N/B: Author sebelumnya minta maaf, chapter kemarin banyak sekali typo yang Author buat, hehee. Terus pada komplain kalau peran Aomine sedikit. Hahaha... Kan Aomine belom beraksi, heheheh... Terus, satu hal yang Author lupa padahal itu penting banget! Penggambaran OC Author, si Akane! Seharusnya dari awal cerita ada penggambarannya. Author berterimakasih sekali, atas koreksi para reader tercinta *big hug*
Hazegawa Akane, 19 tahu, adalah seorang mahasiswi Jurusan Seni Musik. Dia memiliki rambut hitam panjang sebahu berponi dan mata berwarna ungu gelap. Tubuhnya *ehmehm* pendek *ehmehm*, tingginya sekitar 158cm. Em, berarti tinggi Riko sama Akane beda tipis. Riko tingginya 156 cm klo gak salah. Tenang, Akane, masih ada yang lebih pendek darimu. *ditendang Riko*
Akane suka main piano dan ngarang lagu. Dia pendiam tapi kalau sama orang yang deket sama dia, kayak Riko, dia akan menjadi pribadi yang hangat dan enak di ajak ngobrol. Dia suka menyendiri, karena sejak kecil ia selalu sendiri, tidak punya banyak teman dan orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Sedikit, em, gloomy mungkin? Dan sedikit anti-sosial . Tidak suka keramaian. Rada culun. Sebenarnya, Akane itu pakai kacamata, cuman karena minus-nya gak seberapa ia jadi males pakai kacamata, jadi sering di lepas deh. Mungkin di beberapa scene atau adegan dia akan menggunakan kacamata, tapi pasti Author akan mendeskripsikannya secara lebih spesifik :D
Kalian bisa liat info lainnya di profil Author, Author nulis penggambaran Akane dan Nana di situ juga. Kalian juga bisa liat rupa Akane seperti apa di ilustrasi cerita ini. Silakan liat~~~ Gambar-gambarnya bukan buatan saya, karena saya nyari digoogle, dan kebanyak gambar-gambarnya saya ambil dari zerochan. Saya hanya tinggal mengedit dan menggabungkan beberapa gambar dengan photoshop.
Kemudian, kali ini saya akan apdet dua chpater sekaligus. Bukannya rajin atau gimana, hehehe... soalnya, selama beberapa minggu ke depan Author akan hiatus sebentar mau fokus sama Try Out dan UN hiks... hiks... hiks... Author harus semangat! Yosh! Gambatte! Setelah UN baru Author apdett lagi, okey? Maaf, yah minna...
Oke, terlalu banyak kata pembuka yah? Lanjut~
Si Penyusup Hitam
Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi
Aomine x Fem!OC
Warning: OOC, Aneh, Gaje, Abal, Typo, Author newbie di fandom KnB
Special thanks to: Aoi Yukari, Aratsuuuki, Haruna Tachikawa, Ikanatcha96, Kumada Chiyu, Nyadeera, RallFreecss, Tsukkika Fleur, madeh18, memoryru, .5872682, Amelo, AoKi Addict, dan seluruh READER yang telah membaca ficku ini
Enjoy~!
.
.
.
"Kau itu aneh," kata Si Penyusup Hitam sambil menyerahkan sayuran yang sudah dicuci dan dipotongnya padaku.
Aku menerimanya sambil mengerutkan dahiku, "maksudmu?" Sebenarnya, kata-kata Si Penyusup Hitam itu ada benar. Aku memang orang yang aneh.
"Tadi pagi, kau mengusirku. Lalu, kukira, ketika kau melihatku masih ada di sini, kau akan membentakku dan mengusirku lagi. Tapi ternyata, kau malah menyuruhku untuk membantumu memasak dan membereskan rumah," katanya.
Aku memasukan semua sayuran yang tadi Si Penyusup Hitam berikan dengan hati-hati ke dalam panci. Aku sedang memasak sup untuk makan malam. Aku mengaduknya sebentar lalu menoleh ke arah Si Penyusup Hitam dan baru menjawab perkatannya tadi, "entahlah. Mungkin aku sedang baik."
Dia menaikan salah satu alisnya, "maksudmu dengan kata baik apa?" dia tersenyum menggodaku, "oohh... Apa kau ingin tinggal berdua denganku?" ujarnya sambil beranjak mendekatiku.
Glek! Aku menelan ludahku. Uh, dia nampak berbahaya! Aku beranjak menjauhinya. Tapi dia semakin memojokkanku ke salah satu sisi dapur.
"Kenapa diam? Kau malu, hm?" dia mengunciku dengan kedua tangannya yang kekar.
Aku membuang muka, tidak berani melihat wajahnya. "J-jangan salah paham dulu!" ujarku gelagapan. Ahh! Wajahku memanas! Kami-sama tolong akuuu!
"Wah, wah. Sekarang wajahmu memerah. Kau ini kenapa, hm?" katanya masih menggodaku.
"A-aku... A-a-aku..." sekarang aku benar-benar terjebak oleh situasi yang dibuatnya. Wajahku semakin memanas, dan mungkin sudah sampai kuping.
Dia akhirnya melepaskan kedua tangannya yang mengunciku lalu memberiku jarak sambil menutup mulutnya, "hmph!"
Apa? Dia menertawaiku?
"K-kau menertawaiku, hah?!" kataku sewot.
Tawanya pun pecah. "AHAHAHAH! Wajahmu itu...! AHAAHAHAH! Konyol sekali!" ia tertawa keras sambil memegangi perutnya.
Sial! Aku dipermainkan olehnya! Arrgghh! Orang itu benar-benar keterlaluan! Aku menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa kesalku padanya. Tapi percuma. Menyebalkan sekali mendengar tawanya yang begitu nista. Aku pun memukul dia dengan sendok panci, "sudah cukup tertawanya!"
"Aduh!" dia meringis, "iya, iya..." jawabnya malas-malasan.
Aku pun kembali ke depan kompor untuk melanjutkan kegiatanku tadi. Aku lalu menutup panci dengan tutupnya agar matangnya cepat. Ah, setelah supnya jadi, aku ingin ditaburi bawang goreng yang banyak. Tapi, persedian bawang gorengku habis. Terpaksa harus buat dulu, deh. "Hei, Penyusup!" panggilku padanya.
"He? Penyusup? Namaku Aomine, tau! Aomine Daiki! Bukan Penyusup!" katanya sedikit sewot. Oh, jadi namanya Aomine, yah?
"Ya, ya, ya. Aku malas menanyakan namamu," sahutku, "tolong ambilkan bawang merah yang ada di kulkas."
Dia dengan malas-malasan menuruti perintahku.
"Aku jadi teringat. Aku belum mengetahui identitasmu," kataku.
Si Penyusu – eh, maksudku Aomine – melirikku sekilas lalu kembali fokus mencari bawang merah dikulkas.
"Umurmu berapa?" tanyaku.
"19 tahun," jawabnya sambil mengeluarkan kotak berisi bawang merah. Oh, ternyata dia seumuran denganku.
"Kenapa kau menyusup apartemenku? Dari mana kau masuk?" tanyaku lagi.
Dia membalikkan tubuhnya ke arahku. Lalu terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaanku, "aku tidak tahu kenapa aku ingin menyusup apartemenmu. Dan aku tidak mau memberitahu dari mana aku masuk. Nanti kalau kau mengetahuinya, aku tidak bisa menyusup apartemenmu lagi."
Aku mendengus. Jawaban macam apa itu? "Lalu di mana rumahmu? Kau tidak pulang ke rumah?"
"Aku... tidak bisa pulang ke rumah," jawabnya.
"Oh, apa kau ini dikejar rentenir sampai-sampai rumahmu disita dan kau tidak punya tempat tinggal?" dugaku.
Dia mengangkat bahu, "yah... begitulah."
"Jadi kau gelandangan?" tanyaku.
"Ya, bisa ja- HEI!" dia melotot kepadaku, "tidak seperti itu juga!"
"Terserah," aku tidak peduli dengan pelototannya itu, "tapi kau tidak punya rumah kan?"
Dia mengangguk perlahan.
"Baiklah. Kau boleh tinggal di apartemenku," jawabku sambil mengambil kotak berisi bawang merah yang ada di tangannya dan menatapnya sebentar. Aku benar-benar sudah gila. Memutuskan sesuatu yang padahal berisiko besar. Aku tidak tahu kenapa, tapi hatiku menuntunku untuk mengatakan dan melakukan hal itu.
Dia menatapku tidak percaya, "kenapa?"
Aku membalikkan tubuhku, "temani aku," jawabku sambil beranjak menuju wastafel lalu mencuci beberapa bawang merah dan mulai memotongnya.
"Maksudmu?"
"Selama ini aku sendirian. Kau boleh tinggal bersamaku. Tapi, jangan tidur di sampingku. Jangan buang sampah sembarang. Kau boleh baca majalahmu, tapi jangan dihadapanku dan simpan yang benar. Jaga rumahku agar tetap rapih. Kau boleh tidur di sofa," kataku sambil terus memotong bawang merah. Ah, lama-lama mataku pedih.
Aku bisa merasakan kalau dia terus menatapi punggungku, "maksudmu dengan sendirian apa?" dasar Ahomine, kenapa ia harus bertanya itu, sih?
"Jangan tanyakan itu," pertanyaanmu itu memaksaku untuk mengingat semua yang pernah terjadi padaku.
Orang tuaku yang tidak pernah merayakan ulang tahunku, meninggalkan aku sendirian di rumah, bahkan mungkin mereka tidak tahu apa yang kusakai dan apa yang tidak kusukai. Mereka terlalu sibuk bahkan hanya untuk melirikku sekilas. Teman-teman sekolahku yang tidak pernah memperhatikan dan mengajakku bermain. Orang yang kusuka meninggalkanku. Aku, benar-benar hidup dalam kesendirian. Terkadang aku terbiasa dengan itu semua, tapi terkadang, aku mulai merasa tidak tahan lagi.
Aku menghentikan pekerjaanku. Aku tidak sadar air mataku sudah mengalir dari tadi.
Melihatku yang menangis, Aomine beranjak menghampiriku, "hei? Kau menangis?" dia melihat bawang merah yang ada dihadapanku, "oh, gara-gara bawang merah, toh." Aduuhhh! Ahomine! Bukan begitu! Tapi, syukurlah, kau tidak menyadarinya.
Tapi, air mataku terus mengalir dan tidak mau berhenti.
Aomine menatapku terus. Lalu ia baru menyadari sesuatu. "Bukan karena bawang merah, yah? Kau menangis kenapa?" dia mulai panik ketika tangisku makin deras.
"Tidak. Jangan pedulikan aku," aku mencoba menyeka air mataku, tapi tanganku habis memegang bawang dan itu akan terasa lebih pedih kalau terkena mataku. Aku pun mengurungkan niatku.
Tiba-tiba tangan Aomine yang besar dan hangat membingkai pipiku dan menyeka air mataku dengan kedua ibu jarinya. Tanpa banyak bicara, ia kemudian menggenggam tanganku dan menarikku ke meja makan dan menyuruhku duduk di situ. "Kau duduk dulu sampai kau bisa tenang. Biar aku yang melanjutkan memasaknya," katanya sambil beranjak pergi ke dapur dan menggantikanku memasak.
Aku menghela nafas. Untuk pertama kalinya, aku menangis di hadapan seorang pria yang bahkan baru saja kukenal. Benar-benar memalukan.
.
.
.
"Jadi begitu," kata Aomine sambil meniup-niup pelan supnya yang masih panas.
Aku mengangguk perlahan. Orang ini memaksaku untuk memberitahu kenapa aku menangis. Terpaksa aku menceritakan hampir semua yang kualami. Mulai dari orang tua, teman, dan orang kusukai. Sebenarnya, aku tidak biasa mencurahkan segalanya, tapi entah kenapa berada di dekat dia membuatku nyaman dan dengan lancar aku bisa mencurahkan masalahku padanya. Dia punya sihir apa yah, bisa membuatku seperti itu?
Dia pun menyuruput supnya, "aku tak menyangka kau bisa suka sama Kise," katanya sambil menahan tawa.
Aku mengerutkan kening, "m-memangnya kenapa?" tanyaku setengah sewot dan setengah malu. Dia ini, kenapa sih? Memangnya dia tahu, wajah Kise seperti apa?! Huh!
"Tidak. Bukan kenapa-kenapa, sih. Hanya saja... Pffttt!" dia menahan tawanya lagi.
Aku memanyunkan mulutku. Apa-apan dia? Apa dia menertawai seleraku terhadap pria? Kurang ajar! "Aomine!" kataku sambil menatapnya tajam.
Dia kembali bersikap normal, "oke. Oke. Maaf kalau menyinggungmu. Tapi, kusarankan, jangan terlalu berlarut-larut, Akane. Kau bisa keluar dari dunia kesendirianmu itu kalau kau mencoba. Misalnya, kau lebih aktif berteman, terus merubah penampilan, mungkin?"
Aku mengerutkan kening, "maksudmu?"
"Tadi pagi, setelah kau menampar pipiku, kau pergi kuliah dengan pakaian yang menurutku benar-benar culun: kaos lengan panjang dan rok semata kaki," ujarnya.
Aku tersenyum masam ketika ia berkomentar tentang penampilanku tadi pagi. Jujur, aku tidak terlalu peduli akan penampilanku. Tapi, dia mengingatkanku akan sesuatu, "um, gomong-ngomong, maaf aku menampar pipimu tadi pagi, hehe," ujarku sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal.
Aomine tersenyum masam, "tamparanmu itu sakit, tau! Tapi, ya sudahlah..." katanya sambil menghela nafas. "Ngomong-gomong, tanganmu bagaimana?"
Aku terdiam. Kemudian melirik salah satu jariku yang diplester, "sudah tidak apa-apa lagi, kok, hehe.."
Biiip! Bip! Bip!
Tiba-tiba alrojiku berbunyi. Aku meliriknya sekilas lalu tiba-tiba terbelalak, "ya, ampun!"
"Kenapa?" tanyanya.
"Malam ini film Ratatouille tayang di TV!" kataku, kemudian aku secepat mungkin menghabiskan supku.
"He?" Aomine menatapku bingung sambil menyuruput supnya.
"Aku harus nonton! Hehe... Soalnya itu film kesukaanku," kataku sambil terkekeh pelan.
"Pfftt... Ternyata seleramu seperti itu, yah... Hahaha, selera anak-anak banget," dia menertawaiku.
Aku mulai merengut, "memangnya kenapa?" kataku sambil menggembungkan pipiku. Orang ini seelllaaalluuu saja mengomentari seleraku! Apa seleraku seaneh itu, yah? Hufffttt...
TUK!
Ia memukul kepalaku dengan sendok, "jangan pasang wajah seperti itu," katanya.
Aku mengerutkan dahi sambil mengusap dahiku yang lumayan sakit akibat dipukul tadi.
"Wajahmu jadi terlihat manis tau," ujarnya sambil membuang muka.
Eh? Apa katanya? Aku terdiam. Sadar apa yang dikatakannya barusan, tiba-tiba pipiku memerah... memerah... dan semakin memerah. "Eemm... Ano... Itu... Tadi... Em..." aku gelagapan.
TUK!
Dia kembali memukul dahiku dengan sendoknya, "jangan juga pasang wajah seperti itu."
Aku tersenyum masam. Orang ini maunya apa sih?
"Itu jauh lebih manis daripada sebelumnya," ujarnya. Aku kembali terdiam. Dan dia juga terdiam. Hening pun tiba-tiba melanda kami.
"Sudah, ah!" katanya memecah keheningan, "lebih baik kau pergi ke ruang TV, piringnya biar aku yang mencucinya," ujarnya setengah mengusirku.
Tanpa membuang waktu, aku segera beranjak dari kursiku ke ruang TV daripada harus terjebak dalam situasi salah tingkah seperti tadi. Aku segera duduk di sofa kulitku yang berwarna hitam nan empuk itu. Mengambil posisi nyaman dan menyalakan TV.
Hah, untung tepat waktu. Filmnya baru saja dimulai. Aku pun segera menontonnya dengan penuh minat. "Oh, sudah mulai, toh," ujar Aomine sambil duduk di sampingku.
Aku mengangguk dengan semangat tanpa menoleh ke arahnya, "iya, sudah mulai."
Kami pun menonton film itu. Yah, sejujurnya aku sudah tau jalan ceritanya seperti apa dan aku juga sudah men-download filmnya dari internet. Hanya saja, aku tetap tidak bosan nonton film itu berkali-kali. Hehe...
Aku dan Aomine sempat tertawa ketika ada adegan lucu di film itu. Aku sadar, waktu yang kulalui bersama dia menghapus rasa sedih dan sepiku. Mungkin, aku harus berterimakasih kepada Si Penyusup Hitam alias Aomine, yang telah menyusup rumahku, membuat keributan denganku, dan menemaniku. Haha... terdengar sedikit konyol, yah?
Tiba-tiba mataku berat dan aku mulai merasa ngantuk. Padahal, filmnya belum selesai. Aku masih ingin menontonnya sampai habis. Tapi mataku semakin berat dan aku pun jatuh tertidur di pundaknya.
.
.
.
.
To be Continued...
N/B: Eh... Aomine OOC banget yah? Gomen ne, hehe... Di chapter ini, sedikit demi sedikit hubungan mereka terjalin, kyyaaa...! Terus identitas Bang Mine juga sedikit ketahuan. Tapi, tetep aja identitas dan latar belakang Bang Mine masih blur dan gak jelas. Nah, sekarang waktunya bales review! Ini khusus yang gak log-in, yah! Klo mau diskip juga gak papa...
AoKi Addict: Sebelumnya, terimkasih sudah mau mereview ceritaku yang aneh ini, hiks... *nangis bombay*. He? Nana mau dibuang? Janggannn...! Hahaha... Nana itu anak yang baik, kok, sebenarnya. Cuma gayanya aja yang nyebelin. Author aja sampai kesel sendiri kadang-kadang *ditendang Nana*. Hehehe... Iya, author usahain update kilat *dipancung*... Demi Maiubo Rasa Jagung Bakar Spesial punyanya Murasakibara! (?) Author akan berjuang mengapdet cerita ini, yeaahhh!
Oke, deh, see you in next chapter! Fufufufu~
