warning(s) : drugs use, alcohol use, explicit language, campur sari language, recehness, recehness, recehness.
Tolong dibaca peringatannya dengan seksama yah! FF ini ratenya M karena semua hal yang saya sebutin di warning~ (kerecehan saya juga termasuk)
Enjoy!
Chapter 3
.
.
Beijing, 5 tahun yang lalu
Shixun menatap sesosok lelaki berbadan tegap di hadapannya, lelaki itu menyeringai dan tangannya terulur untuk menunjukkan sekantung heroin di genggamannya. Shixun terlihat ragu-ragu ketika ia menyadari bahwa lelaki itu sedang memberinya narkoba.
"Cobalah."
Lelaki berambut pirang itu menggigit bibirnya dengan resah. "Tidak apa-apa?"
"Santai saja," lelaki itu kini menarik tangan Shixun dengan kasar dan kemudian ia meletakkan heroin itu di tangan Shixun. "Ayahmu tidak akan tahu tentang ini."
"Serius?"
"Kapan aku pernah berbohong kepadamu?"
Shixun menghela nafasnya, "aku mempercayaimu, Mark, tapi—"
Mark kemudian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Shixun agar lelaki itu berhenti berbicara, "tidak usah berbicara lagi, kita berdua sama-sama membutuhkan pelarian dari kehidupan kita yang memuakkan ini, drugs adalah salah satu pelarian yang tepat bagi kita."
"Aku bahkan belum pernah merokok atau meminum alkohol!" Protes Shixun.
"Terkadang, kau harus memulai dari yang paling ekstrim terlebih dahulu." Mark mengangkat bahunya dengan cuek. "Cobalah." Ia mendesak Shixun yang hanya memandangi heroin itu dengan tajam, sebelum kemudian ia mulai menyobek bungkusan plastik yang menahan heroin itu dengan cepat.
.
Guangzhou
"Aku tak menyangka kalau kau juga pergi ke El Dorado." Shixun terkejut ketika ia melihat Luhan, sahabat kecilnya, kini sedang berjalan menuju tempatnya duduk di ruangan kecil nan pengap yang terletak di El Dorado, klub yang kata Mark sering ia kunjungi. "Siapa yang mengajakmu?"
"What the—apa yang kau lakukan Luhan?"
"Aku?" Luhan menunjuk dirinya sendiri sambil menghempaskan dirinya di atas sofa. "Bersenang-senang, tentu saja. El Dorado sudah seperti rumah kedua bagiku."
"Dan kau tidak pernah mengatakannya kepadaku?" Pandangan Shixun menyipit ketika ia melihat Luhan yang terkekeh. "Kau jahat!"
Kini Luhan tertawa, "habisnya ku kira kau anak baik-baik yang tidak menyukai dunia malam, tetapi ternyata kau bahkan sudah pernah mencoba heroin."
"Yah, ternyata aku tidak sebaik kelihatannya, kan?" gerutu Shixun. "Daripada berusaha untuk menjadi anak baik yang di idam-idamkan ayah, lebih baik aku jadi berandalan saja sekalian."
"Kau ini suka sekali ya membuat Papa Wu terkena serangan jantung," Luhan menatap Shixun dengan alis yang terangkat.
Shixun menghembuskan asap rokok keluar dari mulutnya sebelum menjawab, "screw him! Aku tidak peduli lagi." Kemudian ia memejamkan kedua matanya.
.
Beijing
Sudah lebih dari setahun semenjak Mark untuk pertama kalinya memperkenalkan Shixun dengan yang namanya 'dunia malam' dan sampai sekarang belum ada yang mengetahui kebiasaan Shixun yang suka keluar malam dan berpesta ria, bahkan Sehun di Korea sana pun belum tahu. Shixun masih ragu untuk memberitahukan adik kembarnya itu tentang kelakuan bandelnya ini, meskipun ia tahu, Sehun tidak akan menjudgenya.
Luhan : Kau tidak datang ke El Dorado malam ini?
Shixun tersenyum kecil ketika ia melihat pesan yang dikirimkan oleh Luhan kepadanya.
Shixun : Aku sedang berada di Beijing, sampaikan salamku untuk yang lain
Luhan : Fine, aku tidak mau bertanggung jawab kalau kau sakau malam ini
Shixun : Tidak akan
Lelaki berambut pirang itu kini hanya menatap langit malam dari jendela kamarnya yang terletak di lantai dua mansion milik sang kakek. Di sela-sela jarinya terselip rokok yang terbuat dari ganja, Mark dan Luhan sudah mengajarinya untuk membuat joint dari ganja minggu lalu dan Shixun tidak bisa mempungkiri bahwa smoking weed lebih menyenangkan di banding rokok biasa. Maka dari itu, ia dengan susah payah menyelundupkan sekantung ganja, beberapa bungkus kertas untuk joint, 2 botol gin, dan 1 gram kokain ke dalam pesawat pribadi keluarganya karena sang ayah dengan mendadak menyuruhnya untuk ikut pergi ke Beijing.
Shixun menghela nafas sebelum tangannya meraih sebotol gin kemudian ia meneguk isinya sampai habis, kepalanya mulai terasa berputar dan Shixun kemudian dengan lemas menghempaskan dirinya ke atas kasur, dengan tangan kanan yang memegang rokok dan tangan kiri yang memegang botol gin. Ia kemudian terkekeh sendiri, ketika membayangkan apa reaksi sang kakek dan sang ayah ketika mereka mengetahui kelakuan Shixun yang sekarang ini.
"Fuck, mereka juga tidak akan peduli." Shixun bergumam.
Sudah satu jam berlalu dan kini kedua botol gin yang ia bawa sudah kosong dan puntung rokok bersebaran di lantai kamarnya. Kini Shixun sedang terduduk di meja belajarnya, kepalanya menunduk, sibuk untuk menghirup kokain dari hidungnya. Kepalanya begitu pusing dan tubuhnya terasa melayang, hingga ia tidak menyadari bahwa pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sesosok lelaki tinggi yang menatapnya dengan terkejut.
"Shixun?" Suara lelaki itu diliputi dengan ketidak percayaan. "Ap-apa yang kau lakukan?"
Shixun yang sedang high kemudian memutar kursi belajarnya hingga kini kedua lelaki itu berhadapan, "halloooo Yifan ge!"
Lelaki yang ternyata Yifan itu dengan segera berjalan untuk menghampiri Shixun, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat botol gin dan puntung rokok berceceran di lantai kamar keponakannya itu.
"What the fuck, Wu Shixun?! Kenapa ada rokok dan alkohol di kamarmu?!" Mata Yifan semakin membesar ketika ia melihat setumpuk kokain di meja belajar Shixun. "Apakah itu kokain?!"
Shixun kini terkikik, "waahh…gege mau juga?" Tangannya kemudian bergerak untuk mengambil segenggam kokain lalu kemudian dengan lemas melemparkannya kepada Yifan hingga berceceran di atas lantai. "Itu sangat bagus untuk menghilangkan stress, heheheh."
Yifan hanya tertegun ketika ia melihat keponakannya itu kini tertawa sendiri sambil menggoyang-goyangkan kakinya di kursi, ia sangat terkejut dan tentunya sangat marah akan kelakuan Shixun yang kini sudah kelewatan baginya. Memang anak itu suka sekali bertengkar dan bermasalah di sekolahnya, namun ia tidak menyangka kalau keponakannya itu ternyata sudah sejauh ini.
"Bangun," Yifan dengan paksa menarik tangan Shixun agar lelaki itu bangun dari duduknya, namun Shixun tetap keukeuh dengan posisinya. "BANGUN WU SHIXUN!"
Shixun kini menatapnya dengan kesal, "jangan sentuh aku, sialan!" Kemudian dengan sempoyongan Shixun mendorong Yifan lalu ia berjalan menuju kasurnya.
"Shixun!" Yifan berteriak namun tidak di hiraukan oleh lelaki yang kini sudah berbaring di atas kasur berukuran king size itu. Jadi yang Yifan lakukan adalah menyusul keponakannya itu dan kemudian mengangkat tubuhnya dengan bridal style.
"TURUNKAN AKU SIALAN!" Shixun berontak di dalam gendongannya, namun Yifan tidak mempedulikannya. Ia berjalan menuju kamar mandi, kemudian ia melemparkan tubuh keponakannya itu ke dalam bathtub dan menyalakan airnya, membuat Shixun berteriak-teriak sambil menendang-nendang air yang kini mulai memenuhi baththub.
"KELUARKAN AKU! KELUARKAN AKU!" Yifan harus bersusah payah untuk menahan tubuh Shixun yang memberontak.
"Tidak sampai kau sadar akan perbuatanmu, Wu Shixun!" Yifan menggeram, "kau benar-benar sudah keterlaluan kali ini!"
Kalimat itu berhasil membuat Shixun terdiam, namun lelaki itu malah tertawa dengan keras membuat Yifan terkejut. "Keterlaluan katamu?!" Mata Shixun yang menatap Yifan terlihat membara, "Kelakuan ku ini keterlaluan menurutmu?!" Pekik Shixun.
"Shixun—"
"KALAU KAU MENGANGGAP INI SEMUA KETERLALUAN, SALAHKAN AYAH YANG TIDAK PERNAH PEDULI DENGANKU, SALAHKAN IBU YANG DENGAN GAMPANGNYA MENINGGALKANKU DAN MEMISAHKAN SEHUN DARIKU, SALAHKAN KAKEK YANG SELALU MENEKAN DIRIKU AGAR MENJADI CUCU IDAMANNYA, SALAHKAN JUGA DIRIMU SENDIRI YANG SELALU MEMBUATKU MERASA BERSALAH KARENA MENYUKAI PAMANKU SENDIRI. INI SEMUA SALAH KALIAN!" Shixun berteriak sangat kencang sekali hingga rasanya seluruh penghuni rumah akan mendengarnya.
"INI SEMUA SALAH KALIAN!" Air mata satu persatu mulai meluncur keluar dari manik gelap milik Shixun yang kini tertutup, wajahnya ia sembunyikan di antara kedua kakinya yang tertekuk sementara tangannya dengan kasar meremas-remas surai emasnya dengan frustasi. "Ini semua salah kalian." Suara lelaki itu kini di selingi dengan isakan.
Amarah Yifan langsung runtuh saat itu juga, meskipun ia tetap tidak bisa menyembunyikan kekecewaan di dalam dirinya. Namun kedua tangan lelaki itu kini bergerak untuk melingkari tubuh Shixun yang sudah basah, tidak lupa Yifan mematikan keran air yang dari tadi mengalirkan air untuk mengisi bathtub, membuat suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara isakan Shixun yang terdengar pilu.
Yifan dengan lembut mengelus-elus kepala keponakannya itu sambil membisikkan kalimat-kalimat penenang yang membuat isakan Shixun mulai mereda. Meskipun ia tidak bisa mengenyahkan perkataan Shixun tadi dari pikirannya.
'salahkan juga dirimu sendiri yang selalu membuatku merasa bersalah karena menyukai pamanku sendiri.'
"Shixun?" Yifan bertanya, namun ia tidak mendapat jawaban dari lelaki itu karena tanpa sadar Shixun sudah tertidur.
Lelaki yang lebih tua menghela nafas, kemudian ia menyibak poni yang menutupi dahi Shixun lalu dengan perlahan ia mengecup kening keponakannya itu.
"Kau lebih berharga dari apapun di dunia ini, Shixun. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik."
.
.
Seoul, 2 tahun yang lalu
Sehun kini sedang menyantap makan malamnya dengan perlahan, sementara di seberang meja, ibunya sibuk meneguk wine sambil memperhatikan gerak-geriknya.
"Sehun," suara ibunya terdengar merdu namun berbahaya, "apa hubunganmu dengan Park Chanyeol itu?"
Sehun berhenti menyantap makanannya selama sedetik kemudian ia melajutkannya lagi secepat itu juga. "Hanya teman dekat."
"Benarkah?" Sang ibu kemudian menuangkan anggurnya lagi ke dalam gelas miliknya, "kau tidak berbohong kepada ibumu kan, sayang?"
Sehun berusaha untuk tidak tersenyum kecut di depan sang ibu, ia mengangkat kepalanya untuk bisa bertatap wajah dengan ibunya yang sedang memandanginya dari balik gelas. "Tentu saja, kapan aku pernah berbohong kepada ibu?"
Ibunya tersenyum, dan Sehun harus akui, tidak salah jika ibunya mendapat julukan sebagai wanita tercantik di Korea. Ibunya memang cantik, kecantikannya tidak memudar seiring berjalannya waktu, she's like a walking goddess, dan karena kecantikannya itulah ayahnya terpikat oleh ibunya bertahun-tahun yang lalu.
"Kau selalu membuatku bangga, Sehun." Ibunya mengangkat dagunya dengan anggun, "jangan pernah mengecewakanku."
"Tidak akan pernah." Sehun tersenyum kepada ibunya, dengan senyuman yang tak kalah memikat. "Aku sudah selesai, selamat malam ibu." Tanpa menunggu balasan dari sang ibu, Sehun kemudian berlari menuju kamarnya, tidak ingin berlama-lama berada di satu ruangan yang sama dengan sang ibu.
'Hello georgeus.'
Sehun memekik senang ketika ia mendengar suara seseorang dari telfonnya. "Chanyeol hyung!"
Chanyeol tertawa di seberang sana, 'sudah makan malam?'
"Baru saja selesai." Sehun berkata sambil tersenyum, "hyung…ada sesuatu yang inginku katakan."
'Katakan saja, jangan ragu-ragu.'
Sehun menggigit bibirnya dengan ragu, ia tidak tahu bagaimana menyampaikannya kepada Chanyeol. "Uh…ibuku mulai mencurigai hubungan kita."
Keheningan yang cukup panjang membuat Sehun khawatir, bagaimana jika Chanyeol ingin mereka putus? Bagaimana kalau Chanyeol kecewa lalu meninggalkannya? Bagaimana—
'Kau baik-baik saja?' Suara Chanyeol malah terdengar khawatir.
Sehun tersenyum, lega karena Chanyeol tidak memintanya untuk putus. "Aku lebih dari baik-baik saja, justru aku yang khawatir dengan hyung."
'Hey! Kau tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Malah aku yang harusnya khawatir karena nilai-nilaimu yang tidak pernah turun, mengancam beasiswa ku saja."
Sehun tertawa, Chanyeol memang bukan murid yang berasal dari kalangan menengah ke atas, ia berhasil masuk ke sekolah Sehun karena beasiswa dan meskipun begitu lelaki itu tidak pernah sekalipun terlihat sedih. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kesedihannya, membuat Sehun semakin gencar untuk mendekatinya.
"Hyung tidak usah khawatir," Ujar Sehun. "aku bisa saja mengalah jika beasiswamu terancam."
'Lalu kau tidak mendapatkan beasiswa ke Inggris yang selama ini kau impikan itu?' Suara Chanyeol penuh dengan ketidaksetujuan. 'Tenang saja, meskipun peringkatmu selalu berada di atasku, aku tidak akan memutuskanmu kok.'
"Yang benar?"
'Serius.' Sehun tersenyum lembut mendengar suara berat Chanyeol yang selama ini selalu berhasil menenangkannya. 'Asalkan kau tidak selingkuh dariku ketika kau di Inggris nanti.'
"Mana mungkin aku selingkuh dari kekasihku yang paling tampan ini." Chanyeol terkekeh mendengar perkataan Sehun, dengan suara yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta kepada lelaki caplang itu lagi dan lagi. "Lagipula bukankah kita sudah saling berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain?"
.
.
"Perhatian semuanya! Dengarkan aku berbicara!"
Shixun yang sedang mendengarkan Baekhyun dan Chen cekcok kini memusatkan perhatiannya kepada Suho yang berteriak-teriak menggunakan toa.
"Hey, Jongdae! Kau tidak lupa bawa kolor lagi kan?" Seseorang berteriak dari kejauhan, membuat wajah Chen memerah malu dan seluruh murid kompak menertawakannya.
"Diam kau Hoseok!" Balas Chen, "jangan-jangan kali ini kau yang lupa bawa kolor!" Kini giliran wajah Hoseok yang memerah. Sehun pernah bercerita, tahun lalu ketika mereka berkemah, Chen baru sadar kalau ternyata dia tidak bawa daleman alias kolor ketika mereka sudah sampai di lokasi kemah.
Shixun hanya bisa menahan tawanya ketika ia melihat Suho yang menghela nafas pasrah sambil menatap segerombolan bocah lelaki yang tidak mau diam. Bus mereka kini sudah sampai di lokasi perkemahan sekitar 30 menit yang lalu, Suho dengan susah payah telah mengarahkan seisi bus untuk menurunkan barang-barang yang akan mereka gunakan nanti. Meskipun begitu, belum ada tanda-tanda bus yang berisikan para murid perempuan akan sampai.
"DENGARKAN AKU SEMUANYA!" Kesabaran Suho nampaknya sudah habis sekarang, membuat seluruh peserta kemah diam seketika. Suho yang marah adalah hal terakhir yang ingin mereka lihat sekarang.
"Bagus," lelaki itu tersenyum puas. "Mulai saat ini, kita semua akan di bagi menjadi beberapa kelompok. Aku akan bacakan nama ketua dan anggota kelompoknya. Untuk pembagian tenda, silahkan tentukan bersama ketua dan anggota kelompoknya masing-masing."
Shixun menegang ketika ia mendengar hal itu, ia tidak tahu ingin setenda dengan siapa. Menurut cerita Sehun, adiknya itu paling dekat dengan Suho, jadi mungkin nanti dia akan meminta Suho untuk setenda dengannya. Dalam hati ia terus-terusan berdoa agar penyamarannya tidak akan terbongkar di sini, mengingat teman-teman Sehun terlalu hiperaktif, sedikit kesalahan saja pasti mereka akan langsung curiga dengannya.
"Nah, selanjutnya kelompokku akan berisi Baekhyun, Chen, Sehun, Chanyeol, Kyungsoo, Minseok dan tentu saja aku. Sisanya akan berada di kelompok terakhir dengan Namjoon sebagai ketuanya." Semua orang langsung berkumpul sesuai kelompoknya masing-masing.
"INGAT!" Semua sontak menoleh kepada Suho yang ternyata belum selesai berbicara, "jangan sampai ada yang melanggar peraturan. Terutama peraturan mengenai jam malam, KARENA JIKA AKU MENEMUKAN ADA YANG KELUAR TENDA SAAT JAM 9 KEATAS, NISCAYA ORANG ITU TIDAK AKAN SELAMAT DARI AMUKANKU!" Suho berteriak bak naga yang sedang menyemburkan api dari mulutnya.
Semua hanya terdiam.
"Lalu," Suho menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali berteriak. "JANGAN SAMPAI TERPISAH DARI KELOMPOK MASING-MASING! Kejadian tahun lalu jangan sampai terulang kembali, dimana ada seseorang yang hilang, terpisah dari kelompoknya karena sibuk nyari kolor!" Koar Suho sambil menatap Chen dengan ganas sementara Chen hanya tersenyum malu.
Ya, tahun lalu, kelompok Suho gempar hingga hampir membuat sang ketua pingsan berdiri karena Chen di kabarkan hilang ketika mereka sedang bersiap-siap untuk hiking, usut di usut, Chen ternyata sedang berlarian ke sana kemari dengan heboh karena sibuk meminjam kolor dari kelompok lain.
"Dan juga, bagi pasangan kekasih yang akan berada di satu tenda yang sama, sangat di harapkan untuk tidak mengeluarkan suara yang aneh-aneh yang dapat mengganggu peserta yang lain!" Beberapa orang tertawa mendengarnya, sementara Shixun bergerak-gerak tidak nyaman.
"Sehunnie kita sekelompok!" Teriak Baekhyun sambil berusaha untuk merangkul Shixun yang jauh lebih tinggi darinya.
Shixun hanya tersenyum untuk membalas perkataan Baekhyun, namun nampaknya lelaki itu tidak menyadarinya karena sekarang ia sedang sibuk adu mulut dengan Chen.
"Baekhyun, Sehun, dan Minseok kalian satu tenda. Chanyeol dan Jongdae satu tenda juga." Suho mengumumkan yang di balas dengan kekehan yang keluar dari mulut Baekhyun dan Chen.
"Lalu kau dan Kyungsoo akan setenda?" Tanya Chen dengan alis yang naik turun dengan jahil. "Serius? Kalau begini sih, sepertinya suara-suara anehnya akan keluar dari tenda kalian."
Semua orang yang berada di sekitar mereka mulai tertawa mendengar perkataan Chen, Suho sudah maju dan memelototi Chen namun gerakannya di hentikan oleh Kyungsoo yang menatapnya dengan pandangan tidak setuju.
"HAH!" Kini Baekhyun yang bersuara. "Aku berani bertaruh, ketika perkemahan ini selesai pasti Kyungsoo yang akan gendong anak duluan."
Wajah Kyungsoo kini memerah, entah karena amarah atau malu. "BYUN BAEK—"
"Bukan hanya satu anak Baek! Tiga!" Chen menimpali, lalu kedua orang itu tertawa-tawa heboh.
Asap mulai keluar dari kepala dan hidung lelaki yang bernama asli Kim Junmyeon itu, menandakan jika ia sedang murka. "TENDA DI UBAH. BAEKHYUN DAN CHEN! KALIAN SATU TENDA! MINSEOK HYUNG BERSAMAKU DAN KYUNGSOO LALU SEHUN BERSAMA CHANYEOL! KEPUTUSANKU SUDAH FIX!"
Baekhyun dan Chen saling melempar pandangan horor plus kaget, Minseok dan Kyungsoo saling melempar senyum, sementara Shixun dan Chanyeol saling melempar pandangan canggung.
.
.
Mata Sehun membulat dengan sempurna ketika ia menyadari bahwa Kai mencium bibirnya secara tiba-tiba. Dengan refleks, ia menarik dirinya dari Kai lalu menatap lelaki itu dengan pandangan kaget. Tidak melewatkan pandangan terluka dari Kai.
"Apa yang kau lakukan?!" Pekik Sehun.
Kai menatapnya dengan pandangan sendu, "kau dengar perkataanku tadi, Shixun."
Sehun menggelengkan kepalanya sekuat tenaga, "ini tidak mungkin!" Tanpa sadar tubuhnya bergerak untuk menjauhi Kai. Mengabaikan tangan Kai yang berusaha untuk meraihnya. "K-kau t-tidak mungkin—"
"Menyukaimu? Mencintaimu?" Kai mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Heck! Shixun! Aku bahkan sudah menyukaimu dari dulu, sudah lama sekali hingga aku lupa kapan aku mulai menyukaimu!"
Sudah lama sekali, Sehun tersenyum getir. "Tidak mungkin! Kau tidak mencintaiku." Kau mencintai kakakku, lanjutnya dalam hati. Ia masih berusaha untuk menatap Kai meskipun hatinya terasa sakit ketika melihat wajah lelaki itu.
"Apa karena selama ini kita selalu bertengkar?!" Suara Kai naik beberapa oktaf karena frustasi. "Katakan Shixun! Apa karena perlakuanku kepadamu selama ini?! Menurutmu yang terjadi di danau itu tidak berarti apa-apa bagiku?! Apa kau tidak berfikir kenapa aku mau melakukannya denganmu?!"
"Kau tidak mencintaiku Kai!" Jerit Sehun tanpa sadar dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"KENAPA?!" Kai kini berteriak hingga membuat Sehun terlonjak kaget. "Katakan kepadaku kenapa?!" Meskipun nada suaranya tinggi, namun nada memohonnya terdengar jelas di telinga Sehun, membuat hatinya berdenyut sakit.
"K-karena…" Sehun tergagap, ia tidak tahu bagaimana ia mengatakannya kepada Kai. Karena aku bukan Shixun!
Tidak tahan melihat wajah Kai yang terlihat sangat menderita, Sehun kini memutuskan untuk berlari meninggalkan Kai yang masih terdiam di taman. Masih dengan kedua tangan yang sibuk mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya, Sehun melangkahkan kakinya ke dalam rumah, tanpa melihat-lihat jalan.
"Ah." Sehun mendongak kaget ketika ia merasa bahwa ia telah menabrak seseorang, dan ternyata orang itu Yifan.
"Shixun? K-kau menangis?" Dari nada suaranya sudah jelas bahwa lelaki itu sangat kaget.
Entah mengapa ketika melihat wajah Yifan, Sehun rasanya ingin menangis lagi. Jadi Sehun tidak mempedulikan lelaki itu dan terus berjalan menaiki tangga dengan tergesa-gesa lalu membanting pintu kamarnya dengan keras.
Sehun kemudian berusaha mencari-cari handphonenya meskipun pandangannya mengabur karena tertutup oleh air mata dan tangannya masih bergetar. Setelah ketemu, ia bergegas untuk menscroll kontaknya dan setelah menemukan nama yang ia cari, tanpa membuang-buang waktu lagi ia segera menghubungi seseorang itu.
'Halo?'
"Hyung…" Sehun tidak bisa lagi membendung isakannya, tangannya yang bebas meremas baju di bagian dadanya, di bagian yang paling terasa sakit. "Aku ingin pulang."
.
.
Kini Shixun sedang duduk di dalam tenda bersama Chanyeol dengan canggung. Hujan turun beberapa menit yang lalu, tepat setelah mereka semua selesai membangun tenda. Shixun kebetulan sekali sedang mengatur barang-barang di dalam tenda, tetapi Chanyeol yang sedang membantu Suho untuk mengumpulkan kayu harus basah-basahan dalam perjalanan menuju tenda mereka. Jadilah lelaki itu tadi mengganti bajunya di dalam tenda, membuat udara yang tadinya dingin menjadi sedikit hangat bagi Shixun.
"Mau bonbon?" Shixun menyodorkan coklat bonbon Jiho yang tadi diberikan Changjo kepadanya di bus.
Chanyeol mengambil satu dengan senyuman, "terima kasih."
Kemudian suasana menjadi hening kembali. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari tenda di sebelah mereka, membuat Shixun terlonjak kaget dan Chanyeol yang tertawa.
"Itu dari tenda Baekhyun dan Chen, entah mereka sedang ribut atau saling berbagai kehangatan." Ujar Chanyeol sambil menatap Shixun dengan pandangan geli.
"Sampai kapan mereka tidak mau mengakui perasaan masing-masing?" Gerutu Shixun, teringat perkataan Sehun mengenai dua sejoli itu beberapa hari yang lalu.
Chanyeol mengangkat bahunya dengan pelan, "terkadang sulit bagi beberapa orang untuk mengutarakan perasaan mereka yang sebenarnya." Kemudian ia merebahkan dirinya di atas sleeping bag yang sudah digelar oleh Shixun tadi dan berbalik untuk memunggungi Shixun yang terdiam.
Maksudnya apa? Shixun bertanya-tanya dalam hati.
Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti, malah semakin lama semakin deras. Petir mulai bersahut-sahutan dan udara semakin dingin, membuat Shixun harus merapatkan jaket yang ia kenakan ke tubuhnya. Sudah lebih dari satu jam mereka berada di dalam tenda, tanpa sinyal dan api, hanya di temani oleh snack dan lampu senter yang dibawa oleh Chanyeol. Lelaki itu nampaknya tertidur, sementara Shixun dengan bosan mendengarkan lagu dari hpnya.
"Bosaaaaaan." Shixun mengerang, kemudian ia melempar hp dan earphonenya ke atas tas kemudian ia ikut-ikutan merebahkan dirinya di sebelah Chanyeol.
Hangat, itu yang di rasakan oleh Shixun ketika ia berada di jarak sedekat ini dengan tubuh Chanyeol. Ingin rasanya ia bergeser lebih dekat agar ia bisa lebih merasa hangat. Namun pergerakannya terhenti ketika ia melihat Chanyeol yang membalikkan tubuhnya hingga kini mereka berdua sama-sama menatap langit-langit tenda.
"Kau tahu Sehun," Shixun melirik Chanyeol lewat ekor matanya, lelaki itu nampaknya tidak tertidur dari tadi karena wajahnya terlihat segar. "Kita tidak perlu secanggung ini."
"Y-ya." Shixun merutuki dirinya sendiri yang tergagap.
Chanyeol hanya menghela nafas mendengar respon dari Shixun, "Sehuna, kalau—"
"Wah, hujannya sudah reda!" Shixun memekik dengan riang ketika ia menyadari bahwa sudah tidak terdengar lagi suara hujan, itu artinya ia bisa terbebas dari suasana canggung seperti ini, sejujurnya ia tidak tahan karena bingung ingin mengatakan apa kepada Chanyeol, pasalnya ia tidak tahu apa-apa mengenai hubungan Sehun dan Chanyeol dulu dan Sehun menolak untuk menceritakannya.
"Sehun." Tubuh Shixun menegang ketika ia merasakan pergelangan tangannya di tahan oleh Chanyeol. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu, tapi aku—"
"SEHUNAAA." Perkataan Chanyeol terputus oleh suara cempreng Baekhyun dan sedetik kemudian tenda mereka bergoyang dengan heboh, pasti ulah Baekhyun. "AYO KELUAR!"
Shixun menghela nafas lalu kemudian ia menatap Chanyeol, "kita bicara nanti."
.
.
Sehun kini sedang duduk di atas kasurnya sambil bertumpu kepada kedua lututnya. Matanya terpaku kepada sebuah kanvas yang berada di pojok ruangannya, itu gambar Luhan. Lelaki itu memaksa Sehun untuk membawa lukisan yang di buatnya minggu lalu agar bisa menjadi contoh tugas melukis Sehun (Shixun) yang tidak pernah selesai. Meskipun nilai akademis Luhan sangat rendah, namun kemampuan melukis anak itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Ingatan Sehun melayang pada kejadian seminggu lalu, dimana ia menemukan Luhan yang sedang sendirian di ruangan melukis.
"Kenapa wajahmu kusut sekali?" Tanya Luhan kepada Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas di hadapannnya.
"Tidak apa-apa." Mata Sehun melebar ketika ia melihat lukisan yang sedang di buat oleh Luhan. "Wow kau bisa melukis sehebat itu."
Mendengar perkataan Sehun, Luhan tertawa. "Kau berkata seakan-akan kau tidak pernah melihatku melukis saja." Sehun membeku mendengar perkataan Luhan, ia lagi-lagi lupa kalau sekarang ia sedang menjadi Shixun, sahabat Luhan, itu artinya Shixun tahu kemampuan melukis Luhan yang hebat.
"Habisnya terkadang aku masih tidak percaya dengan bakat melukismu," Sehun mencari-cari alasan agar Luhan tidak curiga dengannya. "Siapa yang tahu, pelanggan setia El Dorado ternyata memiliki bakat seni setingkat dengan Leonardo da Vinci."
Dengan cepat, Luhan mengoleskan cat berwarna biru ke kulit tangan Sehun yang langsung dibuahi pekikan oleh lelaki itu. "Jangan berlebihan." Katanya sambil memutar kedua matanya, sementara Sehun hanya tertawa melihat ekspresi Luhan.
Namun kelamaan, Sehun jadi kesal sendiri melihat lukisan Luhan, pasalnya lukisan itu terlihat seperti sedang mengejek keadaan dirinya saat ini. Pikirannya melayang, mencoba untuk mengulang semua kejadian yang telah terjadi dalam kurun waktu satu bulan ini.
Ia pergi ke Guangzhou bermaksud untuk mengunjungi Shixun. (Ini akar masalahnya)
Di Guangzhou ia dan Shixun malah melakukan hal tergila yang pernah mereka lakukan seumur hidup, bertukar tempat.
Ia bertemu dengan musuh bebuyutan sang kakak dan jatuh cinta pada pandangan pertama (ini yang paling fucked up menurut Sehun)
Untuk pertama kalinya juga ia berkelahi, balapan, dan bolos sekolah
Ia hampir membiarkan dirinya dikuasai sepenuhnya oleh Kai di danau (ini yang paling menyedihkan)
Shixun bertemu dengan teman-temannya dan otomatis ia juga bertemu dengan Chanyeol (Ini yang paling mengkhawatirkan)
Ia (atau Shixun) akan di jodohkan dengan saudari tiri Kai
Kai menciumnya lalu mengatakan bahwa ia yang akan menikahi Sehun (meskipun yang ia maksud adalah Shixun)
Ia baru menyadari bahwa sekarang ia sedang terjebak di antara cinta segi entah berapa, ia (dengan mengenaskannya) menyukai Kai yang ternyata sudah dari dulu menyukai Shixun yang sampai sekarang masih menyukai paman angkat mereka, Yifan ge yang sebentar lagi akan menikah.
Sehun mengerang, rasanya ia ingin cepat-cepat angkat kaki dari sini dan pergi ke Inggris untuk beasiswanya. Namun kalau di pikir-pikir, jika ia meninggalkan semuanya sekarang, itu tidak akan adil untuk Shixun. Lelaki itu pulang-pulang akan dihadapkan dengan kekacauan yang telah Sehun perbuat.
"Shixun?"
Sekujur Sehun menegang ketika ia mendengar suara ayahnya dari balik pintu kamarnya.
"Boleh ayah masuk?"
Sehun menatap pintu dengan tajam, sudah terhitung satu jam Sehun enggan keluar dari kamarnya, mengingat kejadian yang terjadi dengan keluarga Jung itu. Dan sudah beberapa kali, baik Yifan maupun Kai berusaha untuk mengajaknya keluar kamar, dan ini pertama kalinya sang ayah mencoba untuk mengajaknya keluar dari kamar, membuat Sehun heran.
"Nak, biarkan ayah bicara denganmu."
Sehun menghela nafas, kemudian ia bangkit dari kasur dan berjalan menuju pintu kamarnya yang ia kunci, lalu membukanya sedikit dan menemukan sang ayah yang sedang berdiri di depan kamarnya dengan pandangan gelisah.
"Ada apa?" Tanya Sehun pelan, masih enggan membukakan pintu lebih lebar untuk sang ayah.
Ayahnya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, entah itu karena Sehun tidak pernah menghabiskan waktu dengan ayahnya selama belasan tahun atau karena memang ayahnya adalah seorang pria yang sulit untuk dibaca. "Bisa kita bicara di dalam?"
Sehun mengangguk lalu kemudian membiarkan sang ayah memasuki kamarnya sebelum akhirnya ia menutup pintu kamar dan mengikuti langkah kaki sang ayah yang berjalan mendekati kasur tidurnya.
"Kau tahu, meskipun selama ini kau di asuh olehku, kau lebih mirip ibumu." Ayahnya berkata dengan suara yang tenang, jari-jari pria itu menelusuri lekuk meja belajar yang ada di kamar itu. "Keras kepala, tidak mau mengikuti peraturan, lebih suka kebebasan." Sehun tertegun ketika ia melihat ayahnya tersenyum begitu tulus, ia tidak menyangka ayahnya akan tersenyum seperti itu ketika sedang membicarakan ibunya.
Kemuduan ayahnya membalikkan tubuhnya untuk menatap Sehun, "ada satu hal yang perlu kau ketahui." Ayahnya menghirup nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, ketika ia membuka matanya, Sehun baru menyadari bahwa baik ia dan Shixun sama-sama mewariskan mata ayah mereka. "Ayah masih mencintai ibumu, sampai sekarang, dan tidak akan pernah berhenti."
Mata Sehun membesar dan mulutnya pasti sudah terbuka sangat lebar hingga membuat ayahnya tertawa kecil. "Ini pasti mengejutkanmu, kau pasti tidak menyangka kenapa aku masih mencintai ibumu setelah semua yang terjadi dengan keluarga kita."
"T-tapi…bagaimana bisa?" Sehun terbata-bata, otaknya masih sulit mencerna perkataan ayahnya.
"Ceritanya cukup panjang…dan berantakan." Ayahnya kemudian memutuskan untuk duduk di atas kasur. "Kau keberatan jika ayah bercerita sekarang?"
Sehun menggeleng, mungkin ini yang terbaik, ia siap untuk mendengar semuanya.
.
.
"Hun…Sehun…"
Shixun menoleh dengan mata sayu ke arah pintu tenda dan menemukan kepala Baekhyun menyembul di situ, lelaki pendek itu memanggil-manggil namanya dengan berbisik sembari melemparkan cengirannya ke arah Shixun yang baru saja ingin tidur.
"Ada apa?"
Baekhyun tersenyum sok misterius sebelum menyuruh Shixun agar mendekat ke arahnya, "kau mau ikut?"
Shixun mengernyit, "kemana?"
"Jangan pura-pura tidak tahu bodoh," Baekhyun menggeplak kepala Shixun dengan pelan. "I have some weed and cocaine in my pocket, sooooo….?"
Butuh waktu beberapa detik bagi Shixun untuk mencerna perkataan Baekhyun, ganja dan kokain katanya? Memang sih, Sehun pernah bilang kepadanya kalau Baekhyun itu juga terlibat dengan narkoba sepertinya, tapi kalau Baekhyun sekarang mengajak Sehun untuk ikut dengannya, apa itu artinya adik kembarnya itu juga sering terlibat dengan narkoba?
"Come on, Hun. Jongdae juga bawa beberapa bir kok, kalau mau kau bisa meminum birnya saja." Baekhyun menatap Shixun dengan pandangan memelas.
Shixun sangat tertarik dengan tawaran Baekhyun, tentu saja, tetapi karena sekarang ia sedang jadi Sehun, ia tidak tahu harus berbuat apa. Belum tentu biasanya Sehun mau di ajak party seperti itu, mengingat adik kembarnya itu (dimata Shixun) polos sekali.
"Aku tidak akan bilang-bilang Chanyeol." Janji Baekhyun.
Shixun melirik ke arah Chanyeol yang sedang tertidur di sebelahnya, wajah lelaki itu terlihat damai sekali, Shixun jadi tak tega jika ia membuat lelaki itu terbangun. Kemudian ia melirik Baekhyun yang sedang nyengir, lalu menghela nafas sebelum ia mengambil keputusan. "Baiklah."
Wajah Baekhyun langsung bersinar karena terlalu senang, lelaki itu akhirnya menarik tangan Shixun hingga membuatnya terjatuh ke depan, ke arah tumpukan sepatunya dan Chanyeol yang tertata rapih di dekat pintu tenda.
"Aduh! Baek!" Shixun memekik karena kini ia sedang berciuman dengan sepatu milik Chanyeol.
"Ayo cepat Hun! Aku sudah tidak sabar!" Baekhyun berbisik sambil menarik-narik tangan Shixun agar ia segera bangun tanpa repot-repot meminta maaf karena sudah membuat lelaki itu terjatuh.
Shixun menggerutu pelan sambil berusaha untuk bangkit, namun matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di sepatu Chanyeol, namun sesuatu itu ternyata sebuah nama, dan nama itu ternyata adalah nama adik kembarnya, alias Sehun.
'Apa sepatu itu pemberian Sehun?' Batin Shixun.
"Sehunaaa!" Bisik Baekhyun tidak sabaran. Setelah akhirnya Shixun bangkit, kemudian mereka berdua segera pergi meninggalkan tenda Shixun dan Chanyeol. Baekhyun mengarahkannya ke belakang sebuah pohon besar, Shixun sempat kepikiran bahwa Baekhyun akan menakut-nakutinya atau apa, namun ketika ia melihat ada Chen, Jiho, Changjo, Yoongi, dan beberapa orang lainnya, Shixun menghela nafas lega.
"Yo, Wu!" Changjo segera menyapanya ketika Shixun duduk di sebelah lelaki itu.
"Apa yang perempuan baru saja sampai?" Shixun mengernyit ketika ia melihat ada beberapa perempuan yang sedang mengelilingi Jiho.
Changjo mengangguk sambil meneguk sebotol bir, "bus mereka sempat mogok di jalan tadi, tapi untungnya mereka berhasil sampai di sini, coba kalau tidak? Hilang sudah hiburan kita."
"Hun." Shixun menoleh ketika Chen memanggil namanya kemudian berjengit saat ia melihat sebotol bir melayang ke arahnya, namun ia dengan cekatan menangkap botol itu sebelum jatuh ke tanah. "Jangan terlalu kaku."
Shixun mendengus sebal, matanya menangkap sesosok Baekhyun dan Yoongi yang sedang berkutat dengan sesuatu di hadapan mereka, matanya membelak ketika ia mengetahui bahwa kedua orang itu sedang mengeluarkan sepaket ganja dari jaket Baekhyun.
"Fuck, is that weed?" Shixun tanpa sadar bertanya kepada Chen dengan bersemangat. Untuk sesaat, Chen menatapnya dengan bingung lalu kemudian ia mengangguk.
Tanpa aba-aba, Shixun langsung berjalan menuju Baekhyun dan Yoongi dan memilih untuk duduk di hadapan mereka berdua. Membuat Baekhyun memekik kaget karena melihat Shixun yang tiba-tiba datang dengan senyuman lebar.
"Kau mengagetkanku!"
Shixun hanya nyengir lalu ia menunjuk ganja yang berada di genggaman Baekhyun, "boleh aku minta?"
"Hah!" Yoongi berdecih. "Tumben sekali."
Jemari lentik Baekhyun meraba-raba kening Shixun, "k-kau tidak sedang sakit kan?"
Shixun, yang rasanya sudah ingin meledak karena sudah lama ia tidak berjumpa dengan ganja, segera menepis tangan Baekhyun yang meraba-raba keningnya. "Aku sangat sehat, terima kasih." Ia lalu mengambil sebuah kertas kecil dan menatap Baekhyun lagi. "Ini bukan pertamakalinya aku smoking weed kok."
Baekhyun memutar kedua matanya, "ya, aku juga tahu." Kemudian ia mendekatkan dirinya kepada Shixun dan berbisik. "Tapi tidak biasanya kau begini kalau ada Chanyeol di sekitar?"
"Uh…" Shixun mengusap tenguknya. "Sudahlah! Biarkan saja! Sini, berikan kepadaku ganjanya."
Baekhyun mengucapkan sesuatu sebelum akhirnya menyerahkan sekantung ganja ke tangan Shixun sementara Yoongi hanya mengamati mereka dengan bersemangat, mungkin ia penasaran dengan bagaimana Sehun (Shixun) berurusan dengan ganja.
Sementara itu, jari-jari Shixun dengan mudahnya mulai membuat sebuah joint menggunakan kertas kecil dan ganja yang ia dapatkan dari Baekhyun. Sudah puluhan kali ia membuat joint dan Shixun sangat lihai akan hal itu. Di hadapannya, Baekhyun dan Yoongi hanya melotot ketika menyaksikan jari-jari Shixun memutar kertas yang sudah berisi ganja itu agar membentuk sebuah joint dengan handal. Setelah selesai, Shixun tersenyum puas akan hasil karyanya.
"Korek?"
Yoongi buru-buru memberinya sebuah korek.
Seluruh tubuh Shixun merileks ketika ia merasakan sensasi yang sudah lama ini tidak ia rasakan. Ia tersenyum puas sebelum akhirnya menyodorkan joint itu kepada Baekhyun. "Giliranmu."
Baekhyun mengambil joint itu dari tangan Shixun, ia mengamatinya sebentar sebelum akhirnya ia menyisipkan itu ke mulutnya. "Kau terlihat ahli ketika membuat joint ini." Ia berkata sebelum menghembuskan asap rokok dari mulutnya lalu mengoper joint itu ke Yoongi.
"Guangzhou banyak merubahmu, dude." Yoongi berkomentar dan ia menyandarkan tubuhnya ke pohon yang ada di belakangnya.
Shixun tertawa kecil, "aku sebenarnya sudah jago dari dulu, kalian saja yang tidak menyadarinya."
"Benarkah?" Suara cempreng Chen menyapa indera pendengaran mereka. Shixun menoleh dan mendapati Chen, Changjo, dan Jiho berjalan mendekati mereka. Chen lalu merebut joint itu dari tangan Yoongi. "Suho akan membunuh kita jika kita ketahuan malam ini."
"Tidak akan." Baekhyun mengibas-ngibaskan satu tangannya. "Beri saja ia blowjob dan mulutnya akan tersegel."
Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Baekhyun meskipun Shixun tidak mengerti. "Yang benar saja!" Pekik Jiho. "Kau mau memberinya blowjob padahal ia sama sekali tidak berani menonton film porno!"
"Ingat ketika kita memaksanya untuk menonton porno?" Changjo bertanya dengan semangat. "Ia sampai tidak masuk sekolah besoknya!"
Shixun kini akhirnya mengerti apa yang mereka tertawakan, lalu ia ikut-ikutan tertawa. Ia merasa sangat ringan saat ini, mungkin karena efek ganja, tetapi rasanya begitu nyaman tertawa-tawa bersama teman-temanmu. Bukannya Shixun tidak pernah, tetapi Luhan, Jackson, Tao, dan Mark terkadang lebih suka dengan dunianya masing-masing.
"Kasihan Kyungsoo." Yoongi menimpali. "Sepertinya ia akan tetap menjadi perjaka untuk waktu yang lama." Semua langsung cekikikan mendengar perkataan Yoongi yang terlalu frontal.
"Kalian ingin membuat Suho jantungan?" Baekhyun mengedarkan pandangannya yang memancarkan sinar iseng. "Ayo kita main truth or dare!"
"Hell yeah!" Chen memekik, lalu kemudian ia berteriak kepada segerombolan perempuan yang berada tak jauh dari mereka untuk bergabung. Shixun memandangi para perempuan itu satu persatu, Sehun juga sudah memperkenalkannya waktu itu, dan harus ia akui, teman-teman perempuan adiknya memang cantik-cantik sekali.
Setelah semuanya duduk dengan membuat lingkaran yang berukuran sedang, Baekhyun, selaku pemimpin acara, mulai menjelaskan permainan apa yang akan mereka mainkan malam ini. "Sooooo kita akan bermain truth or dare, seseorang akan memutar botol ini—yah, kalian pasti sudah tahu cara mainnya—dan jika ada yang tidak mau melakukan truth atau dare yang diberikan, maka ia harus meminum sebotol bir sampai habis atauuuu…" Lelaki itu mengeluarkan sebuah paket lain, "ia akan di suntik oleh morfin."
Shixun mengerang, dari semua jenis drugs ia paling tidak menyukai morfin. Singkatnya sih, Shixun tidak suka jika harus di suntik oleh jarum.
"Aku yang putar duluan!" Chen mengumumkan lalu ia memutar botol itu dan botol itu berhenti di depan seorang perempuan yang bernama Moonbyul. "Moonbyul, truth or dare?"
Perempuan itu melirik ke sekelilingnya dengan semangat sebelum menjawab, "truth!"
Chen menyeringai, "berapa banyak lelaki di sekolah kita yang sudah kau beri blowjob?"
Wajah Moonbyul memerah, namun perempuan itu tetap saja cekikikan. "Cukup banyak, kecuali kau, Chanyeol, Sehun, dan tentu saja Junmyeon." Semua tertawa ketika mendengar nama Suho disebut.
Shixun menatap Baekhyun dengan kaget, "ugh…Baek?"
Baekhyun hanya tersenyum, "hanya sekali." Ia kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah Chen yang sedang menyeringai.
Moonbyul kemudian memutar botolnya lagi dan kini botol itu berhenti tepat di depan Jiho. "Truth or dare?"
"Dare!" Jawab Jiho dengan lantang.
Moonbyul nampak berbisik-bisik sebentar dengan seorang perempuan lain yang bernama Hani, lalu ia menoleh ke arah Jiho. "Buka bajumu."
Jiho dengan senang hati melakukannya, ia lalu melempar sembarang kaos yang sudah berpisah dari tubuhnya itu. Para perempuan yang bergabung dengan mereka langsung tertawa-tawa kecil dengan muka memerah, dan nampaknya Jiho sangat senang dengan reaksi mereka. Terbukti ketika lelaki itu sengaja menepuk-nepuk absnya sendiri.
Permainan terus berlanjut, dan Shixun merasa deg-degan sekaligus lega karena ia sama sekali belum di tunjuk. Semua orang mulai kehilangan kesadaran mereka, Jiho kini hanya memakai boxernya saja, bibir Changjo sudah bengkak karena mendapat dare untuk melakukan french kiss bersama Mina selama satu menit, Yoongi sedang tertawa-tawa melihat Baekhyun dan Chen, sementara Baekhyun kini sedang berada di pangkuan Chen, ia mendapat dare untuk melakukan lap dance kepada Chen yang nampaknya sangat…sangat senang.
"Damn, that was hot." Yoongi menyaluti Baekhyun yang kini sudah mendudukkan dirinya lagi di atas tanah.
Shixun terlalu sibuk memperhatikan Chen yang saling melemparkan seringaian dengan Jiho sampai tidak menyadari bahwa botol itu kini menunjuk tepat ke arahnya.
"Sehuuuun? Truth or dare?"
Shixun terdiam sebentar karena terkejut, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Baekhyun. "t-truth?"
Baekhyun dan Chen saling berpandangan sebelum akhirnya Baekhyun menoleh kepadanya lagi dengan senyuman yang aneh, membuat Shixun menyesali pilihannya memilih truth. "Katakan Sehun, apa kau masih menyukai Chanyeol?"
Tangan Shixun bergerak dengan cepat untuk meraih sebotol bir dan kemudian meneguknya sampai habis. Ia tidak mau menjawab pertanyaan itu, pertanyaan yang tidak bisa ia jawab karena ia bukan Sehun. Ia tidak mau mengambil keputusan yang akhirnya merugikan adik kembarnya itu.
"No fun." Cibir Chen.
"Karena kau tidak menjawab pertanyaanku, kini aku lagi yang memutar botolnya." Baekhyun lalu memutar botol kosong itu dan botol itu berhenti di depan seorang perempuan bernama Jaekyung. "Truth or dare?"
Wajah Jaekyung memerah ketika ia dibisiki sesuatu oleh Mina yang duduk di sebelahnya. "Uh…aku pilih dare!"
"Bagus," mata Baekhyun kini menatap Shixun, dan Shixun sudah tahu pasti akan ada hubungannya dengan—
"Cium Sehun."
Shixun menghela nafas pasrah ketika ia melihat Jaekyung mulai beranjak ke arahnya, tidak seperti Sehun yang mungkin saja sudah kabur jika berada di posisinya saat ini, Shixun bisa di bilang cukup sering 'bermain' dengan perempuan di Guangzhou sana. Jadi, ketika Jaekyung sudah duduk di atas pangkuannya dan bibir perempuan itu menempel di atas bibirnya, yang Shixun lakukan adalah meletakkan tangannya di pinggul perempuan itu dan menarik tubuhnya agar semakin merapat dengan tubuhnya.
"ASTAGA!" Semua orang langsung terdiam ketika mereka mendengar ada seseorang yang berteriak, semua sontak menoleh dan menemukan Suho sedang menatap mereka dengan pandangan horor dan wajah memerah. "APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Shixun sontak melepaskan ciumannya dengan Jaekyung namun ia tidak merubah posisi mereka saat ini, ia membiarkan perempuan itu tetap duduk di pangkuannya sementara kedua tangan Jaekyung melingkari lehernya.
Teriakan Suho ternyata mampu membuat beberapa orang lain bangun dan bergegas menghampiri mereka. Mata Shixun menangkap Bobby dan Hanbin yang keluar dari tenda yang sama dengan tergesa-gesa, lalu ada Mino yang tidak beralas kaki, Namjoon yang datang sambil menggerutu, Youngjae dengan mata terbelak, beberapa perempuan datang dengan rambut berantakan, dan yang terakhir ada Chanyeol.
"What the—" Ucapan Bobby terputus ketika ia melihat posisi Shixun dan Jaekyung. "—FUCK?!"
Tidak seharusnya Shixun merasa panik ketika pandangannya bertemu dengan pandangan mata Chanyeol yang menatapnya dari balik punggung Suho. Tidak seharusnya Shixun dengan tergesa-gesa mendorong Jaekyung dari pangkuannya agar perempuan itu menjauhinya. Atau, tidak seharunya ia merasa bersalah ketika ia menyadari bahwa Chanyeol sedang menatapnya dengan pandangan terluka.
"Wow, Hun." Mino berkata sambil memainkan alisnya, cukup terhibur oleh pemandangan yang ia dapat. "Kau memang greget!" Ia memberikan Shixun acungan dua jempol tangannya.
"A-aku bisa jelaskan—"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" Youngjae terkekeh, ia lalu menepuk-nepuk bahu Suho yang nampak ingin pingsan. "Sudahlah! Kau harusnya lega jika Sehun kecil kita sudah semakin berani dan greget!"
"Kemana bajumu?!" Pekik Suho sambil menunjuk ke arah Moonbyul yang atasannya sudah menghilang bersama kaos dan celana Jiho.
"K-kenapa bibirmu?!" Suho menatap horor Changjo yang hanya nyengir kepadanya.
Namjoon memutar matanya melihat kelakuan lebay Suho. "Sudahlah Myun! Biarkan saja mereka bersenang-senang!" Lalu ia menarik tubuh Suho yang terdiam kaku. "Kembali saja kau ke tendamu dan ke pelukan Kyungsoo."
"T-TIDAK!" Suho memekik.
Jiho mendengus, "Baek, cepat berikan Suho blowjob supaya dia tenang!"
Wajah Suho kini memerah sempurna mendengar perkataan Jiho yang ditujukan kepadanya. Baekhyun, sambil terkekeh-kekeh, merangkak ke arah Suho dan melirik lelaki itu dari balik bulu matanya yang menggoda. "Mau blowjob?"
"BYUN BAEKHYUN!" Suho nampaknya sebentar lagi akan menangis.
"Wow! Weed!" Hanbin memekik girang ketika ia melihat sebuah joint baru yang terletak di dekat kaki Shixun, ia kemudian berjongkok dan mengambil joint itu sebelum bertanya kepada Shixun. "Ada korek?"
Alih-alih memberikan Hanbin sebuah korek, Shixun malah merebut joint itu dari tangan Hanbin dan mengapitnya dengan bibirnya sebelum menyalakan korek dan membakar joint itu. Ia bisa melihat wajah Suho kini sudah memucat (kaget karena melihatnya merokok ganja) dan jika saja Namjoon tidak menahan tubuhnya, sudah dipastikan lelaki pendek itu akan jatuh terjembap ke tanah.
"Kenapa tidak mengajakku?" Protes Hanbin setelah ia menyesap rokok yang dioper Shixun. "Padahal aku dengan senang hati akan—"
"Curang!" Kini giliran Bobby yang merebut joint itu dari tangan Hanbin. "Aku juga mau!"
"K-KALIAN SEMUA—"
"Hoam…guys…ayo kita tidur. Pestanya sudah selesai." Baekhyun berkata dengan malas lalu ia segera menyeret Chen untuk kembali ke tenda mereka, sementara Chen dengan tergesa-gesa memasukkan ganja, heroin, dan morfin yang mereka gunakan tadi ke dalam jaket milik Baekhyun.
"Thanks Hun." Bobby mengembalikan joint yang ia rebut tadi sementara Hanbin sudah mulai menarik-narik tangannya agar mereka segera kembali ke dalam tenda.
"Ya ampun…dimana bajuku?" Jiho mengeluh sambil mencari-cari bajunya yang tadi ia lempar sembarangan.
"Bye Sehun." Jaekhyun mengecup pipi kanan Shixun sebelum akhirnya ia bergabung dengan para perempuan lainnya. Meninggalkan Shixun sendirian di tanah, tanpa menyadari bahwa masih ada Chanyeol yang sedang menatapnya dari jauh.
Shixun dapat mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. "Ayo kembali ke tenda." Ia mendongak dan mendapati Chanyeol sedang berdiri di sampingnya, hanya mereka berdua saja yang masih berada di luar tenda, di ujung sana, Namjoon nampaknya sedang berusaha keras untuk menyeret Suho agar lelaki itu masuk kembali ke tendanya.
Sambil menghela nafas, Shixun kembali mengapit joint itu dengan bibirnya lalu ia menghembuskan asap rokok itu ke depan. "Kau duluan saja, aku ingin menhabiskan joint ini dulu."
Pergerakan Shixun yang sedang membawa joint itu agar mendekat ke mulutnya segera terhenti ketika Chanyeol memegang pergelangan tangannya dengan kuat. "Apa yang kau lakukan?" Ia berbisik tajam.
"Smoking weed?" Shixun menatap Chanyeol dengan aneh. "Kau pasti tadi mendengar apa yang Hanbin katakan, kan?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan kuat, membuat rambutnya bergoyang dan Shixun harus menahan keinginannya agar tidak menyentuh rambut halus itu. "Kau tidak biasanya seperti ini."
Shixun menghela nafas, "dengar, Chanyeol, aku bukanlah—"
"WU SEHUN! PARK CHANYEOL! JIKA KALIAN TIDAK MEMASUKI TENDA KALIAN DALAM WAKTU 10 DETIK AKAN KU PASTIKAN KALIAN TIDAK AKAN MELIHAT MATAHARI TERBIT BESOK!" Teriakan Suho menyebabkan Shixun enggan melanjutkan perkataannya, dengan kesal, Shixun bangkit dan menjatuhkan joint itu lalu dengan kasar menginjak-injaknya hingga apinya padam.
"Ayo kita—"
Perkataannya lagi-lagi terputus, namun kali ini akibat hpnya yang bergetar di saku celananya. Shixun menghela nafas sebelum ia mengambil hpnya, alisnya terangkat ketika ia melihat nama orang yang menelponnya.
"Halo?"
'Hyung…' Shixun mengernyit, tidak biasanya Sehun memanggil dirinya dengan embel-embel hyung, dan apakah adiknya itu sedang menangis? "Ada apa?! Kau baik-baik saja?!"
Terdengar suara isakan dari seberang sana, membuat sekujur tubuh Shixun menegang. Sehun sedang tidak baik-baik saja di sana, dan Shixun bersumpah akan menghajar siapapun yang telah membuat kembarannya itu menangis.
'Aku ingin pulang…'
Tangan Shixun menggenggam hpnya dengan kencang sementara tangannya yang satu lagi mengepal dengan erat. "Dimana kau sekarang?"
'R-rumah kakek…' terdengar suara isakan lagi. 'B-beijing.'
Tanpa basa-basi, Shixun segera memutuskan koneksi mereka. Ia merasa sangat marah sekarang, yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa pergi ke rumah kakeknya dan menghajar siapapun yang telah membuat Sehun menangis. Instingnya sebagai seorang kakak mulai bekerja tanpa ampun sekarang.
"S-sehun?" Shixun menoleh dan ia baru teringat bahwa Chanyeol dari tadi masih bersamanya. "Kau baik-baik saja?"
Selama sekejap, Shixun tertegun dengan pandangan khawatir yang ditujukan kepadanya oleh Chanyeol. Sudah lama ia tidak menemukan orang lain yang menatapnya dengan pandangan seperti itu, namun ia segera tersadar bahwa Chanyeol itu mengkhawatirkan sosok Sehun, bukan dirinya. "Tidak apa-apa." Ia menunduk. "T-tetapi aku harus segera kembali ke Beijing, ada masalah dengan kakekku…"
Chanyeol berkedip beberapa kali sebelum ia kembali bersuara, "b-bagaimana caranya?"
Shixun berpikir sebentar sebelum akhirnya ia mengutak-atik hpnya, mencari-cari nomor telfon seseorang yang dapat membantunya keluar dari lokasi perkemahan yang berada di antah berantah ini. Senyuman mengembang di mulutnya ketika ia berhasil menemukan kontak yang ia cari.
'Halo?'
"Luhan! My man!" Shixun memekik.
'What the fuck, Shixun?! Kau tahu ini jam berapa?!' Luhan berkata dengan nada membentak, nampaknya Shixun telah membangunkan sahabatnya itu dari tidur cantiknya.
"Bro! Aku butuh bantuanmu!"
'Bisakah itu menunggu sampai besok saja? Aku sangat sangat sangat mengantuk sekarang. Bye!'
"Oh! Ayolah Lu! Bantu aku sekali saja!" Shixun mulai memelas, biasanya Luhan akan langsung luluh jika ia sudah begini.
Terdengar suara gerutuan dari seberang sana, namun hal itu malah membuat senyuman Shixun semakin melebar. 'Fine! Kau butuh apa?!'
"Pinjamkan aku helikopter beserta pilotmu." Ujar Shixun. "Aku ingin kabur dari sebuah tempat di Beijing." Dari ujung matanya, ia bisa melihat Chanyeol yang tercengang.
'The Hell?! Apa yang kau—ah sudahlah! Cepat beritahu aku alamatnya, helikopterku akan sampai dalam beberapa jam."
Shixun terlonjak senang sebelum memberi tahu Luhan alamat tempat mereka camping. "Astaga! Terima kasih Lu! Kau benar-benar malaikat penolongku! Muah!"
'Ugh! Menjijikan! Sudahlah! Jangan ganggu tidurku lagi Wu Shixun sialan!' Lalu Luhan segera memutuskan sambungan mereka tanpa repot-repot menunggu balasan dari Shixun.
"K-kau…baru saja meminjam helikopter seseorang?" Tanya Chanyeol dengan terbata-bata.
Shixun mengangguk, "ia tidak akan keberatan." Kemudian ia menatap Chanyeol yang nampaknya masih tertegun. Sebuah ide gila terlintas di pikirannya. "Kau mau ikut?"
.
.
Sehun menatap makanannya sambil bersedekap dengan tidak berselera. Sedikitpun.
Mungkin karena penjelasan ayahnya tadi, mungkin karena Kai yang saat ini sedang mengamatinya dari seberang meja, atau mungkin karena pesan dari Shixun yang mengatakan bahwa ia dan Chanyeol sebentar lagi akan sampai di rumah kakek mereka.
Sehun memijat-mijat pelipisnya yang terasa pusing, sebentar lagi Chanyeol akan ke sini bersama Shixun. Ia tidak habis pikir, kenapa kakak kembarnya itu bisa-bisanya membawa Chanyeol ke sini. Bisa gawat kalau Chanyeol dan Kai bertemu.
Atau jangan-jangan kakaknya itu beneran suka dengan Chanyeol?
Kalau begitu lebih gawat lagi jika Chanyeol dan Kai dan Yifan ge bertemu.
"Oh ya, keluarga Song akan berkunjung besok malam dan kita akan menjamu makan malam mereka, bersiap-siaplah!"
Fantastis! Jika dirinya dan Chanyeol dan Kai dan Yifan ge dan Shixun dan Qian berada di sebuah ruangan yang sama, bisa dipastikan ruangan itu akan meledak dengan sendirinya.
Sehun, dengan lesu, menusuk sepotong kentang, mengamatinya, lalu dengan sedikit keras membanting garpunya ke atas piring. Membuat hampir seluruh orang di meja makan menoleh ke arahnya. Kini mereka sedang melanjutkan makan malam yang tadi tertunda oleh acara kaburnya Sehun dan Kai dan Yifan di saat yang bersamaan.
"Moodmu masih jelek, eh?" Kakek Wu bertanya dengan nada suara yang tajam.
Sehun menatap kakeknya dengan pandangan dingin. "Maaf membuatmu kecewa tapi, ya, moodku masih sangat buruk."
Tuan Jung terbatuk pelan, "sepertinya perjodohan itu tidak terlalu diperlukan bukan?"
Sehun menghembuskan nafas kecil, berusaha untuk menahan tawanya. "Andaikan saja bisa semudah itu, benarkan, kakek?" Ia tersenyum simpul ke arah kakeknya yang sedang menatapnya dengan tajam, ada peringatan di mata Kakek Wu namun Sehun memilih untuk mengabaikannya.
Hp yang berada di saku celananya bergetar, Sehun memutuskan untuk mengangkat wajahnya dan memainkan hpnya di atas meja. Ia tahu jika kelakuannya ini akan menimbulkan amarah sang kakek, namun ia tetap melakukannya.
Shixun : Aku dan Chanyeol sudah berada dikamarmu sekarang.
Sehun : What the fuck?! Bagaimana caranya?
Shixun : 'Latihan' memanjat setiap hari mempermudahku.
Sehun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Frustasi dengan kelakukan Shixun yang sangat…sangat…aneh menurutnya. Entah apa yang telah membuat Shixun menjadi gila seperti ini, yang pasti Sehun harus memastikan bahwa tidak boleh ada yang tahu kalau Shixun dan Chanyeol sudah menyelundup masuk ke dalam Mansion keluarga Wu. Apalagi ia dan Shixun sedang bertukar tempat sekarang.
"Semua baik-baik saja, Shixun?" Suara ayahnya sejenak dapat mengembalikan fokus Sehun yang tadi hilang entah kemana.
"Y-ya." Sehun tergagap, ia harus cepat-cepat keluar dari ruang makan. Tangannya kemudian terjulur untuk mengambil sebuah teko yang berisi air putih dan sebuah gelas, ia menduga bahwa kedua orang yang sekarang berada di kamarnya itu pasti butuh minum. "Uh…aku akan kembali ke kamar."
"Dengan membawa teko dan gelas?" Yifan ge bertanya dengan nada datar, tanpa repot-repot menoleh ke arahnya.
Sehun menghirup nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "ya, tentu saja." Lalu tanpa berpikir dua kali, ia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang makan itu. Langkah kakinya memelan ketika ia sudah mulai mendekati pintu kamarnya, ragu-ragu dengan dirinya sendiri, sejujurnya Sehun masih belum siap jika ia bertemu dengan Chanyeol saat ini. Meskipun ia bingung, kenapa Chanyeol mau mengiyakan ajakan Shixun untuk menemaninya ke sini? Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan mereka berdua?
"Shixun?"
Sehun terlonjak begitu hebatnya sehingga membuat tutup teko yang ia pegang terlontar jatuh ke lantai, "Astaga! Kai!"
Kai tersenyum simpul, "terkejut?"
Sehun melotot, kemudian dengan cepat mengambil tutup teko yang terjatuh tadi, "kau hampir saja membuatku jantungan!" Sambil berusaha menetralkan detak jantungnya, Sehun melanjutkan. "Kau…mau apa?"
Lelaki itu nampak berkedip beberapa kali sebelum menjawab. "Aku tidak nafsu makan, mungkin aku akan kembali ke kamarku."
"Ya, tetapi kamarmu ada di sebelah sana." Sehun menunjuk sebuah lorong yang berada di ujung lain dari tempat mereka berada sekarang, "apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku ingin bicara denganmu."
Sehun mengerang dalam hati. Ia sudah menduga, cepat atau lambat ia akan mengadakan percakapan semacam ini dengan Kai, namun ia tidak menyangka bahwa itu akan terjadi sekarang dan secepat ini.
"Dengar, Kim." Sehun berkata dengan nada selembut mungkin. "Aku tidak punya waktu sekarang. Aku harus mengurus beberapa hal—"
"Beberapa hal?" Kai bertanya dengan alis terangkat.
"Ya…hal-hal yang harus ku urus." Sehun merasa bahwa dirinya sekarang sudah mulai mengoceh, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berupaya untuk mengembalikan lagi fokusnya. "Maksudku, bagaimana kalau kita bicara besok? Aku janji tidak akan menghindar."
Selama sesaat, Kai hanya berdiri dalam diam dan memperhatikannya dengan sepasang mata yang tajam itu, membuat Sehun menjadi salah tingkah dan malu karena terus-terusan di tatapi dengan sebegitu intensnya oleh Kai. Lalu ketika Kai mulai mendekatkan tubuhnya dengan Sehun, nafas Sehun tercekat.
"Kau berubah," gumam Kai. "This isn't you."
"Kau mengharapkan apa dariku?" Sehun berkata dengan suara tercekat. "Berharap bahwa aku akan membalas perasaanmu?"
Kedua bola mata Kai kini membesar dan ada sebesit kilatan terluka di dalam pandangannya, "b-bukan itu—"
"Kau tidak mungkin mengira bahwa aku akan menyukaimu hanya dalam kurun waktu satu malam, bukan?" Kai kini mulai mundur dari posisinya yang tadi berjarak sangat dekat dari Sehun, dan Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk berhenti berbicara. "Setelah apa yang selama ini kau lakukan kepadaku? Di danau itu—"
"Jangan berkata seakan-akan kau juga tidak memulainya!" Kai membalas ucapan Sehun dengan sedikit bentakan. "Jangan bersikap seakan-akan kau tidak menyukainya!"
Ada sedikit rasa tak tega ketika Sehun melihat Kai yang mulai mundur untuk menjauhi dirinya, tangan lelaki itu mulai meraba-raba tembok di sampingnya, seakan-akan jika ia tidak memegangi tembok itu ia akan jatuh tersimpuh di lantai. Sehun memang tidak mengenal Kai seperti Shixun, tetapi ia yakin, Kai pasti tidak pernah seperti ini sebelum-sebelumnya.
Apakah karena ia begitu menyukai saudara kembarnya itu?
Jantung Sehun seakan-akan berhenti berdetak ketika ia melihat sesosok lain yang muncul dari balik pintu di belakang Kai, sudah lama sekali semenjak terakhir kali ia melihat sosok itu dan sosok itu tidak berubah sama sekali menurut ingatan Sehun. Kai nampaknya menyadari jika wajah Sehun sudah memucat sekarang dan ia segera menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah Sehun perhatikan saat ini. Namun, bukan hal itu yang membuat Sehun panik, pertanyaan yang keluar dari mulut sosok itulah yang membuat Sehun panik dan takut di saat yang bersamaan.
"Sehun? Kau di sini?"
.
.
Beberapa jam sebelumnya.
"Aku tidak tahu kalau kau takut ketinggian."
Shixun membuka matanya yang sedari tadi ia pejamkan dan melihat Chanyeol yang kini sedang duduk di seberangnya, mata lelaki itu menatapnya dengan pandangan bingung dan curiga. Tentu saja.
"Berarti kau tidak begitu memperhatikanku dulu." Gumam Shixun, tangannya tanpa sadar bergerak-gerak gelisah.
Chanyeol hanya tertunduk dalam duduknya dan tidak berkata apa-apa.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam helikopter milik Luhan yang Shixun pinjam, setelah melewati beberapa rintangan termasuk Suho yang menyumpahi mereka dari bawah ketika lelaki pendek itu tahu bahwa Shixun dan Chanyeol berusaha untuk kabur menggunakan helikopter. Semua barang bawaan mereka sudah tersimpan rapih, bahkan tenda mereka di lokasi camping sana sudah mereka rubuhkan.
Shixun memang tidak menyukai ketinggian, namun karena kini adiknya sedang membutuhkan dirinya di sisi lain Beijing sana, maka mau tak mau ia harus berjuang melawan ketakutannya itu. Ia jadi agak menyesal meninggalkan beberapa ganja di lapangan tadi, padahal Baekhyun dan Chen sudah meninggalkan beberapa gram untuknya.
Tapi tidak mungkin juga aku merokok di dalam helikopter tertutup seperti ini, batin Shixun sambil melihat-lihat interior helikopter milik Luhan yang terlihat seperti di dalam jet pribadi.
Ketika tangannya tanpa sadar masuk ke saku celananya, Shixun menegang ketika ia merasakan ada sebuah jarum suntik dan sesuatu yang bisa ia identifikasikan sebagai morfin dalam sekali pegang.
Ingatannya melayang kebeberapa saat yang lalu ketika Chen membagikan suntikan dan morfin ke setiap orang yang ada di lapangan tadi. Shixun, karena tidak begitu menyukai suntikan, memilih untuk mengantunginya saja dan kembali sibuk dengan rokok ganja yang ada ditangannya.
Ia memang butuh ketenangan saat ini, tapi ia juga tidak mau di suntik saat ini.
"Jangan terkejut ketika kau bertemu dengan siapa yang ingin ku temui nanti," Shixun akhirnya memilih untuk memulai percakapan dengan Chanyeol. "Pokoknya, jangan terkejut."
"Apakah kita akan menemui seseorang yang berbahaya?" Tanya Chanyeol dengan resah.
Shixun tertawa, pertanyaan Chanyeol terlalu polos baginya. "Tidak. Dia tidak berbahaya sama sekali."
Mungkin ayah dan kakek yang berbahaya, pikir Shixun.
"Begitu…" Chanyeol bergumam sebelum ia memalingkan wajahnya untuk menatap ke jendela helikopter yang mereka tumpangi.
Sementara itu, Shixun tak henti-hentinya memikirkan sang adik. Di antara mereka berdua, Sehun selalu menjadi yang lebih lemah, tidak pernah berubah sedari kecil. Ketika mereka masih kanak-kanak, Shixun-lah yang selalu menyelamatkan Sehun jika adik kembarnya itu di ganggu oleh segerombolan anak-anak yang berukuran lebih besar dari mereka. Sehun lebih senang menyibukkan dirinya dengan tumpukan buku, sementara Shixun lebih suka menyibukkan dirinya dengan perkelahian. Berkat instingnya sebagai seorang kakak-lah yang membuat Shixun selalu membela dan melindungi Sehun, apapun yang terjadi.
Shixun mengernyitkan dahinya ketika ia merasakan jika hpnya bergetar di saku celananya, ia buru-buru mengambil hpnya dan menghela nafas ketika ia melihat nama Mark tertera di layar hpnya.
"Ada apa?" Shixun bertanya dengan nada datar, ia melirik Chanyeol yang menatapnya dengan kaget karena Shixun tiba-tiba berbicara dengan bahasa Mandarin.
'Dude! Kau dimana?! Sudah lama sekali kau tidak mampir ke El Dorado!'
Shixun membetulkan posisi duduknya, "aku ada di Beijing sekarang, urusan keluarga."
Mark mendecak di seberang sana, 'sayang sekali, padahal Jackson ingin menawarkan sesuatu kepadamu.'
"Sesuatu apa? Ada jenis baru?" Dahi Shixun berkerut heran, tidak biasanya Mark menelponnya hanya karena ingin menawarkannya jenis narkoba baru.
'Tidak, tidak. Hanya saja, Jackson baru-baru ini melebarkan sayap bisnisnya, ia tidak hanya berurusan dengan narkoba, rokok, dan alkohol ilegal kali ini," suara Mark terdengar santai. 'Kau ingat Jaebum?'
Shixun berusaha untuk mengingat-ingat sesosok yang bernama Jaebum itu, ia mengingat sesosok lelaki dengan tubuh yang lumayan pendek dan sepasang eyesmile. Mereka pernah bertemu kira-kira setahun yang lalu, ketika Shixun bertemu dengan Jackson di Hong Kong.
"Ya, aku ingat. Ada apa dengannya?"
'Begini, aku baru tahu dari Jackson bahwa ternyata selama ini Jaebum adalah putra dari seorang bos Triad di Hong Kong sana, dan ayahnya baru saja meninggal sebulan yang lalu jadilah Jaebum sekarang yang mengambil alih. Lelaki itu akhirnya berhasil membujuk Jackson agar bergabung dengan kelompok mafianya di Hong Kong sana—itu yang menyebabkan kenapa Jackson sering pergi ke sana akhir-akhir ini.'
"Dan? Kenapa kau memberitahuku hal itu?" Alis Shixun terangkat heran.
'Sebentar! Ceritaku belum selesai!' Shixun memutar matanya ketika mendengar perkataan Mark. 'Jaebum menawarkan berkilo-kilo ganja, kokain, dan LSD kepada Jackson secara cuma-cuma jika dia berhasil menyelundupkan tiga peti opium ke China—itu juga alasan kenapa Jackson mudah sekali mendapatkan narkoba untuk kita.'
Shixun menghela nafas kesal, "jangan bertele-tele! Cepat katakan apa maumu!"
Di seberang sana, Mark terkekeh. 'Jaebum tahu tentang mu yang merupakan putra dari seorang pebisnis besar di China, dan bisa di bilang ia tertarik untuk melakukan kerja sama denganmu.'
"Kerja sama dalam bidang?"
'Perdagangan gelap. Bukan hanya rute Hong Kong-China saja, tetapi juga ke negara lainnya. Kau penerus Wu Corp. yang terkenal itu, ini semua tentu saja akan menjadi mudah karena campur tanganmu.' Mark berkata dengan santai.
Shixun mendengus pelan, "aku bahkan belum lulus SMA dan kau sudah menawariku untuk berurusan dengan mafia sekelas Triad Hong Kong?"
'Hey! Hitung-hitung kau sudah mulai untuk berinvestasi sejak dini. Jarang sekali lho, bos Triad ingin bekerja sama dengan orang lain di negri lain.'
Penawaran Mark cukup menarik, namun waktunya belum tepat. Shixun akhirnya tertawa, "aku harus memikirkannya dulu oke? Mungkin jika Jaebum ingin menunggu sampai aku di angkat jadi CEO Wu Corp. aku akan menerima tawarannya itu."
'Tentu saja, pikirkan saja dulu semuanya. Aku akan menyampaikannya kepada Jaebum dan mungkin kau ingin mempercepat kenaikan pangkatmu menjadi CEO Wu Corp. secepatnya!' Mark tertawa renyah, begitu pula dengan Shixun.
Setelah memutuskan sambungannya dengan Mark, mata Shixun dengan refleks melirik ke arah Chanyeol yang juga sedang menatapnya. Untuk beberapa detik, pandangan mereka bertemu sebelum akhirnya Chanyeol memalingkan wajahnya untuk menatap jendela dalam diam.
'Sebentar lagi kita akan mendarat, Tuan Wu.' Suara pilot yang terdengar di telinga mereka berhasil memecah keheningan yang tercipta di antara kedua anak Adam tersebut.
Shixun menjulurkan kepalanya ke depan untuk melihat melewati jendela, dan matanya menangkap sebuah bangunan familiar yang terlihat kecil dari jarak sejauh ini, itu rumah kakeknya. Ia sudah berpesan kepada sang pilot agar mendarat di tempat yang agak jauh dari rumah kakeknya, berhubung ia tidak ingin seisi rumah mengetahui keberadaannya dan Chanyeol yang datang mendadak. Jadilah sekarang mereka sedang bersiap-siap untuk mendarat di sebuah lahan luas yang tidak jauh dari Mansion keluarga Wu.
"Chanyeol…hyung?" Shixun memanggil Chanyeol dengan ragu dan suara yang bisa di bilang terlalu pelan, tetapi itu berhasil membuat Chanyeol menoleh dengan alis terangkat. "Kau…bisa memanjat, kan?"
.
.
"N-nenek!" Sehun (tanpa sadar) memekik ketika ia melihat sesosok wanita tua yang sedang menatapnya dari belakang punggung Kai.
Sementara itu, Kai mengernyitkan dahinya bingung ketika ia mendengar nama yang asing baginya keluar dari wanita yang Sehun panggil 'nenek' tersebut. "Sehun?"
Sehun menelan ludahnya dengan kasar dan terburu-buru, neneknya itu dari dulu selalu bisa membedakan dirinya dengan Shixun bahkan tanpa harus melihat mereka berdua, "ah…itu namaku jika di sebut secara logat Korea, kau ini orang Korea juga tapi masa tidak tahu sih? Haha." Ia memukul bahu Kai dengan sedikit kencang karena terlalu gugup.
Nenek Wu meletakkan kedua tangannya di pinggang, "kau bicara apa Sehun? Bukankah kau memang—"
"Nenek! Ya ampun! Sudah lama kita tidak bertemu!" Sehun dengan dramatis melemparkan dirinya kepelukan sang nenek, "bagaimana kalau nenek kembali ke kamar dan kita berbincang di dalam?"
"Bagaimana dengan pemuda tampan ini?" Nenek Wu tersenyum sambil menatap Kai dengan ramah. "Siapa namamu, nak?"
Kai balas tersenyum sopan sembari menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Nenek Wu, namun dengan kecepatan cahaya, Sehun buru-buru menggenggam tangan Kai dan menaik-turunkannya dengan kencang.
"Kai! Namanya Kai!" Sehun masih menaik-turunkan tangan Kai, membuat Kai mengerjap bingung. "Nah, Kai? Bukankah kamarmu ada di sebelah sana?" Ia tersenyum ke arah Kai sambil berusaha untuk mengirimkan 'sinyal' lewat matanya yang kini sudah melotot. Sehun luar biasa gugup saat ini, peluh mulai membasahi pelipisnya dan sekujur tubuhnya mulai terasa dingin menyengat.
"Y-ya…uh…sepertinya aku sudah harus kembali ke kamarku." Masih dalam kondisi kebingungan, Kai melepaskan tangannya dari genggaman Sehun lalu tersenyum sopan ke Nenek Wu. "Selamat malam, Nyonya Wu."
"Ah! Jangan panggil aku Nyonya! Kau sama saja seperti Sehun kecil dulu, selalu membuatku merasa muda lagi." Nenek Wu tertawa, membuat kedua anak muda di hadapannya ikutan tertawa, meskipun salah satu dari mereka tertawa hanya karena terpaska. "Nah, Sehun? Bisa jelaskan kenapa kau sudah sampai di Beijing tapi tidak memberi tahu nenekmu yang satu ini? Dimana saudaramu yang barbar itu?"
"Selamat malam Kai!" Sehun dengan sigap mendorong tubuh Kai agar menjauh dari Nenek Wu, membuat Kai mau tidak mau melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya. "Mimpi indah!"
"Saudara?" Kai berbisik heran.
Sehun hanya memelototinya.
"Sehun?"
"Diam!" Sehun mendesis.
Kai memberinya satu tatapan terakhir sebelum akhirnya ia memasuki kamarnya dan menutup pintu dibelakangnya. Sehun menghela nafas lega, ia kemudian baru sadar bahwa di tangannya masih ada teko dan gelas yang sedari tadi ia pegang, lalu ia terkesiap ketika ia ingat kembali bahwa sekarang di kamarnya ada Shixun dan Chanyeol yang sedang menunggunya.
"Gawat!" Sehun memegang kepalanya dengan panik dengan kedua tangannya yang masih menggenggam teko dan gelas.
"Ada apa? Kenapa kau bertingkah heboh seperti ini sih?" Nenek Wu dengan santainya mencubit pinggang Sehun dan membuat lelaki itu terlonjak kaget.
"A-aku harus kembali ke kamar!" Sehun berkata dengan panik, sebelum ia memasuki kamarnya, ia menyempatkan diri untuk mencium pipi neneknya yang hanya terdiam sambil menatapnya dengan heran. "Sampai ketemu nanti nek! Aku merindukanmu!" Lalu menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras.
Di sisi lain, Nenek Wu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan Sehun. "Anak itu selama tinggal di Korea kelakuannya semakin aneh saja."
.
.
Beberapa menit sebelumnya.
"Ugh…Sehun! Sampai lantai berapa kita akan memanjat?"
Shixun, dengan wajah sudah bermandikan peluh, berusaha untuk berkonsentrasi dengan pijakannya sambil berusaha juga untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. "Lantai 4! Sebentar lagi!"
Kini kedua anak Adam itu sedang melakukan olah raga malam mendadak alias mari-memanjat-tembok-Mansion-Keluarga-Wu sembari di temani angin malam kota Beijing yang menusuk hingga ke tulang-tulang mereka. Helikopter Luhan sudah pergi dari tadi, meninggalkan Shixun dan Chanyeol yang harus berjalan kaki melewati hutan kecil malam-malam begini dan sekarang mereka harus memanjat Mansion Keluarga Wu yang besarnya segede gaban.
"Aku sudah lelaaaah!" Chanyeol merengek di bawah sana.
"Sabar hyuung! Sebentar lagi!" Shixun balas berteriak meskipun kini seluruh otot tubuhnya sudah menjerit-jerit nista.
"Mau sampai kapaaaan?!"
"Sebentar lagiiiii!"
Ayo Shixun! Kau pasti bisa! Amukan Jungsoo hyung lebih seram di bandingkan ketinggian ini! Ini tidak ada apa-apanya! Sparta! Shixun menyemangati dirinya di dalam hati, meskipun ia sudah berusaha keras agar tidak melirik ke arah bawah yang bisa membuat nyalinya menciut mendadak.
"Astaga Sehun! Ini sudah lebih dari 5 menit dan kau belum beranjak dari tempatmu sekarang!" Suara Chanyeol yang memekik dari bawah sana segera menyadarkan Shixun dari lamunannya.
Dengan tangan yang sudah di aliri keringat dingin, Shixun makin mengeratkan pegangannya di sebuah jendela besar yang kini menjadi pijakannya sekaligus tumpuannya. "S-sebentar lagi…h-hyung…" Cicit Shixun.
"Kau ini takut ketinggian tapi masih saja nekat memanjat!" Chanyeol mendumel di bawah sana.
Shixun refleks menoleh ke bawah, ke arah Chanyeol, dengan dongkol. "Aku tidak punya pilihan lain—ALAMAK! TINGGI SEKALI!"
Chanyeol menghela nafas lelah ketika ia melihat tubuh Shixun yang sedang dalam mode vibra dilengkapi wajahnya yang sudah sepucat kertas itu. Dengan susah payah ia menaikkan dirinya agar kini lebih dekat dengan sosok malang yang sedang ketakutan itu, Chanyeol lalu dengan pelan menyentuh pergelangan kaki Shixun.
"Sehun, tatap aku."
Kelembutan yang mewarnai suara Chanyeol berhasil menggerakkan bola mata Shixun dalam sekejap hingga kini ia tidak lagi menatap tanah yang mengerikan namun sepasang mata gelap Chanyeol yang menenangkan.
"Kau bisa melakukan ini, aku yakin itu. Apapun yang telah menunggumu di atas sana pasti akan sepadan dengan perjuanganmu saat ini. Percayalah." Chanyeol menebarkan senyum menenangkannya kepada Shixun.
"B-benarkah?" Tanya Shixun ragu.
Chanyeol mengangguk mantap, "benar."
Dengan semangat yang datang entah dari mana, Shixun mendongakkan kepalanya ke arah sebuah jendela yang menjadi tujuannya dan Chanyeol malam ini—jendela kamar Sehun. Perlahan-lahan namun pasti, Shixun mulai menggerakkan tubuhnya untuk mulai memanjat lagi, di ikuti oleh Chanyeol yang tersenyum puas di bawahnya.
Satu.
Dua.
Satu.
Dua.
Shixun memanjat tembok Mansion Wu dengan semangat 45 tanpa mengenal lelah, tidak di pedulikan lagi phobia ketinggiannya ataupun angin malam yang membuatnya menggigil, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa mencapai kamar adiknya itu dengan sesegera mungkin.
"Kau pasti bisa!" Teriakan penuh semangat Chanyeol membuat Shixun semakin greget untuk memanjat.
Sebentar lagi, batin Shixun. Tangannya kini sudah berhasil memegang teralis jendela kamar Sehun, tinggal sedikit lagiiiii—
"HEY! SIAPA DI SANA?!" Suara pekikan seseorang membuat Shixun dan Chanyeol menoleh ke bawah secara bersamaan dan mendapati seorang petugas keamanan Mansion Wu sedang menyenteri mereka bak maling yang ketangkap basah. "WAAAA MALING!"
"Fuck! Shit! Bego! Kita ketahuan!" Shixun berteriak panik lalu mendorong jendela kamar Sehun dengan paksa sebelum akhirnya menarik tubuh Chanyeol yang berada di belakangnya dengan susah payah.
Mata Shixun memperhatikan bagaimana tangan Chanyeol bergerak cepat untuk melempar pot bunga kecil yang menjadi hiasan di jendela kamar Sehun ke arah satpam yang kini masih berteriak-teriak heboh di bawah sana. Mulut Shixun terbuka lebar ketika lemparan Chanyeol berhasil mengenai kepala satpam itu hingga membuatnya terjatuh pingsan tergeletak di tanah.
"Headshot!" Chanyeol menaikkan kedua tangannya ke atas dengan bangga.
"Kau membunuhnya!" Shixun berteriak panik sambil memegang kedua pipinya.
Chanyeol tertawa sambil mengacak-acak rambut Shixun, keringat sudah membanjiri wajah lelaki itu. "Aku hanya membuatnya pingsan, percayalah!"
Shixun menghela nafas lega sambil menjatuhkan dirinya di atas lantai lalu di ikuti oleh Chanyeol yang kini berbaring di sebelahnya. Kedua anak manusia itu terjatuh hingga menimbulkan bunyi debuman yang besar.
"Hah…hah…aku tidak mau lagi jika di ajak memanjat rumah olehmu!" Chanyeol berkata dengan sengit sambil mengelap peluh di dahinya. "Aku hampir saja ketangkap basah oleh satpam dan di kira maling!"
Shixun mengkerutkan dahinya sambil berusaha menetralkan deru nafasnya, tenggorokannya terasa kering sekali. "Kau pikir aku juga mau?! HUAAHH—AKU BUTUH AIR!" Shixun menjerit sambil mengipasi wajahnya.
"Aku juga butuh air!" Chanyeol memekik, lalu sedetik kemudian ia bangkit dari acara tidurannya. "Apa kamar ini ada kamar mandinya?"
Shixun dengan lemah gemulai menunjuk sebuah pintu, "disanahh…"
Tanpa ba bi bu, Chanyeol segera berdiri dan berlari ke arah kamar mandi itu, membuat Shixun dengan spontan ikutan bangkit dan berlari ke kamar mandi karena teringat akan sesuatu, menyusul sosok Chanyeol yang sudah duluan berada di kamar mandi.
"JANGAN BILANG KAU MAU MINUM AIR KERAN HYUNG!" Shixun berteriak dengan heboh sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. "JANGAN GILA HYUNG! KERAN DI SINI AIRNYA TIDAK BISA DIMINUM SEPERTI DI SEOUL SANA!"
"TIDAK BODOH! AKU KEBELET PIPIS!" Balasan Chanyeol membuat Shixun menghela nafas lega, ia lalu berjalan dengan gontai ke arah kasur dan membiarkan tubuhnya berbaring di atas kasur. Tangan Shixun bergerak cepat untuk mengetik pesan yang akan di kirimkan ke Sehun, bermaksud untuk menginfokan kedatangannya dan Chanyeol di kamar adik kembarnya itu.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan suara langkah kaki yang mendekati dirinya. Shixun memejamkan matanya ketika ia merasakan kasur di sebelahnya tertindih oleh sesuatu yang berat.
"Setelah ini apa Sehun?" Suara berat Chanyeol menyapa indera pendengarannya. "Kita sudah kabur dari perkemahan lalu memanjat rumah orang dan hampir di anggap maling, lalu apa setelah ini?"
"Kita menunggu." Jawab Shixun.
"Menunggu apa?"
"Menunggu siapa lebih tepatnya."
"Siapa?"
"Seseorang yang penting." Shixun menjawab sebelum menguap lebar, rasa lelah mulai menggerogoti kesadarannya. "Aku lelah sekali. Jangan ganggu aku!"
Chanyeol berdecih. "Tidak berminat! Maaf!"
Shixun tertawa tanpa suara menanggapi reaksi Chanyeol.
Tanpa sadar keduanya kini sudah terlelap di saat yang bersamaan.
.
.
"Eung…"
Sehun menatap kakak kembarnya yang baru saja terbangun dengan pandangan datar. "Sudah puas tidurnya?"
Mata Shixun dalam sedetik langsung mengerjap kaget dan mendapati wajah tampan Chanyeol yang menjadi pemandangannya ketika ia bangun. Wajahnya memanas ketika menyadari bahwa ia telah tidur di kasur yang sama dengan lelaki itu, secara refleks ia melotot dan menarik selimut yang tanpa sadar sudah ia dan Chanyeol pakai bersama untuk menutupi tubuhnya. "KYAAAAAAAAAAAAHHH…"
Jeritan membahana Shixun berhasil membuat burung-burung yang tadinya hinggap di pepohonan depan kamar Sehun kini buru-buru kabur berjamaah.
Sehun memijit keningnya dengan penat, rusak sudah pagi harinya yang tenang nan damai oleh teriakan Shixun yang membahana.
"AAAAAAHH! YEOLLIE UDAH BANGUN MAMAAAHHH!" Chanyeol langsung terlonjak bangun mendengar suara teriakan Shixun di sebelahnya.
"Harus banget kalian teriak teriak?!" Sehun berkata dengan kesal. Keki karena kedua tarzan di hadapannya ini pagi-pagi sudah berisik seakan-akan mereka kini sedang berada di hutan Amazon.
Shixun masih menutupi tubuhnya dengan selimut sementara Chanyeol kini sedang mengerjab-ngerjabkan matanya dengan bingung.
"Apa aku sudah mati?"
Sehun mendengus, "sayangnya kau belum mati Chanyeol."
"Lalu kenapa kau ada dua, Sehun?" Chanyeol membeo, pandangan matanya kosong. "Aku pasti salah lihat." Ia memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Karena aku punya kembaran." Jawab Sehun dengan santai. "Chanyeol hyung, kenalkan, yang selama ini bersamamu di perkemahan dan tidur bersamamu di kasur semalaman adalah kakak kembarku, Wu Shixun."
"Hmm…" Chanyeol mengelus-ngelus dagunya sendiri. "Aku pasti kurang tidur."
Sehun menyiram wajah mantannya itu dengan segelas air yang berada di genggamannya, "kau ngelindur Park! Sadarlah!"
"Kampret!" Chanyeol buru-buru mengelap wajahnya yang basah dengan selimut. "Jadi selama ini aku di bohongi?!"
Shixun kini ikut-ikutan membentak Chanyeol. "Kan sudah ku bilang jangan terkejut!"
"Tapi aku tidak menyangka kalau ternyata seperti ini!"
"Itu artinya kau harus lebih membuka pikiranmu!"
"Kenapa ini jadi salahku?!"
"Kenapa kau menyalahkanku?!"
"HENTIKAANNN!" Sehun kini bergantian menyirami wajah kakak dan mantannya itu dengan segelas air. "Berhenti bertengkar!"
"WU SEHUN!" Shixun dan Chanyeol memekik bersamaan ketika segelas air menyirami wajah baru bangun tidur mereka, sementara yang di teriaki hanya mendelik.
Chanyeol lalu melipat kedua tangannya di dada dan bergantian melirik kedua lelaki yang berwajah serupa itu dengan tatapan menuduh. "Jadi kalian sedang bertukar tempat atau apa?"
"Betul sekali." Angguk Sehun.
"Dan mengganti warna rambut kalian?"
"Benar." Jawab Shixun.
"Dan tidak ada yang mengetahuinya selain aku?"
"Tidak ada." Kedua saudara kembar itu menjawab secara bersamaan.
"Well, aku merasa tersanjung." Chanyeol mendengus.
Sehun memutar kedua matanya, "dan sekarang kita harus kembali menjadi diri kita sendiri." Ia menoleh ke arah Shixun yang sedang mengelap wajahnya menggunakan selimut. "Banyak yang harus kita bicarakan."
Shixun bergegas turun dari kasur dan menatap Sehun. "Kau yang harus menjelaskannya kepadaku." Ia merenggangkan tubuhnya sebentar. "Tapi sebelum itu, kita harus mengganti warna rambut kita terlebih dahulu."
"You do mine and I'll do yours." Sehun berkata sambil mendahului kembarannya itu untuk pergi ke kamar mandi.
"Terserah!" Shixun membalasnya sebelum mengejar sang adik ke kamar mandi, meninggalkan Chanyeol yang masih terbengong di atas kasur.
"Tunggu dulu!" Chanyeol buru-buru turun dari kasur dan menghampiri si kembar. "Hanya itu?"
Sehun menghela nafas sambil mendudukkan dirinya di depan cermin. "Kau mau mendengar apa lagi hyung?"
Chanyeol mengangkat bahunya, "something fun? Ayolah! Aku sudah bersusah payah memanjat Mansion ini dan kau tidak menceritakan bagian serunya?"
"But it's gonna be a looooong story, a complicated one it is." Shixun berkata sambil melirik Chanyeol yang sedang bersandar di pintu kamar mandi. "Kau yakin mau mendengar semuanya?"
"Seakan-akan aku punya hal lain yang harus ku lakukan setelah ini." Chanyeol menyeringai, ia menutup pintu kamar mandi sebelum kembali memusatkan perhatiannya kepada Shixun dan Sehun. "Jadi? Tunggu apa lagi? Aku siap untuk jadi pendengar yang baik."
.
.
Kai mengernyitkan dahinya ketika ia mendengar suara gaduh dari kamar Shixun. Niatnya ingin melihat keadaan lelaki itu pagi ini terhenti begitu saja di depan kamar Shixun.
"Kau sedang apa di depan kamar Shixun?" Kai menoleh dan mendapati seorang lelaki tinggi dengan rambut pirang sedang menatapnya dengan pandangan tajam.
"Yifan ge." Kai bergumam.
Yifan melangkahkan kakinya hingga kini ia berdiri di dekat Kai. "Kau ingin menemui Shixun sepagi ini?"
"Aku ingin berbicara dengannya, itu saja."
"Aku yakin kalian masih memiliki waktu yang banyak untuk berbincang." Suara Yifan terdengar dingin di telinga Kai. "Tidak harus pagi ini, kan?"
Kai menegakkan tubuhnya agar ia bisa menatap Yifan tepat di mata lelaki itu. "Kau nampaknya tidak begitu senang jika aku ingin berbicara dengan Shixun?"
"Apakah aku harus merasa senang jika aku sudah mengetahui bahwa kau," Yifan menunjuk Kai dengan dagunya, "putra dari saingan terberat kakakku, menyukai Shixun?"
Kai mengepalkan kedua tangannya di sisi badannya. "Kau punya masalah untuk itu?"
Yifan tidak bergeming.
"Ah! Atau jangan-jangan…" Kai tersenyum miring. "Kau, paman dari seorang Wu Shixun, juga memiliki rasa yang sama sepertiku terhadapnya?"
Dalam hitungan detik, Yifan mendorong tubuh lelaki yang lebih muda darinya itu hingga menabrak pintu kamar Shixun yang berada di belakangnya. Nafas kedua lelaki itu kini memburu dan mereka juga saling melempari pandangan penuh kebencian. "Kau…" Yifan menggeram. "Jika kau mengatakan hal itu sekali lagi Kim! Aku bersumpah—"
"Tidak mau mengakui perasaanmu sendiri, eh?" Kai terkekeh. "Apa karena dia keponakanmu?"
"Hentikan!"
"Kau hanya sedang berusaha menyangkal perasaanmu sendiri karena kau tahu kalian tidak akan bisa bersama, what a loser."
"Shut up!"
"Aku benar kan? Karena itu kau tidak terima jika aku bisa memiliki Shixun sementara kau tidak bisa."
"KU BILANG HENTIKAN!" Yifan berteriak dan kepalan tangannya meninju pintu kamar Shixun, tepat di sebelah kepala Kai yang kini sedang tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat lawannya marah.
Sementara itu, sekujur tubuh Yifan kini bergetar karena menahan amarah. Perkataan Kai yang menohok ulu hatinya berhasil membuatnya kehilangan kendali. Yifan bersusah payah untuk mengatur nafasnya yang memburu, sementara Kai di hadapannya masih enggan untuk bergerak.
"Kau tidak perlu khawatir lagi, gege." Kai tersenyum simpul. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan Shixun lagi, karena kau bahkan sudah kalah sebelum memulai." Dengan itu, Kai mendorong tubuh Yifan agar menjauh darinya lalu berjalan menjauhi lelaki yang kini sedang jatuh berlutut di depan pintu kamar Shixun.
He's right. He's so fucking right. Yifan mengulang kembali perkataan Kai di kepalanya, tubuhnya bergerak untuk menyandarkan kepalanya di pintu kamar Shixun dengan lemas. Aku bahkan sudah kalah sebelum memulai.
.
.
Chanyeol menatap sepasang anak kembar identik di hadapannya ini dengan bosan.
"Tolong katakan kepadaku jika kalian tidak berniat untuk kabur dari Mansion ini." Ia berkata dengan parau. "Karena aku sudah lelah berlarian kesana kemari."
"Kalau kau ingin tinggal di sini ya tidak mengapa," ujar Sehun dengan ringan. "Paling kakek nanti hanya akan menyiksamu sedikit."
Chanyeol menatap Sehun dengan sangsi, "enak saja—"
"Aku masih tidak menyangka kau melakukan hal itu dengan si Kim sialan itu." Shixun yang sedang duduk di kasur mendelik ke arah Sehun. Sepasang anak kembar itu tadi telah mengadakan sesi jujur-jujuran, semua hal yang terjadi kepada mereka selama ini telah merek ceritakan kepada satu sama lain, dan sudah bisa di tebak, Shixun hampir saja terkena serangan jantung mendadak ketika mendengar cerita Sehun dan Kai di danau. "Terlebih lagi kau suka dengannya sekarang! Astaga! Matamu ini katarak atau apa?!"
Sehun mendengus sebal, "cinta tidak memandang apapun, benarkan Yeol?"
Chanyeol hanya mencibir.
"Lagipula ternyata selama ini ia menyukaimu Xun, dasar tidak pekaan!" Sungut Sehun.
Shixun melebarkan matanya, tidak terima jika dirinya yang disalahkan, "sekarang kau cemburu?!"
"Aku tidak cemburu! Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya!"
"Kau cemburu! Itu kenyataannya!"
"Sudah ku bilang aku tidak cemburu!"
"Terus saja mengelak!"
"Aku tidak—"
"Demi sempak Firaun! Berhentilah bertengkar!" Chanyeol yang sudah habis kesabarannya kini bangkit dari duduknya sembari memandangi kedua saudara kembar itu dengan mata yang berapi-api. "Atau aku akan keluar kamar ini dan berteriak-teriak agar si Kim Kai sialan itu datang ke sini!" Perkataannya itu berhasil membuat keduanya terdiam.
Tiba-tiba sebuah suara bergerumul berat mengisi keheningan yang tercipta di antara trio itu, Chanyeol memegangi perutnya sementara Shixun mengerjab kaget.
"IH! APAAN TUH?!" Sehun memekik nista.
"Perutku." Chanyeol nyengir. "Aku lapar tauk! Semalam kakak kembarmu ini dengan seenak jidatnya mengajakku kabur dari perkemahan tanpa memberiku asupan gizi yang cukup."
Shixun menatap Chanyeol sambil cemberut, "kau sudah kelebihan gizi Park."
Sehun menghela nafas, "tapi aku tidak bisa keluar kamar sekarang, aku sudah jadi diriku sendiri, ingat?" Namun sedetik kemudian matanya membulat sempurna. "Kau belum makan dari semalam katamu?!"
Chanyeol hanya mengangguk polos.
Shixun mengernyit melihat adik kembarnya yang sedang misuh-misuh sendiri, "memangnya kenapa? Heboh banget."
"Si Park idiot ini!" Sehun merangkul Chanyeol untuk menjitaki kepala lelaki itu. "Dari dulu punya maag akut yang itu artinya ia tidak boleh telat makan!" Sementara itu, Chanyeol hanya mengaduh-aduh ria di bawah jitakan Sehun.
Shixun menguap bosan, hanya itu ternyata. "Lalu?"
"Apa maksudmu dengan 'lalu'?" Sehun berhenti dari kegiatannya menjitaki Chanyeol-nya sejenak. "Itu artinya kau harus segera turun ke bawah dan mengambil makanan untuk kita semua!"
"Harus banget?" Shixun menatap adiknya dengan cemberut, ia sangaaaat tidak mau jika nanti di bawah harus bertemu dengan Kai atau Yifan ge atau ayahnya atau kakeknya, lebih baik ia terbaring kelaparan di kamar.
"Yaiyalah! Kau ingin si caplang ini muntah-muntah di kamar?!"
"Tinggal bilang saja kalau di hamil."
"Kutil kuda! Apa susahnya sih turun ke bawah dan ambil makanan?!" Shixun tercengang ketika melihat sang adik kembar yang biasanya kalem nan ayu kini mulai berkata kasar dan berwajah merah seakan-akan ia ingin bertransformasi menjadi Hulk, sementara itu Chanyeol yang masih dirangkul Sehun sudah mulai meringis sambil memegangi perutnya.
"Lakukan sekarang, cuk!" teriak Sehun gemas.
Shixun langsung ngibrit keluar dari kamar mereka.
.
.
Kai menatap heran sesosok pemuda berambut pirang familiar yang sedang berjalan mengendap-endap di dapur. Sambil menyenderkan tubuhnya di pintu masuk, mata Kai mengikuti setiap pergerakan Shixun yang sedang mengumpulkan setiap makanan dan minuman yang ia jumpai secara terburu-buru. Ini pertama kalinya ia melihat Shixun seperti ini.
"Kau sedang apa?"
"HUAH!" Shixun terlonjak kaget, membuat makanan kaleng yang berada di genggamannya terlepas hingga menimbulkan bunyi klontang berisik.
Kai mengernyit ketika ia melihat reaksi Shixun yang agak berlebihan. "Kau ini sedang ingin jadi maling di rumah sendiri atau bagaimana sih?"
Shixun yang sedang menunduk untuk mengumpulkan makanan kaleng yang berceceran di lantai lantas mendongakkan wajahnya untuk menatap musuh bebuyutannya itu dengan sengit. "Urusi saja urusanmu sendiri sana."
"Kau ini bipolar ya?!" Kai meninggikan nada suaranya, heran akan kelakuan Shixun yang sekarang. Tatapan mata lelaki itu sudah kembali seperti biasanya, tajam dan menusuk. Begitu pula cara bicara Shixun yang ketus abis terhadapnya.
"Kau ini banyak tanya ya?" Shixun menghela nafas sambil bangkit dari posisi sebelumnya, ia kemudian menatap penampilan Kai dari atas hingga ke bawah, berusaha mencari-cari sesuatu di tubuh lelaki itu yang telah berhasil membuat adik kembarnya itu terserang virus merah jambu. "Dia memang katarak." Gumam Shixun.
"Apa kau bilang?" Kai mengkerutkan dahinya.
"Kepo!" Semprot Shixun.
Kai mendengus sebal meskipun di dalam hati ia bertanya-tanya, hal apa yang telah membuat sikap dan perilaku Shixun kembali berubah menjadi semenyebalkan seperti biasanya. Kemana Shixun yang kikuk dan pemalu itu? Kemana Shixun yang merona ketika ia tatap? Kemana? KEMANAH?
"Minggir! Aku mau lewat!"
Sebuah ide jahil terlintas di kepala Kai, sudah lama juga ia tidak isengin Shixun. Jadi yang Kai lakukan adalah meminggirkan tubuhnya agar memberikan jalan bagi lelaki pirang itu dan ketika Shixun dengan santainya melongos pergi, Kai dengan cekatan menarik bagian belakang kaos lelaki itu hingga membuat Shixun oleng ke belakang.
"ASDFGHJKL—KIM KAI!" Shixun sudah bersiap-siap ingin melempari Kai dengan berbagai macam makanan kaleng yang ada di tangannya, namun pergerakannya terhenti ketika ia melihat seseorang muncul dari arah ruang makan.
"Kau sudah bangun Shixun?" Yifan bertanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Sementara itu yang di tanya sedang mengalami korsleting sementara, kini ada berpuluh-puluh mini Shixun di kepalanya yang menjerit-jerit 'mayday' karena kinerja jantungnya berhenti sementara ketika melihat sang pujaan hati muncul dengan keadaan yang meskipun acakadul setelah bangun tidur, namun tidak mengurangi kadar ketampanan lelaki itu.
Mungkin karena efek rindu yang berlebihan juga.
"Eh? Oh…itu…nganu…um…eh…y-ya…" Shixun tergagap.
Yifan lalu berjalan mendekat, "oh ada Kai juga." Ia berkata dengan kaku sebelum akhirnya berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air dan kemudian meneguknya hingga habis, lalu ia kembali menatap keponakannya itu. "Apa yang kau lakukan dengan semua makanan kaleng itu?"
"A-aku ingin mengadakan pesta?"
"Dengan siapa?" Kai dan Yifan kompak bertanya bagaikan paduan suara.
"Dengan bantal dan gulingku, tentu saja. Masa dengan kakek dan ayah? Hahaha." Shixun berkata dengan canggung sembari menggerakkan tubuhnya agar semakin menjauh dari area dapur yang kini memiliki aura dingin di dalamnya. "Aku pergi dulu!" Kemudian ia melesat dengan cepat menuju tangga, meninggalkan kedua lelaki lainnya terdiam di dapur.
"Apa-apaan itu?" Kai bergumam heran melihat kelakuan Shixun yang semakin hari semakin aneh, mungkin lelaki itu kesambet sesuatu.
Ya, mungkin saja.
.
.
"Kau tahu? Aku tidak mau mati kebosanan di dalam kamar ini." Ujar Chanyeol sambil menyentil-nyentil kaleng makanan yang sudah habis dihadapannya. "Itu konyol dan tidak bergengsi sama sekali."
"Kau pikir aku mau?!" Desis Sehun yang kini sedang menggenggam sebuah minuman Jus kalengan di tangannya. "Bersabarlah sedikit!" Ia berjalan ke arah jendela dan membukanya, mata hitamnya menangkap ada sesuatu yang kurang dari jendelanya, namun ia segera menepis pemikiran tidak bergunanya itu.
"Sampai kapan aku harus bersabar?!"
"Sampai bumi menjadi bulat!"
Shixun berkedip bingung, "bukannya bumi memang bulat?"
"Bumi kita berbentuk pipih, Xunxun." Chanyeol menjawab dengan gemas.
"Ooh…" Mulut Shixun membentuk 'o' lucu. "Aku baru tahu."
"Kau itu norak sekali."
"Hey!"
"ISH!" Sehun berdesis. "Hentikan percakapan tidak berfaedah ini!"
Hening melanda ketiga makhluk gabut itu sampai akhirnya Shixun memutuskan untuk mengeluarkan suaranya. "Ada yang punya weed?" Ia bertanya dengan nada datar.
Sebuah paket terbungkus kertas kado bergambar Moana melayang ke pangkuan Shixun.
"What the hell?! Apa kamar ini bisa mengabulkan apa saja keinginan kita dalam sekejap?!" Shixun menangkap paket itu sementara matanya sudah membulat sempurna.
"Tentu saja tidak bodoh! Itu milikku!" Sehun bersungut kesal. "Jackson yang memberikannya kepadaku di El Dorado."
"Jackson? Dia siapanya Michael Jackson?" Tanya Chanyeol.
"Jayus!" Ledek Sehun, sementara Chanyeol hanya cemberut.
Shixun dengan semangat membuka kertas kado bergambar Moana itu dengan sembarangan. Kedua iris gelapnya memancarkan sinar kebahagiaan ketika ia akhirnya bisa berjumpa lagi dengan weed yang biasanya selalu ada di kantong celananya.
"Kau mau coba?" Shixun dengan semangat menawarkannya kepada Chanyeol yang sedang memperhatikan gerak geriknya ketika ia sedang membuat joint dengan lincah.
Chanyeol menatap joint yang disodorkan oleh Shixun dengan horor. "Tidak!"
Shixun mengangkat bahunya sebelum ia beranjak ke jendela yang tadi sudah di buka oleh Sehun, kemudian ia segera menyalakan korek dan membakar rokok ganja yang tadi ia buat sebelum menghisapnya.
"Enak?" Chanyeol menatap Shixun dengan pandangan penasaran.
"Namanya juga ganja, tentu saja enak." Shixun berkata dengan santai.
Sementara Shixun sedang memanjakan dirinya dengan ganja, Sehun dan Chanyeol kini hanya duduk-duduk di lantai dan kasur kamar dengan bosan. Lapar? Baru saja mereka makan. Ngantuk? Mereka bahkan sudah kelamaan tidur tadi saking bosannya. Main? Mau main apa?
"Wahai kalian para manusia gabut abad ini." Shixun berkata sambil menghembuskan asap dari mulutnya. "Mainkanlah PS yang ada di laci bawah TV itu."
Chanyeol, yang sedang tergeletak di dekat TV, segera bergerak untuk membuka laci itu dan bingo! Ia menemukan sepaket PS 3 lengkap beserta harddisk yang berisi game-gamenya. Sehun yang melihat itu, dengan kecepatan cahaya segera loncat dari kasur hingga ia melakukan pendaratan yang mulus tepat di sebelah Chanyeol yang sedang mengutak-atik peralatan PS itu.
"Wah! FIFA!" Pekik Chanyeol girang.
"Jangan! Need for Speed aja!" Kilah Sehun.
"GTA aja!" Kini Shixun ikut-ikutan nimbrung.
"FIFA!"
"Need for Speed!"
"GTA!"
"FIFA!"
"Need for Speed!"
"GTA!"
"Hompimpa aja deh!"
"Oke!"
Ketiga anak Adam itu kini sedang mengumpulkan tangan kanan mereka di tengah-tengah, bersiap-siap untuk memulai hompimpa yang akan menentukan nasib game pilihan mereka saat ini.
"Hompimpa alaiyum gambreng! Suho hyung pake baju rombeng!"
Nun jauh di kantor kepolisian Beijing sana, Suho yang sedang melaporkan bahwa ada dua anak buahnya yang kabur menggunakan helikopter di tengah malam bersin keras.
"Pfft—" Ketiganya menahan tawa.
"Yey aku menang! WOOOO! NEED FOR SPEED BERJAYA!" Sehun berteriak dengan girang sembari meloncat-loncat bagaikan cacing kepanasan.
Urutan telah di undi, karena mereka berjumlah ganjil, jadilah mereka sepakat jika si pemilih game itu harus bertanding di akhir alias di final nanti. Itu artinya, di babak pertama akan terjadi pertarungan sengit antara Shixun dan Chanyeol sebelum salah satu dari mereka akan melawan Sehun akhirnya.
"Aku sarankan, kau jangan memilih mobil Subaru." Ujar Sehun ketika Shixun sedang memilih mobil yang akan ia gunakan. "Pilih Ford saja."
"Oke!"
"Kalau untukmu Park, aku sarankan pilih Subaru saja." Sehun kini beralih kepada Chanyeol yang gilirannya untuk memilih mobil. "Jangan pilih Ford."
"Okeh!"
Pertandingan berlangsung seru dan heboh, kehebohannya rata-rata terjadi karena mobil Ford Shixun berkali-kali di serempet oleh mobil Subaru Chanyeol, sementara sang pengendali itu sibuk terkekeh-kekeh. Pertandingan akhirnya di menangkan oleh Chanyeol setelah lelaki caplang itu berhasil membuat mobil Shixun oleng sekali lagi.
"Awas kau nanti Park!" Shixun menunjuk Chanyeol dengan keki. "Tidak akan ku biarkan kau menang di game selanjutnya!"
"Siapa takut?" Chanyeol menjulurkan lidahnya ke arah Shixun.
Kini akhirnya giliran Sehun melawan Chanyeol.
"Kau harus bisa kalahkan si Chanyeol sialan itu!" Shixun memijit-mijit pundak adik kembarnya itu. "Jika kau dapat seri melawan Kai di jalanan, kau pasti bisa mengalahkan Chanyeol dengan telak!"
Sehun meringis ketika ia mengingat kejadian dimana ia dan Kai harus adu balapan di jalanan Guangzhou yang rasanya sudah lama sekali.
Setelah melewati adu mulut kecil karena memperebutkan sebuah mobil, kini akhrinya Sehun dan Chanyeol sudah mulai berjibaku dengan stick PS mereka masing-masing.
"Ya! Kejar terus! Hajar!" Pekik Sehun dengan girang. "Balap mobil Chanyeol yang cupu itu! Shit! Sembarangan saja nabrak mobil orang! Balik! YA! BALIK CEPADH!"
Sementara itu di sisi kanan, ada Park Chanyeol sang sedang menatap layar TV dengan pandangan berapi-api sementara jari-jarinya bergerak lincah menekan-nekan setiap tombol yang ada di stick PS itu dengan nista. "Tinggal satu lap lagi! Terus! FAK! SHIXUN! JANGAN KELITIKI AKU!"
Kini saatnya Shixun yang tertawa nista karena berhasil menumbangkan Chanyeol di detik-detik terakhir menuju garis finish, ia tidak sudi jika Chanyeol yang memenangkan pertandingan ini.
Layar TV itu kini menunjukkan tulisan YOU WIN di sisi kiri sementara tulisan YOU LOSE di sisi kiri tempat mobil Chanyeol kini berjalan dengan pelan sementara sang pengendali sudah tergeletak mengenaskan di lantai karena habis terkena serangan kelitikan no jutsu dari Shixun.
"KITA MENANG! LOLOLOLOL!" Shixun dan Sehun meloncat-loncat girang mengelilingi Chanyeol yang masih terkapar di lantai seakan-akan mereka sedang melakukan upacara adat pedalaman.
Kini giliran game pilihan Chanyeol a.k.a FIFA yang akan mereka mainkan. Di babak pertama ini, Shixun akan melawan adik kembarnya sendiri yang tadi ia bela selama main Need for Speed, sekarang mereka harus menjadi lawan dan yang menang akan melawan Chanyeol nanti.
"Kenapa kau pilih Real Madrid? Kenapa bukan Barca saja?" Tanya Chanyeol ketika Sehun selesai memilih tim yang akan ia gunakan.
"Ada Ronaldonya. Ganteng sih. HAHAHA." Sehun nyengir.
Shixun mendengus sambil tangannya bergerak lincah untuk memilih Barca, "gantengan juga Messi."
"Gantengan aku." Ujar Chanyeol tiba-tiba.
"HUUU…" Shixun dan Sehun kompak nyorakin Chanyeol sementara itu si caplang hanya terkekeh.
Pertandingan telah berlangsung lebih dari 5 menit dan skor kedudukan kini masih 0-0. Sehun memainkan gamenya dengan sesekali menyenggol tubuh kembarannya itu, sementara yang di senggol balas menyenggol hingga tak jarang mereka memencet pause hanya untuk saling dorong.
"Yak! Tendang terus! Hajar terus! Ya..YA! Benar sekali! Seperti itu! AAARGH!" Shixun menjerit ketika bolanya berhasil di rebut oleh Sehun.
"FUCKING SHIT!" Sehun melempar stick PS nya ke lantai ketika Shixun berhasil memasukkan bola ke gawangnya.
Pertandingan akhirnya berakhir dengan Shixun sebagai pemenang dengan skor akhir 5-1. Bisa di bilang, Shixun menang telak dari saudara kembarnya itu. Sehun cemberut ketika ia melihat kakak kembarnya itu sedang menari-nari gak jelas untuk merayakan kemenangannya.
Chanyeol tertegun ketika ia melihat jari telunjuk Shixun mengarah kepadanya. "Ayo kita bertanding, Park!"
Sehun, dengan tidak rela, menyerahkan stick PS nya kepada Chanyeol yang sudah tidak bisa diam di duduknya karena terlalu bersemangat untuk main FIFA. Shixun memutuskan untuk tetap bermain dengan Barca sementara Chanyeol memilih MU sebagai timnya.
"Ih, ini versi lama ya? Kok masih ada Park Jisung di MU?" Chanyeol mengernyit ketika ia melihat nama Park Jisung di daftar pemain tepat sebelum pertandingannya di mulai.
"Lho? Memangnya Park Jisung pernah main di MU?" Tanya Sehun penasaran, maklum, ia lebih senang membaca buku di banding nonton bola seperti kebanyakan laki-laki lainnya.
Shixun hanya memutar matanya malas, "norak sekali ah kau. Aku tidak mau jawab." Katanya ketus.
Pertandingan di mulai oleh tim Shixun yang mengoper bolanya karena dia merupakan Player 1, sang pengendali dengan penuh nafsu mengoper bola kesana kemari dan menerjang semua pemain Chanyeol dengan membabi buta. Di sisi lain, Chanyeol tidak kalah berapi-apinya juga, lelaki caplang itu memilih FIFA bukan hanya karena dia jago, tetapi karena dia tahu tips dan trik cara curang bermain game itu.
"Aaaah! Offside sialan!" Shixun hampir saja membanting stick PS nya ke lantai.
Kini giliran kiper Chanyeol yang memegang bola, Chanyeol tersenyum miring sembari tangannya bersiap-siap, ia akan merencanakan ide busuknya. HAHAHAHA, Chanyeol tertawa di dalam hati.
"Idiot! Apa yang kau lakukan?!" Pekik Shixun sambil melotot ketika kiper Chanyeol berlari melintasi lapangan lurus terus tanpa mengoper bolanya ke pemain lain.
"Apakah itu boleh?" Sehun bertanya dengan polos.
"Tentu saja tidak!" Ujar Shixun dengan gemas, jari-jarinya bergerak dengan lincah untuk mengarahkan tiap-tiap pemainnya agar merebut bola tersebut namun gagal. "Asshole! Ikuti peraturannya!"
"Fuck peraturan! Kemenangan lebih penting!" Chanyeol tertawa setan sambil terus menggiring bolanya melintasi lapangan.
Shixun mengaum ketika Chanyeol akhirnya berhasil membobol gawangnya, "GOOOOOOOLLL!"
"Awas kau Park Chanyeol! Rawr!" Shixun dengan geram menerjang Chanyeol hingga membuat mereka berdua terjungkal ke lantai.
Sehun di sisi lain hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kakak kembarnya dan mantannya itu yang sekarang sedang mengadakan gulat di lantai. "Ini permainan yang tidak sehat."
.
.
Ruang makan milik Mansion Wu kini terasa ramai namun sepi karena meskipun banyak orang yang mengisi ruangan itu, tetapi tidak ada satupun yang berbicara. Mereka semua sibuk dengan makan siang masing-masing, sesekali mata mereka melirik ke arah satu kursi kosong yang tidak di tempati oleh pemiliknya karena sedang mengunci dirinya di kamarnya sendiri sejak semalam.
"Ckckck…Sepi sekali, dasar para manusia kaku." Nenek Wu berkomentar dengan gamblang, maklum, beliau absen dari acara makan malam semalam jadi ia tidak tahu ada kejadian besar yang terjadi di ruangan ini semalam. Kemudian ia menoleh ke arah suaminya, "dimana cucumu itu?"
"Ngambek di kamarnya." Ujar Kakek Wu dengan lalu.
"Dan kau tidak melakukan apapun?!"
Kakek Wu terbatuk kecil sebelum menjawab, "anak itu terlalu keras kepala, apa lagi yang harus aku lakukan?"
Mata Nenek Wu sedikit menyipit melihat kelakuan suaminya sebelum ia menoleh ke arah putra sulungnya yang sedang makan dengan pelan, "kau juga tidak melakukan apapun?"
Ayah si kembar itu menoleh ke arah ibunya. "Aku sudah berbicara dengannya dan membiarkan Shixun untuk memilih pilihannya sendiri, ia sudah besar Bu." Lalu ia melanjutkan acara makannya yang tertunda tadi.
Nenek Wu menoleh ke arah putra bungsunya, "Yifan?"
Yifan mengangkat bahunya, "aku sudah merayunya untuk keluar, dia tetap saja tidak mau."
"Hmmm….Aneh." Ujar Nenek Wu. "Biasanya anak itu lebih menuruti perkataanmu di banding perkataan ayahnya sendiri."
"Banyak yang berubah jika seorang anak sudah beranjak dewasa, Bu." Yifan berkata dengan pelan. "Seperti yang dikatakan gege, Shixun sudah besar dan ia berhak untuk memutuskan apapun sendirian."
Nenek Wu mengangguk-angguk. "Mungkin. Tapi, apakah masalahnya besar sekali sehingga ia harus memanggil Sehun ke sini?"
Keheningan langsung melanda ruangan tersebut. Pertanyaan yang di lontarkan oleh Nenek Wu berhasil menyita perhatian Kai seluruhnya, ia penasaran sekali dengan sosok 'Sehun' yang dari semalam selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Apa hubungannya dengan Shixun? Semalam anak itu terlihat panik ketika Nenek Wu menyebut-nyebut nama Sehun.
"Jangan konyol! Sehun sedang berkemah bersama teman-temannya di kaki gunung." Kakek Wu mendengus pelan.
Nenek Wu menatap suaminya dengan sangsi. "Aku tidak berbohong! Semalam aku melihatnya di lorong lantai 4!"
"Mungkin itu Shixun, Bu."
Kini Nenek Wu memelototi putra sulungnya itu, "aku tidak mungkin salah lihat! Sedari dulu aku selalu bisa membedakan kedua anak itu meskipun mereka memakai baju yang sama ataupun mereka menutup-nutupi warna rambut mereka yang berbeda!"
Tuan Wu menghela nafas, "semalam yang ibu lihat berambut pirang atau hitam?"
"Pirang!"
"Itu Shixun."
"Tidak mungkin! Itu Sehun!"
"Ibu," Yifan berkata selembut mungkin. "Bagaimana kalau ibu ku antar kembali ke kamar? Kita makan di kamar saja ya?"
Nenek Wu menghela nafas pasrah, putra bungsunya itu memang selalu bisa membuatnya menurut. "Baiklah. Aku juga sudah tidak tahan makan di ruangan ini." Kemudian ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar ruang makan mendahului Yifan yang sedang mengarahkan beberapa maid untuk membawakan makanan Nenek Wu ke kamarnya.
"Err…Sehun itu siapa?" Tanya Kai pelan setelah Yifan akhirnya keluar ruang makan untuk menyusul Nenek Wu.
Tuan Wu menoleh ke arah Kai dan Kai baru menyadari bahwa mata pria itu sangat mirip dengan mata Shixun, mata yang selalu membuatnya merasa seperti tersedot kedalamnya, mata yang selalu membuatnya kehilangan arah. "Eh? Kau tidak tahu kalau Shixun punya kembaran? Nah, Sehun itu kembarannya Shixun."
.
.
.
WAAAA I'm back~~!
Ini ngaret parah sih… bener bener-_- Maapkeun saya yang memang agak susah buat ngatur mood sama feels buat ngelanjutin ini FF karena kadang feelsnya muncul pas saya lagi gak megang laptop, eh pas udah megang laptop, feelsnya malah ilang-_- dan juga saya abis UNBK beberapa minggu yang lalu kawans! Alhasil lappy sempet di umpetin sama enyak babeh untuk sementara :-((( belum lagi wi-fi di rumah di cabut jadi saya kudu numpang wifi di mekd* dulu buat apdet FF muehehe #malahcurhat
Kalau ada yang nyadar, saya juga nambahin tag Chanhun di summary (hayoloh!), nanti di chapter selanjutnya bakal di jelasin kok~
Trus saya juga ganti-ganti sedikit bahasa yg saya gunain di FF ini. Gara-gara saya waktu itu habis baca ulang chapter sebelum-sebelumnya dan saya menjerit "KAKU BANGET!" trus kalau di pikir-pikir lagi, saya kebanyakan bikin FF yang sedih sedih, yang hepi hepinya jarang, krisis kebahagiaan, jadilah saya memutuskan supaya FF ini bahasanya jangan terlalu serius serius amat lah~ selow aee
As usual, makasiiihh banyak buat yang udah baca, favoritin, dan ngomentarin FF ini! Ciyus, kalau saya bacain spekulasi-spekulasi kalian di komen kadang saya malah dapet inspirasi dari kalian~ terima kasih semua huhu :" KALIAN LUAR BIASAAA~~
Have a nice day!
