Disclaimer : Fairy Tail © Hiro Mashima
Indigo © Ru Unni Nisa
Warning : OOC, AU, Don't Like Don't Read
...
Natsu melangkah pelan menuju kelasnya melalu koridor sekolah. Tak ada yang menyadarinya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, seperti tidak mengeluarkan suara ketika berjalan ataupun menutup pintu dengan sangat pelan.
Natsu melihat kearah jam tangannya. Pukul 06.15. Masih terlalu pagi. Tapi, Natsu akui sekolah ini memiliki murid yang cukup rajin. Sudah cukup banyak yang datang ke sekolah di jam seperti ini.
"Kau tahu, aku dengar pohon – pohon yang sudah tua dihalaman belakang akan ditebang." Salah satu siswa tengah berbincang dengan temannya sambil duduk disalah satu kursi panjang yang memang selalu disedikan disetiap luar kelas.
"Heh? Pohon besar itu?" Lawan bicaranya merespon.
Siswa pertama mengangguk mantap. "Ya, katanya sih ini gara – garanya musim ekstrim seperti sekarang ini. Bisa saja, ketika sedang badai, pohon itu tumbang dan menghancurkan sebagian gedung sekolah."
"Yah, padahal menyenangkan ketika dibawah pohon itu. Rasanya menyegarkan , kau tahu."
"Ya, ta-"
Dan Natsu berusaha tidak mendengar perbincangan selanjutnya. Ia terlalu pusing dengan pemikirannya sekarang. Ia tengah berfikir berat. Semua yang ia dengar membuatnya merasa tak berdaya, lemah dan tak berguna.
Natsu menutup matanya. Berusaha menghilangkan fikiran ini. Ia mengalami dilema yang membuatnya bingung. Ia harus memilih, bertindak ataukah harus memendam perasaan sakit ini.
BRUK...
Natsu merasakan badannya sedikit terdorong kebelakang. Ia membuka matanya. Dan melihat seorang gadis yang sepertinya adik kelasnya tengah jatuh terduduk dengan buku yang berserakan.
Natsu berjongkok, merasa kasihan. Ia berusaha membantu untuk mengambil semua buku yang berjatuhan. Ia berhenti sejenak untuk menekuni sebuah buku yang menarik perhatiannya.
Menanggulangi kepribadian yang sejati.
"Go-gomenasai. Saya tidak sengaja."
Natsu segera mendongak dan melihat gadis berambut biru panjang itu tengah membungkuk. Natsu dapat melihat gadis itu tengah gugup.
"Tidak apa – apa." Natsu segera mengembalikkan buku yang tadi menarik perhatiannya.
"A-arigatou Gozaimasu...um..." Gadis itu menunggu sesuatu.
Mengerti. Natsu menghela nafasnya. "Natsu. Natsu Dragneel."
"Arigatou gozaimasu Dragneel-san. Watashi wa Wendy Marvell." Wendy memberanikan diri untuk menatap Natsu yang ada dihadapannya.
Um? Apa dia siswa baru?
Eh?
Natsu dan Wendy mengerjapkan matanya bersamaan. Tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Mungkinkah, Dragneel-san juga-
Entah bagaimana, Natsu merasa senang. Dengan sedikit tersenyum, ia mengangguk. Natsu dapat melihat Wendy menutup mulutnya tak percaya.
Well, aku lebih suka dipanggil Natsu akhir – akhir ini.
Wendy mengerjapkan matanya beberapa kali. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum.
Baiklah, Natsu-san. Panggil saja aku Wendy. Ano, mengenai pertanyaan pertama.
Yeah, aku murid baru. Kelas dua.
Lagi, lagi Wendy menutup mulutnya tak percaya. Dan tiba – tiba saja, Wendy membungkuk. "Go-gomenasai, senpai. Aku tidak tahu."
Mendengarnya, Natsu tersenyum kecil. "Yeah, tak apa. Wendy."
Wendy membalas senyumannya. Ia membungkuk. Berpamitan. "Kalau begitu saya permisi dulu, senpai. Jaa ne." Wendy melambaikan tangannya ketika telah melewati Natsu.
Sedikit membalasnya singkat. Natsu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
.
Ketika tepat didepan kelas yang tertutup. Natsu menyeritkan dahi ketika ia menyentuh pintu kelas. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Membuka dengan pelan. Menutup pula dengan pelan. Ia melangkah dengan langkahnya yang biasa. Langkah tanpa suara.
Sudah menjadi kebiasannya untuk tidak menyapa orang lain. Di sekolahnya yang dulu. Ketika ia hendak menyapa, ia hanya akan dilihat sebelah mata. Jadi, mungkin saja di sekolah ini sama seperti dulu.
Natsu menduduki kursinya. Ia kembali menekuk dahinya ketika ia merasakan perasaan sedikit perasaan sedih. Ia menoleh dan menemukan Lucy yang tengah duduk. Dagunya bersandar dilengan.
Natsu dapat melihat Lucy tengah melamun. Rasa sedih ini membuatnya empati. Ingin sekali ia menghibur Lucy meskipun ia tidak tahu apa yang membuat Lucy bersedih. Ketika tangannya ingin menyenuh bahu Lucy, sesuatu mengingatkannya.
Ia takut. Ia takut kalau ia melakukan hal ini pada Lucy. Kepribadiannya akan berubah kembali. Menjadi orang yang acuh.
Natsu menghela nafas.
Namun, helaan itulah yang menyadarkan Lucy.
"Ah, ohayou, Natsu." Lucy terdengar gugup ketika ia menyadari Natsu tengah duduk disampingnya. Yang membuatnya gugup bukanlah hal itu. Tapi, ada sesuatu yang ia lihat dari mata Natsu yang membuatnya menjadi seperti itu.
Mata itu. Mata kekekhawatiran. Natsu khawatir padanya. Entah bagaimana itu menunjukan sesuatu yang baik. Namun, tak berapa lama ia menyeritkan dahinya. Menunggu sesuatu.
"Kenapa kau tidak membalasnya, Natsu?"
Entah bagaimana, tapi Natsu mengira itu adalah tuntutan. Itu adalah tuntutan yang hampir sama dengan setiap tuntutan ayahnya. Natsu agak tersentak. Ia mengingat apapun pembicaraan dengan ayahnya.
Sial. "Ohayou."
Lucy masih merasa aneh. Kenapa Natsu menjawabnya seolah itu adalah paksaan. Tak ingin membuat suasana menjadi sunyi. Lucy membuka percakapannya.
"Kau tahu, Natsu." Itu hanya mendapat lirikan dari Natsu. "Erza berada di rumah sakit."
Natsu kembali tersentak. Erza? Erza. Ah, benar Erza. Gadis berambut merah itu. Natsu mendengar Lucy kembali bercerita. Dalam diam ia selalu berharap agar apa yang ia fikirkan tak terucap oleh Lucy.
"Erza jatuh dari tangga koridor."
Satu kalimat itu sukses membuat hati Natsu patah. Harapannya hancur. Mendadak ia menjadi lemas sekali. Tak ada semangat dalam dirinya. Sepertinya apa yang telah dilakukan ayahnya sama sekali tak berguna padanya.
Lucy tak melihatnya. Ia kembali menceritakan. "Aku kasihan pada Jellal. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia bilang ini adalah kesalahannya. Andai saja ia tak berlari di koridor dan mematuhi Erza. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini." Lucy menghela nafasnya lelah. Ia melirik kearah Natsu dan melihat, tatapan kosong Natsu.
"Hei, Natsu kau tidak apa – apa?" Lucy sedikit menyentakkan Natsu.
Natsu tersadar. Ia memalingkan wajahnya. Perasaan iba Lucy pada kesakitan Erza, dan penyesalan Jellal. Cukup membuat rasa empatinya meledak. Ditambah dengan ada rasa khawatir Lucy pada dirinya.
Namun, itulah yang harus ia sesali. Kelasnya yang berada di belakang sekolah. Tempat duduknya yang langsung berhadapan dengan jendela luar. Menyaksikan apa yang terjadi diluar. Membuatnya ingin segera berlari keluar dan menghentikan apa yang terjadi.
Beberapa orang tengah mengelilingi sebuah pohon besar. Pohon besar yang diceritakan dua siswa tadi pagi! Natsu dapat melihat salah seorang membawa gergaji mesin yang sangat besar.
Ia dapat mendengar deru mesin itu. Juga, suara menyakitkan ketika mesin itu mulai menggesekkan diri di pohon besar itu. Natsu menutup matanya. Badannya gemetar. Menahan gejolak dirinya.
Sekali lagi, ia harus menyesali dirinya yang menutup mata. Hal itu justru membuatnya berkonsentrasi terhadap apa yang ia dengar.
Tolonglah kami.
Kenapa dikau tidak mencegah perbuatan ini.
Satu perbuatan ini, membuat tak satu makhluk hidup yang harus mati.
'Hentikan!' Natsu berusaha menanamkan dirinya untuk tak mendengar hal tersebut.
Hewan – hewan yang bertahan hidup pada kami akan merasakan hal yang sama dengan kami
'Hentikan!' Natsu kembali berseru. Tangannya mengepal. Ia merasa mual yang bergejolak dalam perutnya ketika ia menahan diri. Badannya terus gemetar.
Suara itu memang sudah pergi. Namun, rasa penyesalan dan rasa bersalah menghinggapi relung hatinya. Ia mengutuk dirinya sendiri. Ia sama sekali tak berguna.
"Natsu!" Suara Lucy membuyarkan lamunan Natsu. Natsu membalikkan badannya dan melihat Lucy menatapnya khawatir.
"Kau tidak apa – apa? Badanmu gemetar, dan wajahmu pucat. Apa kau sakit?" Lucy benar – benar khawatir. Bagaimana tidak, Natsu seolah ingin memecahkan kepalanya. Disini. Didepannya!
Natsu menggeleng pelan. Ia merasa lelah. Tenaganya seolah terkuras habis untuk menahan diri. Ia menangkupkan wajahnya di mejanya diantara lengan – lengannya. Tidak ingin menghadapi perasaan takut Lucy.
"Tunggu sebentar, Natsu." Natsu dapat merasakan Lucy beranjak dari tempat duduknya.
Natsu sama sekali tak bergerak. Hingga ia merasakan sesuatu bergetar dalam saku celananya. Mengambil ponselnya. Dan menemukan panggilan yang masuk. Menerimanya dan menempelkannya di telinganya.
"Pagi, Salamander!"
Suara yang ia kenal. Ia memang belum melihat siapa yang menelponnya. Tapi dari nada suaranya ia mengetahuinya.
"Pagi, Zee." Natsu berusaha menyembunyikan perasaan lelahnya.
Natsu dapat membayangkan lawan bicaranya menyeritkan dahinya. Ia tahu, ia tidak akan bisa membohongi lawab bicaranya.
"Ada apa, Natsu? Apa pria tua itu mengganggumu lagi?"
Natsu kembali membayangkan amarah lawan bicaranya penuh semangat ingin memukul sesuatu. Natsu menggeleng kepalanya, meskipun ia tahu lawab bicara tak melihatnya.
"Katakan, Natsu. Aku sangat mengkhawatirkanmu, tahu."
Tuntutan lagi. Ia benar tidak suka nada ini. "Aku melihatnya, Zee. Aku mendengarnya, lagi." Tangan Natsu kembali mengepal. Natsu dapat mendengar lawan bicaranya menghela nafas.
"Tak apa, Natsu. Jangan merasa tidak berguna lagi. Kau tahu, kau layak berada di dunia ini."
Natsu merasa sedikit tenang mendengarnya. 'Sang kakak' memang selalu menghiburkan ketika ia mengetahui, Natsu mengalami perasaan tersebut.
"Baiklah. Dengar, aku tahu kau sudah bosan dengan pertanyaanku. Tapi kuharap kau mau memikirkannya lagi. Apakah kau yakin, tak mau ikut bersamaku?"
Natsu terdiam. Ia memang sudah sering mendengar lawan bicaranya menawarkan hal tersebut. Ia memang sedikit tergoda akan hal itu. Namun. "Aku akan mempertimbangkannya, Zee."
"Ok, jaga dirimu, Natsu. Ingatkan aku untuk tidak menghajar pria tua itu kalau kau terluka."
"Ah, aku tahu, Zee." Dengan itu, Natsu menutup panggilan. Ia dapat melihat Lucy sudah duduk disebelahnya.
"Minumlah, Natsu. Aku tahu kau sedang tidak enak badan." Lucy memberikan segelas air minum pada Natsu.
"Arigatou, Lucy."
Entah kenapa, setiap bersama gadis ini. Meskipun kepribadian acuhnya kembali. Ia tidak akan pernah bisa mengacuhkan gadis ini. Ugh, bahkan IQ-nya yang tinggi itu tidak akan mengerti arti perasaan ini. Membuatnya semakin pusing.
~oOo~
"Hoi, pagi Makarov!" Suara yang tergolong santai itu memasuki ruang kepala sekolah.
Makarov mendongak dan melihat seorang pria dewasa yang memiliki rambut jingga kecoklatan sebahu. "Ada apa, Gildarts?"
"Um, aku dengar ada anak yang istimewa lagi?" Gildarts bertanya seraya duduk di kursi tamu.
Makarov terdiam sejenak. "Meskipun aku menjawabnya kau pasti akan menyelidiki sendiri, bukan?"
Gildarts tertawa mendengarnya. Tak salah, ia mengenal pria tua ini. Hei, ia tidak merasa apa, dirinya juga sudah tua? "Ya, aku akan menyeledikinya sendiri."
"Hm..."
"Jadi, siapa namanya?" Gildarts mencodongkan tubuhnya, ia penasaran.
"Um...Namanya-"
~oOo~
Thank's for :
pidachan99 ; Nnatsuki ; Guest ; santika widya ; Himiki-chan dan semua silent readers yang sudah membaca, Arigatou Gozaimasu.
.
A/N :
Gyaa... Gomen ne, saya telat update. Tolong jangan timpuk saya pake panthopel. Sakit pake panthopel, jadi mending pake coklat. Kan bisa saya makan. Shishishishi...
Oke, banyak yang penasaran siapa yang disebut 'Zee' sama Natsu? Penasaran juga siapa yang disebut namannya?
Yang pasti bukan saya! #plak!
Um, kira – kira readers mengijinkan saya untuk buat fic multichap lagi, tidak?
Boleh? Ya, Tidak, Bisa jadi! #plak.
Oke, maaf kalau sedikit, berusaha dibanyakkin takut ketahuan. #OOPS.
So, berniat review?
Ru Unni Nisa
Sign Out
Jaa ne~
