When You're Gone

Disclaimer : Mashima Hiro

Natsu Dragneel x Lucy Heartfilia

Rated T

Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort

Warning : Cerita selalu gaje, dan Hati-hati jika kalian menemui typo atau cerita tidak sinkron. Tanda (?) artinya pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.

Gak suka ceritanya, jangan scrool down!

.

.

.

.

Previous Chapter

Namun Natsu membulatkan tekadnya, ia ingin bertemu Lucy sekarang juga. Ia ingin melihat keadaanya.

"Apapun yang kalian katakan, aku harus bertemu Lucy!" geram Natsu.

Mendengar Natsu berbicara seperti itu membuat Gray semakin marah.

"Untuk apa hah? Untuk dikasari lagi? Untuk dibentak lagi?"

"Tidak! Aku ingin meminta maaf padanya." Ujarnya dengan raut penyesalan.

Tanpa banyak bicara lagi, Natsu bergegas keluar dari guild.

Natsu pun melangkah menuju rumah sakit dimana Lucy dirawat.

'Tunggulah Luce, aku menyesal. Maafkan aku..' katanya dalam hati yang remuk.

.

.

.


Chapter 3


.

.

.

Natsu's POV

Saat ini, pikiranku berkecamuk dan kepalaku terasa akan pecah sewaktu-waktu. Aku sadar dengan apa yang kulakukan kepada Luce. Aku membohonginya, aku mengkhianatinya, aku menyakitinya, aku memutuskannya, aku meninggalkannya, aku membentaknya, mengasarinya, memarahinya dan aku mengusirnya.

Tak terasa, buliran air mata terus jatuh dari mataku. Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memeluknya, aku ingin melihat senyuman indahnya. Apakah aku pantas menginginkan semua itu? Tidak aku tak pantas. Aku terlalu jahat, kejam dan buruk.

Aku mengkhawatirkan keadaan Lisanna, namun aku lebih mengkhawatirkan keadaan Luce sekarang ini. Hatiku, pikiranku seakan kalut dengan perasaan membingungkan ini.

Persetan dengan semuanya, aku ingin menemui Luce, kekasihku.

.

.

Gedung putih menjulang tinggi diMagnolia, ya itu adalah rumah sakit tempat Luce dirawat.

Dengan cepat, aku melangkahkan kakiku kedalam sana. Berlari secepat yang aku bisa. Aku menanyakan dimana keberadaan Luce pada resepsionis disana, dan aku langsung menuju ruangan tempat dimana Luce berada.

Kini aku berada didepan sebuah pintu. Aku berhenti sejenak dan terdiam. Aku masih memikirkan apa yang harus aku katakan padanya setelah apa yang kuperbuat.

Aku mengenyahkan pikiran itu, dan tanpa pikir panjang aku meraih gagang pintu itu, dan masuk kedalamnya.

Aku masih mencium aroma tubuh yang kurindukan itu. Aku membuka tirai yang menutupi ranjang pasien itu dengan cepat.

Deg...

Hatiku berdebar. Lalu hatiku mencelos ketika melihatnya. Mataku membulat sempurna ketika ranjang itu bersih dan rapi tanpa seorangpun yang menggunakannya.

"Luce tak ada disini(?)" gumamku.

Aku mengedarkan pandanganku kesetiap sudut ruangan itu. Aku mencoba berfikir posttif. Mungkin saja Luce sedang keluar atau kekamar mandi bukan?

Namun, hatiku tiba-tiba berhenti berdetak sesaat, ketika aku melihat secarik kertas berada disebuah meja.

Dengan cepat, aku mengambil kertas itu dan membaca pesan yang tersurat disana.

Aku membaca surat itu dengan perlahan, hatiku panas, mataku perih, dadaku sesak seperti tak bisa bernafas. Kuremas dadaku dengan kuat, tapi percuma, rasa sakit itu tak kunjung hilang. Air mataku keluar tanpa seizinku.

BRAKKK...

"Natsu..."

Aku mendengar suara seseorang yang memanggilku. Aku hanya menatap mereka dengan mata sayuku.

"Ada apa Natsu? Kemana Lucy?" tanyanya kepadaku.

Aku hanya terdiam mematung mendengarnya. Lalu tanpa pikir panjang, aku langsung pergi dan berlari keluar ruangan. Aku buang surat yang sedangku remas sehingga kusut dan rusak.

Aku terhenti ketika sebuah tangan menghentikanku. Ia mencengkram kerahku dengan erat.

"Natsu kau mau pergi kemana? Katakan padaku dimana Lucy berada?" tanya rivalku.

"Aku tak tahu..." balasku dingin dengan wajah sedih.

"Oi apa kau mengasarinya lagi? Apa kau berbuat seenaknya lagi hah?" tanyanya padaku.

"Sudah Gray jangan seperti itu." Lerai Erza.

Lalu Erza melirik pada sertas yang diremas Natsu. Ia mengambil kertas yang tergeletek dilantai dingin itu.

Aku melepaskan cengkraman Gray dengan mudah, dan aku langsung pergi keluar untuk mencarinya.

Erza, Gray, dan yang lainnya menatap horor kertas itu. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

.

Aku akan pergi dari Magnolia. Terimakasih sudah menjagaku dan menjadi temanku selama aku di Fairy Tail. Maafkan aku jika aku selalu merepotkan kalian semua, maafkan aku jika aku selalu membuat masalah di Guild. Jangan mencariku, aku pergi karena keinginanku sendiri. Aku senang berada di Fairy Tail meski hanya sebentar. Aku menyayangi kalian... Selamat untukkmu Natsu, aku doakan semoga Lisanna baik-baik saja. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa aku yang mengganggu hubungan kalian.

Ps : siapapun yang melihat surai ini, tolong sampaikan pada Natsu.

.

Natsu's POV End

Semua yang ada disana menitikan air mata ketika membaca sepucuk surat itu. Mereka semua merasa ada yang hilang.

Happy kini menangis sejadi-jadinya dipelukan Erza.

"Mama kenapa kau pergi?" ucapnya dengan tangisan yang luar biasa.

Semuanya langsung keluar dari ruangan itu untuk mencari sahabatnya, Lucy.

.

.

Back to Natsu

Pria bersurai sakura itu berlari dengan secepat yang ia bisa. Ia tak menghiraukan orang-orang yang menatapnya bingung.

"Apa yang terjadi dengan Natsu-san?"

"Kenapa ia terburu-buru seperti itu?"

"Ah paling Salamander sedang buru-buru untuk menjalankan misi.."

Begitulah bisik-bisik orang orang.

Kini, Natsu berada didepan sebuah bangunan yang sangat ia kenal. Tanpa banyak bicara, ia langsung meloncat kearah sebuah jendela .

Tak sulit untuk memasuki salah satu kamar diapartemen itu. Namun, matanya kembali membulat sempurna ketika ia melihat ruangan itu kosong tanpa satu barangpun.

Ya, ruangan itu adalah apartmen Lucy Heartfilia yang telah kosong, hanya ada kasur dan lemari-lemari disana.

Natsu tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Karena biasanya, sang pemilik kamar ini akan selalu menggerutu jika Natsu ketahuan memasuki kamar itu lewat jendela.

'Natsu, sudah kubilang kan masuk itu lewat pintu, bukan jendela...'

"Natsu bisakah kau masuk dengan cara yang wajar?'

'Natsu, jangan mengagetkan aku..'

Lalu Natsu teringat akan kata-kata Lucy yang selalu memarahinya. Bukan karena marah betulan, tapi Lucy hanya khawatir kalau Natsu tiba-tiba terpeleset atau jatuh. Mengingat semua itu, air mata kembali menggenangi mata kelam Natsu.

Tak ada lagi grins yang selalu terpahat diwajah Natsu, tak ada lagi wajah cerah seperti dulu.

Natsu terduduk didekat ranjang yang biasa mereka gunakan untuk tidur bersama.

Natsu kembali mengingat saat mereka masih bersama, ya Natsu, Lucy dan Happy.

Pria itu menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat sembab karena menangis. Ia sangat terpukul atas kejadian yang menimpanya. Sungguh, ia merasakan sakit yang luar biasa melebihi apa yang ia rasakan ketika ia kehilangan Lisanna dulu.

.

.


Natsu berjalan gontai keguild dan langsung disambut oleh tatapan horor semua anggota yang berada disana.

Tanpa memerdulikan tatapan tajam mereka, Natsu mendudukan diri dikursi dekat bar.

Lalu datanglah seorang kakek yang berperawakan pendek mendekat kearah Natsu.

"Apakah itu benar, bahwa kau berselingkuh dengan Lisanna, Natsu?" tanyanya

Namun yang ditanya tak menjawab. Ia hanya terduduk lemas disana. Ia masih mengunci bibirnya rapat-rapat.

"Natsu, aku tanya sekali lagi apakah hal itu benar?" tanyanya dengan suara meninggi.

Kini, Natsu menatap sumber suara yang sedang menginterogasinya. Natsu menatap kakek itu dengan wajah sembab dan sangat mengenaskan.

"Maafkan aku jii-chan.." dengan suara parau.

Pintu kesehatan terbuka menampilkan Lisanna yang tengah dibantu oleh Mira berjalan kearah Natsu dan sang Master, Makarov.

"Lisanna.. apakah itu semua benar?" tanya sang master. Lalu hanya dijawab dengan anggukan Lisanna.

"Kenapa kalian melakukannya?" tanya Erza yang tengah bersedih namun tidak sampai menangis.

"Aku mencintai Natsu.." jawab Lisanna seadanya. Mira melirik adiknya yang sekilas.

"Lisanna, bukankah kau tahu bahwa Natsu dan Lucy berpacaran?" tanya Mira gereget dengan kelakuan adiknya yang memalukan. Ya sangat memalukan, karena ia merusak hubungan orang lain. Sedangkan Lisanna hanya mengangguk.

"Lalu kenapa kalian melakukannya? Bukankah kau tahu hal itu?" tanya Gray yang menatap tajam kearah Lisanna dan Natsu bergantian.

Mereka hanya diam, tak menjawab pertanyaan Gray. Gray pun sudah habis kesabarannya.

"Kau, Natsu, aku tak menyangka kau akan mengkhianati Lucy seperti ini. Kau bahkan sudah melamarnya tapi kau malah berselingkuh.." ucap Gray dengan nada menusuk.

Seisi guild hanya tercengang mendengar pernyataan Gray.

'Natsu sudah melamarnya..'

"Aku berfikir kalau aku hanya menyayangi Luce sebagai teman ketika Lisanna telah kembali. Aku merindukan Lisanna sehingga aku mulai mengabaikan Luce.." ucapnya dengan suara lemah.

"Aku mencintai Natsu, dan Natsu juga mencintaiku. Aku merindukan Natsu dan hari hari kami bersama. Aku menginginkan Natsu, aku mengajaknya kencan dan Natsu menerimaku. Apa aku salah?." ucap Lisanna yang membuat seisi guild kembali terkejut.

"Ya kau salah Lisanna! Kalian berdua memang bodoh!" sentak Gray. "Semua ini gara gara kau Natsu. Kalau kau berfikir hanya menyayangi Lucy sebagai teman, kenapa kau tak memutuskannya? Kenapa kau malah bermain dibelakangnya?" tanya Gray emosi.

"Aku tak ingin kehilangan Luce..." jwaban Natsu membuat mereka yang mendengarnya semakin kesal.

"Apakah kau tahu seberapa senang Lucy ketika kau melamarnya?" tanya Erza.

"Ya aku tahu..."

"Lalu kenapa kau melakukan hal serendah dan sehina ini?" kini Erza yang menyentak Natsu dan membuat Lisanna menangis.

"Kau tahu Natsu? Lucy sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Kau malah melukainya dan kau mengusirnya. Dia kini sudah pergi entah kemana. Dan kau tahu? Aku sangat membenci kalian berdua!" ucap Gray yang memandang sadis kearah Natsu dan Lisanna.

Natsu hanya diam, sedangkan Lisanna menangis.

Geram, Gray geram melihat Natsu yang tak bicara apa-apa lagi.

Gray langsung melayangkan pukulannya sekeras mungkin kewajah Natsu. Gray kembali mengambil ancang-ancang untuk memukulnya lagi dan lagi, namun ditahan oleh Juvia dan Erza.

Natsu kini tersungkur dilantai, darah pun keluar dari sudut bibirnya yang membengkak.

Lisanna segera meraih Natsu dan mengusap pelan wajahnya.

"Kalian lihat itu? Mereka bahkan tak merasa bersalah telah menghianati Lucy. Aku muak berada disini!" ucap Gray yang berlalu meninggalkan guild.

"Rasa sakit itu bukanlah apa-apa dibanding rasa sakit Lucy yang tengah terluka jiwa dan raganya. Ia sekarat karena kau!" lanjutnya sebelum menutup pintu guild dengan keras dan disusul oleh Juvia.

Natsu terpaku mendengar ucapan Gray. Lucy terluka? Apakah separah itu sampai Lucy hampir sekarat? Pikirnya.

Semua anggota guild menatap sinis pada Natsu dan Lisanna. Natsu segera bangkit dan melepaskan secara paksa tangan Lisanna yang memegang tangannya.

Makarov selaku Master tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia kecewa pada kelakuan anak-anak asuhnya itu. Ia medengus kesal.

"Natsu, Lisanna. Aku akan memaafkan kalian jika Lucy sudah memaafkan kalian!" ucap Master yang langsung disetujui oleh semua anggota guild. Mira dan Elfman pun setuju karena adiknya, Lisanna harus mendapatkan pelajaran dari apa yang sudah dilakukannya.

.

.

.

.


Seorang wanita bersurai pirang yang terlihat sangat rapuh tengah memandangi pemandangan yang dilaluinya dari jendela kereta. Ia duduk termenung disana. Sendirian? Tentu saja, karena ia tak mau ada yang mengganggunya.

Matanya terlihat sayu dan tak ada gairah hidup disana. Mata karamelnya kini redup dan tak lagi bercahaya seperti biasa. Mata itu selalu diselimuti oleh kabut dan awan mendung yang siap turun hujan kapan saja. Kini, ia menangis dengan air mata yang terus turun tanpa henti.

Lucy Heartfilia, gadis malang yang baru saja dibuang dan dicampakan oleh sang kekasih, bukan hanya itu, ia bahkan dikhianati dengan tidak berperasaannya seorang Natsu.

Menangis, hanya itu yang bisa dilakukan seorang Lucy.

Kereta yang ditumpanginya menuju ke Crocus yang merupakan ibukota dari kerajaan Fiore. Lucy sudah memantapkan hatinya untuk pindah dan memulai hidup baru sendirian disana dan bersama dengan sebuah boneka yang berbentuk Naga merah seperti Igneel yang diberikan Natsu sebagai hadiah ulangtahunnya.

Ia memeluk boneka Naga itu dengan erat dan tak ingin melepaskannya. Cukup Natsu saja yang pergi dari kehidupannya.

Lucy membawa semua barangnya tanpa terkecuali namun meninggalkan banyak kenangan manis dan pahit di Magnolia.

Kereta itu melaju dengan cepat dan tak terasa sudah hampir sampai ke Crocus. Namun, seketika suara gaduh terdengar dari gerbong paling ujung. Semua penumpang panik dibuatnya.

Segerombol penyihir dengan pakaian serba hitam dengan mark guild yang tidak diketahui itu kini mengancam seluruh orang yang berada dikereta itu.

"Guild gelap(?)" bisiknya.

Lalu seorang penjahat itu menatap kearah Lucy dan menyeringai.

"Hai nona manis. Kau mau ikut dengan kami?" tanyanya dan memegang pergelangan Lucy dengan kasar.

"Hey lepaskan aku.." teriak Lucy.

"Tenanglah nona.." ucapnya dengan nada menjijikan. "Kau sungguh sangat cantik dan manis.."

Lucy geram melihat semua penjahat itu. Dengan cepat Lucy membuka gerbang para bintangnya. Ia pun memanggil Taurus untuk menyerang para penjahat itu.

Setelah Taurus menghajar mereka, kini Lucy memangil Virgo. Namun, Virgo dan Taurus tiba-tiba menghilang dan kembali kedunia roh.

"Are? Kenapa rasanya kekuatan sihirku habis dan terkuras banyak?" gumamnya.

'Apakah karena aku terluka?' tanya nya dalam hati.

Lalu beberapa penjahat itu masuk kegerbong yang ditempati Lucy. Mereka datang dengan bergerombol, dengan seseorang yang sepertinya adalah Leader dari mereka.

Tiba-tiba, pengelihatanya semakin redup dan tak jelas. Matanya sangat berat dan kepalanya sakit bukan main. Lucy terkapar tak berdaya namun matanya masih sedikit terbuka.

Leader dari penjahat itu mendekat kearah Lucy, dan hendak menghajarnya.

"Natsu..." Lucy menggumam kan nama itu. Nama seseorang yang sangat ia butuhkan saat ini, seseorang yang telah mengkhianati dan menghancurkan hatinya.

"Natsu..." ia bergumam lagi. "Tolong aku, Natsu..." Lucy menangis.

Penjahat itu menjambak rambut Lucy dengan kuat.

"Jadi kau ya yang menghajar anak buahku?" tanyanya. Lalu penjahat itu hendak melemparkan tubuh ringkih Lucy. Namun itu tak terjadi karena seseorang menyelamatkan hidupnya.

"Siapa itu? Natsu?"

.

.

.

.


Malam hari di danau Magnolia, terlihat seseorang pria dengan rambut spike pinknya yang berantakan tengah termenung. Ia duduk dipinggir danau itu dan mengadah kelangit. Langitpun tahu bagaimana suasana hati Natsu saat ini. Berkabut, berawan dan gelap. Tidak ada lagi bintang dihati Natsu yang bisasanya menyinari ketika apapun yang terjadi. Seperti bintang dilangit yang tak terlihat lagi.

Natsu's POV

Aku duduk dan merenungkan kesalahanku. Ya semua kesalahanku.

Namun semuanya sudah terlambat, waktu tak bisa dipukul mundur. Aku tak bisa mengembalikan Lucy kesisiku lagi seperti saat keajaiban yang terjadi pada Lisanna.

Aku terdiam dan kembali teringat tentang memoriku bersama kekasih pirangku, Luce.

Semua kenangan pahit dan kesalahanku yang telah aku lakukan pada Luce kini teringat dikepalaku. Seolah seperti kaset yang diputar, terus menerus dikepalaku.

Flashback On

Normal POV

Hari itu, Lucy datang kerumah Natsu untuk menemuinya karena sudah beberapa hari ini, Natsu tidak mengunjunginya ke apartemen seperti biasa.

Lucy masuk kerumah Natsu dan betapa terkejutnya Lucy melihat rumah Natsu berantakan lagi dan lagi.

Lucy mencari Natsu, namu ia tak ada dirumah. Tak ada pilihan, ia pun membereskan rumah Natsu sembari menunggu kepulangan sang pemilik rumah.

Tak terasa sudah berjam-jam Lucy disana, dan keadaan rumah pun sudah menjadi lebih baik dan bersih. Namun, Natsu tidak kunjung pulang.

"Apa yang dilakukannya selama seharian ini dan hari-hari kemarin(?)" gumam Lucy. "Kenapa tidak mengabariku sama sekali..." lanjutnya.

Lucy pun melamun, dan tiba-tiba suara pintu membuyarkan lamunanya. Dengan cepat, Lucy melesat kearah pintu. Dan bingo, Natsu pulang.

"Okaeri Natsu.." sapanya kepada Natsu yang terlihat kaget dengan kehadiran Lucy.

"Tadaima.." hanya itu yang diucapkan Natsu. Dengan nada datar dan tak terlihat senang sama sekali.

"Natsu, kau kenapa? Apa kau habis menjalankan misi?" tanya Lucy perhatian.

"Ya begitulah..." lagi lagi dengan nada datar.

"Baiklah akan kubuatkan sesuatu untukmu..." ucap Lucy senang. Sedangkan Natsu sudah duduk disofa dan tak menghiraukan Lucy.

Sakit, hati Lucy terasa sakit ketika Natsu mengacuhkannya. Lucy mengenyahkan segala perasaan itu dan langsung menuju kedapur.

Beberapa menit kemudian, masakan sudah jadi.

"Natsu, makanan sudah siap.. nah makanlah.." kata Lucy sambil meletakan piring dan gelas yang berisi penuh untuk Natsu.

Tanpa banyak bicara, Natsu langsung memakannya dengan lahap. Melihat itu, Lucy mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Natsu. Ia menunggu sampai Natsu selesai.

Setelah Natsu selesai dengan acara makannya, kini Lucy bertanya kepada Natsu.

"Natsu, selama beberapa hari ini kemana saja kau? Kau mengambil misi tapi tak pernah mengajakku?" tanya Lucy sedih.

Natsu tercekat, mendengar pertanyaan Lucy.

"Ah iya, aku mengambil pekerjaan bersama gray dan Erza. Aku fikir kau lelah jadi aku tak mengajakmu, Luce.." kata Natsu. Tapi itu semua bohong. Natsu menjalankan misi hanya berdua dengan Lisanna tanpa diketahui oleh siapapun.

"Oh begitu yaa.." Lucy sedikit lega, padahal itu semua hanyalah kebohongan Natsu. Lucy dibohongi? Ya itu benar!

"Lalu hari ini kau habis dari mana? Kau tadi tidak ada di guild? Kau juga tak mengambil misi." Tanyanya khawatir.

Lagi-lagi pertanyaan itu menyayat hati Natsu.

"Oh tadi itu aku berkeliling Magnolia dengan Happy, ya dengan Happy." Lagi-lagi Natsu berbohong, padahal hari ini Natsu menghabiskan waktunya bersama Lisanna, dn lagi-lagi hana berdua.

Tapi, Lucy percaya akan semua perkataan Natsu. Lucy sangat percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut pria yang dicintainya itu.

"Nah, sekarang kau pulanglah, ini sudah sore. Aku juga ingin beristirahat..."

Deggg...

Perkataan itu menyentak Lucy dan mengiris hatinya. Perih sungguh perih... sebelumnya, Natsu tak pernah mengusir Lucy dari sana, sebenarnya apa yang telah terjadi. Lucy tak tahu, tapi kini Lucy tak bisa marah ataupun meneriaki Natsu seperti biasanya. Hatinya terlalu perih.

"Um baiklah Natsu, selamat beristirahat..."

Lucy tetap berfikir positif dan pulang meninggalkan Natsu.

.

.

Hari demi hari, Natsu selalu membohongi Lucy.

Natsu selalu berkata ingin melakukan misi solo, tapi nyatanya dengan Lisanna. Natsu selalu beralasan tak bisa keapartemen karena lelah, tapi selalu menghabiskan waktunya bersama Lisanna. Semuanya dusta.

Ketika Lucy dan Happy mengajaknya melakukan misi, ia bahkan menolak karena sudah berjanji pada Lisanna. Natsu sungguh mengabaikan Lucy dan tak peduli lagi kepadanya.

Semua yang dilakukan Natsu sangatlah kejam dan tidak berperasaan. Menggantungkan perasaan cinta tulus yang Lucy berikan.

Flashback End

Mengingat semua kelakuanku yang selalu membohongi Lucy, membuatku sakit. Aku meremas dadaku dengan sekuat yang aku bisa karena rasa sakit yang tak tertahankan.

Tetesan demi tetesan keluar dari iris onyx-ku yang sayu. Aku menangis ketika aku mengingat bagaimana kejamnya perlakuanku kepada Lucy yang sangat tulus mencintaiku.

Membohonginya, menduakannya, mengkhianatinya, mencampakannya, meneriakinya, mengasarinya dan mengusirnya. Sungguh semua itu dosaku yang sangat besar. Aku mengingkari semua janji-janji manis yang aku berikan untuk Lucy.

Kini, aku bisa merasakan sebagaimana rasa sakitnya Lucy. Tidak, mungkin rasa sakitku ini tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang Lucy rasakan.

Aku pengecut, ya sangat pengecut. Menyakiti kekasihku sendiri dan membagi cintaku dengan gadis lain dan bermain dibelakangnya.

Aku tak ingin lagi kehilangan Lisanna seperti dulu, aku ingin menjaganya selalu. Itu sangatlah egois, padahal aku juga mempunyai seseorang yang harus aku jaga hati dan jiwanya, namun aku malah menyakiti dan menghancurkannya.

Air mataku terus menetes, ia tak mau berhenti.

Hatiku sangat sakit ketika lagi-lagi aku teringat akan wajah cantik dan senyum manisnya yang selalu ia berikan untukku.

Cinta dan perhatiannya yang selalu ia tunjukan tanpa meminta balasan apapun untukku. Tapi apa? Aku hanya bisa membalasnya dengan kebohongan dan rasa sakit yang luar biasa untuknya.

"Luce..." gumamnya.

"Luce maafkan aku.." gumamnya lagi.

"Luce aku mohon padamu maafkan aku..."

"Sayang.." panggilnya dengan suara parau dan menundukan pandangannya.

Ia pun kembali mengadahkan wajahnya kelangit.

"LUCYYYY!" teriaknya dengan menumpahkan segala rasa sakit yang ia rasakan...

.

.

.

.

.


7 Years Later

Daimatou Enbu, ajang kompetisi penyihir paling besar di Fiore. Semua Guild bisa bergabung untuk mengikuti kompetisi tersebut. Daimatou Enbu, diselenggarakan setiap tahunnya, dan yang selalu menjadi juaranya yaitu antara Fairy Tail, Sabertooth, dan Blue Pegasus.

Seperti biasa, Fairy tail selalu mengikutinya, dan Sabertooth selalu mendapatkan posisi kedua. Sedangkan posisi pertama selalu Fairy Tail, Guild yang selalu direndahkan 7 tahun silam.

Kemenangan Fairy Tail tentunya berkat seorang Natsu Dragneel, sang Fire Dragon Slayer yang mampu mengalahkan Sting dan Rogue sekaligus.

Namun, kemenangan tersebut tak membuat Natsu senang, hanya wajah dingin dan aura gelap yang tergambar diwajah tampannya saat ini.

Ia masih memikirkan Lucy yang menghilang meninggalkannya. Tidak, tapi lebih tepatnya diusir oleh dirinya sendiri, oleh Natsu Dragneel.

Seperti biasa, Fairy tail mengirimkan 2 kelompok, dengan kelompok A beranggotakan Natsu, Erza, Gray, Wendy dan Lisanna. Sedangkan dikelompok B ada Laxus, Gajeel, Juvia, Freed dan Cana.

Tim Natsu memenangkan babak pertama, kedua dan ketiga berturut-turut. Dan tak terasa mereka akan berhadapan dengan Guild rivalnya, yaitu Sabertooth.

Namun, rasa kagum dan bangga dan hormat Sting kepada Natsu sudah luntur ketika 6 tahun silam. Ya entah kenapa ia membenci Natsu-san nya.

Apalagi ketika Sting melihat Natsu memerhatikan seorang gadis berambut perak persis Yukino dengan sangat.

"Yoo Natsu-san..." sapa Rogue.

"Yoo Rogue.. bagaimana? Apakah kau mau babak belur lagi?" tanya Natsu tajam.

"Ya kuharap aku bisa mengalahkanmu barang sekali saja.." ujarnya.

"Yoo Sting..." sapa Natsu. Namun yang disapa hanya menoleh dan tak membalasnya.

"Kau masih cuek padaku eh?" tanya Natsu.

"Hn..." Sting hanya bergumam.

"Ya tak masalah, karena aku akan melenyapkan siapapun yang menghalangi jalan kami untuk menang.." kata Natsu sedikit tajam.

"Oh benarkah?" tanya Sting. "Kuharap kau bisa Natsu-san.." ucap Sting sinis.

Natsu kini berdecih 'Dasar bocah berani-beraninya menantangku.' batinnya

"Oh seperti biasa aku tak melihat dimanapun Lucy-san berada.." Kata Sting yang sengaja memanasi Natsu.

Mendengar penuturan Sting, Natsu langsung naik pitam. Dan dengan cepat ia pergi sebelum menghajarnya dan meninggalkan Sting yang tengah menyeringai.

'Seringaian apa itu? Untuk apa dia menyeringai seperti itu?' batinnya lagi.

.

.

.

Pertarungan Natsu vs Sting pun dimulai. Seperti biasa, mereka bertarung sampai titik penghabisan. Kali ini, Natsu sedikit kewalahan menghadapi Sting yang entah kenapa jadi sekuat ini.

Natsu mendecih. "Cihh..."

"Ada apa Natsu-san? Kau merasa akan kalah dariku?" tanya Sting memprovokasi.

"Haha kau tahu aku takkan pernah kalah dari bocah sepertimu.." ucap Natsu tajam.

"Benarkah? Setidaknya bocah sepertiku tak pernah main-main dengan seorang gadis.."

Mendengar penuturan Sting, Natsu langsung terbakar emosi.

"Apa maksudmu?" tanya Natsu yang melayangkan pukulan namun Sting dapat menghindarinya dengan baik.

"Ya kau tahu maksudku?" Sting menyeringai dan membalas pukulan Natsu hingga mengenai wajahnya.

Natsu vs Sting berlangsung cukup lama, sampai keduanya mengeluarkan senjata andalan mereka.

Namun terlihat dengan jelas bahwa Sting lah yang dipojokan Natsu saat ini. Bahkan Natsu masih mempunyai banyak stamina.

Wajah Sting terkena pukulan telak. Perut ditendang oleh Natsu sehingga ia terbaring dan kesakitan.

Lalu terdengar suara yang sangat Sting kenali..

"STING,,, BERJUANGLAHHH..."

Suara itu sangat lantang dan menggema dibenak Sting. Ia pun tersenyum dan menoleh kepada sumber suara.

"Terimakasih.." ucapnya pelan.

Natsu kini menatap lekat-lekat kepada seseorang yang menyemangati Sting. Natsu tak habis pikir, suara anak sekecil itu bisa terdengar sampai sejauh ini.

Pria pink ini terpaku melihat gadis kecil itu menyemangati Sting. Surai pirangnya sangat indah untuk anak seukurannya. Matanya sangat indah, dan ia sangat merindukan sesosok wanita dewasa yang memiliki rambut senada dengan gadis kecil itu.

"Siapa dia? Rambutnya sama seperti rambutmu eh?" tanya Natsu datar.

"Ya kau tahu..."

"Apa dia anakmu?" tanya Natsu lagi.

"Kurasa kau menyadarinya..."

"Apa? Aku bahkan sudah kalah jika menyangkut hal ini. Kau memiliki anak lebih dulu dibandingkan aku.." Ucap Natsu rada sewot.

"Ya kau tahu, diusiaku yang baru 23 tahun ini, aku sudah memiliki seorang gadis cantik dan manis. Kau iri kan?"

"Ya aku sangat iri.."

Pertarungan mereka pun berlanjut, dan dapat ditebak siapa yang memenangkan pertarungan ini. Yap, Natsu Dragneel lah yang memenangkannya.

Gadis kecil itu sedih ketika melihat Sting yang kalah dengan luka yang sedikit parah. Namun ia senang karena ia bisa bertemu dengan Salamander yang terkenal dipenjuru Fiore.

Kau tahu, gadis kecil itu sangat mengidolakan Natsu Dragneel sang Dragon Slayer yang sangat kuat.

Disisi lain, terlihat seorang wanita cantik yang tengah memerhatikan jalannya kompetisi hari ini. Mata indah beriris karamel nya itu membulat ketika melihat Natsu memenangkan pertandingan hari ini.

Ia begitu sakit ketika melihat Natsu kembali kepada anggota timnya, serta seorang gadis yang tengah memeluk Natsu dengan mesra. Ya, Lisanna memeluk Natsu.

Waita cantik itu langsung pergi kesuatu tempat. Yang terpenting, ia tak ingin melihat Natsu lagi, atau siapapun lagi.

.

.

.

.


Pertandingan Hari ini telah usai. Semua anggota tim yang mengikuti kompetisi, maupun penonton sudah tak ada lagi dicolloseum itu.

Anggota Fairy Tail kembali kepenginapan mereka yang terletak tak jauh dari ibu kota. Mereka menghabiskan waktu mereka disebuah bar untuk merayakan kemenangan Natsu dan anggota lainnya.

Semua anggota Fairy Tail sangat puas dengan hasil hari ini, dan semuanya membanggakan Natsu.

Terlihat seorang gadis yang tengah duduk disebelah Natsu, ia berambut perak panjang dan cantik.

"Bagaimana Natsu? Apa kau senang dengan hasil hari ini?" tanyanya.

"Biasa saja Mira." Balas Natsu ketus.

"Ara ara, kau tak senang?" tanyanya lagi.

Natsu menghela nafsanya dalam "Bagaimana bisa aku senang, sedangkan Lucy tak ada disini.."

Semua yang mendengar perkataan Natsu tiba-tiba terdiam.

"Ya tentu saja.. dulu ia mengikuti kompetisi ini bersama kita.." ujar Erza yang terhenti ketika memakan strawberry cake nya.

Lalu suara sinis pun terdengar. "Bukankah kau yang mengusirnya, Flamehead?"

"Ya aku mengusirnya.." balasnya dengan suara dingin dan wajah yang murung.

Lalu gadis berperawakan kecil menengahi mereka. "Sudah sudah... kita hanya bisa berdoa agar Lu-chan baik baik saja...'

"Ya lagipula ini sudah 7 tahun, pasti Lucy menemukan kebahagiaannya sendiri. Jadi Natsu, kamu tak perlu merasa bersalah. Tenang saja, aku ada bersamamu..." ucapnya dengan nada manis. Lalu ia pun mengapitkan tangan kekar Natsu kedadanya.

"Lis, tolong lepaskan tanganku." Ucap Natsu dingin.

Sedangkan Lisanna tak mau melepaskannya.

"Natsu, aku mohon padamu. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Ini sudah 7 tahun, apa kau tak bisa melupakannya?" tanya Lisanna kesal.

"Ya aku tak bisa..." ucap Natsu singkat nan menusuk.

"Aku berjanji akan menebus kesalahanku dengan menjagamu Natsu.." ucapnya lagi.

Natsu melepaskan tangannya dari dekapan Lisanna karena merasa risih. "Tidak, aku tak perlu itu.. aku akan mencarinya kemanapun bahkan keseluruh penjuru dunia.."

Lalu Natsu meninggalkan Lisanna yang masih terdiam menatap kepergian Natsu.

.

.

.


Guild yang dulu terkenal sebagai guild terkuat yang bengis dan kejam kini telah berubah semenjak Master nya sudah diganti. Sabertooth, kini menjadi saingan dari guild terkuat diFiore saat ini, Fairy Tail.

Sting, yang ditunjuk sebagai Master selanjutnya, ia menjabat hanya sebentar dam meminta Minerva yang merupakan putri sang Master terdahulu itu menggantikannya dan ia menyetujuinya. Semenjak Daimatou Enbu 7 tahun lalu, Minerva sudah berubah menjadi lebih baik lagi dan tidak semena-mena seperti dulu.

Siang hari di guild Sabertooth.

Semua anggota guild tengah makan siang bersama disana. Suasana sangat ramai, namun tidak seramai di Fairy Tail.

"Ojou, maafkan kami, kami hanya bisa mendapatkan posisi ke-2 di Daimatou Enbu.." Ucap Sting.

"Tak apa Sting, Aku tahu karena dari tahun ke tahun kekuatan Salamander terus meningkat.." Jawabnya kalem. "Dan jangan bersedih, kau juga sudah semakin kuat Sting. Kemarin itu nyaris saja kau menang..."

Sting tersenyum..

Lalu seorang gadis kecil tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.

"Ne ne, ojou-nee... Salamander sangat hebat sekali, aku suka melihatnya.. aku sangat mengidolakannya..." kata gadis itu riang yang tengah dipangku oleh Sting.

"Haha kau tahu, Sting juga sangat menyukainya..." kata Minerva sambil tersenyum.

"Hey ojou aku tak menyukainya lagi..." elak Sting. Ya kini Sting sangat membencinya.

"Ehh kenapa tak menyukainya lagi?" tanya gadis itu penasaran.

"Ya karena aku ingin lebih kuat darinya. Lihat saja, lain kali aku pasti akan mengalahkannya..." Ucapnya dengan optimis.

"Hahaha aku juga ingin kuat seperti Salamander..." dengan nada riang.

"Hey kenapa tak ingin menjadi kuat sepertiku?" protes Sting.

"Tidak mau. Karena Sting lebih lemah dari Salamander hahaa.." gadis kecil itu tertawa renyah dan langsung mendapat jitakan dari Sting.

"Ayo katakan sekali lagi!" Ucap Sting yang kini sedang kesal.

"Ampuni aku..." kata gadis itu lagi.

Mereka yang ada disana tertawa melihat kelakuan Sting dan gadis kecil yang dikenal adalah putrinya itu. Guild seketika menjadi ramai karena celotehan gadis kecil pirang itu.

"Yosh, kalau begitu setelah makan siang ini ayo kita berlatih..." ajak Sting.

"Ayoo..." jawab gadis kecil itu sangat bersemangat.

.

.

.

.

Minerva mendekati sseorang wanita berambut panjang sepinggang yang tengah mencuci piring. Ia pun bertanya kepadanya.

"Minerva? Kenapa tidak ikut dengan mereka berlatih?" tanya Lucy yang menoleh kearah Minerva.

Kini gadis bersurai hitam itu berdiri disamping Lucy. "Tidak ah, aku sedang malas..."

"Hee kamu jangan malas begitu dong Master..." Goda Lucy.

"Lucy hentikan itu, jangan meledekku begitu dong..." Minerva pun mengambek lucu. Lucy hanya bisa tertawa melihatnya.

"Lucy, apakah kamu kemarin bertemu Natsu?" tanya Minerva blak-blakan.

"Hee kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu Minerva?" tanya wanita yang diketahui adalah Lucy.

"Tidak ada sih, tapi kalian sudah berpisah selama 7 tahun, apakah kamu tak merindukannya. Maksudku Fairy Tail?" tanyanya lagi.

"Tentu saja tidak. Aku sudah memiliki keluarga baru, yaitu kalian Sabertooth..." senyum Lucy sambil memperlihatkan mark guild Sabertooth berwarna pink dipunggung tangan kanannya yang dulu terdapat mark Fairy Tail.

"Syukurlah kamu senang berada disini Lucy..." Minerva pun menggenggam tangan Lucy yang telah selelsai dengan acara mencuci piringnya.

"Um terimakasih Minerva, kamu telah menerimaku..."

"Tidak Lucy, akulah yang harusnya berterimakasih padamu karena telah memaafkanku setelah apa yang aku lakukan padamu dulu..." Minerva mengingat masa lalu kelamnya dan dipeluk Lucy.

"Sudahlah, yang lalu biarkanlah berlalu..." kata Lucy lembut dan disambut senyuman Minerva.

"Terimakasih telah membuat guild ini ramai karena Nashi..." ucapnya dengan kekehan Minerva.

Lalu Lucy tertawa "Hahaha maafkan kalau anak itu tidak bisa diam.."

"Iya, sama persis seperti ayahnya..."

Lalu berdua mereka pun tertawa...

.

.

.

Dihalaman belakang guild, terlihatlah beberapa orang dewasa dengan seorang gadis kecil beserta dua exceed lucu sedang berlatih.

Ternyata, Sting dan Rogue tengah melatih gadis kecil dengan surai pirang. Beberapa anggota guild pun melihat sesi latihan mereka.

"Nashi, aturlah nafasmu dan kumpulkan semua udara diperutmu lalu keluarkan dengan tenaga yang besar. Apa kamu mengerti?" tanya Sting kepada gadis yang diketahui bernama Nashi.

"Iya aku mengerti..."

Kini Nashi sedang berkonsentrasi untuk mengatur nafasnya dan mengumpulkan semua kekuatan sihirnya. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dari mulut kecilnya itu dan bersiap untuk meyemburkannya.

Ia menghadap sebuah danau yang cukup besar, dan menyemburkannya disana.

"Karyuu no Hokou.." rapalnya. Lalu kobaran api yang bisa dibilang besar itu keluar dari mulut kecilnya.

Semua yang melihatnya hanya bisa tercengang dan terkejut, tapi tidak untuk Lucy yang melihat sesi latihan itu dari kejauhan. Lucy pastinya sudah tahu bahwa Nashi akan menjadi gadis yang kuat.

"Woahhhh keren sekali kamu Nashi..." ucap Lector yang merupakan exceed milik Sting.

"Menurut Fro juga begitu..." kata Frosch.

"Hebat sekali anak ini..." kata Rogue keceplosan.

Sting menatap bangga pada gadis kecil disampingnya itu.

"Bagaimana? Aku hebatkan?" tanya Nashi.

"Ya, Nashi sangat hebat sekali.." ucapnya sambil mengelus pucuk rambut Nashi dengan sayang.

"Woahhh Dragon Slayer memang sesuatu..." Ucap seluruh anggota guild yang menyaksikan kehebatan seorang gadis cilik secara bersamaan.

.

.

.


Disuatu taman yang terletak di Crocus, terlihat seorang pria berperawakan perfect dengan rambut yang mencoloknya sedang terduduk malas.

Rambut spike nya terlihat bergerak karena hembusan angin sore.

Matanya ia edarkan kesegala arah, dan ia pun terhenti ketika melihat seorang gadis kecil tengah bermain ditaman itu bersama kelinci kecil yang sangat imut.

Melihat kelinci kecil itu, mengingatkannya kepada Lucy. Ia ingat bagaimana wajah imut Lucy yang menggunakan baju kelinci dan Natsu merobeknya ketika insiden Ichiya yang menular diMagnolia.

Pria tampan itu tertawa kecil mengingatnya.

Lalu, kelinci itu melompat kearahnya dan ditangkap oleh Natsu yang tengah duduk dibangku taman. Gadis kecil itu mengejar kelincinya dengan cepat.

Kelinci itu berada ditangan Natsu, dan gadis itu mendekat kearahnya. Ya gadis cantik dengan rambut pink panjangnya yang indah serta poninya yang mencuat seperti seorang Natsu?

Mata karamel indahnya bertatapan dengan mata onyx Natsu yang tajam. Melihat gadis itu, Natsu terdiam mematung, dan menggumam.

"Cantiknya..."

Gadis itu merasa risih ditatap seperti itu.

"Aku tidak menyangka bahwa seorang Salamander yang kuat ini adalah seorang pedofil." Celetuknya.

Natsu yang sudah sadar karena mendengar ucapan Nashi langsung muncul urat didahinya.

"Aku bukan orang seperti itu, gadis kecil..." ucap Natsu kesal.

"Lalu?" tanyanya yang berdiri dihadapan Natsu.

"Aku terkejut saja karena kamu memiliki mata yang sama dengan kekasihku..." kata Natsu tanpa beban.

"Kekasih?" tanya nya lagi.

"Iya, dan rambutmu sama dengan warna rambutku..." kata Natsu lagi.

Kini gadis kecil itu merenyit melihat rambutnya sendiri. 'Aduh gawat..' ucapnya dalam hati. Tapi ia tak memperdulikannya, sudahlah hanya kali ini saja.

"Hee begitu rupanya..." gadis kecil itu duduk samping Natsu dan Natsu memerhatikannya.

"Nee paman, bisakah paman mengembalikan kelinci itu padaku?" pintanya.

"Ya tentu saja..." Natsu memberikan kelinci itu padanya.

Gadis kecil itu memeluk kelinci kecil itu. Natsu memandang lekat kearahnya.

'Gadis kecil ini mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang gaya bicaranya selalu ceplas-ceplos begini, dan tentunya sangat cantik.' Ucapnya dalam hati,

Lalu Natsu pun bertanya pada gadis kecil disampingnya "Hey gadis kecil, siapa namamu?" tanya Natsu penasaran.

"Namaku Luna. Paman sendiri? Aku hanya tahu paman ini Salamander.." ucapnya dengan nada riang karena tak sengaja bertemu dengan sang idola.

"Nama paman Natsu, Natsu Dragneel.." ucapnya dengan senyuman.

"Hey, aku penasaran. Kenapa kamu bisa tahu bahwa aku adalah Salamander?" tanya Natsu.

"Aku sangat mengidolakanmu paman, aku ingin menjadi penyihir yang sangat kuat sepertimu.." katanya dengan riang.

"Hee begitu ya.. kalau begitu berlatihlah dengan rajin.." Natsu pun menasehati.

"Tentu saja aku selalu melakukannya dengan ayahku..." katanya.

"Nah itu bagus..."

Langit sudah berubah menjadi warna orange, menandakan bahwa sebentar lagi matahari akan tenggelam.

"Paman aku pulang dulu ya, ini sudah sore. Kalau aku ketahuan mama, bisa bisa aku dimarahi lagi..." pamitnya.

"Apa perlu aku antar, Luna?" tawar Natsu.

Gadis bernama Luna itu pun menggeleng "Tidak perlu kok paman, aku bisa pulang sendiri.."

"Baiklah..." kata Natsu sambil tersenyum.

"Bye bye paman Natsu.." Luna melambaikan tangannya kearah Natsu dan dibalas oleh lambaian tangan Natsu.

Bertemu seorang gadis kecil yang bersurai sama dengan miliknya membuat Natsu sedikit merasa hidup. Hari ini ia merasakan senang yang sudah lama tak ia rasakan.

Sama seperti Natsu, gadis kecil itu tampak senang ketika bertemu dengan sang idola.

Lalu terdengar suara yang memanggil nama Natsu.

"Natsu, Natsu..."

Natsu langsung menolehkan wajahnya kearah sumber suara.

Terlihat seekor kucing biru yang tengah terbang kearahnya.

"Ya ada apa Happy?" tanya Natsu dengan wajah yang masih berseri karena senang.

"Natsu, kamu sedang senang?" tanyanya

"Darimana kau tahu Happy?" tanya Natsu dengan wajah polos.

"Iya, biasanya kau akan memasang wajah datar dan dingin. Tapi sekarang tidak..." kata Happy senang.

"Benarkah?"

"Memangnya kau menemukan Lucy?" tanya Happy penasaran.

"Tidak... aku bertemu seseorang hari ini..." katanya senang.

"Hah? Siapa itu? Kau sudah lupa bahwa kau sedang mencari Lucy?" tanya Happy dengan suara meninggi.

"Iya aku tak lupa, hanya saja aku senang bertemu dengan Luna.."

"Luna? Siapa dia?"

"Dia gadis kecil berambut pink dan bermata cokelat... Dia sangat manis dan cantik..."

"Hee, Natsu apa kau sudah gila? Kau mencabulinya?" tanya Happy dengan wajah yang sangat horor. Ia memandang Natsu tak percaya.

"Oi oi, mana mungkin aku melakukan itu. Kau tahu? Aku sangat senag berbicara dengannya, ketika aku melihatnya, rasanya rasa rinduku kepada Luce terobati... dia mengingatkan aku kepada Luce..." ucapnya panjang lebar.

"Ah sepertinya kau sangat gila, karena tak bisa menemukan Lucy..."

"Oii aku tidak gila Happy!"

Dan begitulah pertengkaran antara Natsu dan Happy tanpa adanya Lisanna!

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Yoo minna, terimakasih atas review kalian semua. Gimana ceritanya? Bad banget yah? Ahaha maafkann.

Untuk chapter ini, author rasa kurang panjang wkwkwk, tapi untuk chapter depan akan diusahakan. Oh iya ini itu alurnya beda dengan yang di FT. Jadi author otak atik alur di FT dan maafkan jika cerita ini gak nyambung.

Terimakasih telah membaca, semoga kalian suka dengan ceritanya dan terimakasih sudah memberikan Review untuk fanfic ini. Author nantikan kritik dan sarannya untuk chapter selanjunya.

Jangan lupa untuk me REVIEW dan FOLLOW atau FAVORITE cerita ini.

Terimakasih dan sampai jumpa dinext chapter.

.

.

.

Nantikan kelanjutannya di chapter 4