hingga akhirnya, ia kembali terlelap dalam tidurnya yang sempat terganggu.

Namun Yoochun tak menyadari, bahwa sosok mungil yang kini membenamkan wajahnya di leher Yoochun masih membuka matanya di kegelapan kamar tidur itu.

Di satu sisi, sosok mungil itu masih takut untuk kembali bertemu mimpi buruknya yang selama ini menghantuinya, jika ia kembali menutup mata.

Tapi di sisi lain, ia tak ingin mengganggu Yoochun. Walaupun umurnya masih 6 tahun, Changmin adalah anak lelaki yang memiliki pemikiran yang dewasa. Ia tak ingin membuat kakak angkatnya kembali khawatir padanya jika mengetahui bahwa Changmin masih merasa ketakutan.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk tetap membuka matanya hingga pagi menjelang.

.

..

...

"Yunniiieee.." Jaejoong memeluk Yunho begitu ia tiba di depan rumah Jaejoong.

"Kajja! Kita berangkat!" Yunho segera meraih tangan putih pucat Jaejoong.

"Tunggu!"

Yunho baru saja mengernyitkan dahinya menghadap Jaejoong ketika Jaejoong melanjutkan kalimat antusiasnya.

"Kau lupa? Sekarang kan kita harus berangkat bersama-sama dengan 'yang lain'.."

Dan Yunho mengeratkan pegangannya di saku celana ketika mendengar kalimat lanjutan Jaejoong. Bukan karena gugup.. Atau bisa jadi gugup.. Entahlah..

Yang jelas, saat ini Yunho tengah memegang baling-baling lampu di dalam saku celananya. Dengan baling-baling berwarna merah serta lampu yang menyala merah. Seperti warna buah strawberry kesukaan Changmin..

"Nah itu dia Yoochun dan Changmin!"

Jaejoong sudah akan menarik tangan Yunho untuk menghampiri Yoochun dan Changmin, ketika tanpa sengaja mata lebarnya menangkap sesuatu berwarna merah menyembul keluar dari saku celana Yunho.

'Apa Yunho menyiapkan kejutan untukku?' batin Jaejoong tersenyum senang.

"Joongie hyung, mana Su-ie?" tanya Yoochun saat ia dan Changmin sudah berdiri di hadapan Yunho dan Jaejoong.

"Ah! Oiya.. Su-iiiiie! Ayo cepat! Nanti kita terlambat!" teriak Jaejoong dari luar rumahnya.

"Ne, hyuuung" terlihatlah Junsu yang berlari ke luar rumah dengan cepat. "Kajja!" Junsu segera memposisikan dirinya di samping Yoochun dan mulai berjalan riang.

Sebelum terlalu jauh, Yoochun segera meraih tangan Jaejoong dan sedikit menariknya hingga membuat tautan jemari Jaejoong dan Yunho terlepas.

Sedetik Jaejoong sempat bingung, namun akhirnya ia teringat jika sosok manis favoritnya tertinggal di belakang. Hingga akhirnya Jaejoong segera menarik tangan Changmin untuk berjalan di sampingnya.

Kemudian, sosok manis itu hanya bisa termangu menatap tangan sebelah kirinya yang terbebas.

Aku ingin menyentuhmu lagi

'Dengan senang hati'

Dan Changmin segera membulatkan mata bulatnya yang sedikit berkantung ketika tiba-tiba saja tangan besar Yunho menyelipkan tangannya dengan tangan mungil Changmin. Tapi sebenarnya bukan itu saja yang terjadi..

Karena kini Yunho ikut menyelipkan baling-baling lampu berwarna merah di genggaman tangannya bersama Changmin.

'Aku harap kau menyukainya..'

Yunho tersenyum lembut menatap Changmin yang kini mendongakkan kepala menghadapnya sambil tetap berjalan di sampingnya.

'Hei, kenapa mata indahmu sedikit berkantung? Apa karena kurang tidur?'

Aku menyukainya

"Changminnie.." Jaejoong yang berniat memanggil Changmin dibuat terperangah tak berdaya.

'Ini keajaiban.. Sungguh keajaiban..' batin Jaejoong tak percaya.

.

.

Changmin menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

Ia tersenyum..

.

.

Ya, tersenyum ke arah kiri pandangan matanya..

Kemudian menghadapkan wajah tersenyumnya itu pada wajah terperangah Jaejoong yang menatapnya berseri-seri.

.

.

.

.

.

TBC/END?

...

..

.

How's this chapter? Makin membingungkan kah?

Sebenarnya ada hint tersendiri di dlm ff ini. Clue-nya, tulisan yang bercetak miring di center itu, menegaskan main pairnya. Hihii ^.^

Next chapter, mereka udah beranjak dewasa

Tapi.. Masih ada yang mau lanjut gak yaa? Kyknya udah mulai sepi nih reviewernya. Malah, nanachan dapet WB T^T