Chapter 3
Matahari sudah mulai terbangun dari peraduan hangatnya. Musim dingin kali ini tidak menyurutkan orang-orang menjalani semua aktifitas mereka meski pagi ini lebih dingin dibanding hari sebelumnya.
Sasuke yang menunggui Hinata yang masih tertidur tidak beranjak dari tempatnya duduk. Semalaman dia memandangi Hinata yang terlihat lebih baik meski masih terlihat pucat. Hatinya meringis sakit saat dia melihat selang infus yang menancap di lengan Hinata begitu juga dengan alat bantu nafas yang berada di hidungnya.
Kelelahan yang mendera tubuh,pikiran dan hatinya tidak membuat Sasuke merasa mengantuk, bahkan ada perasaan takut bila nanti dia dengan tanpa sadar tertidur, Hinata sudah tidak berada dalam pandangannya.
Pandangannya beralih saat dokter Haruno masuk bersama dengan seorang perawat seraya membawa semua peralatan dan catatan untuk mencatat semua perkembangan Hinata. Terulas senyum manis dari bibir dokter Haruno saat matanya bertemu dengan mata onyx Sasuke.
"Pagi Tn. Uchiha." Sapa dokter Haruno. "Anda terlihat buruk, seharusnya anda beristirahat seperti yang saya sarankan kemarin."
Sasuke terdiam tidak ingin merespon perkataan dokter Haruno. Saat ini yang menjadi perhatian Sasuke adalah hasil pemeriksaan kondisi Hinata.
Dokter Haruno memulai pemeriksaan pagi pada pasien-pasien nya dan Hinata adalah pasien pertama yang dia kunjungi pagi ini. Perawat yang bersamanya mulai mengecek kondisi Hinata dan juga memeriksa selang-selang yang menancap di tubuh Hinata.
"Bagaimana keadaannya?" Sasuke tidak mengalihkan pandangannya pada Hinata dan perawat yang sibuk dengan pemeriksaannya meski dia sedang bicara dengan dr. Haruno.
"Maaf saya tidak bisa mengatakannya disini karena ada beberapa yang harus saya jelaskan pada anda mengenai hasil akhir MRI yang sudah kami lakukan kemarin. Jadi, setelah ini saya harap anda ke ruangan saya." Kata dr. Haruno seraya mengindikasikan perawat yang bersamanya untuk segera menyelesaikan pemeriksaannya.
"Jelaskan padaku garis besarnya saja. Aku tidak bisa berdiam diri disini tanpa aku tahu bagaimana keadaan istriku yang sebenarnya." Ada sedikit amarah dalam perkataan Sasuke.
"Keadaannya tidak lebih baik saat anda dan istri anda datang pertama kali untuk memeriksakan keadaannya bahkan kali ini lebih buruk." Kata dr. Haruno. "Karena itulah saya ingin membicarakan masalah ini dengan anda, apalagi dengan kondisi istri anda yang hamil tua."
"Kapan kita bisa bertemu?" Tanya Sasuke
"Jam 12 siang temui saya di ruangan saya karena setelah ini saya masih harus memeriksa pasien lain." Jawab dr. Haruno seraya meninggalkan Sasuke.
Sasuke terpaku setelah mendengar penjelasan dr. Haruno, meski hanya sedikit tapi tidak diragukan lagi kondisi Hinata semakin parah dan dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Sasuke mendekati Hinata yang masih belum menunjukkan tanda-tanda siuman.
Sasuke duduk di tempat yang sama saat pihak rumah sakit memindahkan Hinata dari ruang UGD. Dipegangnya tangan Hinata dengan lembut dan dipandanginya lagi wajah Hinata yang pucat dengan ucapan dr. Haruno yang masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Sasuke menundukkan kepalanya seraya memegang tangan Hinata dengan erat, dadanya terasa sesak menahan semua penderitaan ini, beban dipundaknya terasa lebih berat dari sebelumnya hingga akhirnya Sasuke tidak bisa menahan lagi dan menitikkan air mata seraya mengucapkan kata maaf berulang-ulang.
Hinata merasakan tetesan air yang membasahi tangannya, meski masih setengah sadar dia bisa mendengar suara isakan seseorang yang berada tidak jauh dari dirinya. Suara itu terdengar sangat familiar dan terdengar sangat menyedihkan. Hinata berusaha untuk sadar sepenuhnya. Kelopak matanya terbuka dan berkedip berulang-ulang untuk menyesuaikan gambaran yang terlihat masih buram, setelah beberapa kali mengedipkan matanya, pandangannya menjadi jelas.
Suara isakan tangis yang dia dengar tadi berasal dari sebelah kiri tubuhnya berbaring. Tanpa dia sadari suara isakan itu membuat hatinya berdenyut sakit, meski dia tidak tahu mengapa hatinya merespon pada suara itu. Diperhatikannya baik-baik sosok orang yang menundukkan kepalanya itu dan Hinata juga masih merasakan tetesan air membasahi tangannya, tidak diragukan lagi tetesan air itu adalah air mata dari sosok orang yang berada di sampingnya.
Mata Hinata membulat saat dia menyadari yang sedang menangis itu adalah Sasuke. Hatinya sakit melihat Sasuke begitu rapuh, karena dia selama ini tidak pernah melihat ataupun mendengar Sasuke menangis.
"Sasuke." Panggil Hinata parau.
Sasuke terkejut seraya melihat ke arah suara Hinata yang memanggil namanya.
Hati Hinata semakin terasa sakit melihat kondisi Sasuke yang terlihat sangat buruk. Matanya merah dan juga sembab, wajahnya terlihat sedikit pucat dengan lingkaran hitam menghiasi matanya meski begitu raut kekhawatiran masih terlihat jelas dii wajahnya.
"Kau sudah sadar. Bagaimana perasaanmu Hinata?" Tanya Sasuke.
"Semenderita inikah dirimu saat bersamaku Sasuke?" Tanpa menjawab pertanyaan Sasuke, Hinata bertanya balik pada Sasuke. Tidak bisa dia sembunyikan rasa sakit melihat Sasuke menderita seperti itu.
Tanpa Hinata sadari diraihnya kepala Sasuke seraya menyentuh pipi Sasuke dengan kedua tangannya dan menghapus air mata yang masih mengalir dari mata onyx Sasuke dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis lagi Sasuke, aku tidak ingin melihatmu seperti ini." Air mata Hinata pun tidak tertahan lagi dan dipeluknya Sasuke dengan erat.
Kebenciannya pada Sasuke mulai berkurang saat dia ditengah hujan gerimis menikmati tetesan air yang menyentuh kulit wajahnya. Di saat itu dia baru melihat cinta dimata onyx suaminya yang bercampur dengan kekhawatiran padanya sampai akhirnya kebencian itupun benar-benar hilang saat dirinya divonis tumor otak dan Sasuke selalu ada bersama bersama bahkan menangis bersama.
Kini Hinata mengerti maksud perkataan Nenek Sasuke padanya, perasaan dicintai dengan sepenuh hati meski hanya bertepuk sebelah tangan terasa lebih baik dibanding dengan mencintai seseorang dan menunggu orang yang dicintai datang menjemput, seperti itulah perasaan cintanya pada Naruto yang hanya bisa menunggu dan berharap. Meski bersama dengan Sasuke, ada setitik harapan di hatinya kalau suatu saat nanti Naruto akan memperjuangkan cintanya dan merebut dirinya dari Sasuke, tapi melihat Sasuke yang mencintainya sepenuh hati tanpa mengharap balasan atas perasaannya membuat Hinata tidak ingin mengingat lagi soal Naruto dan menganggapnya sebagai masa lalu. Pertama kalinya Hinata merasakan kehangatan menyelimuti hatinya saat dia larut dalam pelukan Sasuke.
XXX
Neji tertunduk lesu, pandangan matanya kosong setelah mendengar kabar mengenai Hinata dari Sasuke. Dia tidak habis pikir dengan nasib yang dialami oleh sepupunya itu, sejak Hinata secara paksa harus hidup bersama dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai, dia sudah mengalami penderitaan, sekarang Hinata malah mengidap tumor otak yang kapan saja bisa merenggut nyawanya.
Dengan mengendarai mobilnya, Neji melesat dengan kecepatan penuh untuk segera bertemu dengan Hinata untuk mengetahui keadaan sepupunya itu bahkan dalam perjalanan ke rumah sakit tidak jarang Neji hampir menabrak mobil yang melintas. Pikirannya kacau, yang dia inginkan adalah segera melihat kondisi Hinata. Sesampainya di rumah sakit, Neji berlari menyusuri lorong rumah sakit mencari kamar dimana Hinata dirawat.
Sesaat setelah menemukan kamar yang dimaksud, tangan Neji gemetar saat akan membuka pintu kamar itu, ada perasaan takut dalam hatinya. Takut membayangkan Hinata berbaring lemah dengan erangan sakit di kepalanya. Dengan ragu-ragu akhirnya Neji memberanikan dirinya membuka pintu yang memisahkan dirinya dan Hinata yang berada di dalamnya. Perlahan dia bisa melihat sofa yang berada di pojok kamar lalu saat dia lebih masuk kedalam bisa dia lihat Hinata yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus dan alat bantu nafas yang menancap di tubuhnya.
Neji tidak sanggup melihat Hinata seperti itu. Didekatinya Hinata yang terpejam, disentuhnya pipi Hinata dengan punggung tangannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Neji.
Hinata yang merasakan sentuhan di pipinya terbangun dari tidurnya seraya menggumam sebuah nama yang tidak ingin Neji dengar.
"Sasuke." Gumam Hinata. Namun setelah sadar orang yang sedang berdiri di sampingnya bukanlah Sasuke tapi Neji.
"Kakak." Kata Hinata.
Neji hanya diam, tampak kesedihan di wajah Neji yang tidak ingin Hinata lihat.
"Jangan melihatku dengan wajah seperti itu. Kakak membuatku tidak enak hati." Kata Hinata. "Sasuke yang memberi tahu kakak soal ini ya?","Sungguh kak, aku akan baik-baik saja".
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal ini padaku Hinata?Kau anggap aku ini apa?" Terselip kemarahan dalam kata-kata Neji.
'Bodoh kau Neji. Di saat seperti ini, kenapa mengatakan hal-hal yang tidak penting.' Umpat Neji dalam hati.
"Aku tidak bermaksud seperti itu kak. Aku hanya tidak ingin kakak terbebani dengan apa yang sekarang aku alami. Tapi, sungguh aku tidak apa-apa." Kata Hinata lembut. Dia mengerti dibalik kemarahan Neji, sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Jangan berlagak kuat di depanku Hinata. Aku mendengar semua dari Sasuke saat dia menelponku dan menjelaskan semuanya, begitu juga dengan rencana operasi itu. Aku setuju dengan apa yang Sasuke katakan, bayi yang ada dalam kandunganmu itu harus segera di lahirkan agar kau bisa melakukan operasi untuk mengangkat tumor dalam kepalamu." Kata Neji.
"Aku tidak mau. Aku ingin anak ini lahir normal. Soal operasi itu, aku sudah katakan pada Sasuke, kalau aku akan memikirkannya dulu." Kata Hinata "Kalau kakak datang kesini hanya untuk membujukku melakukan operasi itu, sebaiknya kakak pulang. Aku harap kakak mau menerima dan menghormati keputusanku".
Kali ini adalah bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah operasi itu. Neji akan menunggu waktu yang tepat untuk membujuk Hinata lagi.
"Terserah kau saja." Kata Neji seraya duduk dan melihat ke sekeliling ruangan. "Dimana Sasuke?"
"Dia bilang dia ada janji dengan dr. Haruno." Kata Hinata. Kepalanya mulai berdenyut sakit lagi. Di pejamkannya matanya untuk mengurangi rasa sakit yang mulai muncul lagi.
"Bagaimana perasaanmu Hinata?" Tanya Neji.
"Rasanya seperti kayu balok dipukulkan di kepalaku kak, rasanya sakit sekali. " Jawab Hinata yang masih memejamkan matanya. Sadar jawabannya akan membuat Neji lebih khawatir padanya, Hinata mencoba mengubah subyek pembicaraan. "Bagaimana kabar ayah dan ibu?", "Aku harap kakak tidak menceritakan ini pada mereka berdua. Aku tidak ingin mereka khawatir, apalagi ayah. Bisa-bisa ayah masuk rumah sakit juga"
"Mereka baik dan aku tidak memberi kabar soal keadaanmu, tapi pertimbangkan lagi opsi operasi itu." Kata Neji.
Mereka terdiam. Hinata berusaha untuk tidak menunjukkan pada Neji sakit yang dia rasakan. Kepalanya semakin berdenyut sakit dan entah mengapa yang ada di pikirannya saat ini adalah bertemu dengan Sasuke dan melihat -ingat kejadian tempo dulu dan keinginannya saat ini untuk bertemu dengan Sasuke membuat Hinata tertawa geli. Perasaan yang kini dia rasakan benar-benar konyol.
"Apanya yang lucu?"Neji keheranan melihat tingkah Hinata yang tiba-tiba saja tertawa kecil.
Hinata mendadak linglung mendengar pertanyaan , dengan segera dia mengerti maksud Neji, tidak dia sangka tawanya terdengar Neji.
Hinata menggeleng menjawab pertanyaan Neji seraya tersenyum dan menutup matanya kembali.
"Naruto akan segera menikah."Kata Neji tiba-tiba.
Mendengar nama Naruto sontak membuat mata Hinata terbuka karena terkejut meski akhirnya kembali bersikap normal kembali.
"Benarkah?padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi, dengan kondisiku seperti ini, rasanya tidak mungkin keinginanku terwujud."Pandangan mata Hinata diselimuti kesedihan.
Hinata akui perasaannya pada Sasuke kini sudah mulai tumbuh tapi tidak bisa dia pungkiri, perasaannya pada Naruto masih ada dan itu membuatnya bimbang.
"Kalau kau mau, aku bisa membawa Naruto bertemu denganmu." Kata Neji.
Hinata menggeleng."Aku tidak mau menyakiti perasaan Sasuke dengan kehadiran Naruto disini."
Neji tidak bicara lagi dan menerima keinginan Hinata.
...
Langkah kaki Sasuke terasa sangat berat saat keluar dari ruangan dr. Haruno, kakinya gemetar, matanya merah karena berusaha menahan air mata yang berusaha keluar, kesedihan dan amarah bercampur menjadi satu. Berita yang dia dengar dari dr. Haruno membuat hatinya semakin merana hingga tidak sanggup untuk bertemu dengan Hinata.
Terlambat, kini sudah terlambat karena apapun yang akan dia lakukan, tidak akan mengubah nasib yang dia dan Hinata alami, terutama Hinata karena selama ini dia sudah berusaha bertahan dengan penderitaan saat bersamanya. Sasuke bahkan tidak tahu harus menjelaskan pada Hinata soal kondisinya itu, untung saja beban berat itu tidak bertumpu padanya karena hanya dr. Haruno yang harus menjelaskan kondisi dan opsi yang harus Hinata pilih.
Kata demi kata yang di ucapkan oleh dr. Haruno masih Sasuke ingat benar hingga membuat air matanya tak terasa mengalir deras.
"Saya harap anda bisa menerima kenyataan ini Tn. Uchiha. Tindakan pengobatan untuk penyakit yang di alami oleh istri anda, tidak akan berpengaruh banyak, meski opsi operasi adalah opsi terakhir dimana tingkat keberhasilannya cukup tinggi pada awalnya. Kini kesempatan itu menjadi 20% saja Tn. Uchiha bahkan kami juga tidak bisa menjamin operasi itu akan berhasil." Kata dr. Haruno.
"Apa maksud dokter dengan prosentase keberhasilannya hanya 20%?" Tanya Sasuke.
Meski awalnya ragu-ragu menjelaskan pada Sasuke, namun dr. Haruno tidak bisa menutupi kondisi pasien yang sebenarnya.
"Istri anda sekarat, kalaupun kita melakukan tindakan pembedahan kemungkinannya kecil untuk istri anda selamat. Tumornya sudah sangat membesar, bagian otaknya yang lain terjepit dengan adanya tumor yang terus tumbuh. Bagian yang akan kita ambil terlalu besar dan itu beresiko tinggi. Kami tidak berani mengambil resiko itu Tn. Uchiha." Dr. Haruno melihat kesedihan dimata onyx Sasuke yang membuat hati dr. Haruno ikut merasakan kesedihan itu. "Saat ini, yang bisa kita lakukan adalah menyelamatkan bayi sarankan agar istri anda melakukan operasi cesar. Mungkin dengan tidak melakukan tindakan medis pada penyakit istri anda, kemungkinan hidup lebih lama bisa saja terjadi, karena ada beberapa kasus dimana para pasien tumor otak membiarkan penyakitnya, hidupnya lebih lama dibanding dengan pasien yang melakukan prosedur medis"
Sasuke diam terpaku. Berita yang dia dengar memutar balik dunianya yang sudah mulai membaik. Kini dia hanya di hadapkan pada 2 pilihan, istri atau bayi yang ada di dalam perut Hinata yang selamat.
"Maksudmu aku harus memilih antara istri dan bayiku?Apa kau sadar apa yang kau ucapkan dok?" Ada kemarahan dalam nada suara Sasuke.
"Maafkan saya tuan, hanya itu pilihan yang ada saat ini. Kami tidak mungkin melakukan operasi otak saat pasien sedang dalam keadaan hamil, akan sangat berbahanya bagi kondisi si jabang bayi kalau kami tetap melakukan operasi pada tumor istri anda. Kami juga tidak punya pilihan lain kalau istri anda menolak untuk melakukan operasi cesar sedangkan kondisinya yang sekarang drop akan mengakibatkan si jabang bayi dalam keadaan bahaya, bila sakit kepala itu datang menyerang maka ibu dan bayi yang sedang dikandung nyawanya bisa terancam." Kata dr. Haruno. "Andai saja anda membawa istri anda lebih awal, hal seperti ini tidak akan terjadi."
"Jadi kau bilang kau hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka?Dan kalau Hinata menolak melakukan operasi cesar maka aku bisa kehilangan keduanya, begitu maksudmu?Apa kau sudah gila? Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu padaku?" Teriak Sasuke. "Kau bukan Tuhan, jadi jangan se enaknya memvonis seseorang akan mati dan memilih siapa yang berhak untuk hidup."
Dengan penuh amarah, Sasuke keluar dari ruangan dr. Haruno. Perasaan dan pikirannya berkecamuk, dan di saat bersamaan hancur berkeping-keping. Orang yang sangat dia cintai kini sedang sekarat dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah itu semua. Andaikan hari-hari bisa berputar kembali ke masa lalu, Sasuke akan merelakan Hinata menjalani kehidupan bahagia bersama dengan orang yang dia cintai. Perasaan bersalah terus menghunjam hatinya bertubi-tubi.
Mungkin ini adalah hukuman yang dia dapat dari Tuhan atas semua perbuatan dosa yang dia lakukan pada orang lain, bahkan mungkin Tuhan sudah tidak mau mendengar doanya lagi karena selama ini dia terlalu egois dan tak berperasaan. Tapi… bukankah selama ini dia juga menderita?apakah perasaan sakit di hatinya selama ini masih kurang menebus dosanya pada Hinata?. Mungkin opsi terakhir adalah yang paling mendekati benar, penderitaanya tak sebanding dengan derita yang Hinata alami karenanya.
Sasuke tidak menyangka rasa sakit dalam hatinya bisa sesakit ini. Usahanya untuk mendapatkan Hinata meski dengan jalan penuh paksaan dan ancaman terwujud dan mungkin sekarang Hinata sudah mulai bisa menerimanya tapi tetap saja Hinata tidak bisa dia miliki. Mungkin Hinata memang tidak tercipta untuknya.
Secara tidak sengaja dia mendengar pembicaraan antara Hinata dan Neji meski terdengar samar Sasuke mendengar perkataan Hinata kalau dia ingin bertemu dengan Naruto. Seketika itu hatinya yang sudah hancur berkeping-keping kini sudah tak berwujud dan di saat itulah Sasuke merasa jasad dan jiwanya mati rasa, sendiri, kesepian dan tidak di inginkan. Sayangnya dia melewatkan perkataan Neji kalau Naruto sebenarnya akan menikah.
Dengan perlahan Sasuke masuk ke dalam ruangan dimana Hinata dirawat. Hatinya yang hancur tidak membuat Sasuke memperlihatkannya pada Hinata.
Hinata yang merasakan kehadiran Sasuke membuka matanya dan memperlihatkan mata amethistnya yang berbinar saat melihat orang yang sangat ingin dia temui, sekarang berada di depannya.
"Apa kata dr. Haruno?" Tanya Hinata seraya tersenyum.
"Aku belum menemuinya karena dia sedang sibuk. Ada pasien baru masuk, jadi dia menangani pasien itu dulu. Nanti dia akan datang kesini dan menjelaskan bagaimana kondisimu saat ini."Kata Sasuke dingin.
Jawaban Sasuke yang dingin membuat Hinata merasa ada sesuatu yang Sasuke sembunyikan. Meski orang lain tidak merasakan perubahan sikap Sasuke, tapi Hinata bisa merasakan perubahan sikap itu. Meski Hinata baru saja hidup bersama Sasuke, Hinata tahu saat Sasuke sedang menyembunyikan sesuatu. Wajah stoic Sasuke bahkan tidak bisa menutupi sesuatu yang tidak beres dari Hinata. Meski tahu ada sesuatu yang Sasuke sembunyikan Hinata memilih untuk membiarkan itu karena saat ini bukan waktu yang tepat memaksa Sasuke apalagi ada Neji yang juga berada di ruangan yang sama.
Selang tak berapa lama dr. Haruno masuk bersama dengan 2 perawat. Suasana yang tidak nyaman perlahan berubah dengan datangnya dr. Haruno dengan senyum manisnya.
"Bagaimana perasaanmu ?" Tanya dr. Haruno lembut.
"Panggil Hinata saja dan aku merasa lebih baik meski denyutan di kepalaku ini terkadang sangat sakit sekali, terkadang ada perasaan tidak enak di perut seperti ingin muntah." Jawab Hinata. "Lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaannya dok?Tadi siang Sasuke datang untuk menemuimu, hanya saja kau sedang ada pasien yang harus segera ditangani jadi aku penasaran dengan hasilnya."
Dr. Haruno paham betul dengan kondisi yang sedang Sasuke alami, tentu dia tidak ingin menyampaikan berita yang kurang mengenakkan untuk orang terkasih dan dr. Haruno memaklumi sikap Sasuke.
"Benar sekali, aku sangat sibuk sampai aku harus membatalkan pertemuanku dengan Sasuke. Aku sudah membawa hasilnya." Wajah dr. Haruno menegang.
"Apakah hasilnya baik?" Tanya Hinata.
Dengan menghembuskan nafas yang tertahan, akhirnya dr. Haruno menjelaskan kondisi Hinata, meski berusaha untuk menggunakan kata-kata yang tidak terlalu membuat kondisi pasiennya menurun, dr. Haruno tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat melihat ekspresi Hinata yang kaget dan sedih begitu juga dengan Neji. Sasuke yang berada tidak jauh dari sisi Hinata hanya bisa menundukkan kepalanya.
Berita yang dia bawa kali ini memang bukan yang pertama kali buat dr. Haruno bahkan sering sekali dia harus membawa berita menyedihkan untuk keluarga pasien hingga dia di juluki si pembawa berita kematian.
"Aku harap kau bijaksana Hinata, meski kesempatannya tipis aku harap kau tidak pesimis karena.."
"Keluar!" Pandangan tajam Sasuke seakan menusuk tajam di jantung dr. Haruno. "Keluar! Aku tidak butuh bualanmu, aku akan mencari dokter dan rumah sakit yang lebih hebat dari tempat ini. Jadi, hentikan omonganmu itu, bukankah sudah kubilang jangan berlagak seperti Tuhan yang bisa se enaknya kau memvonis seseorang akan mati. Keluar!"
Amarah Sasuke sudah di ubun ubun. Dia tidak tahan dengan kata-kata dr. Haruno yang mengatakan Hinata harus memilih untuk menyerah untuk hidupnya dan menyetujui untuk operasi cesar apalagi dengan kesempatan hidup yang hanya 20% bila Hinata melakukan operasi pengangkatan tumor di otaknya.
"Maafkan aku Hinata, aku hanya menyampaikan apa yang harus aku sampaikan."Dr. Haruno pun pergi meninggalkan ruangan itu bersama 2 perawat yang ikut bersamanya.
Dipandanginya Hinata yang shock setelah mendengar hasil pemeriksaan atas tubuh Hinata yang gemetar dan bisa Sasuke rasakan Hinata sedang menangis.
"Maafkan aku Hinata."Bisik Sasuke seraya mempererat pelukannya pada tubuh Hinata yang gemetar dan menangis setelah lama menangis tubuh Hinata akhirnya limbung karena kelelahan dan dengan perlahan Sasuke menidurkan Hinata.
Terlihat bekas air mata yang terukir di pipinya. Sakit di hati Sasuke semakin tidak tertahan melihat Hinata yang tersakiti baik tubuh dan jiwanya.
Neji terdiam, otaknya tidak bisa berpikir dengan benar yang ada hanyalah bayangan akan Hinata yang kapanpun bisa pergi dari kehidupannya. Di alihkannya pandangan matanya ke arah Sasuke yang terlihat sama bersedihnya dengannya bahkan lebih menderita dibanding dirinya. Ke aroganan yang pernah Neji lihat di mata Sasuke kini berganti dengan keputusasaan dan kesengsaraan.
Di dekatinya Sasuke yang duduk dan tertunduk di sebelah Hinata seraya menepuk pundak Sasuke, setelah mendapat respon dari Sasuke, Neji pun akhirnya angkat bicara.
"Biarkan dia istirahat. Bisakah kita bicara sebentar?Tidak perlu ke luar ruangan jadi kita tetap bisa menjaga Hinata." Neji berjalan mendekati sofa yang berada di depan ranjang Hinata setelah mendapat anggukan dari Sasuke.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Sasuke, terdengar nada kelelahan dalam suara Sasuke.
"Aku tadi berbicara dengan Hinata soal…soal Naruto."Belum Neji meneruskan perkataannya, Sasuke sudah memotong perkataannya.
"Aku dengar apa yang kalian bicarakan. Apa kau ingin aku mengijinkan Hinata dan Naruto bertemu lagi?"
Neji terkejut, tidak disangka Sasuke mendengar pembicaraannya dengan Neji ingin menjawab pertanyaan Sasuke, sekali lagi Sasuke memotongnya.
"Tidak. Tidak akan aku ijinkan orang itu dekat dengan Hinata."Kata Sasuke dingin."Sebaiknya kau pergi. Biarkan Hinata beristirahat, aku akan menjaganya."
"Jangan bersikap egois di saat seperti ini. Mungkin ini adalah permintaan terakhir Hinata."Kata Neji seraya berdiri.
Mendengar ucapan Neji, Sasuke dengan keras meninju Neji hingga tersungkur dan darah keluar dari mulutnya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak soal Hinata. Dia akan sembuh dan dia tidak akan meninggalkanku."Tatap Sasuke tajam seraya mendesis menahan amarah yang keluar di antara giginya. "Pergi!". Beruntung Hinata yang tidak jauh dari mereka berdiri tidak terganggu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Aku hanya berpikir logis setelah mendengar hasil pemeriksaan Hinata, aku hanya ingin dia bahagia. Hinata pernah mengatakan padaku kalau dia memang ingin sekali bertemu dengan Naruto dan ini adalah keinginan yang pernah dia katakan padaku untuk kedua kalinya." Tatapan sendu Neji mengisyaratkan kesedihan yang sama dengan Sasuke. " Aku mohon padamu pertimbangkan permintaannya, buat dia bahagia."
Neji pun pergi meninggalkan Sasuke dan Hinata. Tentu dia tidak ingin Hinata meninggalkannya selamanya, Neji sangat menyayangi Hinata melebihi dirinya sendiri dan apa yang dr. Haruno katakan tentang kondisi Hinata membuat hatinya juga hancur dan bersedih tapi perkataan dr. Haruno tentang opsi itu ada benarnya, akan lebih baik menyelamatkan 1 orang dibanding harus kehilangan dua orang sekaligus, bukan?.
Sasuke mendekati Hinata yang tertidur, rasa sakit yang tiba-tiba berdenyut di hatinya datang lagi saat melihat Hinata yang menangis bahkan dalam keadaan tertidur. Dielusnya rambut Hinata dengan lembut seraya berkata dengan lirih, "Akan aku lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia Hinata, meski itu harus mengoyak hatiku. Kalau kau ingin bertemu dengan orang itu, akan aku bawa dia dihadapanmu."
Kali ini semua kebanggaannya, ke egoisannya bahkan harga dirinya dia kubur dalam-dalam di sudut hatinya yang paling dalam. Hanya ada satu tujuan dalam hidup Sasuke kali ini, yaitu kebahagiaan Hinata. Setidaknya di saat kritis seperti ini Sasuke ingin sekali melihat Hinata tersenyum, meski senyum itu bukan untuknya dan tidak akan pernah untuknya.
Tak berlama-lama, Sasuke menelpon Kakashi untuk menyiapkan semua keperluannya untuk rencana yang sudah dia susun.
"Kakashi, cari tahu dimana Naruto tinggal saat ini dan kalau kau sudah mendapatkan info yang valid, siapkan semua keperluanku karena aku akan menemuinya."Kata Sasuke seraya menutup telpon. Disandarkannya kepala Sasuke di sebelah Hinata berbaring seraya bergumam "Akan aku bawa kebahagian yang selama ini kau inginkan Hinata."
...
Sasuke merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya dan sentuhan itu membuatnya merasa nyaman. Perlahan mata onyx Sasuke membuka dan sebuah gambaran siluet wajah tersaji di depan matanya yang masih mengantuk, di uceknya sesekali matanya yang masih lelah seraya mengedip berulang-ulang hingga gambaran itu semakin jelas.
Mata onyxnya dan mata amethyst Hinata bertemu, melihat mata amethyst yang telihat sendu membuat Sasuke merasa tenang dan terhanyut dalam kesejukannya. Seandainya saja waktu yang dia punya panjang, ingin sekali Sasuke menghabiskan sisa hidupnya dengan memandangi mata amethyst itu. Tanpa dia sadari, pandangannya menjadi buram dan kabur, matanya terasa panas dan air mata yang keluar tiba-tiba itu pun tak bisa terbendung, setelah tersadar dengan segera dia hapus air mata yang keluar dengan punggung tangannya. Di waktu seperti ini, dia tidak ingin terlihat lemah di depan Hinata.
"Bagaimana perasaanmu, Hinata?"Tanya Sasuke seraya tersenyum.
Hinata mengangguk lemah, di dalam hatinya ingin sekali dia menenangkan Sasuke yang kini terlihat hancur baik secara fisik maupun jiwanya. Tidak pernah dia melihat Sasuke seperti ini sebelumnya.
Tentu hatinya hancur mendengar hasil pemeriksaan tentang kondisinya, ingin sekali dia menangis, ingin sekali dia marah pada nasib yang sudah mempermainkan dirinya, tapi melihat Sasuke seperti itu membuat Hinata merasa bahwa dirinya harus kuat di depan Sasuke.
Hinata sudah menyadari hal seperti ini akan terjadi. Dia pernah memeriksakan keadaannya pada dokter rekomendasi Neji. Saat itu dokter bilang bahwa kemungkinannya dia akan bertahan sangatlah tipis dan menganjurkan untuk melakukan operasi secepatnya. Akan tetapi, saat itu dia tidak ingin membahayakan buah hatinya, karena itulah dia lebih membiarkan penyakitnya itu berkembang dan menyimpan rahasia ini dari Sasuke.
Pertanyaan yang dr. Haruno tanyakan padanya, Hinata sudah punya jawabannya bahkan sebelum dr. Haruno bertanya. Dia lebih memilih menyelamatkan bayinya karena dia yakin Sasuke akan bertahan demi anaknya nanti. Jadi, saat ini dia harus tegar dan kuat menghadapi semua ujian dan cobaan yang dia alami, agar Sasuke tidak akan terlalu mengkhawatirkan dirinya.
Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk dirinya dan Sasuke, karena dengan kematiannya nanti rasa sakit di hatinya tidak akan menggerogotinya lagi dan kesedihan yang selalu terlihat di mata onyx Sasuke juga akan hilang dengan seiringnya waktu berlalu.
"Jangan bersedih Sasuke. Aku tidak ingin melihatmu seperti itu. Aku tahu waktunya akan segera tiba, aku pasrah kalau aku nantinya akan mati karena yang terpenting adalah bayi ini selamat dan terlahir di dunia." Hinata berkata dengan lembut, tidak ada kesedihan yang berlebihan atau reaksi berlebihan yang membuat Sasuke merasa heran dengan ketenangan yang nampak dari Hinata.
"Aku tidak ingin ini dibicarakan lagi. Sebaiknya kau tidur lagi." Kata Sasuke tanpa memandang Hinata seperti biasanya kalau dia bicara."Aku akan cari dokter terbaik dengan fasilitas rumah sakit yang canggih agar bisa menyembuhkan penyakitmu itu, Jadi , aku tidak mau kau mengatakan soal mati lagi."
Tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan, Sasuke melangkahkan kakinya dengan cepat keluar kamar dan menutup pintu dengan agak keras.
"Aku tahu kau ingin sekali lepas dariku Hinata dan mungkin menurutmu kematian adalah satu-satunya jalan agar kau lepas dariku. Kenapa kau tidak pernah sedikit saja melihatku Hinata?Kenapa justru dia yang masih selalu ada di matamu?"Sasuke merasa lelah, disandarkan tubuhnya di tembok putih rumah sakit bahkan kakinya tak kuat menahan kepedihan demi kepedihan yang dia alami hingga akhirnya terduduk seraya memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di antara lutut kakinya. Sasuke pun menangis.
Tidak berbeda dengan Sasuke, Hinata pun tidak bisa menahan lagi kesedihan yang dia rasakan. Dia sudah merasa cukup menyakiti perasaan Sasuke dan membuatnya bersedih dengan kondisi yang dia alami saat ini, ingin rasanya dia memeluk erat Sasuke yang rapuh dan menangis bersama, tapi kalau dia bersikap seperti itu maka bila waktunya tiba nanti kepedihan yang teramat sangat akan Sasuke rasakan dan kalau sampai itu terjadi, maka Hinata tidak akan merasa tenang meninggalkan Sasuke.
"Maafkan aku Sasuke sudah membuatmu menderita karena aku. Maafkan aku."
XXX
Hanya butuh waktu 1x24 jam bagi Kakashi untuk mengetahui letak tempat tinggal Naruto berada begitu juga dengan kehidupan yang sedang Naruto jalani. Kakashi memberi informasi yang dibutuhkan Sasuke dengan akurat dan dapat diandalkan kebenarannya, begitu juga dengan rencana pernikahannya dengan seorang wanita yang bernama Sion. Awalnya Sasuke terkejut mendengar berita rencana pernikahan Naruto dan Kakashi dapat melihat ada keraguan pada diri Sasuke untuk tetap menjalankan rencananya atau membatalkannya.
"Anda tetap ingin menemuinya tuan?"
"Tetap jalankan apa yang sudah direncanakan Kakashi. Aku akan menemuinya dan memintanya ikut denganku ke Jepang, kalau aku gagal membujuknya untuk datang menemui Hinata, lakukan secara paksa karena yang terpenting bagiku dia ada di depan Hinata tanpa luka sedikitpun. Lakukan sesuai caramu Kakashi dan aku tidak akan menghalangimu."
"Baik."
"Tunggu aku di lobi rumah sakit. Ada sesuatu yang harus aku lakukan dulu sebelum kita pergi ke London hari ini."Sasuke meninggalkan Kakashi yang berdiri seraya membungkuk hormat padanya.
Dengan membawa segelas kopi dan sebungkus roti yang dia dapat dari kantin rumah sakit, Sasuke berjalan menuju kamar dimana Hinata dirawat. Sesampainya di depan kamar Hinata, diputarnya knop pintu perlahan lalu dibukanya pintu itu dan masuk ke dalam. Disana Itachi sedang ngobrol dengan Hinata meski sesekali Hinata terlihat menahan rasa sakit di kepalanya.
Sasuke sadar betul, waktu Hinata tidak banyak begitu juga dengan si jabang bayi yang ada di perut Hinata. Wajah Hinata terlihat semakin pucat, tidak ada tanda-tanda kondisinya akan membaik dan itu membuat Sasuke khawatir hingga akhirnya dia berani mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.
Itachi dan Hinata menoleh ke arah Sasuke masuk dan menyerahkan kopi dan roti yang dia bawa pada banyak bicara, Itachi keluar dari ruangan itu dan membiarkan Sasuke dan Hinata bicara, karena Itachi tahu pasti rencana Sasuke.
Mendengar suara pintu yang ditutup kembali setelah Itachi keluar, Sasuke mulai bicara. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk meminta maaf pada Hinata untuk semua perbuatannya dimasa lalu.
Terlihat pandangan penuh kasih sayang dari mata onyx Sasuke. Hinata merasa sangat nyaman berada dalam pandangan itu.
"Ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Hinata.
"Kemarin tanpa sengaja aku mendengar pembicaraanmu dengan Neji soal Naruto."Hinata terkejut dengan pengakuan Sasuke hingga akhirnya Hinata mengerti alasan kenapa Sasuke berkata dingin padanya waktu itu.
"Kau salah paham Sasuke. Aku…" Hinata tidak ingin Sasuke berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Hinata ingin sekali bertemu dengan Naruto tapi perasaannya pada Naruto sekarang sudah berubah, keinginannya bertemu dengan Naruto bukan karena dia rindu tapi ada satu pertanyaan yang ingin sekali dia tanyakan sebelum ajal menjemputnya.
"Shh…dengarkan aku dulu. Aku sudah memikirkan matang-matang persoalan ini, apa yang sudah kulakukan dulu memang sesuatu yang tidak bisa di maafkan. Aku memaksamu untuk hidup bersamaku bahkan dengan cara yang keji dan aku tahu kau membenciku karena itu. Aku minta maaf atas semua hal keji yang sudah ku lakukan padamu selama ini Hinata."Sasuke tertunduk, suaranya sedikit gemetar dan Hinata tahu Sasuke sedang menahan kesedihan yang dalam."Aku ingin, sekali dalam hidupku melakukan satu hal yang benar dan membuatmu bahagia. Oleh karena itu aku janji padamu Hinata, akan aku bawa Naruto dihadapanmu."
Sasuke terlihat rapuh dan itu membuat Hinata merasa bersalah. Sikapnya selama ini yang tidak baik dan selalu ketus pada Sasuke juga tidak bisa di maafkan, bahkan mungkin derita yang dia rasakan sama besarnya dengan derita Sasuke.
"Terimakasih Sasuke." Alih-alih meluruskan kesalah pahaman yang terjadi, Hinata membiarkan Sasuke melakukan apa yang sudah menjadi keputusannya. Mungkin ini adalah kesempatannya dan Hinata tidak akan menyia-nyiakannya. "Sejujurnya aku ingin sekali bertemu dengan Naruto karena ada satu hal yang ingin aku tanyakan padanya. Jadi , terimakasih kau mau bersusah payah melakukannya."
Hinata tahu betul kata-katanya menyakiti Sasuke, tapi nanti dia akan ungkapkan perasaan yang kini dia rasakan pada Sasuke yang sebenarnya, kalau dia mulai mencintai Sasuke. Harus Hinata akui, perasaan itu tanpa dia sadari mulai tumbuh di hatinya.
'Asal kau tahu Sasuke, di dunia ini yang ingin aku temui setiap hari adalah dirimu karena dengan melihatmu aku sudah merasa bahagia.'Kata Hinata dalam hati.
"Hari ini aku akan pergi menemui Naruto, jadi mungkin aku tidak ada disini selama 3 hari. Selama aku tidak ada, Itachi dan Neji akan menjagamu bergantian. Apa kau tidak masalah dengan itu?" Tanya Sasuke.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jawab Hinata.
Sasuke beranjak dari tempatnya duduk dan melangkahkan kakinya keluar kamar, namun tangan Hinata menghentikan langkahnya saat Hinata memegang pergelangan tangan Sasuke, menahannya pergi.
"Sebelum kau pergi, boleh aku minta sesuatu?"Pinta Hinata.
Sasuke mengangguk.
"Maukah kau memelukku sebentar?sebelum kau pergi." Pinta Hinata. Sasuke terkejut mendengar permintaan Hinata. Tidak pernah sekalipun Hinata meminta dirinya untuk memeluknya, meski hanya sebuah pelukan tapi Sasuke sangatlah bahagia. "Tapi kalau kau merasa itu berlebihan, tidak…"
Sasuke langsung memeluk Hinata dengan erat, di hirupnya aroma rambut dan aroma tubuh Hinata.
'Menenangkan sekali memeluk Hinata seperti ini dan sekaligus membahagiakan.' Pikir Sasuke.
Hinata merasakan tubuh Sasuke agak gemetar, meski begitu pelukan Sasuke sangatlah hangat hingga membuat Hinata merasa nyaman berada dalam pelukan Sasuke lalu Sasuke pun melepas pelukannya dan meninggalkan kamar itu tanpa menoleh ke arah Hinata.
Di luar kamar, Itachi dengan santai menikmati kopi dan sepotong roti yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya.
"Aku harap kau tidak menyesali keputusan yang sudah kau ambil Sasuke." Kata Itachi
"Kau tahu aku daripada siapapun kak." Kata Sasuke "Tolong jaga Hinata selama aku pergi."
Dengan begitu Sasuke menghilang dari pandangan Itachi.
"Karena aku sangat tahu bagaimana sebenarnya dirimu Sasuke dibanding siapapun bahkan kau sendiri, maka dari itu aku hanya tidak ingin keputusanmu kali ini tidak membuatmu menyesalinya."Kata Itachi menghela nafas.
XXX
Di sebuah tempat di daerah London di pagi hari yang sejuk, Kakashi menghentikan laju mobilnya dimana dia dan Sasuke akan mengunjungi rumah Naruto. Di lihatnya Sasuke dari kaca kecil yang berada di depannya, tuannya itu terlihat biasa saja, tidak ada rasa gugup atau pun rasa tidak nyaman saat akan bertemu dengan orang yang dulu pernah dia ancam. Meski begitu, tuannya itu terlihat sedang terlena dalam pikirannya sampai-sampai dia tidak menyadari kalau tujuannya sudah ada di depan mata.
"Tuan kita sudah sampai."Kata Kakashi membuyarkan lamunan Sasuke. "Apa anda yakin, kita tidak perlu ke hotel untuk beristirahat terlebih dulu?. Besok kita baru kemari tuan."
"Aku tidak punya waktu banyak Kakashi. Aku ingin masalah ini cepat selesai dan aku bisa membawa Naruto untuk menemui Hinata. Kita bisa beristirahat setelah urusan kita disini selesai." Nampak kelelahan dari suara Sasuke. "Ayo!kita kesana."
Mereka berdua keluar dari mobil yang mereka tumpangi secara bersamaan seraya melihat situasi di rumah Naruto.
Rumah Naruto terlihat sederhana, sama seperti rumah-rumah di sebelah kanan dan kiri. Rumah dua tingkat dengan cat berwarna krem dengan paduan putih di bagian pilarnya, sangat kontras dengan pintu utama yang berwarna coklat Mahogany. Bunga-bunga rambat juga menambah hiasan rumah yang tampak sederhana itu.
Kakashi membunyikan bel rumah sedangkan Sasuke melihat-lihat kondisi di sekitar rumah Naruto, dalam hati dia merasakan kenyamanan dengan lingkungan dimana Naruto tinggal. Meski sederhana, tapi suasana yang sunyi dengan rimbunnya pepohonan membuat jalanan terasa sejuk.
Dari dalam rumah, Kushina ibu Naruto yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya mendengar bel rumahnya berbunyi. Setelah mematikan nyala api gas, dia pun berjalan ke arah pintu utama lalu membuka pintu.
Saat membuka pintu dilihatnya seorang pria paruh baya dengan memakai setelan jas berwarna hitam dengan mantel yang juga berwarna senada tengah diam berdiri di depan rumahnya.
"Ada yang bisa ku bantu?" Tanya Kushina ramah. "dan anda siapa dan dari mana?"
Belum Kakashi menjawab, Sasuke yang berada di belakang Kakashi menjawab pertanyaan ibu Naruto.
"Aku Sasuke Uchiha dan kedatanganku kemari untuk bertemu dengan putramu, Naruto."Jawab Sasuke singkat.
Mendengar nama Sasuke, ada rasa benci di hati Kushina saat mengingat kejadian hampir 1 tahun yang lalu. Kushina masih ingat benar bagaimana seorang Sasuke Uchiha menghancurkan hidup keluarganya dan yang paling membuat dia sangat membenci Sasuke adalah karena dia sudah membuat putra semata wayangnya juga menderita.
"Hidup keluarga kami sudah tenang dan bahagia, untuk apa kau datang kemari?Dan ada urusan apa kau dengan putraku?" Keramahan yang baru saja Kushina perlihatkan kini berganti dengan kebencian dan ketidak sukaan akan kehadiran Sasuke dan Kakashi.
Sasuke paham betul akibat dari perbuatannya dulu pada keluarga Uzumaki dan jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat menyesal. Tapi, sekarang ini urusan Hinata lebih penting dibanding dengan urusannya. Dia rela kalau pun nantinya semua keluarga Uzumaki menghina, mencaci atau bahkan memukulnya sebagai balasan atas perbuatannya tempo dulu.
"Ada hal penting yang ingin saya katakan pada putra anda dan ini sangat penting. Saya tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan ke semua orang, karena itu saya hanya perlu bicara dengan Naruto." Kata Sasuke tenang meski terdengar kelelahan di dalamnya.
"Putraku sekarang ini menjalani hidup dengan tenang, aku mohon jangan mengganggunya. Aku tidak peduli dengan urusanmu, jadi pergilah dari sini. Tempatmu bukan disini."Kata Kushina ketus seraya menutup pintu rumahnya tapi dihalangi oleh Kakashi yang dengan sigap menahan pintu itu dengan memasukkan sebagian kakinya ke dalam.
"Saya tahu perbuatan yang pernah saya lakukan pada keluarga anda dulu tidak bisa di maafkan, tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada putra anda. Tolong mengertilah nyonya." Kata Sasuke memohon.
"Aku harus mengerti dirimu?" Kata Kushina seraya tertawa mengejek. "Dulu apa kau pernah memikirkan untuk mengerti keluarga kami?. Apa kau tahu kami harus menjalani kehidupan kami mulai dari nol saat kau mengirim kami kesini?Apa kau tahu bagaimana susahnya hidup kami disini?Semua kesengsaraan yang kami alami diakibatkan karena kau."
Mendengar suara teriakan amarah dari Kushina ibunya, Naruto bergegas turun untuk melihat kejadian apa yang sedang terjadi. Sesampainya di bawah, Naruto melihat sosok manusia yang sangat tidak ingin dia temui di dunia ini sedang berdiri di depan rumahnya.
"Bu, masuklah dulu, tenangkan dirimu." Pinta Naruto.
Kushina menurut dan masuk ke kamarnya.
"Apa yang kau inginkan Sasuke?". Tanya Naruto
"Hinata saat ini sedang sakit dan karena sakitnya dokter memvonis kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Aku kesini untuk memintamu datang ke Jepang dan menemuinya, itu adalah permintaannya padaku. Jadi aku mohon kau mau ikut denganku." Kata Sasuke yang tetap tenang.
"Aku ikut prihatin mendengarnya Sasuke. Tapi, sebentar lagi aku akan menikah dan Hinata adalah masa laluku. Aku tidak bisa ikut denganmu ke Jepang, karena aku tidak ingin calon istriku nanti berpikir yang tidak-tidak tentangku. Aku sangat mencintainya, jadi aku tidak ingin melukai perasaannya. Aku benar-benar minta maaf. Sampaikan permintaan maaf ku pada Hinata. Silahkan pergi." Kata Naruto seraya menutup pintu rumahnya.
Sasuke terkejut mendengar perkataan Naruto, tidak dia sangka ucapan itu yang keluar dari mulut Naruto, apalagi ini mengenai Hinata yang tidak akan bertahan hidup. Sasuke pikir, perasaan cinta yang dimiliki Hinata dan Naruto sangatlah besar dan masih tersimpan sampai saat ini, sama seperti perasaan yang masih ada di hati Hinata.
Kali ini Sasuke tidak mau gagal, apapun akan dia lakukan untuk Hinata, meski itu harus merendahkan dirinya di depan Naruto, asalkan Hinata bahagia.
Diketuknya sekali lagi pintu rumah Naruto tapi tidak ada jawaban dari dalam, kali ini lebih keras juga tidak ada respons, hingga akhirnya Sasuke menggedor rumah Naruto seraya berteriak memanggil nama Naruto.
Jengah mendengar teriakan Sasuke, Naruto akhirnya membuka pintunya. Alangkah terkejutnya Naruto saat melihat Sasuke tengah berlutut di depan rumahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan Sasuke?" Tanya Naruto yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku minta maaf atas semua perbuatanku yang menyengsarakan keluargamu dan juga membuat hidupmu menderita karena aku merampas orang yang sangat kau cintai waktu itu. Aku tidak bisa memperlihatkan wajahku pada Hinata kalau aku tidak berhasil membawamu menemuinya. Ini mungkin adalah permintaannya yang terakhir. Aku mohon sekali padamu, Naruto." Sasuke dengan melepas semua ke egoannya, harga dirinya demi Hinata tidak hanya berlutut di depan Naruto, tapi juga bersujud di depannya agar Naruto mau ikut dengannya ke Jepang.
Naruto tidak habis pikir dengan sikap Sasuke, hanya satu kesimpulan yang bisa Naruto pikirkan yaitu Sasuke rela melakukan apapun bahkan merendahkan dirinya karena cintanya pada Hinata teramat besar dan itu membuatnya malu saat mengingat masa lalunya bersama Hinata. Naruto mengakui kebesaran hati Sasuke dan cintanya dulu tidak sebanding dengan cinta Sasuke pada Hinata, sungguh Hinata wanita yang beruntung mempunyai seorang pria yang berjiwa besar seperti Sasuke.
Naruto memang tidak bisa dengan mudah memaafkan Sasuke atas perbuatannya pada masa silam, tapi melihat pengorbanan yang Sasuke lakukan membuat Naruto tidak sampai hati untuk menolak permintaan Sasuke.
"Baiklah Sasuke, aku akan ikut denganmu tapi dengan satu syarat, aku akan mengajak Sion bersamaku ke Jepang karena aku tidak mau dia salah paham tentang hubunganku dengan Hinata. Aku hanya memastikan bahwa apapun kondisi Hinata, kalau kau memintaku untuk kembali padanya, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu." Kata Naruto. "Sekarang berdirilah."
Hati Sasuke sangat bahagia mendengar Naruto setuju ikut dengannya ke Jepang. Sasuke pun berdiri dengan dibantu Kakashi.
"Terimakasih..Terimakasih." Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir tipisnya.
"Lalu, kapan kita berangkat?" Tanya Naruto.
"Kalau kau tidak keberatan, besok aku sudah siapkan tiketnya. Tapi, kalau besok kau tidak bisa.."
"Besok tidak masalah. Kita bertemu di bandara saja. Kau infokan padaku jadwalnya, aku dan Sion akan menunggumu disana." Kata Naruto.
Tampak rona kebahagiaan di wajah Sasuke. Usahanya tidak sia-sia meminta Naruto ikut dengannya ke Jepang. Saat akan masuk ke dalam mobil, hujan gerimis mengguyur London pagi itu. Sasuke menengadahkan wajahnya ke atas dan merasakan tetesan air menyentuh wajahnya seraya tersenyum.
'Hinata, andai kau ada disini bersamaku, aku yakin kau akan sangat senang menikmati gerimis ini dan menghirup aroma tanah basah yang sangat kau suka.' Kata Sasuke dalam hati dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya seraya tersenyum getir.
(TBC)
A/N:
Gomen untuk update yang telat, belakangan ini ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Ada teman kerja yang tega memfitnahku, jadi aku harus membersihkan namaku yang sudah dia buat kotor dan untungnya masalahnya sudah selesai ^^. Aku tahu ini bukan alasan, tapi aku benar2 tidak bisa menulis dengan benar, saat isi otakku memikirkan cara untuk membersihkan namaku, jadi aku harap kalian mengerti. (Bow).
Aku tidak puas dengan hasil chap yang sudah aku tulis ini, tapi hanya ini yang bisa aku tulis. Semoga kalian tetap menyukainya.
Aku ingin tau bagaimana menurut kalian dengan chap ini jadi REVIEW nya y… :D
Akan aku usahakan update cepat karena setelah ini adalah chap final. Aku harap kalian tidak membenciku bila nanti endingnya tidak sesuai dengan yang kalian inginkan, tapi happy end bisa dengan cara yang lain bukan?. ^_~
Special Thanks To:
Hyuchiha, Renita Nee-Chan, Ailla-Ansory,Po,Lavender, Ane, Jojo, Mufylin, Hallow-Sama, aindri961, uchiha sascake, cahya lavenderuchiha Elfishy, Avrilita97, , sushimakipark, Uchiha Hien, Gee, Hinataholic, Boo, Tamu rempong, Hana, Roura, Eri, TanTan Hime-Chan, Little Lily, Hinatauchiha69, Luluk Minam Cullen, HNisa Sahina, Chan, , Re, Siapa aja boleh & Guest.
Arigatou untuk REVIEW nya, aku sangat2 menghargainya ^^
Thanks to All Follower & Favorite this fict.
Arigatou and I love you all guys ^^
