Tsuki no Tama

Chapter 3

"Gadis Bernama Rin."

NaruSasu Fanfic

By Arisuke Fuyuki

Disc Masashi Kishimoto

Rate T

Romance/Supranatural

Warning: AU/OOC/OOT/Typo/Yaoi/Shonen-ai

Happy Reading~

.

.

.

.

.

"Ne Chiyo Baa-chan, apa pelindung tadi akan berlaku untuk siluman lain? Karena siluman bernama Mukadejoro dia bisa menyentuhku." Nenek Chiyo menggeleng, "Sayangnya tidak, pelindung itu hanya berlaku pada pengguna kalung, yaitu Naruto karena kontraknya sudah ditetapkan, Naruto akan kesakitan jika berniat melukaimu sebaliknya dia akan mendapat kekuatan saat dia berniat melindungimu."

Sasuke tersentak lalu pandangannya beralih pada Naruto yang kini memalingkan wajahnya, "Berarti saat itu..."

'Naruto.. berniat melindungiku? Bukan untuk Tsuki no Tama.' Sasuke tersenyum samar saat kembali mengingat Naruto yang menyelematkannya dari Mukadejoro.

"Itulah kenapa kalian harus tetap bersama, karena kalian sudah terikat untuk saling melindungi demi Tsuki no Tama." . Sasuke menghela nafas pelan lalu menggenggam Tsuki no Tama.

'Aku akan berusaha.. mulai sekarang dengan Naruto, hh lagipula dia tidak seburuk yang aku kira, sepertinya aku harus bersikap sedikit lembut padanya.'

.

.

.

"Kitsune! Pelankan langkahmu otak udang! Hah.. hah.." Sasuke memanggil Naruto dengan nafas terengah. Naruto yang ada di depan Sasuke hanya memutar bola matanya malas, "Hh ayolah, kau saja yang lambat! Ini perjalanan pertama kita untuk Tsuki no Tama! Jangan mengeluh Ningen!"

"Aku ini manusia! Jadi jangan seenaknya kita sudah berjalan 5 jam tanpa istirahat idiot!" sungguh tidak mudah berjalan dihutan tanpa istirahat ditambah lagi Sasuke belum terbiasa memakai kimono seperti ini.

"Ningen kau memang merepotkan."

DUAGH

Sebuah batu melayang ke kepala kuning Naruto hingga membuatnya terjungkal.

"Kusso! Apa yang kau lakukan Baka Ningen?!"

"Naruto! Osuwari!"

BRAK

Naruto mengusap benjol di kepalanya akibat ulah Sasuke. Jika dipikir pikir manusia lainnya tidak semerepotkan ini. Hah.. berapa lama dia akan bersama Sasuke? Baru dua hari saja nyawanya sudah terancam bagaimana hari hari berikutnya?

Mungkin dia akan mati sebelum pecahan Tsuki no Tama terkumpul. Sasuke itu pemuda spesial yang mengerikan.

"Apa yang kau pikirkan, Kitsune?" Sasuke yang tengah bersandar di bawah pohon menatap Naruto penuh curiga. Jangan-jangan Naruto punya rencana aneh, ah tapi tidak mungkin seaneh apapun rencananya yokai itu tidak akan bisa menyentuhnya.

Naruto tersentak pelan menanggapi pertanyaan Sasuke, "Tidak ada hubungannya denganmu, Ningen." bohongnya padahal jelas siapa yang sedang dia pikirkan.

"Lalu... kita aka mencari kemana pecahan selanjutnya?"

"Menurut informasi yang aku dengar, disekitar sini pernah ada monster besar berwujud kucing, aku tidak tahu pasti apa itu Bijuu, tapi kita akan menyelidikinya, dan kita akan mencari Nibi, siluman kucing ekor dua." Sasuke meneguk ludahnya mendengar penjelasan Naruto. Benar juga mereka akan menghadapi 8 siluman raksasa yang disebut Bijuu. Untuk sesaat Sasuke berpikir apa jika dia akan mati disini dia akan merubah sejarah.

Naruto bangkit dari duduknya, "Maka dari itu kita harus bergerak cepat! Tidak hanya kita yang mengincar Nibi!"

"Huh? Tapi kita baru 15 menit istirahat." Naruto mendengus pelan lalu menghampiri Sasuke dan berjongkok di hadapannya, "Tidak ada waktu untuk mengeluh, naiklah."

"Kau mau menggendongku?"

"Tentu saja, cepat naik!"

"Kau yakin aman?"

"Kau cerewet sekali, Sasuke cepat naik!"

"Iya iya!" Sasuke akhirnya naik ke punggung Naruto dan berpegangan pada pundak yokai itu. Sasuke tersenyum tipis karena tiba tiba saja dia teringat Itachi, kakaknya, dia selalu menggendong Sasuke tiap kali Sasuke kelelahan. Astaga Sasuke baru sadar dia manja sekali.

"Berpegangan yang kuat!" Naruto memperingatkan Sasuke sebelum akhirnya Naruto melesat dengan kecepatan penuh hingga membuat Sasuke terpaksa beteriak kencang karena Naruto hampir membuatnta terjatuh.

"BAAAAKAAA KITSUNEEEE!"

"URUSAIII!"

.

.

.

Setelah beberapa jam berjalan sambil menggendong Sasuke, Naruto akhirnya berhenti di sebuah pohon. Sasuke mengeryit heran.

"Kenapa berhenti? Hari sudah hampir gelap."

"Aku lelah, bodoh andai kau bisa menggunakan kakimu." Naruto berkata dengan nada sinis membuat Sasuke memberi jitakan manis di kepala yang ditumbuhi surai pirang itu.

"Ouch Teme! Jangan terlalu kasar padaku!"

Sasuke hanya membalasnya dengan dengusan pelan, "Padahal kau sendiri yang menggendongku, sekarang kau mau protes dan menyalahkanku? Peliharaan macam apa kau ini?"

Naruto menggeram marah, "Aku bukan peliharaan, Te―"

"KYAAAAAAAA!"

Ucapan Naruto terhenti begitu mendengar teriakan seseorang. Baik Naruto dan Sasuke segera mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara itu.

"Naruto, sepertinya itu suara anak kecil."

"Itu memang suara anak kecil, dia ada di sekitar sini."

"Kalau begitu ayo kita tolong dia!" seru Sasuke membuat Naruto membulatkan matanya terkejut.

"Hah?! Untuk apa?! Itu bukan urusan kita Teme!" Naruto tidak habis dengan Sasuke, kenapa dia selalu memikirkan hal hal tidak berguna yang hanya akan merepotkan dirinya sendiri. Apa manusia semua begini?

Sasuke secara tiba tiba turun dari gendongan Naruto, "Baiklah, kau tunggu disini, aku akan menolongnya, aku tidak butuh peliharaan yang tidak bisa diandalkan."

"Sasuke! Itu Bukan―" tanpa mendengar protesan dari Naruto, Sasuke melompat dari batang pohon itu lalu segera belari mencari asal suara anak kecil tadi. Naruto berdecak kesal, dia ingin sekali bersikap tidak peduli, tapi manusia bodoh itu sangat merepotkan, Naruto dengan terpaksa mengikuti Sasuke.

"Sasuke! Matte!"

.

.

.

Sasuke terus berjalan mencari anak kecil yang mungkin sedang dalam bahaya. Dia benar benar tidak bisa mengabaikan seseorang yang membutuhkan bantuan di tempat seperti ini, apalagi dia seorang anak kecil, bagaimana jika orangtuanya mencari anaknya? Seperti orangtuanya sekarang, mungkin mereka sedang kebingungan mencarinya. Tapi itu tidak penting sekarang, yang penting adalah anak itu.

"AAAAA! TOLONG!" teriakan ketakutan itu kembali terdengar di telinga Sasuke. Bagus dia semakin dekat dengan anak itu.

Sasuke menyibak semak semak di hutan itu untuk menemukan sang anak kecil, sampai dia membuka semak terakhir dan benar dia melihat seorang anak kecil dengan rambut pendek yang sedang diserang serigala.

Tidak. Itu bukan serigala biasa. Serigala itu berwarna putih dengan mata merah manyala. Tidak hanya itu ukurannya sangat tidak normal, mungkin dia lebih pantas disebut monster daripada hewan.

Kaki Sasuke bergetar melihat monster mengerikan itu. Dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak memiliki senjata selain Tsuki no Tama. Apa yang harus dia lakukan?

"Ti-tidak! Tolong!" Sasuke tersentak begitu mendengar rintihan anak itu lagi. Sasuke mengepalkan tangannya kuat. Dia harus membantu anak itu.

Serigala putih itu kembali mendekati sang gadis dengan tatapan kelaparan. Anak itu menangis tersedu, dia sangat takut tentu saja. Dihadapannya ada seekor monster yang kapanpun siap untuk melahap tubuh kecilnya.

Serigala itu melolong kencang sebelum membuka mulutnya lebar lebar ke arah gadis malang itu dan―

DUAAGH

"Jangan ganggu gadis itu!" Sebuah batu berukuran sedang itu berhasil mengenai kepala serigala hingga membuatnya terpental beberapa meter. Itu karena Sasuke berusaha menggunakan Tsuki no Tama. Yah akhirnya sedikit membantu juga meski tidak seberapa.

Sasuke segera menghampiri anak itu dengan khawatir, "Kau tidak apa apa?" tanya Sasuke sambil menangkup wajah yang memancarkan rasa ketakutan.

"Tidak apa apa... Onii-san terimakasih!" anak itu menangis sambil memeluk Sasuke, untuk beberapa saat Sasuke terdiam kemudian membalas pelukan anak itu. Berusaha memberi ketenangan untuknya.

"Tenang semua sudah aman."

GWOOORR

Sasuke membulatkan matanya terkejut saat serigala tadi melompat ke arahnya dengan cepat. Sasuke terlalu panik untuk segera menggerakan tubuhnya.

'Kitsune...'

"HYAAAAA!"

ZRAAASH

Dari langit Naruto turun dengan kecepatan penuh sambil mengarahkan pedangnya ke serigala putih itu. Belum sempat serigala itu menyadari keberadaan Naruto tubuhnya sudah terbelah menjadi dua. Darah terciprat kemana mana. Bahkan mengenai wajah Sasuke.

"Onii-san apa yang terjadi?" anak itu kembali bersuara. Kelopak mata Sasuke berkedip pelan sebelum akhirnya dia tersentak dan memeluk anak itu. Mncegahnya untuk tidak melihat pemandangan mengerikan dihadapan mereka.

"Bukan apa apa, jangan lihat!"

Naruto menghela nafas pelan lalu memasukan katananya lagi dan menghampiri Sasuke dengan wajah kesal.

"Teme! Lihat apa yang kau lakukan! Kau hampir membahayakan nyawamu sendiri! Jika aku tidak ada bagaimana?! Hah?!" semburnya dengan emosi, Sasuke hanya terdiam beberapa saat.

"Aku hanya menolong anak ini." Sasuke menatap Naruto dengan wajah tanpa dosa. Anak kecil dipelukan Sasuke melirik Naruto tiba tiba tubuhnya kembali begetar takut.

"Oni! Oni-Neko!" teriak anak itu membuat Naruto mengerjap tidak percaya.

"Ne-neko?" Sasuke berkata lirih. Perempatan siku muncul di kepala Naruto. . "Aku.. aku.. AKU BUKAN ONI-NEKO! AKU INI YOKAI! KITSUNEEE!" teriaknya lantang hingga burung burung disana beterbangan.

.

.

.

"Siapa namamu?" tanya Sasuke pada anak kecil yang sedang berjalan di sampingnya.

"Namaku Rin, Onii-san sendiri siapa?" anak itu mendongak menatap Sasuke dengan penasaran.

Sasuke tersenyum, "Sasuke." Rin mengangguk kecil, "―kalau yang dibelakang itu namanya Naruto, tenang dia orang baik kok." sambungnya, Rin melirik Naruto yang menatapnya dengan kesal. Mungkin karena dia memanggilnya Oni-Neko (Setan Kucing) karena telinga kucing yang ada di kepala Naruto.

"Aku tahu Onii-san," Rin tersenyum lima jari.

Naruto hanya mendengus melihat interaksi antara mereka berdua. Entah kenapa Sasuke selalu bisa bersikap lembut pada orang lain sedangkan pada dirinya tidak. Padahal Naruto sudah berulang kali membantu Sasuke, tapi itulah tugas peliharaan.

Tatapan Naruto berubah serius begitu menyadari sesuatu yang aneh dari anak itu. Jika diperhatikan anak itu terlihat pucat dan lemah. Dia seperti kehilangan jiwa manusianya.

Naruto mengeryit heran, dia tidak mencium bau yokai lain selain serigala tadi. Dan serigala tadi bukan yokai yang memakan jiwa manusia. Lalu apa yang terjadi pada gadis ini? Atau hanya perasaannya saja? Naruto menggelengkan kepalanya, buat apa dia peduli? Tapi jika dia sampai membahayakan Sasuke, baru Naruto bertindak.

.

.

.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah rumah kayu yang dikelilingi ladang yang sudah tak terurus. Tempat itu adalah milik Rin.

"Rin, dimana orangtuamu?" Rin menundukan kepalanya, "Chichi sudah meninggal, aku tinggal dengan Haha yang sakit karena kecelakaan beberapa bulan lalu di jurang, jadi tempat ini sedikit tidak terurus, yang bisa aku lakukan hanya mencari tanaman obat untuk Haha."

Sasuke tersentak pelan, wajahnya berubah menyesal, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu." Rin tersenyum tulus, "Tidak apa apa Onii-san, hm... ayo kita masuk, hari sudah gelap." ajak Rin sambil memasuki rumah sederhana itu.

Sasuke mengangguk kecil, lalu tatapan beralih pada Naruto yang dari tadi nampak mencari sesuatu. Sasuke mengeryit.

"Ada apa?"

Naruto mengendus udara dengan tatapan curiga, lalu ekspresinya berubah heran. Sasuke berjalan menghampiri Naruto dan menepuk pundaknya.

"Naruto, ada apa?"

Naruto menatap Sasuke, "Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh?" Sasuke menggeleng, Naruto mendengus.

"Padahal kau ini Miko―"

"Tidak selain wajah pucat Rin yang aneh." Naruto mengerjapkan matanya pelan, "Untuk kali ini kita sejalan, dengar kita terutama kau harus berhati hati, paham?" jelas Naruto yang dibalas anggukan paham dari Sasuke.

.

.

.

Hari sudah berganti di tempat itupun semakin menurun. Tapi perapian di rumah Rin sedikit membantu menghangatkan ruangan.

"Rin..." panggil seorang wanita paruh baya dengan kepala yang ditutupi perban. Rin segera menghampiri wanita itu dengan tergesa, "Ha'i Kaa-san ada apa?"

"Siapa yang datang?" wanita itu bertanya dengan suara yang amat lemah, "Um.. seorang teman, Kaa-san." Rin tersenyum senang, karena sudah lama tidak ada orang yang berkunjung kerumahnya.

"Teman? Siapa?" ibu Rin kembali bertanya.

"Ehem..Maaf menganggu Baa-chan." Sasuke tiba tiba muncul bersama Naruto disampingnya. Mereka bisa mendengar apapun yang Rin dan Ibunya bicarakan karena tempat perapian dan kamar hanya dibatasi tembok kayu yang sudah lapuk.

"Tidak apa apa, tidak apa apa.. kalian siapa?"

"Aku Sasuke dan yang ada disampingku ini Naruto, kami seorang pengelana Baa-chan, jika Baa-chan tidak keberatan kami ingin menginap disini malam ini." Sasuke berkata dengan lembut dan hati hati.

"Tentu saja aku tidak keberatan, aku adalah Mei ibu dari Rin." ada nada senang yang sangat kentara di setiap ucapan wanita itu.

"Terimakasih Baa-chan." Sasuke membungkuk singkat lalu tersenyum, begitupun Rin. . Sedangkan Naruto hanya teridiam sambil menatap wanita itu penuh curiga.

.

.

.

Malam semakin larut. Rasa kantuk mulai menguasai. Semua orang di rumah itu kini tertidur pulas. Kecuali Naruto yang lebih memilih terjaga di depan rumah. Dia yakin pasti sebentar lagi akan ada siluman yang datang untuk mencuri Tsuki no Tama meskipun itu hanya lebah yang kini mati mengenaskan dibawah kaki Naruto.

"Kapan kau akan keluar?" Naruto menggeram pelan.

.

.

.

Di dalam rumah, Sasuke sudah tertidur dengan pulas diatas tumpukan jerami bersama Rin. . Sasuke terlalu mudah untuk bisa tidur dengan nyenyak hingga dia tidak merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi.

Bahkan karena terlalu pulas, Sasuke tidak menyadari ada seseorang yang mendekatinya dan menatapnya penuh minat. Bukan Naruto, bukan. Tangan orang itu menyentuh pipi Sasuke membuatnya bergerak risih. Dengan tidak sabaran sosok itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sasuke. Lalu membuka mulutnya.

Dari mulutnya keluar semacam roh penangkap jiwa. Roh itu bergerak masuk ke tubuh Sasuke melewati celah di bibirnya lalu menarik jiwa Sasuke. Sasuke sama sekali tidak terganggu dengan hal itu. Mungkin dia terlalu lelah hingga dia tidur begitu pulas.

Penangkap jiwa itu terus menarik jiwa Sasuke keluar. Hanya erangan kecil yang keluar dari bibir Sasuke karena mulai merasa terganggu.

"Nghh―hh."

"Kau memang sangat menarik, Miko." sosok itu terlihat kegirangan karena sebentar lagi dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Mhnn.."

"Sebentar lagi.. sebentar lagi.. Tsuki no Tama akan menjadi milikku, termasuk jiwamu sebagai pengendalinya."

GREP

Tiba tiba telapak tangan yang dilengkapi kuku-kuku tajam mencengkeram kepala siluman itu, "Apa yang akan menjadi milikmu? Hah?" suara baritone rendah itu berisi kemarahan yang meluap, tatapannya menajam seolah bisa menguliti siluman di hadapannya.

"Kitsune~ kau masih disini ternyata, padahal aku sudah membuatmu repot dengan para yokai itu."

Naruto menyeringai, "Cara murahan semacam itu tidak akan mengelabuhiku!" cengkeraman Naruto menguat lalu dalam sekejap tubu yokai itu sudah membentur tembok hingga membuat retakan disana. Roh penangkap jiwa itupun terlepas dari Sasuke, Naruto menghela nafas pelan karena Sasuke baik baik beralih pada siluman di hadapannya.

"Menyamar sebagai seorang Ibu, eh? Dan memakan jiwa anak kecil? Aku yakin kau hanyalah yokai lemah." Naruto menyeringai.

Siluman itu menggeram marah, rahasianya benar benar terbongkar, "Bukan urusanmu!" . Naruto mengepalkan tangannya kuat, siap untuk menghajar siluman itu tanpa ampun, "Memang bukan urusanku, sebelum tangan kotormu menyentuh Sasuke!"

Setelah berucap dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya, kepalan tangan Naruto meninju siluman itu hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Naruto berdecih tidak suka saat melihat siluman itu berhasil lolos meninggalkan lubang besar di tembok.

Naruto segera berlari mengejar wanita siluman itu, dia harus menangkap siluman itu, dia tidak akan melepaskannya, tidak akan!

"Uh..." Sasuke membuka kelopak matanya secara perlahan saat menyadari ada suara berisik yang cukup matanya langsung membola saat melihat tembok dihadapannya berlubang.

Tidak perlu berpikir lama untuk tahu siapa pelakukanya. Sudah jelas. Naruto. Sasuke bangkit dari tidurnya dia langsung melesat menuju kamar Mei. Tapi disana dia tidak melihat apapun. Sasuke mengumpat kesal, ternyata dugaanya benar.

Sasuke keluar dari kamar itu dia harus segera mencari Naruto, dia harus membantunya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Rin.

"Rin.." Sasuke menyentuh pipi Rin. Dia tahu kenapa anak ini tidak bangun bahkan dalam situasi yang sangat berisik. Jiwa anak telah Sasuke mengepal kuat, lalu menyelimuti tubuh Rin, "Aku akan membalas apa yang sudah terjadi padamu." ucap Sasuke sebelum dia melesat keluar rumah untuk mencari mengedarkan pandangannya. Tapi dia tidak melihat apapun. Gelap. Bagaimana dia bisa menemukan Naruto?! . Sasuke berlari kesana kemari, dengan kebingungan.

DUAAAR

Tiba tiba suara ledakan menghentikan langkah Sasuke. Tidak salah lagi itu pasti Naruto. Sasuke kembali berlari menuju asal ledakan itu.

"HYAAAA!" Naruto mengayunkan pedangnya ke arah Mei. Namun wanita itu bisa menghalaunya dengan mudah.

"Kitsune, kau tidak akan bisa membunuhku!" Mei tertawa dibalik perban yang masih melilit kepalanya. Naruto terus berusaha menyerang Mei meski tidak ada satupun serangan yang bisa mengenai tubuhnya, "Berapa banyak.. Berapa banyak jiwa yang kau ambil untuk mendapatkan tubuh ini?!"

"Tidak ada hubungannya denganmu, Kitsune sialan!" Mei menjulurkan tangannya yang ada di balik kimono. Ternyata tangannya pun dilapisi perban. Tapi kali ini dia membuka perban itu dan dalam sekejap berbagai macam siluman kelas rendah keluar dari tangannya.

"Anak anakku bunuh dia!" seperti dikomando siluman siluman itu langsung menyerang Naruto.

" JANGAN REMEHKAN AKU!" Naruto beteriak murka lalu dalam sekali tebasan para yokai itu lenyap. Namun tidak semudah itu, Mei kembali mengeluarkan yokai dengan jumlah besar.

Naruto sedikit kewalahan meski mereka siluman kelas rendah tapi ini terlalu banyak, "Kusso! Ini terlalu banyak!"

TRANG

Tanpa diketahui, salah satu siluman mampu mengenai Naruto hingga membuatnya terpental jauh. Mei tertawa penuh kemenangan, "Jangan terlalu percaya diri Kitsune, kau bisa mati nanti, menyerah saja."

Naruto menatap Mei penuh kebencian, "Kusso kusso kusso! Aku tidak akan menyerah!" Naruto bangkit, tapi niatnya terhenti saat melihat Sasuke yang berlari kerarahnya. Mata Naruto membulat tak percaya, "Apa yang―?"

"Narutooo!" Sasuke berteriak dari kejauhan, begitu sampai di dekat Naruto, dia langsung memeriksa tubuh Naruto.

"Kau baik baik saja?!"

"Kenapa kau disini?!" Naruto menatap Sasuke penuh emosi, tapi Sasuke tahu tatapan itu adalah tatapan kekhawatiran.

Naruto menarik kerah Sasuke, "Bagaimana jika terjadi apa apa padamu?! Hah?!"

"Kau tidak perlu khawatir padaku, aku baik baik saja! Aku akan membantumu!"

"Tapi kau hanya manusia!" Naruto kembali membentak Sasuke.

"Justru karena aku manusia! Biarkan aku berusaha menjadi manusia yang berguna!" Sasuke menatap Naruto penuh keyakinan hingga membuat Naruto bungkam, "Percayalah padaku, biarkan aku membantumu, kita harus bekerja sama, karena kita adalah tim!" Sasuke menggenggam tangan Naruto.

Naruto menatap Sasuke tak percaya, baru kali ini Sasuke terlihat begitu meyakinkan dimata Naruto, "Mattaku, kusso Ningen, kau ini keras kepala ya." Naruto tersenyum tipis, yang dibalas dengan senyuman juga oleh Sasuke, "Tidak jauh beda denganmu."

"Apa apaan ini? Sampai kapan kalian akan mengabaikanku?" Mei kembali bersuara dengan nada angkuh. Naruto dan Sasuke menoleh sekilas lalu kembali saling menatap.

"Berikan aku kekuatan." ucap Naruto, Sasuke mengangguk, "Aku akan cari kelemahannya." Tangan Sasuke yang menggenggam tangan Naruto mulai memgalirkan cakra berwarna hijau yang kemudian berubah menjadi orange karena menyatu dengan cakra Naruto.

Naruto takjub dengan tubuhnya yang dilapisi cakra berwarna orange. Kemudian tatapannya beralih menatap Sasuke, "Sasuke ini―"

"Berjuanglah!" satu kata dari mulut Sasuke merupakan perintah untuk Naruto. Dengan senyum kebanggaan Naruto berdiri dan mengepalkan tangannya.

"Yosh! Ayo kita mulai pertarungan yang sempat tertunda!" Naruto menatap Mei sambil menyeringai.

"Hoo jadi ini kau yang sekarang? Tetap saja ini bukan apa apa untukku!" Mei berlari kearah Naruto begitupun Naruto. Mei mengeluarkan ular ularnya dari tangan untuk menyerang Naruto. Tapi kesembilan ekor Naruto menghancurkan ular ular tersebut. Sasuke menatap takjub pertarungan Naruto, "Kau hebat Naruto!"

Mei memggeram tidak suka, "Ular ularku! Sialan!" Naruto tidak mempedulikan ucapan Mei, dia terus berlari menyerang Mei. Hingga tinjunya akhirnya mengenai wajah wanita itu, "MATI KAUU!"

"Ahkk!"

BUAAGH

DUAAAR

"Berhasil!" seru Naruto dan Sasuke secara bersamaan. Mei yang terpental jauh menatap menyeringai, sebagian perban dikepalanya terbuka menunjukan wajah iblis yang mebgerikan.

"Berhasil? Ini baru saja dimulai." desisnya tajam membuat Naruto terkejut. Mei merapalkan sebuah kalimat sebelum akhirnya tubuh itu diselubungi cahaya putih.

"Apa itu?" gumam Sasuke pelan. Cahaya itu semakin membesar hingga akhirnya menghilang. Menampakan siluman raksasa yang begitu mengerikan dengan mata merah menyala.

GWAAAR!

Oke, Sasuke merasa kembali mual melihat tubuh siluman yang ternyata terbentuk dari siluman siluman lainnya. Menjijikan, bisakah dia bertemu siluman yang lebih baik.

"Sasuke! Jika kau tahu kelemahannya katakan padaku!" Seru Naruto dari kejauhan menyadarkan Sasuke dari lamunannya, "Baik! Naruto serang dia secara terus menerus!"

Naruto mengikuti intruksi Sasuke dia menyerang monster itu dengan tinjuan bertubi-tubi. Tapi monster itu tidak tinggal diam dari permukaan tubuhnya dia mengeluarkan siluman siluman yang merepotkan.

ZRAAASH

"Cara lama itu tidak berguna!" Naruto mengibaskan kesembilan ekornya ke arah monster itu hingga membuatnya terpental.

BRAK

DUARR

Naruto melesat secepat kilat kemudian memberi tinjuannya ke tubuh monster itu.

GWORR

Naruto terengah engah karena meski tinjuannya berhasil monster ini terlalu cepat beregenerasi. Naruto mendecih. Menyusahkan sekali.

GWAAAR

Monster itu kembali bangkit dan mengayunkan tangannya untuk menyerang Naruto tapi dengan cepat dia menghindarinya. Sasuke mendongak menatap Naruto begitu dia menemukan kelemahan dari monster itu, "Naruto! Serang bagian yang telah mengeluarkan yokai saat bagian lain beregenerasi! Dia tidak bisa melakukannya secara bersamaan selisihnya 30 detik! Cepat!"

Naruto tersenyum, "Aku mengerti itu sudah cukup!" Naruto kembali melesat lalu memberi serangan di lengan kiri monster itu.

GWORR!

Monster itu mengeluarkan siluman siluman sesuai perkiraan Sasuke, "Sekarang Naruto!" teriaknya.

"HYAAAA!" Naruto melompat menuju monster itu dengan cepat lalu mengumpulkan cakra berwarna hitam di tangan kanannya dan mengarahkan cakra itu ke tubuh yang mengeluarkan siluman.

GWAAAR

Naruto terus mendorong tangannya berusaha menembus tubuh sang siluman, "Matilah kau!" dan akhirnya tubuh siluman itu pun berhasil ditembus oleh Naruto.

"Naruto.." Sasuke sama sekali tidak mengdipkan matanya melihat pertarungan yang akhirnya dimenangkan Naruto. Beberapa saat setelah Naruto berhasil membuat lubang tubuh monster itupun meledak.

DUAAARR

"Hah?!" Sasuke menutup matanya saat melihat ledakan itu juga mengarah padanya. Namun akhirnya―

HUP

Sepasang tangan menangkapnya dan menggendongnya, Sasuke membuka matanya dan menatap wajah Naruto yang masih diselimuti cakra orange.

'Memganggumkan..' Sasuke pun berpegangan pada bahu Naruto.

.

.

.

Naruto menurunkannya di atas pohon untuk menghindari ledakan itu. Sasuke terkagum menatap kerusakan yang dibuat pertarungan tadi, "Menakjubkan... tapi kita berhasil." Sasuke tersenyum penuh percaya diri.

"Tentu saja, ini semua karena aku!" Naruto yang sudah kembali menjadi wujud normal menatap Sasuke dengan senyum mengejek. Sasuke mendengus, "Yah jika tanpa bantuanku, mulai sekarang jangan remehkan aku, aku ini Tuanmu."

"Yes, Sasuke-sama." lagi lagi Naruto menyeringai membuat Sasuke kesal

SHINE

Baik Naruto maupun Sasuke tiba tiba dikejutkan dengan bagian tubuh monster yang bersinar, Naruto menyiapkan kepalan tangannya berjaga jaga jika monster itu hidup lagi.

"Apa dia hidup lagi?" gumam Naruto pelan, Sasuke mengeleng, "Tidak lihatlah, jiwa jiwa yang dicuri lepas dari tubuh yang sudah rusak." ucap Sasuke sambil menujuk cahaya cahaya yang melesat meninggalkan tubuh itu.

"Kau benar... mereka adalah jiwa yang dicuri, kemana mereka pergi?"

"Ke tempat yang lebih baik." Untuk beberapa saat hutan itu dipenuhi cahaya cahaya putih yang memberi kesan tenang dan indah. Sampai akhirnya cahaya itu benar benar hilang. Tapi ada dua cahaya yang mengarah pada Sasuke dan Naruto.

Sasuke menatap dua cahaya itu dengan mata terkejut, "Rin.. Mei Baa-chan.." kedua jiwa itu tersenyum lembut pada Sasuke dan Naruto yang bersikap cuek. Sasuke membalasnya dengan senyuman manis, lagi lagi Naruto mendengus kenapa dia tidak ada manis manisnya jika bersama Naruto?

Rin dan Mei pun pergi sambil melambaikan tangannya setelah Mei mengucapkan salam perpisahan dengan mencium kening Sasuke, "Mereka sudah tenang."

"Wah wah.. dalam sehari kau sudah dapat dua ciuman ya." Sasuke tersentak dengan wajah horor, "Dua?"

"Iya dua, yokai tadi juga menciummu saat berusaha menarik jiwamu." terangnya sambil menunjukkan senyum bodohnya. Pipi Sasuke memerah kesal, kenapa Naruto membiarkan yokai itu menciumnya?! Kussso! Itu ciuman pertamanya!

"Ahahahahaha wajahmu lucu sekali Sasuke! Lihat merah seperti tomat!" Naruto tertawa terbahak bahak hingga membuat kepala Sasuke mendidih.

"Naruto.."

"Ya apa?"

"Osuwari!"

BRAK

Tubuh Naruto pun terjatuh dari pohon. Ah sepertinya dia lupa bahwa tuannya ini kejam.

Sasuke menggenggam Tsuki no Tama di balik kimononya. Ternyata memang tidak mudah, sangat tidak mudah. Tapi ini justru membuat Sasuke semakin bersemangat untuk mengumpulkanmya.

"Teme!"

"OSUWARII!"

.

.

.

Continued...

.

.

.

Helloo~ chapter 3 langsung update :'v buat next chapter keknya bakal lebih lama, tapi itu tergantung reader sekalian, soalnya author punya fic baru, judulnya Alternative World: Meet Up With SaSeme and NarUke, kalian mau ini diterusin secepatnya? Atau break sebentar buat fic baru author? Silakan sampaikan di review ^^