Monkey Monster

Chapter 2

"Hyukjae and the gank"

By Yuya Matsumoto

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Pair: EunHae, Donghae (Genderswitch)

Inspirasi dari Komik Beast Master

Warning: Boys Love / YAOI. Membosankan. Alur lambat. Tidak sesuai EYD, bahasa aneh.

FF Rewrite milik Author yg dulu pernah dilombakan tp kalah. Hhe… Mianhae klo aneh ya! Cast pertamanya Eunhyuk dan ADMIN. Sekarang Eunhyuk dan Donghae. All members of Super Junior are namja, except Heechul and Donghae.

.

Nb: Tolong anggap saja Bada dan Mio adalah anjing milik Zhoumi ya! Selain itu anggap saja Ryeowook itu kakaknya Donghae ya! Soalnya ini rewrite dan aku bingung klo hrs dirombak ulang semua. Mohon pengertiannya. Gomawo!

.

Summary: Donghae yang mencintai hewan, dibenci oleh makhluk kesayangannya itu. Suatu hari ia bertemu dengan namja yang berkelakuan brutal seperti monster. Entah apa penyebabnya hanya Hae yang bisa menaklukannya.

.

.

\(^.^) Happy Reading (^.^)/

.

.

"HAE-AH! CEPAT BANGUN!", teriak eomma dari depan kamarku.

Ini memang kegiatan rutin yang dilakukan oleh yeoja paruh baya itu. Berteriak di setiap kamar anak-anaknya. Aku benar-benar heran dengan kebiasaannya padahal kami semua sudah besar. Aku turun dari atas ranjang dengan malas. Aku masih mengantuk, tapi aku bosan mendengar omelan eomma pagi ini.

Setelah selesai merapikan diri, aku bergegas ke ruang makan. Aku melihat semua anggota keluargaku telah duduk dengan rapi. Eomma memelototiku garang. Sebelum eomma mengeluarkan suaranya, appa menyentuh tangan eomma, berusaha menghentikan setiap kata yang akan terlontar darinya.

"Duduklah, Hae. Kami semua sudah menunggumu", kata Appa bijaksana. Sungguh bahagia memiliki appa sebaik Kim Hangeng.

"Hae-ah, hari ini Oppa tidak bisa mengantarmu ke sekolah ya", ujar Sungmin Oppa dengan nada memelasnya. Terdengar nada bersalah dari ucapannya.

Aku mengerucutkan bibirku, mengalihkan tatapanku kepada Zhoumi oppa. "Mianhae. Aku juga tidak bisa, Magnae. Aku harus mengumpulkan karya ilmiahku ke dosen pembimbing", tolaknya sebelum aku sempat berkata-kata.

Keningku berkerut dan bibirku semakin manyun. Aku menatap Yesung oppa dan Ryeowook oppa dengan garang. "Akh! Mianhae, Hae. Aku harus ke Rumah Sakit. Hari ini jadwalku dinas pagi. Aku terburu-buru. Mianhae!"

"Huh! Ryeowook oppa, kita harus berangkat sendiri dong", ucapku sebal.

"Eh? Aku belum bilang ya, Hae? Aku hari ini tidak masuk sekolah. Aku sedang tidak enak badan. Eomma memaksaku untuk tidak masuk. Mianhae", jawab Ryeowook oppa, menghancurkan semua harapanku.

Aku paling benci berangkat sekolah sendirian. Benci sekali. Huh!

Ting! Tong!

"Nah! Dia sudah sampai. Sudahlah Hae, jemputanmu sampai. Kamu berangkat bersamanya ya!", ujar eomma sambil menaruh bekal di dalam tasku, lalu mendorongku keluar dari ruang makan. "Bye! Bye, Hae-ah! Sukses selalu", ucap eomma melambaikan tangannya padaku.

CUP! Aku mencium pipi eomma-ku. "Bye, eomma!", kataku berpamitan. Aku melontarkan sebuah senyuman kepada yeoja tercantik yang telah melahirkanku itu.

Siapa sih sebenarnya yang dimintai keluargaku untuk menjemput aku? Ah, jadi penasaran! Aku membuka pintu rumahku dengan semangat hingga wajah namja paling kukenal terpampang jelas di depanku.

"Annyeong, Hae! Ayo berangkat!", ajaknya, menarik pergelangan tanganku seenaknya. Namja ini adalah KYUHYUN. Oh god! Jangan bilang hari ini akan menjadi hari tersial seumur hidupku.

.

\(^.^) YuyaLoveSungmin (^.^)/

.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, aku tidak berniat melontarkan satu patah kata pun kepada Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun pun asyik dengan PSPnya.

DUUUG! Seseorang meloncat dari atas pohon. Namja itu menunjukkan gummy smile milknya. Aku membalas senyumannya. "Annyeong, Hyukjae! Selamat pagi!", sapaku kepada namja tampan itu. Aku berlari mendekatinya.

Ia melambaikan tangannya, membalas sapaanku. "Annyeong!"

GREEP! "Jangan terlalu dekat dengannya, Hae!", kata Kyuhyun memperingatiku.

Aku menepis cengkraman Kyu dengan kasar. "Terserah aku! Kau bukan oppa-ku ataupun orangtuaku. Jadi kamu tidak berhak mengaturku", ujarku sengit kepada Kyuhyun. "Ayo kita berangkat bersama, Hyuk!", lanjutku sambil menggandeng lengan Hyukjae. Sedangkan yang mendapat perlakuan dariku hanya terdiam bingung. Aih, lucunya!

Aku masuk ke kelas bersama Hyukjae. Semua pandangan tertuju padaku dan Hyukjae. Tatapan takut, heran, cemas, kasihan dan lainnya terpancar dari setiap pasang mata yang tertuju kepada kami. Aku tidak peduli dengan pandangan mereka. Toh aku merasa nyaman bersama namja yang mereka takuti itu.

Kyuhyun menggumam kesal beberapa kali karena mendapat sikap acuh dariku. Siapa yang peduli dengan namja bermarga Cho itu? Aku tidak peduli, karena aku tahu sosok Hyukjae yang sebenarnya. Aku juga tidak ingin mengikuti semua peraturan-peraturan aneh miliknya. Memangnya siapa dia? Huh! Awas saja kau, Cho Kyuhyun!

Saat piket kelas, aku meminta Hyukjae untuk membuang sampah ke tempat pembuangan di belakang ruang olahraga. Hyukjae menurutiku. Semua murid di kelas sontak kaget dan bingung kenapa aku bisa menaklukkan binatang buas itu. Menurutku, Hyukjae lebih mirip seperti kucing kecil yang tidak mengerti seperti apakah dunia ini dibandingkan dengan binatang buas. Hanya saja mereka tidak tahu itu. Aku hanya bisa menjawab mereka salah paham, tapi tetap mereka tidak menggubris omonganku.

"Tapi kudengar ia tersangka penyerangan terhadap gangster kemarin malam. Setengah kelompok gangster itu mati loh", ujar sekelompok namja yang sedaritadi sibuk menanyakan cara menaklukkan Hyukjae. Aku hanya diam, tidak peduli. Tapi kalau dipikir-pikir, malam itu ia berlumuran darah. Apa iya?

"Tadi ada segerombol preman mencari Hyukjae. Mereka terlihat sangat galak dan menyeramkan", celetuk salah seorang teman yang ikut dalam perbincangan kami ini.

Apa? Aku langsung pergi menuju ruang olahraga. Aku melihat tiga orang yang berpenampilan seperti preman. Dua orang bertubuh besar dan seorang bertubuh tinggi. Mereka berteriak-teriak kepada sesuatu di atas pohon. Pasti Hyukjae, pikirku.

"HEY… CEPAT TURUN!", teriak seorang bertubuh tambun.

"APAKAH KAMI MENGATAKAN SESUATU YANG SALAH?", teriak seorang namja bertubuh tinggi. Tidak terdengar nada marah dari suaranya itu.

"KALAU KAMU NGGAK MAU TURUN, CEPAT KATAKAN APA SALAH KAMI!", pinta namja bertubuh berisi itu sambil menggoyang-goyangkan pohon.

"Hei, boss. Apa ada yang salah?", tanyaku hati-hati kepada seorang pria dengan tubuh subur memakai blazer layaknya seorang boss mafia.

"Aku tidak mengerti dengan orang itu. Ia langsung memanjat pohon tanpa bicara apa-apa, ketika melihat kami berjalan ke arahnya", jawab boss preman itu dengan nada khawatir.

Hyukjae menyembulkan kepalanya dari dedaunan pohon. "YAAA… DONGHAE!"

"Ayo turuuuun! Mari kitamengobrol. Mereka pasti akan mengerti", teriakku memanggil Hyukjae yang dibalas dengan senyum polos darinya.

Kami berlima memutuskan untuk duduk di taman sekolah yang sepi. Ini dilakukan agar tidak memancing perhatian guru. Takut-takut kami dikira melakukan rapat pemberontakan kepada sekolah. Hehehe… Memang ada ya yang seperti itu?

"Hei, namja monyet! Apa yang kamu lakukan di atas sana?", tanya sang boss.

"Aku bukan monyet. Namaku Hyukjae", balas Hyukjae dengan nada menantang. Aigoo! Namja ini bodoh atau terlalu polos sih? Bisa-bisanya ia berbicara seperti itu kepada preman seperti mereka.

"Ne, Hyukjae! Kenapa kamu bersembunyi dari kami? Apa yang kamu sembunyikan?", tanya seorang yang paling tinggi dan paling tampan.

"Aku hanya takut saja dengan kalian. Kalian terlihat menyeramkan", jawabnya jujur.

"Ya! Apa katamu?", marah si namja subur.

"Tenang, chingudeul. Hyukjae tidak bermaksud menghina kalian atau apa. Dia hanya belum terbiasa dengan kehidupan kota seperti ini. Dulu dia tinggal di hutan", jelasku, mencegah pertumpahan darah yang mungkin akan terjadi.

"MWOOO?", jerit mereka bertiga serempak.

Berlanjutlah perbincangan kami dengan saling memperkenalkan diri dan menceritakan semua pengalaman yang terjadi. Sang boss bernama Kim Youngwoon, tapi lebih dikenal sebagai Kangin. Wah, namanya mirip dengan Yesung oppa, Kim Jongwoon. Hehe… sedang yang bertubuh bongsor, sangat subur, bernama Shindong. Satu lagi, yang paling tampan dan paling gagah serta paling tinggi, bernama Choi Siwon. Ini sih namanya bukan preman, soalnya semuanya ganteng. Ckckckck…

"Jadi kamu diperlakukan seperti itu karena matamu?", kata Kangin sedih.

"Orang-orang menilai kamu hanya dari penampilan saja. Jahatnya", kata Shindong mulai menangis.

"Aku ikut bersedih", kata Siwon menangis. Mereka bertiga menangis tersedu-sedu sambil mengusap-usap airmata dengan lengan baju masing-masing. 'Kalian juga sama', pikirku.

"Kalian orang baik", kata Hyukjae dengan mata yang berbinar-binar.

"Jadi kamu tidak berkelahi? Tapi wajahmu…", tanya Kangin, menggantungkan katanya yang terakhir.

"Aku tidak pernah berkelahi. Tapi aku pernah berkelahi dengan orang-orang yang membunuh binatang secara ilegal. Aku juga pernah berkelahi dengan beruang, hyena, anjing liar dan semacamnya. Aku juga pernah hampir dibunuh oleh seekor Leopard", jelas Hyukjae santai.

Aku dan ketiga preman gadungan itu menatap Hyukjae takut. Menyeramkan sekali hidupnya. Kami berempat hanya bisa sweat drop berjamaah.

"Dan kemarin aku bertemu dengan beberapa orang yang menakutkan. Mereka mengepungku di gang yang gelap dan sempit. Seorang darinya bertanya apakah aku ingin ikut. Aku bingung tidak menjawab, lalu laki-laki itu menggoreskan pisaunya di tanganku. Tanganku mulai berdarah. Aku ketakutan. Tiba-tiba otakku kosong. Aku tidak mengingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang aku tahu, aku ada di atas sebuah pohon"

"Maksudnya kamu nggak mengingat semuanya?", tanya Siwon.

"Dulu aku pernah hampir terbunuh oleh seekor Leopard. Ketika aku sadar, Leopard itu sudah berlumuran darah dan tidak bergerak sama sekali. Hal ini selalu terjadi ketika aku diserang dan aku melihat darah. Mungkin kemarin aku melakukan sesuatu yang mengerikan kepada mereka", kata Hyukjae dengan nada tak bersemangat. Ia merasa sangat bersalah.

Kangin menepuk bahu Hyukjae. "Sudah. Jangan khawatir. Semua itu mereka yang memulai. Sekarang aku mengerti kalau kau bukanlah orang jahat. Tetap waspadalah kepada orang seperti itu", ujar Kangin bijaksana. Ommona! Dunia sudah terbalik. Apakah mereka ini yang selama ini dihindari semua orang karena dianggap orang jahat? Aku tidak melihat itu.

"Kalau kau memiliki kesulitan, hubungi kami. Itu sebagai permintaan maaf karena telah bertindak bodoh terhadapmu", kata Shindong sambil mengunyah keripik kentangnya. Mereka bertiga pergi meninggalkan kami berdua.

"Hahahaha…". Aku tertawa kecut. "Bagus sekali. Kau tidak memiliki masalah dengan bos seperti dia", kataku berusaha mencari kata-kata yang tepat. Hyukjae tidak terpengaruh. Ia masih diam, masih merasa sangat bersalah.

Ketika aku dan Hyukjae ingin kembali ke kelas, ketua kelas memanggil kami dengan nada panik. "DONGHAE! Aku melihat segerombolan gangster yang sedang mencari Hyukjae. Sepertinya mereka gerombolan pengacau kemarin. Sekarang mereka sedang menuju kelas", teriak ketua kelas dari tangga atas. Aku dan Hyukjae saling pandang cemas. "Ayo, cepat! Ke loteng sekarang. Kalian harus bersembunyi"

Aku dan Hyukjae bergegas menaiki tangga, menuju loteng. "Terima kasih. Tapi mereka bodoh ya. Kalau mereka pergi ke kelas, pasti ada yang melaporkan mereka", kataku sambil mengatur napasku.

"Iya. Andai saja kalian lebih pintar. Kalian pasti tahu kalau aku menjebak kalian", kata ketua kelas sambil menutup pintu loteng, menguncinya.

Aku melihat seseorang memukul Hukjae dengan kayu besar dari belakang. BUUUG! Hyukjae tersungkur di lantai. Aku ingin menghampiri Hyukjae, tapi sebuah lengan besar membelitku. Aku didekap dengan kencang. Orang yang memukul tadi menjambak rambut Hyukjae.

"Benar. Ini dia. Terimakasih, Kibum", kata orang itu kepada ketua kelas.

"KIBUM, KENAPA KAU MELAKUKAN ITU?", tanyaku sambil meronta dari dekapan berandal ini.

"Karena ini loteng dan aku bisa menguncinya sehingga tidak ada yang mengganggu. Ups, bukan itu ya yang kamu tanya. Mereka itu perampok dan juga bandar narkoba. Aku mendapat informasi dari polisi, lalu aku memberitahu mereka sehingga aku mendapatkan uang dari mereka. Kami berteman", jelas Kibum dengan senyuman licik.

Aku berusaha keluar dari dekapan berandal ini, tapi kekuatannya lebih besar dariku. Aku melihat darah yang keluar banyak dari kepala Hyukjae. Hyukjae menatap darah yang sudah membasahi tangannya. Tatapan matanya kosong. 'Dulu aku pernah hampir terbunuh oleh seekor Leopard. Ketika aku sadar, Leopard itu sudah berlumuran darah dan tidak bergerak sama sekali. Hal ini selalu terjadi ketika aku diserang dan aku melihat darah' Kata-kata Hyukjae terngiang-ngiang di telingaku. Aku melihat Hyukjae perlahan-lahan bergerak.

"Hahahaha… Kau tidak akan bisa berkutik. Coba saja lakukan hal seperti kemarin. Oh iya. Kamu nggak akan peduli kan dengan gadis ini?", tantang Kibum kepada Hyukjae.

Hyukjae mulai bergerak dan duduk. Aku terbelalak melihatnya. "MINGGIR", teriakku memperingatkan Kibum.

"Apa-apan kau? Kau pikir kami akan melepaskannya?", kata Kibum sambil menatapku marah.

BRUUUG! WHOOSH! Hyukjae membanting kepala orang yang tadi memukulnya ke lantai. Tatapan matanya berubah seperti ingin memangsa. Hyukjae melompat ke arah orang-orang yang berdiri tepat di depannya. Ia memukul mereka dengan satu pukulan. Mereka tersungkur dengan luka yang cukup parah.

Hyukjae mengejar Kibum yang sudah lari tunggang langgang. Kibum terjatuh. Hyukjae berhasil meraih tangan Kibum. 'Maaf. Aku nggak pernah bilang. Aku saja takut kepada diriku sendiri'. Suara Hyukjae terngiang kembali di kepalaku. Sebelum kembali, ia memang menyatakan perasaannya tentang dirinya. 'Kamu orang pertama yang paling baik yang pernah kutemui'. Senyuman Hyukjae terlintas kembali di otakku. Ini bukan Hyukjae yang kukenal. Hyukjae memegang kepala Kibum. Lidah Hyukjae menjilat darah yang ada di sisi bibirnya. Ia membuka mulutnya. Aku bisa melihat gigi taringnya yang tajam.

"HEY, LEPASKAN AKU. DIA AKAN MATI", kataku kepada berandal yang mendekapku. Wajahnya terlihat kaget sekaligus ketakutan.

Aku melompat ke punggung Hyukjae saat ia sudah akan menggigit Kibum. Aku menutup mata dan mulut Hyukjae dengan lengan dan tanganku. Hyukjae terjatuh bersamaku yang ada di atas punggungnya. Aku mendekap Hyukjae, masih dengan posisi yang sama. "Nggak apa-apa. Tenang. Sudah. Nggak apa-apa", kataku menenangkan Hyukjae.

"Kamu tahu, Hyukjae. Ini aku, Donghae". Hyukjae melepaskan gigitannya dari lenganku.

"Anak pintar. Sekarang sudah baik-baik saja. Tenang ya", kataku masih mengelus rambut Hyukjae. Aku merasakan ada air mengalir di pipinya. Oh dia sudah kembali. Syukurlah. Semua gangster itu menghilang dari hadapan kami.

.

("T_T) ~YuyaLoveSungmin~ (=w=")

.

Aku membenarkan balutan luka di lenganku. Hyukjae mengikutiku di belakang. "Itu namanya insting bertahan. Kalau di alam, ini penting untuk hidup atau mati. Itu sedikit berguna. Setidaknya mereka menyerah, terutama si Kibum itu". Aku menoleh ke arah Hyukjae yang menunduk lesu. "Hei, kau mendengarkan tidak sih? Capek tau ngomong sendiri", omelku.

Hyukjae berhenti. Matanya berkaca-kaca. "Donghae, soal aku. Kamu nggak takut?" Airmatanya menggenang di atas pelupuk matanya.

Aku tersenyum. "Tentu saja tidak. Jangan khawatir. Sini". Hyukjae mendekatiku. Aku memegang wajahnya dengan ke dua tanganku. "Jangan menunjukkan wajah seperti ini. Seorang pria tidak akan menangis. Kamu itu lucu dan baik. Ayo berteman baik". Wajah Hyukjae berubah menjadi senang. Senyumannya merekah. Sungguh terlihat seperti malaikat.

"KIM DONGHAE!", teriak seseorang dari belakang. Aku menoleh, melihat siapa yang memanggilku. Kedua oppa-ku, Zhoumi dan Ryeowook, menghampiriku dengan berlari.

"Kamu nggak apa-apa, dongsaeng?", tanya Ryeowook oppa begitu cemas.

Aku menoleh ke tempat Hyukjae berdiri, tapi dia nggak ada. Hyukjae menghilang. Aku memandang ke sekeliling. Aku melihat sebuah kepala menyembul dari dedaunan. Aku tertawa kecil.

"Hey! Kamu nggak apa-apa?", tanya Zhoumi oppa sambil memegang kedua bahuku agar aku bisa menatapnya dengan benar. Aku mengangguk.

"Apanya yang nggak apa-apa. Ini liat", kata Ryeowook oppa sambil memegang lenganku yang dibalut. Aku tersenyum cengengesan.

"Ayo pulang. Biar disembuhin di rumah", kata Zhoumi oppa menyeretku dengan lembut.

"Kenapa Zhoumi-oppa ada di sekolah?", tanyaku bingung sambil menggandeng kedua oppaku.

"Ini nih. Oppa-mu satu itu", kata Zhoumi oppa sambil menunjuk Ryeowook oppa dengan dagunya. "Dia nelpon aku. Katanya, 'Hyung… hyung… cepetan ke sekolah, Donghae diserang segerombolan berandal. Nanti Donghae bisa mati. Cepetan hyung' ", kata Zhoumi oppa mempraktikkan gaya Ryeowook oppa kalau sedang khawatir. PLAAAK! Zhoumi oppa memukul kepala Ryeowook oppa pelan. "Masa adiknya didoain mati. Wah, minta dibunuh eomma"

"Aduh, hyung. Sakit. Lagian kan…", bantah Ryeowook oppa kepada Zhoumi oppa. Mereka mulai berdebat yang aku sendiri tidak mendengarkan mereka. Yang kutahu aku sayang sekali kepada mereka.

Aku berjalan pulang, menggandeng kedua lengan kakak-kakakku tersayang. Aku memandang langit, meninggalkan Hyukjae yang masih bersembunyi di atas pohon. Aku Kim Donghae, gadis berusia enam belas tahun, murid 2 SMA. Binatang membenciku, tapi aku sangat mencintai mereka. Satu-satunya yang pertama kali bisa dekat denganku adalah seekor monyet buas berwujud namja, bernama Lee Hyukjae. Aku tertawa kecil menyadari semua kenyataan aneh ini.

.

.

..::O.o TBC o.O::..

.

.


Mianhae, FF ini lama terbengakalai di sini

Sebenarnya FF ini udah tamat di FB atau pun WPku

Berhubung aku liat ini FF mpe jamuran di sini, jadi aku post lg lanjutannya

Masih ada yg minat baca? atau BUANG?

Terserah reader

Thanks for reading