My Life Story
Naruto Masashi Kishimoto
Story Sword Angel
Mainpair Sasuke/Sakura
Genre: Romance/Drama/Slight Supranatural
Warning: typo, OOC, gaje, dll
"If you don't like, don't read this story.."
.
.
Seperti yang Sakura duga, sekolahnya hanya akan mengadakan acara pementasan biasa, yang tentunya diisi oleh adik kelas untuk memeriahkan acara.. dan tentunya orang tua masing masing diundang. Dan seperti biasa, disini yang tergolong orang kaya hanya terdapat 2 orang, yaitu Hinata Sasuke sendiri. Sebenarnya Sakura itu anak dari seorang pegawai bank biasa, tapi karena gajinya yang diatas rata rata –jika di kota kecil- maka dia tergolong orang mampu, bukan kaya juga sih, tapi tetap saja dia tidak bisa membantu banyak Dan tentunya acara ini dananya akan didonasikan oleh keluarga Uchiha sendiri, entah kenapa anak sekaya Sasuke memilih sekolah yang terpencil seperti ini, dia kan bisa bersekolah di tempat yang jauh lebih bagus..
"haah.. satu bulan lagi.." kata Sakura lesu. Ke-empat temannya memandang Sakura bingung. "engg, satu bulan apanya Sakura-chan?" tanya Tenten. "satu bulan lagi kita akan berpisah, lagi pula kita sudah mendaftarkan diri di SMP yang berbeda bukan, Hinata, Temari dan Ino akan sekolah diluar kota karena impian, dan ayah kalian, sedangkan kau Tenten-chan kau beda sekolah denganku karena kau suka olahraga.." kata Sakura lesu.
Ya mereka semua beda sekolah, Sakura ada di SMP Konoha, Ino dan Temari di SMP Enterteiment yang ada di luar kota, entahlah intinya jauh dari Konoha. Sedangkan Tenten, dia yang menyukai olahraga akhirnya masuk SMP Kejurusan Olahraga, Hinata? Sebentar lagi dia pindah sekolah menuju Otogakure, katanya Ayahnya harus pindah karena Hyuuga Group kator pusat nya dipindah. Haah.. Sakura pun akhirnya juga harus berpisah dengan ke-empat temannya itu. mereka pun akhirnya terdiam semua.
"AAHH!" teriak Sakura, membuat ke-empat temannya itu kaget karena teriakan nya cukup keras. "apa apaan kau hah?!" sembur Ino, sedangkan Sakura tidak menghiraukan teriakan Ino, dan dia segera menatap lurus ke-empat temannya itu. "hei hei, bukankah kalian semua tau, kalau Hinata-chan itu menyukai Sasuke sejak kelas satu, artinya kau Hinata-chan itu sudah menyukai Sasuke selama 6 tahun!" seru Sakura bersemangat.. membuat semua temannya itu heran dan bingung "lalu?" tanya Temari.
"Hinata-chan, sampai kapan kau akan memendam perasaan itu, cepat nyatakan perasaanmu padanya!" seru Sakura. Membuat ke-empat temannya kaget.
"yang benar saja! Nggak mungkinkan cewek nembak cowok?!" seru Ino. Sakura pun memandang Ino bingung. "engg, memang nggak boleh ya?" tanya Sakura polos, membuat Tenten, Temari, dan Hinata tertawa seketika, sedangkan Ino? Muncul empat sudut siku dikepalanya, karena jengkel dengan temannya yang kelewat polos itu. "tentu saja, tidak boleh Sakura-chan" jawab Hinata lancara dan kembut.
"kenapa?" tanya Sakura dengan polos. "karena itu perbuatan yang tidak pantas yang dilakukan oleh seorang gadis yang lemah lebut seperti Hinata, beda dengan kau!" sembur Ino tak sabaran. "lho, memang jika gadis lemah lembut itu tidak boleh ya menembak cowok? Sedangkan kalau gadis urakan seperti ku boleh menembak cowok? Begitu?" tambah Sakura. Membuat ke-tiga temannya terbahak lagi. Yah, Sakura terlalu polos untuk mengenal kata cinta, bahkan Tenten yang belum puber pun sudah mengenal kata cinta. "tentu saja tidak bodoh, dimana mana, cowok itu selalu yang nembak cewek!" kata Ino. "kan kalau nembak, cowoknya juga harus suka sama ceweknya, lha terus kalau Sasuke tidak suka sama Hinata gimana coba? Masa Hinata harus terus nunggu, kasihan donk" jawab Sakura panjang lebar, membuat semua temannya bungkam.
"eng, ngomong ngomong, teman teman.." sahut Tenten menggantung. Membuat ke-empat temannya menoleh ke arahnya. Mereka semua melihat Tenten seperti menahan sakit perut, dan kakinya bergerak gerak gelisah.
"entah tiga hari ini, aku sakit perut terus, tapi anehnya sakitnya tidak di perut, aku jadi bingung, sakitnya di sini" kata Tenten sambil menunjuk kearah perut bagian bawahnya, hampir menuju ke alat kelaminnya "dan kenapa dari tadi aku merasakan ada yang keluar, seperti kencing, tapi tidak ingin kencing?" tanya Tenten. Membuat ketiga temannya kecuali Sakura membalak kaget, mereka tidak menyangka jika hari pertama Tenten ada di sekolah. Sakura tidak peduli dengan perubahan ketiga temannya itu, dari tadi dia hanya melihat wajah Tenten yang seperti menahan sakit itu.
"Tenten-chan, kenapa wajahmu tidak seperti biasanya". Kata Sakura polos, ketiga temannya pun menoleh kearahnya. "kenapa wajah Tenten-chan seperti jauuuh lebih dewasa sekarang? perasaan dari kemarin wajahmu seperti aku tidak seperti mereka bertiga yang terlihat lebih dewasa sekarang?" tambah Sakura lagi.
"engg, begini Sakura-chan, hari ini adalah hari pertama Tenten kedatangan tamu, kurasa kau sudah tau karena ini adalah pelajaran kelas 5, itu lho masalah 'pribadi' perempuan" kata Temari berusaha menjelaskan. Sakura tampak berpikir sebentar, tiba tiba wajahnya berubah menjadi terkejut.
"aah! Sebaiknya bawa Tenten-chan dulu kekamar mandi, kenapa kalian malah diam terus disini?!" sembur Sakura. Ya ini adalah kelebihannya, jika ada masalah dialah yang lebih tanggap, walaupun dia belum pernah merasakan hal itu. "aku akan pergi untuk membeli 'itu'." kata Sakura tanggap, ke-tiga sahabatnya pun mengangguk, lalu segera membawa Tenten ke kamar mandi, untung waktu itu sedang memakai rok berwarna merah, dan jam sekolah masih kosong.
"huwaah.. makasih semuanya" seru Tenten ceria. Yap kini masalahnya sudah selesai berkat ke-empat temannya itu. "eng, tentu itulah gunanya teman, eh salah maksudku sahabat" seru Ino. Yang lain pun hanya mengangguk sambil tersenyum cerah. "jadi hanya tinggal kau sendiri Sakura, yang belum mengalami masa seperti kami" kata Tenten, sambil mengerling kan matanya jahil. Sakura pun hanya memutar matanya bosan. "nanti kalau sudah waktunya pasti akan- Hey itu Sasuke!" teriak Sakura. Membuat wajah Hinata memerah seketika, teman temannya pun langsung membekap mulut Sakura dengan tangan mereka. Tapi terlamabat, Sasuke sudah keburu menoleh kearah mereka, dan Sakura berhasil melepaskan dekapan mereka.
"Sasuke! Kemarilah" seru Sakura ceria. 'Ooh tidak ini pasti tidak beres' batin Ino, Tenten, dan Temari. Sedangkan Hinata wajahnya sudah memerah bak kepiting rabus siap santap. Sasuke pun hanya mengernyitkan dahi mendengar teriakan Sakura. Dia pun memilih untuk mendatangi Sakura. Sakura pun tersenyum sumringah.
"nah, Hinata-chan, sekarang nyatakan perasaan mu, masalah ditolak atau diterima itu urusan belakangan, yang penting dia mengerti perasaan mu. Oke?!" kata Sakura tanpa memberi jeda sedikitpun untuk membiarkan Hinata menjawab. "ta-tapi Sakura-chan.." bahkan sebelum Hinata, Sakura sudah keburu mendorong Hinata hingga jatuh kepelukan Sasuke, melihat peluang itu, Sakura segera mengajak ketiga temannya untuk pergi, lalu meneriakan "ganbatte" pada Hinata. Mereka pun hanya tinggal berdua, dan posisi ini benar benar mmbuat Hinata sangat Gugup.
"engg, Sa-Sasuke-kun.." kata Hinata. Sasuke yang menyadari posisinya segera mengembalikan Hinata ke Posisi semula. Keadaan pun menjadi canggung. Sasuke yang menunggu Hinata untuk segera berbicara, dan Hinata yang gugup nya sudah tingkat akut. Wajahnya memerah entah karena pelukan tadi atau karena sekarang tengah ditatap intens oleh Sasuke.
"jadi, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Sasuke berusaha menghilangkan kecanggungan ini. Tapi tak satupun jawaban keluar dari mulut Hinata. Melihat Hinata diam saja, Sasuke pun memutuskan untuk pergi kembali ke kelas. Tapi baru beberapa langkah, tangannya diberhentikan oleh Hinata. Temannya yang melihat adegan itu jadi jengkel sendiri, karena Hinata benar benar sangat plin plan. Mereka semua pun jadi sangat gemas, terutama Ino. Yah dia sebenarnya bukan jengkel pada Hinata, tapi pada Sakura! Ooh, bahkan dengan tenangnya dia kembali dari kantin dengan membawa makanan ditangan kanan dan kirinya.
"hey, apa apaan kau? Setelah menjebak Hinata-chan kau dengan tenangnya kembali dari kantin dengan membawa kue sebanyak itu?!". sembur Ino. Sakura yang sedang mengunyah makanan pun segera menelean makanan itu. "sudahlah kau lihat saja.. aku yakin Hinata-chan bisa melakukannya". Kata Sakura optimis, sambil tersenyum.
Kembali ke Hinata dan Sasuke. Hinata kini tengah menggenggam tangan Sasuke. Bisa Sasuke rasakan bahwa wajah Hinata memerah dan tangannya basah karena keringat dingin. Sasuke pikir Hinata sakit, jadi dia pun berinisiatif memegang jidat Hinata.
"hey, kau tidak apa apa?" tanya Sasuke. Tentu saja perbuatan itu membuat Hinata semakin memerah. "a-aku.. a-aku-" Sasuke semakin mengernyit mendengar kata kata Hinata yang seperti berbisik itu. Sasuke pun sedikit menunduk untuk mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh Hinata. "apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarmu" kata Sasuke. Teman teman Hinata yang melihat dari belakang punggung Sasuke menyangka bahwa Hinata sedang dicium tepat dibibirnya, karena posisi Sasuke yang sedikit memiringkan kepalanya. Padahal bukan itu yang terjadi. Semua yang melihat itu tersenyum sumringah, dilihat juga wajah Hinata memerah bak kepiting rebus. Tapi senyuman itu segera hilang dari bibir mereka karena mendengar pernyataan Hinata yang cukup keras.
"AKU MENYUKAI SASUKE-KUN!" tanpa Sengaja Hinata berteriak, tentu saja membuat Sasuke mebalakan matanya kaget, teman temannya Hinata juga kaget. Ternyata Sasuke hanya mendekatkan telinganya untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Hinata. Hinata pun sepertinya terkejut oleh perbuatannya itu. diapun segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Wajah Sasuke yang tadi melembut, kini berubah menjadi dingin dan datar lagi. Sasuke pun segera menegakkan badannya, lalu menatap Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan. Teman teman Hinata bingung akan perbuatan Sasuke, tapi yang hanya bisa mereka lihat hanyalah gelengan kepala Sasuke, dan tidak mendengar satu ucapan pun dari Sasuke. entah apa yang dikatakan Sasuke, itu membuat Hinata menangis seketika. Dia berlari meninggalkan Sasuke dengan wajah memerah dan air mata sudah mengalir di kedua pipinya. Melihat itu, teman teman Hinata segera berlari untuk mengejar Hinata. Sasuke hanya dapat melihat punggung kecil Hinata, lalu berbalik meninggalkan tempat itu dengan wajah seperti biasanya seperti tidak terjadi apapun disana.
.
.
"Hinata-chan.." panggil Sakura lembut. Ke-empat sahabat Hinata pun segera mendekat ke arah Hinata yang masih tesedu sedu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, tiba tiba Hinata berdiri dan berbalik lalu menatap ke-empat sahabatnya tajam. Tidak! Pandangan itu bukan itu ke-empat sahabatnya, tapi lebih tepat untuk..
Sakura..
"Hinata-chan.." panggil Sakura sedikit terkejut dengan perubahan Hinata yang seperti ini. Dia juga merasa bersalah karena telah memaksa Hinata untuk mengungkapkan perasaannya itu ke Sasuke. "maafkan aku, seharusnya aku tidak memaksamu untuk-" belum sempat Sakura melanjutkan, Hinata tiba tiba memotong ucapan Sakura, dan tentunya itu bukan perbuatan khas Hyuuga yang selalu mendengarkan lawan bicaranya jika mereka sedang berbicara.
"ya! Seharusnya kau tidak memaksaku! Seharusnya kau tidak perlu mencampuri urusanku! Perbuatanmu itu tadi membuat harga diri Hyuuga jatuh didepan Uchiha karena seorang gadis Hyuuga mengungkapkan perasaannya duluan, yang seharusnya dilakukan oleh laki laki itu! kenapa aku harus kenal kau!? Kenapa aku harus berteman denganmu?! Seharusnya kau itu tidak ada didunia ini! Seharusnya kau mati! Karena kau semuanya hancur!" bentak Hinata tanpa memberi celah Sakura untuk menjawab, kini gagapnya tengah hilang sepenuhnya karena amarah dan emosi menguasainya.
DEG
Serasa jantung Sakura di hantam oleh beribu ribu palu, ditusuk oleh berjuta juta entahlah, tidak ada yang bisa mendiskripsikan perasaan nya saat ini. Karena kata kata Hinata terlalu sakit untuk didengar oleh telinganya, bahkan kini telinganya seperti berdengung. Sakura menjadi pusing, bahkan dia juga tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Hinata dan ke-tiga sahabatnya yang lain. Segitu salahkah perbuatannya? Tanya Sakura terus menerus di otaknya. Hingga hanya satu yang terdengar di telinga Sakura.
PLAAK
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Hinata dan tentunya pelaku itu adalah Tenten. Ino sedang berusaha menahan berat badan dari Sakura karena shock dan hampir limbung mendengar perkataan Hinata.
"apa apaan kau?!" kata Hinata membentak Tenten. Sedangkan Tenten hanya menatap tajam Hinata. Mereka berdua pun hanya saling menatap tajam. Sedangkan Temari sedang berusaha melerai mereka berdua.
"sudah cukup! Apa apaan kalian! Ini masalah kecil! Kenapa harus dibesar besarkan" kata Temari berusaha bijaksana. Sedangkan Sakura hanya bisa menatap mereka bertiga dengan tatapan kosong. Seperti telah dirasuki sesuatu kedalam dirinya.
"Hinata-chan.." kata Sakura lirih. Tapi cukup didengar oleh Hinata dan ketiga teman lainnya. "cukup jangan memanggilku seperti itu, sekarang kita tidak usah berteman, akhiri persahabatan kita berdua. Sekarang aku juga tidak peduli pada kalian bertiga! Aku benci kau Haruno!" kata Hinata. Bahkan kini dia tidak mau memanggil Sakura dengan nama mengatakan itu, Hinata segera berlalu meninggalkan sahabatnya ralat –mantan sahabatnya-.
.
.
Sasuke pun segera menegakkan badannya, lalu menatap Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia segera menggelengkan kepalanya pelan, membuat Hinata mengernyit bingung
"engg, a-apa maksudmu Sa-Sasuke-kun?" tanya Hinata berusaha tetap terdengar lembut, walau dia tau artinya dan suaranya kini terdengar parau menahan tangis. "maaf, aku sudah menyukai seseorang" kata Sasuke.
Mendengar itu hati Hinata mencelos merasakan sakit yang mendalam, tapi karena tidak ingin terlihat lemah Hinata tersenyum lembut walau air mata kini tengah beranjak menuju pelupuk matanya, lalu bertanya..
"si-siapa gadis be-beruntung itu Sasuke-kun?" tanya Hinata dengan senyum manisnya, walaupun air mata tengah menggumpal dipelupuk matanya.
"Sakura..
Gadis itu Haruno Sakura"..
.
.
A/N:
Yaa, ini adalah ch 3. Aduuh, maaf ya Hinata harus kubuat jahat ( ) karena memang tidak ada chara lain yang cocok #maafkan aku Hinata *kicked* Padahal aku suka Hinata *jdhug* tapi terpaksa buat Hinata kayak gini *dibakar*. Oke deh.. setelah ku pikir pikir.. aku akan ganti judul menajdi "Destination atau My Destiny" karena kayaknya "My Life Story" terlalu pasaran. Tapi tenang, untuk ketikannya tetap My Life Story, karena mengganti judulnya di ketikan ini berarti merombak semua dan harus mengulangnya dari awal. Mungkin hanya di err.. Apa itu? sampulnya mungkin? #author nggak tau *dibanting bareng* Jadi Destination atau My Destiny, pokoknya antara kedua itu, atau mungkin ada saran lain yang cocok dengan cerita ini.. silahkan beritahukan saya. ^^
Oke deh, readers.. terimakasih sudah mau membaca dan meriview cerita ku.. jadi aku minta.
Rivew Again Please.. (^.^)/HiH
