Sasuke duduk menyandar di depan pintu kamar mandi. Posenya agak nelangsa sih, satu kaki ditekuk, sementara tangan kanannya mengadah keatas. Mirip pengemis. Tampangnya juga agak kucel dan babak belur seperti habis berkelahi. Yah, memang benar. Dia baru saja berkelahi dengan Sakura—bukan, tapi dengan macan.

Seluruh tubuhnya lecet dicakar Sakura. Gadis itu memang hobi mencakar orang, tidak, sepertinya itu hanya berlaku untuk Sasuke.

Flashback

04.00 PM

Sakura sedang asyik memainkan komputernya. Tiba-tiba Sasuke datang menggeret kursinya dengan kasar. "Cepat mandi. kita ke tempat ibuku."

Sakura melotot marah ke wajah datar Sasuke, lalu menarik kursinya ke posisi semula.

"Sakura,"

Tidak ada respon. Sasuke menghela napas lalu menarik lengan kanan Sakura yang langsung ditepis.

"Apa kau mau membunuhku?! sentuhan manusia rendahan sepertimu bisa membuat sihirku lemah tau!" ujar Sakura mengusap-usap bekas pegangan Sasuke.

"Kalau begitu cepatlah mandi, dasar alien freak!"

Sakura melompat dari kursi dan mengambil tongkat sihirnya di kasur lalu memutar-mutarnya di depan Sasuke, seperti hendak menyerangnya.

"Aku bukan alien! aku ini Princess Serenity dari South Eternal Silver Magic Crystal Milenium Kingdom! dan aku tidak mau mandi! aku bisa mati jika terkena air matahari senja!"

"Memangnya kamu mau mandi dengan angin?! dasar freak!" habis sudah kesabaran Sasuke, ia langsung mengangkat tubuh Sakura asal-asalan. Membawanya ke kamar mandi.

"Turunkan aku, dasar manusia hina!" teriak Sakura mencakar-cakar pundak Sasuke.

"Kamu itu juga manusia bodoh. Oh, aku lupa, kamu kan dari kingdom animalia. Princess Panthera Tigris."

Sakura kembali melotot ketika Sasuke memanggilnya 'Panthera Tigris'. Ia tau itu adalah bahasa latin untuk Harimau.

"Kurang ajar!"

Sakura berontak di pundak Sasuke, membuat Sasuke kehilangan keseimbangannya sehingga mereka berdua jatuh terjengkang kebelakang.

BRUKK

"Aw! kamu ngapain sih freak?!" teriak Sasuke sambil mengelus bokongnya yang tertusuk ujung kasur. Sementara Sakura yang sudah salto duluan kini berdiri tegap di atas kasur sambil komat-kamit, seperti membaca mantra. Tangan kanannya mangayun-ayunkan tongkat sihir mainannya. Sasuke hanya bengong melihat kelakuan isterinya.

"Sial! sihirku melemah!" Sakura menepuk-nepuk tongkat sihirnya. Biasanya setiap kali ia mengayunkan tongkatnya, selalu ada bunyi 'Triiing' disertai cahaya kerlap-kerlip. Namun kali ini tidak ada reaksi dari tongkat tersebut.

"Baterainya habis bodoh." ucap Sasuke masih mengelus bokongnya.

Sakura melempar tongkat sihirnya asal lalu mulai menari-nari dan berpose tidak jelas. Sasuke menebak-nebak, pasti Sakura sedang mengumpulkan kekuatan atau bertransformasi. Dan benar saja, meski awalnya Sasuke agak kaget karena Sakura tiba-tiba melepas cosplaynya, ternyata dibalik cosplay itu masih ada cosplay lagi. Sebuah gaun pink tipis selutut. Sasuke mengenali cosplay itu. Ia pernah melihat Sailor Selene bertransformasi persis seperti yang dilakukan Sakura.

'Pantas saja dia terlihat gendut.' batin Sasuke melirik Sakura dari atas ke bawah. Lekuk tubuh Sakura terlihat sangat jelas sekarang.

"Ternyata kau itu ceking ya?"

"Ap-apa katamu?!" Sakura langsung menerjang Sasuke dan mulai mencakarinya dengan ganas. Sasuke meronta-ronta, ia mencoba menghentikan pergerakan tangan Sakura. Sasuke lalu mengambil tali dari saku celananya, dari awal ia sudah tau Sakura pasti menolak disuruh mandi. Makannya, untuk berjaga-jaga ia membawa tali ravia. Dengan gesit, Sasuke langsung mengikat tangan dan kaki Sakura secara menyilang lalu bergegas membawanya ke dalam kamar mandi. Untung saja kamar tidur mereka dilengkapi kamar mandi, kalau tidak, Sasuke harus turun ke lantai bawah. Sementara Sakura masih berusaha menggigit bahu Sasuke dengan mulut berbusa-busa. Sepertinya penyakit isterinya itu bertambah satu,

Rabies.

Sasuke menendang pintu kamar mandi dengan kasar dan segera mencelupkan Sakura ke dalam bath tub yang sudah terisi air, seperti oreo(?).

"MANDI! yang wangi! kalau nanti aku kesini lagi dan kamu belum wangi, jangan harap bisa keluar!"

BLAM

Pintu ditutup. Sasuke segera mengunci pintu kamar mandi, takut Sakura kabur. Masa bodoh dengan tangan kaki Sakura yang terikat, pokoknya gadis itu harus mandi.

Haaah..

Sasuke berselanjar di depan pintu kamar mandi. Kepalanya pening. Ia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa kepada Sakura. Mereka sering bertengkar, dan Sasuke selalu menjadi korbannya. Padahal mereka baru tinggal bersama selama seminggu lebih 2 hari, tapi keadaan rumah sudah kacau begini. Bagaimana jika mereka tinggal bersama selamanya?

"Aku bisa geger otak..."

Flashback end

15 menit berlalu.

Terdengar bunyi ketukan pelan dari dalam kamar mandi. Sasuke segera bangkit dan membuka kunci kamar mandi.

"Sudah selesai?" tanya Sasuke mengintip ke dalam kamar mandi, sesekali mengendus-endus mencari bau wangi. Dalam hati ia membatin, hebat juga isterinya itu, bisa mandi dan membuka ikatan tali dalam waktu 15 menit. Sementara Sakura bersembunyi dibalik pintu kamar mandi. "Sudah, tapi gak bisa keluar."

"Hn, kenapa?"

"Aku gak pakai baju, bodoh!"

Oh Ya Ampun, Sasuke lupa. Ia langsung menuju lemari Sakura dan mengambil asal sebuah dress biru muda bercorak kupu-kupu.

"Nih," Sasuke menyodorkan dress itu dari balik pintu.

"Mana seragam Sailorku?!" protes Sakura.

"Tidak ada cosplay hari ini! kita mau ke tempat Ibu!" jawab Sasuke menutup pintu.

"e-eh tunggu dulu!"

"Apa lagi, sih?"

"Dalamanku mana?"

Sasuke berdecak sebal,

"Ambil sendiri sana."

#0#0#

"Sakura-chaaan selamat datang!" Mikoto membuka pintu dengan sumringah. Mempunyai menantu perempuan membuat hatinya Happy karena ia bosan dikelilingi makhluk-makhluk ganteng. Sakura langsung menghambur memeluk Ibu mertuanya. Sasuke hanya diam melirik mereka dengan wajah yang lelah.

"Ibuu.."

"Ya, Sakura-chan?" Mikoto menciumi pipi Sakura dengan gemas.

"Aku disiksa Sasukeeeee huweee"

"APAA?!" seketika itu juga Mikoto shock dan langsung melotot ke arah Sasuke. Matanya tajam merah menyala. Sasuke ikut-ikutan menganga mendengar pernyataan Isterinya. Sejak kapan ia menyiksa Sakura? yang ada malah dirinya yang disiksa.

"Apa yang kamu lakukan Sasu-chan?!"

"Aku berani sumpah, Bu, aku tidak pernah melakukan apa pun!"

"Dia bohong! dia menyiksaku tadi!"

Mikoto mengusap-usap pipi Sakura. Wajahnya menunjukkan ekspresi prihatin. "Apa yang dilakukannya padamu, nak?" tanya Mikoto khawatir. Sementara Sasuke menatap Sakura gusar. Apa lagi ulah isterinya sekarang?

"Hiks..dia mencabut sambungan Wifi..."

.

.

.

.

Heh

Mikoto bengong. Otaknya mencoba memproses ucapan menantunya.

"Eh..apa itu, Wifi?"

Sasuke menepuk jidat. Ibunya ini memang agak kudet dan gaptek.

"Internet Ibu, internet." ujar Sasuke menahan amarah. Matanya melirik Sakura dengan tatapan dendam kesumat.

Mikoto ber oh-ria, lalu tersenyum lebar.

"Ah... kamu ini mengangetkan Ibu saja, Sakura-chan! Nah, ayo masuk, Kita makan dulu, ya!" setelah itu Mikoto ngeloyor pergi ke dapur dengan aura berbunga-bunga, meninggalkan sasusaku yang sudah sweatdrop.

Hening.

Sakura melirik Sasuke yang sedang menaruh sepatunya di rak, ia kemudian berjingkat-jingkat seperti mau kabur.

Grep

"Mau kemana kamu?" Sasuke mencengkram pundak Sakura dengan erat. Sakura menelan ludah, ia bisa merasakan aura ngamuk Sasuke.

"Ibu—mmfftt!" Sasuke segera membekap mulut Sakura sebelum terjadi keributan. Sakura menggigit tangan Sasuke dengan keras, membuat pemuda itu memekik kesakitan, sementara ia telah mangangkat tangannya bersiap ingin mencakar. Melihat itu, Sasuke segera mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya.

"Lihat ini Sakura,"

Nafas Sakura tercekat, Sasuke sedang memegang tongkat sihirnya.

"Berhenti mencakarku atau tongkatmu kupatahkan."

Sakura melotot kepada Sasuke untuk yang kesekian kalinya, Sasuke hanya membalasnya dengan tatapan tajam. Ia tahu, tongkat sihir ini adalah sumber kekuatan Sakura—menurut hasil penelitiannya selama seminggu. Sasuke sudah mulai hafal kebiasaan Sakura dan segala tetek bengeknya. Ia bahkan membuat kliping dengan judul, 'Sakura, gadis gila yang ganas'. Isinya adalah kesukaan dan kelemahan Sakura, reaksi yang ditimbulkan jika sedang marah dan cara mengatasinya.

Sementara itu tangan Sakura gatal, ia ingin sekali mencakar Sasuke, tapi kalau tongkat sihir kesayangannya harus menjadi taruhan...

Ugghh!

Sakura terpaksa mencakar tembok. Sasuke tersenyum penuh kemenangan sekaligus menghela napas lega. Tubuhnya bisa tamat kalau dicakar lagi. Ia menepuk-nepuk kepala Sakura yang kini sedang menggeram kesal.

"Gadis pintar." Sasuke menarik pinggang Sakura dan berjalan ke tempat Ibunya berada.

'Akhirnya Sakura jinak...'

Bersambung


Nah, gimana? cukup panjang kah? im so so so sorry karena chap-chap sebelumnya sangat pendex

Sebagai gantinya, nih, saya keritingkan tangan saya di chapter ini.

Semoga ini sudah cukup panjang ya :'D

Saya senang sekali mendapat review dan PM dari dari deder, apalagi kalau yang ngisi kolom review para deder cewe, hati ini terasa anyem #terbang