Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki

Pair: GoM + Kagami x Reader

Warning: AU, OC, OOC, Typo, tak sesuai EYD, jalan cerita ngawur bin amburadul dsb

Summary: Bagaimana jadinya jika tujuh pemuda tampan ini yang berasal dari Miracle Rainbow World berubah menjadi binatang lucu nan menggemaskan demi mendapatkan gadis di Bumi yang mereka inginkan? GoM + Kagami x Reader. Enjoy! (Pet 2: Midorima The Rabbit)

A/N: Hai, minna-san! ^o^)/

Apa aku sudah membuat kalian menunggu Fanfic ini sekian lama? Kalau iya, aku sebagai Author minta maaf karena telah membuat kalian menunggu lanjutannya...

Hmm... Setelah kuhitung seluruh hasil vote-nya, ternyata hasilnya seimbang! Yaitu Midorima dan Akashi. Pantas saja. Ini yang membuat Author bingung mau pilih yang mana. Setelah dipikir-pikir, akhirnya Author memutuskan untuk membuat kisah Midorima saja. Habis, banyak yang penasaran kalau Midorima itu menjadi binatang apa... XD

Nah, jawabannya adalah... Eng ing eng! \ :v /

Midorima menjadi seekor kelinci yang kawaii! Aku rasa Midorima memang imut kalau menjadi kelinci. Apalagi dia kan manusia wortel (apa hubungannya?). Kalian tahu, kan kalau kelinci itu suka banget makan wortel. Hehe~ X3

Sebenarnya, alasan Author membuat Midorima menjadi kelinci itu karena kelinci sering disimbolkan dengan keberuntungan. Kalian sudah tahu kan kalau Midorima itu orangnya suka ramalan Oha Asa agar mendapat keberuntungan (maksudnya biar tahu 'Lucky Item'-nya apa hari ini.)? Nah, itulah sebabnya kenapa Author membuat Midorima jadi kelinci di FF ini. Kan nggak mungkin Author bikin Midorima seekor kucing, karena dia kan benci kucing. Hahaha...

OK, sekian info dariku. Oh ya, bagi kalian yang milih Akashi, jangan sedih. Itu karena kalian kurang beruntung. Coba lagi. (Kamu pikir ini lotre berhadiah?)

Jadi, tanpa basa-basi lagi, kupersilakan kalian membaca FF-ku ini. Semoga suka... ;)

Pet 2:

*Midorima The Rabbit*

Di sudut kota Tokyo yang lain, muncullah cahaya hijau yang menyilaukan mata siapapun yang melihatnya. Tak lama kemudian, cahaya itu perlahan-lahan memudar. Lalu muncul sosok binatang bertelinga panjang di dalam cahaya itu. Semakin lama cahaya itu memudar, semakin jelas sosok binatang itu. Setelah cahaya itu menghilang, sudah terlihat jelas sosok binatang itu.

Ternyata binatang itu adalah kelinci berekor pendek seperti kapas. Seluruh bulunya berwarna hijau, kecuali bagian moncong, perut dan ekor berwarna putih. Di kedua matanya yang juga berwarna hijau, terpasang kacamata berbingkai hitam. Bagian telinga dalam dan hidungnya berwarna pink. Di bagian lehernya terpasang dog tag warna hijau muda dengan batu kristal hijau. Tingginya setara dengan boneka kelinci atau maskot kelinci dalam cerita manga atau anime.

"Akhirnya sampai juga, purudayo..." gumam kelinci itu. Tapi, entah kenapa dia merasa ada yang aneh pada dirinya. Chotto. Sejak kapan aku ngomong dengan akhiran 'purudayo'? tanyanya dalam hati. Yang dia ingat, dia suka ngomong dengan akhiran 'nanodayo'. Terus, apa yang membuat gaya bicaranya berubah?

Dia lalu berdiri, memperhatikan tubuhnya dari atas ke bawah. Kemudian dia melihat bagian pantatnya. Ternyata bagian pantatnya tumbuh ekor. Lalu salah satu telinganya menjuntai ke bawah hingga kelinci itu bisa melihatnya. Setelah beberapa lama dia memperhatikan dirinya, raut mukanya berubah.

Astaga, batin kelinci itu sambil menepuk jidatnya. Aku berubah menjadi kelinci, purudayo... Ah! Aku tidak mau berubah jadi kelinci! Harga diriku terlalu tinggi untuk bisa menjadi hewan mungil seperti ini. Kalau yang lain tahu, aku akan ditertawakan, purudayo! Dia memarahi dirinya sendiri.

Eh, tunggu dulu... Dia berpikir sesaat. Oh ya, aku ingat. Sebelum aku pergi ke Dunia Manusia, Raja Nijimura berpesan padaku kalau aku harus berubah menjadi binatang, katanya dalam hati.

Dan inilah aku... Berubah jadi kelinci.

"Hmph!" Kelinci itu melengos kesal seraya berjongkok seperti kelinci biasa pada umumnya dan berlalu meninggalkan tempat itu. "Masa bodoh dengan misi dari Raja, purudayo. Kenapa aku harus berubah jadi kelinci aneh seperti ini. Ah, sudahlah. Lebih baik aku harus mencari gadis manusia yang memiliki peluang bagus untukku agar bisa berubah kembali menjadi manusia, purudayo," katanya.

Kelinci mungil itu terus melangkahkan kakinya di sepanjang jalan kota Tokyo. Dia berjalan tanpa henti demi menemukan gadis manusia yang dia anggap membawa keberuntungan baginya. Tapi meskipun waktu terus berlalu, dia tak berhasil menemukan gadis yang dia inginkan.

"Hufft..." Kelinci itu menghela napas panjang. "Sulit sekali mencarinya, purudayo. Tak ada satupun gadis manusia yang membuatku tertarik." Dia terdiam sesaat. "Eh, tunggu dulu. Aku mencari gadis manusia bukan karena mau mencari jodoh, tapi karena perintah Raja. Kalau aku tak melaksanakan perintah itu, Raja pasti akan marah padaku, purudayo."

Kelinci itu menghela napas lagi. Dia lalu membersihkan kacamatanya. "Lebih baik aku tidak usah ikut mencari gadis di Bumi bersama yang lain. Mending aku..."

"Hei, lihat! Ada seekor kelinci." Tiba-tiba terdengar suara perempuan di telinga lebar kelinci itu. Kelinci itu memakai kembali kacamatanya, lalu mendongak untuk menemukan asal suara itu. Di depan matanya, ada dua gadis berpakaian sekolah sedang memperhatikannya.

"Wah, kawaii! Kelincinya pakai kacamata. Baru pertama kali aku melihatnya," sahut teman gadis itu di sampingnya.

Ka, kawaii? batin kelinci itu. Ah, masa aku dibilang 'kawaii'? Padahal aku tidak manis sama sekali, purudayo...

"Bulunya hijau lagi. Apa habis dicat, ya?"

Pertanyaan itu membuat si kelinci heran. Sweatdrop mengalir dari kepalanya. Betul, kan? Sudah kubilang kalau aku ini kelinci aneh... pikir si kelinci.

"Eh, ayo kita pulang. Hari semakin siang, nih," sahut teman gadis itu sambil melihat arloji di tangannya.

"Ya." Gadis itu mengangguk sambil pergi meninggalkan kelinci itu. Kontan saja si kelinci berkacamata itu kaget. Awalnya dia mengira kedua gadis itu akan membawanya pulang.

Eh? Tunggu! Apa kalian tidak mengambilku? pikir si kelinci. Setelah kedua gadis itu menghilang dari pandangan, raut muka kelinci itu berubah kesal. Huh, ya sudah. Lagipula aku tidak menginginkan kalian, kok...

"Wah, kelinci yang lucu..." Tiba-tiba terdengar lagi suara perempuan menyapa kelinci itu. Entah kenapa kelinci itu berbalik ke arahnya dengan tatapan kesal.

"Sudah kubilang aku tidak lucu, purudayo!" gerutunya.

"Eh?" Gadis itu menatap kelinci itu yang marah padanya dengan wajah menunjukkan rasa heran sekaligus takut. "Ka, ka, kamu bisa bicara? A, a, apa kamu... Ma, ma, makhluk siluman?" tanyanya terbata-bata. Tubuhnya gemetaran saking takutnya.

Si kelinci baru menyadari kalau dia kelepasan bicara. Dia lupa kalau dia masih dalam wujud binatang. Dia lalu menutup mulutnya dengan kedua kaki depannya. Ups! Aku telah melakukan hal yang fatal, purudayo. Gawat! Bodohnya aku... Dia merutuki dirinya sendiri.

"Kyaaa!" Gadis itu berlari ketakutan meninggalkan kelinci itu yang berusaha menghentikannya, tapi tak mampu. Sebab gadis itu sudah menghilang dalam sekejap mata saja.


*Midorima POV*

Ah, aku benar-benar bodoh karena telah berhasil membuat gadis itu takut padaku, purudayo. Aku memang tak lucu, tapi tak seharusnya aku mengatakannya langsung padanya. Sial! Kenapa aku ceroboh sekali? Yah, aku tak mau mengakui ini... Aku lupa kalau diriku ini seekor kelinci kecil yang aneh, purudayo.

Tapi, ya sudahlah. Aku memutuskan untuk melanjutkan pencarianku untuk menemukan gadis yang memiliki keberuntungan untukku. Bukan gadis apes seperti dia. Maka aku berlalu meninggalkan tempat itu.

Tapi, hari terus berlalu... Aku tak berhasil menemukan gadis yang kuinginkan. Baik pada saat panas, maupun hujan. Meskipun rintangan datang menghampiriku, aku terus melangkahkan keempat kakiku hanya dengan satu tujuan, yaitu mencari cinta sejati di Bumi. Setiap gadis yang kutemui maupun tak disengaja, tidak ada satupun gadis yang tertarik padaku untuk memeliharaku.

Hufft... Aku benar-benar kelinci yang aneh, kan? Buktinya, tidak ada satu gadis pun yang mau memeliharaku, purudayo. Kelihatannya aku tak beruntung hari ini. Huh, kalau seandainya aku tak berubah jadi kelinci aneh seperti ini, pasti aku bisa menemukan gadis itu dengan mudah, purudayo.

Sekarang aku hanya bisa duduk di atas padang rumput sambil menatap langit. Aku tak mau pergi mencari gadis manusia lagi di sini. Aku hanya bisa berharap keberuntungan akan datang padaku.

Aku menghela napas. Lalu aku menundukkan kepalaku, menatap pantulan bayangan seekor kelinci di atas sungai yang jernih. Bayangan kelinci di atas sungai itu... Adalah aku sendiri.

Kemudian aku meraih sebuah batu kecil di sampingku dan...

Plung!

Aku melempar batu itu ke sungai hingga tenggelam. Bayangan diriku seketika membuyar, lalu menghilang diiringi gelombang kecil dimana aku melempar batu itu ke dalamnya.

Entah kenapa, aku benar-benar benci dengan diriku yang sekarang.

"Menyebalkan. Mana ada gadis yang suka kelinci sepertiku," gumamku. "Sampai kapan aku terus seperti ini? Kalau aku tak berhasil menemukan cinta sejati di Bumi, aku takkan bisa menjadi manusia, purudayo," keluhku kesal.

Sungguh sial sekali nasibku ini. Menurutku, manusia di Bumi sangat egois. Mereka tidak mau memeliharaku sama sekali. Mereka menyebutku lucu, tapi mereka tidak mengambilku untuk dijadikan hewan peliharaannya.

Aku hanya bisa berharap, ada gadis manusia yang bersedia memeliharaku. Semoga saja...

Kruyuk!

Bunyi perut terdengar di telingaku. Ah, aku lapar, purudayo... Kelihatannya aku belum makan selama beberapa hari. Yah, itu sih karena aku sibuk dengan misiku di Bumi, jadi sampai lupa makan.

"Apa yang harus kumakan, ya? Tidak ada makanan enak di sekitar sini, purudayo," gumamku seraya celingukan, mencari makanan yang mungkin bisa dimakan. Eh, chotto. Di sekelilingku yang ada hanya rumput. Apa kelinci sepertiku bisa makan rumput? Ah, ya! Lebih baik aku makan rumput saja. Mungkin itu bisa mengurangi rasa laparku sekaligus menambah tenaga.

Maka dari itu, aku mulai berjongkok dan memakan rumput di sekitarku. Hmm... Rasanya mirip salad sayuran yang pernah kumakan. Hanya saja tanpa bumbu. Jadi aku seperti sedang makan sayuran mentah. Tapi tak apa, purudayo. Asal ada makanan yang bisa dimakan untukku.

"Grrr..."

Ups, ada suara menggeram tertangkap di telingaku yang lebar. Mendengar suara itu, aku berhenti makan dan celingukan mencari darimana suara itu berasal.

"Grrr..."

Ya, ampun. Geramannya semakin kuat. Seketika aku merasakan seluruh tubuhku gemetaran. Ah, aku bukannya takut, purudayo. Aku hanya merasa tegang karena suara itu. Kedengarannya suara itu asalnya dari belakang. Maka aku memutuskan untuk menoleh ke belakang.

Begitu aku menoleh, seketika jantungku seolah-olah mau berhenti. Sebab, aku melihat seekor kucing tepat di hadapanku. Hiii... Tatapan matanya tajam, seakan menusukku. Ternyata dia yang menggeram-geram padaku. Apa jangan-jangan...

"Meooong!"

Oh, tidak! Kucing itu mulai menjulurkan cakarnya yang tajam dan akan menangkapku. Tidak! Aku tidak mau dijadikan santapan kucing itu, purudayo!

Hup! Aku melompat, menghindari sambaran cakar dari kucing itu. Hufft, untung saja aku bisa melompat tinggi, purudayo. Kalau tidak, mungkin aku sudah ditangkap olehnya.

Tapi... Gawat! Kucing itu masih menyerangku! Dia menjulurkan cakarnya lagi ke arahku. Maka aku berlari kencang untuk menjauhi kucing itu agar dia tak memangsaku.

"Meong! Meong!"

Waduh, gimana nih? Sial! Kucing itu masih tak mau menyerah. Dia terus mengejarku. Sekilas aku melihat air liur di sekitar mulut kucing itu menetes-netes. Wah, dugaanku benar. Dia ingin memakanku, purudayo! pikirku panik. Aku mempercepat lariku, agar aku bisa lolos dari serangan kucing ganas itu. Aku juga berusaha untuk tidak melihat ke belakang.

Tapi, tiba-tiba aku menghentikan lariku. Tidak ada jalan yang bisa kulewati. Gawat! Ini jalan buntu! Yang ada hanya jurang dan di bawahnya ada sungai yang mengalir dengan derasnya. Aduh, bagaimana ini? Aku kebingungan. Kemana lagi aku bisa melewati jalan ini, purudayo?

"Meong..."

Oh, tidak. Kucing itu berjalan ke arahku dengan langkah berdentam-dentam. Raut wajahnya itu... Dia seolah-olah sedang menyeringai ke arahku. Hii... Aku takut. Takut sekali. Tapi aku takut kucing bukan karena cakarnya, melainkan akan dijadikan mangsanya, purudayo...

Gawat, kucing itu terus berjalan menghampiriku. Aku hanya bisa berjalan mundur agar kucing itu tak mendekatiku. Namun kaki belakangku menginjak ujung tepi jurang hingga retak tanahnya hancur dan jatuh ke dasar sungai. Mataku terbelalak begitu tahu kalau aku sudah berada di ujung jurang. Kalau aku terus berjalan mundur, aku bisa jatuh, purudayo. Sekarang aku hanya bisa berdiri di sana. Rasa takut menyelimuti seluruh tubuhku hingga tegang dan tak mampu kugerakkan sedikitpun.

Sebenarnya aku bisa mengusirnya pergi, tapi aku tak mampu melakukannya. Aku sadar kalau diriku ini seekor kelinci kecil yang akan dijadikan santapan kucing. Seandainya saja kalau aku berwujud manusia, pasti sudah kuusir kucing itu agar menjauh dariku.

"Meoong!" Kucing itu sudah menunjukkan cakar dan melayang ke arahku. Ah, tamatlah riwayatku, purudayo... Aku hanya bisa menutup mata.

Tapi, setelah itu...

"Meooong!"

Byuur!

Eh, apa yang terjadi? Kenapa kucing itu mengeong panjang? Kenapa ada suara ceburan air? Untuk memastikan semua itu, aku membuka kedua mataku.

Lalu aku melihat ke bawah. Di sana aku melihat kucing itu melambai-lambaikan kedua kaki depannya dengan kepala keluar dari aliran sungai yang deras itu. Sepertinya dia sedang minta tolong. Karena sungainya yang deras, kucing itu tak mampu lagi berenang. Kemudian dia tenggelam.

Ah, syukurlah... Aku berhasil lolos dari serangan kucing itu. Kelihatannya keberuntungan berpihak padaku.

Namun begitu aku melihat ke atas, aku terkejut. Sebuah cabang pohon yang sejak tadi kupegang mau patah. Oh, tidak! Dugaanku salah. Keberuntungan masih belum berpihak padaku, purudayo! Kalau begini terus, aku bisa jatuh ke sungai dan mati tenggelam, batinku.

Aku mulai panik. Aku berusaha meraih tepi jurang dengan kaki depan kiriku supaya aku bisa keluar dari sini. Dan satu kaki depanku lagi masih memegang cabang pohon. Tapi kaki depanku yang kecil tak sanggup mencapainya.

Aku tak boleh menyerah, purudayo! tekadku dalam hati. Itu akan memalukan kalau aku jatuh dan mati tenggelam. Maka dari itu aku tak boleh menyerah. Aku terus meraih tepi jurang itu agar bisa naik ke atas.

Krek!

"Oh!" jeritku. Ini gawat! Cabang yang kupegang ini akan patah. Bagaimana ini?

Tidak. Jangan menyerah! Batinku terus berkata untuk tidak boleh menyerah. Kaki depanku hampir menyentuh tepi jurang. Ah, tinggal sedikit lagi, purudayo...

Krek!

Ah! Cabang pohon itu akhirnya patah, purudayo. Lalu cabang pohon itu jatuh ke sungai. Hufft... Untung saja aku berhasil memegang tepi jurang.

Tapi itu tak bertahan lama. Sebab tepi jurang yang kupegang kuat-kuat malah merosot. Oh, tidak! Aku bisa jatuh! batinku panik. Aku lalu meraih tepi jurang lagi dengan kedua kaki depanku. Tapi tetap saja tepi jurang itu seakan licin kalau dipegang. Aku terus melakukan itu sampai ujung tepi jurang itu mulai retak, lalu...

"AAAAH!"

Akhirnya, pecahan tanah yang berasal dari ujung tepi jurang hancur dan aku jatuh!

Namun begitu aku jatuh, tiba-tiba aku merasakan ada tangan memegang satu kaki depanku dengan erat. Tangannya... Ini tangan manusia. Si, siapa yang menyelamatkanku? Apakah dia...

"Daijoubu desuka?" tanya seseorang yang menyelamatkanku tadi. Suaranya... Suara seorang perempuan.


*Normal POV*

Si kelinci menoleh ke arah suara yang menyapanya itu. Di matanya, terlihat seorang gadis berambut hitam panjang diikat ekor kuda meraih kaki depannya yang kecil. Dia masih memakai pakaian sekolah dan sebuah tas bersanding di bahunya.

Kelinci itu mengangguk, sebagai tanda kalau dia baik-baik saja.

"Baiklah, aku akan mengangkatmu ke atas. Bertahanlah!" perintah gadis itu. Lalu dia mengangkat tubuh kelinci itu ke atas sedangkan kelinci itu memegang erat-erat tangannya supaya tak terlepas. Sedikit demi sedikit kelinci itu berhasil terangkat ke atas hingga dia selamat.

"Youkatta, kamu baik-baik saja. Kamu tak terluka, kan?" tanya gadis itu pada kelinci itu yang sekarang berada di gendongannya. Kelinci itu hanya bisa menatap si gadis dalam diam. Sebenarnya dia ingin menjawab sekaligus mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Namun dia sudah tak lagi berani bicara karena teringat akan gadis sekolah lain yang takut padanya saat dia berbicara.

A, aku bukannya ingin mengucapkan terima kasih. Aku hanya ingin berbicara padanya, purudayo. Tapi aku takut... pikir si kelinci.

Gadis itu menatap si kelinci dengan wajah senang sekaligus lega. Kemudian dia memeluk kelinci itu. Kelinci itu tersentak. Perlahan jantungnya berdebar ketika merasakan pelukan hangat dari si gadis. Wajahnya merona merah. Tak bisa dipungkiri kalau dia benar-benar menikmati pelukan itu.

Karena merasa tak tahan dengan debaran jantungnya lebih lama lagi, tanpa disengaja bibir kelinci itu terucap, "Tolong lepaskan aku, purudayo..."

"Eh?" Gadis itu kaget, lalu melonggarkan pelukannya. "Siapa tadi yang bicara padaku?" tanyanya keheranan.

Si kelinci baru sadar apa yang dikatakannya barusan. Dia lalu menutup mulutnya dengan satu kaki depannya. Aduh, gawat! Aku telah melakukan hal yang keliru lagi, purudayo. Sama seperti dulu! Gimana nih? batinnya panik.

"Ehm, apa itu kamu, ya?" tanya gadis itu lagi. Sekarang dia menatap lagi kelinci itu dengan seksama. Seketika bulu kelinci itu berdiri tegak bak sapu lidi saking kagetnya. Dia sekarang tak tahu lagi harus berbuat apa. Mau melepaskan diri dari gendongannya dan kabur saja tak mampu.

A, apa yang harus kulakukan? pikir kelinci itu. Aduh, sial! Aku bodoh sekali. Aku lupa kalau aku adalah seekor kelinci! Kenapa mulutku ini berulah lagi, purudayo? Padahal aku sudah berusaha untuk diam...

Merasa sudah tak punya pilihan lain, kelinci itu terpaksa memberitahukan hal yang sebenarnya pada gadis yang telah menyelamatkannya itu. Mau tak mau dia harus menanggung semua resikonya. Sebetulnya aku tak mau melakukan ini, tapi kurasa ini lebih baik, purudayo, katanya dalam hati. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya.

"Ehem..." Kelinci itu berdehem, membuat gadis itu menoleh ke arahnya. "Maaf, itu aku yang bicara padamu," ucapnya tenang.

Dahi gadis itu berkerut. Heran dengan si kelinci yang tadi berbicara padanya. "Ka, kamu... Bisa bicara?" tanyanya pelan tapi pasti.

Kelinci itu mengangguk. "Aku... Aku tak bermaksud membuatmu takut," ujarnya. "Awalnya, a... Aku tak bermaksud untuk mengucapkan terima kasih padamu, tapi aku bersyukur karena kamu telah menyelamatkanku dari jurang tadi, purudayo," lanjutnya sambil berpaling dengan wajah memerah. Dia tak ingin menatap mata gadis itu.

Namun anehnya, gadis itu bukannya takut. Malah menatap kelinci itu dalam diam. Kemudian dia mulai membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu.

Aduh, gawat... pikir si kelinci, mulai ketakutan. Pasti dia menganggapku kelinci aneh, purudayo...

"Sugoii ne..."

Eh? Ternyata perkiraan kelinci itu meleset. Dia lalu menatap gadis itu yang sekarang memandangnya penuh kagum.

"Kamu kelinci yang lucu, ya. Terus kamu bisa bicara. Itu... Benar-benar luar biasa!" ucap gadis itu sambil mengelus kepala kelinci itu.

Masih merasa tak terima menyebut dirinya lucu, kelinci itu spontan menepis tangan gadis itu dari kepalanya sambil berkata, "Aku tak lucu, purudayo! Jangan menyentuhku seperti itu."

Gadis itu terkejut sekaligus heran dengan reaksi kelinci itu yang tak disangkanya. "Hah? Kenapa kamu ngomong begitu? Bagiku, kamu itu kelinci yang lucu," ujarnya.

"Bagiku tidak," balas si kelinci dingin.

"Bagiku iya."

"Tidak."

"Iya."

"Tidak!"

"Iya!"

"Sudah cukup, purudayo!" sahut si kelinci keras. Lalu dia melengos seraya melipat kaki depannya di depan dada. "Aku malas ribut karena hal sepele seperti itu..."

"Hmph..." Si gadis hanya bisa merengut, sembari menggembungkan pipinya seperti balon. Dalam benaknya, dia berpikir kenapa kelinci itu memiliki sifat yang dingin. Bukannya ceria dan ramah seperti dalam manga atau anime. Jangan-jangan dia merasa kelinci itu lebih mirip kelinci sombong dalam cerita dongeng Kelinci dan Kura-Kura.

"Ehm, bagaimana kamu bisa menyelamatkanku, purudayo?" tanya si kelinci pada gadis itu, menoleh lagi ke arahnya. Penasaran bagaimana gadis itu dapat mengetahui dirinya dalam bahaya. Kan tidak mungkin gadis itu memiliki indra keenam.

"Oh, aku..." Gadis itu terdiam sejenak. Memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan. "Aku tadi pulang sekolah lewat jalan ini. Tapi ketika aku melihatmu akan jatuh ke aliran sungai yang deras itu, aku terkejut, lalu berlari menghampiri jurang itu untuk menyelamatkanmu. Soalnya, aku kasihan melihat dirimu akan terjun ke sungai itu. Kalau tidak kuselamatkan, kamu pasti bisa mati tenggelam," sambungnya panjang lebar.

Si kelinci termangu mendengar jawabannya. Dalam hatinya, dia tak henti-hentinya bersyukur karena nyawanya berhasil diselamatkan oleh gadis itu. Dia merasa gadis itu bagaikan malaikat penolong dalam hidupnya.

"A, aku sebenarnya... Sebenarnya aku malu mengakuinya... Ka, kamu telah menyelamatkanku. A, a... Arigato," ucap kelinci itu terbata-bata. Entah kenapa sejak gadis itu menyelamatkan nyawanya saat dirinya akan jatuh ke sungai, si kelinci merasakan ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Yaitu, perasaan suka pada gadis itu. Karena itu, dia jadi tak berani menatap wajah si gadis. Takut akan membuat perasaannya tak karuan.

"Tak usah malu, kelinci kecil. Lihat aku..." bisik gadis itu lembut sembari memegang pipi kelinci itu dan membuatnya menoleh ke arahnya. Kelinci itu tersentak kaget. Namun dia tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah saat manik emerald-nya bertemu dengan manik onyx milik gadis itu.

Akhirnya mereka saling bertatapan. Lama sekali hingga...

"Apa itu yang bertengger di matamu? Kacamata, ya?" tanya gadis itu sambil mengambil kacamata berbingkai hitam milik si kelinci.

Kelinci itu kaget ketika kacamatanya diambil. Dia segera mencapai benda itu dengan kedua kaki depannya, tapi tak berhasil.

"Hei, kembalikan! Itu kacamataku, purudayo!" teriaknya, masih berusaha mengambil kacamatanya dari tangan gadis itu.

"Ah, masa? Kupikir ini hanya aksesoris saja," komentar gadis itu.

"Enak saja, purudayo! Itu penting bagiku."

Entah setan apa yang telah merasuki diri gadis itu. Terlihat jelas bibir gadis itu menyeringai. Saat dia mengambil kacamata si kelinci, muncul ide jahilnya. Dia lalu mengangkat tinggi-tinggi kacamatanya agar si kelinci tak sanggup meraihnya.

"Hei, berikan kacamataku!" seru si kelinci agak keras. Kedua kaki depannya masih sibuk menangkap kacamatanya yang telah dipegang si gadis.

Gadis itu tak menghiraukan seruan si kelinci. "Aku tak akan memberikannya padamu. Hehe..." ucapnya sambil tertawa kecil.

"Kembalikan! Atau akan kugigit tanganmu, purudayo!" ancam si kelinci, mulai marah.

"Tidak akan! Wek!" Dasar, si gadis malah menjulurkan lidah, seakan mengejek kelinci itu. Membuat kelinci itu emosi. Hatinya mulai panas, merasa dikerjai.

"Sudah kubilang kembalikan kacamatanya padaku!" Salah satu kaki depan kelinci itu mulai menyambar tangan gadis itu, ingin mengambil kacamatanya kembali. Namun gadis itu berhasil menghindarinya.

"Eiit, aku tak akan mengembalikan kacamatamu, kecuali dengan satu syarat... Kamu harus bilang kalau kamu adalah kelinci terlucu di dunia," pinta gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Aku tidak mau, purudayo," bantah si kelinci dingin.

"Oh, aku tak akan mengembalikannya."

"Ha'i, ha'i..." Si kelinci mengalah. "Aku adalah kelinci terlucu di dunia, purudayo."

"Ah, jelas sekali kamu ngomongnya tak ikhlas..."

"Apa?! Aku tadi sudah ngomong ikhlas, purudayo!" Emosi kelinci itu mulai memuncak. "Iya, iya. Aku ini kelinci lucu. Kelinci lucu. Kelinci lucu! Puas?"

Si gadis akhirnya mau mengembalikan kacamatanya pada kelinci itu. Si kelinci menyambarnya dan mulai mengenakannya.

Huh, dasar. Kenapa dia malah kasih syarat yang memalukan itu padaku, purudayo? pikir si kelinci kesal.

Gadis itu tertawa ngakak. Dia merasa kalau kelinci itu dingin, tapi pemalu. Makanya dia sengaja mengerjainya tadi. "Oh, ya. Apa kamu sudah punya pemilik, kelinci kecil?" tanya gadis itu setelah selesai tertawa.

Si kelinci menoleh, masih dengan tatapan kesal karena berhasil dikerjai. "Maaf, aku sudah punya pemilik yang akan memeliharaku, purudayo," jawabnya.

"Ah, sayang sekali..." Si gadis mengeluh kecewa. "Padahal aku ingin sekali memeliharamu."

"Apa?!" Kelinci itu memekik kaget. Oh, tidak! Aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Jangan sampai gadis manusia itu pergi meninggalkanku, purudayo! jeritnya dalam hati. "Ah, aku tadi berbohong, purudayo. Aku belum dipelihara sama sekali," katanya buru-buru.

"Oh, souka. Wah, aku beruntung!" Gadis itu merasa gembira karena telah memiliki peliharaan, persis seperti yang diidamkannya selama ini. "Kalau begitu, aku akan menamaimu... Apa, ya?"

"Panggil saja aku Midorima, purudayo," sela si kelinci, menyebut namanya. Sebenarnya kelinci itu adalah wujud hewan salah satu pengawal Raja Nijimura yang mewakili warna hijau, yaitu Shintaro Midorima. Namun kelinci itu memutuskan untuk menyebut nama belakangnya saja.

"Yosh, mulai sekarang, namamu adalah Midorima." Si gadis mengangguk setuju. "Ah, kamu benar-benar pintar, Midorima. Namamu itu bagus sekali. Berasal dari warna bulumu yang hijau seperti padang rumput," puji gadis itu sambil mengusap bulu Midorima.

Hei, itu kan asalnya dari namaku sendiri, purudayo, gerutu Midorima dalam hati.

"Nah, Midorima. Aku adalah pemilik sekaligus majikanmu sekarang. Namaku Shaori Hamasaki," kata si gadis memperkenalkan diri. "Yoroshiku ne..."

"Shaori..." gumam Midorima.

"Hn..." Shaori mengangguk. "Ayo, kita pulang, Midorima," ajaknya sambil melangkahkan kakinya, segera pergi dari tempat itu untuk pulang ke rumahnya.

Midorima hanya termangu di gendongan Shaori. Kedua matanya masih menatap wajah gadis itu. Gadis itu balas menatapnya, lalu tersenyum manis pada kelinci itu. Seketika wajah Midorima merona dan jantungnya berdetak tak menentu. Kemudian dia berpaling ke arah lain, tak tahan melihat senyuman manis milik Shaori lebih lama.

Namun dalam hatinya, dia merasa sangat beruntung karena akan dijadikan peliharaan oleh gadis manusia yang telah menyelamatkan hidupnya itu.


*OC/Reader POV*

4 hari kemudian...

Kalian tahu, tidak? 4 hari yang lalu, aku sudah punya peliharaan, lho! Dia seekor kelinci. Namanya Midorima...

Sejak Midorima tinggal bersama di rumahku, aku sudah merasa tak kesepian lagi. Itu karena kedua orangtuaku sedang bekerja di luar kota, jadi aku tinggal sendirian di rumah. Apalagi aku tak punya kakak atau adik.

Midorima selalu berada di sisiku, baik saat suka maupun duka. Dia mau mendengarkan curhatku, meskipun tampaknya dia ogah-ogahan. Hehe... Maklum, dia kan kelinci Tsundere. Dingin tapi manis.

Aku selalu mengajaknya main bersama saat di waktu senggang. Aku selalu menggendong dan memeluknya setiap kali aku pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Tak lupa, aku selalu memberinya makan dan minum setiap hari.

Suatu hari setelah sekolah usai, aku pulang bersama dengan teman cowokku. Yah, kebetulan karena kami teman dekat dan jalan menuju rumah kami satu arah. Kami berjalan pulang sembari ngobrol. Setelah aku sampai di rumahku, kami berpisah dan aku berjalan memasuki rumah.

"Tadaima..." ucapku sambil membuka pintu.

Setelah aku masuk ke dalam, aku mendapati Midorima berdiri di hadapanku dengan wajah merengut. Lho? Aku heran. Kenapa raut wajahnya terlihat seperti itu? Apa dia kesepian?

"Midorima? Ada apa? Kok mukamu seperti itu?" tanyaku beruntun. Namun kelinciku itu tak menjawab pertanyaanku. Dia malah pergi ke ruang tamu dan duduk di sana.

Aku berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Gomen ne. Aku tak bermaksud membuatmu kesepian begini. Kamu kan sudah tahu kesibukanku di sekolah. Jadi, aku tak bisa pulang cepat," ujarku, berusaha menghibur kelinciku agar dia mau mengerti.

"Aku sudah tahu, purudayo..." Akhirnya Midorima mau menjawab. Lho? Terus kenapa? Apa yang membuatnya ngambek seperti itu?

"Kalau begitu, ceritakan padaku," pintaku. "Jelaskan kenapa kamu berada di depan pintu dengan wajah merengut seperti itu..."

Namun Midorima tak menjawab. Dia malah diam.

"Hei. Ayo jawab!" ucapku agak meninggi.

"Kamu tak perlu tahu, purudayo!" seru Midorima kesal padaku. Kontan saja aku terkejut melihat reaksinya yang tak kuduga. Dia berani membentakku.

"Midorima..." Aku tercekat. Tenggorokkanku seakan mau mencekikku. Mataku berkaca-kaca. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Tiga kata, aku mulai menangis.

"Hiks, berani sekali kau membentakku, Midorima no baka!" pekikku. "Padahal hanya karena aku pulang terlambat, kamu tega membentakku seperti itu. Aku tidak suka! Huhuhu..." Lalu aku menangis keras.

"Hei, chotto. A, aku tak bermaksud membentakmu, purudayo!"

Aku menghentikan tangisanku sebentar. Heran dengan jawaban Midorima si kelinci yang kedengarannya tak masuk akal. Ah, masa bodoh dengan itu. Aku pun menangis lagi.

"Iya, iya. Aku salah, purudayo. Go, gomenasai..." ucap Midorima pelan di telingaku, berusaha menghiburku. Aku menyadari kalau dia sekarang berada di bahuku. "Kumohon, tolong jangan menangis, Shaori..."

Mendengar bisikannya, aku menghentikan isak tangisku. Aku tak mau membuatnya kerepotan meladeniku yang sedang menangis. Ah, meskipun dia tadi membentakku, dia takkan mau membiarkan hatiku terluka.

"Baiklah, aku akan menceritakan hal yang sebenarnya padamu. Awalnya aku tak bermaksud menceritakannya, tapi kurasa ini waktu yang tepat, purudayo."

"Apa maksudmu, Midorima?" Jujur, aku penasaran dengan apa yang barusan Midorima katakan.

"Ikut aku," ajaknya sambil melompat ke arah sofa dan duduk di atasnya. Kemudian dia memberi isyarat untuk duduk di sampingku. Aku pun mengikutinya dan duduk di sampingnya.

"Tolong ceritakan," pintaku, masih penasaran.

"Baiklah, tapi kamu harus dengar baik-baik," ujar Midorima tegas. Aku mengangguk.

"Sebenarnya... Aku bukan kelinci biasa." Dia mulai bercerita. "Aku Shintaro Midorima, salah satu pengawal Raja yang berasal dari Miracle Rainbow World yang mewakili warna hijau. Aku juga manusia sepertimu, purudayo. Namun aku diperintahkan Baginda untuk menjadi hewan ketika aku sampai di Bumi, purudayo..."

Betapa terkejutnya aku mendengar cerita Midorima. Jadi, selama ini... Dia adalah manusia yang telah berubah menjadi kelinci? Benarkah itu?

Dalam hati, aku benar-benar tak percaya akan hal itu. "Terus, apa itu Miracle Rainbow World?" tanyaku lagi.

"Miracle Rainbow World adalah dunia lain yang bertugas mempertahankan warna Dunia Manusia. Aku tinggal di sana, purudayo," jawabnya.

"Atas dasar apa Baginda Raja memerintahkanmu menjadi hewan?"

"Aku..." Dia terdiam sejenak. "Aku mendapat misi dari Raja. Katanya... U, untuk mendapat cinta sejati di Bumi, purudayo..." Setelah itu, dia berpaling dariku dengan wajah yang merona.

"Cinta sejati...?" gumamku. Apakah dia datang ke Bumi demi menemukan gadis impian? Apakah gadis itu... Adalah aku?

"Shaori..." panggil Midorima padaku. Aku menoleh. "A, aku... Aku... Ng..."

"Ya?" sahutku. "Katakan saja, Midorima. Asal kamu berkata jujur."

"Ah, iya. Aku akan berkata jujur," katanya malu-malu. Lalu dia menelan ludah. "Aku... Aku malu mengakuinya, tapi..."

Hening. Midorima tak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Aku hanya bisa menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya, namun dalam hatiku, aku penasaran.

"Aku... Aku suka kamu..."

Deg!

Jantungku berdegup kencang ketika kelinci peliharaanku menyatakan cintanya padaku. Astaga! Apa ini? Perasaan ini...

Kenapa jantungku harus berdebar-debar seperti ini? Apakah karena aku... Mulai suka pada Midorima? Atau... Apa aku penasaran dengan wujud manusianya? Kalau boleh jujur sih, aku memang penasaran seperti apa wujud manusianya...

Entahlah, aku tak tahu. Bahkan aku tak dapat membuka mulutku untuk mengatakan satu kata pun lagi.

"Eh, ke, kelihatannya itu membuatmu terkejut, purudayo. Maafkan aku!" kata Midorima buru-buru dengan wajah yang mulai memerah. "Aku memang tak mau mengatakan ini, tapi ini kenyataannya bahwa aku suka kamu, Shaori. Aku suka kamu..."

"Midorima..." gumamku pelan. "Bagaimana kamu bisa menyukaiku?" tanyaku.

"Ah, aku tak tahu, purudayo..." Nah, lho... Dia malah mengelak. Aku tahu kalau kamu berbohong, Midorima.

"Usotsuki..."

"Tidak!"

"Jangan berbohong padaku lagi!" bentakku.

"Ha'i, kali ini aku takkan berbohong, purudayo." Akhirnya dia manggut-manggut, mau menjawab pertanyaanku. "Aku suka kamu sejak kamu menyelamatkanku ketika aku akan jatuh ke jurang, purudayo... Dan itu pengalaman yang tak pernah kulupakan bahkan hingga kini..."

Aku menjerit tertahan seraya menutup mulutku dengan satu tangan. Tak kusangka kalau dia menyukaiku sejak peristiwa itu.

"Aku benar-benar bersyukur kalau aku masih hidup berkat dirimu. Kalau seandainya kamu tak datang untuk menyelamatkanku... Aku pasti akan mati tenggelam, purudayo," lanjutnya. Kali ini ucapannya terdengar tulus. Ya Tuhan... Baru kali ini dia mau mengatakan itu dari hatinya yang dia pendam selama ini.

Dan aku hanya bisa terpana mendengar jawabannya.

"Ng... Uhuk!" Tiba-tiba Midorima terbatuk. "Maaf, aku tersedak. Etto... Sepertinya aku telah mengatakan sesuatu yang memalukan, purudayo. Kamu pasti akan menertawakanku," katanya. "Huh! Ini semua karena kamu yang telah memaksaku untuk-"

Aku menggendongnya, lalu memeluknya erat agar Midorima diam. "Kamu salah, Midorima. Justru setelah kamu mengatakan hal yang sebenarnya dan menyatakan cintamu padaku, aku senang..." kataku lembut. "Aku baru menyadari kalau ada seseorang yang menyukaiku, yaitu kamu..."

"Hontou ka?"

Aku mengangguk. "Apa jangan-jangan... Kamu tadi merengut pas aku pulang sekolah karena kamu cemburu?" tanyaku lagi.

"Ah, oh... Ehm... Iya..." jawab Midorima ragu. "Aku cemburu ketika kamu pulang bersama dengan lelaki lain, purudayo..."

"Souka..." balasku. "Gomen ne, aku tak tahu itu. Ngomong-ngomong, cowok itu hanya teman, kok. Tak lebih dari itu."

"Oh ya? Ehm, bagus..."

Aku tersenyum manis. Lalu aku mendekatkan wajah kelinciku itu dan mengecup dahinya. "Aku juga menyukaimu, Midorima..." bisikku.

Midorima hanya menatapku dalam diam. Tak lama kemudian, dia membalas senyumanku. Wah, manisnya kalau dia tersenyum seperti itu. Setahuku, dia tak pernah tersenyum seperti itu.

Tiba-tiba muncul cahaya hijau bersinar di seluruh tubuh Midorima. Aku tersentak kaget seraya menjauhkan diriku darinya. Aku lalu menutup kedua mataku, tak tahan dengan cahayanya yang menyilaukan bak cahaya mentari.

Setelah itu, cahayanya seketika menghilang. Aku membuka mataku. Tak lama setelah itu, aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berparas tampan dan berkacamata dengan rambut hijau lurus dengan poni tersisir ke samping. Di balik kacamatanya, ada dua mata hijau yang indah. Tubuhnya tinggi dan tegap.

Jantungku seketika berdebar kencang menatap pemuda itu. Wah... Apakah dia Midorima dalam wujud manusia?

*Normal POV*

Midorima akhirnya berhasil mengubah dirinya menjadi manusia. Tak bisa dipungkiri kalau pemuda bersurai hijau lumut itu mencintai Shaori dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan dia tak dapat menyangkalnya.

"I, itu kamu... Midorima?" tanya Shaori, masih terpesona dengan wujud manusia Midorima.

Midorima mengangguk. "Ya, inilah aku dalam wujud manusia, nanodayo," jawabnya.

Shaori tak henti-hentinya mengagumi kesempurnaan fisik pemuda itu. Tanpa dia sadari, muncul semburat merah di sekitar tulang pipinya. "Tak kusangka kalau wujud manusiamu seperti ini. Kamu... Tampan sekali..."

"Ah, tidak juga..." Midorima malah mengelak sambil menaikkan kacamatanya yang sebetulnya tak merosot.

"Oh ya. Ada hal yang yang ingin kusampaikan, Midorima," kata Shaori kemudian.

"Ya, apa itu?"

"Arigato..." ucap Shaori. "Aku... Aku benar-benar bersyukur karena ada pemuda sepertimu yang menyukaiku. Aku senang mendengarnya."

Mendengar jawaban Shaori, kedua manik emerald milik Midorima membundar seperti kelereng. Namun tak lama kemudian, seulas senyuman kecil menghiasi bibirnya. Memang Midorima tak mampu menyangkal dirinya bahwa dia benar-benar sangat mencintai Shaori, gadis yang telah menyelamatkan dirinya dari kecelakaan yang nyaris membuat nyawanya melayang. Dia menganggap Shaori adalah gadis pembawa keberuntungan baginya.

Midorima menatap dalam mata Shaori. Shaori balas menatapnya. Tapi mereka tak mengatakan apa-apa. Hanya dua pasang mata yang saling bertemu. Seolah-olah kedua pasang mata itu yang berbicara.

Tak lama setelah itu, Midorima mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Shaori perlahan. Lalu dia mengatupkan bibirnya. Shaori yang merasakan wajah pemuda itu semakin dekat, jantungnya berdebar semakin keras. Namun gadis itu tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu bibirnya bertemu dengan bibir Midorima.

Deg... Deg... Deg...

Namun ketika jarak antar bibir mereka tinggal 2 sentimeter lagi, Midorima malah menjauh dan berpaling ke arah lain. Shaori yang melihat reaksi lelaki itu yang salah tingkah jadi kebingungan.

"Midorima?"

Midorima tak menghiraukan panggilan Shaori. Dia malah sibuk merutuki dirinya sendiri. Ugh, tidak bisa! Tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya, nanodayo! Aku belum siap... katanya dalam hati.

"Midorima, doshita no?" tanya Shaori sambil menyentuh bahu Midorima pelan. Midorima seketika terjungkal saking kagetnya.

"Go, go, gomen! Gomen, Shaori!" Dia buru-buru menjawab dengan panik. "A, aku... Aku tak berniat mencium, eh maksudku berbuat tak sopan, nanodayo!"

Shaori hanya terdiam. Setelah itu, bibirnya terucap, "Lihatlah aku, Midorima..."

"Apa?"

"Tak usah malu. Lihat aku..." ulang Shaori sambil menyentuh pipi Midorima dan membuatnya menoleh ke arahnya. Midorima terkejut tapi anehnya, dia tak protes sama sekali. Dia jadi teringat akan pertemuan pertamanya dengan Shaori saat dia berubah jadi kelinci dahulu. Shaori menyentuh pipinya dan membuatnya menoleh ke arahnya. Tak hanya itu, kalimat yang dilontarkan gadis itu juga sama persis.

"Tak usah malu, kelinci kecil. Lihat aku..."

Cup!

Sebuah kecupan mendarat di bibir Midorima. Kedua matanya terbelalak, kaget ketika dia merasakan kehangatan bibir Shaori yang lembut. Tapi dia tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menutup matanya dan memeluk gadis itu erat. Shaori melingkarkan lengannya ke leher Midorima dan ciuman mereka terus berlanjut.

Ciuman itu berlangsung lama hingga sebuah cahaya hijau menyinari tubuh mereka. Cahaya itu semakin terang, lalu melesat ke atas langit dan akhirnya menghilang dari pandangan.


Di Miracle Rainbow World...

Raja Shuuzo beserta istrinya sedang duduk di singgasana mereka. Mereka terlihat asyik berbincang-bincang. Tapi tak lama kemudian, muncul seorang ksatria datang menghampiri mereka berdua.

"Yang Mulia! Maaf karena telah mengganggu Anda. Tapi, Anda harus ke ruang batu kristal para tujuh pengawal sekarang juga!" lapornya pada Raja Shuuzo.

Dahi Sang Raja berkerut, heran mendengar laporan itu. "Memangnya ada apa di sana?" tanyanya agak kesal sambil memonyongkan bibirnya seperti hidung Pinokio. Huh! Aku sedang asyik berduaan dengan Aya-sama-ku diganggu mulu, keluhnya dalam hati.

"Begini, batu kristal milik pengawal yang mewakili warna hijau bersinar, Yang Mulia," jawab ksatria itu.

"Apa?" Sontak Sang Raja dan Ratu kaget bersamaan.

"Shuuzo-sama... Jangan-jangan batu kristal milik-"

"Aku tahu, Aya-sama," potong sang Raja. "Itu pasti batu kristal milik Midorima. Ayo, kita ke sana!" ajaknya.

"Ha'i. Aku juga mau lihat," balas Ratu.

Mereka berdua bergegas pergi ke ruang batu kristal tersebut. Ketika sampai di sana, mereka terkejut sekaligus berdecak kagum melihat batu kristal berwarna hijau bersinar terang. Sungguh indah.

"Kirei na..." ucap Ratu Aya.

"Iya, indah sekali, Sayang," timpal Raja Shuuzo. "Ini tandanya Midorima berhasil menemukan gadis impiannya di Bumi."

"Hn." Ratu Aya mengangguk. "Aku harap dia takkan menyesal dalam memilih gadis itu."

"Hah? Kenapa begitu?" tanya sang Raja bingung.

"Kamu kan tahu Midorima-kun itu orangnya bagaimana. Dia kan Tsundere akut. Hihi..." jawab Ratu sembari tertawa geli.

Raja Shuuzo sweatdrop mendengar jawaban permaisurinya yang terkesan aneh bin konyol itu. "Ehm, benar juga, sih..."

Lalu Raja Shuuzo kembali menatap batu kristal hijau yang masih bersinar. Sekarang tinggal lima pengawal lagi. Aku harap mereka berhasil dalam menyelesaikan misiku ini. Semoga saja, pikirnya.

Pet 2: Midorima The Rabbit End

*to be continued*

Akhirnya selesai juga~!

Sepertinya cerita yang bagian Midorima kok panjang banget kayak rel kereta api. Apa cuma perasaanku saja, ya? :3

Nah, gimana ceritanya, minna-san? Bagus, kan? Mohon maaf kalau ada kesalahannya di sini. Contohnya, Midorima-nya OOC alias kurang sifat Tsundere-nya. Hehe~ XD

Ya, Author tahu kalau Midorima itu orangnya Tsundere. Jadi, mohon dimaafkan, ya...

Kalau kalian masih mau cerita FF ini dilanjutkan, kalian harus vote salah satu dari chara favorit kalian yang ada di sini. Remember, you must choose only one. Nggak boleh lebih (lagipula enak saja mau vote semuanya. Tamak banget, sih. :v ).

Baiklah, aku harus mengeceknya dulu... *ambil daftar*

Midorima sudah... *beri tanda ceklis* Sekarang sisanya:

_Akashi

_Kagami

_Kise

_Aomine

_Murasakibara

Nah, kupersilakan kalian beri vote di sini. Oh ya, jangan lupa sekalian Review kalau kalian mau beri komentar. Mau fav dan foll juga boleh. Asal jangan nge-FLAME di sini atau aku akan menghapusnya... *senyum jahat ala Bokushi*

Wah, ada Review masuk! Yosh, aku akan membalasnya... ^^

Yeran: Terima kasih telah me-Review lagi FF-ku ini, Yeran-san... ^_^

Hmm... Apa kamu lupa atau nggak baca yang bagian Prologue? Kan sudah dijelaskan sama Nijimura kalau gadis yang dipilih pengawal saat dia jadi hewan di Bumi berhasil membuat si pengawal jatuh cinta, si pengawal itu akan kembali berubah jadi manusia. Bukan OC/Reader-nya yang jatuh cinta. Seperti katamu tadi, kan nggak mungkin Rizuki langsung jatuh hati. Because Tetsuya-kun is a dog and she's a human. Coba Yeran-san baca ulang, ya biar paham atau nggak lupa lagi. Hehe... :3

Ah, nggak kebayang kalau Tetsuya-kun jadi anjing kayak Nigou. Pasti lucu bin kawaii... XD

Hahaha... Iya, Author tahu kalau hawa keberadaan Tetsuya-kun itu tipis bak kain gorden. Hehe. Tapi, kan nggak mungkin Tetsuya-kun berdiri di situ terus meskipun hawa keberadaannya tak terasa. Bisa jadi ketahuan kalau dia tak sengaja bikin gaduh (contohnya saat dia tak sengaja menjatuhkan sesuatu kayak vas bunga misalnya) atau Mamanya Rizuki tak sengaja menabrak Tetsuya-kun. Kan berabe jadinya. Makanya, dia milih ngumpet jadi aman. Hehe...

Nih, sudah kulanjutkan. Kali ini bagian Midorin. Hihi... Kurasa tebakanmu salah. Bukan rakun tapi juga bukan panda. Dia jadi kelinci, lho! Semoga Yeran-san masih mau membacanya... :)

Buat PonPon-san dan byakura-san, trims atas Review-nya! Nih, sudah kulanjutkan. Semoga suka yang bagian Midorin jadi kelinci... ^w^

Sudah saatnya Author harus pergi. Tapi sebelum itu, ada makanan penutup, eh maksudnya Omake buat kalian. Semoga kalian suka... :)

Jaa ne~!


Omake

Midorima dan Shaori masih berciuman dalam waktu yang lama hingga kebutuhan akan oksigen muncul di benak mereka. Mereka berdua segera melepaskan tautan bibir mereka.

Entah kenapa begitu menyadari dirinya telah dicium oleh gadis yang dicintainya, Midorima segera memalingkan mukanya ke arah lain seraya menutup mukanya yang merah padam. Shaori juga melakukan hal yang sama. Dia memalingkan mukanya dan memainkan jari-jarinya, salah tingkah begitu mengingat ciuman itu. Mukanya juga memerah.

Jantung mereka masih berdebar tak menentu, tapi dalam hati mereka sangat menikmati kebersamaan ini. Bagi mereka, ini adalah ciuman pertama yang tak bisa dilupakan. Membuat jantung berdebar, tapi romantis.

"Ah... Ano... Ng..." Midorima kehabisan kata-kata untuk mengucapkan sesuatu pada Shaori. Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan.

"Tadi itu..." Shaori terdiam sesaat. "Ciuman yang romantis..."

"Ro... Romantis?" sahut Midorima sambil menaikkan kacamatanya. "Padahal kita melakukannya pertama kali, nodayo. Bagiku itu belum seberapa."

"Bagiku, iya..." balas Shaori, menoleh ke arah Midorima yang masih membelakanginya. "Meskipun kamu menganggap itu ciuman pertama, tapi pasti kita tak akan pernah melupakannya."

Midorima hanya bisa menoleh dan menatap Shaori dalam diam. Tak lama kemudian, senyuman kecil tersungging di bibirnya. Dia tak mau menjauh dirinya dari Shaori. Yang jelas, dia bahagia. Dia ingin bersama Shaori, hanya berdua.

"Ehm, Midorima..." panggil Shaori.

"Hm?"

"Entah kenapa aku kok lebih suka saat kamu jadi kelinci," jawab Shaori dengan raut wajah kecewa.

Dahi Midorima seketika mengernyit. "A, apa katamu?"

"Aku lebih suka saat dirimu jadi kelinci."

"Jadi, kamu tak suka saat aku berubah jadi manusia begini?" tanya Midorima sambil memasang wajah kesal. Merasa tersindir.

"Bukan begitu. Menurutku kamu lebih lucu kalau kamu jadi kelinci. Itulah sebabnya aku mau memeliharamu," ujar Shaori sambil menatap Midorima gemas.

"Apa?!" Midorima tersentak kaget. "Aku sama sekali tak lucu jadi kelinci, nanodayo!" elaknya. Dia masih saja tak terima kalau dirinya lucu saat dia menjadi kelinci.

"Bagiku, kamu itu lucu," balas Shaori tak mau kalah.

"Tidak! Sama sekali tidak lucu," bantah Midorima tegas sambil melipatkan tangannya di depan dada.

"Lucu, ah."

"Tidak lucu!"

"Lucu."

"Tidak."

"Lucu!"

"Tidak!"

"Urusai, nanodayo! Aku tak mau membahas itu lagi! Paham?" seru Midorima ngambek. Dirinya merasa lelah berdebat dengan Shaori yang menurutnya tak penting untuk dibahas.

"Huh!" Shaori hanya bisa manyun. Dasar Megane Tsundere, keluhnya dalam hati. "Jangan ngambek begitu, dong. Kamu jelek kalau seperti itu," katanya.

"Biarin," balas Midorima pendek.

"Hei, aku serius, lho. Kamu lebih lucu kalau kamu jadi kelinci. Masih saja tak percaya," tutur Shaori.

"Kamu masih saja terus membahas itu lagi, nanodayo?"

"Tidak, kok," bantah Shaori, memasang tampang sok manis. Namun tiba-tiba saja kejahilannya muncul lagi, dia menyeringai sambil mengambil kacamata yang bertengger di hidung Midorima.

"Hei! Apa yang kamu lakukan?!" serunya kaget ketika kacamatanya diambil.

"Aku masih ingin mengambil kacamatamu. Hehe..." tawa Shaori jahil.

"Kembalikan itu atau kamu akan menanggung akibatnya, nanodayo!" Midorima berusaha meraih kacamatanya di tangan Shaori, tapi Shaori berhasil menghindarinya. Dia lalu berlari menjauhi Midorima.

"Kalau kamu ingin kacamatamu kembali, ambil saja sendiri. Wek!" kata Shaori sambil menjulurkan lidahnya. Midorima yang melihat sikap Shaori seperti itu jadi geram.

"Kamu menantangku, ya? Awas, akan kutangkap kamu, Shaori!" serunya sambil berlari mengejar Shaori.

Mereka berdua jadinya bermain kejar-kejaran layaknya anak kecil. Akhirnya suasana rumah itu yang awalnya tenang jadi berisik minta ampun. Mereka sama sekali tak peduli dengan orang di luar yang sedang lewat, heran memperhatikan kelakuan mereka.