Just Stupid

All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

3.

November 2006

Hermione duduk di kursinya, menghela nafasnya, kopi buatan asisten barunya sama sekali tidak enak, rasanya aneh, apa ia memasukkan hal aneh kedalamnya?

"Arrghhh…" Hermione melempar gelasnya ke lantai, menimbulkan suara pecah yang keras. Ia bukan tipe orang yang kasar tapi hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Asisten barunya benar-benar menyebalkan.

Hermione berkata pada dirinya sendiri bahwa ia hanya perlu bertahan beberapa minggu lagi, berusaha menyemangati dirinya sendiri, tapi sebentar lagi ia benar-benar akan gila.

Asistennya, Lizzy, benar-benar seperti tong kosong berjalan dengan rambut pirang, dada besar, bokong besar, kulit cokelat, dan suara cempreng yang membuat kepalanya sakit.

Hermione menekan teleponnya, menghubungi asistennya.

"Lizzy, Lizzy, apa kau disana? Apa kau sudah mengambil berkas yang kuminta tadi? Lizzy! Lizzy!" Hermione menarik rambutnya ke kiri dan ke kanan, mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan emosinya, kemudian dengan cepat berjalan keluar ruangannya dan menemukan Draco Malfoy duduk di meja Lizzy dan mereka berdua sedang mengobrol sambil tertawa.

Flirting.

Hermione menelan semua kata-kata kasar yang sudah siap ia keluarkan, semuanya, ia menarik nafasnya, menyanyikan lagu kebangsaan Inggris di dalam hatinya kemudian berjalan pergi.

"Hermione!" Seseorang berteriak girang dari arah lift.

Hermione menghela nafasnya lagi. Masalah lain. Apa tidak ada satupun Slytherin yang bisa tidak memberinya masalah?

Belakangan ini, entah mengapa kerja Blaise Zabini hanya menghampirinya setiap hari, sudah lebih dari satu bulan kerjanya hanya datang dan mengajaknya keluar, makan siang, makan malam, jalan, minum kopi. Ugh.

"Hermione, kau mau kemana?" Blaise bertanya riang.

"Minum kopi." Hermione menjawab.

"Apa kau mau minum kopi bersama?" Blaise bertanya, ia melirik Draco yang –seperti dugaanya- memperhatikan mereka.

Hermione menghela nafasnya. "Apa jika aku minum kopi denganmu maka kau akan berhenti menggangguku?" Hermione bertanya.

Blaise mengangkat bahunya. "Well, aku akan berhenti mengganggumu tapi kau pasti akan merindukanku jika aku berhenti mengganggumu." Blaise berseru, ia melirik Draco kemudian merangkul Hermione dan membawanya ke arah lift dan mereka pergi minum kopi bersama. "Apa kau sudah siap merindukanku Hermione?"

"Zabini, kenapa kau terus menggangguku?" Hermione bertanya, melipat kedua tangannya dan menunggu Blaise menjawab pertanyaannya.

"Well, aku punya dua pilihan untuk pertanyaanmu." Blaise memberitahu, mengangkat dua jarinya. "Kau ingin jawaban jujur atau jawaban bohong?"

"Jawaban bohong?" Hermione bertanya.

"Aku menyukaimu." Blaise berbohong. Berbohong yang bohong.

Hermione mendengus menghina."Jawaban jujur?"

"Aku punya misi rahasia."

"Benarkan!" Hermione memetik jarinya. "Misi bodoh macam apa yang kau punya? Kenapa kau melibatkanku? Ugh, kenapa kau begitu menyebalkan?" Hermione berseru kesal.

"Well, aku tidak bisa memberitahumu detail misiku, tapi yang pasti, misi ini melibatkan nyawa orang, dua orang." Blaise menekankan kata dua orang. "Aku harus berhasil menjalankan misiku ini atau nyawa dua orang ini akan ada dalam bahaya." Blaise memberitahu, dengan wajah yang benar-benar serius.

Hermione menyipitkan matanya. "Benarkah?"

"Tentu saja, astaga Hermione Granger! Apa kau pikir aku akan berbohong tentang hal yang menyangkut nyawa seseorang? Karena itu, sebaiknya kau mengikuti saja permainanku." Blaise memberitahu. "Nanti malam, makan malamlah denganku."

.

"Aku tidak tahu apa aku melakukan sesuatu yang benar." Gumam Hermione.

Blaise tertawa. "Tenanglah Hermione, seperti yang kukatakan tadi siang, ini menyangkut keselamatan bukan hanya satu orang tapi dua orang, dan sebaiknya kau bekerja sama."

Hermione menghela nafasnya.

"Apa kau sedang berkencan dengan seseorang?" Blaise bertanya.

"Memangnya kenapa?"

"Karena jika kau sedang berkencan dengan seseorang aku sepertinya harus menjelaskan hal ini padanya. Ah, Oliver Wood!" Blaise berseru. "Kau berkencan dengan Oliver Wood?" Blaise setengah bertanya setengah menyatakan.

Hermione menggeleng.

"Tidak?"

"Tidak."

Blaise mengangguk mengerti. Ia melihat Draco dan perempuan pirang di pintu masuk.

"Nah, Hermione sekarang tertawalah yang kencang." Blaise memberi instruksi.

"Apa?" Hermione bertanya tidak percaya.

"Sudahlah, ayo tertawa saja cepat." Blaise memberitahu.

"Hahahahahahahahahaaaaaa." Blaise tertawa duluan.

"Hahahahahahahahahaaaaaa." Hermione ikut tertawa.

"Bisa kau bayangkan hal itu? Hahahahahahahahaha." Blaise tertawa lagi.

"Hahahahahahahahahaaaaaa." Hermione tertawa, tidak tahu apa yang ditertawakannya.

.

Draco berjalan ke ruangan Hermione, Asistennya sudah cuti hamil, dan sepertinya asisten barunya sedang keluar. Draco baru membuka sedikit pintu ruangan Hermione saat ia melihat Hermione sedang mondar-mandir sambil menelepon.

"Aku tahu aku tahu…. Tapi aku tidak bisa Ron, minggu ini aku harus ke Amerika untuk menyelesaikan kontrak….Ah, Malfoy ada pertemuan di tempat lain juga…. Hah…aku sudah merindukan masakan Molly, apa kau tidak bisa mengirimkan kue pai atau semacamnya kekantorku?... Hahahaha…. Baiklah baik, aku akan coba datang minggu depan…. Baiklah, tutuplah teleponnya bantu George yang benar…. Baiklah Ron, selamat siang, I love you."

Draco menghela nafasnya. Kenapa ia harus datang dan mendengar pembicaraan Granger barusan? Sekarang ia merasa bersalah. Ia menyuruh Granger ke Amerika hari minggu ini bukan karena ia ada urusan lain, tapi karena ia malas. Ia yakin kalau Granger juga tahu hal itu, tapi ia memberitahu Weasley nomor enam kalau ia ada urusan. Untuk apa berbohong dan menyelamatkan reputasinya yang sudah jelek dimata keluarga Weasley.

Draco membuka pintu ruangan Hermione.

"Granger! Apa kau sudah menyelesaikan kontrak yang kuminta tadi pagi?" Draco berjalan dan langsung duduk di kursi Hermione. Hermione yang sedang berdiri di depan jendelanya hanya bisa membuka mulutnya seperti biasa.

"Sudah, aku sudah menyuruh Lizzy memberikannya padamu." Hermione memberitahu. "Keluarlah Malfoy! Aku sedang tidak ingin mencari masalah denganmu."

"Kau tidak bisa menyuruhku keluar! Aku atasanmu, dan meskipun ini ruanganmu, tapi gedung ini adalah milikku, jadi secara teknis ruangan ini juga milikku." Draco memberitahu.

Hermione menggeleng, ia mengambil tasnya dan juga mantelnya kemudian berjalan keluar.

"Granger! Kau mau kemana?" Draco bertanya, berdiri dari kursinya.

"Aku mau makan siang." Hermione menjawab.

"Kau tidak biasanya makan siang diluar." Draco berseru. "Apa kau makan siang dengan Blaise?" Draco bertanya pelan.

"Hmm." Hermione menjawab sambil lalu.

"Sebentar Granger!" Draco berseru lagi sebelum Hermione keluar.

"Ada apa lagi?" Hermione berseru kesal.

"Minggu ini, kau tidak perlu ke Amerika, aku yang akan pergi." Draco memberitahu.

Mata Hermione membesar, tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Draco.

"Well, beritahu asistenmu untuk siap-siap, dia akan ikut denganku." Draco menambahkan lagi.

Hermione tertawa. "Baiklah, terserah anda Mr. Malfoy." Hermione lalu keluar dari ruangannya.

Hermione kira Draco tiba-tiba berubah jadi baik, ternyata ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan asistennya. Hermione menghela nafasnya dan menuju ke tempat ia janji bertemu dengan Blaise. Tidak ada gunanya memikirkan Draco Malfoy.

Draco tidak tahu kenapa ia mengatakan kalimatnya yang terakhir, kenapa ia harus menyebut-nyebut asisten Hermione yang bodoh itu? Kenapa?

.

"Apa kau ada acara malam ini?" Draco bertanya di telepon.

"Ada." Blaise menjawab.

"Acara apa? Batalkan saja! Ayo kita minum bersama." Draco memberitahu.

"Tidak bisa." Blaise menjawab.

"Memang ada acara apa sih?" Draco bertanya kesal. "Bahkan kalau kau ada acara dengan mentri sihir sebaiknya kau membatalkannya, aku lebih penting dari mentri sihir." Draco memberitahu.

Blaise tertawa pelan. "Sorry Mate, tapi Hermione lebih penting darimu." Blaise menjawab.

"Kau ada acara dengan Hermione?" Draco bertanya tidak percaya. "Bukankah kau baru makan siang dengannya?" Draco bertanya lagi.

"Iya, memangnya kenapa?" Blaise sengaja meninggikan suaranya.

"Acara macam apa?" Draco bertanya lagi.

"Kami akan makan malam bersama." Blaise memberitahu. "Kau tahu kan restoran mewah yang baru di buka di tengah Diagon Alley? Kami mau makan malam disana." Blaise sengaja memberitahu tempat mereka makan.

Draco mengeluarkan suara aneh. "Baiklah! Baik! Terserah kau saja Zabini! Jika perempuan itu lebih penting dari sahabatmu ini maka tidak masalah!" Draco berseru kesal lalu menutup teleponnya.

Draco mondar-mandir diruangannya. Apa ia harus memberikan Hermione pekerjaan lebih hari ini agar mereka tidak jadi makan malam? Ugh.

Draco menyuruh Mark membuat reservasi di restoran yang dimaksud Blaise untuk dua orang.

.

Blaise menunggu Hermione datang, mereka berjanji bertemu di depan restoran dan makan malam bersama. Ia sampai sekitar lima menit sebelum jam tujuh, dan Hermione muncul dua menit sebelum jam tujuh.

Jika saja ia tidak harus berpura-pura.

"Selamat malam." Hermione menyapa Blaise.

"Selamat malam." Blaise tersenyum, menarik tangan Hermione dan mencium tangannya.

"Berhentilah bertindak seperti itu." Hermione memberitahu, mengelap tangannya di gaunnya.

Hermione menggunakan gaun berwarna biru gelap yang sampai tepat di atas lututnya, gaunnya sederhana tapi membuatnya terlihat cantik.

Blaise tersenyum, ia mengulurkan lengannya. Hermione tersenyum dan meletakkan tangannya di lengan Blaise lalu mereka masuk ke restoran itu.

Seketika Hermione melihat pria dengan rambut pirang yang begitu dikenalinya. Draco dan Lizzy duduk di meja di tengah-tengah ruangan.

Hermione tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di antara mereka. Belakangan ini Draco dan Lizzy makin dekat, Draco sering sekali datang dan mengobrol dengan Lizzy, apa Draco menyukai Lizzy?

Tiba-tiba Hermione kehilangan rasa percaya dirinya, ia melihat Lizzy yang menggunakan dress berwarna hijau, terbuat dari satin dan menunjukkan bagian-bagian tubuhnya yang bagus.

Blaise bisa melihat Hermione yang memandang ke arah Draco dan Lizzy, ia bisa melihat Hermione yang tiba-tiba mencengkram sisi samping gaunnya.

Blaise menghela nafasnya. Draco Malfoy brengsek.

Blaise merangkul Hermione. "It's okay, you're more beautiful than her." Blaise kemudian menuntun Hermione ke meja mereka dan melewati meja Draco dan Lizzy.

"Ah, Draco…" Blaise pura-pura terkejut melihat Draco.

"Blaise." Draco menyapa Blaise. "Ini Lizzy." Draco mengenalkan Lizzy.

"Oh, iya aku tahu, ia asistennya Hermione kan?" Blaise bertanya. Mempererat rangkulannya di bahu Hermione.

"Ini Hermione." Blaise memperkenalkan Hemione pada Draco. "Ah, kalian sudah kenal ya? Aku lupa." Blaise berseru, membuat Hermione tersenyum.

"Kalau begitu kami mau ke meja kami dulu." Blaise berkata lagi. "Have a nice dinner."

Blaise menuntun Hermione ke meja mereka. Ia menarikkan kursi untuk Hermione lalu sengaja melirik Draco sebelum duduk.

Tepat seperti dugaannya, Draco sudah masuk ke dalam perangkapnya, dengan bodohnya temannya itu datang ke sini dan membawa perempuan terdekat yang bisa ditemukannya.

Lizzy. Blaise sudah memperhatikan hal ini beberapa minggu belakangan ini. Ia menjalankan rencana besar Theo dan datang hampir setiap hari untuk mengajak Hermione keluar, setelah Draco tahu kalau Blaise datang untuk menemui Hermione tingkat keseringan Draco mengunjungi Lizzy juga semakin tinggi.

Sampai pada tahap ini mereka masih berjalan ke jalur yang tepat. Draco jelas-jelas cemburu, setiap Blaise datang maka Draco akan meliriknya garang setiap Hermione pergi minum kopi atau makan siang dengannya Draco akan memerah, Draco jelas-jelas kesal.

Hanya saja caranya mengungkapkan rasa cemburunya salah, ia terus menerus menempel pada Lizzy, menebar-nebar pesonanya pada Lizzy, dan sepertinya juga sengaja membuat Hermione cemburu.

Dan akhirnya Blaise sampai pada satu kesimpulan.

Blaise tahu kalau Draco tahu.

Tapi Hermione tidak tahu.

Dan setelah malam ini, setelah ia melihat Draco juga mengajak Lizzy makan malam, ia takut Draco melangkah terlalu jauh nantinya, ia takut kalau Draco lagi-lagi melakukan hal yang salah karena harga dirinya melarangnya, jadi setelah malam ini ia akan langsung bicara pada Draco.

.

Draco merasa kepalanya akan pecah, setiap kali ia melirik Hermione dan Blaise mereka berdua pasti sedang bicara dengan seru atau sedang tertawa. Sementara asisten Hermione yang ada didepannya bahkan tidak tahu nama tengah mentri sihir mereka.

Draco sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi, kenapa ia dengan mudahnya menyuruh Mark membuat reservasi dan mengajak Lizzy kemari hanya karena mendengar Blaise dan Hermione akan makan bersama disini. Ia tidak cemburu, untuk apa?

Memangnya Hermione Granger itu siapa?

-Flashback-

Draco lelah sekali, mulutnya terutama, ia sudah mengeluarkan semua jurusnya untuk membujuk Hermione Granger agar tetap bekerja di perusahaannya tapi perempuan itu tetap menolak dan tidak bergeming.

Dan sekarang Hermione sudah tertidur. Perempuan itu tertidur sambil duduk di matras yang dibuatnya sendiri tadi, melipat kedua tangannya dan meluruskan kakinya. Bagaimana seorang perempuan bisa dengan mudahnya tidur di tempat asing?

Draco melihat Hermione dari atas kasur. Hermione menolak tidur di kasur, maka ia yang menggunakan kasur itu. Draco menggeleng, ia pasti sudah gila. Draco bangun dari kasur dan berjalan mendekat ke arah Hermione.

Draco melepas mantelnya lalu menggunakannya untuk menyelimuti Hermione, ia kemudian duduk disamping Hermione dan dengan perlahan menarik kepala Hermione agar bersandar di bahunya.

"Hah…" Draco menghela nafasnya.

Ia kemudian memperhatikan Hermione dari ujung kepala sampai ujung kakinya, bagaimana mungkin bahkan jari-jari kakinya terlihat cantik? Apa ini adil? Bagaimana mungkin seseorang terlahir begitu sempurna? Apa Merlin sengaja meledeknya?

Hermione kemudian bergumam tidak jelas. Draco tertawa pelan.

Ia masih ingat saat pertama kali mereka bertemu. Seorang anak perempuan, dengan rambut panjang dan berantakkan berjalan di gerbong kereta, mencari seekor katak bodoh. Draco ingat apa yang dipikirkannya saat pertama kali melihat Hermione.

Wah… cantik sekali.

Bahkan saat baru berumur sebelas tahun ia sudah merasa kalau Hermione perempuan paling cantik yang pernah ditemuinya.

Draco menghela nafasnya lagi.

-End of Flashback-

"Draco… kau dengar aku tidak sih?" Lizzy bertanya, kesal dari tadi Draco tidak memperhatikannya.

.

Narcissa baru membaca surat yang dikirimkan Blaise, ia mengatakan kalau rencana mereka berjalan lumayan lancar, hanya saja rencananya berjalan sedikit lambat.

"Ada apa?" Lucius bertanya, melihat wajah istrinya yang terlihat tidak tenang.

Narcissa kemudian memberikan surat itu pada Lucius. "Tenanglah, ini bukan hal yang harus kau kuatirkan." Lucius memberitahu.

"Aku tidak bisa berhenti kuatir! Kita tidak punya banyak waktu, sebentar lagi bulan Desember, kita bahkan hanya punya waktu kurang dari 35 hari, apa yang harus kita lakukan jika rencana ini gagal? Ah…Anakku yang malang." Narcissa berseru sedih.

Lucius menggeleng. Ia berpikir sebentar. "Haruskah kita beritahu saja Miss Granger tentang ramalan ini?" Lucius bertanya.

Narcissa menggeleng. "Kalau kita memberitahu Hermione, sama saja seperti kita mendahului takdir, seperti kita sengaja mewujudkan ramalan itu, ah, aku bingung bagaimana menjelaskannya, tapi kita tidak bisa memberitahu Hermione begitu saja, akan ada hukum alam yang dilanggar."

Lucius menggeleng. "Bukankah selama ini, dengan kita melakukan berbagai rencana untuk menyatukan mereka juga termasuk melanggar hukum alam?" Lucius bertanya, tidak mengerti tentang divination sama sekali.

Narcissa menarik nafasnya, malas menjelaskannya pada Lucius.

"Bagaimana jika kita memberitahu Draco?" Lucius bertanya lagi.

Narcissa menggeleng.

Lucius kemudian mengangkat bahunya. "Yah, Well, kurasa aku harus mulai mempersiapkan diriku untuk apa yang akan datang, kalau-kalau garis keturunan keluarga Malfoy berakhir di Draco."

Narcissa menggeleng sedih. Suaminya tidak berubah sama sekali, yang ada dipikirannya hanya garis keturunan dan hal-hal bodoh lainnya, Narcissa tahu kalau mereka hanya menginginkan keturunan dari Draco, maka Draco bisa memberikan mereka cucu dari perempuan manapun. Tapi Narcissa ingin Draco menikah karena cinta.

Ia tidak mau Draco bernasib sama dengan mereka. Ia tidak mau Draco berada di dalam pernikahan yang tidak dilandasi cinta. Ia tidak mau Draco merasa kalau dirinya hanya sebuah mesin pembuat anak.

Narcissa benar-benar ingin Draco menikah karena cinta.

.

Blaise datang ke kantor Draco lagi hari ini. Ia tidak langsung menuju ke ruangan Hermione tapi langsung menuju ke ruangan Draco.

"Apa yang kau lakukan disini?" Draco bertanya, sewot begitu melihat Blaise memasuki ruangannya dan duduk disofanya.

"Aku ingin berkunjung memangnya tidak boleh?" Blaise bertanya.

"Kurasa kau salah ruangan, ruangan Granger satu lantai dibawah lantai ini." Draco berkata sambil lalu, berusaha fokus pada berkas-berkas yang ada di depannya.

"Mate, aku ingin membicarakan sesuatu padamu." Blaise berkata, nadanya serius.

"Kenapa? Kau ingin mengencani Hermione? Menikahinya? Silahkan, tidak ada peraturan yang melarang karyawan perusahaan kami untuk menikah." Draco menjawab.

"Yah, Well, kalau begitu masalahku sudah selesai." Blaise bercanda, ia berdiri dari sofa yang didudukinya.

"APA?" Draco bertanya tidak percaya.

Blaise tertawa, ia duduk lagi. "Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting."

Draco menghela nafasnya, ia meletakkan berkas yang dipegangnya kemudian duduk di sofa tepat di depan Blaise.

"Apa?" Draco bertanya.

"Aku tahu kau tahu." Blaise menjawab.

"Tahu apa?" Draco bertanya ketus.

"Aku tahu kau tahu kalau kedua orangtuamu ingin kau dan Granger berkencan, menikah, punya anak dan lain-lain." Blaise berkata langsung.

"Lalu? Jika kau tahu kalau aku tahu? Terus apa?" Draco bertanya, melipat kakinya.

"Kenapa kau tidak mendekati Granger?" Blaise bertanya. Ia sebenarnya benar-benar penasaran tentang hal ini, ia tahu kalau Draco menyukai Hermione, tapi kenapa Draco tidak melakukan apa-apa tentang perasaannya?

Blaise juga sudah memikirkan apa saja kemungkinan jawaban yang akan dilontarkan Draco, dan ada satu jawaban, satu jawaban buruk, yang Blaise berharap sekali tidak akan pernah diucapkan Draco, bahkan di mimpi terburuknya sekalipun.

"Aku tidak menyukainya." Draco menjawab. "Siapa yang menyukai perempuan macam Granger?" Draco tertawa. "Rambutnya berantakkan, giginya besar, selera berpakaiannya buruk, tempramennya lebih buruk lagi, ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya perempuan, bagaimana mungkin aku menyukai perempuan semacam itu? Dia bukan tipeku."

Blaise tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai meneteskan air mata, setelah tawanya reda ia kemudian bicara pada Draco. "Draco… Draco… aku tahu kau seorang aktor yang hebat, bagaimanapun juga kita seorang Slytherin, berbohong adalah skill dasar yang dimiliki semua Slytherin, tapi aku tidak pernah menyangka kalau kau semenyedihkan ini!"

Draco menaikkan alisnya, tidak mengerti.

"Kau hebat sekali!" Blaise mengangkat kedua ibu jarinya. "Kau bisa membohongi dirimu sendiri seperti itu! Luar biasa!" Blaise kemudian membalikkan kedua ibu jarinya menjadi menghadap ke bawah.

"Aku tahu persis bagaimana pendapatmu tentang Hermione! Aku bahkan tahu dari hari pertama kau melihatnya di kereta, di tahun pertama kita di Hogwarts, aku tahu kau merasa Hermione sangat cantik, rambutnya yang cokelat, matanya yang hangat, senyumnya yang indah. Hell, kau bahkan menggumamkan namanya dalam tidurmu hampir setiap malam, meskipun di tahun ke enam kau lebih sering menggumamkan nama Dark Lord dibanding Hermione, aku tahu kau menyukainya Malfoy! Apa kau pikir aku bodoh?" Blaise berkata penuh kemenangan.

"Aku ingin alasan yang sesungguhnya Draco! Kenapa kau tidak mendekati Hermione?" Blaise bertanya.

Draco menarik nafasnya, kemudian membuangnya. "Bukankah itu sudah jelas Blaise? Hermione Granger adalah seorang mudblood."

Blaise menutup matanya.

Sayang sekali alasan yang paling tidak ingin didengarnya malah terdengar nyaring ditelinganya.

.

Blaise mengumpulkan semua orang di rumahnya. Theo, Narcissa, Lucius, Harry, dan Ginny.

"Selamat malam semuanya." Blaise memulai pertemuan mereka. "Maaf mengganggu kalian semua, tapi aku mengadakan pertemuan darurat ini karena ada hal penting yang harus kusampaikan."

"Ada apa Blaise? Tidak ada sesuatu yang terjadi kan?" Narcissa bertanya, mulai kuatir.

"Aku merasa rencana ini tidak bisa dilanjutkan lagi, aku tidak bisa menjelaskan alasan utamanya, karena hal ini berhubungan dengan privasi Draco." Tentu saja ia tidak bisa mengatakan pada seisi ruangan kalau Draco masih menganggap Hermione sebagai seorang mudblood, Harry Potter bisa membunuh mereka langsung begitu tahu.

"Karena itu aku keluar dari tim ini, aku tidak ingin lagi terlibat dalam rencana kalian untuk mempersatukan Draco dan Hermione." Blaise memberitahu.

"Kenapa?" Ginny bertanya tidak mengerti. "Well, kalau rencana ini gagal, kita masih bisa mencari rencana lain. Kau tidak perlu mundur segala, kami butuh bantuan." Ginny berseru putus asa.

Blaise menggeleng. "Aku tidak akan menjadi bagian dari rencana kalian lagi." Blaise memberitahu. "Aku akan mengejar Hermione mulai saat ini. Persetan dengan cinta sejati Draco! Persetan dengan ramalan bodoh itu."

.

Hermione menghabiskan akhir pekannya di rumahnya, ia membersihkan semua sudut-sudut rumahnya, merapikan buku-bukunya, melipat baju-bajunya, mencuci pakaian kotornya, mengganti seprai dan gordennya, mem-vacuum sofa dan karpetnya, menulis surat kepada seluruh teman lamanya yang sudah lama tidak dikiriminya surat.

Ia baru selesai pukul tujuh malam dan sedang meregangkan tubuhnya di sofanya sambil memperhatikan acara tv.

Hermione menghela nafasnya.

Rumah ini adalah salah satu fasilitas yang di dapatkannya dari Malfoy Enterprise, ia benar-benar menyukai tinggal disini, rumah sederhana dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan halaman kecil yang ditanaminya tanaman Herbal.

Ginny sering sekali meledeknya karena tanaman herbal itu, berkata bahwa tanaman herbal adalah tanaman yang ditanam nenek-nenek, seorang perempuan single harusnya menanam bunga mawar atau semacamnya.

Ia merasa nyaman berada disini, di rumahnya selama kurang hampir dua tahun ini, dan ia sedih akan segera meninggalkan rumah ini. Kalau ia berhenti bekerja di Malfoy Enterprise, otomatis semua fasilitas-fasilitas yang di dapatnya, seperti rumah, mobil harus dikembalikannya.

Hermione menghela nafasnya.

Hermione kemudian mengambil ponselnya dan menelepon bawahannya dulu saat ia masih di kementrian, kalau tidak salah bawahannya itu sekarang sudah jadi wakil kepala departemen hubungan Muggle.

"Halo…. Eva… ah iya, selamat sore…. Ah aku baik, kau bagaimana?... Hahahaha… ah, sebenarnya aku butuh bantuanmu. Apa kau bisa membantuku memperpanjang pasporku? Dan aku butuh visa ke beberapa negara." Hermione memberitahu.

-To Be Continued-

Aku berterimakasih atas review yang kalian berikan, berterimakasih banyak. Tapi, kalian tidak perlu me-review kalau kalian merasa itu cuma buang-buang waktu kalian dan ujung-ujungnya meninggalkan sesuatu yang tidak bermakna.

Selama ini aku minta kalian review karena aku senang mendengar apa yang ada di pikiran kalian, aku senang mendengar pendapat kalian tentang tulisanku, baik itu kritik atau saran, sekedar meminta untuk chapter berikutnya lebih menyenangkan dibaca daripada : Type your review here.

Seriously, aku bukan pengemis.

aquadewi…. I'm tempted… seriously… haruskah kubuat cerita ini jadi sad ending? Muahahahahahahahahahahahahahahahahaha

-dramioneyoja