Title : Stay with him

Main Casts :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Genre : Humor, Romance, fluff (maybe ._.)

Rate : T

Length : Chaptered

A/N : Yang bilang sifat Chanyeol dan Kris ketuker, kalian salah besar muehehehehehehe XD, Kris punya sifatnya sendiri di sini, dia gak butuh minjem sifat Chanyeol. (Kris : Iya dongg, lagian spa juga yg mau sifat si chanyeol yang malu2in itu. Chanyeol : Bully aja gue terus.) Yang mau HunBaek, errrrr mianhae, mereka cuma temen di sini.

.

.

.

.

Baekhyun memajukan bibirnya kesal. "Baiklah, ajussi saja yang masak." Baekhyun berbalik, "Seperti pembantuku." Sambungnya sangat pelan lalu terkikik geli.

"Kau pikir aku tidak punya telinga?"

Baekhyun berbalik lagi menatap punggung Chanyeol.

"Buat makan malammu sendiri."

Huwaaaaaaaa eommaaaaa T.T

.

.

.

.

"AJUSSI, KENAPA KAU TEGA SEKALI PADA ANAK KECIL SEPERTIKU?!"

"Yang pertama, jangan sok muda, kau ini sudah 16 tahun, bukan anak kecil. Yang kedua, jangan berteriak, suaramu tidak enak didengar, dan yang ketiga, aku memang tega, kau harus tau itu mulai sekarang."

Baekhyun terdiam tapi ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan betapa kesal ia pada pemuda tinggi itu. Pandangan membunuhnya terus mengikuti gerakan punggung Chanyeol yang mondar-mandir mengurusi masakannya.

Tadi pagi ia tidak sarapan karena Chanyeol hanya menyediakan roti, tadi siang ia dan Sehun hanya makan cemilan di kantin, dan sekarang Chanyeol tidak akan memberinya makan malam? Lebih baik Baekhyun pulang ke Beijing saja, hidup bersama eomma dan suami eommanya yang munafik itu. Setidaknya ia akan mendapat makan.

"Aku tidak tahan tinggal di sini. Ajussi bodoh ini tidak memberiku makan, huwaaaaaaa eomma.." Baekhyun berjalan ke kamarnya, suara tangisnya menggema kemana-mana. "Aku akan menelepon eommaku. Aku mau pulang ke Beijing saja. Di sini seperti neraka!" suaranya sengaja dikeras-keraskan.

"Yeoboseyo, eomma…"

"Ya! Apa yang kau lakukan eoh?"

Baekhyun menoleh ke samping, pada Chanyeol yang merebut ponselnya. Ekspresi kesal masih terlihat jelas di wajah Baekhyun. "Kembalikan ponselku ajussi!" Baekhyun berjinjit saat Chanyeol mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

"Apa mengadu pada eommamu itu jalan keluarnya?"

"Lalu aku harus bagaimana lagi? Kalau terus seperti ini lebih baik aku tinggal di Beijing bersama eommaku."

"Bodoh."umpat Chanyeol pelan. "Kau pikir aku bisa menghabiskan makanan sebanyak itu sendirian? Kajja!" Chanyeol menarik lengan Baekhyun keluar dari kamarnya. Mereka kembali ke dapur. Baekhyun duduk di kursi meja makan sementara Chanyeol sibuk meracik masakannya di atas wajan. Ia baru menyusul Baekhyun ke meja makan setelah memindahkan masakannya ke piring.

Chanyeol duduk di dekat Baekhyun. Melihat meja makannya yang bersih mengkilap Chanyeol mengomeli Baekhyun lagi, "Ya! Kau tidak bisa berpikir untuk menyiapkan peralatan makannya?"

"Kenapa aku harus melakukannya? Ajussi saja sana!"

Chanyeol menggeram kesal. Tingkah anak ingusan di depannya ini melunjak ternyata. Ia menghela nafas berusaha sabar lalu berbalik untuk mengambil peralatan makan yang mereka perlukan. Ia mengambil mangkuk nasi, sumpit, dan gelas. Tentu masing-masing dua, karena ia yakin si kecil tengik yang sedang duduk di meja makannya sana tidak akan mau mengambil peralatan makannya sendiri.

Setelah Chanyeol menyiapkan semuanya, mereka memulai acara makan malam mereka yang terasa seperti makan malam para hantu.

Diam tanpa suara.

Memang, suasana hening itu sesuai dengan etika, tapi tetap saja. Mereka ini bukannya keluarga kerajaan yang harus mematuhi etika tidak bermutu begitu. Dan juga, di ruang makan ini tidak ada tetua yang perlu dihormati sehingga mereka harus makan layaknya gaya seorang tuan putri.

Kalau saja ada cicak di dinding, pasti ia sudah terlonjak kaget sampai jatuh ketika mendengar dering ponsel yang begitu nyaring di tengah acara makan malam sunyi dua makhluk dengan perbedaan tinggi badan yang kontras—tapi ideal—itu.

Chanyeol mlirik smartphone putih milik Baekhyun yang terletak di dekat gelasnya. (Perlu kalian tau, sejak tadi ponsel Baekhyun masih ada di tangan Chanyeol.)

"Sehun?" dahi Chanyeol mengerut, "Sehun siapa?"

"Sehun menelepon?" Baekhyun meletakkan sumpitnya lalu menenggak air dari gelas, "Kemarikan ponselku. Aku harus mengangkat teleponnya."

"Yeoboseyo?"

"YAAAAA!" Baekhyun berteriak kencang saat Chanyeol mengangkat telepon dari Sehun seenaknya.

Tapi Chanyeol tidak peduli. Ia menghalangi Baekhyun dengan sebelah tangannya, sementara ia terus berusaha berbicara pada orang di seberang telepon. "Kau siapa?" tanya Chanyeol. Kali ini dia berdiri karena gerakan Baekhyun begitu gesit ingin merebut ponselnya.

"Ah, teman sekolah ya. Kalau begitu belajar dulu yang benar ya nak. Anakku Baekhyun juga baru berumur 16, masih terlalu muda kalau kalian mau berpacar-pacaran."

"YAAAAAAA! SEHUN JANGAN DENGARKAN DIA. DIA BUKANmmpphhtttt.." Chanyeol berdiri di belakang Baekhyun, memeluknya erat dengan sebelah tangan lalu meletakkan ponsel Baekhyun di atas meja makan setelah membuat teleponnya mejadi mode loudspeaker. Kemudian tangannya yang sebelah lagi ia gunakan untuk membungkam mulut Baekhyun.

"Maaf ajussi. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada Baekhyun." Terdengar suara Sehun dari seberang telepon.

"Sampaikan saja padaku. Aku ini ayahnya, nanti pasti kusampaikan langsung padanya." Baekhyun meronta di dalam pelukan Chanyeol namun sepertinya hal itu percuma saja karena tenaga Chanyeol sangat kuat. Oh tidak, Baekhyun bisa mati lemas kalau begini.

"Ah, aniya ajussi. Sebenarnya bukan hal penting juga. Bilang saja Sulli ingin bertemu dengannya besok saat pulang sekolah."

"Ah, arasseo. Belajar yang rajin ya nak. Agar nanti aku menerimamu menjadi menantu." Baekhyun membelalakkan matanya. Menantu katanya? Asih.. mati saja kau ajussi jelek!

Chanyeol melepas tangannya yang menyumpal mulut Baekhyun, lalu meraih ponsel Baekhyun di atas meja dan mematikan sambungannya. Ia melepaskan tangannya yang lain dari tubuh Baekhyun lalu berlalu seperti tidak ada yang terjadi.

"YAAAAAAAAAAAAAA!" Baekhyun berteriak heboh. Ia mengambil ponselnya hendak menghubungi Sehun, namun tiba-tiba saja Chanyeol yang sudah duduk di meja makan menyela, "Akan sangat aneh kalau kau tiba-tiba meneleponnya."

Baekhyun berganti menatapnya tajam. Nafas berusaha ia hembuskan sekeras-kerasnya guna meredakan amarahnya yang terasa seperti hampir sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya Baekhyun menghirup semua oksigen yang ada di ruangan ini, dan menyisakan karbon dioksida untuk dihirup Chanyeol sendiri sampai ia mati karena sesak nafas. Ia berjalan kembali ke mejanya, menenggak sisa air dari gelasnya, meletakkan gelasnya kasar, lalu berlalu meninggalkan Chanyeol. Persetan dengan sisa makanannya yang masih banyak itu, melihat wajah menyebalkan Chanyeol saja sudah bisa membuatnya mual karena kekenyangan.

"YA! Kau mau kemana? Cuci piring dulu baru pergi."

Baekhyun berbalik lagi setelah beberapa langkah meninggalkan meja makan. Ditatapnya wajah menyebalkan Chanyeol dari ujung matanya, kemudian berjalan ke meja makan lagi dengan tidak ikhlas. Ia mengambil mangkuk nasinya yang masih terisi setengah, meletakkannya di atas mangkuk nasi Chanyeol yang juga masih berisi. "YA! AKU BELUM SELESAI MEMAKANNYA!" omel Chanyeol lagi.

"Tadi kau suruh aku cuci piring dulu. Sudah sini, biar kucuci semuanya sampai bersih." Ada nada kemengangan dari suara Baekhyun. Ia menyeringai melihat raut wajah Chanyeol yang memerah menahan marah.

Saat Chanyeol akan meraih gelasnya, Baekhyun sudah lebih cepat mendahului, "Ini juga akan kucuci." Katanya dengan tersenyum mengerikan pada Chanyeol. Mengabaikan wajah Chanyeol yang semakin memerah, Baekhyun bersiu-siul membawa peralatan makan yang akan ia cuci. Ia menghidupan keran air dan mengambil spons dan sabun untuk memulai pekerjaannya.

Chanyeol berdiri dari kursinya kemudian berjalan mendekati lemari peralatan makan. Ia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air. Ia hendak meminum air dari dalam gelas itu tapi dibatalkan dengan ia yang berkata, "Ah, tampaknya gelas ini berdebu karena terlalu lama tidak dipakai, ck, aku tidak mau minum yang berdebu." Suaranya dikeras-keraskan. Ia kemudian membawa gelas itu mendekat ke arah Baekhyun, membuang airnya ke bak cuci, lalu menaruh gelasnya di dekat Baekhyun, "Cuci ini juga ya." Katanya dengan wajah datar lalu pergi ke dekat lemari piring lagi untuk mengambil gelas yang baru.

Ia melakukan hal yang sama, namun kali ini dengan penambahan kalimat, "Ah, tampaknya semua gelas di lemari ini berdebu. Eotteokhaji?"

Mata sipit Baekhyun melebar mendengarnya. Ia mencium gelagat-gelagat tidak baik sekarang. Ia segera berbalik, mendamprat Chanyeol dengan matanya yang sok dibulat-bulatkan, "JANGAN BILANG KAU MENYURUHKU MENCUCI SEMUANYA?!"

Chanyeol menatap Baekhyun tanpa ekspresi, "Apa salahnya? Lagipula kau sedang mencuci piring kan? Sekalian kan tak apa." Chanyeol mengambil gelas-gelas dari dalam lemarinya membuat bulatan mata Baekhyun semakin besar.

Hei, kalau hobi Baekhyun itu cuci piring, ia mungkin akan sangat berterima kasih pada Chanyeol, tapi sayangnya dia bukan seseorang dengan bakat menjadi babu yang hobi menggosok-gosok piring dan gelas menggunakan spons berlumuran busa.

"YA! Aku tidak mau mencucinya. Kau saja, dasar ajussi gila!" Baekhyun segera membuka sarung tangan yang ia pakai, namun saat akan melepaskan bagian yang kiri, Chanyeol mengumandangkan sesuatu yang sukses membuat gerakannya membatu, "Kalau kau tidak cuci piring, kau siapkan makananmu sediri." Baekhyun menelan ludahnya. Memasak itu mengerikan. "SETIAP HARI." Sambungan kata Chanyeol yang begitu jelas dan menggema membuat Baekhyun merasa kalah telak. Ia menggerutu, mencaci maki Chanyeol tanpa suara lalu memakai kembali sarung tangannya.

.

.

.

.

Aku menatap Sehun takut-takut sementara Sehun menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kuartikan. Karena kejadian kemarin, aku hanya bisa bertatap-tatapan dengan Sehun sejak lima menit yang lalu. Sah aku masuk ke kelas, yang kulakukan hanya menatap Sehun, begitu juga sebaliknya.

"Kau gay?" buka Sehun setelah mataku hampir terkilir karena menatapnya terus.

"ANI!" mata sipitku membulat dengan kedua tangan kulambaikan di depannya. Enak saja dia mengataiku gay. Aku normal. Demi suami ibuku yang munafik itu, aku normal.

"Lalu yang…"

"Yang kemarin itu bukan appaku."

Sehun mengerutkan dahinya, "Lalu siapa?"

"Itu.." bagaimana aku harus menjelaskan siapa Chanyeol? Apa aku harus bilang kalau Chanyeol itu anak dari teman ibuku, dan aku dititipkan padanya karena suami baru ibuku yang munafik itu tidak menginginkan kehadiranku di tengah-tengah keluarga mereka? "Itu.. dia hanya seseorang yang tinggal denganku."

"Seorang ajussi?"

Lama-lama Sehun lebih terlihat seperti wartawan yang menanyai artis yang terkena skandal besar. Oh tentu saja, artis besar yang dimaksud di sini aku. "Iya, seoranga ajussi. Ani.. Bukan ajussi juga sebenarnya. Dia mengaku berumur 22 tahun, tapi aku tidak percaya. Tubuhnya setinggi menara eiffel dan suaranya besar seperti monster. Kurasa dia berbohong dengan umurnya. Paling tidak, mungkin umurnya yang sebenarnya itu.. eum.. 39 tahun?" aku menggaruk kepalaku. Bukan karena ada sesuatu di sana, hanya saja aku bingung dengan apa yang baru saja kukatakan tentang Chanyeol ajussi. Oh ya, terserahlah.

"Lalu kenapa dia mengaku menjadi ayahmu?"

"KARENA DIA MENYEBALKAN!" jawabku berapi-api. Daripada menjawab pertanyaan Sehun, aku sebenarnya lebih ke mengingat kejadian tadi malam. Mulai dari dia yang mengancam tidak memberiku makan, mengaku-ngaku sebagai ayahku dan bicara yang tidak-tidak pada Sehun, sampai yang terakhir dia menyiksaku dengan menyuruhku mencuci piring hampir setengah isi lemarinya. Ia menyuruhku mencuci semua gelas yang dia punya di lemarinya, kalau kau mau tau.

Ah, hampir lupa. Dia juga berusaha meremukkan tulang-tulang pada tubuhku dan membekap mulutku dengan tangannya.

Bukankah ini percobaan pembunuhan?

"Ckckckckck… Kalau tidak gay, ya pasti gila." Sehun menggeleng-geleng dengan ekspresi seperti orang prihatin.

Mwo?

Prihatin?

Apa yang perlu diprihatinkan?

"Siapa yang kau sebut gila hah?!"

Sehun meremas bahuku, entah apa maksudnya. "Aku mengerti Baekhyun-ah. Aku juga bukannya orang yang tidak ingin berteman dengan orang gila."

.

.

.

.

Satu hari sudah bisa membuatku hafal dengan beberapa hal di kelas kami. Wali kelas kami bernama Cho Kyuhyun, seorang master matematika dengan gaya menerangkannya yang menyebalkan. Maksudku menyebalkan karena aku tidak bisa menangkap satu pun penjelasannya. Dia terlalu pandai, sedangkan aku terlalu bodoh.

Ketua kelas kami bernama Do Kyung Soo. Dia adalah si mata bulat yang berkata sinis padaku saat pertama masuk ke kelas ini. Orangnya pendek, bahunya sempit, matanya bulat, bibirnya berbentuk hati, dan menurut Sehun dia orangnya sok tegas dan sok berdedikasi sebagai ketua kelas. Gaya bicaranya menyebalkan, kedisiplinannya mengerikan, ketegasannya membuat semua orang ingin melemparnya dari lantai paling atas. Tapi, terkadang Kyungsoo juga bisa berguna sebagai ketua kelas terpendek tapi tersadis di sekolah mereka, makanya posisi Kyungsoo terus dipertahankan selama dua tahun berturut-turut.

Aku dan Sehun sedang berada di kantin saat jam istirahat. Sehun menyuruhku mengambil tempat duduk sementara dia memesan. Aku mengiyakanlalu segera mengedar pandang untuk mencari spot yang pas. Dan beruntung sekali aku menemukan sebuah meja kosong yang tepat berada di dekat jendela. Oh, aku suka tempat itu.

Aku berjalan mendekat lalu menduduki satu dari empat kursi yang tersedia, menunggu Sehun membawakan minuman kami. Ya, hanya minuman karena pagi ini Chanyeol ajussi memasakkan makanan orang normal pada umumnya.

Bukan maksudku mengatakan orang yang memakan roti sebagai sarapan pagi itu tidak normal, hanya saja kalau untuk ukuran orang Asia seperti kami, kurasa itu bukan kebudayaan yang baik. Aku selalu ingat bagaimana ayahku yang menuntut adanya kimchi di meja makan setiap hari. Tentunya memakan kimchi itu dengan nasi, bukan dengan roti. Ah, ngomong-ngomong yang kumaksud ayahku itu adalah ayah yang benar-benar ayah kandungku, ayah bioogisku, ayah yang sekarang entah masih hidup atau sudah mati aku tidak tau. Atau mungkin saja dia sudah hidup bahagia bersama istri barunya seperti ibuku yang amat sangat bahagia bersama suaminya yang munafik itu sampai-sampai dia rela menelantarkan anaknya bersama pria dari planet lain.

"Kau siapa?"

Aku mengangkat kepala, menemukan seseorang yang sepertinya pernah kulihat. Ah, si pirang mabuk. "Ne?" aku memiringkan kepalaku bingung. Kurasa dia mabuk lagi. Kenapa dia menanyakan siapa aku, padahal aku sama sekali tidak menyentuh ujung rambutnya. Melihatnya saja tidak!

"Kenapa kau duduk di tempatku?"

"Ne? Ini tempatmu? Kau mau membohongiku ya? Jelas-jelas tempat ini kosong sejak tadi." Kataku tak mau kalah. Dia tinggi sekali, jadi aku berdiri berusaha menyeimbangi. Walau kenyataannya tidak ada perbedaan antara aku duduk atau berdiri.

Si pirang mabuk tersenyum meremehkan. Aish.. ingin rasanya kucabut giginya itu agar dia malu tersenyum seperti itu untuk selamanya. "Kau mau pindah atau tidak?"

Oh, menantang rupanya. "TIDAK!" aku melipat tangan di dada, "Dan kau mau apa hah?!"

Si pirang mabuk itu tertawa meremehkan lagi dan keinginanku untuk mencabut giginya semakin kuat. Namun, di belakang si pirang mabuk ini kulihat Sehun yang sedang memegang minuman kaleng dengan ekspresi aneh. Dia seperti mengisyaratkan sesuatu, tapi aku tidak tau apa maksudnya. Ia menepuk jidat berkali-kali lalu membuat gestur aneh lagi. Dan aku kembali memasang tampang bodoh tanda tak mengerti.

Kulihat bibirnya bergerak-gerak cepat seperti mengumpat atau menggerutu. Ia berjalan cepat ke arahku, menarik lenganku lalu membungkuk pada si pirang mabuk, "Mianhamnida Kris sunbae, Baekhyun murid baru, mohon kemaklumannya, kami akan pindah, sekali lagi maaf." Sehun cepat-cepat menarik tanganku pergi dari tempat itu. Aku hanya bisa memasang ekspresi kebingungan. Sehun takut pada si pirang? Aish.. padahal aku sangat yakin bahwa si pirang ini hanya menang tingginya saja, kalau ditinju sekali pasti langsung berteriak memanggil eommanya.

Sehun menghempaskan tanganku saat kami berhenti di lorong sekolah, "Kenapa kau cari masalah dengannya hah?!"

"Tadi itu dia yang salah. Aku.."

"Stop!" Sehun mengambil nafas. "Dengar ya, dia itu Kris Wu, ketua murid di sekolah ini. Cari masalah dengannya itu sama saja dengan menggelapkan masa depanmu."

"Oho! Memangnya sekolah ini miliknya huh?"

"Bukan, tapi dia bisa bertindak seolah-olah sekolah ini miliknya. Dia ketua murid, kau mengerti situasinya tidak sih?" Sehun mengubah posisi berdirinya. "Intinya dia adalah makhluk yang paling tidak boleh kau dekati di sekolah ini. Lebih baik kau adu mulut dengan Kyungsoo daripada bicara satu kata pada Kris."

"Wow, mengerikan." Ucapku sarkastik. Apa hebatnya sih ketua murid itu? Ckckckck.. bodoh sekali orang-orang seperti Sehun.

"Sehun-ah!" aku dan Sehun sama-sama menoleh ke asal suara, seorang anak laki-laki dengan rambut cokelat ke-oranye-an melambai ke arah Sehun. Kulihat mata Sehun membesar, ia bergegas menarik lenganku berlawanan arah dengan lelaki yang melambai padanya tadi. Apa lelaki itu juga orang yang harus dihindari di sekolah ini? Aigo, rasanya aku hampir gila.

TBC

Plis, jangan bilang bagian chanbaeknya dikit di chapter ini. Kalau pun memang pendek chanbaeknya sabar dulu, karna nanti asal cerita yang sebenarnya muncul di sekolah, jadi scene di sekolah juga harus ada dan memadai. Give your best review pelase ^^