a/n: Halo semua~ Miss16Silent datang hanya untuk meng-edit chapter-chapter berikut wkwkwk. Semoga saja ada readers yang tertarik lagi dengan cerita ini^^. Ya semoga saja. Maaf update lama TT^TT, semoga saja para readers tidak jenuh menunggu story ini update^^. Sekarang tidak perlu basa-basi lagi silahkan membaca~^^~

Balas review:

Ayu.p: Terimakasih sudah review^^, iya mungkin di chapter ini pun semakin menariiik hhe, lalu lalu di chapter ini juga agak diperbanyak editannya. Maaf lama update T^T

Chang Mui Lie: Wahh iya terimakasih sarannya^^, ternyata masih ada beberapa typo yang tertinggal ya? ehehe, terimakasih sudah mengingatkan, terimakasih juga sudah review^^

Sweet Crystal: Semoga chapter berikut semakin menarik lagi ya, terimakasih sudah review^^

dilla: Terimakasih sudah review~^^, chapter berikut semoga lebih terlihat editannya ya, nanti review lagi *eh? ehehe.

LISA FITRIANI: Sudah update nihhh, terimakasih sudah review ya^^

Nindya: Terimakasih sudah review^^, semoga chapte rberikut juga lebih jelas ya ceritanya, terus minta review lagi *eh? Maaf update lama T^T.

shanti. dewi : Sudah update nihh, semoga menyukai chapter berikut yaa, terimakasih sudah review~

.

Huruf 'miring' menandakan dalam pikiran, kata-kata asing, dll lah ya.

Selamat membaca~^^~


Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU,OC,OOC,miss typo,dll

.

.

.

*~Looking for Freedom~*


[Miyon POV]

"Karin-chan kau tidak apa apa?" tanyaku khawatir pada Karin. Karena aku tau gejala penyakit Karin pada saat kambuh, dan kini ia mulai terlihat pucat pasi. Khawatir akan terjadi apa-apa aku mendekatinya dan duduk disampingnya.

Dan tiba-tiba-

BRUGH! Karin terjatuh tidak sadarkan diri, dengan spontan aku berteriak memanggilnya. "Karin-chan!"

"Karin-san?" Yuuki pun tersentak kaget karena Karin pingsan. Aku segera mengecek keadaannya, Karin terlihat sangat pucat, dan aku tidak tahu harus berbuat apa lagi selain berteriak meminta pertolongan.

"Siapa saja tolong bawa Karin-chan ke UKS!" pekiku sampai bergema di kantin ini. Untung saja, BANYAK yang berebut ingin membawa Karin ke UKS.

"Biar aku saja!" teriak murid laki laki, "Tidak, aku saja!" , "Aku yang terlebih dahulu!" , "Aku!"

Adu mulut pun terjadi. Mereka bukannya menolong Karin, tapi malah memperebutkan Karin? Aku mendengus kesal melihat mereka yang seperti anak kecil memperebutkan sesuatu. Tetapi ini Karin! Bukan barang! Karena kelalukan mereka aku pun terbawa emosi. 'Para fans itu perhatian pada Karin atau tidak sih sebenarnya?' pikirku kesal. Aku segera berdiri dan bertolak pinggang.

"Hentikan! Sekarang bukan saatnya untuk memperebutkan Karin-chan!" aku membentak mereka dan mereka pun serentak diam. Tanpa basa basi lagi aku langsung mengalihkan pandanganku pada seseorang di kantin yang tidak ikut campur dengan adu mulut para fans Karin.

"Hey kau!" aku menunjuk salah seorang murid laki laki yang hanya menonton.

"Eh?!" serunya bingung.

"Tolong Karin-chan ke UKS," ujarku dengan nada rendah namun tegas. Dengan tatapan dinginku akhirnya dia mau menolong Karin ke UKS.

.

~UKS~

Karin dibaringkan di UKS, sementara aku menungguinya sampai sadar. Sensei bilang Karin baik baik saja, mungkin sebentar lagi dia akan sadar. Maka aku berniat untuk menungguinya sampai tersedar, namun sejenak ide melintas di benakku.

'Ah benar juga, bukannya Karin-chan selalu membawa obatnya? Kalau tidak salah dia menyimpannya di tas ya?' pikirku. Akhirnya aku berniat untuk mengambil obat Karin dan meninggalkannya sebentar.

"Sensei, aku minta izin pergi ke kelas sebentar," ujarku. Sensei yang sedang menyatat sesuatu pun berhenti dan memperbolehkanku untuk pergi ke kelas.

"Terimakasih Sensei!" aku tersenyum dan segera meninggalkan UKS.

.

[Kirika-Sensei POV]

Setelah Miyon-san ke luar UKS, aku baru ingat bahwa ada tamu yang menungguku. 'Bagaimana ya? Kalau aku pergi tidak akan ada yang menjaga Hanazono-san..' pikirku.

Aku berpikir mencari ide yang baik, namun pada saat aku melihat keluar, ada murid yang melewati depan UKS. Dengan spontan aku langsung memanggilnya,

"Hey!" panggilku.

"Eh? Ada apa Sensei?" ujar seorang murid laki-laki itu menghadap kepadaku. Aku kenal dengan anak ini, karena ia adalah Kujyo Kazune sang Ketua OSIS yang terkenal. Guru-guru pun banyak yang mengaguminya. Sampai-sampai ada yang menjadi salah satu fans nya -_-.

"Ehm, Kujyo-san. Karena aku sedang ada tamu, bisakah kau menungguinya sebentar? Aku khawatir akan terjadi apa-apa dengannya bila sendiri, karena ia belum sadarkan diri," ujarku sembari menepuk bahu kanannya. Sedangkan ia hanya menatapku ragu.

"Ehh baiklah," jawabnya mengiyakan. Aku pun langsung berterimakasih padanya, lantas pergi ke ruang guru untuk menemui tamuku itu dan meninggalkan Hanazono bersama Kujyo.

.

[Kazune POV]

Dengan tidak sengaja akhirnya aku menunggui seseorang yang tidak sadarkan diri di ruang UKS, yang tidak aku ketahui siapa, dan mengapa harus aku?

Karena penasaran aku berjalan mendekati ranjang UKS, terlihat seorang murid terbaring, dan pada saat kulihat siapa yang terbaring di UKS..

'Bukannya dia itu Hanazono-san yang mendapat peringkat 2 sekolah? Kenapa dia bisa ada disini?' pikirku.

Aku mendekatinya, terlihat wajahnya pucat. 'Mungkin dia sedang sakit? Kenapa sampai pingsan seperti itu?'

Aku mengambil kursi dan duduk di sebelahnya. Pertama aku mulai melihat jam dan menyamakannya dengan jam tanganku, lalu aku melihat keluar jendela dan disana sedang ada yang bermain basket. Aku pun teringat bahwa setelah pelajaran ini aku ada pelajaran olahraga.

Waktu berjalan terasa lambat bagiku, karena tidak ada kerjaan untukku. Lantas aku tidak sengaja melihat jari-jemari Karin bergerak. Aku pikir ia akan tersadar, dan sejenak aku memperhatikannya.

'Wajahnya manis, rambutnya indah, pantas saja banyak yang mengejarnya. Tapi kenapa dia tidak pernah menyusul peringkatku ya?' pikirku terheran-heran.

Aku tidak terlalu tertarik padanya meskipun dia manis. Kenapa? Karena dia sainganku! Beberapa lama kemudian Sensei kembali dan aku pergi meninggalkan UKS untuk pelajaran selanjutnya.

.

[Miyon POV]

Aku berjalan di koridor pinggir lapangan. Terlihat beberapa murid yang sedang bermain basket. Aku memperhatikan seseorang dengan rambut blonde, dan dia adalah Kujyo Kazune!

'Hmm, pantas saja Karin-chan tidak bisa menjadi peringkat pertama di sekolah. Kujyo-kun kan aktif dalam olahraga. Sedangkan Karin-chan... Ah, peduli apa aku dengannya? Yang penting aku mengambil obatnya dulu,' . Aku langsung pergi menuju kelas.

~Kelas~

"Miyon-chan!" terdengar suara khas Himeka yang lemah lembut dari dalam kelas.

"Ah Himeka-chan? Ada apa?" tanyaku.

"Bagaimana keadaan Karin-chan? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya kembali

"Karin-chan sedang berbaring di UKS, aku mau mengambil obatnya. Kalau tidak salah Karin-chan menyimpan obatnya di tas," jawabku sembari membuka tas Karin.

'Meskipun aku tahu ini bukan tindakan yang baik untuk dilakukan, membuka tas orang lain tanpa se-penggetahuan pemiliknya. Tapi aku melakukan ini untuk kebaikan Karin-chan, hehe,'

Akhirnya aku menemukan obat Karin dan dengan segera aku kembali ke UKS bersama Himeka disampingku.

~(kembali)UKS~

.

[Karin PO]

Aku membuka mataku yang terasa berat dengan perlahan. Pandanganku masih belum jelas. Aku melihat langit-langit yang sudah tidak asing lagi bagiku. Ya benar, ruang UKS. Sejak kondisiku seperti ini, aku jadi sering ke UKS.

"Ngh.." aku memposisikan diri duduk di pinggir ranjang.

'Hahh, terjadi lagi. Apa yang harus kukatakan pada kakak saat pulang nanti? Apa Sensei sudah menelfon Kakak?' pikirku. Aku hanya diam melihat ke luar jendela UKS.

Terlihat orang-orang yang sedang asik bermain basket. Salah satu dari mereka adalah Kazune Kujyo. Sejenak aku berpikir, peringkatnya dan peringkatku tidak jauh berbeda, namun dalam hal olahraga... jauh sekali.

"Hmm, sepertinya dia memang pantas dengan peringkat 1. Nilai-nilainya perfect semua. Sedangkan aku? Nilai dalam olahraga pasti pas-pasan. Lari sedikit, pusing. Apalagi bermain basket?" ujarku berbicara sendiri. Aku hanya bisa menghelas nafas, seperti biasa.

'Sepertinya mulai sekarang aku harus mempas-'

Tok Tok!

Pikiranku terpotong dengan suara ketukan di pintu, pikirku itu adalah Sensei. Pintu ruangan ini terbuka perlahan dan muncul 2 orang gadis. Ternyata tebakanku salah.

"Karin-chan?" dan ternyata aku salah, mereka itu adalah Miyon dan Himeka!

"Miyon-chan, Himeka-chan!" sapaku dengan senyum.

"Akhirnya kau sadar juga Karin-chan!" seru mereka berdua sembari menghapiriku. Aku melihat Miyon membawa sesuatu ditangannya. Namun aku belum tahu pasti apa itu.

"Hm-m," aku hanya mengangguk meng-iyakan.

"Ah Karin-chan, ini obatmu. Maaf tadi aku membuka tasmu tanpa izin," Miyon tersenyum minta maaf. Lantas ia menyerahkan benda yang berada ditangannya yang ternyata adalah obatku.

"Iya trimakasih. Tidak apa-apa ko!" aku mengedipkan sebelah mataku.

"Hehehe, kalau begitu ayo cepat minum obatmu," suruh Himeka padaku. Aku menuruti Himeka dan meminum obat itu.

Setelah meminum obat, kondisiku sedikit membaik. Jadi aku bisa belajar ke kelas lagi. Bisa gawat kalau tertinggal pelajaran, masalahnya itu akan sulit untuk mengejar pelajaran yang tertinggal -_-

"Sensei sudah memperbolehkanmu kembali ke kelas kalau kau sudah sadar," seru Himeka padaku. Aku mengganggu mengiyakan dan beranjak dari ranjang dan pergi menuju loker kami dahulu sebelum kembali ke kelas untuk mengambil buku pelajaran.

.

Setelah itu, kami pergi ke kelas sambil membawa buku pelajaran yang akan di bahas. Saat itu pun aku tidak memakai kacamata bacaku, namun kacamataku di pegang di tanganku. Saat kami melewati lapangan, kami berbincang-bincang tentang tugas untuk hari esok. Namun...

"Hati-hati!" terdengar teriakan murid-murid dari lapangan.

Dan saat kulihat ke arah lapangan .. DUGH! .. sebuah bola basket mengenaiku dan membuatku jatuh. Buku-buku yang kubawa jatuh berantakan. Aku terjatuh dengan menumpu pada tanganku, dan sialnya.. kacamataku pecah, ditanganku!

Serpihan kaca itu membuat luka di tanganku, yang kanan.. yang biasa untuk menulis... dan melakukan aktivitas lain.. Terluka! T^T

"Ukhh.." rintihku sambil memegangi tanganku yang terluka.

"Karin-chan! Tanganmu terluka!" Himeka dan Miyon terkejut saat melihat bercak merah dari luka ditanganku. Aku masih menahan rasa pilu ditanganku ini, menggigit bibir bawahku mencoba mengurangi rasa sakit ini.

"Iya, aku tahu tanganku terluka," jawabku sedikit kesal. Tak lama kemudian, terlihat seseorang dari lapangan mendekati kami.

"Kau tidak apa apa?" tanya seseorang yang melempar bola basket itu. Aku berusaha untuk membaik-baikkan kondisiku, namun sepertinya tidak berhasil.

"A-ah tidak usah khawatir, aku baik baik saja," jawabku sembari melihat orang itu dan ternyata Kazune yang melemparnya. Ia berlutut mensejajarkan tingginya denganku sekarang dan melihat tanganku yang terluka.

"Baik-baik saja darimana?! Tanganmu terluka! Lebih baik luka ini harus segera dibersihkan, kalau tidak bisa infeksi," ujar Kazune khawatir. Himeka dan Miyon pun mengganggukkan kepalanya bertanda mengiyakan.

"Err tapi-" aku menjawabnya masih sambil meringis, memang luka ini sangat perih.

"Karin-chan, benar kata Kazune-kun. Kalau tidak, lukanya akan terinfeksi," seru Himeka dan Miyon bersamaan.

"Ehh Himeka-chan, bisa tolong bawakan kotak P3K dari UKS? Tolong," ujar Kazune menyuruh Himeka dan Miyon untuk mengambil kotak P3K di UKS.

Yang aku tahu, Kazune memang kenal dengan Himeka, karena mereka adalah sepupu. Himeka Kujyo dan Kazune Kujyo. Benar?

Pada saat Himeka dan Miyon mengambil kotak P3K, aku pergi membersihkan tanganku bersama Kujyo yang membantuku membersihkan lukaku. Kami pergi ke pinggir lapangan yang satu lagi yang terdapat keran air. Dengan segera Kazune menyuruhku untuk membasuh luka itu dengan air. Aku menurutinya saja dan pada saat air menyentuh lukaku, terasa sangat perih, aku memejamkan mataku menahan perih itu. Lantas Kazune mengambil saputangannya dan membasahinya dengan air. Sejenak aku berpikir,

'Bukannya saputanganya belum kukembalikan pagi ini?" pikirku.

Tak lama aku berputar dipikiranku, tiba-tiba tanganku terasa sagat perih! Dengan spontan aku berteriak,

"KYA! Apa yang kau lakukan bodoh!" aku dengan spontan membentaknya dan memukulnya dengan tangan yang sebelah lagi membuatnya meringis kesakitan. Ternyata ia menggosokkan saputangannya pada lukaku.

"Ouch! Bisakah kau tenang sedikit? Kalau tidak begitu, luka mu akan terinfeksi. Kau mau itu terjadi?!" ujar Kazune sembari memegangi tangannya yang kupukul. Aku mendengus kesal sembari dengan menahan perih,

"Kau tega sekali sih! Tapi yang tadi itu sangat sakit kau tahu! Makanya pelan-pelan!" aku membentaknya lagi.

"Grr, perempuan memang cengeng," ujarnya dengan nada kesal. Aku pun terbawa emosi kembali karena dikatai seperti itu.

'Dia bilang aku cengeng?! Awas kau Kujyo!'

Pada saat aku akan memukulnya lagi, ia melanjutkan kata-katanya.

"Aku menyesal menungguimu tadi, padahal aku bisa menolak permintaan Sensei. Biar saja kau sendiri di UKS," lanjutnya sambil berbisik. Tapi itu terdengar jelas di telingaku karena aku dekat dengannya!

"Apa maksudmu menungguiku?" tanyaku dengan nada agak marah dan curiga.

"Tidak, bukan apa-apa," jawabnya dingin menutupi rahasia, masih sembari membasahi saputangannya dengan air.

"Ihh kau menyebalkan!" Jtak! Aku memukulnya lagi,

"Hey! Hentikan itu!" bentaknya sembari memegangi kepalanya.

"Wlee," aku hanya mengeluarkan lidah mengejeknya. Ia mendengus kesal dan mengomel-ngomel sendiri.

Namun meskipun ia terus disentak olehku karena menahan sakit, ia tetap membantuku membersihkan lukaku. Ya, mungkin itu sisi baiknya?

Tidak lama setelah aku membersihkan luka ini, Himeka dan Miyon kembali dengan membawa kotak P3K.

"Ini P3K nya," Himeka menyimpannya di bawah, di dekatku. Sedangkan Miyon membawa perban dan kapas.

"Terimakasih," ucap Kazune lembut pada Himeka dan Miyon. Aku sedikit terkejut karena sang Kujyo Kazune bisa bersikap seperti itu pada mereka, tapi kenapa padaku tidak?!

Namun Himeka dan Miyon tidak akan diam disini, karena mereka bilang mereka belum mengerjakan tugas -_-, jadi aku hanya akan bersama Kazune untuk mengobati luka ini.

Setelah Himeka dan Miyon pergi, Kazune mengambil perban dan.. yang paling tidak kusuka! Obat merah! Kazune mulai meneteskan obat merah itu di lukaku. Tes tes..

WUWW, luar biasa perihnyaa -_-

Saat itu aku menahan agar tidak menjerit atau memukulnya lagi. Tapi yang tidak bisa kutahan adalah air mata. Sudah kuusahakan untuk tidak menangis, namun apadaya, luka itu sangat membunuhku!

'Memalukan.. Pasti Kujyo-kun akan menertawakanku kalau aku menangis,' pikirku sembari masih menahan air mata yang mulai berjatuhan satu persatu.

.

"Ukhh.. Hiks.." aku meringis sambil menutup mataku yang berair, dan tanpa terasa air mataku pun semakin deras. Sangat perih! Bahkan lebih perih daripada tadi!. Tanganku pun sampai bergetar karena menahan sakit, dan Kazune pasti merasakannya juga.

"EH?! Hey, jangan menangis," ucap Kazune dengan nada kekhawatiran dan lembut. Aku terkejut karena kata-katanya tadi. Kupikir, 'Bisa juga ia bersikap lembut seperti itu?'

Aku menatapnya dengan samar-samar karena air mataku tidak berhenti mengalir, ia terlihat khawatir. Aku pun hanya bisa menunduk dan berusaha menyeka air mataku yang semakin deras bila diperlakukan lembut. TT^TT

"Hey, sudah jangan menangis. Aku tahu itu pasti sangat sakit. Tapi bila tidak di obati, luka itu tidak akan sembuh cepat. Seiring berjalannya waktu, rasa hilang itu akan berkurang. Tenang saja," ujar Kazune sembari menghapus air mataku yang terus mengalir itu dengan lembut dan dia tersenyum! Mata biru nya yang indah menatap lurus padaku, senyumannya hangat.

Tidak perlu waktu lama, wajahku langsung menampakan semburat rona merah.

'Oh tidak, kau tidak boleh seperti ini Karin! Kau tidak meyukainya! Jangan terpesona melihatnya! Dia itu saingan!' aku membuang jauh jauh pikiran itu.

"Terimakasih. Aku pikir kau akan menertawakanku.." ujarku sambil menundukan kepala. Ia hanya tertawa kecil mendengarku.

"Hmm, itu kan wajar. Lagipula aku kan orang baik dan tampan yang mempunyai banyak fans," ujarnya sembari membereskan poninya dengan tangannya. Dengan bangganya dia bilang dia orang BAIK yang mempunyai banyak fans?

JTAK! Aku memukulnya tepat di kepalanya.

"Bodoh, percaya diri sekali kau," ujarku sembari mengeluarkan lidahku mengejeknya.

"Hey! Untuk apa yang tadi itu?!" bentaknya sembari memegangi kepalanya yang aku pukul.

"Untuk kesalahanmu membuatku menangis!" bentaku kembali.

"Eh? Tapi itu kan karena sakit! Bukan karena aku!" serunya sekali lagi.

"Tidak bisa, kau duluan yang melempar bola itu padaku!" bentakku

"Bukannya kau yang tidak hati-hati! Aku kan sudah memperingatimu!" sentaknya.

Namun pada saat aku akan membalasnya, tak tahu mengapa, aku malah tertawa. Sekilas tadi aku melihatnya sebagai orang yang dingin, lalu ia menjadi orang yang lemah lembut, lalu sekarang, ia seperti anak kecil. Memang aneh.

Kazune hanya bingung menatapku yang tertawa sendiri. Namun aku tidak bisa mempungkirinya lagi, karena ia memang menyenangkan. Sekilas aku teringat kembali bahwa saputangannya masih ada padaku.

"Ah iya Kujyo-kun. Saputanganmu yang tadi pagi—"

"Untukmu saja. Sudah ya! Aku harus kembali ke lapangan!" ujarnya dan segera pergi meninggalkanku.

.

~Skip Time~

[Normal POV]

Pulang sekolah Karin, Himek, dan Miyon berpisah di depan gerbang sekolah seperti biasa. Tapi hari ini ditambah Kazune bersama Himeka. Karin pun yang merasa sedikit jengkel pada Kazune, sudah mengerucutkan bibirnya sejak mereka pulang sekolah.

"Sampai besok!" seru Miyon dan Himeka

"Sampai besok!" seru Karin pada mereka, sedangkan Kazune hanya diam saja lantas berjalan pulang bersama Himeka. Sifatnya yang dingin sudah keluar kembali, pikir Karin.

'Huh, dasar Kujyo-kun,'

Karin berjalan pulang menuju ke rumahnya langsung. Karena seharusnya Karin pergi ke Cafe Familiy dulu, tapi karena kondisinya, Karin langsung pulang dan berniat untuk istirahat sejenak.

Sampai di rumah Karin di sambut pelayan pribadinya Rika. Tentunya tidak hanya Rika, maid-maid yang berada di rumah Karin pun semua berkumpul menyambut kedatangan sang majikan.

"Selamat datang Nona, apa anda ingin makan siang?" sapa Rika,

"Tidak terimakasih Rika. Aku ingin istirahat dulu," ujar Karin langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang lelah.

Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan, namun itu pasti menyangkut kejadian di sekolah tadi.

"Hmm. Pulang-pulang Kakak pasti menanyakan keadaanku.." ujarnya sembari mengambil bantal empuk dan memeluknya erat-erat. Sejenak ia teringat dengan lomba yang ia ikuti.

.

[Karin POV]

Pagi hari membangunkanku dari mimpi indah. Aku bergegas ke kamar mandi dan memakai seragamku. Langsung turun ke ruang makan dan menyapa Kakaku yang sudah datang tadi malam. Lantas, tanpa basa-basi lagi pertanyaan yang tidak ingin kujawab keluar begitu saja dari mulut sang Kakaku.

"Karin-chan! Kemarin kau jatuh lagi? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Lisa dengan sedikit berlebihan menurutku.

"Aku sudah baik Ka," ujarku sedikit malas, lalu menghabiskan sarapanku dan segera pergi ke sekolah tanpa diantar lagi. Lisa membiarkanku pergi sendiri karena ada sesuatu hal yang harus ia kerjakan juga, maka ia tidak mengantarku meskipun keadaanku masih kurang baik.

~Sekolah~

Sesampainya di sekolah aku pun langsung menyapa sahabat karibku, Himeka dan Miyon. Dengan segera kami berkumpul dan berbincang-bincang sebelum bel masuk berbunyi. Ini adalah hal yang biasa kami lakukan sebelum belajar untuk me-refreshingkan pikiran kami.l

"Karin-chan, apa kau sudah belajar untuk cerdas cermat?" tanya Himeka padaku membuka topik pembicaraan.

"Iya," jawabku singkat.

"Kalau begitu kami akan setia mendukungmu Karin-chan! Ayo SE-MA-NGAT! SE-MA-NGAT!" seru mereka sembari menari-nari membawa pom-pom cheerleader di depan kelas membuat semua orang terhibur dan tertawa bahagia. Namun ada sesuatu yang menotong kebahagiaan di kelas ini,

Saat itu terdengar speaker sekolah,

"Perhatian pada seluruh murid. Lomba cerdas cermat akan diadakan hari ini pukul 10, bagi para peserta di mohon segera bersiap-siap. Semua peserta harus sudah kumpul di aula pada Pukul 10. Terimakasih." suara itu suara Ketua OSIS. Kazune Kujyo.

"Kya! Itu suara Kujyo-kun!" para fansnya berteriak histeris memanggil-manggil nama Kazune.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku lalu menuruti apa yang harus kulakukan. Dengan percaya diri dan dukungan teman-teman sekelas, aku berjalan menuju aula. Tanpa rasa ragu lagi, aku sampai di depan aula, dan sudah banyak yang berkumpul di dalam, namun ada sesuatu yang mengganjal. Perasaanku menandakan ada yang tidak beres... Serasa ada seseorang yang memperhatikanku...


.

.

Tbc~

Apakah lomba cerdas cermat itu akan berjalan lancar? dan siapa yang akan memenangkannya?

.

Please review~^^~

a/n: Wahh edit selesai untuk chapter berikut^^. Bagaimana? Mohon maaf ya bila masih ada misstypo bertebaran, semoga saja chapter berikut lebih menarik lagi dari sebelumnya^^. Oke seperti biasa untuk memastikan tolong Review~, saran selalu diterimaa^^