Balasan Review

agisumimura : Yup, sepertinya aku juga mulai beralih memfavoritkan Pair NatZa. Ahahaha! XD

.

.


Chapter 3
-New Residence-


.

.

Hari sudah menjelang sore…

Harusnya tadi siang aku sudah sampai di rumah kediaman keluarga Dragneel. Tapi tadi siang saudara baruku, Natsu Dragneel, mengajakku jalan-jalan dengan mobil Honda Civic untuk mengelili Ibukota Alvarez. Ia juga telah memperkenalkan padaku untuk beberapa tempat yang bagus. Baiklah, aku mengakuinya hari ini Natsu membuatku cukup senang.

"Er, sebentar lagi kita sampai."

"Er? Kenapa kau memanggilku―?"

"Kenapa? Apa kau keberatan kalau aku memanggilmu dengan nama yang tidak lengkap?"

"Tidak. Maksudku, aku hanya belum terbiasa dipanggil seperti itu."

"Yah, baiklah. Itu berarti hanya aku yang boleh memanggilmu Er."

"Jadi, aku harus memanggilmu apa? Nat?"

"Jangan, itu terdengar aneh. Kau cukup memanggilku dengan Natsu saja."

"Hei, itu terdengar tidak adil!"

"Ya sudah Er, terserah kau saja."

Natsu tiba-tiba memutar kemudinya, mobil pun berbelok ke arah kiri. Jl. Aster, nama itu tertulis pada papan rambu berwarna hijau yang baru saja dilalui oleh mobil ini. Natsu pun menurunkan kecepatan mobilnya. Oh ya, pantas saja jalan ini dimanakan Jl. Aster karena aku melihat setiap deretaran rumah masing-masih dihalaman depannya tertanam bunga Bunga Aster yang terawat dengan baik. Benar-benar sangat indah.

"Baiklah Er, kita sudah sampai." Natsu baru saja menghentikan mobil tepat di depan salah satu rumah.

Jadi ini rumah kediaman keluarga Dragneel? Ukurannya sedikit lebih besar dibanding rumahku yang ada di kota Magnolia. Aku segera membuka pintu dan menginjakkan kakiku kembali di atas jalan beraspal. Aku kembali mengalihkan indera penglihatanku mengamati setiap sudut rumah kediaman Dragneel yang terlindungi oleh pagar kayu berwarna putih.

"Er, ayo kita masuk."

"Oh. Iya, baiklah."

Dasar, mengagetkanku saja. Natsu tiba-tiba berdiri disamping kananku. Ia juga sedang memanggul Koper milikku di atas pundak kanannya. Apa tidak berat? Koper milikku beratnya hampir mencapai 35 kg. Setelah mengajakku, dia malah pergi meninggalkanku lebih dulu dan memasuki pintu pagar rumahnya.

"Natsu, tunggu aku!" Aku pun berlari hingga berhasil mengikuti punggungnya.

Kita berdua berdiri tepat di depan pintu rumah. Aku kembali memperhatikan Natsu yang sedang menekan bell rumahnya. Sambil menunggu pintu terbuka, aku terus mengamati wajah Natsu. Jujur saja, wajah tampan yang dimiliknya itu sampai sekarang sama sekali tidak membuatku bosan untuk terus menatapnya. KenapaTuhan harus mentakdirkan pria ini sebagai saudaraku? Ah, sudahlah. Mungkin suatu saat nanti ada pria lain diluar sana yang bisa membuatku merasa nyaman jika berada di dekatnya.

Crek, akhirnya pintu rumah pun terbuka.

"Erza! Syukurlah, kau datang." Rupanya Ibuku. Ia langsug menangkapku dan memelukku sangat erat. "Aku sempat khawatir kalau kau kenapa-kenapa dalam perjalananmu."

"Sebenarnya tadi aku sempat diculik oleh-" Aku mengalihkan padaku kembali, menatap Natsu.

"Di culik?! Apa maksudmu nak?!" Ibu tiba-tiba melepasku dan mencengkram erat kedua pundaku. "Apa kau tahu ciri-cirinya?! Biar Ibu laporkan kepada Polisi!"

"Ya ya ya. Baiklah, sepertinya malam ini aku memang harus sudah siap untuk dimasukan ke dalam Penjara." Natsu baru saja menggerutu sambil melewatiku dan Ibu. Baguslah, itulah balasan dariku karena sudah membuatku takut karena perlakuannya terhadapku.

"Erza, kenapa dia?" tanya Ibuku heran.

"Entahlah," kataku acuh.

Saat aku ikut memasuki tempat tinggal baruku ini, aku melihat tata letak perabotannya hampir sama seperti rumahku yang ada di kota Magnolia. Entah kebetulan atau tidak, yang pasti rumah ini langsung membuatku merasa nyaman. Yah, kurang lebih seperti saat-saat aku pulang ke rumah lamaku.

"Er, kemarilah!" Suara Natsu yang baru saja memanggilku, terdengar dari arah lantai dua.

"Iya, aku akan segera menyusul!" teriakku membalasnya.

"Ibu tidak mengira kalau kalian berdua cepat akrab." Kata Ibu.

"Benarkah?" Aku kembali menatap wajah Ibuku yang kali ini tersenyum bahagia. "Mungkin itu karena Natsu adalah pria yang baik." Kataku, tidak lupa aku pun membalas senyumannya.

"Apa kau menyukainya?" tanya Ibuku.

"Tidak!" Sangkalku. Astaga, pertanyaan Ibuku barusan cukup mengagetkanku. "Mana mungkin aku menyukai saudaraku sendiri."

Entahlah, rasanya aku benar-benar tidak yakin dengan ucapanku barusan. Yah, mungkin karena aku masih belum terbiasa dengan orang asing yang tiba-tiba menjadi saudaraku.

"Baiklah, aku harap ucapanmu itu benar." Ibuku pun tiba-tiba melewatiku dan menghampiri pintu yang masih berada dalam kawasan ruang tamu ini.

Sepertinya itu adalah pintu untuk kamar Ibuku dan Ayah baruku, Igneel.

.

.

.

Apa benar kamar di lantai dua ini akan menjadi kamarku? Berantakan sekali. Disini aku juga memperhatikan Natsu sedang bersih-bersih dan memunguti sampah yang berceceran di lantai. Cara dia melakukan bersih-bersih benar-benar buruk. Baiklah, sepertinya aku juga harus ikut turun tangan untuk membantu membersikan semuanya hingga rapih.

"Natsu, kau istirahatlah dulu." Pintaku. Aku segera mengikat rambutku, lalu melipat kemeja dibagian kedua lenganku. "Biar aku saja yang membereskan semuanya."

"Tidak Er, biar aku saja." tolaknya.

"Kenapa? Bukankah kamar ini akan menjadi kamarku?" tanyaku heran.

"Siapa bilang ini kamarmu? Ini kamarku." ketusnya.

"Apa?!" Lagi-lagi dia membuatku merasa malu. "Lalu aku tidur dimana?"

Natsu tiba-tiba mendekatiku. "Tentu saja kau akan tidur bersamaku di kamarku ini." Ucapnya.

"Natsu, aku serius!" bentakku.

"Kau pikir aku sedang bercanda?" Jika kuperhatikan wajah Natsu, sepertinya dia memang serius dengan ucapannya barusan. "Kau tadi bilang ingin membantuku, bukan? Ya sudah, bantu aku kalau begitu." Natsu pun menyingkir dariku, dan kembali melakukan pekerjaannya.

"Natsu, pembicaraan kita belum selesai." aku mencoba mendekatinya, mengikuti punggung Natsu yang masih bergerak kesana-kemari. "Natsu, kau tahun sendiri bukan? Kau itu seorang pria dan aku adalah seorang wanita."

"Tentu saja aku tahu itu, Er. Aku tidak bodoh."

"Tidak! Bukan itu maksudku."

"Lalu apa?" Natsu langsung menghentikan pekerjaannya dan menatapku. Hei, wajahnya terlalu dekat denganku. "Jika kau memintaku agar kita berdua bertukar Gender jelas aku tidak sudi."

"Aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak mau satu kamar denganmu." Jelasku.

"Jadi kau ingin tidur bersama Ayahku dan Ibumu tidur bersamaku di kamar ini? Baiklah, aku akan bicara dengan Ibumu." Natsu tiba-tiba keluar dari kamar ini. "Ibuuu!"

Apa?! Jangan bilang kalau dia benar-benar akan melakukannya, mengadukan hal yang tidak pernah aku ucapkan kepada Ibu. Tidak akan aku biarkan! Aku bergegas mengejar Natsu. Mudah-mudahan dia belum menuruni tangga rumah ini. Setelah keluar dari dari kamar Natsu, aku langsung memperhatikan sekitarku, tapi aku tidak menemukan dimana Natsu berada. Aku mencoba mengintip ke arah lantai bawah, tapi tetap saja aku tidak menemukannya.

Cepat sekali dia, fikirku.

"Ghihihi," Suara itu? Aku berpaling ke belakang dan ternyata Natsu sedang mentertawakanku? Rupanya dari tadi dia sedang bersembunyi disudut pintu kamarnya yang terbuka. "Apa kau mengira kalau aku ini tukang mengadu?"

"Baiklah, sepertinya kau memang senang sekali mempermainkanku." Aku bergegas mendekatinya. "Aku ingin tahu. Apakah aku pernah berbuat salah padamu?"

"Apa kau marah padaku?" tanyanya.

"Kalau iya lalu kau mau apa?" tanyaku kembali. Di hadapannya, aku melipat kedua tanganku.

Aku tadinya ingin marah, tapi entah kenapa perasaan itu hilang seketika hanya karena memperhatikan wajahnya yang begitu bahagia setelah mempermainkanku. Aku bahkan membiarkan Natsu meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya cukup erat. Eh?! Aku cukup terkejut ketika Natsu tiba-tiba memberi kecupan singkat terhadap keningku.

"Er, aku harus melanjutkan pekerjaanku." Natsu kembali memasuki kamarnya dan bergegas merapihkan ini dan itu.

Aku yang tadinya berniat membantu malah diam saja memperhatikannya dari luar kamar. Kalau boleh jujur, kali ini perasaanku diliputi dengan rasa penasaran. Apakah Natsu benar-benar menganggapku sebagai saudara? Begitu juga denganku. Padahal kita berdua baru kenal tadi siang, tapi aku malah mengharapkan yang lebih.

"Er, bukankah tadi kau bilang ingin membantuku?"

"Ah! Iya, aku akan membantumu."

.

.

.

Baiklah, sekarang kamar ini sudah rapih.

Sekarang kita berdua berada di atas tempat tidur yang sama. Natsu sedang rebahan sambil meregangkan otot-ototnya, mungkin dia sedikit lelah setelah merapihkan kamarnya sendiri. Sedangkan aku sendiri sedang mengeluarkan semua isi Koperku. Termasuk mengeluarkan semua pakaianku dan melipatnya satu-persatu. Pakaian yang sudah aku lipat, aku susun rapih di samping kananku.

"Sini, biar aku bantu." Natsu tiba-tiba membangunkan tubuhnya dan duduk secara berhadapan denganku. Tunggu! Dia malah-

"Hei! Jangan sentuh pakaian dalamku!" cegahku saat Natsu tiba-tiba memungut Bra berwarna hitam milikku.

"Ukuranmu besar juga." Menyebalkan! Dia malah sengaja merentangkannya dihadapanku.

"Aku bilang berikan, eh!" Akhirnya aku berhasil merebut Bra milikku dari tangannya, meskipun kenyataannya tadi dia tidak berniat menghindariku.

"Er, ayo kita bagi tugas!" Entah apalagi yang membuatnya tiba-tiba menjadi bersemangat. "Kau merapihkan semua baju-bajumu dan aku merapihkan semua pakaian dalam-mu. Setuju?"

"Tidak mau―!"

"Sudahlah, kau tidak perlu menolak semua kebaikanku." Sungguh, ini sangat memalukan! Lihatlah, Natsu benar-benar mengeluarkan semua pakaian dalam milikku dari dalam Koperku ini.

"Baiklah, terserah kau saja!" desisku.

Sungguh, aku merasa kesal sekali! Tadi siang dia sudah menculikku di Bandara. Dan sekarang aku harus melihat dia menyentuh semua pakaian dalam milikku. Kurang ngajar! Kali ini dia malah mencium aromanya dalam-dalam terhadap salah satu celana dalam milikku.

"Oh ya Er, apa kau sudah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.

"Tidak, memang kenapa?" tanyaku kembali.

"Benarkah?" Ada apa dengan Natsu? Sekarang dia menatapku mataku dalam-dalam. "Apa kau sebelumnya pernah berpacaran?"

"Sama sekali tidak. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu padaku?"tanyaku heran. Seingatku memang tidak.

"Aneh sekali. Padahal menurutku kau sangat cantik." Oh tidak, ucapan Natsu barusan membuatku aku sangat malu. Karena baru kali ini ada orang lain yang berkata seperti itu padaku selain Ibuku sendiri.

"Jika kau ingin tahu. Dulu waktu masih duduk dibangku sekolah aku pernah dijuluki sebagai Ice Queen." Jelasku.

"Bukankah itu bagus?"

"Hei, kau mengerti tidak sih apa yang aku bicarakan?"

"Baiklah Er, kalau begitu jelaskan padaku kenapa kau bisa mendapatkan julukan sebagai Ice Queen." Pintanya.

"Mungkin, karena wajahku. Mereka bilang kalau wajahku selalu terlihat serius." Jelasku lagi. "Apalagi para pria. Jangankan mendekatiku, mereka selalu canggung, dan pada saat itu mereka tiba-tiba langsung pergi begitu saja dari hadapanku. Mungkin mereka takut padaku."

"Hmph!" Padahal jika dia ingin tertawa ya tertawa saja. Tidak perlu menahannya seperti itu. "Er, kau tahu? Menurutku mereka benar-benar bodoh. Hahaha!" Pada akhirnya dia melepas tawanya.

"Kalau begitu bagaimana denganmu? Apa menurutmu aku ini terlihat menakutkan?" tanyaku. Aku hanya ingin memastikan apakah Natsu akan memberikan penilaian yang sama terhadapku.

"Bukankah aku sudah mengatakannya? Kau sangat cantik." Pujinya. Ah, menurutku Natsu hanya sedang menggodaku saja. Aku juga melihat arah pandangannya yang secara perlahan turun ke bawah. "Dan kau juga memiliki bentuk tubuh yang sangat Sexy. Oh ya, bentuk Payudara-mu juga sangat bagus." Menyebalkan! Rupanya dari tadi dia sedang menilai ukuran milikku.

"Sungguh, kau tidak takut padaku?" tanyaku.

"Takut?" Hei, wajah kita berdua terlalu dekat. Apa Natsu berniat mencium bibirku? Oh, tidak! Jika itu terjadi, maka itu akan menjadi ciuman pertamaku. "Aku hanya takut kalau kau nanti menghilang dari kehidupanku, Er."

Perlahan kedua mataku pun tertutup. Perasaanku jadi terbuai begitu saja setelah mendengar pernyataannya barusan. Benar, aku sedang mengharapkan ciuman pertamaku darinya. Aku menunggu, tapi aku masih belum merasakan ciuman pertamaku. Yang sedang kurasakan hanyalah wangi hawa nafas Natsu yang terus merasuki indera penciumanku. Lama-lama hawa nafasnya pun menghilang. Kenapa lama sekali? Bukankah dia ingin menciumku? Mataku sudah sudah mulai pegal karena terpejam dalam waktu yang cukup lama.

"Natsuuu… Erzaaa… Waktunya makan malam…"Ah! Itu Panggilan Ibuku dari lantai bawah.

Kedua mataku pun terbuka seketika. Sialan! Natsu sudah menghilang dari hadapanku. Aku berpaling menatap ke arah pintu kamar ini dan ternyata sudah dalam keadaan terbuka. Natsu sialan! Lagi-lagi dia mengelabuiku. Awas saja kalau bertemu! Aku akan menjambak rambutnya sampai rontok. Lihat saja nanti.

"Erzaaa…" teriak Ibu memanggilku lagi.

"Iya, aku segera kesana!" teriakku membalasnya.

Aku segera menyingkir dari tempat tidur, lalu berlari keluar dari kamar Natsu. Setelah menemui tangga, aku berlari kecil menuruni tangga. Ah! Itu Natsu. Ia tiba-tiba saja muncul dari pintu masuk. Baiklah, akan kubalas perbuatannya tadi.

"Eh! Kyaaa!" Oh, tidak! Di anak tangga terakhir kakiku tiba-tiba terpeleset.

"Er, awas!" Syukurlah, Natsu berhasil menangkapku. Oh ya, posisi ini― kita berdua sedang dalam keadaan berpelukan. Namun hanya berlangsung sebentar. Natsu segera melepaskanku, lalu mencengkram kedua pundakku. "Apa kau cari mati, huh?!" desisnya.

"Tidak, aku sedang mencarimu." Kataku.

"Mencariku? Untuk apa?" Menyebalkan! Dia malah bersikap sok polos dihadapanku.

"Kenapa kau meninggalkanku di kamar, huh?!" lirihku kesal. Aku juga menggunakan tangan kananku untuk menarik kerah kemeja miliknya.

"Er, aku harus memasukan mobil Ayahku ke dalam Garasi. Jika tidak, Ayah bisa marah padaku."

"Dengar, harusnya kau tadi meminta izin padaku! Tapi tadi kau malah pergi dariku diam-diam."

"Benarkah? Aku kira tadi kau tertidur. Makanya aku pergi diam-diam karena aku takut nanti kau terbangun lalu menyalahkanku."

"Mana ada orang yang tidur sambil duduk?!"

"Tentu saja ada."

"Siapa?"

"Tentu saja orang itu kau! Ghahaha," Setelah mentertawakanku, Natsu mencoba kabur dariku. Tapi saya dia tidak berhasil, karena kedua tanganku baru saja menangkap dan menjambak rambutnya. "Er, hentikan! Sakit tahu! Erza- Hei! Rambutku bisa botak karena rontok, eh!" rintihnya.

"Aku pulang-" suara itu tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk. "Kalian berdua sedang apa?"

Kita berdua menatap ke arah itu secara serempak. Rupanya Igneel, Ayahku yang baru, baru saja pulang dari pekerjaannya. Ia terheran melihat aku yang masih menjambak rambut Natsu. Sedangkan Natsu- Gawat! Baiklah, anggap saja ini kecelakaan. Sebelumnya dia sedang berusaha menyingkirkan tubuhku, tapi aku tidak sadar kalau dari tadi tangan kanannya ini sedang mencengkram―

Payudara-ku…

.


-To Be Continue-


.

Sial! Niat awalku membuat Fic dengan Rate : T , tapi pikiranku yang selalu tercemar oleh "M" ini terus mengganggu konsentrasiku! Akh! Menyebalkan!

Ok, Lupakan.

Thanks for Reading... XD

.